• Red of the Triplets •
.
.
Disclaimer to: Masashi Kishimoto (Naruto)
Pairing: KakaSaku (Kakashi x Sakura)
Cast: Sasori, Gaara, Karin, Tayuya
.
.
Rated: M (for Lemon and Lime/Kasar/ juga all of them)
.
Warning: OOC, Typo, Gaje, all of them :v
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Humor, Tragedy
.
.
(Don't like Don't Read!)
Auth River pan udah bilang, ni Fic NOT TO 18- (Under 18), TAPI BUAT 18+ (plus+) kalo masih nekat, semua ditanggung masing2 bukan sama Auth River
#evilgrin
.
.
.
~ Part IV - Memories ~
.
.
.
~ Kakashi POV's ~
Sudah dua minggu lebih, aku tak masuk kerja. Di sebabkan diriku yang harus mondar mandir ke Rumah Sakit untuk check-up kesehatanku. Ya, 13 tahun yang lalu saat aku berada di Osaka, ku mengalami kecelakaan yang mengerikan. Menyebabkan mobil yang aku tumpangi ringsek dan kepalaku terbentur keras. Saat itu aku tidak sendiri, aku memakai sopir untuk mengendarai mobil itu. Kecelakaan terjadi di sebabkan mobil tersebut di salip oleh beberapa mobil mewah yang ugal-ugalan. lalu, seketika saja setelah di salip, dari arah depan mobil yang aku tumpangi terdapat mobil truk melawan arah, menyebabkan mobil yang aku tumpangi dan truk tersebut saling menghindar. Tapi, naas atau tidak beruntungnya sopirku menyebabkan mobil kami terbalik dengan hebat, karena setelah menghindari truk ternyata di sampingnya terdapat pohon besar di pinggir jalan, menyebabkan tidak kestabilan si sopir untuk menghindar kembali. dan berujung menjadi sebuah kecelakaan. kepalaku terbentur dan tak sadarkan diri, sopirku tidak terselamatkan sama sekali. Ketika aku sadarkan, diriku sudah berada di Rumah Sakit Osaka University, dengan kepalaku diperban, leher diberi penyangga gips, kaki sebelah kiri pun dipasang sebuah gips. Hampir 4 tahun kakiku masih menggunakan gips, kata dokter aku mengalami patah tulang yang untungnya masih bisa diselamatkan juga dokter kembali mengatakan bahwa kalau diriku ada beberapa memory yang hilang akibat benturan saat kecelakaan dan itu mengharuskanku mengikuti therapy di tubuhku yang terkena kecelakaan. Itu cukup membutuhkan waktu lama, sampai akhirnya aku meminta untuk memindahkan therapy ku di Rumah Sakit Konoha. Supaya, aku bisa lebih bebas untuk sambil bekerja, jujur saja terkadang aku tak sepenuhnya mengikuti therapy dalam kurun waktu lama, karena pekerjaanku yang selalu menumpuk. Ini semua bisnis yang aku jalani sebagai pewaris tunggal di keluarga Hatake, sampai saat ini. Entah apa yang aku pikirkan saat ini, tapi kegilaanku terhadap bisnis juga kerja, membuatku buta akan wanita. Aku tak perduli dengan mereka yang selalu mendekatiku, aku tak butuh kasih sayang dari mereka yang hanya mengatasnamakan uang dan derajat. Jadi, aku memilih untuk sendiri sampai saat sekarang di umurku yang sudah menginjak kepala tiga. Aku masih single, dan aku masih belum yakin atas sebuah komitmen untuk menikah.
"Hahhhh...bosan hari ini benar-benar membosankan. Pekerjaan yang sudah dua minggu aku tinggal, dan semua Iruka yang menggantikan untuk sementara. Tapi, di rumah ini sungguh sepi! Argghhh..." Kesalku tiba-tiba karena kebosanan yang aku terima. Lebih kesalnya lagi di saat Iruka selalu mendesakku untuk beristirahat di rumah. dengan seenak jidatnya dia memberikan aku libur.
"Hei! Siapa pemimpin di perusahaan Hatake Corp.! Dasar Iruka gilaaa...dia memang sahabat gila!" Frustasiku tiba-tiba karena jenuh yang aku terima. Di saat aku sedang berada di atas ranjangku yang berukuran King Size.
Oh my sun, it won't shine,
It won't light up the back of my mind.
And these fires, they won't burn,
But to blacken the memories I've earned.
And these walls, are so thin,
But they somehow keep holding me in.
'Cause I've pushed, and I know,
What's to come at the end of this road!
'Cause it goes through...
terdengar suara ringtone "It Goes Through - Linkin Park" yang berbunyi dari I-phoneku. segera aku cari I-phone yang berada di atas nakas, dan langsung menggeser tombol hijaunya untuk kuangkat.
"Ya... Hallo." Sapaku yang masih terdengar malas-malasan di atas ranjang.
"Kakashi-kun bangun, harus sampai jam berapa kau tidur-tiduran, bagaimana kalau kita jalan-jalan" ujar seseorang yang sudah aku pastikan ini suara dari seorang wanita. Aku pun segera membuka mataku sedikit mendelik, hal yang paling aku benci adalah jika aku di telp oleh wanita dengan nada sexy yang dipaksakan. Lalu, kujauhkan I-phoneku dari telingaku untuk melihat siapa yang berani menggangguku, dan berani menelepon dengan suara yang ahhrhh tak bisa aku bayangkan. Seketika aku mengerutkan alisku, tertera nama "Anko Mitarashi" di layar I-phoneku. Aku mendecak kesal di saat itupula, tanpa menjawabnya aku mematikan telpon secara sepihak.
"Dasar... Tak bisakah aku, tak diganggu oleh wanita! Arghhhh..." Racauku kesal dan melempar I-phone ke atas kepalaku, segera aku mengambil guling dan memeluknya. Ku kembali terlelap begitu saja.
» Red of the Triplets «
"Kenapa disini sangat gelap sekali, dimana aku sekarang?" Gumamku dan melihat ke sekeliling sangat gelap. aku melangkahkan kakiku ke depan, semakin ke depan indera penciumanku seperti mencium bau sesuatu. Ya, bau anyir yang mengalir di bawah tepat dibawah kakiku.
"In-in-ini... Dar-dar-darah! Darah siapa ini!" Seruku saat menatap ke bawah kakiku dengan wajah yang terlihat seperti pucat pasi, karena melihat aliran darah yang mengalir bagaikan sebuah sungai. semakin lama aliran itu semakin deras, di saat aku menegakkan kepala ke depan dari jarak yang masih sangat jauh. Ku mendapatkan aliran darah yang ku lihat itu, seperti mengejar diriku layaknya sebuah banjir badang yang hendak menghantam semua benda maupun tubuh manusia. Aku mulai berlari untuk menghindari aliran darah tersebut, tapi darah itu mengalir deras dan segera menghantam tubuhku begitu saja.
BLARRRRRR... ZRRAASSHHH...
tubuhku terkena hantaman aliran darah yang deras, aku merasa seperti tenggelam di dalam lautan darah.
"Arghhhh... Arhhh... Huahhhftt...to-to-tolong aku!" Seruku untuk segera berenang naik ke atas permukaan lautan darah ini. Seketika saja, saat aku mengayunkan kaki ke atas tiba-tiba lautan darah menghilang begitu saja bak sekumpulan pasir yang terkena angin. Aku pun jatuh ke bawah mengenai lantai yang hitam. Lalu, aku berusaha berdiri dari jatuhku. aku merasakan sakit di bagian kaki, dan kembali berusaha untuk berjalan mencari sebuah titik cahaya dan keluar dari tempat gelap ini. walaupun aku tertatih-tatih untuk berjalan setidaknya sakit ini masih tidak terlalu parah. Di saat aku berusaha mencari cahaya penerangan, yang aku temukan hanyalah cermin-cermin. Cermin-cermin yang berdiri tegak dengan tinggi hampir sama dengan tubuhku, aku melewatinya dan tepat di hadapanku ada sebuah cermin yang dua kali lebih lebar dari tubuhku. Aku menatap cermin itu, nampak sebuah bayangan diriku yang berdiri di sana, tetapi anehnya bayangan ku atau lebih tepatnya diriku yang berada di dalam cermin ini menyeringai saat menatapku. Seringai bagaikan sebuah senyuman seorang psikopat, ia berbicara kepadaku dengan nada yang mengerikan.
"Hatake Kakashi! Kau hanyalah seorang Bajingan, dan seorang Keparat! Kau tahu? Betapa bodohnya dirimu saat ini! sangat…sangat…sangat bodoh sekali, sampai kau melupakan sesuatu." ucapnya sinis
"Apa maksudmu dengan seorang bajingan, dan keparat Huh? Aku tak paham dengan perkataanmu." Sahutku dengan mengerutkan kedua alisku.
"Ck, kau tak ingat sama sekali? Sudah aku bilang kau itu seorang Bajingan dan Keparat yang tak tau diri, kau tahu kenapa? Kesalahanmu di masa lalu itu sangat rentan, kau mau lebih tahu apa yang kau perbuat atas kesalahanmu Kakashi?" tanyanya kepadaku
"aku tak mengerti dengan perkataanmu, dan jangan mengataiku dengan sebutan seperti itu! Aku tak pernah buat kesalahan apapun, kau paham!" seruku yang sudah mulai sedikit tersulut emosi.
"HAHAHAHAHAHA…. Kau benar-benar seorang Bajingan dan keparat Hatake Kakashi! Kau tahu kesalahanmu itu adalah sudah menodai seorang Gadis, kau melecehkannya, dan kau sudah merenggut keperawanan Gadis tersebut Kakashi! Kau benar-benar seorang Keparat yang handal dalam berkata bohong, BHUAHAHAHA aku benar-benar salut denganmu, aku salut…" tawanya menggelegar seperti orang gila.
"Tidak! Aku tak melakukan sekeji itu! Aku tak pernah melakukannya.. enyah dari hadapanku! Pergilah jauh-jauh… arghhhh!" jawabku yang sudah tersulut emosi dan tanpa pikir panjang aku menghantam cermin tersebut, sampai retak mengakibatkan kepalan tanganku mengalirkan bau darah segar. Ya, kepalan tinjuku tadi berdarah, cermin di hadapanku retak. Tetapi tawanya masih terdengar, aku melihat sekelilingku, dia masih berada di sana. Tawanya semakin menggila membuat diriku tak kuat.
"HAHAHAHAHA Hatake Kakashi, kau benar-benar pembohong besar! kau seorang Bajingan, kau adalah Keparat yang telah menodai seorang Gadis. BWAHAHAHAHA" ucapnya gila.
"Hentikan! Aku bilang hentikan omong kosong mu! Pergi! Aku bilang pergi dari hadapanku! Arghhhhh~" histeris ku dengan sedikit frustasi, aku pun memejamkan mata lalu tubuhku gerakkan asal untuk menghancurkan semua cermin-cermin di sekelilingku. Aku tak perduli dengan darah, aku tak perduli dengan ini semua.
» Red of the Triplets «
~ Normal POV's ~
Terlihat seorang pria dengan rambut dikuncir seperti nanas, dan garis luka horizontal di atas hidungnya, pria itu menggoyangkan tubuh pria berambut perak tersebut dengan kencang, karena racauan pria itu semakin menjadi dan menggila.
"Kakashi! Wake Up! Kakashi… Hatake Kakashi Wake Up! Kakashi…Oiii..oiii Kakashi! Wake Up Oiiii Kakashi!" ujarnya dan Kakashi masih tak bisa dibangunkan, lagi pria itu membangunkannya dengan berteriak tepat di telinga pria itu.
"Kakashi! Oiii…Oiii Hatake Kakashi Wake Up!" ucapnya kembali. pria berperak itu terbangun dari tidurnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal, keringat dingin yang mengucur di pelipisnya.
"Hahhhh…. Hahhhh… Hahhhh…. Iruka! Sialan…" dengusnya dan ia mengusap wajah dengan kasar.
"kenapa kau mengataiku sialan? Masih untung kau, aku bangunkan daripada tidak." Ketus Iruka
"iyaa.. terserah kau saja, lalu ada perlu apa kau kemari?" tanya Kakashi yang sudah beranjak dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar dan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
"ohhh…itu sebenarnya aku mau memberikan amplop cokelat ini, hasil dari Asuma dan Hidan. yang kau minta dua minggu lalu, Kakashi." jelas Iruka dan ia pun mengikuti Kakashi keluar dari kamar dan menaruh amplop cokelat di atas meja ruang TV.
"Oh… informasi tentang Gaara? Sebenarnya aku sudah mengetahuinya. Tapi, hanya sebagian kecil saja Iruka." Jawab Kakashi dengan meneguk segelas air hingga tandas. Ia pun menuju ruang TV, lalu duduk di sofa.
"begitu ya, memang apa yang sebenarnya telah terjadi? Saat kau tidur, apa kau bermimpi buruk? Sampai para Maid-maidmu tidak berani membangunkanmu. Dan kebetulan juga aku disini, mereka memintaku untuk membangunkanmu." ujar Iruka sedikit heran.
"pantas saja kau yang membangunkanku. Hahhh…tidak, tidak ada apa-apa hanya mimpi buruk biasa." jawab Kakashi ia pun membuka amplop cokelat tersebut. Dan mengambil isi amplop itu, terdapat beberapa File dan juga Foto-foto hasil pengintaian Asuma juga Hidan.
"apa tentang ayahmu? Kau memimpikan kembali Tragedy 15 tahun silam?" ucap Iruka yang membuat Kakashi sedikit terkejut.
"uhmm.. ahmmm ya.. iyaa, aku memimpikannya kembali Iruka, sudah aku tak mau kau membahas Tragedy itu. Aku sudah melupakannya, kau paham." ujar Kakashi dengan menaruh file, juga foto-foto di meja. Ia kembali mengusap wajahnya dengan gusar.
"Maaf, Kakashi.. aku tak bermaksud untuk itu, baiklah..hahh.. lalu kenapa kau ingin mencari tahu tentang Gaara dan keluarganya?" permintaan maaf dan tanya Iruka kepada Kakashi
"hahh.. entahlah Iruka, aku hanya ingin tahu saja tentang anak tersebut. Karena, aku merasakan hal yang aneh. Kau tahu seperti ada keterkaitan antara diriku dengan anak tersebut, dia seperti seseorang dari masa laluku. Matanya, senyumanya.. terlebih keterkaitan itu sangat dalam, layaknya hubungan antara ayah dan anak." jelas Kakashi, Iruka hanya mendengarkan saja. Kakashi mengambil foto-foto yang di letakkan tadi, dan membukanya secara berurutan. Di saat Kakashi melihat foto seorang wanita dengan rambut musim semi, dan senyuman yang indah itu. Membuat pikirannya sekelebat kembali ke masa lalu. Dimana seorang Pemuda berpakaian serba hitam, menutupi kepalanya dengan Hoodie, menutupmata sebelah kiri tak lupa memakai masker untuk menutupi wajahnya tak lupa ia menyembunyikan sebuah belati lipat di dalam sakunya dan menenteng dua gun dengan jenis Double Barreta 92/Italia. Pemuda itu memasuki rumah megah, yang bertata cahaya. Tanpa hitungan menit, pemuda itu sudah menembaki orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut, tak lupa sang pemilik rumah juga ikut andil dibunuh oleh pemuda itu. Sekilass ia melihat seorang gadis dengan surai musim semi, ia sepertinya tadi sedang merayakan ultah ke-14nya, gadis itu berlari bersembunyi dari kejadian tersebut sebelum ayahnya dibunuh. Setelah pemuda itu membunuh semua ia menyeringai dengan sinis dibalik masker, gadis itu tak terlihat. Pemuda itu menaiki tangga melihat sekeliling lantai dua, setelah puas ia kembali turun ke bawah menuju dapur. Mengacak-acak isi dapur lalu menemukan gadis itu yang sedang bersembunyi, Pemuda itu menariknay dengan paksa untuk mengikuti ke lantai atas. Bau anyir di ruangan hall menyerbak ke seluruh penjuru. gadis itu menuttup matanya, ia dibawa ke dalam kamarnya sendiri, tubuhnya di banting ke atas tempat tidur, diberikan segelas minuman yang sudah diberi obat perangsang. Kembali pemuda itu menutup mata gadis kecil, tanpa pertahanan sama sekali ia berhasil mencium bibirnya dengan lembut dan dari lembut menuju kasar lalu semakin kasar. Setelah puas mereka berdua saling menyatukan tubuh, merasakan kenikmatan duniawi yang teramat sangat indah. Melakukannya sampai beberapa kali Klimaks itulah yang dilakukan mereka berdua. Lalu pemuda yang sudah menjadi seorang pria itu meninggalkannya begitu saja, meninggalkan gadis yang telah berubah menjadi wanita dengan keadaan sedikit menyedihkan. Kakashi yang kembali ke ingatannya sekarang mulai memgang kepala bagian belakang, ia mengeram karena sakit, pening yang terasa kuat itu membuat semua memori-memori masa lalunya kembali secara paksa. Memori atas kesalahannya, memoriyang sempat ia lupakan akibat kecelakaan. Memori dimana yang harus tak ia lupakan itu hadir, hadirr dengan pemaksaan. Kakashi mengeram kakinya sudah menaiki atas sofa, tubuhnya meringkuk, terlalu banyak keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya. sempat ia berpikir dengan mimpi yang baru beberapa jam terjadi, tentang dirinya mengatakan dirinya sendiri adalah seorang Bajingan dan Keparat, melakukan pelecehan merenggut sebuah keperawanan dari seorang gadis.
"Arghhhh~ Sa-sa-Sakit! Arghhhh~" umpat Kakashi. Iruka yang melihatnya terkejut bukan kepalang.
"Kakashi..Kakashi kau tak apa-apa atau perlu kita ke rumah sakit?" ucap Iruka yang sudah mendekati Kakashi, tetapi tak ada tanggapan sama sekali dari Kakashi. Kakashi hanya bisa menggeram kesakitan, foto yang sempat ia pegang tadi diremasnya sampai berbentuk menyerupai bola.
"Arghhh~ aku tak kuat! Ini…ini.. Sa-Sakit~ arghhhhhh~ sakit!" pekik Kakashi
"Kakashi, kita ke Rumah sakit, ayo kita ke rumah sakit. Jangan kau paksakan dirimu untuk menahannya. Ayolah… tubuhmu sudah panas Kakashi!" sahut Iruka
"Iruka…aku sudah tak kuat… Arghhhh~ Sa-sakit... argghhh~ sakit..maafkan aku Sakura~" ucap Kakashi lemah dan seketika saja Kakashi pingsan di tempat, Iruka yang melihatnya sangat terkejut. Apalagi ketika ia mendengar kata-kata terakhir Kakashi sebelum dia pingsan.
"Kakashi… oiiii kau sedang tak bercanda kan.. oiii Kakashi bangun! Oiiii… Kakashi! Kakashi! Killer B! Kisame! Teleponkan ambulance cepat!" teriak Iruka panik
"ada apa tuan Iruka… tuan besar Kakashi…ada apa dengannya?!" tanya Kisame yang sudah berada disana karena tadi ia berlari.
"Panggil Ambulance cepat!" perintah Iruka
"ba-baik tuan Iruka." Ucap Kisame yang langsung mengambil telepon rumah dan menelepon Ambulance untuk dikirim ke kediaman keluarga Hatake.
» Red of the Triplets «
"Tadaima~" ucap mereka bertiga setelah sampai di apartment
"Okaeri~ Sasori, Gaara, Karin.. ayo cepat kalian bersih-bersih lalu setelah itu kalian makan. okaa-san hari ini sudah masak enak buat kalian bertiga.
:Hountoooo~ Okaa-san paling terbaik.. nee~ hari ini memangnya masak apa?" tanya Karin dengan mata yang sudah antusias.
"tentu saja, Okaa-san sudah membuatkan Teriyaki kesukaan kalian. Jadi, cepatlah bersih-bersih lalu ayo kita makan." ujar Sakura dengan lembut
"Yeyyyyy~ Teriyaki aku duluan yang mandi.." sahut Karin dan berlari ke kamar mandi, sebelum ia sempat sampai kamar mandi Sasori sudah menarik kerah Karin.
"Eitsss.. yang tua terlebih dahulu, yang kecil belakangan." Ucap Sasori tersenyum
"Mouuuu~ Okaa-san, Sasori nii- gak mau ngalah!" dengus Karin dengan membenarkan kacamatanya.
"Sasori…. Pakai kamar mandi atas, biarkan karin pakai yang bawah." ujar Sakura
"iyaaa deh iyaa… Okaa-san. Huhh dasar tukang adu." Ujar Sasori dan langsung menjitak Karin dengan pelan, Sasori langsung kabur ke lantai atass untuk bersih-bersih.
"Okaa-san! Sasori nii- main jitak Karin!" sahut Karin sebal dengan kelakuan kakaknya. Walaupun dia baik terkadang Sasori juga bisa sama jahilnya seperti Gaara.
"Sasori….." sahut Sakura memperingati
"Iyaaa Okaa-san Gomenasai Karin-chuannnn.." teriak Sasori dari atas.
"dasar anak-anak ada saja perilaku jahil mereka, hahhh…. Karin sudah sana kamu mandi." Ucap Sakura lembut
"iyaaa Okaa-san." Ujar Karin dengan riang, ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Karin, Sasori berada di kamar mandi masing-masing dan membersihkan diri, tetapi tidak dengan Gaara yang masih terdiam di kamarnya. Gaara melihat ke atas langit-langit dengan kedua tangannya yang menopang kepalanya sebagai bantalan.
"Sebenarnya, apa yang sudah aku rasakan ini ya? Kenapa waktu aku bertemu dan bersalaman dengan Mr. Hatake Kakashi seperti sangat berbeda sekali? Tidak seperti aku menjabat tangan Yamato Ji-san ataupun Guru-guruku, ini…. berbeda, perasaan ini seperti ada keterkaitan atau hubungan yang sangat familiar. Apa aku harus mencari tahu informasi tentang Mr. Hatake? Tapi, bagaimana caranya? Aku saja tak memiliki uang untuk menyuruh orag. Hahhhh…" hela nafas Gaara dengan sedikit panjang, ia pun membalikkan tubuhnya menghadap dinding dan sedikit terlelap, dengan seragam sekolah yang masih terpasang di tubuhnya.
» Red of the Triplets «
Di rumah sakit terlihat Kakasshi yang sudah masuk ke ruang UGD. Dokter dan Suster segera melangsungkan pertolongan pertama terhadap Kakashi yang tadi pingsan di rumah. Sedangkan Iruka ia terduduk lemas di depan ruang UGD, entah apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap sahabat kecilnya itu. Membuat Iruka semakin penasaran. Jujur, selama ini Kakashi sepertinya baik-baik saja dan tak ada masalah apapun. Tetapi kenapa, Kakashi meminta untuk mencari sebuah informasi dari seorang anak laki-laki yang dua minggu lalu bertemu, di saat anak itu melakukan presentasi lomba.
"ini semakin aneh? Apa yang telah terjadi. Lalu, siapa Sakura?" gumam Iruka bingung, dan berbagai macam pertanyaan sudah berputar di dalam otaknya perihal dari Sahabat kecilnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Nyeahahahagz.. selesai! Chapt IV! Maaf kalo pendek…. Tapi tenang saja, entar bakal update lagi kok.. Oh iya minna~san jangan lupa baca Fic KakaSaku yang lain yg judulnya "Hanya Settingan (?)" disambil untuk menunggu fic ini tetap berlanjut hahaha..kalo yg Crossover terpaksa Auth- River tunda dulu karena stuck in middle okayy..
Thanks buat Readers yg sudah nyempetin mampir and baca lalu ngereview ni Fic.. huhuhu senangnya (^3^)/ #plakkk
Thanks to: mrs. Hatake15Kakashi, Ade854, Lucifer99, dan para silentreaders..
-Mrs. Hatake15Kakashi: lanjut? Ini udah ku lanjut…hahaha… gak kok, tenang aja gak bakal dibunuh sama Gaara tapi di bantai :v #bletakkk
-Ade854: lumayan sih kalo dangdutan, gak terlalu.. lebih suka lagu Headbang! Crown The Empire, Memphis May Fire, Asking alexandria, dan sebangsanya *malah curcol* iyaaa ini nanti bakal ketahuan tetep tapi secara perlahan.. huahahaha..
-Lucifer99: uhmm iya Kakashi udah om om 3 anak.. hahaha..jangan patah hati… :3. Update kan? Ini sudah update… gkgkgk…
Sekali lagi thanks to All, udah mau mampir and baca… sekali lagi ini updatenya tapi maaf kalo kurang, tangan auth- River ude pegel.. belum semalem udah ngetik trus ulang. Terpaksa ketik lagi kan bete jadinya :v… ahh udah ya sekali lagi Arigatooouu~
Jaaaa~ Minna-san #kaburpakeskateboard.
