• Red of the Triplets •
.
.
Disclaimer to: Masashi Kishimoto (Naruto)
Pairing: KakaSaku (Kakashi x Sakura)
Cast: Sasori, Gaara, Karin, Tayuya
.
.
Rated: M (for Lemon and Lime/Kasar/ juga all of them)
.
Warning: OOC, Typo, Gaje, all of them :v
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Humor, Tragedy
.
.
(Don't like Don't Read!)
Auth River pan udah bilang, ni Fic NOT TO 18- (Under 18), TAPI BUAT 18+ (plus+) kalo masih nekat, semua ditanggung masing2 bukan sama Auth River
#evilgrin
.
.
.
~ Part VI – Memories of Broken Heart ~
.
.
.
.
.
- Sakura POV's –
Pagi ini, aku terbangun untuk segera melakukan aktifitasku sehari-hari. lalu, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan masuk ke dalam, ku tanggalkan semua pakaianku dan membuka kran shower dengan air hangat. seluruh air telah membasahi tubuhku, kupejamkan kedua mata dengan merasakan air yang mengalir dari atas pucuk kepala ini. sebenarnya memori masa laluku masih jelas aku ingat, di saat ulang tahun ke-14. betapa menyedihkannya diriku ini, hari yang seharusnya menjadi kebanggaan atau hari paling terbahagia, di setiap orang-orang yang merayakan hari lahirnya. Tetapi, tidak untuk diriku saat itu. hari dimana yang paling aku tunggu menjadi sebuah hari bencana untukku. Bagaimana tidak? kedua orangtuaku dibunuh, lalu kerabat-kerabat dekat maupun jauh juga ikut andil menjadi korban di malam bencana tersebut.
Aku menghela nafas sejenak, ku hapus air mataku yang ternyata sudah berlinang di pelupuk mataku. rasa sakit, perih, benci dan yang lainnya tercampur aduk di dalam dadaku. rasanya benar-benar menyesakkan dadaku. karena bencana itu, bencana yang tak pernah aku inginkan tersebut harus terjadi. di saat ayah menyuruhku untuk lari meninggalkan rumah, tapi aku tak menuruti perkataannya, aku hanya berdiri, sembunyi di balik gucci besar setelah itu aku menatap dengan sendirinya ayah tergeletak bersimbah darah, aku pun hanya terdiam kaku dan aku sempatkan berlari. Karena aku sangat takut, aku hanya bisa bersembunyi di dalam gudang.
Sebelum ibu dan ayah terbunuh, aku bisa melihat seseorang yang mengacungkan sebuah senjata di hadapan ayah. Tapi, orang itu nampak tersamar-samar, yang aku lihat ujung rambutnya yang berwarna perak. Setelah itu aku menutup mata dan mendengar suara jeritan wanita, iya wanita itu suara ibuku. Lalu, terakhir yang aku dengar hanyalah suara tembakan. Tubuhku benar-benar bergetar hebat akibat takut yang sangat dalam itu, lalu sejak itu aku terdiam dan bersembunyi sampai pria yang telah membunuh seluruh keluargaku itu mengetahui keberadaanku di dalam gudang. Dia menarikku secara paksa, suaranya yang masih terngiang di dalam pikirankku sampai sekarang mungkin aku tak akan melupakannya. Pria itu menarikku dan membuka lemari pendingin, mengambil sesuatu. Aku yang menarik-narik tanganku tak bisa ku lepas, karena cengkramannya lebih kuat daripada yang aku duga. Setelah itu dia kembali menarikku untuk mengikuti dirinya, aku melihat banyak mayat-mayat yang tergeletak di hall, akupun menutup mata sampai aku merasakan jika kami telah menaiki sebuah anak tangga.
Dia membawaku ke dalam kamar, tepatnya kamar milikku. Saat aku akan menghidupkan lampu dia hanya membanting tubuhku ke atas ranjang dan mengancamku. dan akhirnya dia menyuruhku meminum segelas jus yang tadi diambilnya tapi aku sempat menolak sampai dia membentakku, menyuruhku untuk meminumnya dan ia pun menutup mataku dengan sebuah kain saputangan. Perlahan aku tak merasakan apa-apa sampai seketika saja tubuhku terasa panas, dia menindihku dan mencium leherku. Rasa geli yang aku terima dan sedikit sakit ketika dia menggigit leherku, dalam waktu sekejap dia mencium bibirku melumatnya dengan lembut, tubuhku yang semakin panas ini, entah kenapa seperti bukan diriku saja ketika aku melakukan hal yang tak aku inginkan. Aku merangkul lehernya, pria itu mulai menjelajahi tubuhku dan terasa kalau pakaianku sudah dibukanya, sampai pada akhirnya aku merasakan sebuah benda tumpul yang mengoyak bagian bawahku, benda itu semakin masuk lebih dalam sampai aku berteriak kesakitan, aku merasakan sakit yang hebat, dan rasa sakit itu tiba-tiba menghilang dengan dia seperti memaju mundurkan benda tumpul tersebut, aku mulai merasakan kenikmatan yang sangat hebat. Setelah itu aku tak tahu apa-apa lagi, sampai aku ditemukan oleh Yamato seorang polisi muda, keadaanku waktu itu sudah berada di rumah sakit.
Aku menggelengkan kepalaku, memori masa lalu yang sangat kelam juga menyedihkan itu aku buang jauh-jauh, dan menyadarkanku dari ingatan itu. Akupun menyabuni tubuhku dan membersihkannya, aku menyudahi mandiku dan segera bersiap-siap untuk membuat sarapan. Selesai ku berganti baju, aku berjalan ke dapur dan membuat sarapan pagi untuk ketiga anak kembarku. Entah ada rasa benci atau rasa senang yang sebenarnya ku rasakan ini, benci karena kejadian kelam dan dia melecehkanku, senang mungkin karena aku melahirkan tiga orang anak sekaligus dan mereka adalah kembar. Sebenarnya aku tidak terima dengan takdir menyedihkan seperti ini, takdir yang menyakitkan, berawal yang sebenarnya aku tak menerima jika aku hamil, karena di usiaku waktu itu banyak gadis-gadis yang bersekolah dan bersenang-senang. Sedangkan diriku ini sangat memilukan harus mengandung entah anak siapa dan tanpa suami yang resmi, itu benar-benar menyedihkan. tapi semenjak kakakku yang mengetahuinya dia memberikan sebuah nasihat untuk tak mengugurkan kandungan, karena sungguh Tuhan akan berencana lain dengan anak-anak di dalam rahimku, akupun menuruti kata-kata kakakku. Dialah penolongku dari aku hamil besar sampai pasca melahirkan dia yang membantu, tanpa ku sadari aku melahirkan tiga anak kembar, ini sungguh mukjizat yang tak berbanding. Kakakku sangat bahagia ketika mengetahui anakku kembar tiga, mereka tampan dan cantik. Aku sungguh terharu melihatnya sempat aku menangis bahagia, jika saja aku tidak mendapati takdir seperti ini melainkan mendapati takdir seperti wanita lainnya mungkin sedikit berbeda saat aku melahirkan ditemani seorang suami, bukan seorang kakak. Aku mengulas senyuman di saat itu juga, tanpa aku sadari aku mendengar suara anakku memanggil.
"Ohayou, Okaa-san. Apa ada yang bisa Karin bantu?" ujarnya saat menyadarkanku sedikit dari lamunan tadi.
"ehh.. Karin-chan O-Ohayouu.. uhmm kau mengagetkan Okaa-san saja." Ucapku dengan mengelus dada
"hehehe.. maaf, habis Okaa-san daritadi sepertinya masak belum selesai-selesai?" ucapnya dan mulai mengeluarkan susu kotak 1 liter dari dalam lemari pendingin
"ahhh~ iyaa sepertinya Okaa-san sedikit lelah." Elakku dan kembali melanjutkan masak
"Okaa-san kalau lelah kenapa tidak istirahat saja? Biar Karin yang buat sarapan, nanti juga biar Karin yang bilang ke Ayame obaa-san kalo Okaa-san lagi gak enak badan, jadi hari ini tak usah bekerja dahulu di restoran paman teuchi." Jelas Karin panjang lebar
"tidak Karin, tidak usah. Terima kasih sudah memperhatikan okaa-san. Tapi, Okaa-san harus bekerja untuk kebutuhan dan sekolah kalian. Sudah, kamu siapin ini minuman saja." Ujarku dan menyelesaikan masak. Setelah selesai segera aku menyiapkan sarapan di meja.
"Yosh! Siap Okaa-san. Gaara nii~… Sasori nii~ sarapan sudah siap!" teriak Karin memanggil kedua kembarannya.
"Iya berisik, gak usah teriak-teriak!" itu pasti suara Gaara, dia yang selalu menjawab teriakan karin dari lantai dua.
"ya ampun, anak itu." Gumamku dan sudah selesai menyiapkan sarapan. Aku melihat Karin seperti aku waktu kecil, dia memang sangat periang dan juga sensitif, apalagi kalau ada orang yang menanyakan tentang siapa ayahnya? Itu yang membuat Karin berubah drastis dari periang menjadi pemurung. Pernah sewaktu dia kecil, saat bermain dengan anak-anak lain di taman, Karin pernah diejek oleh salah satu anak perempuan dengan berblonde lurus.
"Kalin-chan kau tak punya otou-san ya? Pantas saja kelakuanmu seperti itu, aneh! Apalagi ibumu itu masih terlalu muda, kau tahu ayahmu pasti pelgi meninggalkanmu dan kakakmu."
"kamu apa-apaan sih, aku punya otou-san! Dia lagi kelja cali uang, buatku. Buat beli mainan yang mahal!" bela Karin
"ihhh bohong, buktinya mana? Kok aku gak pelnah lihat, huhuhu kalin pembohong!" serunya, karin hanya terisak waktu itu sampai Gaara menghampiri anak perempuan tersebut.
"jangan pelnah ganggu kalin, kalau kau ingin masih main disini! shion" seru Gaara, dan anak perempuan itu hanya bisa mendengus lalu pergi, aku hanya tak sengaja melihat anak-anakku dari jauh waktu itu. Sangat miris melihat keadaan mereka yang tak memiliki seorang ayah, terlebih Karin yang sangat sensitif. Aku memang sudah berapa kali dijodohkan oleh kakakku ketika ku berumur 18th, tapi aku menolak semua perjodohan itu, karena yang aku lihat mereka tak sepenuhnya tulus, apalagi dengan anak-anakku.
"Okaa-san, melamun lagi?" ucap Sasori tiba-tiba menyadarkanku
"ehhh… tidak Sasori-kun, sudah kamu sarapan, dan kalian buruan berangkat karena hari ini terakhir kalian pelajaran kan, dan besok kalau tidak salah kalian ujian akhir?" ucapku yang ikut sarapan
"iya, tanggal 13,14,15, dan 16 kami ujian akhir Okaa-san." Jawab Gaara yang sudah melahap sarapannya.
"iya dan apalagi kalau tanggal 13 besok itu ujian bahasa jepang dan kanji, kepalaku sudah berputar-putar okaa-san." Dengus Karin
"makanya belajar yang benar." Celetuk Sasori
"Sasori nii~ nakal, huhhh…" ucap Karin dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"sudah-sudah..habiskan sarapan kalian, lalu segera berangkat. Okaa-san juga mau bekerja." Ucapku kembali
"iya okaa-san" jawab mereka serempak
» Red of the Triplets «
Jam sudah menunjukkan pukul 8.00 a.m, setelah satu jam yang lalu anak-anak sarapan dan berangkat. Sekarang giliranku yang bersiap-siap dan berangkat ke restoran yang jaraknya sebenarnya tak jauh dari apartment sederhana, restoran Ramen dan juga berbagai macam makanan, atau kue tradisional juga ada. kebetulan aku waktu itu diterima bekerja di restoran tersebut, restoran dengan suasana kekentalan jepang dan nama pemiliknya Paman Teuchi dia sudah seperti ayahku sendiri, karena kebaikannya. Sebenarnya paman teuchi adalah ayah dari ayame-chan. Ayame itu juga sahabatku ketika aku bersekolah, dia juga mengetahui kasus yang aku alami tetapi dia bisa menympan rahasia tersebut dengan rapat-rapat. Selesai aku siap-siap, aku langsung mengunci apartment dan menyimpannya di balik papan namaku, lalu aku segera berangkat ke restoran paman teuchi. Sudah hampir 4 tahun aku bekerja disana, cukup dengan berjalan kaki, butuh 30 menit untuk sampai ke sana. Akhirnya setelah 30 menit aku pun sampai di restoran tempatku bekerja.
"Ohayouu… ayame-chan" sapaku
"Ohayouu.. Sakura-chan." balasnya.
"paman teuchi mana?" tanyaku yang sudah memakai apron
"oh, dia sedang mengambil bahan-bahan sama Itachi." Jawab ayame yang sedang menyiapkan mangkok-mangkok dan yang lainnya.
"oh, baiklah kalau begitu, aku akan membersihkan depan sebelum di buka." Jawabku dan kembali melepas apron, akupun bergegas ke depan dan membersihkan meja-meja dan menata kursi untuk diturunkan. Aku bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, terkadang aku bisa pulang duluan, atau aku bisa lembur kalau weekend ramai, bisa sampai jam 9 atau lebih dari jam itu aku bekerja hanya demi mencari rejeki dan kebutuhan sehari-hari untukku juga anak-anakku.
» Red of the Triplets «
~ Normal POV's ~
Nampak pemuda bersurai merah itu sedang asyik membaca bukunya di perpustakaan sekolah, tak luput dari sana banyak gadis-gadis yang menatap dirinya dengan intens, rambut yang terlihat berantakan mata yang berwarna hitam kemerahan, dan wajah baby face yang dimilikinya itu semakin membuat para gadis-gadis tak meninggalkan tempat tersebut karena mereka tak bisa meninggalkan tempat yang sudah ada seorang malaikat, walaupun itu malaikat pencabut nyawa sekalipun. Mereka semua masih menatap intens, sampai terlihat gadis bersurai merah menghalangi mereka.
"Kalian semua lihat siapa? Mau baca di perpustakaan atau melihat Sasori nii~?" ucapnya sedikit sakratis. Gadis-gadis itu pun hanya tersipu malu dan mereka pergi meninggalkan perpustakaan.
"Karin, ada perlu apa? Jangan berisik, ini perpustakaan." Ucapnya dengan lembut tanpa melihat dengan masih membaca sebuah buku dengan tulisan dari karangan Edgar Allan Poe.
"Sasori nii~ aku tak membuat keributan hanya saja, gadis-gadis itu betah sekali ya, menatap nii-chan tanpa berkedip sekalipun, uhmm.. apa yang sedang kau lakukan disini?" ujar dan tanya Karin ke Sasori yang sudah duduk di sebelah sasori
"aku membaca buku mystery, karangan Edgar Allan Poe, kenapa?" ucapnya yang masih terfokus di buku bacaanya
"Sasori nii~ kalau bicara tatap aku, jangan menatap bukumu itu." keluh Karin
"sssttt… tenang ini perpustakaan, dan aku sedang serius dengan buku ini." jawabnya masih santai, hanya terdengar suara kertas yang sering di bolak-balik oleh Sasori
"Baka~ nii-chan.. ya sudah, aku hanya membawakan roti dan susu cokelat ini, dan jangan lupa dimakan aku gak mau penyakit nii-chan kumat. kalau gitu Karin permisi" ujarnya santai dan meninggalkan Sasori sendiri kembali
"iyaa.. Karin terima kasih, tidak akan kau tenang saja. Nii-chan gak akan kumat kok." Jawabnya dan ia hanya melihat adiknya pergi lalu kembali ia membaca bukunya sambil memakan roti yang dibawakan Karin tadi.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Hanya segitu dulu aja… ini kayaknya sebagai cuplikan saja sepertinya :v #plakkk
Aiyayayaya… thanks to all yang sudah mau mampir ke mari, dan membaca Fic Abal dan gak karuan ini ahahahaha… and then thanks to yang sudah mau nyempetin reviews.
Thanks to: mrs. Hatake15Kakashi, Ade854, Lucifer99, Taskia Hatake46, ira quinn, dan para silent hill #eh maksudku silent readers :p malas mau nge-bales reviews, tanganku auth-river lagi kesel ahahahaha #ditimpukGaara sudah ya cukup sekian dan terima kasih, kemarin gak update gegara ngantuk berat.. karena udah beberapa gari Auth-River ngalong :v ahh cusss deh byeeee #Running
