A GOOD MARRIAGE

Author : Na U-Young

Cast : Jung Yunho 30 y/o

Kim Jaejoong 27 y/o

Park Yoochun 29 y/o

Shim Changmin 25 y/o

Kim Junsu 27 y/o

Genre : Romance, Hurt-Comfort, YAOI, MPREG

Rate : M

Summary : Jaejoong mengalami masa sulit setelah perceraiannya dengan suaminya. Hingga Yunho menawarkan kekayaan dengan pamrih. Haruskah Jaejoong menerima dan menyembunyikan riwayat hidupnya hanya demi sang buah hati?

Warning : No flame, No bash, No War, YAOI (MATURE), Typo, NC = Underage Not

Allow, Breastfeeding, Alur kecepatan? Yang Gak Suka Click BACK!

A/N : FF ini PURE dari ide Young terinspirasi dari keinginan buat FF MPREG dengan berbagai pairing (YUNJAE, MINJAE, CHUNJAE, YOOSU). Imajinasikan disini Jaejoong dengan style kemeja V neck persis waktu di Airport kapan itu aku lupa... (Rambut coklat almond lurus berponi menyamping, shape body ramping pakek kacamata berbingkai hitam) tapi dadanya lebih montok, Yunho kek di MV 'Burning Down' Tampan-Kekar-Mempesona, Yoochun persis saat main di The Girl Who Sees Smell, Changmin saat ia jadi model majalah Daze & Confuse, Junchan di Tarantallegra yang berambut putih. Jika masih bingung dengan rupa mereka, kalau kalian lupa & mau lihat rupanya kek gimana ntar bisa ajah aku aplot di FB. Selamat menikmati...

.

.

.

CHAPTER 1

Amerika Serikat

Mansion Park

"Ceraikan aku Park Yoochun! Pernikahan ini sudah tidak pantas lagi dipertahankan..."

"Jaejoongie... percayalah padaku... itu hanya sebuah kecelakaan. Orangtua ku lah yang mengingankan kehancuran rumah tangga kita Jae! Sungguh aku tidak pernah sedikitpun menyentuh Ahra-ssi."

"Percuma kau mengatakan itu Park. Bukti nyata sudah ada ditanganku. Bukti bahwa Ahra-ssi sedang hamil anakmu."

.

.

.

Oek... oeek...

Pria cantik yang tengah sibuk memasukkan pakaian dan benda-benda berharga miliknya ke dalam beberapa koper besar itu terhenti. Ia tolehkan kepalanya pada sebuah box bayi lalu bergegas menggendong anak semata wayang yang telah ia lahirkan prematur melalui operasi cecar 6 bulan lalu. Dengan sabar ia mencoba untuk menenangkan anaknya dengan mengusap-usap punggung Park Moobin sang buah hati hingga tangisannya pun mereda.

"Cup.. cup... anak umma uljima ne... umma sayang dengan mu Park Moobin." Jaejoong dengan gemas menciumi wajah Moobin hingga ia terkekeh geli karna sang ibu terus menggodanya.

"Sudah saatnya mimik eoh? Moobin mau mimik umma?" Tanya Jaejoong pada anaknya karna Moobin terus menepuk dadanya berulang kali. Seolah-olah ia mengatakan bahwa dirinya perlu asupan dari sang umma. Jaejoong lalu mendudukan dirinya pada ranjang King Size miliknya dan Suaminya Park Yoochun. Di bukanya beberapa kancing kemeja polos berwarna pink milik Jaejoong dan kemudian ia mengeluarkan benda berisi yang akan menjadi santapan sang bayi tercintanya. Dengan semangat Moobin menghisap nipple Jaejoong sedikit rakus hingga tidak jarang Jaejoong merasa perih karna Moobin menyusu dengan isapan yang sangat kuat.

"Ugh... pelan-pelan baby... nanti kau tersedak."

"Mmma..." Ujar Moobin sesaat ia melepaskan nipple sang umma dan kembali menyusu pada dada sintal Jaejoong. Pria cantik itu tersenyum senang saat bayinya bergumam lucu. Sangat tampan ujar Jaejoong sambil mengusap surai hitam tipis sang anak.

Jaejoong adalah namja istimewa yang diberikan kelebihan karena ia seorang male pregnancy dan ia pun dapat memberikan ASI sama hal nya dengan yeoja. Walaupun dadanya tidak sebesar yeoja namun dadanya bisa dikatakan montok untuk seukuran pria.

"Ne... Kau tampan sekali eoh persis seperti appa mu..."

DEG...

Menyebut nama suaminya membuatnya tersadar akan rumitnya rumah tangganya yang kini sudah di ujung tanduk. Jujur saja, Jaejoong masih sangat mencintai suaminya. Namun skandal yang dilakukan suaminya sangat lah keterlaluan. Meniduri seorang wanita saat sang suami telah memiliki istri bahkan sudah dikarunai seorang anak. Hnn... dimanakah jalan pikir suaminya? Apa suaminya sudah bosan pada dirinya? Apa karna Jaejoong adalah seorang namja? Memang benar orangtua Yoochun tidak pernah setuju dengan pernikahannya. Seorang laki-laki menikahi laki-laki? Lucu dan memalukan eoh ujar Mrs. Park ibunda Yoochun. Namun dengan keras hati Yoochun tetap ingin menikahi Jaejoong dan mengancam keluarganya jika suatu saat ia akan mengacaukan perusahaan ayahnya jika keinginannya tidak terpenuhi. Mengingat jabatan Yoochun adalah sebagai presidir menggantikan jabatan yang sebelumnya dipegang oleh Mr. Park ayah kandung Park Yoochun.

Tap... Tap...

Seorang pria tampan berjalan memasuki kamarnya dan istrinya. Sejenak langkahnya terhenti di ambang pintu saat dirinya menangkap dua sosok malaikatnya yang sedang tertidur pulas. Senyum getir terlihat jelas di wajah tampannya dengan perlahan ia berjalan mendekati sang istri yang terlelap masih dalam keadaan menyusui Moobin dengan posisi miring. Lalu Yoochun mengedarkan pendangannya pada beberapa buah koper yang sudah tersusun rapi di samping meja rias sang istri. Mengingat perkataan Jaejoong yang ingin bercerai dengannya membuat darahnya kembali mendidih. Bagaimana bisa ia menceraikan Jaejoong jika ia masih mencintai istri cantiknya yang sangat berharga.

Sreet...

Dengan kasar Yoochun menelentangkan tubuh Jaejoong hingga tautan bibir Moobin terlepas dari nipple sang umma. Dan beruntungnya Moobin tidak menangis akibat ulah Appa nya.

"Yoo.. Yoochunie... Apa yang kau lakukaan... ngh..." Jaejoong terkejut saat suaminya kini berada diatas tubuhnya dan mengigit kasar leher putih Jaejoong hingga meninggalkan beberapa ruam merah diperpotongan leher dan pundaknya.

"Aku tidak suka penolakkan mu baby."

Dengan cara paksa dan bringasnya Yoochun menyetubuhi Jaejoong tanpa ampun dan tidak menghiraukan tangisan keras dari sang balita yang terusik akibat suara desahan kesakitan Jaejoong serta suara derit ranjang yang menggila.

"Nghh... Yoochunie... sakitt... aarghh... hiks..." Jaejoong terus memberontak dan berusaha menghentikan pergerakan suaminya yang semakin liar merasuki tubuhnya.

"Coming... i'm coming baby... Aaaarrgghhh!"

Setelah beberapa kali Yoochun orgasme di dalam tubuh Jaejoong dengan kasar pula ia melepaskan tautan bagian intimnya pada sang istri. Sungguh baru pertama kalinya Jaejoong diperlakukan sekasar ini oleh suaminya. Biasanya dalam bercinta Yoochun selalu mengutamakan kelembutan dan menahan keegoisannya untuk mencapai kenikmatan demi menghormati Jaejoong agar tidak tersakiti pada saat mereka melakukan persetubuhan sebagai suami-istri. Jaejoong yang masih menangis terisak dapat merasakan rembesan hangat sekaligus perih pada analnya yang ia yakini itu adalah cairan kental sperma milik suaminya yang telah bercampur dengan darah. Beruntung Jaejoong saat ini masih mengkonsumsi pil KB sehingga tidak khawatir untuk hamil sementara waktu ini.

"Hiks... baby... Moobin-ah..."

Dengan tubuh ringkiknya, dengan susah payah ia bergerak hendak meraih tubuh mungil Moobin yang masih menangis namun gerakannya terhenti saat Yoochun dengan gesitnya mengambil alih Moobin dan menimangnya dengan sayang.

"Berikan anakku sekarang Park! Tidakkah kau cukup menyakiti tubuhku eoh! Anakku membutuhkanku."

"Ani... kau beristirahatlah Jae. Biar aku yang akan menenangkan uri Moobin" Setelah mengenakan celana panjangnya Yoochun tidak lupa memberikan kecupan sayang pada dahi Jaejoong yang berkeringat. Lalu beranjak keluar dari kamar mereka.

'Kau keterlaluan Park! Kau telah menyakiti perasaanku dan ragaku. Apa boleh buat, tekad ku kini sudah bulat. Aku akan tetap pergi, tak peduli kau mau menceraikanku atau tidak.' Ujar Jaejoong membatin sembari melihat tubuh kekar Yoochun yang menghilang di balik pintu. Jaejoong menghela nafas beratnya dan mulai memejamkan matanya berusaha untuk tidur walau ia masih merasa tidak tenang akibat perih pada bagian analnya.

.

.

.

Seoul, Korea Selatan

Jung Corp

"Yunho... berapa lama lagi kau menunda untuk mencari pasangan eoh? Tidak kau tau kalau umma dan appa ingin segera menimang cucu." Yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik itu sedikit merasa kesal pada anak tunggalnya yang tak kunjung menikah. Padahal usia Yunho kini sudah terbilang matang untuk menikah dan dirinya sudah sangat mapan.

"Tidak sekarang umma... aku lebih suka seperti ini. Memiliki pasangan akan membuatku tidak bebas dan terikat. Aku tidak suka umma. Jika umma ingin memiliki cucu mengapa tidak mengadopsi saja sih. Tidak... aku tidak suka anak-anak, sangat berisik dan menjengkelkan."

Sreet...

"Anak kurang ajaarr! Kau kira untuk apa kau hidup kalau tidak memiliki istri eoh? Appa mu perlu seorang cucu laki-laki agar dapat meneruskan generasi Jung kau tauu eohh! Apa karna wanita jalang itu kau jadi taruma menjalin hubungan eoh?" Mrs. Jung kesal dan langsung menjewer kuping anak tunggalnya yang sangat ia cintai.

"Uumma... appoo! Jangan jewer kuping Yunho..."

Plak!

Setelah menjewer kuping sang anak, Mrs. Jung memukul kepala Yunho dengan Handbag nya yang mahal hingga Yunho kembali meringis dan mengusap kepalanya yang berdenyut sakit.

"Pokoknya dalam waktu dekat kau harus menikah! Aku tidak ingin anakku jadi lajang tua. Tidak peduli kau menikahi laki-laki atau perempuan. Pokoknya sudah saatnya kau memiliki ISTRI! Kau paham Jung!"

"Nee... ummaa..." Yunho akhirnya mengalah dan sikapnya melunak mengeluarkan aegyo andalan agar umma nya luluh padanya.

"Hnn... aegyo mu sudah tidak lucu lagi Yunho. sangat mengerikan... aiissh.. Lebih baik aku pulang saja." Mrs. Jung merapikan penampilannya sejenak sebelum ia beranjak dari ruang kerja Yunho.

"Arraseo umma... umma... popoo..." Ujar Yunho bergelayut manja di lengan Mrs. Jung.

"Hnnn... manja sekali eoh..." Melihat sifat Yunho yang manja seperti ini membuat yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik ini terkekeh pelan namun masih tetap dengan sikapnya yang dingin.

Cuup...

"Dasar Jung! Aku pulang dulu ne... saranghae nae aegya..." Setelah mengecup pipi Yunho Mrs. Jung kini benar-benar pergi meninggalkan Yunho yang masih memasang wajah puppy nya. Namun wajah manja yang baru saja di umbarnya dihadapan sang umma memudar begitu saja. Ia kembali menjadi sosok yang angkuh dan dingin, sosok yang terus menjadi tameng baginya karna ia pria dewasa yang berkuasa. Hingga detik berikutnya Yunho mengeluarkan handphone layar sentuh milik nya dan mendial seseorang.

"Changmin-ah... profil wanita calon partnerku tolong segera berikan kepadaku. Siapa tau ada yang menarik."

"..."

"Tidak... aku hanya ingin mencari pasangan yang bisa di ajak kerjasama, menjadikan istri hanya untuk dihadapan kedua orangtuaku. Kau tau sendiri aku tidak suka terikat."

"..."

"Kapan kau kembali ke Seoul?"

"..."

"Baiklah... sampai bertemu 3 minggu lagi di club Y."

PIIP...

Yunho memutuskan sambungan telponnya dengan sahabatnya Shim Changmin yang masih sibuk di Jepang karena urusan pekerjaan. Kemudian Yunho kembali berkutat pada beberapa dokumen penting yang akan dipresentasikannya pada saat meeting siang ini.

Jung Yunho pria dewasa berumur 30 tahun, memiliki kehidupan yang sempurna. Wajah tampan, tubuh kekar dan seksi bagaikan model internasional, memiliki kekayaan yang melimpah sehingga tidak sedikit namja ataupun yeoja yang gencar mendekati Yunho karna tertarik dengan kekayaan yang dimiliki keluarga Jung. Perusahaan elektronik, toko perhiasan, Mall, Restaurant, Hotel, Resort dan lain-lain semua sudah di pegang oleh Jung Yunho karna Mr. Jung ingin pensiun dan menikmati hari tuanya bersama sang istri.

Saat ini Yunhopun bertekad tidak ingin memiliki kekasih ataupun istri karna ia pernah merasakan sakitnya di khianati oleh orang yang pernah mengisi hidupnya. Berpura-pura mencintai Yunho hanya untuk mengeruk harta Yunho. Yeoja cantik bernama Boa adalah mantan kekasih Yunho. 2 tahun menjalin kasih hingga mereka memutuskan untuk menikah, namun beberapa hari jelang pernikahannya Yunho dikejutkan dengan kaburnya Boa bersama kekasih gelapnya dan mengambil uang yang telah dipercayakan Yunho pada Boa untuk membeli istana rumah tangga mereka setelah menikah namun semua itu hilang begitu saja. Uang untuk membeli rumah idaman bersama Boa dan cinta, Yunho telah kehilangan keduannya. Tidak ingin percaya lagi dengan wanita ia jengah dan tertipu dengan wajah polos berhati busuk seperti mantan kekasihnya. Hnn... Hidup mewah tanpa pasangan itulah prinsipnya saat ini. Cukup dengan menikmati dan bersenang-senang. Toh wanita zaman sekarang dapat ia beli hanya untuk menuntaskan hasratnya sebagai pria dewasa yang sehat. Ya... Yunho memilih hidup yang bebas dan tidak terikat.

.

.

.

Amerika Serikat

Mansion Park

Seorang pria cantik yang terlihat sangat rapuh itu menangis terisak dibawah guyuran shower yang dingin. Ia menenggelamkan wajahnya diantara lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh ia merasa terpojokan. Orangtua Yoochun selalu mendesaknya untuk segera bercerai dengan Yoochun karna mereka malu memiliki menantu pria seperti dirinya. Disamping itu ia masih mencintai Yoochun. Dan lagi masalah baru timbul, sekretaris pribadi Yoochun tengah mengandung. Ia bingung harus seperti apa ia bersikap, maafkan Yoochun lalu menjalankan kehidupan sebagai isti pertama karna Yoochun pasti akan menikahi Ahra. Mungkin saja Yoochun lambat laun akan berpaling darinya karna anak yang sedang dikandung Ahra, melupakan dirinya dan anak tercinta mereka Park Moobin. Ataukah ia harus pergi meninggalkan masalah yang terus membuatnya tertekan. Dan hidup tenang sebatangkara. Jaejoong bimbang... sakit hatinya terlampau perih dan dalam.

Deg...

Jaejoong menengadahkan kepalanya saat mendengar ketukan keras dari balik pintu kamar mandinya.

Tok... Tok...

"Jae... tolong buka pintunya Jae... berapa lama kau mau berdiam diri disana. Aku mencintaimu Jae... sungguh." Yoochun terus berusaha membujuk istrinya untuk keluar dari persembunyiannya karna Jaejoong selalu menghindar jika ia berhadapan langsung dengan suaminya.

Yoochun POV

'Jaejoongie... mengapa kau begitu dingin padaku chagiya. Aku memang suami brengsek yang telah membuatmu membenciku. Aku sudah berbicara padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa aku tidak ingat bahwa aku pernah meniduri sekretarisku sendiri. Namun yang ku ingat orang yang ku dekap adalah wanita yang tidak ku harapkan. Saat itu...

FLASHBACK ON

"Selamat atas kesuksesan dari perusahaan kita. Ini berkat anak tunggalku yang sangat aku sayangi Park Yoochun. Usaha dan kerja kerasnya dalam memimpin dan membimbing perusahaan kita membuahkan hasil yang sangat-sangat memuaskan. Semuanya silahkan menikmati dan bersenang-senang." Sepatah-dua patah kata telah di sampaikan Mr. Park untuk memberikan ucapan selamat kepada anaknya Yoochun.

"Terimakasih..." Ujar Yoochun tersenyum seraya mengangkat gelasnya kepada para karyawan perusahaannya.

DRRT... DRRTT...

Setelah menghabiskan minumannya, Yoochun mengambil ponselnya yang bergetar pada saku celananya. Dan ia melihat siapa yang menelponnya kini, lalu senyuman hangat terpampang pada wajah tampan dan bersih pria yang sudah memiliki seorang istri yang cantik.

'Nae sarang...' Ujar Yoochun sambil menekan tombol terima.

"Yoochunie...!" Terdengar suara lengkingan merdu dari pria cantik di seberang sana. Hingga Yoochun terkekeh mengingat kelakuan istrinya yang selalu ceria dan manja padanya.

"Ne... chagiya... ada apa eoh? Apa kau sudah merindukanku eoh?" Tanya Yoochun.

"Hmm... cepat pulang arra... Aku akan segera menidurkan uri Moobin. Aku ingin memberikan ucapan selamatku saat kau sampai dirumah. Hadiah menantimu loh suamiku. Apa kau kau tak ingin menyicipinya... hihii...?" Jaejoong tersipu malu saat ia mengucapkan hadiah yang ingin diberikannya pada suaminya.

"Uuhhmm... hadiah apa yang ingin kau berikan padaku eoh?" Yoochun sudah tahu apa yang akan diberikan Jaejoong padanya. Sudah lama ia tidak menyatu dengan istrinya setelah istrinya melahirkan Park Moobin.

"Hmm... Joongie malu... aku jamin Yoochunie pasti sangat menyukainya. Aku... hmm... aku akan memberikan diriku seutahnya untukmu jamah malam ini. Kekeke... cepat pulang arra. Atau hadiahmu akan ku batalkan."

"Kekeke... istriku sudah tidak tahan ne... arra... aku akan secepatnya pulang. Tunggulah aku dan jangan lupa..." Yoochun menghentikan kalimatnya.

"Jangan lupa apa sayang?"

"Saat aku datang kau sudah tidak mengenakan apa-apa. Aku akan langsung menyerangmu saat itu juga. Kekee... Ungghh... memikirkan tubuh polos istriku yang cantik membuat adikku membesar."

"Yak! Park Yoochun... hentikan imajinasi liarmu. Jangan sampai kau menyentuh orang lain karna ke horny-an mu eoh. Aku membencimu..." Kesal Jaejoong.

"Nado... saranghae... sudah dulu ya chagi, umma memanggilku barusan" Ujar Yoochun sambil berjalan mendekati Mrs. Park.

"Ne... bye..."

PIIP...

"Siapa Yoochunie?" Tanya Mrs. Park

"Joongie umma. Umma... aku mau pamit pulang, kasihan Joongie dirumah sendirian."

"Tidak bisa sampai acara selesai Chun..." Ujar Mrs. Park sambil mendeath glare anaknya.

"Umma... jebal..."

"Cckck... dasar istrimu yang manja padahal ia seorang laki-laki, aku menyesal menikahkan kalian. Hey... Ahra... sini nak." Mrs. Park berbinar-binar saat melihat Ahra yeoja cantik yang tengah asik mengobrol dengan beberapa karyawan.

"Ne... ada apa Mrs. Park?" Tanya Ahra saat dirinya sudah berdiri disamping Mrs. Park.

"Tolong kau awasi Yoochun agar ia tetap mengikuti acara ini sampai selesai, arraseo?" Lalu Mrs. Park mendekatkan bibir tipisnya pada kuping kiri Ahra. Yeoja paruh baya itu membisikkan sesuatu hingga Ahra yeoja berambut panjang itu meresponnya dengan anggukan pelan.

"Yak! Apa yang kalian rencanakan eoh?" Kesal Yoochun karna merasa di acuhkan.

"Hahaha... bukan masalah penting. Kalian tunggulah disini, umma ingin mengambil minuman untuk kita. Sudah lama kita tidak minum di acara seperti ini. Dan kau... Park.. jangan kau mencoba kabur." Usai mengancam anak tunggalnya Mrs. Park berjalan meninggalkan Yoochun dan Ahra yang merasa kaku jika sedang berdua saja.

"Hmm... Ahra ssi... bisakah kau membantuku mengendalikan umma ku agar aku bisa pulang. Aku kasihan dengan istri dan anakku." Ujar Yoochun sedikit memelas karna ia tahu Ahra lah yang bisa mengambil hati umma nya.

"Hahaa... nde... arraseo. Aku akan mengaturnya tuan. Tapi sebaiknya anda minum dulu dengan Mrs. Park. Aku takut dia mengamuk padaku." Ujar Ahra sedikit menyeringai.

.

.

"Nah... mari kita bersulaaangg..." Teriak Mrs. Park saat ia kembali dan segera memberikan minuman pada Ahra dan Yoochun.

'Kali ini harus berhasil...' Mrs. Park tersenyum menatap sang anak yang dengan cepat menghabiskan minumannya. Tak kalah dengan yeoja cantik disebelahnya yang ikut menyeringai sambil sesekali ia melirik Mrs. Park yang ikut tersenyum padanya.

.

.

.

Mansion Park 02.15 a.m

"Hiks... Yoochunie... kenapa kau lama sekali. Dan kenapa ponselmu tidak aktif. Hiks..." namja menawan itu menangis terisak sambil memeluk dirinya yang telanjang tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh putih mulusnya. Park Jaejoong istri yang patuh dan sangat mencintai suaminya kini menggigil hebat. Ia menuruti permintaan suaminya jika ia harus naked seperti ini. Padahal ia berencana menyerahkan kembali tubuhnya untuk disentuh dan rasuki oleh suaminya. Namun malangnya sang istri, ia harus menahan dingin karna ia masih yakin jika suaminya akan pulang.

.

.

.

HOTEL RED OCEAN

Suasana sebuah kamar hotel yang mewah dan berkelas kini sudah terlihat sangat berantakan. Pakaian berserakan dilantai, selimut dan bantal tak karuan letaknya. Disebuah ranjang mewah berukuran King Size terlihat dua pasang insan yang sedang tertidur lelap tanpa mengenakan sehelai benangpun.

"Nghh... Joongie..." Yoochun bergumam memanggil nama istrinya dan menggerak-gerakan tangannya hendak menggapai sesuatu yang berada disampingnya.

GREP...

Yoochun menarik tubuh seseorang dan mendekapnya erat. Seolah-olah takut jika istrinya meninggalkannya. Walau dengan mata tertutup namun tangannya yang besar masih setia mengusap-usap orang yang sedang dipeluknya dari belakang. Diendus-endusnya aroma yang menguar dari sosok itu, dari pucuk kepala sampai leher.

DEG...

Seakan tesadar bahwa aroma yang menguar dipelukannya ini bukanlah aroma vanilla yang memabukan dari sang istri. Yoochun membukakan matanya tergesa dan mengamati siapa yang ada bersama dengan dirinya. Wanita berambut panjang dan naked, mustahil batin Yoochun menggila. Debaran jantungnya semakin menjadi saat ia sadar bahwa wanita didepannya adalah sekretaris pribadinya.

DEG...

"Ah... ahraa ssi..."

FLASHBACK OFF

Klek...

Terdengar suara pintu yang terbuka hingga sosok pria cantik berkulit putih mulus itu keluar tanpa menghiraukan Yoochun yang tersenyum getir menatapnya. Sungguh sedih dan hatinya pun merasa sakit ketika ia melihat istrinya yang tak lagi secerah beberapa bulan.

"Sayang..."

"..." Jaejoong seolah-olah menulikan pendengarannya dan tetap mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk lembut berwarna putih.

"Chagiya..." Yoochun berdiri dibelakang Jaejoong dan dengan perlahan dilingkarkannya tangan kekar Yoochun pada pinggang ramping Jaejoong dan ia mulai menurunkan bathrobe Jaejoong hingga bagian atasnya terbuka lebar, menampilkan leher, pundak dan dada sintal milik istrinya.

"Aku mencintaimu Jaejoongie... hhmm..." Yoochun mulai menjelajahi leher dan pundak Jaejoong memberikan kecupan ringan hingga ia mengisap kulit Jaejoong dengan kuat. Hingga kulit pada leher dan bahu Jaejoong kini tak lagi berwarna putih melainkan berwarna merah menyala.

"Ngghh..." Jaejoong tidak dapat menahan desahannya lagi saat suaminya menghisap kulit lehernya dengan kuat. Dan ia berusaha menjauhkan tangan kanan Yoochun yang meremas-remas dadanya hingga cairan ASI milik anaknya muncrat begitu saja.

Basah... saat merasakan telapak tangan Yoochun menarik tangannya dan menjilati tumpahan ASI milik Jaejoong ditangannya.

"Hmm... sangat manis Joongie... aku juga ingin menyusu seperti uri Moobin..." Ujar Yoochun langsung menggendong istrinya bagai anak koala dan merebahkan tubuh ramping istrinya pada ranjang berukuran besar milik pasangan suami istri itu. Tanpa perlawanan Jaejoong membiarkan suaminya menyentuhnya dan merasukinya untuk kedua kali nya. Tidak membalas perlakuan dari suaminya dan ia hanya membiarkan dirinya terhentak-hentak antara nikmat dan perih, seirama dengan pergerakan pinggul Yoochun yang mengeluar-memasukan juniornya pada hole Jaejoong.

"Hiks... mmpph..." Jaejoong hanya bisa menangis dan menggiti bibirnya untuk mencegah desahan yang akan keluar kapan saja. Ia takut suami beranggapan jika ia menikmati persetubuhannya dengan suaminya. Ia sangat membencinya, membenci takdirnya sebagai namja yang menikah dengan orang yang memiliki gender yang sama sepertinya. Membenci takdir sebagai namja istimewa, tapi ia tak pernah menyesali telah memiliki sang buah hati karna Park Moobin adalah hadiah Tuhan yang teristimewa dikehidupannya.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Jaejoong telah selesai membersihkan diri, segera berkemas dan memastikan bahwa Yoochun telah tertidur pulas setelah pergerumulan panas yang terakhir dengan suaminya. Pria cantik itu berjalan perlahan sambil menarik kopernya keluar dari kamarnya dengan menggendong Moobin yang masih tertidur pulas. Namun langkah Jaejoong terhenti, dihampirinya meja riasnya dan ia segera meletakkan surat perceraian yang sudah ia tanda tangani dan ia berharap setelah Yoochun bangun, Yoochun akan menandatangi surat itu. Hingga tidak ada lagi hubungan terikat antara dirinya dan suaminya. Jaejoong tidak ingin menyesali keputusannya, ia ingin hidup tenang tanpa adanya tekanan. Lalu Jaejoong meletakkan surat perceraiannya di atas meja rias miliknya. Dan bergegas pergi meninggalkan semua kenangan indah yang pernah ia alami selama 2 tahun ini dan meninggalkan pria yang masih sangat ia cintai Park Yoochun. Dengan terus menitikkan airmata. Jaejoong meneguhkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja. Ia akan bahagia dengan anak semata wayangnya Park Moobin.

"Selamat tinggal Park Yoochun. Mantan Suamiku..."

.

.

.

.

TBC/DELETE

Mohon tinggalkan Jejak & Review Juseyoo jika berminat FF ini akan diteruskan. Gumawo...^^v

-YJS-