A GOOD MARRIAGE
Author/Writer : Na U-Young
Rate : T
Warning : No flame, No bash, No War, YAOI (MATURE), Typo, NC = Underage Not
Allow, Breastfeeding, MPREG, Alur rinci & lambat kek sinetron. Jangan lupa REVIEW'a..
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 5
Changmin menatap sendu tubuh Jaejoong yang sudah menghilang dari hadapannya. Lalu, namja jangkung itu mengusap pelan wajahnya sebelum menolehkan kepalanya pada Junsu yang menatapnya bingung. Changmin meneguhkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja, pasti ujar changmin dalam hati.
.
.
'Aku berjanji akan mendapatkan hatimu Jae, jika Yunho tidak mencintaimu. Maka akulah yang akan mencintaimu.'
.
.
.
Sudah tiga hari anak semata wajang Jaejoong dirawat. Kondisi Moobin memang terlihat membaik, namun Kim Jaejoong tidak pernah merasakan kelegaan di hatinya. Pasalnya ia khawatir jika Moobin kembali jatuh sakit akibat dari lingkungan rumah yang kumuh malah akan memicu kondisi penyakit lainnya. Cukup ia merasa frustasi karna bayi tercintanya sakit. Namun, apa mau dikata gajinya saja tidak akan sanggup untuk menyewa rumah yang lebih bagus dan sehat. Hnn... Jaejoong hanya berusaha tegar dan kuat karna ia akan bertahan demi satu-satu harta yang paling berharga yaitu anak semata wayangnya Park Moobin.
Namja cantik itu harus kembali memutar otaknya kembali agar ia dapat mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk mengganti uang bibi Jang yang sudah ia gunakan untuk perawatan Moobin. Dan sekarang Moobin telah diizinkan untuk melakukan rawat jalan, karna kondisi Moobin sudah terlihat sehat dan membaik.
.
.
.
Jaejoong tersenyum lega melihat Moobinnya kembali sehat dan segar, itu terlihat dari kedua bola mata doenya yang bersih dan bibir yang memerah. Bibir namja cantik itu tidak pernah berhenti mengecup-ngecup seluruh wajah dan bibir Moobin karna saking gemasnya ketika sang anak kembali ceria. Tawa khas cekikikan manja Moobin menambah rasa gemas Jaejoong pada anak semata wayangnya.
"Jae..."
"Ah ahjumma... maaf aku tidak mendengar ahjumma datang. Kami terlalu asyik bercanda. Hehee..." Jaejoong tersenyum menatap Jang ahjumma yang menatapnya teduh.
"Aiish... sudah jangan menggoda Moobin lagi... dia sudah gelisah menagih jatahnya." Jang ahjumma tersenyum sekaligus memasang wajah kesalnya karna melihat bagaimana gesitnya Moobin yang mulai meronta dan menelusupkan wajahnya pada dada sintal ummanya.
"Ahh... hehe... dia terlihat menggemaskan saat merajuk. Hehe... ne, aku akan menidurkan Moobin dulu. Gumawo ahjumma sudah banyak membantu Joongie."
CUP...
Jaejoong mengecup pipi kiri Jang ahjumma pelan dan Jang ahjumma hanya tersenyum kemudian tangan terjulur membelai surai jaejoong yang sedikit memanjang.
"Jae... Jang ahjussi kan sudah sehat. Jadi, kau tidak usah lagi bekerja di Y Club. Kau bekerja di Coffe & Tea Cafe saja, supaya waktumu tidak terbuang dan kau dapat lebih lama menjaga Moobin. Bagaimana?"
"Jeongmal? Uuhmm... Apakah tidak apa ahjumma, jika Jang ahjussi tidak mampu lagi bekerja biar Joongie saja yang menggantikannya."
"Aniya... Jangan khawatir ahjussi akan baik-baik saja. Dia sudah sehat sekarang dan tandanya tugasmu untuk menggantikan ahjussi sudah selesai." Jang ahjumma tersenyum dan berusaha meyakinkan Jaejoong. Jaejoong yang mengerti akan tatapan Jang ahjumma ikut tersenyum dan mengganggukkan kepalanya tanda ia setuju jika Jang ahjussi yang akan kembali lagi bekerja.
.
.
.
JUNG CORP.
Sebuah ruang megah yang dikhususkan untuk seorang yang akan menjadi calon pemegang perusahaan terbesar kini terlihat sedikit frustasi. Jemarinya tidak henti-hentinya mengetuk pinggiran meja kerjanya dan sesekali ia menggertakkan giginya sedikit kesal dengan kejadian 3 hari yang lalu.
Pertemuan yang tidak pernah ia diduga.
Seorang kekasih yang kini telah menjadi mantannya kembali bertemu untuk pertama kalinya. Entah mengapa ada perasaan yang membuncah di dalam hatinya namun tak berbeda jauh dengan rasa benci yang telah menumpuk. Ia gila jika masih mengharapkan wanita itu tapi ia sudah terlanjur muak akan semua penghianatan yang pernah dilakukannya oleh mantan kekasihnya.
"Kwon Boa"
.
.
.
Flashback On
Jung Yunho hanya tersenyum sinis saat Jaejoong menolak keinginannya dan malah berlari meninggalkan ruangan VIP Y Club yang ia pesan. Cih... tidak tahukah Jaejoong jika ia adalah seorang millionare muda yang mampu memenuhi finansial Jaejoong jika namja cantik itu setuju menikah dengannya. Yunho hanya menyandarkan tubuhnya angkuh pada sandaran sofa sambil menyesap rokok mahalnya tanpa memikirkan para yeoja seksi yang terlihat gelisah mematung memandangi Yunho. Geez, mereka harus bersabar jika ingin mendapatkan hati seorang Jung Yunho anak tunggal kesayangan keluarga besara Jung.
Yunho bergerak hendak mengambil asbak rokok yang terbuat dari kaca lalu mematikan rokok itu dengan cara menggesek-gesekkannya pada permukaan asbak. Lalu, mata musangnya menatap tajam pada beberapa yeoja yang masih berusaha tenang menunggu beberapa patah kata yang akan terucap dari bibir tipis Yunho.
"Maaf ladies... kalian pulanglah. Kuucapkan terimakasih karna kalian sudah datang kemari. Dan terimakasih karna kalian telah memberikan tontonan menarik atas keseksian tubuh kalian yang sama sekali tidak mampu membuat Jung junior ereksi."
"Mwo! Yak! Jung Yunhooo!" Teriak para yeoja kesal hingga caci maki yang terus mereka tahan keluar dan meledak-ledak memaki sikap Yunho yang seenak jidat. Yunho menyunggingkan senyumannya sinis dan hendak berlalu pergi.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar cacian dari mulut para wanita yang protes akan bad atitutednya. Yunho lantas membalikkan badannya dan melemparkan selembar cek kosong ke atas meja yang dipenuhi minuman beralkohol.
"Itu cek kosong yang sudah aku tanda tangani. Silahkan kalian tulis nominal uang yang kalian rasa pas untuk mengganti kerugian kalian yang sudah datang kemari." Yunho kembali berjalan keluar dengan wajah yang sedikit mendongak keatas dan berjalan bak raja yang berkuasa.
'Heh... dasar wanita penjilat...' Ujarnya dalam hati, kemudian ia menghampiri Junsu dan Changmin yang terlihat serius mengobrol.
"Kim Junsu! Kemana Kim Jaejoong?"
"Ah... dia sudah pulang hyung."
"Geez... kalian tolong urusi dia. Aku akan pulang sekarang." Junsu dan Changmin hanya bisa menggangguk patuh dan mengikuti Yunho berjalan menuju pintu keluar.
Seorang yeoja cantik bertubuh mungil terlihat kebingungan, pasalnya ia baru saja tiba ditempatnya bekerja dan ia terus bertanya-tanya didalam hatinya apa yang baru saja terjadi di Y Club. Club terlihat begitu ramai namun diiringi dengan aura mencenkam sehingga ia pun ikut mengendikan bahunya entah bingung atau merasa ada ketakutan akan sesuatu. Ia menolehkan wajahnya mencoba mencari temannya yang bekerja disitu dan pandangannya jatuh pada beberapa body guard berubuh kekar, tinggi dan berjas rapi terlihat sedang melindungi seseorang. Ia yakin orang yang dilindungi itu adalah pejabat.
Namun, sayang perkiraannya salah besar. Bukanlah seorang pejabat yang berada dibelakang barisan body guard, melainkan seseorang yang ditakutinya, seseorang yang selalu ia hindari untuk bertatap mata.
"Jung... Jung... Yunho..." Ujar Boa ketakutan, hingga debaran jantungnya berpacu dengan cepat diringi dengan memucatnya bibirnya tatkala sosok itu semakin mendekat kearahnya. Dengan paniknya Boa langsung membalikkan badannya hendak keluar, namun karna kecerobohannya ia malah menabrak seorang pramu saji yang berjalan tepat dibelakangnya hingga mengakibatkan gaun seksi super pendeknya basah dan kotor.
PRANG...
Suara gelas dan nampan terjatuh hingga mengundang perhatian Yunho untuk mencari dimana arah suara tersebut.
DEG...
Langkah Yunho terhenti kala ia terkejut melihat sang mantan kekasih ada ditempat seperti ini dengan menggunakan gaun seksi. Wanita itu terlihat ceroboh dan panik saat mata mereka kembali bertemu pandang hingga membuat Yunho kembali menyeringai meremehkan.
"Sudah lama tidak bertemu Kwon Boa-ssi..."
DEG...
Boa memejamkan matanya erat dan menggigit bibirnya ketakutan. Ia sungguh tidak menyangka seorang Jung Yunho akan menginjakkan kakinya di Y Club tempatnya bekerja. Dengan menguatkan hatinya Boa membalikkan tubuhnya dan memberanikan diri untuk menatap wajah kecil Yunho.
"Yunnie-ah..."
Ck... Yunho tertawa meremehkan, ia merasa sensitif dan tidak suka jika orang yang sudah menipunya masih memanggilnya dengan panggilan sayang seperti itu? Menjijikan...
"Kemana saja kau selama ini? Apa uangku tidak cukup untuk memenuhi keserakahanm eoh? Bagaimana, apa kau sudah bahagia bersama kekasih mu Kwon Boa-ssi?"
"Yun..." Boa langsung menggenggam lengan kiri Yunho dan memasang wajah sedihnya.
"Yunnie... maafkan aku... saat itu, akh... aku... aku dibutakan oleh cinta."
"Cinta kau bilang? Berarti kau memilih pria itu daripada aku. Heh... bukan hanya buta karna cinta, kau juga dibutakan oleh keserakahanmu." Yunho segera menepis lengan yang dipegang erat oleh Boa.
"Ibuku juga sedang sakit saat itu, ia terlibat hutang makanya aku pergi mengambil uangmu. Kumohon... maafkan aku... Maafkan aku Yunho." Air mata Boa kini mulai mengalir deras karna ia merasa ketakutan sekaligus menyesal.
Yunho hanya mendengus kecewa sekaligus kesal dan berusaha menahan emosinya mengingat ia masih di Y Club yang dipenuhi banyak pengunjung. Junsu yang melihat tidak suka pada Boa, langsung berjalan mendekati Yunho dan membisikkan seseuatu ditelinga kanan Yunho. Yunho menyimak apa yang baru saja dibisikkan oleh Junsu lantas membuat Seorang Jung Yunho mengerang marah.
GREP...
Yunho menarik lengan kiri Boa dengan sedikit keras. "Kau! Sangat menjijikan. Kau lebih rendah dibandingkan dengan hewan. Padahal aku baru saja memaafkanmu karna telah mengambil uangku. Namun aku tidak akan mentolerir jika ada seseorang yang akan menjadi istriku terluka akibat ulahmu dan rekanmu."
"Mwo! Apa maksudmu Yun! Istri? Aku tidak mengerti apa yang kau biacarakan!"
"Kim Jaejoong. Dia akan menjadi calon istriku. Jika sekali lagi kudengar kau menyakitinya maka aku akan melaporkan kepolisi. Dan satu hal yang perlu kau tau, adikmu Kwon Sojin sedang menjadi buronan pihak kepolisian karna kasus penggelapan uang. Berhati-hatilah." Yunho melepaskan genggaman tangannya pada Boa dan berjalan meninggalkan Boa yang mematung terkejut sekaligus ketakutan.
"Boa-ssi... kau beruntung Yunho-ssi melepaskanmu kali ini." Junsu menyeringai setelah ia membisikkan sesuatu dikuping Boa dan berlalu meninggalkan Boa yang terdiam mematung. Hingga beberapa detik kemudian tubuh mungil Boa jatuh lemas saat mendengar ancaman dari Yunho. Iapun menangis histeris sambil menjabak surai panjangnya yang terlihat berantakan. Ia terkejut ternyata adiknya menjadi buronan atas penggelapan uang, sekali lagi ia mengutuk sikap serakah dirinya dan adiknya yang gila akan harta.
Flashback Off.
Yunho menyadarkan punggung lebarnya pada sandaran kursi mewahnya dan merogoh sakunya untuk mendial Changmin untuk meminta bantuan lagi.
"Changmin-ah... jika kau tidak sibuk tolong kau temui aku di ruangan sekarang."
"..."
PIP...
Yunho mematikan sambungan teleponnya dan memperbaiki jasnya yang sedikit berantakan sembari menunggu Changmin tiba diruangannya.
.
.
.
Changmin hanya bisa menghela nafasnya sesaat setelah Yunho menghubunginya. Ia berdoa semoga apa yang diharapkannya ani yang direncanakannya berhasil secara perlahan. Ia tidak sebodoh itu untuk menyerahkan orang yang ia cintai pada orang lain karna ia seorang Shim Changmin. Ia memiliki cara sendiri untuk mendapatkan Jaejoong agar jatuh kepelukannya secara perlahan.
.
.
.
Pria jangkung nan tampan Shim Changmin kini duduk berhadapan dengan Yunho yang menatapnya serius.
"Changmin-ah... aku memanggilmu kesini hanya untuk memastikan saja. Sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Kim Jaejoong? Masih terlintas dibenakku jika kau ingin mencium namja itu saat kita berada di mini market beberapa waktu lalu?" Tanya Yunho sambil menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya didadanya.
"Ah... aniya... aku baru saja bertemu dengan Jaejoongie saat di Amerika, ah... aniya... maksudku saat kepulanganku dari Amerika. Kami bertemu secara tidak sengaja saat di bandara waktu itu." Changmin berusaha menutup status Jaejoong yang sebenarnya dengan sedikit memanipulasi cerita.
"Jadi?" Tanya Yunho lagi sambil menaikan alis kanannya menuntut sesuatu.
"Kami hanya berteman hyung. Aku ingin menciumnya karna aku benar-benar merindukannya karna dia adalah teman yang baik."
"Hnn... baguslah. Aku hanya tidak ingin Jaejoong memiliki hubungan apapun dengan orang lain. Karna ia mungkin saja akan meninggalkanku seperti Boa dulu."
Changmin lantas mendongakkan wajahnya menatap Yunho, shit... batinnya. Jujur Changmin ingin sekali membantu Yunho memiliki pasangan hidup dan merasakan bagaimana indahnya memiliki kekasih hingga akhir hayat. Namun, pilihan Yunho sungguh tidak tepat, orang yang dipilih Yunho adalah Jaejoong, namja cantik yang sudah membuatnya terperangkap akan keindahan ragawi dan sikap dewasa ibu satu anak ini. Akhh... Shiit!
"Karna kau temannya, aku ingin kau membujuknya untuk menerima tawaranku. Aku menikahinya hanya sementara saja sampai semua aset dan perusahaan Appa beralih tangan padaku. Aku hanya butuh satu hingga dua tahun untuk mendapatkan warisan Appa. Setelah mendapatkannya aku akan membuangnya."
Changmin tercengang mendengar penuturan Yunho yang terlihat santai dan angkuh. Bodoh! Dia bilang mau membuang Jaejoong.
'Jika kau yang akan membuangnya maka aku yang akan memungutnya. Kau bodoh Hyung...' Changmin tersenyum dan bersorak senang didalam hati.
"Hyung... bagaimana dengan Jung ahjumma?"
"Umma? Ia tentu saja akan percaya. Umma akan mendukungku jika menyangkut hal pernikahan. Jadi, lakukanlah apa yang perintahkan adikku tersayang" Ujar Yunho sambil menepuk pipi Changmin sedikit menyeringai evil.
"Arraseo... aku akan mencari keberadaan Jaejoongie, lalu aku akan membujuknya seperti yang diperintahkan Hyung. Aku pamit dulu, Hyung" Changmin bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan Yunho. Namun, langkah kaki Changmin terhenti saat mendegar Yunho kembali mengeluarkan suaranya.
"Gumawo Changmin-ah..." Setelah mendengar itu, Changmin benar-benar hilang dari balik pintu.
.
.
.
Y CLUB
Changmin terlihat berjalan mondar mandir di gedung Y Club setelah sekian lama ia menunggu Jaejoong tanpa mau masuk ke club itu untuk menanyakan apakah Jaejoong masih bekerja didalam.
"Changmin-ssi..." Mendengar seseorang memanggilnya lantas Changminpun membalikkan tubuhnya dan kemudian membungkuk sopan pada seniornya saat di Universitas dulu.
"Seunghyun Hyung... aku sedang mencari Jaejoong apakah ia bekerja hari ini?"
"Ah... aku baru saja dari rumahnya untuk menjenguk Moobin, dan... sekarang Jaejoong tidak lagi bekerja disini. Ia sudah digantikan dengan oranglain."
"Ke... Kenapa bisa begitu hyung? Mengapa Jaejoong berhenti?"
"Sebenarnya ia bekerja disini hanya untuk menggantikan pamannya yang sedang sakit. Namun kini pamannya sudah sehat dan sudah kembali bekerja. Lantas Jaejoong berhenti. Namun Jaejoong masih bekerja sebagai chef di Coffe & Tea cafe."
"Hyung... bisakah kau memberitahukan alamat tempat tinggal Jaejoong? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya?"
"Hal penting? Hmm... Aku mendengar jika Yunho-ssi ingin menjadikan Jaejoong sebagai istrinya? Ah... aku harap Yunho bisa memperlakukan Jaejoong dengan baik. Karna aku sedikit prihatin dengan kondisi Jaejoong dan anaknya."
"Ne... aku mengerti hyung."
Siwon mengambil sebuah note berwarna kuning dan menuliskan alamat Jaejoong lalu memberikannya pada Changmin. Setelah mendapatkan alamat Jaejoong, dengan tergesa-gesa Changmin masuk ke dalam mobil mewahnya lalu menuju ke kediaman Jaejoong.
.
.
.
Changmin POV
Setelah mendapatkan informasi dari Siwon hyung, segera ku pacu kecepatan mobilku untuk segera menemui Jaejoong. Ah... aku merasa bahagia karna bisa bertemu dengan Joongieku lagi. Wajah cantik dan lembut itu selalu terngiang dalam pikiranku. Ya Tuhan... Betapa sempurnanya hidupku jika aku yang bersanding dengannya bukan Jaejoong dengan si brengsek Yunho.
20 Menit Kemudian
Ah... tunggu apakah Siwon hyung memberikan alamat yang salah. Ini bukanlah apartemen, melainkan perumahan kumuh. Astaga Tuhan... Lingkungan disini benar-benar buruk, perumahan kumuh ini juga berdekatan dengan pembuangan sampah. Ah shit... aku tidak tahan, bau sekali. Aku bisa mati... uugh...
Segera ku tutup kembali kaca mobilku dan mengencangkan volume acc mobil sambil terus melajukan mobilku dengan kecepatan sedang sembari mencari rumah yang dimaksudkan Seunghyun hyung. Rumah kecil dengan sedikit reot.
DEG...
Tidak salah eoh? Apa Jaejoong tinggal dirumah yang kumuh ini? Ah... Shit. Kau membohongiku Kim Jaejoong! Aku harus memastikannya jika itu benar.
Aku keluar dari mobilku dan berjalan menuju rumah itu lalu mengetuk pintu rumah bercat coklat kusam dan yang sedikit keropos dengan sedikit tergesa.
Tok... Tok... Tok...
Changmin POV End
Tak lama setelah Changmin mengetuk pintu, Jaejoong yang baru saja menidurkan Moobin segera membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang di sore hari begini.
DEG...
Jaejoong terdiam mematung setelah ia membukakan pintu untuk tamunya. Wajah memucat saat matanya beratatapan langsung dengan mata tajam Changmin penuh selidik.
"Changmin-ssi..."
"Annyeong Jaejoongie... bagaimana kabarmu dan Moobin?" Tanya Changmin sambil melipatkan kedua tangannya didadanya.
.
.
.
.
.
.
AMERIKA SERIKAT
Park Yoochun terlihat jengah dengan permintaan istrinya yang sangat menuntut. Ia sangat paham jika wanita hamil akan mengidam makanan. Tapi berbeda dengan yeoja cantik bernama Go Ahra yang malah meminta dirinya dibelikan perhiasan mewah dan gaun yang mahal. Ia terlalu malas berdebat dengan Ahra yang kini mengandung darah dagingnya yang berusia hampir 3 bulan. Jika bukan karena peristiwa itu, ia pasti masih hidup bahagia bersama Jaejoong dan Moobin.
"Yoochuniee... yeobo...! Yak, kau tuli eoh?" Yoochun terkejut dari lamunannya saat Ahra datang dan menyeretnya ke kasir.
"Kartu kreditmu sayang..."
"Mwo! Kau menyuruhku membayar sebanyak ini? Ya Tuhan... tolong belilah seperlunya saja Ahra-ah..."
"Aku memerlukannya... aku harus tampil cantik saat acara pernikahan Nicole. Ayolah... chagi... uhmm..." Yoochun menggeram tertahan melihat sikap maniak Ahra yang hobby menghabiskan uangnya. Jika ia tidak menuruti keinginan Ahra, sudah dipastikan ia akan terkena omelan Mr. Park sang ayah.
"Jika bukan karena kau hamil, aku tidak akan menuruti kehendakmu." Ujar Yoochun sambil memberikan kredit cardnya pada kasir.
"Kyaa... gumawo sayang." Ahra kegirangan saat ia kembali mendapatkan gaun indah nan mewah yang sesuai untuk ibu hamil.
.
.
.
Mansion Park
Setelah membersihkan diri, namja tampan Park Yoochun segera memasang pakaian tidurnya tanpa menghiraukan Ahra yang terlihat sibuk dengan gaun yang akan ia gunakan di acara pernikahan sahabatnya Nicole hari minggu depan. Yeoja cantik itu bercermin, sembari memutar-mutar tubuhnya walau pun perutnya terlihat membuncit. Namun tetap sexy, ujar Ahra menilai sosoknya didepan kaca.
"Sayang... apa kau suka gaunku? Cantik bukan?" Tanya Ahra saat menyadari Yoochun memperhatikannya sejenak. Namun Yoochun tetap tidak tertarik dan memutar matanya bosan.
"Yoochun-ah... tidakkah kau bisa menghargai orang saat berbicara?" Ahra mulai kesal karna Yoochun selalu bersikap dingin padanya.
"Bagus..."
"Jinjaaa?" Ahra senang mendapat pujian yang diucapkan dari bibir suaminya. Ah... dipuji memang menyenangkan. Apalagi jika suami sendiri yang mengucapkannya.
"Aku mau tidur. Selamat malam." Ujar Yoochun ketus dan langsung merebahkan tubuh pada ranjang big sizenya.
Yoochun POV
Muak... Melihat Ahra bahagia diatas penderitaan istriku Jaejoong. Aku sangat membencinya. Jika saja hal itu tidak pernah terjadi, maka aku masih tetap bisa merasakan hangatnya pelukan Jaejoong yang selalu tersenyum teduh menatapku. Ya Tuhan... bagaimana keadaan istri dan anakku Moobin. Sungguh aku seperti dibawah kendali kedua orangtuaku yang menginginkan pernikahan busuk ini. Bukannya aku bahagia, aku tersiksa Ya Tuhan. Batinku pun terasa begitu pedih karna harus berpisah dengan kedua malaikatku. Aku berharap Tuhan masih berpihak padaku. Berikan aku kesempatan...
Yoochun POV END
Yoochun terbangun saat dirinya merasakan sebuah lengan melingkar dipinggangnya. Ia hanya menghela nafasnya jengah karna yang memeluknya saat ini bukanlah Jaejoong lagi melainkan seseorang yang tidak akan pernah ia cintai. Beberapa menit kemudian setelah kesadaran terkumpul, Yoochun segera melepaskan pelukan Ahra dan berjalan keluar menuju ruang keluarga yang berada di lantai dasar. Sebelum menyalakan layar mini teaternya Yoochun memilah video apa yang akan ia tonton malam ini. Namun pilihannya kembali jatuh pada sebuah piringan dvd yang berharga, sebuah dvd yang sengaja ia buat sebagai kenang-kenangan akan kebersamaannya dirinya dan istri cantiknya Jaejoong.
.
.
Dengan seksama Yoochun memperhatikan setiap potongan-potongan adegan dimana Jaejoong berbaring lemah dengan wajah yang dipenuhi peluh, tersenyum teduh menatap sebuah kamera yang sengaja disorot pada sang istri tercinta. Tak lama seorang suster memberikan sebuah buntalan kecil pada Jaejoong yang disamambutnya dengan tangisan bahagia.
"Joongie... jangan menangis chagiyaa... kau adalah istri terhebat..."
"Kau juga ayah yang luarbiasa, sayang... aku sangat bahagia yeobo..." Jaejoong terus menitikkan air matanya sambil tersenyum bahagia karna yang berada dalam pelukkannya saat ini adalah sang buah hati Park Moobin.
"Oeek... oeekk..."
"Ommo... anak kita menangis... Uri Park Moobin... jangan menangis... Appa disini... say hai pada kamera chagi..." Yoochun mendekatkan kameranya pada wajah Moobin.
"Hai... annyeonghseyo... Park Moobin imnidaaa..." Jaejoong mengarahkan tubuh Moobin mendekati arah kamera dan menirukan suara anak kecil yang menggemaskan.
"Oeekkk... oeekk..."
"Ya! Cepat kau susui anakmu Jae... dia berisik sekali..." Mrs. Park yang baru saja tiba diruang inap Jaejoong terlihat sedikit tidak suka mendengar tangisan kencang Moobin.
Yoochun yang menonton pada layar mini teater itu hanya mendengus kecil mengingat ibunya tidak terlalu suka dengan kehadiran Moobin.
"Ne, umma..." Jaejoong mulai membukakan satu persatu kancing baju pasien miliknya kemudian mengeluarkan dada sintalnya yang membengkak untuk diarahkan pada mulut kecil bayinya. Si kecil Moobin menyambut niple Jaejoong dengan antusias, ia menghisap cairan asi pada dada Jaejoong dengan sedikit rakus dan tergesa-gesa.
"Jae... dia lapar... wah... anak appa rakus sekali eoh?" Ujar Yoochun mendekatkan kamera kearah dada Jaejoong. Jaejoong terkikik melihat bagaimana rakusnya Moobin menghisap cairan yang menjadi sumber kehidupannya.
"Yak! Kau pervert! Jangan dadaku yang kau rekan yeobo tapi anak kita... hihi..." Jaejoong terkikik saat suaminya mulai berulah sedikit usil dengan mengarahkan kameranya pada dada Jaejoong yang terlihat lebih membesar saat hamil maupun setelah melahirkan Moobin.
"Hahaha... dadamu sangat menggoda, Joongie... Aku juga ingin menghisapnya jika uri Moobin sudah tertidur lelap."
Sret...
"Yak umma... mengapa menjewer kupingku eoh?"
"Kau tidak boleh menyusu pada Jaejoong. Itu milik Moobin. Dasar anak mesum..." Ujar Mrs. Park melepaskan jewerannya pada kuping kanan Yoochun.
"Umma... kasihan Yoochun... dia kesakitan... sini sayang aku usap kupingmu." Kamera Yoochun semakin tidak karuan arah fokusnya saat namja tampan yang kini telah menjadi ayah mengarahkan kupingnya pada Jaejoong minta di usap.
Yoochun menangis terisak melihat scene dimana ia merasakan kebahagiaan saat itu. Tetes demi tetes air matanya mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Menyaksikan kehadiran sang malaikat mungil di dunia adalah mukjijat yang luarbiasa dihidupnya.
Sialan... kehidupannya kini semakin berantakan. Rumah tangganya yang agung hancur hingga ia tak bisa lagi merasakan bangganya menjadi sebagai suami yang baik bagi Jaejoong.
"Jaejoong-ah... aku pasti akan menjemputmu kembali. Apapun caranya aku akan membawamu kembali kepelukannku. Aku bersumpah!"
.
.
.
.
Cofe & Tea Cafe
Jaejoong POV
Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran oranglain. Mengapa mereka menganggap harta adalah raja. Mengapa semua orang begitu mudah menjalankan perannya hanya untuk harta. Harta, kekayaan dan jabatan. Heh... apalah arti itu semua jika mereka menjalani hidup tanpa cinta. Benar-benar rakus... dan lagi yeoja brengsek itu telah menggeser posisiku hanya untuk harta dan kekayaan dengan cara yang licik. Benar-benar wanita ular.
Flash Back ON
Sesampainya Jaejoong di Bandara Amerika serikat, dirinya dikejutkan dengan sosok wanita cantik yang berdiri angkuh menatapnya.
"Hai... lama tidak berjumpaa... nyonya Kim yang terhormat. Bagaimana kabar anda heuum?"
"Ahra-ssi... sedang apa kau disini." Ahra hanya tersenyum meremehkan sambil melipat kedua tangannya didadanya.
"Aku? Ah... tentu saja aku ingin mengucapkan selamat perpisahan untuk kita berdua. Aku juga ingin mengucapkan selamat berpisah dengan mantan suamimu Park Yoochun." Ahra semakin menyeringai puas melihat musuhnya yang lemah seperti saat ini.
"Well, sebenarnya aku hanya ingin mengucapkan rasa terimakasihku padamu karna telah mundur menjadi Nyonya Park. Ah, Tidak tahukah kau Jae... aku sangat bahagia mendengar Mrs. Park yang memberitahu ku barusan. Karna Mrs. Park menginginkan aku menjadi menantunya. Bukan Kau namja yang menjijikan!"
PLAK
Sebuah tamparan keras mengenai pipi kanan Ahra. Jaejoong benar-benar tersinggung dan marah mendengar ucapan Ahra yang sangat keterlaluan.
"Cih... kau berani menampar wanita eoh? Tidak apa... ini tidak seberapa dengan kesakitan yang kau alami. Karna setelah kau pergi jauh dari kehidupan Yoochun, aku akan dengan mudah mendapatkannya terlebih hartanya aku akan menguasainya."
"Kau licik Ahra..."
"Benar. Aku adalah orang yang licik. Selamat tinggal Kim Jaejoong. Dan ingat... jangan pernah kembali. Byeee..." Ahra melenggang pergi meninggalkan Jaejoong yang terlihat sangat marah padanya. Jika ia ingat ini bukan tempat umum. Ia berjanji akan merobek mulut Ahra dengan bringas. Heh... benar dugaannya selama ini, Ahra mengambil hati Mrs. Park agar ia dapat mewujudkan misinya menjadi Nyonya Park menggeser posisi sebagai istri Yoochun. Tapi Jaejoong sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Yoochun, semakin lama ia bertahan maka semakin banyak luka yang ditorehkan dihatinya. Ia tidak sanggup. Kim Jaejoong menyerah.
Flashback END
Drtt... Drrt...
Lamunanku teralihkan saat merasakan sebuah getaran ponsel yang berasal dari saku celanaku. Lalu aku membuka kunci pada layar ponsel dan terkejut saat membaca pesan singkat yang dikirimkan seseorang untukku.
From : 021xxxx
Jae... kau bersiap-siaplah, karna Jung Yunho sedang berada dalam perjalanan menuju tempat kau bekerja. Seperti yang aku katakan sebelumnya sekuat apapun kau menolak Yunho. dia akan tetap memaksamu menjadi istrinya. Jika kau memerlukan sesuatu, tolong kau segera hubungiku. Aku mencintaimu.
-Shim Changmin-
DEG...
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Maaf Young lama update... karna lagi sibuk skripsi & lagi kena musibah
Aku lagi susah buat ngetik FF, lama gak buat ide berantakan. Maaf juga kalo ada typo ato ada samting yang gak mengenakan. Cerita ini emang dibuat dengan alur seperti ini jika sesuai dengan yang aku rencanakan. Jadi harap sabar ya... Kalo ada kesalahan FF ini akan aku revisi. Kritik, saran, dukungan silahkan kalian tulis dalam bentuk Review. Ada 1 FF yunjae yang baru aku buat judulnya 'My Replacement Wife' tapi belum siap dipublish. Hehee...
Sekali lagi Gumawo Readers...
Big Thanks Readers: *Maaf belum bisa bales review'a... next chap aku respon review kalian...^^
Shipper89; Yurashi13; ChaaChulie247; Meirah; Misharutherford; NicKyun; Azharifaisal666; RereYunjae Pegaxue; AprilianyArdeta; Guest; Jaelous; BebbieKyu; Tania Sagita yunjae shipper forever; Indy; Guest; Hsandra; Dewi15; Guest; Guest; Joooongggg; TaniaYJSforever; Laraswati63; Airi1491.
