Sasuke U X Sakura H and other pairing/character
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
I'm just borow the chacters
Romance, Humor(maybe), Friendship, Etc
OOC, AU, GAJE, Typo(s), Abal-abal
Inspirated by Noblesse
^^VAMPIRE LOVE^^
Dengan perlahan cengiran Naruto mengembang di wajahnya setelah kembali dari alam bawah sadarnya dengan semangat, bahkan saking semangatnya ia seperti lupa kalau Ibiki juga berada di dalam kelas yang sama. Ibiki berhenti sejenak untuk memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya. Pilihannya jatuh kepada si Duren yang sedang cengar-cengir. Ada apa dengan anak itu? batin Ibiki curiga.
"Naruto" Panggil Ibiki. Naruto masih mengembangkan cengirannya.
Merasa tidak direspon, Ibiki menaikan suaranya. "Naruto!" Naruto masih diam, dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana. Ibiki mulai geram dengan tingkah aneh Naruto. Murid-murid dikelas ini mulai meneguk ludahnya sendiri. Kelas X A pun berubah horor. Ibiki memeperlihatkan seringaiannya, yang membuat murid-murid bergidik ngeri.
Semua murid tahu apa yang akan terjadi selanjutnya mereka pun menutup telinga mereka dengan tangannya masing-masing kecuali Sasuke dan Naruto. Sasuke hanya diam memperhatikan sekitarnya dan juga sang Guru dengan tenang. dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Naruto masih menerawang jauh entah kemana masih dengan cengirannya.
Ibiki menghirup udara segar dalam-dalam. Satu,.. dua,.. ti- "NARUTOOO!" BRUKK! Kejadian itu begitu cepat. Tubuh Sasuke membeku bagaikan batu. Telinganya berdenging. Tidak ada lagi ketenangan. Naruto terjatuh dari kursinya setelah melompat dan mencium lantai keramik itu dengan penuh 'perasaan'
Setelah peristiwa yang menggemparkan seluruh sekolah Sasuke dan juga Naruto langsung dibawa ke UKS. Sasuke sudah kembali tenang dengan membaca lembaran-lembaran kertas berjudul KAMUS BAHASA JEPANG KUNO-MODERN yang di bawahnya tertulis by: Uchiha Itachi NB: belajar lah yang rajin otoutou!
Naruto memandang Sasuke dengan serius dari atas ke bawah. Sasuke yang dipandang seperti itu sedikit risih, namun ia mengabaikannya dengan kembali fokus kepada lembaran kertas yang dibacanya.
Lima menit pun terlewati tanpa ada percakapan diantara mereka, hanya hening. Naruto mulai jengah dengan keadaan ini, ia ingin memulai percakapan namun pembicaraannya dengan kyuubi membuatnya mengurungkan niatnya.
FLASHBACK
"Dia lah orang terakhir itu." Ucap Kyuubi dengan serius.
Naruto membelalakan matanya."Dia, benarkah itu!?" Kyuubi menganggukan kepalanya dengan percaya diri.
Cengiran pun tersingkap diwajah Naruto."Tapi... Kenapa dia baru muncul kembali setelah 430 tahun?" Kyuubi menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ia tidak tahu.
"Kalau begitu aku akan menanyakan kepadanya langsung!" Serunya. Kyuubi meringis dalam hati. 'Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa dia baru saja muncul setelah 430 tahun. Jika mereka benar-benar berkomunikasi maka bahasa lah yang dipertanyakan'. "Dasar baka!" Naruto yang tidak terima dibilang bodoh pun protes. "Apa!? Mengapa kau mengatakan aku baka!? Memangnya aku tidak boleh bertanya apa!?"
Kyuubi menatap malas Naruto. "Kau sendiri bukan yang mengatakan kalau dia muncul setelah 430 tahun? Kalau begitu ia menghilang 430 tahun yang lalu dihitung dari sekarang. Dan 430 tahun yang lalu alat-alat juga bahasa yang mereka gunakan sudah pasti berbeda. Kalau kau berbicara dengannya dengan bahasa yang sekarang sedangkan dia tidak mengerti bahasamu bagaimana bisa nyambung. Mengerti?" Jelas Kyuubi panjang lebar.
Naruto melongo mendengar perkataan Kyuubi yang bisa dikatakan panjang, otaknya masih memproses sedikit demi sedikit perkataan Kyuubi. Setelah ia mengerti betul apa yang dibicarakan Kyuubi, ia terkekeh mengingat kebodohannya. "Hehehe... aku mengerti."
Kyuubi memutar mata bosan. "Pergilah. Aku masih ingin tidur, berbicara denganmu mengikis waktu tidurku." Naruto menghela nafas." Ya, ya... baiklah aku pergi."
NORMAL
Kring.. Kring...
Bel sekolah pun berbunyi, menandakan sudah waktunya istirahat. Sakura keluar dari kelasnya dan memilih pergi ke kantin bersama Hinata dan Ino sebelum menjenguk saudara sepupunya diruang UKS.
"Sakura aku ikut keruang UKS yah?" Ujar Hinata semangat.
Sakura sedikit berseringai. "Ck, kau ini... Kalau kau mau menemui Naruto langsung saja. Tidak usah mencari alasan." Mendengar penuturan Sakura membuat Hinata sedikit bersemu. Ino terkekeh melihat Hinata yang menjadi pemalu dalam sekejap. "Sakura, aku juga ikut." Tawarnya. Sakura hanya mengangguk dan tersenyum.
"Umm... Hinata boleh aku menitip ini padamu?" Tanya Sakura dengan menyerahkan bungkusan berisi makanan. Hinata tersenyum. "Tentu." Mereka bertiga pun berjalan menyusuri koridor sekolah yang cukup ramai. Sesampainya di depan pintu ruang UKS, Sakura membuka pintu dengan sedikit keras memecah keheningan yang ada di dalam ruangan itu.
Sakura membeku. Ia melupakan satu hal kalau bukan hanya Naruto yang berada di dalam ruang UKS. Selama beberapa detik ruangan itu kembali hening. Naruto yang menganggap penyelamatnya sudah muncul akhirnya bisa membuka suara.
"Sakura-chan." Panggil Naruto. Seakan tersadar dari kegugupannya, Sakura menyahut panggilan Naruto. "I-ya."
"Apa kau membawa sesuatu untukku? Minimal makanan gitu." Tanya Naruto.
Sakura tersenyum miring. "Tentu saja! Hinata membawakannya untukmu." Hinata mencoba untuk protes namun Sakura memberikan kode untuk diam.
Mata Naruto berbinar-binar. "Benarkah?" Tanyanya dengan menatap Hinata. Hinata yang ditatap seperti itu hanya menundukan kepalanya disertai garis-garis merah dipipinya.
Hinata memberikan bungkusan tadi kepada Naruto. Naruto Tersenyum."Arigatou Hinata-chan." Hinata mengangguk lemah.
Sakura, dan Ino yang melihat adegan itu hanya tertawa kecil, karena memang bukan rahasia umum lagi kalau Hinata menyu- ah, mencintai Naruto. Hinata yang ceria akan berubah derastis menjadi pemalu jika berada di dekat Naruto.
Sasuke yang juga melihat adegan itu hanya bersikap datar dan kembali melanjutkan membaca. Sakura melirik ke arah Sasuke yang sedang fokus membaca. Ia memicingkan matanya untuk melihat judul dari lembaran yang Sasuke baca. Kamus bahasa Jepang kuno-modern? Bukankah dia dari luar negeri? batin Sakura heran menatap Sasuke.
Sasuke yang merasa ditatap Sakura balik menatap Sakura. Sakura seperti orang yang tertangkap basah mencuri celana dalam orang lain. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain dengan pipi yang sedikit bersemu.
Sasuke masih belum mengalihkan perhatiannya pada Sakura, bahkan setelah gadis itu keluar dari ruangan itu, ia masih menatap pintu yang dilalui Sakura. Naruto menatap heran Sasuke dengan mengernyitkan dahinya lalu kembali fokus terhadap makanan yang dibawa Hinata.
Sadar akan kelakuannya Sasuke kembali membaca lembaran-lembaran kertas yang masih dipegangnya.
Sakura
Dua puluh menit kami berada di ruang UKS membuatku gelisah. Bagaimana tidak? Dia terus-menerus menatapku seperti itu.
Ya, salahku juga sih... tapi tetap saja, aku 'kan hanya menatapnya sebentar. Memang dia tidak lelah apa menatapku seperti itu? Walau pun aku tidak terlalu tertarik dengan lelaki- eitss, bukan berarti aku penyuka sesama jenis lho. Aku hanya belum tertarik dengan yang namanya 'pacaran'- aku juga 'kan perempuan. Kalau ditatap seperti itu oleh lelaki yang umm... yah, tampan sih. Yang pasti aku tidak bisa tenang.
Sudah cukup! Aku masih sayang dengan nyawaku! Aku tidak mau tiba-tiba mati muda hanya karena ditatap. Baiklah aku tahu itu sangat konyol, tapi serius! Jantungku tidak bisa diajak bekerja sama.
"Sstt.. Ino," Aku memanggilnya pelan-aku tidak mau mengganggu Hinata juga Naruto-.
Dia menoleh kearahku."Hmm..."
"Mau ke kelas?"
Ino sedikit memicing ke arahku."Memangnya kenapa?"
Aku berusaah memutar otak. Dan... Ting! Sebuah lampu muncul di atas kepalaku. Oke itu terlalu berlebihan. "Kau ingin menceritakan laki-laki yang membuatmu kesal 'kan?" Voila! Rencanaku berhasil! Aku melihat matanya berapi-api.
Memang kemarin-kemarin ia selalu menelponku malam-malam hanya untuk menceritakan sosok laki-laki yang membuatnya kesal setengah mati, dan itu pun terpisah-pisah. Ino mengangguk dengan penuh semangat. "Ayo!"
Aku memanggil Hinata."Hinata, kau masih mau di sini atau ikut bersama kami?" Hinata terlihat tidak senang tapi, akhirnya dia mengangguk.
"Sa-sampai jumpa Naruto-kun." Seru Hinata malu-malu. Ah~ manis sekali. Aku merasa jahat mengganggu kesenangannya.
Kami bertiga langsung keluar setelah mengatakan akan kembali lagi untuk membawa tas mereka saat pulang nanti. Sekarang jantungku mulai berdetak secara normal, tidak terburu-buru seperti tadi. Huftt... Sasuke memang berbahaya.
Sesampainya di kelas Ino langsung berceloteh ria tentang laki-laki yang membuatnya kesal. "Kau tahu Sakura dia bahkan memanggilku pig? Grrrhh... itu sangat menyebalkan!"
Hinata berdiri dari kursinya."Ino, Saku. Aku ke toilet sebentar yah?"
"Ya." Seru kami berdua. Ino kembali memasang raut kesalnya.
Aku meliriknya. "Hmmpp... pig? Yah, kurasa dia benar, Ino-pig?" Dia mendelik ke arahku. " Kauuu... menyebalkan!" Serunya mengembungkan pipi.
"Oh, kau terlihat manis Ino-pig," Dia semakin cemberut. Oke, aku merasa bersalah. "Ya, ya ma'afkan aku." Dia masih menekukkan wajahnya.
"Huh. Baiklah aku akan menuruti semua kemauanmu."
Ino melirikku. "Benarkah?"
Kring... Kring... Kring...
Bel sudah berbunyi lagi. Yah, kurasa tidak ada salahnya menyetujuinya jadi, aku hanya mengangguk pasrah.
"Ku terima permintaan ma'afmu." Dia tersenyum sok misterius. Aku tidak bisa untuk tidak memutar mata.
"Apa aku tertinggal sesuatu yang penting?" Aku tidak tahu kapan Hinata sudah berada di sini. Aku menggeleng. "Tidak. Tidak ada yang penting." Dia hanya mengangkat bahunya.
Semoga Ino tidak memberikan permintaan yang aneh- aneh. Ya. Semoga.
Normal
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N :
Hola! Ada yang menunggu fict ini? Umm... itu masih menjadi misteri -_-"
Baiklah aku gak punya banyak curcolan sih cuma mau ngasih tahu (Bukan 'tahu' yang itu-makanan-) kalau chapter satu udah diubah. Tapi,gak banyak sih.
Oke cuma itu saja dan terimakasih untuk:
Sakura sweetpea, Kurochi haru, Cadis E Raizel,
Nayla565,Ayato ruki, Nekotsuki, Fifi, CherrySand1, Luhannieka, dan
semua yang sudah mampir, komentar, atau foll/fave, sekali lagi
Terima kasih.
Sign,
SasukeCherry
