Genre: Humor/Romance?
Pairing: Taoris/Kristao/Fantao with other Official Pairing EXO
Cast: Huang Zitao
Wu Yifan
The rest of EXO members
Rate: T
Summary: Dua kubu atau genk dari asrama berbeda yang memutuskan untuk mengebarkan bendera perang tepat setelah sebuah insiden (nista) terjadi. Huang Zitao. Member dari salah satu kubu itulah penyebabnya. "Mau ku antar ke asramamu? Atau mampir ke kamarku dulu? Aku sangat tidak keberatan kok."
Warning: OOC, Boyslove, school Life, mesum, typo(s) bertebaran, nista, author sableng dll
Daily Life or Love?
.
.
Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan
Dengan para cast dan warning-nya
.
Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun
Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author
.
Enjoy the story
.
.
.
Luhan berdiri dengan aura gelap yang kentara. Matanya menatap tajam sosok Zitao yang saat ini berdiri gemetar di sudut kamarnya. Tangan Zitao bergerak gelisah dengan meremas pelan satu sama lain. Ketakutan melihat gege kesayangannya seolah siap menerkam kapan saja. Tapi nyatanya pemuda cantik itu malah menghela nafas pelan. Tidak tega untuk mengintimidasi Zitao sedemikian rupa. Terlalu sayang.
Jam di dinding kamar asrama sudah menunjukkan hampir tengah malam yang artinya semua siswa diharuskan untuk tidak berkeliaran di sekitar asrama karena peraturan tertulis yang menyatakan demikian. Bagi mereka yang kepergok petugas patroli yang biasanya dilakukan oleh ketua asrama dan wakilnya, maka dipastikan akan mendapat hukuman. Sesuai dengan peraturan yang dilanggar.
Tapi meskipun begitu masih banyak siswa yang merasa bodoh dengan aturan yang ada, tidak sedikit yang diam-diam keluyuran entah itu ke kamar penghuni lain ataupun melakukan tindak kejahatan beramai-ramai. Sudah menjadi rahasia umum bahkan ketua mereka tak jarang menyetujui dan kadang-kadang malah ikut berpartisipasi.
Bek to topik, Jadi apa sebenarnya yang terjadi diantara Luhan dan Zitao?
Ceritanya bermula saat Zitao dkk pulang ke asrama tadi sore yang diantar oleh Kris dan Chanyeol. Entah apa yang terjadi tapi mereka bilang anggota kubu sebelah itu yang menyelamatkan mereka dari marabahaya. Luhan sendiri cukup gagal paham dengan apa yang dimaksud sebenarnya. Dia hanya mengangguk saja saat Kyungsoo bercerita panjang lebar. Pemuda pororo itu memang diintrogasi Luhan dan dipaksa untuk menceritakan apa saja kejadian hari ini yang menyangkut soal Zitao. Karena Luhan yeah~ tidak pulang bersama mereka hari ini.
Well... Sebenarnya bukan itu pokok permasalahannya. Hal yang membuat Luhan emosi malam ini adalah dirinya yang beberapa saat lalu hendak ke kamar Yixing dan Baekhyun, mendapati sosok sang adik berdiri di depan pintu kamarnya sendiri mengenakan piyama bercorak panda dengan lapisan luarnya menggunakan jaket kebesaran. Ekspresi wajahnya bahkan mirip pencuri ulung yang akan melakukan aksinya. Tapi takut tertangkap.
Jadi intinya, adiknya kepergok dan diduga berniat melakukan aksi keluyuran tengah malam. Sendirian.
Mau apa dia?
"Jadi... Huang Zitao~ kau mau kemana?" tanya Luhan sambil tersenyum miring. Tidak peduli sekalipun Kyungsoo yang sekamar dengan Zitao saat ini berdiri di sebelahnya berniat untuk menghalanginya. Tidak tega melihat Zitao mengkerut ketakutan di tempat.
"Hyung, sudahlah... " cegahnya. Tapi Luhan tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
"Kyung. Kau membiarkan adikku keluyuran tengah malam begini?" tuntutnya menekan. Dia menoleh dan menatap tajam Kyungsoo.
Pemuda pororo itu meringis pelan lalu menggaruk belakang kepalanya.
"Maaf, aku bahkan tidak tahu, hyung. Sebenarnya aku tadi berkunjung ke kamar Myungsoo hingga tanpa sadar lupa waktu dan tau-tau saja sudah hampir tengah malam." ungkapnya dengan nada menyesal. Dengan sesekali ekor matanya melirik kondisi Zitao yang masih ketakutan di sudut kamar. Merasa iba dengan kondisi 'anak'nya.
Luhan mendengus lalu beralih kembali.
"Jadi adikku sayang~ kau mau kemana, hm?" Zitao mulai gelisah sambil menggigiti bibirnya pelan. Matanya menatap Luhan memelas lalu beralih ke Kyungsoo meminta pertolongan. Tapi pemuda yang berstatus teman sekamarnya itu balas menatapnya dengan pandangan minta maaf.
Zitao galau!
"Maafkan Tao, gege... Tao tidak bermaksud membuat gege marah." cicitnya lirih. Dia memilin ujung jaketnya dengan ekspresi wajah yang membuat orang lain gemas. Jika tidak sadar sikon, Luhan sudah menerjang Zitao dan mencubiti pipinya.
"Katakan yang sejujurnya baby atau gege tidak akan membelikanmu coklat lagi. Gege tidak pernah mengajarimu berbohong."
Zitao lagi-lagi bergerak gelisah lalu sedikit demi sedikit seperti anak panda yang lucu melangkah maju mendekati Luhan. Ekspresi menahan tangis tercetak jelas.
"Kris-gege meminta Tao datang ke taman. Tapi melarang Tao untuk mengatakannya ke siapapun." adunya serak. Mencoba untuk tidak terisak karena merasa bersalah sudah berbuat nakal.
Luhan lagi-lagi memicing tajam dengan aura gelap menguar pekat. Apa katanya tadi? Si tonggos itu menyuruh anak sepolos Zitao untuk keluar sendirian?
TENGAH MALAM? DI TAMAN?
Mau di ajak main jelangkung begitu? Sialan! Siapa dia berani-beraninya menantang Luhan bermain api? Ok. Luhan mulai emosi beneran.
Jangan bilang Kris mengambil kesempatan ini saat kejadian tadi sore? Sungguh Luhan mulai menyesal tadi tidak menanyakan detailnya langsung yang sejelas-jelasnya pada Kyungsoo.
"Kris... Kubunuh kau... !"
.
.
.
"Yeol... Kenapa perasaanku tidak enak ya?" bisik Kris pelan. Dia berjalan mengendap-endap dan sesekali menjalar di dinding. Diikuti Chanyeol yang melakukan hal serupa.
"Kenapa, hyung? Seharusnya kau senang bisa berduaan malam ini dengan pujaanmu. Tanpa pengganggu." balasnya tak kalah berbisik. Dia bahkan sesekali menoleh atau menatap awas sekeliling takut-takut ada yang melihat.
"Lagipula... Kau tidak lupa membawa pelindung untuk jaga-jaga kan?" lanjutnya tanpa dosa.
Kris terbelalak syok lalu menoleh horror.
"Aku lupa, sialan." desisnya. Sekarang gantian Chanyeol yang melotot ngeri.
"Kau gila, hyung. Bagaimana kalau pandamu akhirnya sakit? Aku tidak ikut campur jika dia menangis nanti."
Mereka berdua saling pandang lalu menghela nafas berjamaah. Kris akhirnya berhenti dan bersandar pada dinding. Matanya menatap lurus kedepan seolah menerawang jauh. Jauh... Sekali sampai-sampai Chanyeol berpikiran jika Kris tengah kerasukan jin. Disusul suasana yang agak remang-remang menambah kesan horror yang ada.
Shit! Chanyeol mulai gemetar.
"Kalian mencari ini?"
Mereka langsung menoleh serempak diikuti ekspresi ngeri yang berlebihan. Jantung mereka bahkan berdetak cepat bersamaan dengan keringat dingin menetes deras(?) saking takutnya.
"AAAAAAA..."
"Sssttt!"
Berdirilah seorang Suho dengan cahaya senter menyoroti wajah tampannya. Tidak lupa senyum jahil yang tertempel miring di bibirnya. Sebelah tangan membawa barang mencurigakan yang diduga adalah sebuah payung lipat.
Benar, payung.
Kris dan Chanyeol saling pandang lalu memukul Suho dengan senter yang mereka bawa.
"Kau mengagetkan kami, bodoh!" desis Kris setengah emosi. Dia merebut payung dari pemuda pendek itu dan menatapnya penuh haru. Akhirnya dia bisa membawa benda penting yang tadi sempat dia lupakan.
Kris bersyukur lalu tanpa aba-aba memeluk Suho pelan.
"Kau menyelamatkan masa depanku, wahai rekan seperjuanganku."
Suho membalas pelukannya tak kalah dramatis.
"Sama-sama broo..."
"Enough! Kalian membuatku mual. Dan oh Kris-hyung, kau hampir terlambat." Chanyeol memutar bola mata bosan dan melepas pelukan ababil mereka secara paksa. Lalu menyeret Kris menjauh setelah sebelumnya melempar kiss bye pada Suho. Yang hanya ditanggapi lambaian pelan.
"Kalian membuatku dilema antara ingin membiarkan kalian berkelana(?) atau memberikan hukuman karena melanggar peraturan jam malam. Apa lebih baik aku menghajar mereka saja? Seenaknya meminjam payung tapi malah ditinggal di depan lorong asrama." gumamnya sambil menghela nafas. Seolah pasrah, galau dan emosi menjadi satu.
Kepalanya melongok ke jendela samping kemudian mendongak ke langit.
"Sepertinya akan turun hujan. Langitnya gelap sekali."
Suho menganggukkan kepala kecil lalu melanjutkan patroli malam. Melangkah menyusuri koridor demi koridor asrama guna melaksanakan jadwal rutinnya. Langkah kaki membawanya ke belakang asrama Wolf saat sebuah pemandangan mencurigakan menghentikan jalannya. Dia mengarahkan senter ke arah semak-semak yang bergoyang pelan. Membuat dahinya berkerut samar lalu dengan hati-hati menyibaknya.
Sejujurnya dia takut hal yang ada dibaliknya adalah hewan liar atau sejenisnya. Dan parahnya dia khawatir kalau itu sebenarnya adalah harimau. Jujur dia takut singa.
"YYA! Apa yang kalian lakukan?" teriaknya syok mendapati dua orang pemuda bergumul di baliknya. Mereka berdua yang kepergok langsung panik dan berdiri. Dengan penampilan berantakan dan rambut acak-acakan.
Suho menyeringai setan. Mengintimidasi mereka dengan tatapan yang berkilat aneh.
"KAU!" tunjuknya tepat pada hidung salah satunya.
"Akan mati setelah ini, Onew." seringainya semakin lebar. Suho tidak menyangka jika mendapati wakil ketua asramanya tengah melakukan aksi yang iya-iya dibalik semak. Pantas saja dia tidak melihat pemuda itu semalaman ini. Ternyata dia asyik bermain dengan pemuda lain.
"Dan kau." Suho mengarahkan telunjuk ke arah pemuda satunya.
"Sama matinya dengan dia. Aku mengenalmu, key-sunbae~" dia tersenyum penuh kemenangan melihat mereka berdua langsung pucat pasi.
"Ssttt Suho. Diam please~ kau ingin aku sogok dengan apa?" Onew merapikan bajunya sambil menatap lurus ke arah Suho. Seolah mengantisipasi jika nanti Suho khilaf dan langsung berteriak menuduhnya berbuat mesum di tempat umum. Ini di semak-semak lagi. Bikin malu.
"Kau pikir aku pemuda murahan yang perlu main sogok-sogokan segala? Aku masih punya harga diri tinggi, tau." dengusnya pelan. Dia mulai memutar-mutar senternya pelan untuk memikirkan sebuah penawaran lain.
"Aku masih cukup waras untuk tahu jika kau memang tipe pemuda mahalan." balas Onew setengah berbisik. Takut jika Suho mendengar dan menggamparnya.
"Ahh... I know." Suho menjentikkan sebelah jarinya dengan senyum penuh makna. Dia beralih memandangi pemuda satunya lama.
"APA?"
"Ini sesuatu yang penting dan sangat rahasia. Kuharap sunbae menyanggupinya."
Sepasang kekasih itu saling pandang dengan perasaan tidak enak. Sedangkan Suho menampilkan wajah seriusnya yang begitu terkenal seantero sekolah.
"Bagaimana kalau kau memberiku semua info penting tentang Zhang Yixing, sunbae? Kalau tidak salah kau satu asrama dengannya."
.
.
.
Zitao terbangun dari tidurnya saat mendengar samar-samar suara gaduh dari arah pintu kamarnya. Dia mengerjap pelan dan melihat jam digital di meja nakas. Jam 5 pagi. Pantas udara masih agak dingin dengan suhu kamar dibawah rata-rata. Dia baru menyadari jika tadi malam sempat turun hujan dilihat dari kaca jendela yang setengah berembun dan daun-daun pohon tinggi yang masih basah. Dia menoleh ke samping tapi tidak menemukan Kyungsoo di kasurnya.
Pemuda panda itu tampak bingung dengan mata setengah terpejam karena masih belum sadar sepenuhnya. Dia menguap pelan sambil mengusap sebelah mata yang berair menggunakan lengan bajunya. Setelahnya dia berdiri dan berjalan terhuyung ke arah pintu kamar.
Jujur, dia masih sangat mengantuk. Padahal hari ini akhir pekan, yang biasanya dia akan lebih banyak menghabiskan sisa harinya di atas kasur dengan bergelung hangat memeluk boneka panda besarnya. Tapi sepertinya rencana itu tinggal harapan semata karena suara ramai di depan kamarnya. Tepat saat dia membuka pintu, semua orang langsung menoleh ke arahnya dengan berbagai ekspresi. Entah prihatin, khawatir, kasian dan tidak sedikit pula yang terang-terangan tersenyum miring.
Ada apa sebenarnya?
Zitao mengerjap lucu berusaha untuk memfokuskan penglihatannya.
"Ada apa?" tanyanya lugu. Dia memasang wajah polos saat sadar Kyungsoo berdiri mematung tidak jauh darinya. Pemuda imut itu menggigiti bibirnya pelan seolah kalut. Tangannya bergerak menunjuk pintu kamar mereka. Zitao yang tidak mengerti memgerjap sebentar lalu menoleh ke samping.
Tubuhnya mendadak kaku sedingin es. Jantungnya berdegup kencang terasa menyesakkan saat matanya membaca sebaris kalimat warna merah darah yang ditulis di kertas dan ditempelkan di pintu kamarnya.
Zitao ketakutan. Wajahnya bahkan sudah pucat pasi dengan bibir gemetar menahan tangis.
'AKU MENGAWASIMU, HUANG ZITAO. AKU MEMPERINGATKANKU. BERHATI-HATILAH DENGAN PINTU, KOLONG-KOLONG, TEMBOK DAN JENDELA.'
Ancaman macam apa itu? -_-
Brakk!
"Ada apa ini?" Luhan menutup pintu kamar dengan keras. Wajahnya masih setengah mengantuk menahan amarah. Sepertinya kesal karena tidur kebonya terganggu di akhir pekan damai seperti ini. Dia mengerutkan dahi samar lalu berjalan menyibak kerumunan massal yang seperti semut mengerubuti gula.
Dalam kasus ini, Zitao adalah gulanya.
"Siapa yang melakukannya?" desisnya berbahaya. Dia mengambil kertas tempelan itu paksa dan meremasnya. Memandangi semua wajah-wajah di sana dingin. Semua orang menelan ludah paksa lalu menggeleng.
"BUBAR! Kalian pikir ini acara sirkus, hah?!"
Tanpa perintah dua kali mereka langsung ngacir membubarkan diri dengan banyak gerutuan dan cibiran menguar ke udara. Luhan memutar bola mata tidak peduli lalu memandang Zitao yang masih berdiri kaku di tempat. Matanya beralih ke arah Kyungsoo seolah memberi kode rahasia.
"Ayo Taozi... Kita kembali tidur. Aku akan membuatkan susu hangat kesukaanmu." Kyungsoo membimbing Zitao masuk ke kamar mereka. Setelah sebelumnya membalas kode Luhan lewat mata.
"Aku memiliki info baru yang menarik, hyung. Kunci cadangan seluruh ruangan di asrama kita hilang. Dan ketua asrama kita berasumsi jika anak asrama sebelah-lah yang mencurinya." Baekhyun bersandar di pintu kamarnya dengan elegan. Sambil meniupi kuku jarinya yang berwarna orange ngejreng.
"Sialan, kok aku baru tahu." respon Luhan sedikit kesal. Dia membuka remasan kertas tadi dan mengamatinya seksama.
Cklek
"Ya tuhan, Lay-hyung! Kau berniat membunuhku dengan ancaman kepala hampir mencium lantai?" seru Baekhyun kaget. Dia mengerucutkan bibir menatap Yixing yang malah nyengir di tempat.
Pemuda Unicorn itu keluar dan ikut bersandar di dinding samping kamarnya. Penampilannya acak-acakan khas bangun tidur. Bahkan matanya tak jarang tepejam kembali tapi langsung terbuka cepat begitu seterusnya saat terang-terangan Baekhyun memukul lengannya berulang kali.
"Dimana Baozi-hyung?" racaunya.
Luhan mendongak lalu menampilkan wajah serius yang tidak pada tempatnya.
"Kalian tidak akan percaya ini. Saat aku terbangun tadi, aku telah mendapati bakpao itu sudah mandi dan berpakaian rapi. Bahkan aku bisa mencium bau parfumnya dari luar sini. Serius, apa yang terjadi dengannya hingga berubah rajin di akhir pekan seperti ini yang biasanya digunakan oleh dia untuk tidur dan malas-malasan? Tunggu! Dia tidak sedang ada janji di luar kan?" Luhan langsung mengoceh kesana kemari hingga membuat pasangan BaekXing saling pandang horror. Takut jika pemuda tidak jauh dari mereka ini bukanlah Luhan yang asli.
"Mungkin umin-hyung sedang ada janji kencan dengan seseorang." respon Baekhyun tanpa dosa.
"Dengan siapa?" teriak Luhan mulai horror sendiri.
"Entahlah. Kenapa tidak hyung tanyakan saja?"
Luhan merenung sambil menghela nafas. Sedangkan Yixing mulai jengah dengan obrolan ini.
"Guys, kembali ke topik saja ok? Jadi menurut kalian siapa yang melakukannya?" sebelah tangannya menunjuk kertas di tangan Luhan.
Baekhyun dan Luhan facepalm. Merasa sinting sendiri karena tadi berkat Yixinglah mereka out dari topik. Bukankah dia sendiri yang memulai dengan menanyakan keberadaan hyung tertua mereka segala? Sungguh, mereka mencoba selalu paham dengan sifat Yixing.
"Aku mencurigai Kris dan antek-anteknya." jawab Luhan langsung. Perasaan jengkel langsung timbul saat mengingat pemuda tinggi itu.
"Kurasa bukan. Coba pikirkan ini, hyung. Dia memang pemuda mesum yang kadang-kadang bertindak vulgar tapi aku yakin dia bukan tipe orang pengecut yang mengancam pujaan hatinya sendiri. Terlebih itu Taozi. Ehm! Aku selalu penasaran dengan ini, lulu-hyung~ kau tidak sedang mulai jatuh hati padanya kan? Benci dan cinta beda tipis lho." Baekhyun mengangkat sebelah alisnya dengan senyum sedikit miring.
Luhan memicing tajam ke arahnya.
"Jangan membuatku mual, nona eyeliner. Jatuh hati padanya? Pada Kris? Oh god! Otakmu sudah mulai tidak waras sepertinya. Apa perlu aku mengorek kepalamu itu? Daripada dengan si tiang tonggos bin mesum, lebih baik aku memilih magnae mereka saja."
Baekhyun menyeringai lebar mengetahui Luhan keceplosan sendiri.
"UPPSSS~~"
"Hahahahahahaha kena kau, Lulu-hyung tersayang~"
Dua makhluk cabe genk cabbe. -_-
"Tapi...bagaimana kalau si pencuri kunci yang melakukannya? Aku mendengar dari ketua asrama kita jika besok ada razia dadakan di asrama Wolf. Entah kenapa aku berpikiran jika salah satu dari mereka lah pelakunya." Yixing mencoba sabar dengan mulai fokus dan serius. Mengintrupsi adegan lempar death glare dari Luhan.
Mereka ini seolah orang penting kenegaraan yang tengah berdebat membicarakan sesuatu yang serius untuk kebaikan umat manusia. Yang padahal mereka bertiga ini masih mengenakan piyama ucul dengan corak-corak imut. Jangan lupakan wajah kusut dan penampilan berantakan.
Terlihat timpang sekali. Menggelikan.
"Kita bertindak nanti. Hey, aku baru menyadari sesuatu." Luhan menciumi kertas di tangannya dan sesekali mengerutkan dahi tipis dengan wajah sangat serius. Terlalu serius hingga membuat dua pemuda lain kembali fokus sempurna. Sepertinya ini sesuatu yang sangat penting.
"Tulisan ini – "
Hening
" – Ditulis menggunakan lipstik."
Baekhyun dan Yixing langsung berwajah datar.
.
.
.
"Jong, ada denganmu? Dari kemarin emosimu selalu meluap-luap. Bahkan tadi malam kau menggebuki punggungku karena kalah main kartu. Kau... Sedang PMS ya?" ujar Sehun dengan wajah datar tapi nada polos. Sukses membuat Kai yang lagi menghabiskan sarapan paginya di kantin asrama langsung berwajah keruh.
"PMS mbahmu! Sudahlah, jangan ganggu aku." responnya malas. Dia mengubek omeletnya dengan garpu hingga bentuknya berantakan. Sesekali ekor matanya melirik kearah seberang dimana letak kantin asrama Growl berada. Fokus matanya jatuh ke arah pemuda belo mirip burung hantu yang saat ini duduk cuek bersama genk cabbe nya. Menyadari keberadaan Kai tapi seolah masa bodoh.
Poor untuk Kkamjong.
Sedikit informasi, kantin kedua asrama memang terpisah dibatasi kolam buatan yang cukup besar. Jangan tanya ada ikannya atau tidak. Karena sudah menjadi rahasia umum jika para penghuni asrama kedua belah pihak sering memancing diam-diam jika ada kesempatan. Tak jarang mereka membakarnya beramai-ramai di belakang asrama. Bisa dibilang, semua itu tindakan kriminal karena tanpa izin. Tapi toh pihak sekolah tidak mempermasalahkannya sedikitpun.
"Ehh Chen-hyung, kenapa pagi-pagi sudah rapi? Mau keluar ya?" Sehun mencegat Jongdae yang berjalan tidak jauh dari mereka. Pemuda itu sepertinya selesai sarapan dan hendak pergi.
"Lho, kalian? Tumben sekali sudah bangun jam segini. Terutama kau, Jong. Ah maaf tidak bisa lama-lama, aku sudah terlambat. Sampai nanti magnae~ " jawabnya setengah tergesa. Dia melanjutkan jalan saat suara Sehun terdengar lagi.
"Dimana para hyung?"
Jongdae menunjuk pintu kantin lalu cepat-cepat menghilang dari pandangan. Setelah sebelumnya melambaikan tangan ke arah mereka.
Dari arah pintu kantin berjalan dengan langkah lesu, Kris dan Chanyeol. Jangan tanya dimana Suho, karena pemuda itu masih ngebo. Tampilannya memang rajin dan bersahaja tapi dalamnya (lagi-lagi) patut dipertanyakan.
Pandangan mata Kris tertuju pada Zitao yang ada di seberang. Seketika aura suramnya berubah cerah ceria. Dengan ooc dia melempar flying kiss ke arah pemuda panda itu. Tapi Zitao malah berubah pucat pasi dan menunduk cepat, melanjutkan sarapan. Kris langsung kembali suram. Apalagi dengan terang-terangan Luhan yang ada di sana mengacungkan tinju ke arahnya.
"Sekarang kita tahu penyebab pandamu tidak datang tadi malam, hyung." bisik Chanyeol di sebelahnya. Dia lalu mengarahkan dua jari, telunjuk dan tengah ke arah mata kemudian mengarahkannya ke tempat Baekhyun. Seolah berbunyi 'aku-mengawasimu-biji-cabbe'
Baekhyun memeletkan lidah tidak peduli.
"Ada apa dengan mereka sebenarnya?" dengus Sehun. Mendapati teman-temannya mendadak gila.
"HUATCHI!"
Kris duduk dengan hidung memerah. Diikuti Sebelah tangan menyusut hidungnya yang meler, dia flu sepertinya. Chanyeol yang ada di sebelah hanya menepuk pundaknya pelan.
"YYA! dasar setan. Kau taruh dimana matamu itu?" mereka bertiga menoleh cepat dan melihat Kai tengah berdiri emosi di depan mesin minuman. Pakaiannya kotor kena tumpahan makanan.
Sejak kapan Kai ada di sana?
"Ck, bencana." Sehun menepuk jidat dan melangkah menghampiri TKP. Tidak baik membiarkan Kai yang tengah bermood buruk berkeliaran sendirian.
"Apa kau bilang, hitam? Setan berteriak setan, huh? Brengsek!" si pelaku juga ikut berteriak emosi. Bahkan Melempar piringnya ke sembarang arah. Tidak peduli jika pecah. Para penghuni kantin lain mulai tertarik dengan pertengkaran sengit tersebut. Yang dipastikan akan berakhir baku hantam. Siapa yang akan menang?
"BISA KALIAN HENTIKAN!" Kris bersuara keras nan menggelegar. Seketika suasana yang awalnya gaduh karena anak lain mengadakan taruhan berubah menjadi sunyi senyap. Kris mendadak naik darah. Tidak bisakah mereka diam? Kepalanya sakit mendengar suara bising di sekitarnya. Sangat berisik dan mengganggu telinga. Aura gelap yang dingin penuh dengan intimidasi menyebar kuat ke seluruh penjuru kantin. Membuat hampir semua penghuninya berkeringat dingin, ketakutan.
Kris marah adalah bencana. Dia menjabat sebagai salah satu ketua genk yang paling ditakuti di sekolah bukan tanpa alasan. Pemuda itu bisa berubah menjadi monster bila mau. Bersyukurlah mereka karena pemuda itu jarang sekali merasa benar-benar marah. Lebih sering dia bersikap tenang dan tidak jarang pula berubah konyol.
"Jong! Kita perlu bicara." ungkapnya dingin dan datar. Dia berdiri dan berjalan keluar kantin. Diikuti anggota genknya yang lain dalam diam.
"Dan kau... Kusarankan setelah ini untuk menjaga leher dan kepalamu." tunjuknya pada pemuda tadi, sebelum benar-benar menghilang di pintu kantin.
.
.
.
Sementara itu di kantin asrama Growl, Zitao menonton semua adegan itu dengan khawatir sekaligus merasa bersalah karena ketidakhadirannya tadi malam. Mendadak dia ingin berdiri, melompat ke kolam dan berenang ke sebrang. Hanya untuk mengikuti Kris lalu menenangkannya. Dia tidak suka melihat Kris berubah buruk seperti itu. Zitao takut. Sayangnya dia tidak bisa berenang apalagi menyelam. Bagaimana jika nanti tenggelam? Dia juga takut ada buaya besar di sana. -_-
"Sepertinya ada kekacauan di kantin seberang ya? Sudah biasa. Mereka-kan hanya sekumpulan orang bar-bar yang urakan. Kurang anggun dan elegan." gerutu Luhan dengan nada cuek, tidak sadar jika anggota segenk-nya menatapnya aneh seperti orang gila. Anggun dan elegan katanya? Luhan kerasukan apa sih?
"Kita cowok, ge. Mana ada seorang cowok anggun dan elegan?" respon Yixing setengah sebal.
"Siapa bilang? Lihat saja diriku dan madam Sooman."
Krik krik
"Hey, BabyPanda jangan melototin kolam terus. Kau lupa? Ikannya hampir habis dibakar rame-rame minggu lalu." kata Baekhyun mengalihkan pembicaraan. Dia stres menghadapi sikap absurd Luhan.
"Berarti tidak ada buayanya-kan, Bacon hyung?" balas Zitao setengah melamun.
"Ada tuh, Buaya darat." tunjuk Baekhyun, mengarah ke sekumpulan pemuda dari asrama Wolf yang saat ini jongkok di pinggir kolam dengan membawa jaring. Tidak lupa melempar flying kiss ke arah anak-anak asrama Growl.
Sambil menjaring ikan, menggoda Uke -_-
Slogan para seme ngenes, katanya.
BRAKK!
"MAMA BIYUNGGG! Luhan-ge! Kau gila?!" teriak Yixing kaget. Matanya langsung melotot ketika melihat Luhan berdiri dari duduk anggunnya kemudian berdiri tegak di kursi. Teman segenk-nya saling pandang berjamaah, bingung. Kecuali Zitao yang masih saja mengamati kolam dengan pandangan menerawang.
"PERHATIAN SEMUANYA~~ AKAN KUBERIKAN BANDO HELLO-KITTY KERAMAT MILIKKU PADA SIAPA SAJA BAGI MEREKA YANG BERANI MENGHAJAR SELURUH ANGGOTA GENK TERRONG ASRAMA SEBELAH! AYO~ AYO! SIAPA YANG BERMINAT ?!"
Dan setelahnya, seluruh kantin berteriak heboh akan pengumuman legendaris itu. Siapa yang tidak ingin memiliki bando keramat milik Luhan? Itu barang yang paling diimpikan para kaum uke di sekolah, brayy~
Well~ Luhan oh Luhan, anggun dan elegan, katanya? :v
.
.
.
.
.
.
T.B.C
Note : Ada yg masih ingat ff ini? Saya lagi suntuk dan suram, jadi memutuskan utk melanjutkan fic yg humor-humor dulu. Yang lainnya, (jika saya masih waras) segera menyusul ye? Doakan saja. XDD
Pay pay~
