A GOOD MARRIAGE

Author/Writer : Na U-Young

Rate : T-M

Warning : No bash, No War, YAOI (MATURE), Typo, NC = Underage Not

Allow, Breastfeeding, MPREG, alur kecepatan /?

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 6

Jaejoong mengenggam ponselnya erat setelah membaca pesan singkat dari Changmin. Ia bingung, aah... Ya Tuhan... Changmin mencintainya. Sedangkan Yunho kini berada dalam perjalanan untuk menjemputnya. Ia terlalu bingung untuk mengungkapkan keterkejutan akan hal yang ia anggap itu sangatlah tiba-tiba.

Pria cantik itu menggigit bibir bagian bawahnya cemas. Namun ia berusaha tenang dan melanjutkan pekerjaannya di dapur sebagai chef di tempat kerjannya milik Choi Siwon.

.

.

Pria tampan bertubuh kekar itu kini berada di depan Coffe & Tea cafe milik Siwon. Bibirnya tertarik keatas membentuk suatu seringaian sinis kala melihat cafe yang ia anggap biasa saja namun memiliki makanan yang lezat didalamnya. Ia tau siapa chef yang memasak makanan lezat itu. Pria cantik yang menjadi incarannya.

Tanpa melepas kaca mata hitamnya Yunho masuk kedalam cafe itu dengan sedikit angkuh.

Siwon yang sibuk melayani pelanggan, seketika terkejut akan kedatangan Yunho yang berdiri didepan meja kasir. Pria berlesung pipit itu berjalan santai menemui Yunho yang berdiri membelakangi Siwon.

"Maaf tuan, apakah anda ingin memesan sesuatu? Kami memiliki menu yang variatif dan dijamin lezat, menu tersebut dibuat khusus oleh chef andalan kami."

Setelah mendengar suara Siwon yang ada dibelakangnya, Yunho segera berbalik menghadap pria itu.

"Aku memesan Kim Jaejoong hari ini. Apa dia ada?"

Siwon terkejut dengan ucapan Yunho. Memesan Jaejoong? Apa-apaan ini?

"Maaf tuan tidak ada menu bernama Kim Jaejoong. Jika anda mencari Kim Jaejoong, ia sedang sibuk bekerja saat ini. Apabila anda ingin menunggunya silahkan anda duduk terlebih dahulu. Saya akan memanggilnya setelah pekerjaannya selesai." Ujar Siwon mencoba bersikap ramah dan tenang.

SRET...

Yunho menarik kerah kemeja putih milik Siwon hingga terangkat keatas. Membuat namja berlesung pipit itu sedikit berjinjit.

"Bawa dia kemari atau kubuat cafe milik mu sepi pengunjung."

"Akh... tolong.. ugh lepas tuan... kau membuatku tercekik." Dengan malas Yunho melepaskan kerah kemeja Siwon dan menunggu Siwon mengambil nafasnya.

"Baik... kau tunggu disini. Tapi ingat, seberapa kuatnya pengaruhmu sebagai pria terkaya aku tidak takut. Jangan kau sakiti Jaejoongku." Setelah mengucapkan kalimat itu Siwon segera bergegas meninggalkan Yunho yang menggeram tidak suka.

"Ck... Jaejoongmu kau bilang. Shit!"

.

.

Siwon masuk kedalam dapur Cafenya, dan mencari keberadaan Jaejoong. Ia melihat Jaejoong sedang fokus terhadap makanan yang akan dihidangkannya. Dengan helaan nafas berat, Siwon berjalan menghampiri Jaejoong kini sedang menata desert.

"Jaejoongie... ada seseorang sedang mencarimu. Temui dia."

"Huh? Siapa hyung?" Tanya Jaejoong sambil meletakkan strawberry pada dua buah pancake.

"Jung Yunho."

DEG...

Seketika tubuh Jaejoong menegang kala ia mendengar nama Jung Yunho yang disebutkan oleh Siwon. Bibirnya tiba-tiba memucat dan tangannya mulai dingin.

Melihat akan hal itu, Siwon langsung mengusap pelan bahu kiri Jaejoong untuk berhenti dari lamunannya.

"Kau tidak usah khawatir, jika pria itu berbuat jahat padamu aku tidak akan segan-segan menghajarnya." Jaejoong menghela nafas kecil dan menundukan wajahnya sebentar sebelum menatap wajah Siwon. Kemudian tersenyum.

"Aku tidak apa-apa Siwon hyung. Kau tidak usah khawatir." Ujar Jaejoong menyentuh tangan Siwon yang ada dipundaknya.

"Jja aku akan menemuinya. Tolong kau lanjutkan pekerjaanku hyung."

Siwon hanya mengganggukkan kepalanya sambil menatap khawatir tubuh Jaejoong yang mulai menjauh. Ia mencemaskan nasib Jaejoong jika ia akan berada ditangan yang salah. Ia tidak ingin kehidupan Jaejoong sepahit saat bersama Park Yoochun. Ia hanya merasa kasihan pada Jaejoong dan juga Moobin yang masih sangat membutuhkan perlindungan dan perhatian ekstra.

.

.

Jaejoong mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang sedang duduk diantara banyaknya pengunjung. Ia lirikkan mata bulatnya keseluruh penjuru ruangan dan kemudian berhenti saat ia menemukan seorang pria dengan setelan jas mahal, duduk disudut ruangan paling belakang sembari melipat kedua tangan didepan dada, angkuh.

Jaejoong menghela nafas jengah dan berjalan mendekati Yunho yang memperhatikannya lekat hingga akhirnya Jaejoong berdiri disamping Yunho yang masih menatap lurus tanpa menolehkan kepalanya.

"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" Jaejoong berusaha bersikap biasa.

"Aku memesan dirimu untuk hari ini. Kau harus ikut denganku. Tidak ada bantahan. Tidak ada penolakkan."

"Maaf tuan, pekerjaanku banyak saat ini. Saya tidak bisa. Permisi." Jaejoong membalikkan badannya hendak menjauhi Yunho. Namun baru beberapa langkah tangan Jaejoong ditahan oleh Yunho cukup keras hingga membuatnya sedikit terhuyung kebelakang.

"Sudah ku katakan tidak ada penolakan ataupun bantahan. Turuti aku. Aku memerintah." Jaejoong membalikkan wajahnya hendak menatap wajah Yunho. Saat kedua matanya bertemu pandang, Jaejoong merasakan aura mengintimidasi dari tatapan tajam Yunho hingga membuatnya memalingkan wajahnya kearah lain.

"Lepaskan tanganku tuan. Tidak enak diliat pengunjung." Ujar Jaejoong mencoba bersikap tenang sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Yunho pada pergelangan tangan kirinya.

Tanpa berbicara sepatah kata lagi, Yunho dengan seenaknya menarik tangan Jaejoong keluar dan menuju mobil pribadi Yunho yang terparikir aman didepan cafe.

"Masuklah." Perintah Yunho saat ia sudah membukakan pintu untuk Jaejoong disebelah kursi kemudi. Dengan malas akhirnya Jaejoong masuk dan duduk disebelah Yunho yang sedang memasang seatbeltnya. Kemudian menghidupkan mesin mobil lalu berjalan dengan kecepatan sedang.

"Tuan ada perlu apa mencariku?" Tanya Jaejoong membuka suara. Namun bukan jawaban yang ia peroleh karna Yunho tidak menjawab pertanyaannya. Lagi-lagi Jaejoong mendengus kesal.

Setelah 30 menit perjalanan, kini tibalah Yunho dan Jaejoong di sebuah mansion megah yang sulit untuk Jaejoong ungkapkan. Ia begitu takjub, Mansion yang begitu mewah dengan halaman luas dihiasi beberapa bunga. Benar-benar cantik.

"Ehem." Kekaguman Jaejoong terhenti kala ia mendengar suara deheman yang berasal dari sebelahnya.

"Kita sudah sampai. Kau turunlah."

"Baik." Setelah mengatakan itu, Jaejoong membuka pintu mobil dan keluar. Kepalanya ia tolehkan pada setiap sisi bangunan kokoh dihadapannya. Sampai ia merasakan keterkejutan kecil kala sebuah tangan menyelip dipinggannya.

"Bersikap seperti biasa dan turuti aku." Ujar Yunho kembali memerintah, lalu membawa tubuh Jaejoong berjalan memasuki Mansion itu.

Jaejoong merasa risih dengan tangan besar Yunho yang bertengger dipinggangnya. Sesekali ia berusaha melepaskan tangan Yunho dari tubuhnya namun Yunho malah mencengkram kuat pinggang Jaejoong hingga membuatnya sedikit meringis dan memilih untuk mengalah.

"Yunho..." Jaejoong menolehkan kepalanya kearah kanan mendapati seorang wanita paruh baya, tengah berdiri pada anak tangga terakhir.

"Eomma... bagaimana kabar eomma? Maaf aku baru bisa menjengukmu karena kesibukkanku diperusahaan."

Wanita yang masih terlihat cantik itu berjalan mendekat menuju Yunho dan Jaejoong berdiri. Wajahnya berubah sinis kala ia menangkap lengan Yunho yang memeluk pinggang Jaejoong posesif.

Sambil melipat kedua tangannya didepan dada Mrs. Jung akhirnya kembali membuka suara.

"Siapa orang ini?"

"Perkenalkan dia adalah Kim Jaejoong. Dia calon istriku. Calon menantu Eomma." Kata Yunho cukup serius namun terlihat santai.

"Apa?" Jaejoong terkejut mendengar ucapan Yunho yang seenak jidatnya. Kemudian ia menggerakkan siku kanannya meminta penjelasan dari Yunho. Namun sebuah suara kembali menginterupsi.

"Mengapa kau memilih orang ini? Sepertinya dia bukan dari kalangan yang berada."

"Bukankah Eomma pernah mengatakan padaku jika aku berhak menikahi siapapun yang aku inginkan untuk menjadi istri. Dan pilihanku jatuh pada dirinya seorang pria."

"Mwo? Pria? Ck... seleramu Jung." Mrs. Jung berdecih tidak suka mendengar ucapan Yunho. Lalu, masih dengan wajah angkuhnya wanita paruh baya itu menatap-meneliti penampilan Jaejoong dari atas sampai bawah. Kemudian ia mendekati Jaejoong yang langsung menundukkan wajahnya.

GREP...

"Selamat datang dikeluarga besar Jung. Calon menantuku."

DEG...

Jaejoong membeku, jantungnya seolah-olah berhenti saat Mrs. Jung malah memeluknya erat dan mengusap punggungnya pelan. Pria cantik itu mengeryitkan dahinya bingung. Ia benar-benar tidak mengerti. Mengapa wanita yang ia anggap angkuh dan mengerikan malah memeluknya dengan hangat.

Kemudian Mrs. Jung melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Jaejoong cukup intens. Sambil menggigiti bibir bawahnya, akhirnya Jaejoong memberanikan diri untuk melihat wajah wanita yang mengusap-usap pundaknya sayang.

"Kau sangat cantik dan cocok untuk Yunho-ku. Aku menyukaimu nak." Ujar Mrs. Jung tersenyum manis kepadanya.

"Ah... bagaimana jika aku membuatkan makan siang untuk kalian. Tunggulah sebentar aku akan memasak." Kata Mrs. Jung sambil menatap Yunho yang siap mengeluarkan bantahannya.

"Tidak Eomma. Eomma tidak bisa memasak. Aku khawatir jika kau akan meracuniku lagi."

"Yak! Jung Yunho jangan kau berbicara seperti itu didepan calon menantuku. Aku bisa memasak kok." Mrs. Jung membela diri.

"Tapi – " ucapan Yunho terpotong saat mendengar Jaejoong membukakan suaranya.

"Nyonya, biarkan saya saja yang memasak. Anda beristirahatlah." Mrs. Jung tersenyum teduh melihat sikap Jaejoong yang perhatian padanya.

"Baik. Aku akan mengantarkanmu ke dapur. Jika kau perlu sesuatu katakanlah padaku karna chef kami sedang beristirahat." Jaejoong hanya menganggukan kepalanya pertanda paham dan berjalan mengikuti Mrs. Jung. Namun sebelum mengikuti wanita paruh baya itu, Jaejoong berbalik menatap nyalang pada Yunho yang masih pada ekspresi datarnya.

"Aku butuh penjelasanmu Jung." Yunho hanya menyeringai cuek lalu ia berjalan menuju ruang tamu.

.

.

Setelah berkutat cukup lama, Jaejoong telah menyelesaikan acara memasaknya. Steak daging, omelet dan juice jeruk sudah tertata rapi diatas meja makan. Sambil menyeka peluh yang membasahi keningnya, Jaejoong menolehkan kepalanya disamping kirirnya dan mendapati Yunho yang sedang berdiri tak jauh beberapa meter darinya.

"Kau pasti lelah." Ujar Yunho yang mulai berjalan mendekati Jaejoong. Lalu, diambilnya selembar tissu dan menyeka keringat Jaejoong lembut.

Tangan kanan Jaejoong menepis usapan wajah yang dilakukan oleh pria tampan yang ada di depannya. "Apa mau anda tuan muda Jung?"

"Yang aku mau..." Yunho mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Jaejoong. "Kita menikah kontrak. Kau tidak perlu bersusah payah bekerja. Segala fasilitas dan uang ada ditanganmu. Cukup bersandiwara dan kau akan mendapatkan semuanya."

Jaejoong segera mendorong dada Yunho kuat saat Yunho berusaha berbuat lebih padanya. Yunho yang tadinya hendak melumat telinga Jaejoong, gagal karena dengan cepat Jaejoong menjauh darinya.

"Maaf tuan aku tidak bisa..." Jaejoong bergegas pergi meninggalkan Yunho dan Mrs. Jung yang memanggil namanya. Ia tidak menghiraukan lagi. Ia tidak ingin melakukan permainan bodoh yang dibuat oleh Yunho.

.

.

Jaejoong menyandarkan tubuhnya yang lelah pada kepala ranjang. Sejujurnya ia ingin kembali bekerja membantu Siwon. Namun, ia urungkan niatnya dan memilih untuk pulang. Saat hendak menutup kedua matanya, Jaejoong kembali kesal saat ponselnya berdering. Dilihatnya nomor asing yang tertera dilayar ponsel membuat Jaejoong malas untuk menerima sambungan telepon itu.

Selang beberapa menit kemudian ponsel Jaejoong kembali berdering. Mau tak mau Jaejoong mengangkatnya dengan malas.

"Halo..."

"Kau dimana?"

"Bukan urusanmu..." Ujar Jaejoong ketus.

"Tentu saja ini akan menjadi urusanku. Kau akan menikah denganku."

"Aku tidak mengenal anda Tuan Jung begitu pula sebaliknya. Jangan memaksaku. Dan hentikan ini semua."

"Aku tidak akan menghentikan ini semua sebelum keinginanku tercapai. Temui aku dihalaman Jung Corp. sore ini."

"Bermimpi saja... aku tidak kan pernah mau kesana." Kata Jaejoong final dan memutuskan sambungan teleponnya.

Kemudian ponsel Jaejoong kembali berdering, pria cantik itu kembali berdecak sebal menerima sambungan telepon tersebut.

"Kau sudah gila eoh? Berhenti menggangguku!" Maki Jaejoong.

"Hey Jae... ini aku Sim Changmin."

"Huh? Changmin-ssi? Maaf aku tidak tau jika itu kau."

"Kau memaki siapa eoh? ck... yasudah, aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Bawa si kecil Moobin. Kita makan bersama."

DEG...

Jaejoong seperti teringat akan sesuatu yang ia lupakan seharian ini. Anaknya. Astaga ia sudah berada dirumah mengapa ia tidak mengambil anaknya dirumah bibi Jang.

"Hallo Jae, kau masih disana?" Seolah tersadar dari lamunannya Jaejoong kembali menjawab pertanyaan Changmin.

"Changmin-ssi, maaf aku harus menjemput anakku ditempat bibi Jang. Dan aku tidak tau apakah aku bisa makan malam bersamamu malam ini."

"Uhm... baiklah, nanti aku akan menghubungimu lagi Jae." Changmin memutuskan sambungan teleponnya dan mendesah berat. Ia bukan tipe pria yang suka memaksa, namun jika menyangkut dengan perasaanya ia ingin sekali menghabiskan makan malam dengan suasana hangat bersama Jaejoong dan Moobin.

"Ya Tuhan, aku bingung dengan diriku sendiri. Aishh..." Changmin mengusak rambutnya kasar dan memutuskan untuk kembali pada pekerjaannya.

.

.

Setelah membersihkan dirinya Jaejoong bergegas menuju kediaman bibi Jang untuk menjemput Moobin.

"Bibi Jang..." Jaejoong menyapa bibi Jang yang sedang melipat pakaian ditengah rumah sederhananya.

"Jaejoongie, tumben sekali kau pulang cepat. Jika kau mencari Moobin ia sedang bermain dengan paman Jang dikamar." Jaejoong hanya tersenyum mengangguk kemudian ia berjalan menuju kamar dimana Moobin sering tidur didalam kamar itu.

"Hahaha... jangan memakan bebek karet mu sayang. Tidak boleh..." Ujar paman Jang menyingkirkan bebek karet yang Moobin gigit. Merasa kegiatan mengigitnya terganggu, isakan kecil Moobin mulai terdengar. Mulut kecilnya mengerucut hendak mengeluarkan tangis.

"Hiks... hueee..." Moobin menangis nyaring dengan mengehentakkan kaki tangannya marah.

Mendengar suara teriakan Moobin membuat Jaejoong yang baru saja masuk kedalam kamar, segera mengangkat tubuh Moobin untuk segera menenangkannya.

"Aiguu... anak eomma... jangan menangis sayang." Jaejoong menimang-nimang tubuh Moobin sambil mengusap punggung kecilnya sayang.

"Bukan salahku..." Ujar paman Jang membela diri. Jaejoong hanya terkekeh geli kemudian menangguk.

"Tidak apa paman. Aku permisi dulu. Terima kasih sudah menemani Moobin hari ini."

"Tidak masalah nak." Ujar paman Jang tersenyum sambil mengusap puncak kepala Moobin.

Kemudian Jaejoong keluar dari kamar dan mencari bibi Jang. Baru saja ia melangkahkan kaki ia kembali dikejutkan dengan suara yang sangat familiar. Suara Jung Yunho.

Jaejoong panik, lalu ia segera masuk kembali kedalam kamar. Hingga Paman Jang bingung dengan tingkah laku Jaejoong.

"Paman, tolong beritahu Bibi Jang jika aku tidak lagi tinggal disini. Aku tidak menyukai orang itu. Kumohon." Paman Jang mengangguk paham kemudian ia berjalan menghampiri istrinya yang sedang berbicara dengan Yunho.

"Anda mencari siapa tuan?" Tanya paman Jang.

"Aku sedang mencari Kim Jaejoong. Aku mendapatkan informasi jika ia tinggal disekitar sini. Apakah anda mengenalnya?"

Bibi Jang dan suaminya saling bertatap muka lalu paman Jang kembali membuka suaranya.

"Nama Kim Jaejoong banyak dikomplek ini. Jika kau ingin mencarinya mungkin orang itu ada di gang sebelah."

"Baiklah, terima kasih." Yunho segera memasuki mobil mewahnya dan menjauhi kediaman paman Jang.

"Bibi... apakah dia sudah pergi?" tanya Jaejoong saat ia memberanikan diri keluar menghampiri Bibi Jang yang mendekat juga kearahnya.

"Jae... mengapa pengusaha kaya itu mencarimu? Apa kau ada berbuat salah padanya?" Jaejoong menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada masalah apa-apa.

"Tidak bi. Hanya saja orang itu, uhmm memaksa aku untuk menikah kontrak." Kata Jaejoong pelan sambil mengigiti bibir bawahnya.

"Apakah kau menerimanya?"

Jaejoong kembali menggelengkan kepalanya. "Aku menolaknya bi. Walau dia akan membayarku dengan semua fasilitas dan uang. Aku tidak bisa. Pernikahan bukan permainan. Tapi jika boleh jujur, aku juga menginginkan itu semua untuk Moobin. Aku hanya ingin ia sehat dalam lingkungan yang bersih dengan fasilitas yang menjanjikan. Namun, pria itu membenci anak-anak. Aku. Aku tidak yakin dia mau menerima."

Bibi Jang mengusap pundak Jaejoong lembut. "Terserah padamu nak. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Dan jika aku masih mampu, aku akan menolongmu jika kau memerlukan bantuanku sewaktu-waktu."

Jaejoong tersenyum senang. "Terimakasih bi. Aku permisi pulang dulu."

.

.

Yunho melepaskan kaca mata hitamnya, kala ia melihat sosok yang ia cari sedang berjalan menuju kesalah satu rumah yang sangat kumuh menurut Yunho. Alis sebelah kanannya terangkat keatas saat ia menangkap sosok kecil yang berada didalam gendongan Jaejoong.

"Heh... ternyata kau sudah berkeluarga dan memiliki anak. Cih.. akan ku buat kau bertekuk lutut padaku. Dan akan aku singkirkan bocah itu. Lihat saja." Yunho segera menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan meninggalkan kediaman Jaejoong.

.

.

Changmin pria tampan bertubuh jangkung itu mematut dirinya didepan cermin besar di kamarnya. Ia usapkan parfum wangi dikulit leher dan tangannya. Kemudian tersenyum.

"Saatnya dinner time." Ujar Changmin lalu ia segera bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera menuju ke kediaman Jaejoong. Selama perjalanan Changmin tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya saat ia membayangkan dinner yang akan ia lakukan bersama Jaejoong.

Sekitar kurang lebih 30 menit, kini Changmin sudah berada dihalaman plat kecil Jaejoong. Setelah mengunci mobilnya, Changmin berjalan santai dan segera mengetuk pintu.

"Jae... apa kau sudah siap?" Tanya Changmin saat Jaejoong membuka lebar pintunya. Namun Jaejoong malah memiringkan kepalanya pertanda ia bingung.

"Siap untuk apa? Bukankah kita tidak membuat janji?"

Changmin hanya terkekeh kecil melihat wajah bingung Jaejoong. "Kita dinner malam ini Jae, bersiap-siaplah. Bawa Moobin bersama kita. Oh... ayolah Jae. Beberapa hari kedepan aku harus kembali ke Amerika. Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersama kalian."

Jaejoong mendengus pelan. "Baik... sekali ini saja. Aku tidak ingin merepotkanmu. Masuklah." Ujar Jaejoong, Changmin tersenyum sumringah karena akhirnya Jaejoong mau menerima ajakannya.

"Moobin mana Jae?"

"Dia dikamar, tolong kau jaga dia sebentar. Aku mau mengganti pakaian dikamar mandi." Jaejoong segera membawa pakaian dan jeansnya kedalam kamar mandi.

Setelah mengganti pakaiannya Jaejoong masuk kedalam kamar hendak menyiapkan pakaian dan popok untuk Moobin. Hingga tiba-tiba tubuh Jaejoong menegang karena ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.

"Changmin-ssi..." Changmin meletakkan dagunya pada pundak kanan Jaejoong dan melingkarkan kedua tangannya di perut Jaejoong.

"Aku tidak tau sampai kapan akan berada di Amerika. Ayahku sedang sakit jadi aku menggantikannya sampai kondisi beliau membaik." Jaejoong hanya diam, menyimak.

"Aku mencintaimu Jae." Tiba-tiba jantung Jaejoong berdetak dengan cepat dan nafasnya seolah tercekat. Ia tau jika Changmin menyukainya, tapi jika pria jangkung ini benar-benar mencintainya mengapa Changmin bertindak setengah-setengah? Jaejoong semakin bingung, apa sebenarnya yang Changmin inginkan.

Changmin menghela nafas dan ia membalikkan tubuh Jaejoong agar berhadapan dengannya.

"Aku benar-benar mencintaimu. Namun... aku tidak bisa. Aku... aku hanya ingin membalas budi." Kedua tangan Jaejoong terjulur menangkup wajah Changmin yang menunduk.

"Kau ingin membalas budi dengan mengorbankan aku eoh?" Changmin menggelengkan kepalanya pelan.

"Ini hanya sementara saja Jae, satu atau dua tahun. Setelah ia mendapatkan jabatannya, ia akan membuangmu. Dan disaat itulah aku yang akan mengambilmu."

"Apa yang akan aku dapatkan? Aku hanya tidak ingin disakiti lagi Changmin. Mengapa tidak kau saja yang menolongku." Changmin mengangkat wajahnya dan menatap mata doe Jaejoong.

"Aku hanya ingin membalas budi." Jaejoong memutar mata jengah dan berjalan menghampiri Moobin yang sedang bermain dengan kaki kanannya yang terangkat keatas.

"Kau akan hidup nyaman Jae. Begitu pula dengan uri Moobin." Changmin menatap Jaejoong yang sedang menggendong Moobin dan memegang sebuah tas berukuran sedang.

"Bukankah kita akan akan dinner Changmin-ssi? Aku sudah lapar." Jaejoong membalas tatapan Changmin dengan senyumannya yang teduh. Kemudian Changmin tersenyum.

"Jja... aku akan mentraktir kalian sepuasnya."

.

.

Mrs. Jung terlihat cemberut saat ia mengingat kepergian Jaejoong yang tiba-tiba saat Jaejoong telah selesai menyiapkan makan siang untuknya. Ditangkupkan kedua tangannya pada pipinya sambil melirik kearah sang suami yang masih asik membaca berita dari layar ponselnya.

"Yak! Yeobo... aku menyukai anak itu. Dia sangat cantik, suaranya lembut, bodynya lumayan bagus terlebih aku jatuh cinta saat menyicipi masakannya. Seandainya kau bertemu dengannya kau akan memiliki penilaian yang sama denganku..."

Mr. Jung meletakkan ponselnya diatas meja nakas. "Tapi dia pria sayang..."

"Aku tidak peduli. Mereka bisa mengadopsi anak atau melakukan surgorate mother. Ah... aku benar-benar menyukai Kim Jaejoong." Mrs. Jung terlihat seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta. Wajahnya merona merah saat mengingat bagaimana cantiknya paras Jaejoong yang menurutnya sangat serasi dengan Yunho.

"Ehem... jangan menyanjung pria lain dihadapanku yeobo." Ujar Mr. Jung cemburu. Mendengar akan hal itu Mrs. Jung terkekeh geli dan menjentikan jarinya di jidat sang suami.

"Yak! Aku bukan pedofil. Kim Jaejoong hanya cocok untuk anakku Jung Yunho. Aku tidak akan selingkuh. Kau tenanglah." Mrs. Jung tertawa dan segera pergi meninggalkan Mr. Jung yang terlihat kesal karna jidatnya nyeri.

.

.

Jaejoong terlihat sedikit risih kala beberapa pasang mata menatapnya penuh minat. Sambil menunggu Changmin memesan makanannya Jaejoong duduk sendiri menyusui Moobin yang rewel meminta jatah malamnya.

"Tutupi dadamu dengan jaketku Jae." Changmin menutupi dada dan tubuh Moobin yang tengah menyusu. Jaejoong tersenyum lega karna Changmin datang tepat waktu untuk menolongnya dari tatapan liar para pria.

"Kau ingin apa setelah ini Jae? Sebelum aku pergi, aku ingin membeli keperluan untuk uri Moobin." Tanya Changmin setelah ia mendudukan dirinya pada kursi yang berhdapan dengan Jaejoong.

"Tidak usah Changmin. Cukup dengan mentraktirku saja aku sudah bersyukur. Kau tidak usah repot. Aku akan kesusahan untuk membalas budi."

"Aku tidak mengharapkan balas budi Jae. Cukup kau tau jika aku menyayangi mu dan Moobin, aku sudah senang. Tidak usah menolak anggap saja ini hadiah untuk Moobin sebelum aku pergi ke Amerika." Changmin menatap Jaejoong penuh keseriusan dan akhirnya Jaejoong memilih untuk mengalah.

"Baiklah, traktir kami di Mini market saja. Aku ingin membeli keperluan Moobin disana."

.

.

Makanan yang dipesan Changmin telah tiba. Lalu mereka mencoba untuk menyantapnya walau Jaejoong terlihat sedikit kesusahan karena Moobin masih berada dalam dekapannya.

"Biar aku suapi Jae." Changmin menyodorkan spageti kemulut Jaejoong dan Jaejoong menerima perlakuan Changmin dengan senang hati. Changmin dan Jaejoong saling melemparkan senyum. Mereka merasakan makam malam kali ini benar-benar menyenangkan.

Tanpa mereka sadari, seorang lelaki tampan berdiri cukup jauh dari meja makan yang ditempati Changmin dan Jaejoong. Berjarak beberapa meter namun mata musangnya masih dapat melihat dengan jelas jika orang yang ia yakini adalah sepupunya dan juga pria cantik incarannya.

"Kau berbohong padaku Chwang. Tak ku sangka selera kita sama. Ck." Lalu pria tampan itu pergi meninggalkan restaurant tersebut setelah ia melihat adegan mesra yang dilakukan Changmin dan Jaejoong.

.

.

Seperti aktivitas sebelumnya, pagi-pagi sekali Jaejoong membersihkan diri dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Moobin. Setelah menyelesaikan sarapannya Jaejoong segera menitipkan Moobin dirumah Bibi Jang dan kemudian ia berangkat kerja menuju Coffe & Tea Cafe.

Hari ini ia cukup sibuk karena cafe milik Siwon telah di booked untuk mengadakan jamuan makan siang. Tidak heran sebenarnya jika cafe Siwon sering digunakan untuk beberapa perayaan atau acara. Karena pengunjung lebih memilih makanan yang pas di lidah daripada restaurant mewah namun tidak pas dimulut mereka.

Jaejoong dan beberapa karyawan lain terlihat sibuk menyiapkan berbagai macam menu kemudian dihidangkannya pada para tamu yang mulai berdatangan.

Saat hendak membalikkan tubuhnya, Jaejoong terkejut saat seorang wanita menepuk pundaknya pelan.

Tubuh Jaejoong menegang kala ia bertemu dengan wanita paruh baya yang sedang tersenyum manis menyapanya.

"Hai calon menantuku. Senang bertemu denganmu lagi."

Jaejoong gelapan dan ikut membalas senyuman wanita itu dengan sedikit canggung.

"Se-selamat siang Mrs. Jung."

.

.

Setelah acara makan siang yang berlangsung di Cafe milik Siwon. Kini ruangan yang telah sepi itu hanya menyisakan seorang wanita cantik paruh baya dan seorang lelaki berparas cantik. Mereka duduk berdampingan dengan Jaejoong yang masih setia menundukkan wajahnya sungkan.

"Apa hubungan kalian sebenarnya nak? Jujur aku masih belum mengerti mengapa pilihannya jatuh pada seorang pria sepertimu. Jika dipikir-pikir memang banyak wanita yang mengharapkan menjadi pendamping hidup Yunho. Lantas mengapa dia memilihmu? Apa dia benar-benar mencintaimu Jae?"

"A-aku tidak mengerti juga mengapa Yunho menginginkanku nyonya." Jaejoong bingung apa ia harus ikut berbohong atau mengatakan sejujurnya jika ia belum mengenal sama sekali siapa Jung Yunho yang tiba-tiba datang ke kehidupannya.

"Mungkinkah ini berkaitan dengan trauma yang ia miliki?" Tanya Mrs. Jung pada dirinya sendiri.

"Huh? Trauma? Apa maksud anda nyonya?" Jaejoong mengernyitkan dahinya dan menatap penuh tanya pada Mrs. Jung. Kemudian wanita paruh baya itu menghela nafas lelah.

"Jung Yunho. Dulu ia adalah sosok anak yang hangat, ramah yah walau ia menjunjung tinggi sikap karismatik dan keangkuhannya seperti ayahnya. Semenjak insiden perselingkuhan dan penipuan yang dilakukan oleh mantan kekasih Yunho. Yunho menjadi sangat geram dan marah. Dia benar-benar sakit hati, karena wanita yang ia cintai, wanita yang akan menjadi calon istrinya menghilang dengan membawa sejumlah uang dengan nominal yang sangat fantastis. Kata Yunho, wanita itu pergi bersama kekasih gelapnya. Dan dari situlah Yunho tidak mempercayai lagi dengan namanya cinta ataupun hubungan yang terikat. Sudah berkali-kali aku berusaha untuk menjodohkannya dengan anak kolegaku. Jawabannya selalu sama. Ia tidak ingin terikat." Mrs. Jung tersenyum menatap Jaejoong yang mengangakan sedikit mulutnya karena terkejut mendengar cerita cinta Yunho. Kemudian wanita itu mengelus surai Jaejoong lembut.

"Aku senang jika Yunho bisa jatuh cinta lagi. Walau pilihannya jatuh padamu, aku tidak mempermasalahkannya. Jika kalian menikah, kita bisa mengadopsi anak atau melakukan surgorate mother. Dari sperma kalian tentu saja."

"Mengapa begitu, a- aku..." Jaejoong bingung dan takut jika ia mengatakan yang sebenarnya kalau ia bisa mengandung dan melahirkan anak.

"Yunho tidak suka anak-anak."

DEG...

Jaejoong terkejut mendengar ucapan Mrs. Jung yang menyatakan jika Yunho memang tidak menyukai anak-anak.

"Tapi ia tidak bisa menolak karena keluarga Jung membutuhkan seorang anak laki-laki dari sperma kalian ah kata yang lebih sopan adalah DNA kalian." Jaejoong kembali menundukkan wajahnya sambil memainkan jarinya pada ujung kemeja yang ia gunakan. Kemudian lamunannya buyar saat Mrs. Jung berdiri dan memegang tasnya.

"Jja... aku pulang dulu Jaejoongie. Senang bisa mengobrol denganmu. Lain kali aku akan mampir kesini. Masakan buatan mu benar-benar lezat. Pantas saja anak nakal itu suka sekali memesan disini."

"Benarkah?" Tanya Jaejoong yang ikut berdiri disamping Mrs. Jung.

"Uhm... Junsu yang mengatakannya padaku. Aku pulang dulu sayang. Jaga kesehatanmu baik-baik." Mrs. Jung mengusap pelan pipi kanan Jaejoong sebelum benar-benar pergi.

Jaejoong menatapnya mobil yang membawa Mrs. Jung pulang hingga mobil itu menghilang dari hadapannya. Hingga tanpa ia sadar, matanya memanas dan berembun. Hingga tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Dan jari lentiknya terjulur memegang pipi kiri yang baru saja Mrs. Jung sentuh, membuat hatinya terasa begitu hangat. Suatu perasaan yang sulit ia ungkapkan.

"Seumur hidupku, aku tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang tulus dari seorang ibu. Tapi mengapa Mrs. Jung begitu baik padaku padahal ia belum mengenal latar belakangku. Dan mungkin akupun ikut merasakan bagaimana rasa sakit yang dialami Jung Yunho akibat perselingkuhan. Benar-benar sakit."

Jaejoong menghela nafasnya berat. "Apa yang harus aku lakukan Tuhan?" Terus terang ia bingung, apa yang harus ia perbuat. Menerima tawaran Yunho walau ia sendiri tidak yakin jika Yunho menyukainya atau menyikapi perasaan Changmin yang mencintainya.

"Aku tidak tau... rasanya kepalaku mau pecah." Jaejoong menggelengkan kepalanya kemudian berjalan menuju dapur hendak menemui Siwon.

.

.

Karena pekerjaan Jaejoong telah selesai, akhirnya Siwon memperbolehkan Jaejoong untuk pulang lebih awal. Sambil menunggu bus Jaejoong mengistirahatkan tubuh lelahnya pada sebuah kursi kosong di halte bus yang tidak jauh dari Cofe & Tea Cafe. Sambil mengecek pesan singkat yang masuk diponselnya Jaejoong dikejutkan dengan suara pria yang cukup familiar di telinganya.

"Kuantar kau pulang. Hari sudah malam Jae, tidak baik jika kau sendirian. Aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padamu."

DEG...

Dengan sangat pelan ia mencoba melihat siapa pria yang sedang berdiri dihadapannya.

"Jung Yunho-ssi..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE...

Akhirnya bisa update FF ini. Maaf yang nunggu lama. Asli sibuk banget dan FF lain numpuk. Semoga suka chapter ini walau pendek dan kejar-kejaran, ini sambil cari-cari waktu buat ngetik. Semoga bisa update cepat. Hehhee...

Masih adakah yang minat dengan FF ini?

Yang nunggu My Replacement Wife semoga bisa update minggu depan.

Yang punya wattpad kalian bisa baca FF ku disana juga id : Na_Uyoung

Big Thanx buat yang udah Review, favorit & follow...^^

-KALSEL-