Title: Love love
Cast : Megurine Luki, Kagamine Len
Side: Kagamine Len, Kaito Shion
Genre: Romance, comedy
Ini keknya Cuma 4 chap deh ==" sumpah aku gak bakat bikin ff panjang-panjang. Tapi entahlah... Gak betah mikirnya... chapter ini rada cepat dan seperti biasa abal-abal ama memukakkan! Buat yang mau mapir makasih banyak. Dan Gommennasai!
"Ya hei! Mesum tunggu aku!" Luki berjalan teropoh-gopoh(?) ngejar sosok cewek bersuai kuning menyala yang berjalan cepat sekali didepanya.
"Jangan ikuti aku bodoh!" Teriak ntu cewek yang tak lain adalah Rin dengan nada jengkel.
Luki berdecak, "Kalau bukan karena Len yang menyuruhku menemanimu hari ini ke toko buku aku juga tidak akan mau bodoh!"
Luki sempat mundur kaget ketika Rin tiba-tiba berhenti berjalan setelah mendengar ucapanya barusan.
"Jangan mengagetkanku begitu!" Luki mengelus dadanya tepat dimana jantungnya berdetak tak karuan. Rin berbalik menatap garang Luki.
" Ya kau sebut aku apa?"
"Apa? Mesum? Bodoh?" Luki menyenyeringai, tanpa tau aura mahluk(?)didepanya sudah sangat mengerikan.
"Kau benar-benar..." Rin menggertakan giginya geram.
"Apa kau mau apa?" tantang Luki, sama sekali tak takut dengan aura mengancam yg menguar dari tubuh mungil didepanya.
"Itaaaiiiiii!" teriak Luki berberapa detik kemudian setelah sebuah injakan maut bersarang dikakinya. Sementara Luki memegangi kakinya yang kesakitan Rin menggunakan kesempatan itu untuk lari.
"ya! Mau kemana kau gadis mesum!" teriak Luki mendapati Rin kabur darinya.
Luki dengan terpincang-pincang dengan rasa sakit dikaki kananya berusaha mengejar Rin tapi udah clingukan kiri-kanan ia tidak menemukanya dimanapun.
"Shit!" Luki mengacak rambutnya kesal.
Rin menghela napas melihat Luki yang berjalan melewati sebuah gang sempit yang merupakan tempat persembunyianya. Setelah dirasa aman ntu cewek keluar dari kegelapan gang. Menepuk beberapa bagian roknya yang terkena debu. Yosh! Ia berhasil kabur. Rin kembali melanjutkan perjalananya ke toko buku dengan hati riang gembira, tapi tak disangka ditengah jalan ia tak sengaja menyenggol bahu pejalan kaki lain.
"Maaf..." ujar Rin membungkuk minta maaf.
"Maaf saja tidak cukup nona."
DEG! Rin seketika mengangkat kepalanya. Bulu kuduknya seketika meremang(?),Iris kehijauanya bergerak-gerak gelisah mendapati seorang pria garang bertato yang tampak seperti yakuza berdiri menjulang didepanya. Tubuh kecil Rin refleks mundur perlahan merasakan hawa buruk didepanya. Beberapa orang pejalan kaki lain yang kebetulan lewat sempat menengok kearahnya tapi mereka kemudian acuh lagi seperti tidak melihat apa-apa. Mungkin mereka takut terkena masalah.
"Kau mau kemana nona?" sang pria garang didepanya berjalan mendekati gadis itu yang sudah pucat pasi. Mata rin refleks terpejam ketika tangan pria itu terulur hendak menyentuhnya. Siapapun tolong aku! Luki tolong aku!
"Tolong jangan ganggu pacarku tuan."
Eh?
Rin membuka kelopak matanya mendengar suara yang cukup dikenalnya itu. Matanya membola melihat Luki sudah berdiri dibelakang pria menyeramkan itu seraya mencengkram erat tanganya yang hampir menyentuh Rin.
"Shit pengganggu!" gerutu pria itu serara berjalan pergi.
Rin merasakan lemas, tubuh kecilnya merosot terduduk di trotoar jalan. Dia selamat!
Luki menghela napas selepas kepergian pria tadi, matanya beralih menatap Rin. Menghampiri cewek itu yang terduduk di jalanan, Luki berjongkok untuk melihat wajah Rin yang seperti orang linglung dan pandangan yang kosong.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Luki memastikan. Luki melihat Rin mendongak dengan ekpresi yang hampir menangis. Mungkin terlalu shock dengan kejadian ini.
Dan tanpa diduga...
Set!
Iris biru kepunyaan Luki membola ketika Rin tiba-tiba memeluknya erat. Menenggelamkan wajahnya didalam dada bidangnya. Luki merasakan kaosnya basah. Nangis huh?
"Huweeee~~~ aku takut sekali. Luki baka! Kenapa kau malah meninggalkanku tadi!" Isak Rin dipelukan Luki.
Sigh.
Luki memutar bola matanya jengah, 'sebenarnya siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan sih?'
"Oneechan, gelasnya sudah penuh." Rin yang sejak tadi melamun sambil menuang air digelas tersentak kaget mendenger suara adeknya. Gadis itu mengerang dan mengomel-ngomel sendiri mendapati gelasnya penuh dan air meluber keluar sampai ke meja membuat baju yang dipakainya ikutan basah karena tadi sempet mepet meja. Masih tetep menggerutu, Rin pergi kekamarnya untuk ganti baju. Len cuma bisa geleng-geleng prihatin ngeliatin tingkah aneh kakaknya belakangan ini. Sering melamun sendiri, sering senyum-senyum sendiri, kadang keliatan galau, kadang juga keliatan bahagia banget. Len benar-benar khawatir kakaknya itu ternyata memiliki indikasi stres or penyakit kejiwaan lain. Sudah seminggu kakaknya itu bertingkah tak wajar seperti itu, tepatnya setelah mereka pulang dari apato kaito dan Luki. Atau mungkinkah...
"Oneechan kita harus bicara." Len menyeret Rin yang baru saja keluar kamar untuk masuk kembali kedalam kamar. Pemuda itu menatap kakaknya penuh intimidasi.
"Oneechan, bertingkah aneh seminggu ini. Kenapa?" Len menyeringai dalem hati(?) melihat kakaknya yang gelagepan mendengar pertanyaanya. Rona kemerahan tampak menjalari wajah putih Rin. Len tampaknya mulai paham apa mengerti apa yang sedang dialami kakaknya ini.
"A-aku tidak bertingkah aneh." elak Rin.
"Oneechan, jujurlah padaku. Oneechan sedang jatuh cinta kan?" Blush...! Rin semakin merona heboh.
"Aku..tidak... "
"Oneechan suka pada Luki-san kan?" tebak Luki tepat sasaran, Rin sampai tak bisa berkutik dan mengelak lagi. Mungkin ini saatnya ia harus cerita tentang perasaan yang menganjal dihatinya tersebut.
"Aku memang tidak pernah bisa bohong padamu Len." Rin menghela napas panjang. Ia berjalan menuju ranjangnya diekori oleh Len, keduanya duduk bersebelahan dikasur.
"Sejak kapan?" tanya Len penasaran. Pemuda itu memperhatikan raut tertekan kakaknya.
"Entahlah? mungkin seminggu..."
"oh~" Len mengangguk-angguk mengerti, mungkin maksudnya sejak Luki mengantar Rin ke toko buku waktu itu. Pasti telah terjadi sesuatu diantara mereka. kekeke~ Len harus memberitahu sang seme setelah ini.
"Leeennn~ Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rin frustasi. Dia bisa gila kalau begini terus.
"tenang onechan, aku dan kaito akan membantumu."
"Jangaaannnn, jangan ceritakan ini pada siapapun." kata Rin panik.
"Kenapa?"
"Pokoknya aku tidak mau siapapun tau tentang ini. "
"Bahkan luki juga tidak boleh tau?" Rin meringis mengangguk mengiyakan.
"Baka Oneechan!"
Rin berdiri gugup didepa pintu. Ia terus saja meremas lengan Len disampingnya sampai pemuda itu sejak tadi berteriak kesakitan.
"Oneechan, tenanglah~" Len berusaha melepaskan lenganya yang menjadi korban kekerasan kakaknya sendiri.
"Tapi aku gugup sekali," Len memutar bola matanya jengah,
"Semua akan baik-baik saja. Serahkan padaku." ujar Len menenangkan kakaknya itu, tapi Rin tetap tak berhenti gugup. Gadis itu malah semakin terlihat gugup luar biasa ketika Len mengetuk pintu.
Ceklek! Pintu bergeser, sosok Luki muncul dari balik pintu.
"Oh kalian..." ujarnya tak terkejut.
"Ohayou Luki-kun..." sapa Len dengan senyum. Luki membalas sapaan itu, kemudian matanya bergulir pada Rin yang sejak tadi terlihat lebih tenang dari biasanya.
"Kaito sedang pergi, dia akan kembali sebentar lagi. Kalian masuklah~" Luki membuka pintu semakin lebar. Dua saudara kembar itu masuk dan duduk manis disofa sementara Luki menghilang setelah itu. Rin menarik-narik lengan Len membuat adiknya menoleh.
"Apa?" Tanya Len datar.
"Uhm..." Rin memainkan jarinya gugup membuat sang adik memutar bola matanya untuk kesekian kalinya hari ini. Percakapan keduanya harus terinterupsi ketika Luki muncul dengan baju yang sudah ganti dan juga sebuah tas gendong tersampir dibahunya.
"Luki-kun mau kemana?" tanya Len kepo.
"oh~ aku ada pemotretan hari ini."
"Aku tidak tau kau ternyata model, ini kereeennn~" komentar Len berbinar kagum.
"Oh bukan, aku fotografer!" jelas Luki,
"oh... Hehe..." Len ngehe gaje, mendapati dirinya ternyata salah paham.
"Sudah ya, aku pergi. Kalian tunggulah kaito disini." Pemuda bersurai itu berjalan ke pintu. tapi langkahnya harus terhenti merasakan seseorang menarik ujung jaketnya. Luki menoleh, dahinya mengernyit mendapati ternyata Rin yang melakukanya.
"A-aku ikut." gumam gadis itu dengan kepala menunduk. Tapi Luki masih bisa melihat sedikit semburat kemerahan dipipi gadis itu. Manis sekali, membuat Luki menyeringai dalam hati tapi tetap berwajah datar.
"Boleh saja..."
Suasana Taman siang itu begitu ramai dengan banyaknya orang-orang yang berkumpul untuk melihat pemotretan. Disalah satu bangku taman tak jauh dari lokasi pemotretan siang itu, Rin duduk sendirian sambil sesekali menghela napas bosan. Bertopang dagu, gadis itu menatap Luki dan teman-temanya yang sedang sibuk bekerja. Rasanya menyesal juga dia mengatakan ingin ikut. Ia kira pemotretanya akan sebentar lalu mereka bisa pergi berdua, tunggu! Apa yang sebenarnya ia pikirkan sih! Rin memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Hai..." Rin mengangkat wajahnya mendengar suara itu. Ia sedikit merasa takut melihat seorang pemuda berambut ungu gondrong berdiri didepanya, wajahnya tampan tapi sekalipun tampan seorang gadis tetap harus waspada kan?
"Tenanglah aku bukan orang jahat, aku temanya Luki." pemuda berambut ungu itu menunjuk pada Luki dan gorombolan temanya yang terlihat tengah beristirahat.
"O-oh~"
"Kau manis sekali. apa kau pacar Luki?" pertanyaan itu sukses membuat Rin merona.
"Jangan ganggu dia gakupo-kun." Rin dan pemuda berambut ungu itu menoleh pada pemilik suara itu. Luki berjalan menghampiri keduanya dengan wajah kesal?
"Ops! Maafkan aku Luki, aku tidak bermaksud merebutnya darimu." gakupo angkat tangan menyerah.
"Jangan salah paham, dia bukan pacarku. " kata Luki datar.
"Oh? Benarkah? Sayang sekali padahal dia manis. " komentar Gakupo.
"Sudah cepat kembali sana. Pemotretan hampir dimulai lagi."
"Nah, nona manis sampai jumpa." Gakupo melambai pada Rin, gadis itu membalasnya dengan senyum yang dipaksakan. Setelah gakupo pergi susasana menjadi canggung. Baik Luki atau Rin keduanya sibuk gergelut dengan pikiranya sendiri. Rin tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Luki, dia terlalu malu dan takut untuk melakukan itu
"Aku benar-benar merasa heran tiba-tiba kau mengatakan ingin ikut. Apa ini niatamu sebenarnya?" tanya Luki kesal seraya melipat tangan depan dada.
"Aku hanya..."
"Kau ingin menarik perhatian teman laki-lakiku kan? Itu niatanmu sebenarnya? Hah! Harusnya aku tau dari awal." Rin merasa tertusuk sekali mendengar kata-kata Luki. Dadanya seketika sesak sekali. Ia tidak menyangka Luki akan berpikir dirinya sepicik itu. Padahal niatnya tadi tidak seperti itu. Dia hanya ingin lebih lama bersama luki semenyebalkan apapun pemuda itu padanya.
"Hah! Sudahlah, lupakan apa yang aku katakan tadi." ujar Luki seraya berbalik kemudian kembali pada gerombolanya karena pemotretan segera dimulai tanpa menyadari wajah Rin yang terlihat hampir menangis.
Sepanjang pemotretan kedua Luki tidak bisa fokus pada pekerjaanya menyebabkan hasil kerjanya kurang maksimal. Benaknya terus saja memutar kejadian tadi dan kata-kata yang dirasanya sudah keterlaluan untuk diucapkan. Mungkin tadi dia memang terlalu keras pada Rin. Luki benar-benar harus minta maaf pada Rin setelah ini. Ia tadi hanya marah. Harusnya dia bisa mengontrol dirinya sendiri, tapi entah kenapa ketika melihat gadis itu bersama Gakupo tadi dia merasa kesal luar biasa. Apalagi melihat gadis itu tersenyum ketika gakupo melambai padanya. Luki merasa terbakar saat itu juga. Dia sangat ingin menonjok gakupo tapi itu tidak mungkin mengingat gakupo adalah temanya. Jadilah dia melampiaskan kekesalanya pada Rin.
"Luki fokus, jangan melamun." seru gakupo menyadarkan Luki dari lamunanya, pemuda itu kembali berusaha fokus pada pekerjaanya, setidaknya dengan begitu dia bisa cepat-cepat bertemu Rin untuk minta maaf.
Pemottretan berlalu sejam kemudian. Luki berpamitan pada teman-temanya satu persatu setelah itu dia segera berlari ke tempat Rin tadi menunggunya. Tapi betapa kecewanya dia tak menemukan gadis itu disana. Luki mengelilingi sekitar taman itu, dia bertanya pada orang-orang tapi tak seorang pun melihat gadis itu. "Shit!" Luki meremat rambutnya sendiri.
Luki memencet beberapa angka ditepon rumahnya. Terdengar beberapa kali suara telpon tersambung keseberang. Luki menunggu dengan cemas sambil menggigit kuku.
'halo?' Suara Len.
"Lenn?"
"Oh.. Luki, ada apa?"
"Bisa aku bicara dengan Rin." agak lama Luki menunggu jawaban Len.
"oneechan sudah tidur, "
"Oh... Kalau begitu terimakasih Len. Mungkin aku akan telpon besok saja."
'Apa kalian bertengkar?'
"Tidak. Sudah ya... Bye~" Luki meletakan gagang telpon ditempatnya. Pemuda itu mendesah panjang, Rin tidak mau bicara denganya Luki tau tadi Len pasti berbohong padanya atas suruhan sang kakak. Kalau begini caranya dia harus memikirkan cara lain agar bisa bertemu Rin. Ya,,,, cara lain. Tapi bagaimana caranya? Luki berjalan sempoyongan kekamarnya. Ia menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Pemuda itu berbaring terlentang ditempat tidurnya sambil tetap berpikir. Berdecak, pemuda itu meraih sesuatu dinakas. Beberapa lembar photo, photo Rin dengan wajah gaalaunya yang tadi sempat dia ambil diam-diam disela waktu pemotretan. Manis sekali, gakupo benar. Rin memang manis, sayang sekali mereka bukan sepasang kekasih. Sepasang kekasih huh? Luki tersenyum sendiri atas pemikiranya barusan.
Pagi hari yang cerah, Kaito duduk dimeja makanya sendirian. Tenang, damai, dan elegan menikmati secangkir teh tanpa gula seraya membaca koran pagi. Rutinitas yang selalu dilakukanya sebelum memulai hari, tapi naas ketenangan pagi itu harus terganggu ketika Luki muncul dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan sehabis bangun tidur. Pemuda itu duduk didepan kaito seraya menyisir rambutnya sendiri dengan jari.
"Ohayou... luki-kun. Apa tidurmu nyenyak, kau bermimpi indah kan?" tanya kaito bak seorang ibu pada anaknya.
"Aku mimpi buruk." jawab Luki tanpa ekpresi.
"Sayang sekali." sesal kaito sambil menyeruput tehnya.
"Kaito-san," Panggil Luki ragu-ragu yang idjawab genungan dari kaito. Dia sebenarnya tak yakin mau menceritakan masalahnya pada kaito. Tapi mau bagaimana lagi. Kaito kan satu-satunya orang yang paling dekat denganya dan kaito tentunya lebih pengalaman menghadari orang ngambek.
"Menurutmu ketika seorang gadis marah apa yang harus kita lakukan agar gadis itu memaafkan kita?" Byurrr! Kaito seketika menyemprotkan teh yang sedang diminumnya. Luki bersyukur mereka terhalang meja. Sehingga cipratanya tidak mengenai dirinya.
"ewww... Itu menjijikan kaito-san." ujar Luki iritasi.
"Maaf, pertanyaanmu benar-benar diluar dugaan."Kaito menarik beberapa lembar tisu untuk mengelap tumbahan teh dimeja.
"Aku bertanya hal yang wajar."Luki memutar bola matanya jengah.
"Ini menjadi tidak wajar kalau kau yang bertanya."
"Sudahlah cepat jawab saja pertanyaanku." paksa Luki tak ingin berlama.
"Memangnya siapa gadis yang sedang kau sukai?" tanya Kaito penasaran, glup! Luki seketika bingung mau jawab apa. Bohong atau jujur saja ya?
"Aku tidak akan membantumu kalau kau tidak mengatakan siapa gadis itu." Luki mendengus mendengarnya, bisa-bisanya sepupunya ini memonopoli dirinya.
"Baiklah... Baiklah... Rin. Kau puas?" jawab Luki akhirnya. Wajah Kaito seketika ceria sekali mendengar fakta bahwa yang disukai Luki itu Rin.
"Rin? Aku sudah menduganya." kaito menggosok dagunya nemapakan ekpresi berpiki.
"Sudahkah? Sekarang jawab pertanyaanku tadi." Luki mengernyit melihat kaito yang menghela napas.
"Entahlah Len, aku tidak tahu jika menyangkut Rin. Gadis itu sedikit berbeda. Dia tidak seperti gadis kebanyakan yang menyukai "
"Entahlah Luki, aku tidak tahu. Rin itu berbeda dari gadis-gadis lain. Dia sepertinya tidak menyukai hal-hal romantis."
"benarkah? Bagaimana kau tau?"
"karena dulu aku menyukainya, sebelum aku bersama dengan Len."
iris kebiruan Luki melebar detik itu juga.
TBC
==" astaga apa ini?
