Title: Love love

Cast : Megurine Luki, Kagamine Len

Side: Kagamine Len, Kaito Shion

Genre: Romance, comedy

Maaf FF ini memuakkan terimakasih


"Hei kau..." DEG! Rin merasakan jantungnya berdetak dengan cepat mendengar suara Luki memanggilnya. Tidak perlu sebut nama kan? Rin tidak bodoh, mereka hanya berdua dalam ruangan itu jadi siapa lagi kalau bikan Rin yang dimaksud oleh 'Kau' oleh pemuda itu?

"apa?" tanya Rin tak menoleh sedikitpun. Wajahnya sudah blushing ria mengingat kejadian tadi, dia tidak mungkin membiarkan pemuda menyebalkan itu melihat wajahnya.

"Jangan bilang setelah ini kau berubah menyukaiku ya..."

WTF! Rin yang tadi pipinya memerah karena malu kini tidak hanya pipi, tapi seluruh wajahnya menjadi merah karena marah. Ia berbalik menatap garang Luki yang duduk santai bersandar pada sofa.

"Itu hanya terjadi dalam mimpimu saja bodoh!"

"oh~ baguslah~ lagi pula kau bukan tipeku."

kekesalan Rin sudah sampai diubun-ubun mendengar kalimat laknat tersebut. Bukan tipenya? Oh ayolah banyak orang rela mengantri untuk jadi pacarnya. Dan seenak jidatnya Pemuda songong didepanya itu mengataka bukan tipenya? Kau pasti bercanda. Dengan langkah lebar Rin menghampiri Luki tapi pemuda itu seolah-olah tidak mengerti aura membunuh yang menguar disekitarnya ia tetap enjoy saja pada posisinya.

"apa?" tanya Luki menantang yang disusul tendangan maut dikaki jenjangnya membuat pemuda itu mengaduh seraya mengusap kakinya yang mungkin sehabis ini akan lebam parah.
"itaaaaiiiiii..." aduh Luki kesakitan, Rin tersenyum setan melihatnya.

"rasakan!" seringai Rin mengerikan. Gadis itu pun melenggang pergi dengan perasaan puas tanpa sedikitpun menggubris sumpah serapah yang dirapalkan Luki untuknya.


"Leeennn~" Rajuk Rin manja. Ia sudah seharian ini mengekori Len kemanapun berharap dengan begitu dimaafkan tapi adiknya yang satu itu sejak tadi tidak menggubrisnya. Rin sudah berusaha menjelaskan kalau dia tidak sengaja untuk menendang kaki sepupu kaito itu hingga lebam, tapi tampaknya Len tak mudah dibodohi, ia tetap kukuh pada pendirianya tanpa ada niatan mengakhiri mode marahnya.

"Leeennn~"Rin ikut mengokori Len kekamarnya, ia mendudukan dirinya disamping Len yang berbaring tengkurap dikasur sambil cekikikan membaca sms yang kemungkinan dari sang seme.
"Lennn~"
"Hmmm..." Rin bersorak gembira mendengar gumaman Len. Biasanya setelah ini Len akan memaafkanya. Adiknya itu tidak mungkin marah lebih dari 12 jam.

"Leeennn~ jangan marah lagi pleaseee~ maafkan oneechan"ujar Rin seraya nangkupin tangan didepan dada. Rin melihat Len merubah posisinya jadi duduk. Kembaranya itu menatap Rin masih dengan ekpresi kesal, tetapi kemudian menghela napas lelah.

"Oneechan menyesal?" tanya Len akhirnya. Rin mengangguk antusias. Asssiiikkk! Selangkah lagi untuk dimaafkan, Rin sudah bersorakgembira dalem hati.

"aku akan memaafkan oneechan dan berhenti marah kalo oneechan mau melakukan satu hal. ^^" Rin menelan ludah merasakan firasat buruk tatkala melihat senyum manis tapi mengandung banyak makna didalamnya mengembang diwajah yang mirip sepertinya itu.

"a-apa?"


Dihari berikutnya, pagi-pagi sekali Len sudah menggedor pintu kamar sang kakak membuat sang pemilik mau tidak mau terseok-seok membukakan pintu.

"ada apa Len adikku tersayang? Ini masih pagi." kata Rin dengan wajah mengantuk.

"Oneechan harus bangun. Oneechan sudah janji tadi malam." ujar Len tegas.

"tapi ini masih terlalu pagi..." Rin sempat melirik jam dinding dikamarnya yang menunjukkan pukul 6 tepat.
"pokoknya Oneechan harus mandi sekarang. Kita berangkat jam 7. " Rin sempat protes ketika adiknya itu memaksanya masuk kamar mandi. Gadis itu butuh waktu lebih lama untuk mandi karena masih setengah sedar, bahkan ketika kakak beradik itu berngkat entah kemana. Rin terlihat masihmengantuk, ia tidak bisa menahan untuk tidak menguap lebar disepanjang jalan, beberapa kali juga gadis itu sempat hampir menubruk tiang listrik karena jalan sambil merem.

"Oneechan perhatikan jalanmu."

"hmmm..." gumam Rin sebagai jawaban tapi tetep merem. Tak mau kakaknya celaka masuk rumah sakit gara-gara nubruk tiang listrik, Len mau tak mau menuntun sang kakak. Keduanya smpai dihalte dan langsung naik bus yang kebetulan baru datang. Sepanjang perjalanan Rin tidur ditempat tujuan Rin juga masih tetep tidur, tampaknya sebelum jam 9 gadis itu akan terus tidur bahkan mungkin sekalipun ada tsunami atau gempa sebelum jam 9 pagi Rin akan tetep tidur.
"oneechan bangun..." Len nepukin pipi Rin membuat gadis itu mengernyit-ngernyit terganggu.
"bangunn kita sudah sampai." Len nyubit pipi Rin keras banget sampe merah, Rin menerjapkan matanya yang mmasih berat.

"oh... Sudah sampai ya. Jam berapa sekarang?" Len melihat jam ditangan kirinya sementara Rin meregangkan otot-otonya yang kaku sambil menguap.

"sembilan. Ayo kita turun." Len keluar duluan diikuti Rin. Ternyata mereka berhenti disebuah gedung apartemen. Rin sempat ingin bertanya kenapa mereka kesana tapi Len keburu berjalan cepat sekali kedalam gedung. Mereka naik lift sampai lantai 12. Sepanjang jalan Rin tidak berhenti berpikir rencana adiknya itu membawanya ketempat itu.

Rin mengikuti Len yang behenti didepan pintu kamar bernomor 57. Len mengetuk pintu beberapa kali, kemudian terdengar langkah kaki mendekati pintu. Rin menunggu dengan berdebar siapa kiranya yang akan muncul dari balik pintu. Orang itu pasti ada hubunganya dengan hal buruk yang mungkin bakal terjadi setelah ! Disusul derit pintu yang terbuka menampakkan sosok sang pemilik kamar.

"kaito-kun!" Jerit Rin lega ia sempat berpikir kemungkinan Luki yang muncul dari pintu.

"ohayou Rin-chan, ohayou len..." sapa kaito ramah seperti biasanya.

"ohayou Kaito-nii..." balas Len dengan wajah merona.

"masuklah..." Kaito membuka pintu kamar apartemenya lebih lebar mempersilakan kedua tamunya untuk masuk dan duduk dikursi yang tersedia(?).

"aku benar-benar terkejut melihat kalian sudah berdiri didepan pintuku pagi sekali." ujar kaito tertawa.
"Kita kan sudah janji kencan hari ini." timpal Len.

"tapi aku sudah bilang kan, aku tidak bisa pergi. Luki kakinya semakin parah saja. " Glup! Rin sekarang mulai mengerti arah pikiran adiknya tersayang membawanya kemari.

"oh Kaito-nii tidak perlu memikirkan itu lagi. Sudah ada seseorang yang akan menjaga Luki-san selama kita pergi." lah~kannn benar seperti dugaan Rin.

"oh... Benarkah? Siapa?" tanya Kaito bingung.

"Rin Oneechan yang akan menjaga Luki-san.^^"

"benarkah itu Rin-chan? O_O" Kaito menatap gadis yang sejak tadi diam itu. Rin terlihatkebingungan. Ia menatap kaito yang menatapnya tak percaya dan Len yang menatapnya dengan ekpresi mengancam. Rin merasa tenggorokanya mendadak kering saat itu juga dan keringat sebiji jangung meluncur dari dahinya.

"i-iya..."

"Arigatou Rin, nanti pulangnya aku belikan oleh-oleh. Aku ganti baju dulu." usai berkata demikian Kaito menghilang entah kemana. 5 menit menunggu, pemuda yang sudah tampan itu muncul dengan baju yang sudah bergnti dengan yang lebih casual.

"ayo len kita pergi." ajak kito pada sang uke yang langsung meloncat semangat dari kursinya.

"Dan Rin, tolong jaga Luki ya... Dia sedang berada dikamarnya." pesen kaito pada Rin sebelum sepasang kekasih itu meluncur pergi.

BLAM! Pintu tertutup meninggalkan Rin sendirian diruang tamu dalam keheningan(?). Gadis itu menggaruk tengkukny,a bingung harus melakukan apa. Menjaga Luki? -_- Gezzz... Yang benar saja. Rin memutuskan untuk menjelajah apartemen mencari dimana kamar Luki berada, ruang demi ruang dia buka satu persatu. Apartemen itu tidak terlalu besar tapi kenapa ruangnya banyak sekali sih? Rin berasa mau kibar bendera putih saja. Disaat-saat putus asa itu Rin tak sengaja(?) melewati sebuah pintu dimana sayup-sayup terdengar suara petikan gitar dan manyanyian orang. Rin berpikir pastilah pintu itu adalah kamarnya Len. Gadis itu secara diam-diam menempelkan telinganya pada daun pintu. Ia jadi lebih jelas mendengar nyanyian Luki.

"After that many years has passed and the scene has dimmed

Time is cruel, then kind

The town I lived in with you and the future we promised

Everything fades under the sunlight" Rin merasakan jantungnya berdebar tak normal mendengar suara merdu dan lembut itu. Bukan berdebar karena takut ketahuan ini rasanya berbeda, debaran yang menyenangkan.

"The frozen clock hand begins to scratch away at our time

Despair, relieved, and the flow away rain slowly fade away

That's strange even so an important place deep in my chest aches

And your voice that call my name is as vivid as always

The thorns that should have disappeared are always piercing me, so I don't forget

These feelings are a new chain, we will carry them forever

I don't regret anything, I just suddenly think

Of a world when everything went well

After a different meeting, I want to have a different love

One that would work out well

Like a calm after a storm

My broken heart has been healed

But I wonder why everytime the season change you call out

To this irreplaceable time along with our memories

From now on always you probably will continue to live inside my heart

In that time to which we can't return, our figures laugh without knowing pain

It's sad without a means we are seperated like this

But as long as these feelings are smoldered, we'll always, always, just be friend" =Megurine

Luka_Answer English=

lagu pun berakhir dan suasana menjadi hening. Rin menjauhkan telinganya dari pintu, gadis itu menyentuh tepat dimana jantungnya berada, detakanya semakin menggila saja. Dan kenapa rasanya pipinya panas sekali? Jangan katakan dia blushing cuma gara-gara mendengar pemuda menyebalkan itu bernyanyi. Tapi jujur saja, Rin mengakui dalam hati kalau tadi itu keren. Ah~ andai mereka tak terhalang pintu. Rin pasti bisa melihat lebih jelas kerenya Luki bernyanyi sambil bermain gitar. Eh? Tapi kalau tidak ada pintu yang menghalangi seperti ini, pemuda itu pasti sudah kumat resenyakan? Pasti sudah ngamuk-ngamuk mengusir Rin dari sana. Rin menghela napas lemes.

"gadis mesum sedang apa kau diluar kamarku?" Rin tersentak denger teriakan Luki dari dalam kamar. Nah loh? Bagaimana bisa Luki tau dia ada disitu coba?

"kalau kau tidak mengatakan alasanmu sekarang aku akan telpon polisi." ancaman itu sukses membuat nyali Rin menciut.

"a-aku disuruh kaito untuk... Uhmmm... " Rin menggaruk pipinya dengan ekpresi bingung yang imut.

"untuk?"

"Me-menjagamu se-selama kaito pergi dengan Len." Kemudian suasana menjadi hening tak terdengar lagi sahutan Luki dari dalam kamar. Rin merasa gugup dan malu disaat bersamaan, kata-katanya tadi bermakna ambigu sekali harusnya dia bisa lebih baik menyusun kata-kata. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur kan? Sekarang yang bisa dilakukan Rin cuma menunggu reaksi Len. Apa dia akan segera ditendang keluar?

"ceklek!" Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Rin sempat lupa caranya bernapas melihat sosok Luki mencul dari balik pintu dengan rambut acak-acakan yang terkesan seksi. Tunggu? Seksi? Rin benar-benar merasa dirinya sudah gila. Luki menatap gadis didepanya dengan tatapan penuh intimidasi, seulas seringai setan terukir diwajah tampanya melihat Rin yang sejak tadi tak berani balas menatapnya.

"kalau begitu buatkan aku makanan, didapur tidak ada makanan aku lapar." Rin gelagepan saat itu juga membuat Luki mengernyit.

"ta-tapi aku.. Uhm... Tidak bisa masak." Rin rasanya ingin menampar dirinya sendiri saat itu juga. Nah loh? Sejak kapan dia bisa bicara selembut dan semanis itu? Rasanya ini belum pernah terjadi seumur hidupnya.

"itu masalahmu."

BLAM, pintu kamar tertutup kembali meninggalkan Rin yang berdiri kebingungan didepan pintu.


waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari ketika Rin kembali ke gedung apartemen Luki. Gadis itu berjalan lunglai seraya tanganya menenteng sebuah bungkusan makanan yang tadi dibelinya dengan susah payah. Rin bahkan rela muter-muter kompleks apartemen itu cuma buat nyari penjual makanan. Tapi apalah daya, sepertinya kompleks apartemen itu tidak berada dalam kawasan yang ramai jadi jarang sekali ditemukan penjual makanan. Rin sempat menemukan beberapa toko makanan tapi tutup. Apeslah Rin, ia harus sukarela berjalan cukup jauh kekompleks sebelah untuk beli makanan.

Rin sampai didepan apartemen Luki. Ia mengetuk pintu beberapa kali tapi lama menunggu pintu tak kunjung terbuka. mengetuk lagi, tetapi tetap sama saja tak ada sahutan dari dalam dan pintu tak bergeser sedikitpun. Pikiran negatif seketika bersliweran dipikiran Rin, jangan-jangan hal buruk telah terjadi pada Luki?

"Luki-kun! Luki-kun!" Rin menggedor pintu apartemen Luki membuat pemilik apartemen sebelah terganggu sampai harus keluar kamarnya untuk menegur gadis itu.

"kau mencari Luki-san?"tanya seorang gadis cantik bersurai kehijuan yang merupakan tetangga sebelah kamar Luki. Rin menoleh pada gadis itu, ia mengangguk mengiyakan. Masih dengan ekpresi cemasnya.

"Luki-kun baru saja keluar. Mungkin mencari makan." Jelas gadis berambut hijau itu yang seketika membuat Rin merosot terduduk dilantai sambil menutup wajahnya. Sayup-sayup terdengar suara tangisan meluncur dari gadis itu.

"kau baik-baik saja nona?"


Luki berjalan pincang sambil sesekali bersiul gembira menyusuri lorong apartemenya. Kakinya memang masih sakit sampai membuatnya berjalan pincang-pincang seperti itu tapi tak menghalanginya pergi ke apartemen bawah tempat temanya berada untuk numpang makan. Lol~ sebodo lah dengan harga diri, yang penting perutnya kenyang dulu. Ngomong-ngomong soal kenyang, flashback ke kejadian tadi sebelum Luki pergi. dia sebenernya tadi sudah menunggu Rin satu jam lamanya tapi gadis itu tak kunjung muncul membawa makanan untuknya. Mungkin gadis itu sudah kabur entah kemana, pulang maybe? Hell... Itu tidak penting untuk dipikirkan. Lagi pula mana mau gadis itu mencarikan makanan untuknya? Mustahil sekali bukan mengingat hubungan mereka yang tak baik. Jangan lupakan fakta bahwa mereka selalu bertengkar.

Luki yang hampir sampai pintu kamarnya mengernyit melihat tetangga apartemenya mengerumuni depan kamarnya. Pemuda itu mendadak cemas memikirkan kemungkinan apartemenya kemalingan atau kebakaran, ia semakin mempercepat langkahnya penasaran apa yang terjadi.

"ada apa? Kenapa ini?"teriak luki kebingungan. orang-orang yang melihat kedatangan pemuda itu secara otomatis membukakan jalan agar Luki bisa dengan jelas melihat sumber keributan yang ternyata jauh diluar dugaan. Rin? Gadis itu duduk didepan pintu apartemenya seraya menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Sepertinya menangis, tapi kenapa? Benak Luki keheranan.

"Luki-kun, syukurlah kau datang. Nona ini terus saja menangis sejak tadi. Apa kau mengenalnya?" Luki menatap Miku kemudian mengangguk mengiyakan.

"apa dia pacarmu Luki-kun? Kasihan sekali dia sampai menangis seperti itu. Dia pasti sakit hati."

"mereka pasti putus, Luki yang memutuskan gadis itu." Luki seketika sweatdrop mendengar bisik-bisik orang-orang disekitarnya. Ini benar-benar akan menjadi gosip heboh minggu ini kawasan apartemenya. "sudah-sudah, sebaiknya kita kembali kekamar masing-masing. Biarkan mereka bicara." ujar Miku pengertian.

Luki benar-benar merasa harus berterimakasih pada Miku setelah ini, gadis itu dengan sukarela membantunya mengusir tetangga lain agar kembali kekamar mereka masing-masing. Setelah dirasa situasi sudah kondusif dan aman Luki mendekati Rin yang masih setia duduk didepan pintunya. Pemuda itu berjongkok seraya menatap gadis didepanya cemas. Walau bagaimanapun dia masih bertanggung jawab atas Rin kan? Walau sebenarnya situasinya sekarang terbalik sih.
"Rin?" Luki menyentuh pelan lengan gadis itu tetapi anehnya tak ada reaksi apapun.
"Rin? Kau baik-baik saja kan?" Luki mengguncang bahu gadis itu agak keras, membuat Lengan Rin terjatuh kesamping. Pluk! Luki seketika sweatdrop mendapati fakta bahwa gadis itu tidak menangis tapi ternyata tertidur. Sialan! Luki mendesah kesal. Tau begitu dia tidak perlu secemas tadi, hadeehhh... Luki mengacak rambutnya sendiri karena frustasi. Tapi kemudian pemuda itu malah tersenyum manis ngeliat wajah menggemaskan Rin yang lagi tidur. Pemuda itu sempat iseng-iseng noel-neol pipi rin yang ternyata lembut banget. Ahhh~ Luki jadi pengen cium. Plak! Luki menampar wajahnya sendiri. 'Apa yang aku pikirkan?' jeritnya merana. Tapi mumpung ada kesempatan dan gak ada yang liat kan? Luki terkekeh mengerikan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Rin. Deket... Deket... Hampir... Yak... Dikit lagi...

"apa yang sedang kau lakukan Luki-kun?"

Ngek! Luki menoleh pada asal suara itu. Matanya seketika melebar melihat Kaito dan Len yang berjarak beberapa meter darinya seraya menatap Luki datar. Hoo~ sepasang kekasih sudah kembali ternyata. Wajah Luki mendadak pucat, ia benar-benar mati kutu, tak bisa berkutik tertangkap basah dalam situasi runyam seperti itu lagi. Dijelaskanpun rasanya percuma saja. Len sepertinya sudah siap mencincangnya setelah ini. Mungkin memang inilah akhir riwayat hidupnya, Luki harus siap mengucapkan kata perpisahan pada semua hal didunia ini. #lebeh.

Suasana yang sudah horror itu bertambah lebih horror lagi ketika Rin yang merasa terganggu dalam tidurnya membuka mata. iris kehijauan Rin bertemu birunya laut milik Luki. Keduanya saling menatap satu sama lain dalam jarak wajah yang berdekatan. Heningg...
BlUSH! Wajah keduanya seketika merah padam. Kaito dan Len yang sejak tadi menonton cuma bisa menghela napas bersamaan.

TBC