A GOOD MARRIAGE

Author/Writer : Na U-Young

Cast : Jung Yunho 30 y/o

Kim Jaejoong 27 y/o

Park Yoochun 29 y/o

Shim Changmin 25 y/o

Kim Junsu 27 y/o

Other Cast : Choi Seunghyun 30 y/o & Choi Siwon 28 y/o

Rate : T dulu ya... masih aman...

Warning : No flame, No bash, No War, YAOI (MATURE), Typo, NC = Underage Not

Allow, Breastfeeding, Alur kecepatan, MPREG, Alurnya ya gitu... harap sabar. Kekeke... Jangan lupa REVIEW'a..

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 3

Setelah usai membereskan semua pekerjaan rumah dan sudah menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri dan bubur rasa pisang untuk Moobin. Namja cantik itu beranjak dari dapurnya dan mengahampiri Moobin yang sedang asyik bermain dengan mainan yang terbuat dari karet berbentuk ikan yang sedang dikulumnya.

"Aiigoooo... anak umma... jangan makan mainanmu chagi... sini kita belajar makan ne. Umma sudah buatkan bubur rasa pisang untuk jagoan umma yang tampan." Jaejoong segera mengangkat tubuh anaknya dan membawanya kedapur untuk makan bersama. Duduk dilantai yang dingin tanpa adanya kursi mewah tidak mengubah apapun bagi Jaejoong. Cukup ia bersama dengan anaknya ia sudah merasa senang.

"Mmmaam..."

"Ndde? Anak umma sudah bisa bicara eoh? Kyaa... umma gemas... kekeee..." Jaejoong tertawa senang saat ia melihat ekspresi senang Moobin saat merasakan makanan lembut nan manis dimulutnya sehingga ia bergumam ingin mengatakan pada umma-nya jika ia menyukainya. Dengan ekspresi yang bergidik bingung Moobin tetap memakan buburnya hingga habis. Karna ini merupakan makanan pertama yang pernah dicicipinya.

"Jja... sudah habis... Moobin sudah kenyang ne, setelah ini Moobin mimik terus bobo ne.. hupp..." Jaejoong mengangakat tubuh gembul Moobin keudara hingga Moobin terkekeh senang. Usai mengisi perutnya dan sang anak, namja cantik itu segera beranjak menuju kasur mereka untuk merebahkan tubuh Moobin dan mengajak Moobin bermain dengan mainan bebek karet dan ikan yang disukai Moobin. Moobin sangat menyukai mainan yang bisa ia gigiti. Mungkin sebentar lagi gigi Moobin akan tumbuh, pikir Jaejoong.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.15 malam, Moobin masih saja asyik bermain dan bergulang galing karna ia sudah bisa tengkurap saat ini.

"Moobin-ah kau belum ngantuk chagi?" Tanya Jaejoong pada anaknya yang masih asyik mengulum mainannya.

"Aigoo... umma ngantuk chagi... hooaam..." Jaejoong mencoba memejamkan matanya untuk beberapa menit saja untuk sekedar mengurangi kantuknya.

"Joongie... saranghae.. saranghae... aku mencintaimu..."

DEG...

Sontak Jaejoong membukakan kembali matanya yang sempat terpejam dan mengusap lelehan air matanya. Ia bingung mengapa ia menangis dalam keadaan tertidur begini? Jaejoong menghembuskan nafasnya yang terasa sesak. Lalu di edarkan pandangan dan melihat Moobin yang ternyata sudah tertidur telentang dengan kaki yang membuka lebar. Moobin mendengkur lucu hingga membuat Jaejoong terkekeh pelan sambil mengusap lelehan air matanya.

"Hihihi... Ia mirip sekali denganmu Yoochunie... andai kau ada disini mungkin kau akan senang melihat Moobin bisa memakan bubur pertamanya." Jaejoong berbicara sendiri sambil membelai surai hitam Moobin yang mulai memanjang.

"Aku merindukanmu Yoochunie... jeongmal bogosipoyo... hiks... hiks..." Jaejoong tidak tahan lagi menahan air matanya. Ternyata dihatinya paling dalam sosok namja yang masih dicintainya masih terus tengiang dibenaknya bahkan di dalam mimpinya pun ia sangat merindukan mantan suaminya. Merindukan seseorang sangatlah menyesakkan, namun Jaejoong berusaha untuk kuat. Akhirnya namja cantik itu beranjak dari kasurnya dan membuka lemari pakaiannya untuk mengambil sebuah kemeja berwana putih milik Yoochun. Ya Jaejoong memang berinisiatif mengambil salah satu baju favorit Yoochun dan membawanya sebagai kenang-kenangan terakhir. Namja cantik itu tertawa nista dengan air mata yang mulai jatuh saat ia membayangkan wajah Yoochun yang memasang wajah cemberut jika ia telah mencuri kemeja favorit mantan suaminya.

"Yoochunie... hiks... ppaboya..."

Jaejoong terus memeluk kemeja Yoochun dan sesekali diendusnya untuk sekedar mengingat aroma tubuh Yoochun yang sangat disukainya. Hingga perhatiannya teralihkan saat Moobin bergerak gelisah dan ikut menggenggam kemeja Appanya.

"Hiks... hiks... ooekk... hu... oeekk..." Moobin menangis kencang dan menghentak-hentakkan kakinya menandakan ia sedang marah seolah-olah terusik akan sesuatu.

"Cup.. cup.. cup... hiks... uljimaa baby..." Jaejoong berusaha melepaskan genggaman tangan mungil Moobin pada kemeja Yoochun. Namun ia terkejut bukan main, tangisan Moobin semakin mengeras dan berusaha ingin menggapai-gapai kemeja ayahnya.

"Moobin chagi... kangen Appa eoh? Appa tidak ada bersama kita lagi chagi. Ia sudah bahagia, Moobin jangan sedih ne... hiks... umma disini... hiks..." Jaejoong mengangkat tubuh Moobin dan menimangnya. Namun hal itu tidak mengurangi tangisan Moobin hingga Jaejoong mengerang frustasi dan bingung.

"Ah... arra-arra... tunggu sebentar ne." Jaejoong meletakkan kembali tubuh Moobin dan ia segera melepaskan baju piayamanya dan digantinya dengan mengenakan kemeja Yoochun dan sengaja tidak mengancingkan kemejanya karna ia akan meletakkan tubuh Moobin diatas kemeja yang sengaja ia buka agar Moobin bisa merasakan kemeja milik ayahnya. Dan Jaejoong memposisikan dirinya berbaring menyamping kiri agar Moobin bisa menyusu padanya, dan menutupi tubuh Moobin dengan bagian sisi kemeja sebelah kanannya *bisa gak bayanginnya, kemeja yang terbuka tuh disisi kemeja sebelah kiri dibiarkan dibuka/dilebarkan dan Moobin diletakkan disana.

Ajaib... tangis Moobin reda saat tubuhnya diselubungi dengan kemeja Appa kandungnya dan meminum ASI favoritnya dengan tenang dan teratur. Jaejoong hanya tersenyum sambil mengusap pelan punggung Moobin dengan sayang. Benar... Moobin merindukan ayahnya. Itu terbukti saat Jaejoong membiarkan tubuh Moobin bersentuhan dengan kemeja Yoochun.

"Maafkan umma chagi... umma memang jahat karna telah menjauhkanmu dengan appamu." Namja cantik itu hanya bisa menyalahkan dirinya terus, ia lelah. Ia tak tau jika hal ini akan berpengaruh pada anaknya. Ah... sementara ini biarkanlah ia tenang bersama Moobin, menjalani hidup bersama tanpa seorang suami dan ayah bagi Moobin.

.

.

Pagi-pagi sekali Jaejoong sudah mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya, mencuci pakaian, piring-gelas, menyapu dan mengepel. Dengan peluh yang mengalir di pelipisnya Jaejoong mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar.

"Huft... aku sudah hampir dua minggu disini, aku harus cepat mencari pekerjaan. Mau makan apa nanti aku dan Moobin. Jja... baiklah... setelah selesai bersih-bersih aku akan ke kota melamar pekerjaan." Ujar Jaejoong sambil mencoba merenggangakan tubuhnya yang terasa pegal.

.

.

.

Amerika Serikat

Sebuah gereja yang terlihat megah dan banyak dihadiri oleh para tamu undangan sedang ramai dan berbisik-bisik. Mereka bingun karna sang mempelai pria tidak kunjung mengeluarkan suaranya, hingga menimbulkan kekesalan sang mempelai wanita jengah menunggu dan segera menyenggol siku si mempelai prianya.

"Sekali lagi... Park Yoochun, apa kau bersedia menjadi pasangan hidup semati Go Ahra sebagai sitrimu, melindungi dan menyayanginya baik senang maupun susah hingga ajal memisahkan kalian?"

Yoochun lagi-lagi menghela nafas beratnya dan memejamkan matanya. Ia terus membayangkan wajah istrinya saat mereka berada di altar beberapa tahun silam.

"Ya... saya bersedia." Ujar Yoochun akhirnya.

"Baik sekarang kalian sah menjadi pasangan suami-istri, sekarang silahkan mencium pasangan anda." Dengan malas Yoochun berbalik menghadap ahra dan mulai mengulurkan tangannya untuk membuka kerudung pengantin wanitanya.

"Joongie... saranghae..."

Cup...

Setelah mengucapkan itu Yoochun langsung memejamkan kembali matanya dan dengan kilat ia mencium Ahra sembarang tempat. Yah wajarlah... Yoochun melakukan pernikahan ini karna terpakasa. Disuruh menciumpun ia tak sudi. Hingga ia hanya mencium dibagian sudut bibir Ahra sekenanya saja. Hingga Ahra hanya bisa mencemberutkan bibirnya karna kata-kata najis yang tidak ingin ia dengar keluar dari bibir suaminya Park Yoochun. Ya setidaknya kita ucapkan selamat untuk pengantin baru ini dan selamat pada Ahra karna impiannya berhasil menjadi seorang nyonya Park yang terhormat.

.

.

Mansion Park

Pria tampan Park Yoochun hanya bisa menghilangkan penatnya dengan cara berendam dibawah guyuran shower yang dingin sambil menyentuh miliknya yang entah tiba-tiba ia sangat merindukan sentuhan lembut tangan Jaejoong. Kapan ia bisa bertemu dengan kekasihnya lagi. Ia tau dalam waktu dekat ini ia tidak akan mungkin di izinkan pergi ke Korea. Ia hanya berharap Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk mendapatkan kembali Jaejoongnya.

Klek...

Yoochun sudah selesai dengan acara mandinya dan mengikatkan bathrope agar tak mudah terlepas lalu berjalan mendekati lemari pakaiannya tanpa menghiraukan Ahra yang melipatkan kedua tangannya kesal. Namun hal itu tidak menurunkan keinginannya untuk memuaskan hasratnya malam ini. Dengan lancang Ahra memeluk tubuh kekar Yoochun dari belakang.

"Sayang... malam ini kita melakukan malam pertama kita kan? Aku sudah tidak sabar, hihi... aku sudah siap untukmu jamah." Ujar Ahra sambil menggesek-gesekkan kepalanya pada punggung lebar Yoochun.

"Maaf... aku tidak bisa Ahra-ssi..." Yoochun berusaha melepaskan kungkungan Ahra pada tubuhnya.

"Mengapa kau menjadi begini Yoochun-ah. Kita sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Dan lihatlah.. adikmu sudah hard. Pokoknya kita harus melakukan malam pertama kita!" Dengan lancang Ahra mengusap-usap junior milik Yoochun sedikit memaksa. Dan membawa tangan besar Yoochun pada bagian terlarang milik Ahra yang siap untuk dirasuki oleh suaminya.

SRET...

Yoochun langsung menepis tangan Ahra yang hendak berbuat lebih. "Maaf Ahra-ssi aku tidak bisa melakukannya kalau bukan dengan istriku Park Jaejoong. Dan untuk malam pertama, bukankah kita sudah pernah melakukannya? Jadi tidak ada malam pertama untuk hari ini bahkan seterusnya." Ujar Yoochun kesal dan langsung memasang pakaiannya cepat lalu beranjak keluar dari kamarnya.

"Aaaargghhh! Bajingann! Jaejoong dan Jaejoong lagi... Aaarrgghh!" Ahra berteriak frustasi dan langsung menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk khusus pengantin yang seharusnya ditiduri bersama suaminya.

.

.

.

Korea Selatan, Seoul

"Bibi... aku titip Moobin ne. Doakan Joongie biar dapat pekerjaan hari ini."

"Ne... semangat Joongie. Bibi doakan yang terbaik untuk Joongie." Ujar Bibi Jang menyemangati Jaejoong.

Jaejoong menenteng beberapa berkas sertifikat kelulusannya sebagai sarjana strata satu dan terus berjalan menelusuri wilayah perkantoran. Namun, ia masih belum mendapatkan pekerjaan. Di zaman seperti ini memang susah mendapatkan pekerjaan apalagi di kota sebesar ini dengan jumlah penduduk yang banyak. Setiap perusahaan selalu mengatakan bahwa mereka belum membuka lowongan pekerjaan. Hnn... Jaejoong harus bersabar dan terus semangat demi Moobin.

Hingga jam telah menunjukkan pukul 16.45 sore. Dengan jalan gotai Jaejoong memutuskan untuk pulang saja. Ia berjalan dengan pikiran yang kosong akibat lelah dan rasa lapar diperutnya. Ia belum memasukan sesuap nasi kedalam perutnya, ia hanya ingin mengirit mengingat uangnya yang akan habis bulan depan untuk menyewa kontrakan pada Bibi Jang.

SRET...

Jaejoong membelalakan matanya saat ia rasa seseorang mengambil dompetnya yang ia simpan dikantong celana kainnya dibagian belakang.

DEG...

Jaejoong terpaku saat melihat pencopet itu langsung berlari membawa dompetnya, namun beberapa detik ia tersadar dan langsung berteriak, mengejar si pencopet.

"Toloong... dia mencuri dompetku..." Jaejoong terus berteriak dan mengejar orang yang telah berlari kencang menjauhinya. Jaejoong berlari disepanjang daerah pertokoan namun ia masih belum bisa mendapatlan kembali dompetnya.

Disisi lain...

"Hnn... aku harus memikirkan resep baru lagi untuk promosikan cafe-ku." Seorang laki-laki tampan berlesung pipi itu menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi yang diletakkan didepan cafenya sambil menikmati dinginnya angin sore.

"Toloong... dia mencuri dompetku..." Mendengar suara seseorang yang meminta pertolongan sontak pria bernama Choi Siwon itu langsung mengalihkan pandangannya pada dua orang manusia yang saling berkejaran. Dengan santainya Siwon berdiri lalu dengan gerakkan cepat Siwon menggeser mejanya ketengah hingga sang pencopet yang tidak sadar ada sebuah meja berukuran sedang menghalangi jalannya langsung menabrak begitu saja. Hingga mengangkibatkan dirinya jatuh terpental karna saking kencangnya ia berlari.

BRUK...

DUAGH...

Pria tampan itu langsung mengangkat kerah jaket jeans sang pencopet lalu dihempaskannya kembali ke aspal dan langsung menghadiahi sebuah pukulan keras diwajah si pencopet.

"Cepat berikan padaku jika kau masih ingin hidup!" Ujar Siwon marah dan langsung menarik paksa dompet yang masih digenggam pencopet tadi.

"Kkaa... pergilah dan jangan mencoba untuk mencopet lagi disini. Kau akan tamat ditangan ku." Siwon membiarkan pencopet itu lari meninggalkan mereka.

"Ini dompetmu bukan?" Tanya Siwon sambil menyodorkan dompet berwarna hitam pada Jaejoong yang berdiri tak jauh dari Siwon.

"Ah.. ne.. gumawo tuan."

"Tidak usah memanggilku seperti itu panggil saja Siwon... kekee. Kau harus berhati-hatilah kalau membawa barang berharga."

"Ne... gumawo uhmm Siwon-ssi... aku pamit dulu." Jaejoong mengambil dompet yang Siwon pegang dan berjalan meninggalkan Siwon yang masih menatap sosok Jaejoong yang terlihat sangat lemah dan gotai. Ia merasa sangat kasihan, mungkin orang itu sedang kesusahan ujar Siwon dalam hati.

"Uhmm hey... kemarilah... hey..." Siwon berteriak memanggil Jaejoong yang namanya ia belum tau.

"..."

"Yak! Kau yang habis kena copet kemarilah..."

"Aku?" Tanya Jaejoong langsung berbalik dan menghampiri Siwon yang tersenyum padanya.

"Kau ingin mencari pekerjaan eoh? Kau bisa apa uhmm.. nonna?" Tanya Siwon sedikit ambigu. Yang ia lihat ini adalah sesosok cantik namun terlihat sedikit tomboy. Namja berambut hampir sebahu dengan poni menyamping namun mengenakan pakaian rapi bagaikan namja menurut Siwon.

"Iya benar Siwon-ssi aku sedang mencari pekerjaan. Di Seoul sangat susah mendapatkannya hingga sampai sekarang aku masih belum mendapatkannya."

"Kau diterima bekerja ditempatku."

"Eehhh?" Jaejoong bingung dan langsung menatap wajah Siwon sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.

"Aigoo... jangan menatapku seperti itu. Kau bisa apa? Aku membuka cafe disini. Apa kau pintar memasak?"

"Ne... aku bisa memasak. Aku lumayan pintar dalam hal memasak. Apakah aku boleh bekerja disini?"

"Tentu saja, jika kau pintar memasak buatlah menu andalanmu dan kita akan mempromosikannya di cafe baruku ini." Ujar Siwon yang tidak kalah antusias dan menjulurkan tangannya hendak berjabat tangan.

"Kim Jaejoong imnida." Jaejooong membalas uluran tangan siwon dan tersenyum manis pada penolongnya hari ini.

"Choi Siwon imnida. Selamat datang di Coffe & Tea Cafe. Kau bisa mulai bekerja besok dan masalah menu akan kita rundingkan bersama besok hari. Cafe ini buka pada saat jam makan siang hingga jam makan malam. Jadi datanglah besok pukul 10.00 besok."

"Ne.. baiklah. Terimakasih Siwon-ssi."

.

.

.

"Jae..."

"Aah... bibi Jang... maaf aku tidak menyadari bibi datang kesini. Ada apa bibi Jang?" Jaejoong langsung menghampiri bibi Jang dan mereka duduk disebuah ranjang berukuran sedang. Ya dapur dan kamar Jaejoong sangatlah berdekatan. Rumah yang terbilang agak kecil dan kumuh, sehingga mereka lebih memilih duduk di kasur saja.

"Aahh... gwencahan Jae... uhmm begini... apa kau sudah mendapatkan pekerjaan Jae?" Tanya bibi Jang sambil menggendong Moobin dan mencium-cium pipi temban Moobin yang hanya tertawa geli.

"Hmm... ne... aku sudah mendapatkannya bi."

"Baguslah Jae... tapi uhmm begini... Bibi hanya ingin minta tolong saja apa boleh Jae hanya sementara waktu saja?" Tanya bibi Jang ragu.

Jaejoong hanya tersenyum dan menggenggam tangan bibi Jang "Ne.. kalau aku bisa aku akan membantu bibi..."

"Ahjussi sedang sakit Jae, asmanya kambuh dan ia sedang demam. Aku sangat khawatir jika ia memaksakan bekerja ia akan bertambah sakit. Jadi, aku ingin kau menggantikan pekerjaan ahjussi untuk sementara ini. Apa boleh? Kau tenang saja untuk masalah gaji, kau ambil saja tak perlu memberikannya pada kami. Kami masih cukup uang kok. Lagian kan bibi juga berjualan dipasar dipagi hari."

"Ani... bibi Jang. itu gaji kalian, aku hanya membantu kalian. Tidak apa aku akan menggantikan ahjussi bekerja. Tapi aku harus berbicara dengan bossku mengenai jam kerja besok. Aku akan menemuinya pukul 10.00 besok."

"Hmm.. tidak usah Jae... aku hanya ingin kau memiliki pekerjaan dan tambahan uang, kasihan uri Moobin." Jaejoong mengerti keinginan bibi Jang yang ingin membantunya karna ia sekarang tinggal seorang diri dan otomatis harus mencari pekerjaan demi kelangsungan hidupnya bersama Moobin. Namun bibi Jang juga tidak enak karna telah menambah beban pekerjaan pada Jaejoong.

"Baiklah bibi... gaji yang aku terima kita bagi dua ne. Bibi jangan protes, ini keinginan Joongie sendiri."

"Hnn... dasar keras kepala eoh.. hahaa... baiklah, terimakasih Jae..." Bibi Jang langsung merangkul Jaejoong dan mengusap punggung Jaejoong senang.

"Oya ngomong-ngomong ahjussi apa pekerjaannya bi?" Tanya Jaejoong dan mengulurkan tangannya hendak mengambil Moobin yang terlihat mengantuk. Lalu, membuka tiga kancing teratas kemejanya dan mengeluarkan benda favorit Moobin sebagai sumber energinya.

"Ahjussi bekerja di Y Club sebagai petugas kebersihan, apa tidak apa kau harus bekerja seperti itu Jae? Lusa kau akan diantar ahjussi kesana. Jam kerjanya dimulai dari pukul 18.00 hingga 22.00 malam saja. Karna pekerjaan itu per shift jadi kau masuk di shift pertama."

"Nghh... ah... mian bibi.. hehee... Moobin mengigit nipple ku... ehehee... ah... ye... aku bisa bi... aku titipkan Moobin pada bibi. Gumawo bi..." Jaejoong dan bibi Jang tertawa kikuk sambil sesekali Jaejoong meringis karna Moobin mengapit nipplenya dengan gusinya kuat.

.

.

.

Dua Hari Kemudian

JUNG CORP.

Seorang pria jangkung dan tampan tersenyum tidak jelas sambil memejamkan matanya. Ia sandarkan tubuhnya pada sebuah kursi empuk di ruangan kerja sahabatnya sekaligus sepupunya Jung Yunho sambil terus membayangkan wajah angel dari seseorang yang sudah mencuri hatinya.

"Kim Jaejoong... Joongie... kekekee..."

BRAK...

"Shiim Changmiinn! Enak sekali kau bisa bersantai seperti ini eoh." Yunho geram melihat Changmin tersenyum aneh padanya sambil menggaruk tengguknya dan membetulkan posisi duduknya.

"Calm down hyung... setelah makan siang kita harus kembali tour ke Jepang, Indonesia, Bangkok untuk mengawasi perusahaanmu, barang elektronik yang masuk dan mengunjungi Jung's Hotel." Junsu langsung mendudukkan tubuhnya yang pegal pada sebuah sofa empuk milik Yunho.

"Dan jangan lupakan juga Hyung harus mencari istri secepatnya... kekee... aku sudah membawakan profil wanita cantik dari kalangan artis maupun anak pejabat tinggi. Kau harus melihatnya Hyung..." Changmin berjalan menghampiri Yunho yang masih terlihat kesal dengan menampakkan wajahnya yang sangat lelah.

Yunho terus memperhatikan profil wanita yang akan menjadi calon partnernya dengan malas. "Semua biasa saja... hnn... terserah kalian sajalah. Aku tidak perduli dengan siapa yang akan menjadi partnerku. Toh mereka mengincar hartaku juga."

"Aiih... baiklah aku akan menghubungi mereka dan aku akan mempertemukan kalian secara langsung. Siapa tau kau tertarik dengan yang asli daripada melalui foto. Kau ini mencari istri saja susah... ck..." Changmin menggeleng-gelenggkan kepala bingung dengan sikap Yunho yang sangat anti memiliki pasangan hidup.

"Kenapa kau tidak mencari seseorang istri untukmu saja Shim!" Tanya Yunho sambil meletakkan dokumen diatas meja kerjanya.

"Kau tidak usah khawatir Hyung... aku sudah ada kok calonnya. Aku akan memperkenalkannya padamu. Hehee..." Changmin memblushing saat ia ingat siapa yang ia inginkan untuk menjadi calon istrinya.

"Geez terserah... aku lapar... Junsu kita cari makan dulu sebelum berangkat ke Jepang."

"Ne.. Hyung..."

"Aiih... Aku bego sekali sih... mengapa aku begitu mudah mengatakannya dan ingin jika Jaejoong menjadi istriku. Dia tinggal dimana akupun tidak tau. Geez... mengapa dia tidak menghubungi ku eoh? Aku merindukannya..." Changmin mengusak rambutnya frustasi dan ikut berjalan mengikuti Junsu dan Yunho.

"Hyung... aku ingin bertamu ke Mansion mu. Sudah lama tidak menyicipi masakan Jung ahjumma. Kekee..."

"Ah ye... tolong sampaikan pada umma kalau aku akan tour mengunjungi perusahaan hari ini mungkin akan pulang sekitar 2 minggu lagi."

"Baiklah Hyung..." Changmin melambaikan tangannya kearah Yunho yang sudah memasuki mobil pribadinya bersama Junsu didalamnya. Lalu Changmin beranjak dan mulai menyalakan mobil lamborgini-nya pergi ke Mansion Jung.

.

.

.

Coffe & Tea Cafe

"Yak hyung... makanlah pelan-pelan... kau seperti orang yang tidak makan seabad. Geez... presiden Jung seperti mu jika dihadapkan dengan makanan enak tak pernah kau sia-siakan." Junsu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Yunho melahap makanannya dengan cepat.

"Baru kali ini aku merasakan masakan seenak ini... geez seandainya bisa chefnya aku bawa pulang biar dia bekerja dirumah ku saja dan memasak makanan yang enak untukku." Ujar Yunho yang telah selesai memakan makan siang nya dan mengelap bibirnya yang sedikit belepotan.

"Sebaiknya kau harus mencari istri yang pintar memasak Hyung jangan pintar memakan uangmu saja... kekeke..."

"Yak! Kau dan si food monster sama saja. Aku sudah bosan mendengar ocehan kalian. Semua Yeoja disini sama saja. Sama-sama egois dan memikirkan diri mereka sendiri." Yunho menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan memandang jengah pada kaca transparan yang menampakkan dengan jelas aktivitas pejalan kaki diluar sana. Ia terus mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang menarik.

"Siwon Hyung... aku izin ne, aku ke Y club sebentar. Pamanku sudah menunggu disebrang sana."

"Ne... hati-hati Joongie" Siwon mengangguk tersenyum.

"Eh... yeoja tomboy itu... sepertinya aku pernah melihat." *FYI posisi duduk Yunho membelakangi jadi ia gak liat Jaejoong ada ditempat yang sama & Yunho sadar saat ada sosok yang melintas dari cafe itu.

"Yeoja tomboy... yang mana hyung?" Junsu mengikuti arah pandang Yunho namun ia bingung yang mana yang dimaksud Yunho.

"Itu... ah... aku keluar dulu..." Yunho dengan cepat berdiri dan keluar dari cafe hendak mengejar orang yang pernah ditemuinya beberapa waktu yang lalu.

"Yak! Hyung!" Junsu segera membayar makanan dan minuman mereka di kasir, lalu mengejar Yunho yang sudah menghilang di balik pintu.

"Jae... setelah ini kita naik taxi saja ne. Ahjussi lelah... mian karna ahjussi sudah tua... kekee..."

"Gwenchana ahjussi... aku akan memanggil taxi." Jaejoong mengalungkan tangan kanannya agar ia bisa menyamakan jalan Jang ahjussi yang sedikit lambat darinya dengan sabar.

Jaejoong mengedarkan pandangannya di sekitar jalan raya ini untuk memantau apakah ada taxi yang lewat.

"Taxi... jja... ahjussi itu taxinya..." Jaejoong membantu Jang ahjussi untuk berjalan menghampiri taxi yang sudah singgah di hadapan mereka.

"Ahjussi masuk duluan ne..." Jang ahjussi mengangguk dan langsung masuk kedalam taxi.

GREP...

Jaejoong terkejut bukan main saat tubuh rampingnya terasa ditarik paksa hingga berbenturan dengan dada bidang seseorang yang telah menarik tangannya kasar.

"Kau... kau siapa?"

"Eh?" Jaejoong menatap bingung pada orang yang ada dihadapannya. Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah dirinya. Yunho semakin erat menggenggam pergelangan tangan kiri Jaejoong. Entah apa yang ada di benaknya pria bertubuh kekar ini.

"Sakit... lepaskan tanganku tuan... aku harus bekerja." Jaejoong berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Yunho.

"Tidak..."

"Tuaan... kumohon lepaskan..."

"Kau orang yang waktu itu ada di mini market kan?" Tanya Yunho.

"Jae..." Mendengar suara Jang ahjussi Jaejoong langsung tersadar dan langsung melepaskan diri dari pria yang tak dikenalnya.

"Mian, aku lupa. Aku harus pergi bekerja. Permisi." Jaejoong langsung memasuki taxi itu dan menghilang dari hadapan Yunho.

"Aaarrgghh... mengapa ia lupa padaku eoh?" Yunho berjalan kembali dan menghampiri Junsu yang berdiri disamping mobil mewahnya.

"Sudah selesai tuan Jung? Sekarang jelaskan padaku siapa orang itu." Tanya Junsu yang menuntut penjelasan Yunho yang bersikap aneh setelah bertemu dengan orang tadi. Sungguh baru kali pertama ia melihat Yunho yang begitu penasaran dengan sosok menawan itu walau dengan pakaian yang sederhana.

"Aku... aku tidak tau siapa dia. Entah mengapa aku begitu ingin berdekatan dengannya. Padahal baru 2 kali ini saja aku bertemu dengannya."

"Geez... arra.. kau sedang jatuh cinta tuan Jung. Setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu diluar negri, aku akan membantu mendapatkannya." Ujar Junsu sambil menepuk-nepuk bahu Yunho.

"Tapi... aku tidak ingin terikat, aku... hanya... aargghh! Entah... mengapa aku bisa sekacau ini. Pokoknya kau harus menemukannya, aku tidak ingin mendengar ia memiliki sanak-saudara atau apa. Karna hanya aku yang boleh memilikinya."

DUG...

Dengan kasar Yunho langsung masuk ke dalam mobil mewahnya dan menutup pintu mobil itu dengan kasar.

'Ck... dasar aneh. Tidak ingin terikat tapi ingin menjerat kehidupan orang lain demi keinginan sendiri. Tidak kau sadar, kau juga egois Jung' Ujar Junsu dalam hati dan langsung membuka pintu mobil dan memulai perjalanan mereka ke bandara.

.

.

.

Y Club

"Ne... aku mengerti Jang ahjussi, Jaejoong saya izinkan untuk menjadi pengganti Jang ahjussi selama ahjussi masih sakit." Ujar pria berwajah tegas dan bertubuh tinggi Choi Seunghyun.

"Gumawo Seunghyun-ssi... berarti Jaejoong boleh bekerja besok hari?" Tanya Jang ahjussi.

"Ne.. setelah pekerjaan Jaejoong-ssi selesai di Cofe & Tea Cafe, ia langsung saja bekerja kemari." Seunghyun tersenyum paham pada pria paruh baya Jang ahjussi, namun ia menatap bingung karna Jaejoong menutupi kemejanya dengan maap kuning yang ia genggam erat. Hingga membuat Seunghyun penasaran dan menjulurkan tangan kanannya untuk menurunkan maap yang Jaejoong dekap.

DEG...

Seunghyun terkejut saat ia melihat bagian kemeja Jaejoong terlihat basah dibagian dadanya. Jaejoong memiliki penyakitkah batin Seunghyun bertanya.

"Jaejoong-ssi... apakah kau sedang sakit?"

"Ah... ini... uhmm..." Jaejoong menundukkan wajahnya malu dan ia segera menatap mata Jang ahjussi beraharap agar Jang ahjussi mau menjelaskan keadaannya.

"Mian Seunghyun-ssi... Jaejoong... umm dia adalah male pregnant. Ia sudah memiliki seorang balita yang berumur 7 bulan dan sekarang ia masih aktif menyusu pada Jaejoong."

"Mwo? Namja male pregnant dan bisa menyusui?"

"Ne.. Seunghyun-ssi... maaf jika hal ini telah membuat anda risih." Jaejoong semakin menundukkan kepalanya dan mengepalkan kedua tangannya gugup.

"Ah... ne... kau luar biasa Jae. Syukurlah kau tidak sedang sakit. Hehee... aku kagum karna seorang namja sepertimu bisa mengandung dan menyusui. Kekee..."

"Ne... mohon untuk masalah ini bisa anda rahasiakan Seunghyun-ssi. Aku hanya terlalu takut orang lain akan menganggapku aneh."

"Kau bisa mempercayai Seunghyun, Jae. Dia anak yang baik. Aku sudah berteman lama dengan ayahnya dan sudah mengenal Seunghyun. Percayalah." Ujar Jang ahjussi tersenyum pada Jaejoong.

"Ah... sepertinya kau harus menyusui anakmu dulu Jae sebelum bekerja, kekee..." goda Seunghyun untuk memecahkan kekikukan mereka bertiga.

"Ah... hehe... Ne... gumawo Seunghyun-ssi..." Jaejoong kembali tersenyum lega dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE/STOP

Gimana... gimana... ehehee... kalo masih minat aku lanjutin lagi... tapi aku mau minta maaf Yunjae moment'a sedikit karna demi kepentingan cerita. Jamin... chap depan benar-benar menampilkan Yunho-Jaejoong-Changmin.

Jangan lupa REVIEW'a ya... Tinggalkan Jejak...^^

Gumawo... buat yang udah berbaik hati me-Rivew, Fav & Follow.

Young mau balas Review kalian...^^

AprilianyArdeta : Udah dilanjut... nantikan chap berikutnya...^^

Farrin92: Sip ini udah lanjut, nantikan chap berikutnya ya^^

Zoldyk : Thenkyu...^^

Nabratz : Hooh pesona Jejung emang sesuanu... iya karna pan rata2 orang asia masih banyak yg gak nerima hubungan kek itu maka'a konflik'a seperti itu^^

Hyuashiya : Iya udah lanjut... & akan terus lanjuuut kalau banyak yg minat/review, gumawo ya...^^

Viiyoung : Iyeh udah lanjut ini... kekee... review'a ya... gumawo^^

NicKyun : Iyah pesona Jaejoong bagai sihir... XD ^^

Himawari : Hooh udah lanjut...^^ makasih.. semoga suka... doh... Junsu-Jae aku gak bisa buat. Junchan teteplah uke dimata Young. Tunggu ya ntar ada moment MinJae'a juga ^^

Guest : Bingung nama guest ini siapa... hehee... iyah... udah lanjut nih. Makasih ya udah suka... ^^

Ina : Makasih Ina dah suka... iya nantikan kelanjutannya... gumawo^^

Jaelous : Iyah, ini akan teruuuss... update kalo yg minat/review'a banyak... hehee... Iyah.. Yunho masih ngira-ngira Jae itu cewek cantik yang tomboy. Tunggu gimana mereka mendapatkan cinta'a kembali... wkwkk ^^

1 : Iyah menunggu ada yg review... tehehe... Makasih ya... jangan lupa review'a lagi...^^

Yoonjae121 : Changmin ama Yunho kek kena pelet pesona emak.. hahaa... udah lanjut kan. Review'a ya... gumawo^^

Guest : Hehee... tunggu ajah gimana reaksi Yunho. Uhmm... aku juga mule galau Minjae ato Yunjae... coz perannya Changmin keren disini... wkwkwk... XD

Jaelous : Penasaran? Uhmm langsung terjerat & suka pada pandangan pertama... Yunho juga sepertinya begitu^^

Kmg6384 : Iyeh... anak jadi korban... kesian Moobin . Iyah... Changmin langsung jatuh cinta ama Jae... hehee...

Guest : Bingung nama'a sapa guest tanpa nama banyak dimari wkwkwk... Iyeh ini udah lanjut kok...^^

Azharifaisal666 : Makasih ya... hehee... iyah akan cepat update kalo yg minat/review banyak...^^

Guest : Nama guest banyak disini aku bingung... hehee... tapi makasih yah udah review. Hooh pertempurannya para seme untuk mendapatkan cinta'a Umma... nah, ditunggu ajah gimana reaksi Yunho pas tau Jejung namja... kekee... iyah akan lanjut kok kalo yang minat/review nya banyak. Hehee...

Guest Ifanalee : Hahaa jangan pusing dong. Semoga ajah semuanya bahagia...^^

Tania Si Yunjae Shipper Forever : Oke... udah lanjut ini...^^

Guest : Hahaa... maaf... ini nambah word kok. Kemarin 3.000'n... sekarang 4.300'n word. Ini udah dilanjut...^^

-KALSEL, 2015-