(Last Chapter)

Sore ini Jaejoong berdiri di atas bukit, matanya memperhatikan seorang namja dan yeoja berpakaian sexy yang duduk di atas pangkuan namja berpakaian kantor lengkap itu. Pandangan Jaejoong kemudian beraliih kepada seorang yeoja cantik yang terlihat begitu terluka berada dibelakang mereka berdua. Jaejoong mengenal mereka. Pasangan yang bermesraan itu adalah Appanya dengan nenek sihir dan Yeoja yang menangis dan berlutut dibelakang mereka adalah Umma cantiknya. Jaejoong tidak menangis, ia hanya merasakan keringatnya mengucur deras dan nafasnya tersengal-sengal. Jaejoong merasakan jantunya seperti dicengkram keras melihat pemandangan yang menyakitkan seperti ini.

Tidak.

Hentikan semua ini!

"TIDAAAAKKKKKK!" Jaejoong membuka matanya dan terengah-engah. Jantungnya berdebar sangat keras. Jaejoong terisak keras, ketika teringat masa depan keluarganya yang ia lihat di mimpinya tadi.

Mimpi. Itu semua cuma mimpi. Cuma mimpi. M-I-M-P-I! ! !

.

.

.

Hari ini Jaejoong memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Ia merasakan tubuhnya lemas. Mimpi buruk itu benar-benar membuatnya ketakutan.

"Joongie.. Joongie.. Apa kau baik-baik saja?" teriak Jung Yunho dari balik pintu kamar mandi Jaejoong.

.

Jaejoong berjalan lunglai ke arah kamar mandi dan membuka kunci pintunya.

Ckleeek…

"Joongie, kau habis menangis?" tanya Yunho.

Kim Jaejoong hanya menggeleng. Wajah cantiknya sangat pucat, pancaran matanya redup dengan lingkaran hitam yang menghiasi dan suaranya hilang.

Jaejoong membasuh wajahnya, memperhatikan bayangan dirinya di cermin. Pipi tirus, bibir pucat, mata cekung, rambut yang aur-auran.

Apakah itu dirinya?

Kenapa terlihat sangat menyedihkan dan … jelek.

Di cermin itu pula terpantul bayangan Jung Yunho, namja tampan itu terlihat menatap Jaejoong dengan pandangan penuh rasa … entahlah. Aneh? Kasihan?

Namja itu terlihat sangat tampan. Walaupun baru bangun tidur dan hanya memakai singlet putih. Tubuhnya besar, dadanya bidang, kulit coklatnya terlihat sexy dan kedua lengannya kokoh. Sangat kontras dengan Jaejoong.

Mereka berdua terus bertatapan melalui cermin itu. Sampai akhirnya Yunho menarik tangan mungil Jaejoong dan menenggelamkan kepala namja cantik itu di dadanya.

Jung Yunho memeluk erat Jaejoong yang terlihat begitu rapuh. Namja cantik itu hanya diam di dalam pelukan hangat namja buron yang sudah menjadi tahanan kamar mandinya selama dua hari ini.

Yunho baru menyadari bahwa tubuh namja ini sangat kecil dan kurus. Bahkan tubuh mungil itu tenggelam sempurna dalam pelukannya. Pelukan ini terasa begitu pas. Yunho mengusap lembut punggung Jaejoong.

"Joongie, menangislah kalau kau mau. Kau tidak perlu terus menerus berusaha terlihat tegar."

Jaejoong menggeleng pelan.

Namun Yunho merasakan kausnya mulai basah dan di cengkram kasar oleh namja cantik yang tubuhnya bersandar sempurna dalam dekapannya.

Setelah puas menumpahkan air mata yang katanya enggan dikeluarkan itu, mata cekung Jaejoong berubah bengkak dan hidungnya memerah. Jaejoong melepaskan diri dari pelukan nyaman Yunho.

"Ya! Jangan cari kesempatan ya!" bentak Jaejoong galak.

Yunho menghela nafasnya. Namja cantik (mata bengkak dan muka bengep) di hadapan Yunho ini adalah ratunya mood swing.

"Tunggu disini, aku akan turun mengambil makanan." Ketus Jaejoong.

Namja tampan itu mengangguk dan tersenyum. Memangnya ada pilihan lain selain menunggu?

.

Jaejoong turun ke ruang makan besar di mansion megahnya. Ternyata disana duduk Appanya yang sedang membaca Koran. Sendirian. Lalu dimana Ummanya? Sudah pergi lagi?

Ini adalah kali pertama Jaejoong bertemu Appanya setelah insiden bungalow yang menjijikan itu.

"Baru bangun?" tanya Appanya heran.

Bahkan sekarang Jaejoong tidak berani lagi menatap wajah appanya. Berhadap-hadapan seperti ini pun rasanya sangat enggan. Jaejoong ingin segera balik lagi saja ke kamarnya. Jaejoong merasa sangat marah dengan appanya. Jaejoong berusaha kerasa untuk tidak lagi menangis ketika ia teringat pada yeoja penyihir yang menggoda Appanya itu. Hatinya kembali terasa sakit.

Jaejoong hanya bisa mengangguk kecil.

"Bolos?"

Demi Tuhan, tidak lihatkah namja itu wajah putra tunggalnya yang terlihat sangat pucat itu? Tidak lihatkan dia keadaan putranya yang terlihat sangat rapuh itu?

"Aku sedang tidak enak badan. Kepalaku sangat pu-"

"Oh.." Appanya memotong kalimat Jaejoong. "Ya sudah, Appa berangkat ke kantor dulu ya!"

Appanya beranjak dari tempat duduk, mengecup puncak kepala Jaejoong singkat dan kemudian berlalu.

Bahkan kata-katanya tidak didengarkan sampai selesai.

.

'Apa benar dia Appaku?'

'Apa aku tidak dicintai lagi olehnya?'

.

Jaejoong meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Ia berlari kembali ke kamarnya. Membuka kasar pintu kamarnya dan membuat Yunho yang sedang duduk di pinggiran ranjang Jaejoong melonjak kaget.

"Joongie, ada apa lagi?" tanya Yunho penuh rasa khawatir.

Jaejoong tidak menjawab pertanyaan Yunho. Ia membanting tubuhnya ke kasur dan telungkup disana. Isakannya mulai terdengar. Tidak perduli bahwa Yunho akan mendengar tangisannya. Padahal sebelum ini Jaejoong tidak pernah mau menangis di depan orang lain, selain kedua sahabatnya. Ia bahkan tidak pernah menangis di hadapan kedua orang tuanya.

Dan seharian itu Jaejoong hanya berdiam di kamar di temani buronan tampan yang terus saja menatapinya heran. Namja cantik itu hanya diam dengan bibir cherry yang mengerucut, boneka gajah berwarna soft blue dipangkuannya, kancing piyamanya copot dan melorot sehingga memperlihatkan bahu dan dadanya yang putih mulus, rambutnya yang halus itu mekar seperti singa, dan mata besar itu balas menatap Yunho sengit.

Sedangkan Yunho saat ini sedang bekerja keras menahan hasratnya. Oh Come on, dia adalah buronan kasus pembunuhan bukan kasus pemerkosaan. Tapi namja cantik di hadapannya ini benar-benar terlihat sangat menggoda dan lezat(?).

.

Disaat aksi diam-diaman Jaejoong dan Yunho berlangsung, tiba-tiba terdengar suara dua orang yang sedang ribut sambil bercanda dan menuju ke atas. Suara melengking khas lumba-lumba di lautan, dan suara tenor itu terdengar sampai kamar Jaejoong, semakin lama semakin dekat.

Jaejoong kaget. Dia belum siap dengan kedatangan Junsu dan Changmin. 'mau apa dua bocah berisik itu kemari?' batinnya.

Jaejoong menarik lengan Yunho cepat, "Kau harus bersembunyi!" Jaejoong mendorongnya ke kamar mandi. "OH.. TIDAK DISINI!" Jaejoong menjadi sangat panik. "Bagaimana kalau Suie atau Minnie mau ke kamar mandi nanti?"

Yunho yang tangannya di tarik-tarik oleh si cantik hanya diam dan pasrah saja tubuhnya teroleng-oleng.

"Kulkas?" batin Jaejoong. Kemudian dia menggeleng. "Tidak muat."

"Kolong tempat tidur!" serunya.

Kemudian Jaejoong menyuruh Yunho masuk ke kolong tempat tidur Jaejoong.

"Oh jangan! Cepat keluar lagi Yun! Biasanya Suie akan duduk di karpet, kalau kau di kolong, kau pasti akan kelihatan!"

Yunho hanya menurut, ia merangkak keluar dari kolong tempat tidur.

"LEMARI BAJU! Aish jinjja kenapa baru terpikirkan."

Jaejoong menarik kembali tangan Yunho dan mendorongnya kasar masuk ke dalam lemari bajunya yang super besar itu.

"Nghhhh.." desah jaejoong lega. "Diam di situ. Jangan bikin suara," perintah Jaejoong. Kemudian Jaejoong menutup pintu lemari tersebut dan menguncinya. Jaejoong bersandar di pintu lemari, menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan.

Tepat detik berikutnya pintu kamar Jaejoong menjeblak terbuka, kemudian munculah dua kepala mahkluk heboh tersebut.

.

"JOOONGIEEEEEEE.. KAMI DATANG."

Dua mahkluk tersebut langsung mengambil tempat masing-masing, benar saja Junsu duduk di atas karpet menghadap TV dan Changmin yang langsung menggerayangi kulkas Jaejoong.

"Kalian nggak sekolah?" tanya Jaejoong bingung sekaligus hatinya merasa senang karena sahabat anehnya datang. Walaupun Jaejoong selalu bilang kalau dua sahabatnya itu aneh, gila, tidak normal, tetap saja Jaejoong sangat menyayangi mereka. Sama seperti mereka menyayangi Jaejoong.

"Udah pulang," jawab Junsu dan Changmin kompak.

Jaejoong melirik jam dinding dan tersadar. Jam 14.40. "Oohh.." jawabnya.

.

BRAAAAK! GUBRAK! BRUUUK!

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di dalam lemari pakaian Jaejoong. Keringat dingin mengalir di keningnya. Matanya terbelalak menanti suara mengaduh Yunho, namun untunglah cowok itu penurut, Jung Yunho tetap diam. Justru Jaejoonglah yang tidak bisa menahan senyum saat membayangkan raut kesakitan Yunho yang kejatuhan barang. Mungkin box berisi sepatu dan tas-tasnya yang disimpan di lemarinya itu berjatuhan meniban kepalanya .

"Joongie, kenapa tersenyum-senyum sendiri? Udah gila ya?" Junsu meneliti raut wajah Jaejoong.

Jaejoong segera menurunkan ujung bibirnya dengan panik. "Eh, Anniii.. Anii.. Siapa yang senyum-senyum sendiri? Kau salah lihat!" jawabnya tergagap.

Gawaaat!

"Aku juga liat kok tadi!" jawab Changmin sambil memakan ice cream vanilla yang baru saja ia temukan di kulkas Jaejoong.

"Nah, kan! Ayo cepat ceritakan, ada apa?" Junsu mulai meneror Jaejoong dengan kesepuluh jarinya yang digerakan berniat untuk mengkelitiki si cantik yang tubuhnya sangat sensitive terhadap sentuhan itu.

Kim Jaejoong semakin mundur-mundur sampai kakinya menabrak tempat tidurnya.

Lalu Junsu menyerang jaejoong dengan jurus kelitikannya, dua uke itu bergelung di atas kasur, dengan Jaejoong yang tertawa kegelian.

.

BRAAAAAKKK!

Suara barang jatuh kembali terdengar, kali ini disertai suara orang tercekat. Junsu berhenti mengelitiki Jaejoong. Ia menoleh bingung.

"Suara apaan tuh?" tanyanya sambil melongo ke arah Jaejoong.

Changmin yang masih asyik memakan ice creamnnya berhenti menyuapkan sendok ke mulutnya dan tertegun.

.

'Oh- oh- Jung Yunho' Batin Jaejoong.

.

"Oh… mmm… itu suara barang-barangku yang berjatuhan di lemari," jawab Jaejoong, berusaha menampilkan wajah selugu mungkin.

"Bukan yang itu! Ada suara lain!" balas Junsu kekeuh.

"Ngg… suara yang lain apa?" tanya Jaejoong gugup. "Aku tidak dengar." Jaejoong berkilah.

"Aku juga denger kok." Changmin malah ikut memperkeruh suasana.

"Jangan-jangan…." Junsu mulai menganalisa keadaan dengan insting sotoynya.

Jaejoong kembali khawatir, bisa saja insting Junsu kali ini benar.

"Jangan-jangan penunggu kamarmu marah karena kita terlalu ribut," kata Junsu lagi dengan suara dibuat sedramatis mungkin.

"Tapi tadi suaranya seperti suara manusia. Lebih tepatnya seperti suara seorang laki-laki!" analisa si Jenius Changmin.

Junsu meloncat turun dari ranjang, bergaya ala detektif dan memeriksa setiap sudut kamar. Jaejoong berusaha tenang sambil mencengkram kunci lemari di saku celana piyamanya.

Changmin sudah kembali menekuni ice cream vanillanya.

Junsu masih berjalan kesana-kemari mencari asal suara tadi, sampai berita di TV menayangkan tentang kasus pembunuhan yang melibatkan Yunho terdengar.

"Uwah! Ada berita tentang My Yunho, buronan hatiku yang sangat tampan!" serunya antusias.

Jaejoong membayangkan reaksi Yunho ketika ia mendengar nama panggilan yang diberikan Junsu untuknya. Mungkin namja tampan itu akan pingsan saking ge-ernya.

Jaejoong tersenyum-senyum sendiri.

Lalu seperti bisa membayangkan senyuman Jaejoong, Yunho berdeham sangat pelan.

.

"Ekhmm…"

.

Mata Jaejoong terbelalak. Junsu menoleh cepat. Jaejoong terjatuh ke atas ranjang saking kagetnya, langsung menirukan suara berat yang dibuat Yunho.

"Ehemmm… eheemmmm… aduuhh… serak nih suara!" kata Jaejoong beralasan.

"Sudah ku duga!" seru Junsu tiba-tiba sambil meloncat ke dekat Jaejoong.

Suara TV masih bergaung di dekat mereka, "Sudah hampir satu minggu buronan berusia delapan belas tahun itu melarikan diri dan belum ada seorang pun yang melihatnya…"

Jantung Jaejoong berdetak kencang. Walaupun ia tahu analisa Junsu selalu melenceng dan tidak masuk akal, tetap saja ia deg-degan.

Junsu mengguncang-guncang bahu Jaejoong sambil membelalakkan mata. "Joongie.. kau.. kau.. pasti.."

"Apaaa?" tanya Jaejoong tidak sabar dengan jantung berdebar-debar sambil ikut-ikutan membelalakan mata.

.

'Duh Jangan-jangan… ketahuan…'

.

Junsu mengecilkan suaranya, "Jangan-jangan selama ini kau laki-laki! Suaramu tadi berat sekali!"

Seketika itu juga tawa Yunho meledak, namun suara Yunho tersamarkan oleh suara Changmin yang juga tertawa sangat kencang dan suara teriakan Jaejoong yang mengomel.

"Ya! Selama ini aku memang laki-laki, paboya!" marah Jaejoong pada Junsu.

Kemudian mereka bertiga (dan satu buronan di dalam lemari) tertawa bersamaan.

.

"HUAH.. Ice creamnya habis. Eh... Siapa yang memakan strawberry-strawberry ini, Hyung?" tanya Changmin ketika ia hendak membuang box ice cream ke tempat sampah.

"Eh? Oh.. itu.. engg.." Jaejoong tidak mungkin bilang bahwa dirinya yang makan buah-buahan itu, Jaejoong tidak suka makan strawberry secara langsung, menurutnya buah itu terlalu asam jika dimakan langsung. Tapi dia sangat suka jus strawberry atau susu strawberry. Dan kedua sahabatnya tahu itu.

"Ah.. beritanya habis. Kita pergi yuk." Seruan Junsu menyelamatkan Jaejoong.

"Ayuk!" Jawab Jaejoong semangat.

"Tapi kau kan sedang sakit, Hyung." Bantah Changmin.

"Justru aku butuh udara segar dan refreshing. Iya. Benar. Begitu." Jawab Jaejoong kembali beralasan. "kalian keluarlah, aku mau ganti baju."

"Heh? Sejak kapan kami harus keluar ketika kau mengganti bajumu?" tanya Junsu polos.

Jaejoong berpikir keras. "Ah.. ya benar juga. Kalau begitu kalian sekalian bantu aku membereskan barang-barangku yang berjatuhan dari lemari ya."

"Oh.. No, Thank you. Aku tunggu di mobil saja." Changmin langsung melesat keluar.

"Junsu.. kau mau kan bantu aku?" tantang Jaejoong.

Junsu menggeleng pelan. Dia tahu sebanyak apa barang Jaejoong di lemari. "Ak- aku.. aku menyusul Changmin saja. Ppaiii.." Junsu langsung lari terbirit-birit.

.

.

Kim Jaejoong merasa puas luar biasa. Puas. Puas. Puas.

Ia menghabiskan satu mangkuk ramen, miso, dan segelas strawberry milk shake berwarna pink yang amat lezat. Kedua sahabatnya kontan memelototi namja cantik itu dengan heran.

"Laper, Hyung?" tanya Changmin heran.

"He-eh!" jawab Jaejoong sambil menyeruput habis milkshakenya.

"Nggak makan berapa abad, Joongie?" sambung Junsu lebay.

"Mmmmm… tadi pagi nggak sarapan," balas Jaejoong sambil tetap menunduk tidak tergiur candaan Junsu. Ia teringat percakapan singkat dengan appanya yang membuat paginya kacau. Dan sesaat milkshakenya terasa pahit.

"Susu?" tanya Junsu lagi. Kedua sahabatnya tahu, Jaejoong tidak bisa kalau tidak minum susu setiap pagi.

Jaejoong menggeleng sebagai jawaban. Kedua temannya bertatapan. Jaejoong menenggak tetesan terakhir milkshakenya. Kemudian bersandar pada kursi restaurant sambil bernapas lega dan mengelus-elus perutnya.

"Huuuaaaahhh… kenyaaaaaang…," desahnya.

"Hyung, kau sedang ada masalah?" tanya Changmin tiba-tiba berubah serius. Ia menurunkan tangan yang tadi mengganjal dagunya dan menatap hyung cantiknya dalam-dalam.

Kim Jaejoong tertegun.

Masalah?

Di kepalanya berkelebat bayangan keluarganya, Ummanya, Appanya, Yeoja nenek sihir, lalu namja buronan tampan itu…

Jaejoong mendongak menatap kedua sahabatnya. Dia tersenyum kecil dan menggeleng.

"Aku baik-baik saja. Dari kemarin aku telat makan, lalu tadi pagi perutku sedikit sakit, makanya tidak sarapan. Dan juga tidak pergi ke sekolah. Tapi sekarang udah sembuh." Jawabnya.

Alasan itu setengah benar, walau sebenarnya bukan karena telat makan, melainkan tidak makan. Namun tentu saja Jaejoong tidak akan bilang begitu pada Junsu dan Changmin.

Kedua sahabatnya itu tampak kecewa dengan penjelasan Jaejoong, namun mau tidak mau mereka harus percaya karena Jaejoong tidak berkata apa-apa lagi. Jaejoong bukan tipe yang bisa dipaksa jika sudah memutuskan tidak akan menceritakan masalahnya pada siapa pun. Walau begitu, baik Junsu mau pun Changmin tahu bahwa Jaejoong sedang punya masalah yang lebih besar daripada sekedar sakit perut.

Siapa pun bisa melihat perubahan pada wajah Jaejoong beberapa hari belakangan ini. tidak, sebenarnya bukan baru-baru ini mereka menyadarinya. Sejak Umma Jaejoong memutuskan untuk menyibukkan diri dengan bisnisnya di luar negeri dua tahun yang lalu. Kadang-kadang namja cantik itu tanpak melamun sendiri dengan wajah sedih.

Keduanya juga curiga kali ini bukan itu saja yang sedang menghantui pikiran Jaejoong. Bukan sekedar Ummanya yang mendadak sibuk. Jaejoong. Ia tampak semakin kurus dan kehilangan senyum lepas yang biasanya selalu terlihat di wajahnya. Sinar matanya yang indah sekarang meredup dan samar-samar tampak rapuh.

Jaejoong merasa canggung karena kebisuan yang muncul di antara mereka. Ia mengangkat tangannya. "Pesen makanan buat dibawa pulang ah!" serunya, kemudian ketika seorang waitress menghampiri ia menyebutkan apa saja pesanannya.

"Soup Miso, Takoyaki dan Tempura dua porsi, untuk take away."

Junsu dan Changmin tambah melongo memperhatikan Jaejoong.

"Buat siapa, Hyung?" tanya Changmin.

"Buat penghuni kamar." Jawab Jaejoong asal.

"Serius ah, Joongie!" Junsu menjadi kesal.

"Hahaha.. Buat orang rumah." Jaejoong tertawa garing.

.

.

Jaejoong memperhatikan Yunho yang memakan makanan yang ia bawa dengan sangat lahap. Namja buronan ini benar-benar sangat tampan. Bahkan ketika makanpun dia tetap tampan.

"Terima kasih banyak Joongie." Ucapnya sambil membuang box bekas makanan itu ke tempat sampah dan setelah itu kakinya seperti berjalan otomatis masuk ke kamar mandi Jaejoong.

Jaejoong memperhatikan Yunho, sebenarnya ia sangat ingin tersenyum. Kasihan sekali buronan tampan itu. Dia memang tidak dipenjara di dalam sel, tapi dia di penjara di dalam kamar mandi Jaejoong.

"Joongie. Ayo kunci pintu kamar mandinya."

Jaejoong bangkit berdiri mendekati Yunho. Dia berdiri tepat berhadapan dengan namja tampan itu. Menatap ke dalam mata musang yang berhasil membuat dadanya berdebar-debar.

"Memangnya kau tidak bosan terus di dalam sana? Kau boleh menonton TV, aku akan mengerjakan tugas sekolahku." Tawar Jaejoong.

"Benarkah?" tanya Yunho kegirangan.

Jaejoong berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada tugas fisika di depannya. Sementara Yunho tertawa-tawa menonton serial komedi yang sedang berlangsung di tv.

"Cih.. dasar buronan tidak berperasaan." Gerutu Jaejoong yang kebetulan terdengar oleh Yunho.

Yunho tersenyum, "Gak mau nonton dulu? lucu loh."

Jaejoong mendengus. Memandangi Yunho dengan jengkel, lalu kembali melihat ke bukunya yang masih terbuka.

"Sudah tahu aku sedang mengerjakan tugas, malah diajak nonton TV!" Jaejoong menggores-gores kertas coretannya dengan kesal. Kemudian bayangan gelap menutupinya. Rumus-rumus yang sebelumnya terlihat menjadi gelap dan tidak terbaca.

Jaejoong mendongak. Jantungnya mendadak berdebar cepat. Wajah Yunho ada tepat di atasnya, namja tampan itu kini memandangi soal di meja Jaejoong dengan wajah serius.

"Ooohhh… soal ini… begini…"

Yunho mengambil pensil di tangan Jaejoong dan segera mencoret-coret kertas kosong dengan rumus-rumus dan jawaban. Tangannya bergerak cepat, seperti sudah amat mahir menjawab soal rumit semacam itu. Namun bukan itu yang membuat Jaejoong salah tingkah setengah mati. Tubuh athletis Yunho sekarang menyelimuti dirinya dari belakang, hembusan napas halus namja itu terasa jelas di leher Jaejoong

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan mata. Ia menahan napas. Keringat dingin mulai mengucur deras di keningnya. Napasnya tersendat. Jantungnya berdebar cepat sekali.

"Selesai!" seru Yunho akhirnya. Ia menjauh dari Jaejoong, membuat namja cantik itu menarik napas lega. Debaran jantungnya mulai bisa teratasi sekarang.

"Kenapa Joongie? Mukamu merah? Kau sakit?" tanya Yunho khawatir.

"Anniii.. Gwenchana!" Jaejoong mengelak ketika Yunho hendak menyentuh keningnya. Dia tidak sakit. Tidak mungkin ia mengaku tanpa sadar sudah setengah mati menahan napas saking gugupnya.

Yunho tersenyum. Lagi-lagi bibir berbentuk hati itu melengkung indah. Namja tampan itu mematikan TV dan berjalan ke kamar mandi.

"Sudah malam. Waktunya tidur," ujarnya.

Betapa kagetnya Jaejoong ketika dilihatnya Yunho sudah berdiri di dalam kamar mandi, menanti pintu dikunci dari luar. Padahal kemarin buronan tampan itu masih memberontak setengah mati karena harus tidur di dalam sana.

Jaejoong menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Terdengar siulan Yunho dari dalam kamar mandi.

Ketika itu jaejoong merasakan bahwa kamarnya sangat lenggang dan begitu sepi. Padahal selama ini dia memang tidur sendiri. Kenapa rasanya keberadaan Yunho membuat kamarnya menjadi penuh dan hidup. Dan saat namja tampan itu kembali ke habitatnya, Jaejoong langsung merasakan kesepian.

.

.

Hari ini seperti biasa trio rusuh, Changmin, Junsu dan Jaejoong sedang duduk di pojok kantin. Ketiganya tampak punya kegiatan masing-masing. Changmin yang tangan kanannya sibuk memegang roti isi daging dan tangan kirinya sibuk mencocolkan kentang goreng ke mayonnaise. Junsu yang sibuk dengan sebuah majalah sampai wajahnya tidak terlihat. Dan Jaejoong yang tidak sibuk.

"Nggak baca koran lagi, suie?"

"Hm.." balas Junsu tanpa mengalihkan pandangan dari majalah.

"Su, su, su, su, su.." ganggu Jaejoong yang merasa kesal diacuhkan Junsu.

"Apa sih, Joongie? Suaramu aneh tau! Jangan berisik ah, lagi seru nih."

"Berita tentang buronan tampan lagi?" tanya Jaejoong tak berputus asa.

"Sudah basi, sekarang ada model tampan yang sedang naik daun." Jawab Junsu.

Kemudian Jaejoong mengintip cover majalah yang sedang di pegang sahabatnya itu, ada foto besar namja berwajah super cassanova, yang sedang duduk di atas pasir pantai, namja itu memakai kemeja tidak dikancing. Senyumnya sok manis dan gayanya sok keren. Jidatnya luas. Tangan namja itu memeluk tubuhnya sendiri dan raut wajahnya tampak berusaha menggoda siapa pun yang melihatnya.

Jaejoong mengernyit geli. Mendadak sekelebat wajah Yunho melintas di otaknya.

Apa Yunho pernah berfoto seperti itu?

Kalau benar Yunho pernah berfoto seperti itu, Jaejoong sudah memutuskan untuk memanggil polisi begitu ia pulang. Jaejoong tidak mau tinggal dengan namja bergaya jijay seperti itu.

Membayangkan hal itu Jaejoong cekikikan sendiri, membuat alis Changmin naik sebelah. Dan Junsu menurunkan majalah yang sedari tadi menutupi wajahnya.

"Apa?" tanya Jaejoong judes menutupi salah tingkahnya.

"Hyung aneh!" komentar Changmin.

Jaejoong hanya memeletkan lidahnya.

"Haduh, Joongie. Makanya perbanyak melihat majalah seperti ini, biar otakmu gak rusak!" cerocos Junsu.

"Memangnya itu siapa sih? Namanya siapa? Gak kenal." Cueknya.

"Namanya Park Yoochun! Lihat-lihat, dia sangat kharismatik dan jidatnya .. omo.. bersinar sekali." Cerita Junsu berapi-api.

Kontan saja Jaejoong dan Changmin tertawa.

"Menurut aku sih, masih jauh lebih tampan si buronan! Tampan, cool, smart, walaupun hobby banget makan strawber…." Jaejoong segera tersadar dan mendekap mulutnya. "Ups!"

Gawat!

Salah bicara lagi!

Kedua sahabatnya langsung bertatapan sambil tersenyum nakal.

"Nah.. kan.. secret admirer-nya Jung Yunho nih." goda Junsu sambil cengengesan.

Wajah Jaejoong memerah, sudah seperti hangus terbakar.

.

.

"Aku pulang." Sapa Jaejoong tanpa semangat ketika ia memasuki rumahnya yang megah itu, sore itu begitu mendung, mungkin itu juga yang membuatnya menjadi lesu. Ia menutup pintu rumahnya yang terbuat dari jati asli import dari Kalimantan itu dengan perlahan. Pintu yang sangat kokoh yang seakan mengejeknya. Mengejek ketakutan Jaejoong yang harus ia hadapi di dalam sana.

.

PRANNNNGGGG….

"Kalau memang itu yang kau inginkan .. Fine.. Akan ku kabulkan permohonan ceraimu detik ini juga, Kim Heechul!"

Kim Jaejoong membeku ditempatnya berdiri. Selama ini kedua orang tuanya memang sudah tidak pernah terihat mesra lagi, mereka saling menghindar dan mendiamkan satu sama lain, tapi itu lebih baik dari pada mereka saling berteriak dan …

Apakah sekarang mereka benar-benar akan bercerai?

Apa tidak ada lagi cinta sedikitpun diantara mereka berdua?

Apa tidak ada lagi cinta untuknya?

.

Jaejoong membuka kembali pintu yang baru saja di tutupnya, ia berlari keluar dari rumahnya menerobos hujan yang mulai turun.

Jaejoong terus berlari. Napasnya memburu. Ia sulit menghirup udara di tengah derasnya hujan. Dadanya sakit. Namun Jaejoong tetap berlari sekuat tenaga, sampai akhirnya kakinya terasa kaku, seakan-akan Jaejoong tidak akan bisa berlari lagi seumur hidup.

Kepala Jaejoong mendadak pening. Matanya mengabur. Mungkin juga karena derasnya hujan yang sekarang sudah membasahi seluruh pakaiannya.

Jaejoong berdiam di pinggir jalan yang sepi, lama sekali. Pikirannya kosong. Ia sendiri tidak tahu apa masih bisa berpikir dengan jernih atau tidak. Hatinya terlalu sakit seperti ditusuk, atau mungkin sudah berdarah. Jaejoong tidak tahu apakah darah hasil tusukan itu masih tersisa untuk aliran kehidupan dalam dirinya atau tidak.

Seseorang tiba-tiba meletakkan kedua tangannya di bahu Jaejoong dari belakang. Jaejoong merasakan gesekan rambut yang basah di antara tengkuk dan punggungnya. Jaejoong menggigit bibir bawahnya keras-keras, sampai mati rasa. Ia berusaha mengabaikan hatinya yang terus meronta-ronta.

Jaejoong mendongak. Menengok kebelakang. Matanya terbelalak.

.

"Yunho!"

.

Bisa-bisanya ia berhalusinasi!

Namun bayangan Yunho yang memeluknya dari belakang itu tampak begitu nyata. Namja itu memakai topi Jaejoong yang menutupi sebagian wajahnya. Kaus hijau tuanya juga basah kuyup. Tapi namja itu tampak tidak peduli. Ia membalik tubuh gemetaran Jaejoong dan memandangi namja cantik itu dengan ekpresi sulit terbaca. Prihatin, sedih, kasihan… entahlah.

Begitu Jaejoong memandang wajah Yunho, rasa pening di kepalanya kembali menyerangnya sampai-sampai namja cantik itu tidak bisa menerka-nerka apakah kepalanya masih mampu menampung beban pikiran yang begitu banyak di otaknya.

"Kau.. Bagaimana…?" bisiknya.

"Aku melihatmu berlari. Lalu aku menyelinap keluar dan melompat dari balkon kamarmu. Aku mengejarmu." jawab Yunho pelan dengan suara berat.

Jaejoong merunduk.

"Menangislah kalau kau mau, Joongie.." desak Yunho. Suaranya bergumam lirih di telinga Jaejoong.

Jaejoong benci Yunho..

Kenapa namja ini selalu selalu selalu selalu selalu tahu apa yang dirasakan Jaejoong?

Kenapa?

Emosi dalam diri Jaejoong meluap-luap. Hatinya sesak. Ia kesal. Ia marah pada semua orang.

Kenapa tidak ada yang memahami dirinya? Kenapa pula Yunho harus berada di sini, membuatnya merasakan keinginan untuk dicintai yang begitu besar?

Yunho tidak berkata apa-apa. Dia membenamkan tubuh Jaejoong dalam dekapannya. Semakin lama semakin erat. Hangat, walaupun hujan air dingin itu semakin deras.

Aneh… rasanya beban berat di hati Jaejoong menjadi lebih ringan. Hatinya menghangat. Ia merasa dilindungi, tidak pernah ditinggalkan….

Sudah lama Jaejoong tidak pernah mengalami perasaan seperti ini.

Perlahan-lahan mata Jaejoong terpejam.

Capek..

Jaejoong ingin tidur tenang… kalau bisa, tidak pernah bangun lagi.

.

.

Suara-suara gaduh membangunkan Jaejoong. Kepalanya terasa penuh dan berat. Matanya sulit dibuka, bengkak, dan terasa lengket. Dahinya berdenyut-denyut sakit sekali. Jaejoong mengusap mata dengan sebelah tangannya, kemudian membukanya pelan-pelan, namja cantik berwajah pucat itu mengerjap-ngerjapkan mata.

Ada seseorang di sisi tempat tidurnya. Namun Jaejoong tidak bisa melihat wajahnya.

.

Yunhokah…?

.

Orang itu menjatuhkan kepala di sisi tubuh Jaejoong yang masih terbaring. Tangannya yang gemetaran merangkul pinggang Jaejoong.

"Tuan muda Joongie? Tuan muda, sudah sadar? Syukurlah.. Tenang ya… tenang saja…tidak ada lagi yang bisa mencelakai tuan muda Joongie." isak orang itu.

.

Bukan Yunho.

.

"Ahjumma Song.." bisik Jaejoong serak. Dia bangkit dan duduk di tepi ranjang dengan bingung.

.

"Nyonya.. Tuan Muda Joongie sudah sadar…" teriak Ahjumma Song.

.

Pintu kamar Jaejoong menjeblak terbuka, menampakan sosok cantik ummanya yang diliputi rasa khawatir.

"Joongie.. baby.." Ummanya mendekat ke arah ranjang putra tunggalnya dan duduk menggenggam jemari pucat putra cantiknya.

Jaejoong menoleh sebentar memperhatikan ekspresi sendu Ummanya, lalu ia menoleh ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Masih setengah sadar, Jaejoong melihat banyak orang di bawah, di halaman rumahnya. Semua berseragam hitam. Di antara mereka hanya satu orang yang menggunakan kaus berwarna hijau. sewarna kaus Yunho sewaktu terakhir ia melihat namja tampan itu di tengah hujan. Dan ada Appanya yang terlihat serius berbicara dengan salah satu pria berseragam itu.

Jaejoong masih tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Ia terlihat linglung. Kepalanya yang terus berdenyut membuatnya sulit berpikir.

"A-apa…?"

"Tenang, sayang… pembunuh itu sudah ditangkap… dia tidak sempat berbuat jahat padamu!" ujar Ummanya sambil mengelus rambut Jaejoong. Wajahnya tampak sangat khawatir.

Butuh waktu tiga detik bagi Jaejoong untuk mencerna kata-kata Ummanya.

Pembunuh?

Ditangkap?

Jaejoong membelalakkan mata. Ia memperjelas pandangannya ke luar kamar.

Polisi! Dan…

"YUNHO!"

Jantung Jaejoong berdebar kencang. Ia berusaha turun dari ranjang dan berlari ke balkon kamarnya. Namun tangan Ummanya lebih dulu menahannya.

"Sayang… tenanglah! Baby.. kau sedang sakit." tahan Ummanya.

Dia tidak bersalah! Yunho tidak bersalah!

Jaejoong memberontak di pelukan Ummanya. Tangannya menggapai-gapai kosong ke depan. Jaejoong panik luar biasa. Seandainya saja tubuhnya tidak selemah ini, ia pasti akan lolos dari pelukan yang sebetulnya sangat ia rindukan itu dengan mudah.

"Ja-jangan! Yunho bukan pembunuh, umma! Bukaann! Jangan ditangkap!" jerit Jaejoong histeris

Sosok polisi-polisi itu nyaris menghilang dari taman. Yunho menoleh ke atas tepat ke kamar Jaejoong. Wajahnya kaget melihat Jaejoong. Yunho terlihat begitu sedih, namun detik berikutnya Yunho tersenyum dan menggeleng pelan. Memohon agar Jaejoong jangan mengejarnya.

Kemudian ia menghilang.

.

"YUNHOOOOO…!"

.

Kenapa namja itu masih bisa tersenyum?

Kenapa senyumnya begitu menyayat hati?

Kenapa dia harus pergi?

.

Jaejoong menyerah di pelukan Ummanya. Ia diliputi kesedihan luar biasa. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin, menjeritkan Yunho bukan pembunuh sampai suaranya habis. Tidak mungkin seorang Yunho membunuh! Yunho orang paling paling paling baik yang pernah Jaejoong temui.

Kalau namja itu memang jahat, dia bisa menyerang Jaejoong kapan saja dia mau, dia pasti sudah menyandera Jaejoong dan memberontak karena makanan yang diberikan Jaejoong hanyalah strawberry, strawberry dan strawberry. Namja itu punya kesempatan seminggu ini untuk menjahatinya.

Kalau namja itu jahat, dia tidak mungkin mau membantu Jaejoong membuat PR dan membersihkan kamar mandi, tidak mungkin juga menawarkan diri untuk dikurung di dalam kamar mandi. Mengejar Jaejoong di tengah hujan deras dan membuat dirinya dikenali.

Kalau namja itu jahat, tidak mungkin pelukannya terasa begitu hangat, tidak mungkin ia mau bersedih untuk Jaejoong.

Tidak mungkin Jaejoong membutuhkannya saat ini…

.

"Maafkan aku Yun…." Lirih Jaejoong.

.

.

.

-To Be Continue-

Ottokhae? Joaheyo?

Please kindly leave review to show your support to this story.. if it doesnt bother you.. if this story deserves a review, please leave yours..

Gomawo.. ;-)