Selama ini kita sangat menyukai boneka karena bentuknya yang imut dan lucu. Tapi, apa jadinya kalau yang mereka datangi adalah boneka yang memiliki sebuah keanehan?

...

...

Mystical Doll

...

SasuSaku, GaaSaku, NaruHina, SaIno

Warning : GaJe, OOC, Bad EYD, typo.

Don't like? Don't read !

Ganre : Romance, Mystery,Horor.


Chapter 4

Normal Pov

"AKKKHHHHH !" Mereka tiba-tiba saja mendengar teriakan dari belakang, sontak mereka berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ia melihat sahabat merah mudanya yang berteriak histeris.

"SAKURAA!" Saat teman-temannya ingin menolongnya, tiba-tiba Sakura menghilang begitu saja.

"SIAL ! Boneka itu sudah menculik Sakura !" Kata Sasuke frustasi dan marah, bagaimana tidak, dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga Sakura.

"Ba..Bagaimana ini? Sa..Sakura-chan?" Tanya Hinata khawatir karena kejadian barusan terjadi begitu cepat. Menurut mereka sepertinya misi kali ini akan lebih sulit dari apa yang mereka duga. Tapi, sepertinya mereka salah. Ini adalah awal masalah yang bisa terpecahkan.

"Biar aku yang mencari Sakura, yang lain tetap di sini saja." Usul Gaara tiba-tiba, membuat yang lain tersentak dari lamunannya.

"Oh tidak ! kita harus mencari Sakura bersama-sama." Ino yang sedari tadi syok akhirnya mengeluarkan pendapat, karena menurutnya lebih baik jika mereka bersama-sama di banding berpencar seperti itu.

"Ya. Kata Ino ada benarnya, jika kita berpisah di sini akan lebih sulit lagi." Kata Sai mengingatkan.

"Baiklah, kalau begitu kita harus cepat." Gaara yang sudah tidak sabar akhirnya berjalan duluan meninggalkan teman-temannya di belakang.

...

...

^0^...Mystical Doll...^0^

...

...

Ino Pov

Sekarang kami berjalan tak tahu arah untuk mencari Sakura. Sudah sekitar sejam yang lalu Sakura menghilang, rasa lelah sudah menghampiri kedua kakiku.

"Istirahat sebentar yah." Pintaku ke arah yang lain, dan yang lain hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Segera saja aku duduk di bangku yang terbuat dari rotan berwarna kecoklatan itu. fuah akhirnya kaki-kakiku bisa istirahat juga.

"Sakura-chan di mana yah?" Bisa ku lihat wajah Hinata yang panik setelah ia duduk di sampingku. Kugenggam tangannya, semoga saja dia sedikit lebih tenang.

"Tenang saja. Aku yakin, Sakura baik-baik saja." Kataku menenangkan Hinata walau caraku termasuk cara yang tidak mompan.

"Semoga." Pintanya dan membalas genggaman tanganku. Tiba-tiba Sasuke bangkit dari duduknya, membuat kami semua menatap ke arahnya.

"Biar aku saja yang mencari Sakura. yang lain istirahat saja dan jangan sampai berpencar." Katanya dengan ekspresi datar. Sebelum kakinya melangkah tiba-tiba sebuah suara mengintruksinya.

"Aku ikut." Kata Gaara sang pemilik suara dan berdiri dari tempatnya duduk.

"Tidak boleh ! kalau kau ikut, Sai akan kelelahan menjaga mereka semua. Kau tahukan kalau Dobe itu takut dengan hal-hal seperti ini." Kata Sasuke mengingatkan.

"Apa kau bilang Teme sialan !" Mendengar Sasuke berkata seperti itu, Naruto tidak terima dan melakukan aksi protes.

"Hmm. benar juga." Bukannya mendengar ocehan Naruto, Gaara malah menjawab perkataan Sasuke.

"Baiklah. Aku pergi dulu."

...

...

^0^...Mystical Doll...^0^

...

...

Sasuke Pov

Sebenarnya aku tak tahu harus mencari Sakura kemana, tapi aku yakin dengan filing Uchiha ku. Jadi, aku mengikuti filingku saja. Yah, mengikuti filing. Walau banyak orang yang menganggap caraku dengan cara bodoh tapi percayalah filingku tidak pernah salah.

...

...

^0^...Mystical Doll...^0^

...

...

Sakura Pov

Kubuka kelopak mataku secara perlahan, aku tak tahu apa yang telah terjadi padaku. Rasanya kepalaku sakit.

Aku di mana?

Itulah pertanyaan yang tepat untuk saat ini.

Aku kenapa? Oh iya, aku baru ingat, aku di bawa seseo- eh salah tapi makhluk gaib ke sini.

Tapi siapa? Seperti Okiku, tapi bukan dia. Aku ingat betul wajahnya, orang itu bukan boneka tapi manusia sepertiku. Ah ralat bukan manusia tapi hantu manusia. Bukan hantu boneka.

Ku lihat ke sekelilingku, aku terbaring di tempat tidur berukuran King size. Tapi, kenapa bisa? Emangnya di kuil seperti ini ada kamar? Kuraih senterku dan menyalakannya. Yah, memang ini kamar. Tapi di sini banyak sekali boneka teddy bearnya seperti kamar anak kecil.

"Hiks... Hiks... Hiks... Hiks." Tiba-tiba kudengar suara isak tangis anak kecil. Kucari asal suara itu dan ternyata seorang anak kecil tengah duduk di kursi meja belajar. Anak berusia 5 tahun, rambut hitam sebahu. Kudekati anak itu, kucoba memegang bahunya secara hati-hati.

"Ka..Kau kenapa? kok nangis?" Tanyaku hati-hati. Perlahan gadis kecil itu berhenti menangis dan melihat kearahku.

"AAAAaaaakkhh!"

...

...

^0^...Mystical Doll...^0^

...

...

Normal Pov

Mereka sedang cemas menunggu Sasuke dan Sakura kembali.

"Lama sekali mereka." Kata Naruto melirik jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.

"Hmm, atau kita menyusul Sasuke saja?" Usul Sai,

"Kurasa tidak usah, aku yakin dengan Sasuke." jawab Naruto cari aman.

"Sudah pukul setengah 1, aku ngantuk." Kata Hinata menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena menguap.

"Ya, aku juga." Kata Ino setuju.

"Kalian tidur saja. Biar kami yang menjaga." Kata Sai, mendengar perkataan Sai barusan membuat kedua gadis tadi tidur dengan cara duduk dan bersandar di kursi itu.

"Bagaimana ini? Apa yang akan kita lakukan? Kalau kita hanya duduk dan menunggu saja, aku yakin misi kita akan gagal." Kata Gaara mengingatkan dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar di tembok.

"Hmm, benar juga. Tapi bagaimana lagi? Siapa yang akan menjaga Ino-chan dan Hinata kalau kita pergi?" Tanya Sai memandangi sang kekasih dan sahabatnya secara bergantian. Tiba-tiba mereka—Gaara dan Sai— bertukar pandang, dan melihat kearah Naruto. merasa di perhatikan Naruto berkata dengan sewotnya.

"Apa lihat-lihat?" Tanyanya.

"Hmm, tidak. Hanya saja. Kau bisa menjaga mereka berdua?" Tanya Gaara langsung ke topik pembicaraan.

"Maksudmu?" Bukannya menjawab, Naruto malah bertanya balik karena tidak mengerti dengan pertanyaan temannya yang berambut merah itu.

"Aku dan Sai akan mencari Sasuke dan Sakura. Kau jaga Hinata dan Ino di sini jangan sampai kau meninggalkannya." Jawab Gaara sambil menunjuk ke arah Naruto.

"Hei~kenapa harus aku?" Tanyanya lagi sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Kalau begitu, kau yang ikut dan Sai yang menjaga mereka. Bagaimana?" Tawar Gaara dengan senyum liciknya, yah dia tahu pasti Naruto tidak akan ikut karena dia sangat sensitive dengan hantu dan gelap.

"Ba..baiklah kalau kau memaksa. Aku akan tinggal di sini. Tapi ingat, kalian jangan lama." Kata Naruto. yah dari pada pergi dan ketemu dengan Okiku mendingan menjaga gadis-gadis itu di sini.

...

...

^0^...Mystical Doll...^0^

...

...

Sasuke Pov

Entah aku sudah ada di mana sekarang. Dan yang membuat aku bingung kenapa di tempat seperti ini kalau malam seperti seram dannn...

"AAKKHHH." Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari atas, seperti suara Sakura, dengan langkah cepat aku segera menaiki tangga.

...

...

...

Sakura Pov

"AAKKHHH!" Teriakku dan jatuh terduduk. Di..dia seperti Okiku. Kutatap wajah seram itu lama-lama. Tapi semakin lama kupandang dia bukan boneka Okiku itu, dia seperti anak perempuan berumur 5 tahun. Perlahan anak kecil itu menangis lagi membuatku sedikit ngeri.

"Ka..Kau kenapa menangis?" Setelah keberanianku berkumpul semua, akhirnya aku bertanya kepada anak kecil itu.

"Ada yang mengganggu tidurku. Hiks. Dia mengambil boneka kesayanganku." Jawab anak kecil itu. boneka kesayangan? Okiku maksudnya?

"A..apa kau maksud boneka itu, boneka Okiku?" tanyaku waspada.

"Hmm, iya. Orang itu mengambil bonekaku. Hiks. Makanya aku jadi gentayangan seperti ini. Hiks Hiks. Kakak, tolong ambilkan bonekaku kembali." Pinta anak kecil itu.

"Apa kau anak kecil yang bernama Okiku itu?" Tanyaku penasaran. Dan anak itu hanya menganggukkan kepalanya.

"Siapa yang setega itu mengambil bonekamu?" Tanyaku lagi. yah, aku mulai penasaran. Dan aku sudah punya firasat kalau yang selama ini mengganggu kami itu bukan anak ini tapi hantu lain.

"Di..dia seram. Hiks Hiks Hiks.. dia sering mengancam atau memukulku. Wajahnya seram seperti nenek sihir di film kartun." Jawabnya menjelaskan dengan raut wajah sedih. Aku berfikir kenapa makhluk seperti dia bermain dengan boneka? Seharusnyakan dia tidak ada di sini melainkan di alam yang berbeda.

"Ma..maaf kalau aku lancang. Tapi, kenapa kau marah bonekamu di ambil?" Tanyaku, dan anak itu melihat ke arahku dengan wajah yang penuh amarah. Oh astaga sepertinya aku salah pertanyaan.

"Ma..maaf maaf, maksudku bukan begitu. Tapi, kenapa dia mengambil bonekamu? Dan untungnya apa baginya?" Tanyaku segera mungkin sebelum anak ini melayangkan nyawaku begitu saja.

"Aku tak tahu. Tapi, sepertinya dia hanya ingin memanfaatkan bonekaku untuk balas dendam." Jawabnya kembali ke raut wajah awalnya. Hufft, untung dia tidak marah padaku.

"Balas dendam?" Tanyaku mengulangi perkataan anak itu. sepertinya aura yang selama ini di rasakan teman-teman yang lain adalah aura dendam milik hantu yang mengambil boneka itu.

"Iya, kalau kakak mau membantuku. Aku akan membantu kakak untuk keluar dari kuil ini dan satu hal yang perlu kakak ketahui, saat ini teman-teman kakak lagi dalam bahaya." Kata anak kecil itu menawar. Ku pertimbangkan tawarannya, sepertinya tidak ada yang rugi dalam hal ini. Dia mendapat bonekanya kembali dan kami semua bisa pulang dengan selamat. jadi, segera kuanggukkan kepalaku tanda setuju.

"Aku usulkan supaya kakak segera mencari kedua teman pria kakak karena mereka sedang dalam bahaya. Bye." Katanya dan langsung menghilang begitu saja yang membuatku kaget, saat aku ingin bertanya keberadaan anak kecil itu tiba-tiba...

BRAK'

Pintu kamar terbuka dengan kerasnya, segera kubalikkan badanku kearah pintu.

"SAKURA?" Teriak seseorang yang langsung muncul dari luar kamar.

"Sa..Sasuke?" Tanyaku tidak percaya. Bukannya menjawab Sasuke malah memelukku dengan erat.

"Syukurlah kau baik-baik saja." Katanya. Dan segera kubuang nafas lega karena Sasuke bukan termasuk kedua teman priaku yang dalam bahaya... APA? BAHAYA?

Kulepaskan pelukan Sasuke dan memegang kedua bahunya,

"Sasuke? mana teman-teman yang lain? Maksudku, apa kau kesini bertiga?" Tanyaku cemas sambil melihat kedua bola mata Onyxnya. Awalnya Sasuke heran dengan pertanyaanku barusan, tapi akhirnya dia menjawab juga.

"Betiga? Aku sendirian nona. Dan aku yakin teman-teman yang lain aman. Kau tenang saja." Mendengar jawaban Sasuke membuat hatiku sedikit lebih lega lagi, sepertinya anak itu salah.

"Kalau begitu ayo kita pergi dari sini."

...

...

^0^...Mystical Doll...^0^

...

...

Hinata POV

Saat ini aku sedang lelah sekali, entah mengapa rasanya kuil ini menjadi lebih besar dari terakhir yang kami lihat. Awalnya kami hanya ingin memecahkan misteri boneka Okiku tapi kurasa semuanya bertambah susah karena Sakura hilang begitu saja di depan boneka tersebut, dan sekarang bertambah parah lagi karena kami berpencar. Sasuke memilih mencari Sakura sendirian dan menyuruh kami beristirahat, beberapa menit kemudian Gaara dan Sai pergi untuk menyusul Sasuke dan sekarang aku di sini hanya bersama Ino dan Naruto. ahh~ semoga mereka semua selamat.

SREK..

SREK..

SREK..

Kubuka kelopak mataku dan melihat kesegala arah. Aku yakin seseorang menarik kaki kananku. Tapi, saat kulihat teman-temanku yang lain. Mereka semua sedang tertidur. Ino di sebelah kananku dan Naruto di bawah lantai samping lemari kaca. Apa yang tadi itu Naruto? tapi, dia sedang tertidur dengan pulasnya. Apakah Ino? Tidak, kurasa bukan. Jadi siapa?

Mungkin yang tadi itu hanya perasaanku saja. Yah, perasaanku saja. Segera aku kembali ketidurku semula. Tapi, belum 1 menit tiba-tiba...

SREK..

SREK..

"Siapa sih?" Tanyaku mulai jengkel dan menaikkan beberapa oktaf suaraku. Namun hasilnya sama saja. Tak ada seorangpun yang kudapati sedang mengerjaiku. Sial, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Suasana ruangan ini mendadak menjadi tidak enak dan dingin. Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi. Kusandarkan badanku di sandaran bangku dan melihat kesekeliling ruangan. Entah mengapa ini hanya perasaanku atau tidak kalau ruangan ini menjadi seram.

TING TONG TING TONG TING TONG

Suara jam di ujung lorong mengagetkanku, kupandangi jam itu saat ini pukul 1 malam tepat. Hufft, mana yang lain? Kenapa mereka lama sekali yah. Eh? Dia siapa? kenapa ada seseorang di tempat ini selain kami?

Aku berdiri dari tempatku duduk dan menyusul orang itu, siapa tahu dia bisa membantu kami untuk menemukan Sakura.

"Tunggu !" Kataku yang mulai mempercepat langkah kakiku. Tapi, orang itu tidak berhenti dan tetap berjalan.

"Tunggu ! aku mau bertanya." Dan yah aku menangkap pergelangan tangannya.

"Maaf aku mau berta...AAAAkkkkkhhhhh!"

...

...

...

Normal Pov

Di sisi yang lain, dua pria berambut berbeda itu masih berjalan mencari kedua—salah satunya lebih tepatnya— temannya yang menghilang dari rombongan.

"Kau tahu? Kita sudah melewati tempat ini selama 4 kali." Kata pria bermata jade dan berambur merah itu jengkel.

"Tanpa kau beritahu, aku sudah mengetahuinya, Gaara." Kata Sai tak kalah jengkelnya dengan pria yang berada di sebelahnya itu.

"Jadi bagaimana? Apa kita kembali saja ke tempat Ino dan yang lainnya?" Tanya Gaara menghentikan langkahnya. Melihat sang penanya berhenti membuat langkah Sai pun terhenti.

"Kurasa aku sudah mencobanya beberapa menit yang lalu." Jawab Sai sambil menaikkan kedua bahunya.

"APA? Jadi..." Sebelum Gaara menyelesaikan perkataanya, Sai langsung memotongnya.

"Tersesat? Kurasa tidak."

"Apa? Kau sudah gila yah? Kita tersesat Sai." kata Gaara mulai emosi dan menatap Sai dengan pandangan tidak percaya.

"Ini bukan hutan, Gaara. Ini Kuil. Jadi, tidak ada kata tersesat." Kata Sai menginformasikan.

"Sama saja BAKA! Kalau kita tidak bisa ke tempat tujuan itu namanya TERSESAT !" Teriak Gaara kehabisan kesabaran. Segera Gaara menarik kerah baju Sai dan ingin memberi pelajaran, sebelum kepalan tangan kanannya mendarat mulus di pipi kanan Sai tiba-tiba...

BRAKK'

Salah satu pintu di ruangan yang mereka datangi terbuka dengan sendirinya membuat kedua pria berjenis kelamin sama itu mundur beberapa langkah kebelakang. Mereka merasakan ada aura kegelapan di dalam ruangan itu.

"Apa kau tahu apa yang sedang terjadi barusan?" Tanya Sai tidak menatap ke arah lawan bicara karena saat ini matanya terfokus ke arah pintu yang beberapa detik yang lalu terbuka sendiri dengan kerasnya.

"Kurasa tidak. Tapi, kalau kau mau mencari tahu. Aku bersedia." Jawab Gaara. mendengar jawaban dari sahabatnya membuat Sai memandang ke arah Gaara dengan pandangan –apa kau serius?-

"Kita coba saja. Ayo."

"Hmm."

...

...

...

^^Bersambung^^


Chapter 4 sudah update. Maaf, maaf dan maaf kalau misalnya ceritanya jauh dari apa yang kalian fikirkan, maaf juga kalau masih ada typo dan sebangsanya.

Balasan review:

Blue-senpai : Kalau adengan mencoba pembunuhan kurasa ada. tapi kalau ada yang terbunuh, masih belum tahu. terima kasih sudah mereview^0^

Aki Yuki Haru : Iya, aku juga baru sadar kalau ada typo di sana. heheh. makasih sudah memberitahu dan makasih untuk review-nya:)

Iqma96 : Terima kasih atas dukungannya^0^

Arigatou, sampai jumpa hari jum'at selanjutnyaXD