Buronan Tampan
Annyeonghaseyo Yeorobundeul, Saengideul, Unniedeul, Oppadeul, dan deul-deul yang lainnya… Apa kabar?
Mianh, jeongmal mianhae, Kimmy telat update, bukan telat lagi ini sih, udah bulukan mungkin..
Bagi yang sudah burem-burem sama ceritanya mungkin ada baiknya dibaca ulang dari part sebelumnya.. hehe..
Enjoy reading…
.
.
.
(New Chap)
"Ny. Kim Heechul sudah sadar," ujar seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan tempat umma dibawa masuk tadi. "Silahkan masuk, Uisanim bilang anda sudah bisa menemuinya, sekalian Uisa ingin berbicara tentang kondisi istri anda di dalam."
Appa Kim melonjak berdiri dengan sangat tiba-tiba sehingga membuat Jaejoong nyaris sakit jantung. Wajahnya kini luar biasa bingung. Jaejoong benar-benar menyukai penampilan appanya saat itu. Jasnya tertinggal di mobil, dasinya sudah melayang entah kemana, lengan kemejanya digulung dan beberapa kancing kemejanya dibuka. Rambutnya pun berantakan. Pokoknya benar-benar awut-awutan. Namun bagi Jaejoong, appanya yang dulu telah kembali, ia jadi tampak lebih hangat, tidak sedingin dan sekaku belakangan ini.
Jaejoong menarik napas dalam-dalam. Hawa khas rumah sakit memenuhi udara. Jaejoong mengikuti appanya menuju ruang ICU. Di salah satu ranjang, berbaring lemah umma cantiknya. Make-up-nya sudah dihapus oleh salah satu perawat, sehingga sekarang wajahnya yang pucat amat jelas terlihat. Appa langsung duduk di kursi sebelah ranjang dan menggenggam tangan istri cantiknya itu erat-erat. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja akan melangsungkan perceraian hari ini. Jaejoong mendekati ranjang ummanya di sisi seberang dan memandangi wajah teduh itu dengan penuh rasa sayang.
Dokter yang menangani Ummanya ternyata masih sangat muda dan tampan, bahkan mungkin ia terlihat lebih cocok berprofesi sebagai model majalah remaja. Namun sepertinya wajahnya sangat tidak asing. Jaejoong yakin pernah melihatnya, entah dimana. Dokter muda itu menjelaskan kondisi Ummanya dengan lancar dan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Mata besar dan bulat yang menyerupai milik Jaejoong itu terbuka perlahan. Bibirnya tersenyum lemah. ia menoleh ke arah putra semata wayangnya, kemudian ke arah namja yang masih menjadi suaminya. Kedua alisnya naik perlahan.
"Maaf ya, acaranya batal…" bisiknya lirih.
Appanya menampakkan wajah yang setelah sekian lama baru dilihat Jaejoong lagi. Begitu melihatnya, Jaejoong merasa sudah memaafkan appa sepenuhnya.
"Lupakan. Itu hanya hal yang tidak berguna ketimbang kesehatanmu," sahut appanya sambil tersenyum.
Lupakan….
Hal yang tidak berguna…
Wajah gembira Jaejoong sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Namun kedua orangtuanya tidak memerhatikan karena sibuk berpandangan. Jaejoong menoleh ke arah dokter muda berwajah cerdas (namun terlihat playboy) dan bertubuh tinggi itu. Dokter itu menampakkan wajah maklum yang lucu, kemudian dengan isyarat mata, ia mengajak Jaejoong keluar. Namja cantik itu menurut dengan senang hati.
.
Jaejoong menghempaskan diri di kursi tunggu di luar ruangan ICU. Beberapa perawat mondar-mandir membawa troli obat. Dokter itu duduk di sebelahnya.
"Gwenchana?" tanyanya, karena sebenarnya sejak tadi ia menyadari wajah Jaejoong yang juga pucat.
Jaejoong menggeleng namun tetap sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter itu lagi.
"Ummaku tiba-tiba pingsan. Appa langsung membawanya ke sini," jawab Jaejoong pelan setelah lama terdiam. Ia sempat bingung apakah dokter itu bertanya tentang Ummanya atau masalah orangtuanya, tapi kemudian sadar dengan kebodohannya, dokter itu kan tidak tahu apa-apa soal masalah keluarga mereka.
Dokter itu mengangguk-angguk. Name tag berwarna putih bertulisan hitam di jasnya berkilauan. Jaejoong membacanya. Park Yoochun. Seperti pernah dengar?
AH! Tidak salah lagi, dia ini model yang majalahnya selalu dibawa-bawa Junsu.
Park Yoochun!
Namja berjidat luas itu mengikuti arah pandang Jaejoong, kemudian tertawa. Ia menyodorkan tangannya.
"Tidak adil kalo kau tahu namaku tapi aku tidak tahu namamu, Ayo kenalan!"
Jaejoong tersenyum dan menyambut tangannya. "Kim Jaejoong."
"Salam kenal Jaejoong ah."
"Salam kenal juga, Dokter Park." Balasnya.
"Panggil aku Yoochun saja. Aku belum jadi dokter. Masih semester tujuh dan sedang menjalani praktikum." katanya ramah terlihat sekali bahwa ia lihai dalam mengambil hati lawan bicaranya.
Jaejoong jadi teringat bahwa ia sempat dibuat jijay dengan pose dokter muda ini di majalah Junsu. Tapi, See? Tidak selamanya apa yang kau lihat itu benar.
"Mmm.. berhubung sekarang sudah jam istirahatku, bagaimana kalau kau temani aku ke cafeteria, Jaejoong ah?" dokter muda itu berdiri. "Sekalian aku punya beberapa pertanyaan untuk mu."
Jaejoong tercenung. Dengan ragu ia mengikuti dokter Park itu ke cafeteria.
Lalu mereka mengobrol ringan sambil menunggu pesanan mereka datang,
"Jadi," Yoochun menoleh, "boleh aku minta tolong?"
"Minta tolong?" Jaejoong mengernyitkan dahinya.
Yoochun mengangguk. "Iya. Tolong jaga Ummamu. Jangan sampai telat makan dan kurang istirahat lagi. Makan pun tidak boleh kurang dari porsi normal. Dokter Lee, seniorku, tadi sudah mendiagnosis kondisi Ummamu. Ternyata dia sudah lama mengidap anoreksia. Dan hari ini penyakitnya tiba-tiba memburuk. Mungkin penyebabnya…"
"Stress?" tebak Jaejoong
Dokter tampan itu menjentikkan jarinya. Dia tidak menjawab secara langsung, namun dari ekspresinya, Kim Jaejoong tahu jawabannya benar.
"Dan kurang makan. Sedangkan tenaganya selalu diforsir untuk bekerja terus menerus. Jadi kalian harus mengkonsultasikannya ke dokter ahli gizi. Mungkin dokter Lee akan memberitahu Appamu secara lebih detailnya, tapi kurasa kau juga perlu tahu."
"Oke, Umma juga sudah berjanji padaku akan berhenti bekerja," sahut Jaejoong.
Jaejoong merasa yakin keadaan ummanya bisa segera membaik, apalagi sekarang, tampaknya masalah yang membuatnya depresi nyaris terselesaikan. Umma harus pulih, umma harus kembali menjadi umma seperti dua tahun lalu. Kalau bisa bahkan lebih sehat lagi.
Dokter muda itu terlihat lega. "Dan kau…"
Jaejoong memutar bola matanya. Merasa mengetahui apa yang akan dikatakan Yoochun, Jaejoong memotong, "…juga harus makan teratur?"
Lagi-lagi dokter itu menjentikkan jarinya sambil memamerkan gigi ala iklan pasta gigi white and brilliant. Jaejoong menduga-duga, sudah berapa puluh yeoja dan namja berstatus uke yang luluh dengan senyuman itu? Kalau hatinya tidak dipenuhi Jung Yunho, mungkin Jaejoong juga pasti akan terpesona pada Park Yoochun.
Tapi nanti dulu, yang ini kan jatah Junsu!
Jaejoong teringat bahwa Junsu sedang sangat tergila-gila pada namja ini.
"Janji, ya?" ujar dokter bertampang playboy itu dengan nada menuntut.
Jaejoong tersenyum lebar. Orangtuanya sudah berbaikkan. Apa lagi yang harus ia cemaskan?
"Oke, Bos!" Jaejoong mengangkat tangannya dengan gerakan memberi hormat sambil tersenyum.
"Kau cantik, Jaejoong ah." Puji dokter itu ketika melihat senyuman Jaejoong.
"Hentikan rayuan mautmu itu dokter."
"Mianhae.. Aku hanya mencoba jujur." Jawabnya.
"Boleh aku tanya satu hal padamu?" tanya Jaejoong.
"Jangankan satu, seribu pertanyaanpun akan ku jawab."
Jaejoong mendengus pelan, "Lebih enak mana, menjadi dokter atau foto model?"
"Eh? Kau ternyata mengenaliku sebagai foto model?"
"Tentu saja, kau pikir aku adalah species manusia gua, yang tidak tahu tentang kabar yang sedang trend?" (Ingatkan Jaejoong untuk berterimakasih pada Junsu nanti, karena kalau bukan karenanya, Jaejoong bisa dikategorikan ke dalam species manusia gua.)
"Aku hanya membantu adikku, dia seorang Photographer dan kebetulan sedang membutuhkan model. Aku tidak bermaksud untuk menjadi terkenal. salahkan saja wajah tampanku yang melegenda ini." Jawabnya dengan penuh percaya diri.
"UHUK.. HUKKS.. HUKSS.."
Jawaban maha dahsyat yang terlontar dari bibir dokter muda itu membuat Jaejoong sukses tersedak milkshake yang sedang diminumnya.
"Jaejoong ah, gwenchana?" tanya si oknum yang membuat Jaejoong tersedak.
Jaejoong terus terbatuk, sampai entah kapan.
.
.
Yunho, apa kabar?
Maaf ya, belakangan ini aku sangat sibuk. Tapi tidak sedetikpun aku melupakanmu, percayalah.
Ah ya, Jung Yunho, kau tahu tidak, Appa dan Ummaku tidak jadi bercerai! Aku senang sekali. Sungguh. Ternyata cinta itu rumit-rumit indah. cinta sejati harus mampu melewati sesuatu yang rumit untuk menghadirkan sesuatu yang indah. Aku pun terpikir apakah surat cinta ini mampu menghadirkan rasa indah bagimu di masa rumitmu?
Salam rindu,
Joongie..
.
.
Umma menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Perlahan-lahan kesehatannya pulih dan warna di wajahnya membuat Jaejoong semakin yakin Ummanya sudah baik-baik saja.
Appanya sering sekali berada di rumah sakit. Tiba-tiba saja tidak ada dinas yang selama ini membuatnya menghilang dari rumah beberapa hari. Jaejoong menduga pria yang menjadi appa kandungnya itu bolos kerja dan pulang di tengah jam kantor.
Seseorang menempelkan susu hangat dalam kemasan kaleng ke pipi Jaejoong. Namja cantik itu mendongak.
Park Yoochun.
Mahasiswa kedokteran yang masih magang di rumah sakit besar itu tersenyum. Jaejoong menerima susu yang diberikan untuknya. Appa sedang berduaan dengan Ummanya di dalam kamar, jadi Jaejoong duduk di luar.
"Apa kabar?" tanya namja itu, mengamati raut wajah Jaejoong yang cemas.
Jaejoong teringat artikel di Koran yang sedang dipegangnya. Jung Yunho akan menghadapi sidang kelanjutan kasusnya lagi, besok lusa. Mungkin itu sidang terakhirnya. Hati Jaejoong mendadak cemas.
Bagaimana kalau hakim memutuskan namja itu bersalah?
Bagaimana kalau Jung Yunho dihukum penjara seumur hidup?
Bagaimana kalau Jaejoong tidak bisa bertemu Jung Yunho lagi selamanya?
"Kabar buruk. Kalau gagal bisa dipenjara seumur hidup," gumam Jaejoong dengan pikiran yang masih dihantui sidang Jung Yunho.
Jaejoong memang pasti akan menunggu Jung Yunho. Tapi berapa lama? Apa Jaejoong sanggup kalau harus menunggunya bertahun-tahun?
"Hah?" Park Yoochun terlihat bingung.
Jaejoong tersadar seketika dan mendongak refleks. "Apa? Oh kabarku? Humm…"
Jaejoong menggantungkan kalimatnya, tidak tahu harus menjawab apa.
Jaejoong rindu Jung Yunho….
Jaejoong rindu Jung Yunho….
Jaejoong rindu Jung Yunho….
Kapan mereka bisa bertemu?
"Sepertinya kau butuh refreshing, Jaejoong ah. Lusa hari sabtu. Aku tidak ada jadwal jaga di rumah sakit, dan kuliahku juga libur. Mau pergi nonton?" tawar Park Yoochun sambil tersenyum geli.
Jaejoong mengerjabkan mata berkali-kali.
Apakah ini ajakan Kencan?
Jaejoong memandangi wajah Park Yoochun. Namja seganteng ini mengajaknya kencan. Diam-diam Jaejoong merasa beruntung. Hidupnya selalu dipenuhi namja -namja keren.
"Bagaimana?" tanya Park Yoochun lagi.
Namja itu memang lumayan, tapi tidak ada tahi lalat di atas bibirnya yang terlihat sexy saat melengkungkan sebuah senyuman. Wajahnya pun tidak mengingatkan Jaejoong pada Uknow DBSK. Mungkin dia juga bukan penggila Strawberry.
Jaejoong menggeleng. "Maaf ya."
"Kenapa?" Park Yoochun tampak terperanjat. Berani bertaruh, Park Yoochun belum pernah ditolak yeoja atau namja cantik seumur hidup.
Jaejoong membuka Koran yang memampangkan wajah Jung Yunho. Jaejoong menunjuknya sambil menoleh ke arah Park Yoochun.
"Ada orang yang sedang aku tunggu." Jawab Jaejoong mantab sambil tersenyum.
.
.
Pagi Yunnie,
Rasanya badanku masih sangat lelah saat menulis surat ini, untuk menulis satu kata saja perlu melawan ribuan kantuk. Tak apalah. Demi kamu… Jung Yunho.
Huaaaa… mataku berat sekali, tapi rasa rinduku ini tak bisa lagi aku tahan. Ingin rasanya mengucapkan langsung padamu, tapi bagaimana caranya?
Ini serius Jung Yunho, aku sangat merindukanmu. Setelah ini aku mau mandi, jangan mengintip ya!
Bye,
Joongie..
.
.
Hawa sejuk AC bertiup membelai tengkuk Jaejoong begitu mereka bertiga memasuki toko kaset langganan mereka. Memasuki bulan baru, tentunya banyak kaset-kaset baru yang bermunculan, bukan? Sayup-sayup terdengar lagu yang Jaejoong tidak tahu judulnya, dari speaker toko tersebut. Changmin dan Junsu langsung melesat cepat ke arah rak kaset games online, mereka berdua berniat mencari kaset games terbaru yang sedang mereka incar.
Jaejoong sendiri masih lengkap dengan seragam sekolah dan mapnya yang tidak bisa ditaruh di mobil karena hari itu mereka (atas usul Junsu) mencoba-coba pulang naik angkot. Jaejoong langsung melangkahkan kakinya pergi ke tempat deretan kaset pop new release yang dijajarkan.
Terdengar suara-suara berisik dari arah sampingnya. Namja cantik itu melirik penasaran dan mengernyitkan dahi. Jaejoong melihat dua yeoja seusianya yang berdandan agak terlalu meriah untuk ukuran pelajar senior high school, dengan aksessories berlebihan dan rok kependekan sedang menggerutu.
"Sombong sekali!" omel yeoja pertama.
"Aku akui dia tampan, tapi lagaknya jual mahal sekali seperti pangeran!" imbuh yeoja kedua sambil melipat tangan di depan dada.
Yeoja pertama meledak. "Tahu tidak, seumur hidup tidak ada yang pernah menolak seorang Jessica! Ini penghinaan berat!"
Yeoja kedua mengangguk-angguk dengan semangat. "Iya. Buta mungkin dia! Diajak pergi nonton, eh… malah langsung menolak mentah-mentah! Katanya sudah ada seseorang yang dia suka. Ya ampuuun… Sok setia sekali."
Jaejoong merasa risih. Percakapan itu entah kenapa membuatnya kesal. Dan entah bagaimana posisi kedua yeoja itu makin mendekat ke tempat Jaejoong berdiri.
Lagu tak dikenal yang tadi diputar habis, berganti lagu lain. Musik yang menenangkan mengalun. Jaejoong segera menikmatinya. Ia memejamkan mata, tidak peduli pada dua yeoja rusuh di sebelahnya yang sekarang sudah bertambah ribut.
Kalau menuruti bisikan iblis di dalam kepalanya sih, Jaejoong ingin sekali menyumpal mulut kedua makhluk itu dengan rambut panjang mereka yang tergerai dengan belahan tengah (yang sepertinya sedang nge-trend). Tapi karena Jaejoong pecinta damai, lagipula diakan seorang namja, tidak lucu kalau nanti berakhir jambak-jambakan dengan dua orang yeoja. Akhirnya Jaejoong lebih memilih tidak mengacuhkan mereka dan fokus mendengarkan music yang sedang dipasang. Tapi masalahnya grafik lengkingan keduanya malah semakin naik dan mulai menyaingi suara ultrasonik kelelawar.
.
Tiba-tiba..
.
BRUUKKKK…
.
Kedua yeoja rusuh itu sukses mendorong namja inceran mereka hingga menabrak Jaejoong dan menjatuhkan map namja cantik itu. Isi mapnya berhamburan ke lantai, beberapa terbang ke sela-sela sepatu pengunjung lain yang menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
"HEEEH—" Jaejoong langsung mendongak, bermaksud langsung mendamprat kedua yeoja rusuh itu. Namun mereka sudah tidak kelihatan lagi.
Jaejoong mengomel dalam hati dan ikut berjongkok berhadapan dengan namja inceran para yeoja tadi yang kini sedang membantu membereskan barang-barang Jaejoong. Dengan kesal, Jaejoong membereskan surat-surat yang ditulisnya dengan amat mesra (tapi tidak pernah dikirimnya) untuk Yunho, yang sekarang sudah berterbangan ke sana-sini.
Begini nih repotnya pulang tanpa mobil pribadi! Mesti bawa-bawa map ke dalam toko segala. Payahnya, akhir-akhir ini Jaejoong tidak bisa berjauhan sedikit pun dengan mapnya. Mungkin karena Jaejoong sudah kehabisan akal mencari-cari cara agar bisa berdekatan dengan Yunho. Alhasil, belakangan ini surat-surat tak terkirim yang menjadi barang kesayangannya itu pun selalu dibawa ke mana-mana.
Dan sekarang, orang-orang pembuat onar itu sudah menjatuhkan barang kesayangan Jaejoong. Hal itu tidak bisa dimaafkan dengan mudah.
Dengan sudut matanya yang terbakar emosi, Jaejoong melihat namja pembuat onar di depannya. Dari mulai sepatunya, jeansnya, Polo t-shirt yang dikenakannya, penampilannya cukup perfect. Hanya saja wajahnya masih merunduk, masih memunguti kertas-kertas Jaejoong yang berhamburan.
"Jadi berantakan semua, kan? hati-hati dong!" gerutu Jaejoong. Dengan nada suara biasa yang apa adanya, tidak semarah yang tadinya Jaejoong harapkan.
Mungkin Jaejoong memang tidak bisa betul-betul marah pada si namja itu, karena Jaejoong tahu sebenarnya namja itu tidak sepenuhnya bersalah. Dua yeoja centil itulah yang harusnya bertanggung jawab. Tapi karena mereka sudah melarikan diri, tidak ada orang lain yang bisa Jaejoong marahi kecuali namja itu. Biar bagaimana pun Jaejoong kan perlu pelampiasan.
.
"Maaf ya… Joongie.."
Jaejoong tertegun.
Seperti mengenali suara itu….
.
Tadi saat berbicara dengan yeoja-yeoja centil itu, suara namja ini tidak begitu jelas terdengar. Namun sekarang Jaejoong mendengarnya dengan jelas dan langsung disergap perasaan rindu. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan nada lembut seperti itu. Nada yang sudah lamaaa sekali tidak didengarnya, rasanya sudah berpuluh-puluh tahun.
Merasa penasaran, Jaejoong mendongak. Dan matanya terbelalak seketika.
Yunho.
Benar-benar Yunho.
Yunho sungguhan.
Yunho yang itu.
Tanpa mendongak dan terus membereskan kertas-kertas Jaejoong, namja itu tersenyum. "Apa kabar?"
Namun Jaejoong tidak mampu berkata apa-apa. Yang bisa Jaejoong lakukan hanya bengong, menatap namja di depannya yang sekarang sepertinya sudah mulai sadar bahwa isi-isi kertas yang sedang ia bereskan ditujukan untuknya.
Melihat namja di depannya, ia jadi teringat kejadian-kejadian yang lalu.
Yunho datang, menggangu hidupnya, mengusik hatinya, kemudian pergi, menyisakan kekosongan di hatinya yang masih berlubang sampai sekarang. Jaejoong setengah mati rindu padanya, namun ketika bertemu sekarang, yang ditanya namja itu hanya 'apa kabar'. Mau marah gak sih?
Harusnya kan Yunho minta maaf karena sudah pergi tanpa pamit.
Atau minta maaf karena tidak menghubungi Jaejoong sesegera mungkin setelah ia bebas.
Atau minta maaf karena ia bersikap seakan-akan di antara mereka tidak pernah terjadi apa-apa.
Atau minta maaf karena ia masih bisa tersenyum padahal Jaejoong setengah mati mengkhawatirkannya.
Atau minta maaf karena…
.
"Joongie...?" suara Yunho terdengar geli.
Lamunan Jaejoong terputus. Ia menoleh ke arah Yunho dan melihat namja itu sedang memandanginya sambil tersenyum, bibir bentuk hatinya tersenyum lebaaaar sekali, bagian bawahnya yang agak tebal, tahi lalatnya di bibir atas terlihat dengan sangat jelas. Yunho tampak memasukkan sesuatu ke kantong bajunya, lalu menyodorkan tumpukan surat Jaejoong, kemudian berdiri dan berlalu. Meninggalkan Jaejoong sendiri lagi.
.
Jadi begitu…
Ternyata Yunho memang tidak pernah punya perasaan apa pun terhadapnya. Yunho hanya menggunakannya, lebih tepatnya kamar Jaejoong, sebagai tempat persembunyian dan sekarang mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi karena namja itu sudah bebas.
Jaejoong tertunduk, memandangi surat-suratnya, pedih. Padahal surat-surat itu ditujukan untuk namja itu. Yunho tidak menanggapinya sama sekali. Harusnya kan dia bilang sesuatu.
'Sok romantis kek… tidak berseni kek… norak kek…'
Mata Jaejoong tertumbuk pada puisinya di tumpukan kertas paling atas. Aneh. Ada coretan dan tulisan baru yang bukan miliknya. Jantung Jaejoong berdebar-debar keras sekali, padahal musik yang sedang diputar di dalam toko itu bukan house music.
.
Jaejoong membaca tulisan itu…
Jaejoong tidak percaya. Semua ini terlalu indah. Jika yang ditulis itu memang benar, Jaejoong tidak perlu komentar apa-apa lagi.
"Yunho…."
Serta-merta, sebutir air mata mengalir sepanjang pipi Jaejoong dan jatuh ke kertasnya.
.
.
Love is when my smile looks beautiful , whenever I remember his face
Love is when my eyes look amazing, since he is the only one I see
Because I think about him every second I have
Love is when strawberries taste great, after he said so
Love is when I love him, even if he never realizes it
JUNG YUNHO, I LOVE YOU.
I LOVE YOU TOO, KIM JAEJOONG! ! ! Be Mine?
.
.
.
.
- End part One -
Upsss… jangan emosi dulu, yeorobun..
Buronan Tampan Part one, emang udah end.
Tapi tenang aja, kisah YUNJAE akan terus berlanjut! Dan asal muasal kenapa Jung Yunho bisa bebas jg akan aku ceritakan, gimana tertarik untuk dilanjut?! Surely, akan aku lanjut.. itupun juga kalau readers sekalian mau tetep baca dan setia nunggu.. hehe..
Mind to give me vitamine?
Your review lifts my stamina up!
Thanks (-:
