Author: Athiya064/Kyung064
Title:
Mind if I Knock In?
Cast: Lee Taeyong, Jung Jaehyun, Mark Lee, Johnny Seo, Ten Chittaphon
Other Cast:
NCT, SM, YG, JYP artists & other.
Genre:
Romance, hurt, Hogwarts!AU
Language:
Indonesian.
Desclaimer:
I do not own the characters.
Words:
Contacts:
athiya064 on line/twitter/ig

"Aku bersumpah akan merubahmu menjadi katak rawa di kelas transfigurasi nanti, Jung! Lihat saja!"

. . .

Sementara itu Taeyong berjalan pelan menyusuri tangga dan menuju ke arah asramanya, sudah sepi, tapi belum jam malam. Ia mendengar lukisan-lukisan berbicara mengenai beberapa auror yang menangkap penjahat dan menjebloskannya ke penjara. Mendengar itu makin bulat tekadnya menjadi seorang auror, baginya itu adalah pekerjaan terkeren sedunia sihir, membasmi orang-orang jahat dan menjebloskan mereka ke azkaban.

Ya, kalau saja Taeyong ingat ayahnya adalah seorang mantan narapidana Azkaban, sama seperti ayah Yuta dan beberapa anak lain. Bedanya adalah keluarga Yuta menutupi hal ini dari publik karena ayahnya adalah orang penting, sementara keluarga Taeyong mendapat perlindungan dari kementrian sehingga kasusnya tak terbuka untuk publik, lagipula ayahnya hanyalah korban.

Tidak ada yang pernah tahu mengenai berita ini, keluarganya menyimpan berita ini rapat-rapat. Bahkan ibunya yang seorang mugglepun tak tahu berita ini. Ibunya memang tahu ayahnya adalah penyihir, tapi ibunya tidak pernah tahu dunia penyihir yang sesungguhnya. Bahkan ketika surat dari Hogwarts datang, ayahnya berbohong pada ibunya bahwa Hogwarts ada di Prancis. Sebuah sekolah seni.

Sekolah seni? Konyol bukan? Tapi dengan itu ibunya tidak bertanya macam-macam, apalagi jarak Korea dengan Eropa yang jauh. Ya meskipun Taeyong khawatir sih, barang-barang muggle sudah begitu canggih, meski masih belum bisa menemukan peta letak Hogwarts dalam GPS, sampai-sampai ibu Taeyong mengiranya sekolah di pedalaman karena tidak tercantum dalam situs manapun.

Oh ayolah bu.

Disini hanya kenal daily prophet, bukannya situs pencarian seperti gugle, yuhu, bang, atau yang lain.

Oh iya, kembali lagi pada ayahnya. Sebenarnya Taeyong itu memiliki adik kecil bernama Lee Jisung, ia lahir dan dibesarkan di Seoul. Ayahnya adalah orang yang berkharisma, baik hati, dan penyayang keluarga. Sampai kemudian Taeyong sadar ada yang berbeda dengan dirinya, yaitu kemampuan sihir, dan itu ternyata diwarisi dari ayahnya.

Ia ingat malam itu, ayahnya mencium kedua pipinya dan menyerahkan surat untuknya. Surat dari Hogwarts dan menjelaskan bahwa ia bisa menempuh sekolah di dunia sihir, maupun sekolah di dunia manusia biasa. Tapi Taeyong kecil begitu bersemangat ingin jadi seperti ayahnya, jadi ia memutuskan untuk pergi ke Hogwarts.

Dua tahun berlalu, sampai tiba-tiba proffesor Leo memanggilnya di tengah pelajaran herbologi. Ia tidak tahu apa-apa, yang jelas profesor itu merupakan profesor mata pelajaran pertahanan ilmu hitam. Dan merupakan seorang auror juga, cukup ditakuti oleh beberapa murid karena wajahnya yang tegas dan minim ekspresi. Tapi kala itu, kabar berita yang ia bawa jauh lebih mengejutkan.

Profesor itu mengajaknya ke ruangan, disana juga ada ibu kepala sekolah. Bahkan ruangan harus dimantrai oleh mantra kedap suara. Taeyong yang saat itu bahkan belum mencapai usia legal hanya diam, ia takut apakah ia melakukan kesalahan hingga harus diberi detensi?

"Ayahmu baru saja dijebloskan ke azkaban, ia tertangkap bersalah karena mengeluarkan kutukan tak termaafkan."

Bagai disambar petir Taeyong merasa akan roboh saat itu juga, usia muda bukan berarti ia tidak tahu apa saja kutukan-kutukan tak termaafkan tersebut. Dan ia yakin ayahnya tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Ibu kepala sekolah merengkuh tubuhnya, "Kami yakin itu hanya kesalahpahaman, yang memberatkan ayahmu besok adalah karena tidak ada saksi mata di tempat kejadian. Bahkan mereka menuduh ayahmu seorang death eaters,"

"AYAH BUKAN PELAHAP MAUT!" ibu kepala sekolah makin mengeratkan pelukannya, "Iya kami tahu, kami akan datang ke pengadilan Taeyong. Kembalilah ke kelasmu, kami berjanji akan mengeluarkan ayahmu secepatnya."

Dan kasus itu terbukti tidak benar, ayahnya hanya dituduh. Saat itu ayahnya berjalan mencari daun-daun yang bisa dipakai untuk meramu, namun rupanya ada death eaters yang mengikutinya. Sosok yang tidak diketahui itulah yang berniat melontarkan kutukan membunuh ke ayahnya, tapi kutukan dengan sinar hijau itu meleset dan mengenai seorang unicorn yang tak jauh dari sana. Sungguh perbuatan terkutuk, membunuh makhluk suci seperti itu.

Oleh karena itu ayahnya membenci para auror yang langsung ambil tindakan tanpa mengetahui kenyataannya terlebih dahulu. Tak perduli seberapa ingin Taeyong menjadi auror, ayahnya pasti akan melarang. Kalau begitu percuma saja hasil O. sempurna. Mungkin nanti ketika mengambil N.E.W.T ia akan menyerahkan form aplikasinya untuk menjadi seorang ahli ramuan, atau mungkin bekerja di kementrian. Sial, padahal jadi auror pasti sangat menyenangkan.

"…Kenapa kau tidak pergi dengan gadis-gadis dari asramamu saja?!"

Langkah Taeyong berhenti mendengar suara yang familiar di telinganya, tidak banyak siswa dengan aksen Thailand seperti itu selain temannya yang tadi mogok makan di aula besar. Karena penasaran Taeyong memilih mengintip ke menara Gryffindor yang sedang sepi itu. Apa Ten bertengkar dengan seseorang? Atau Ten menyelundupkan barang muggle persegi—ponsel— lagi? Dia mau kena detensi lagi apa?

Kadang Taeyong bingung, Ten merupakan seorang pure-blood yang tinggal di dunia muggle dan tertarik dengan barang-barang muggle lebih parah daripada Taeyong yang seorang half-blood.

Namun matanya terbelalak mendapati Ten berdiri di hadapan sosok yang jauh lebih tinggi darinya, Johnny Seo? Sedang apa seorang Slytherin menyelinap ke menara Gryffindor? "Aku hanya akan pergi dengan pacarku saja, dan itu kau."

"Kau sungguh banyak omong, Slytherin palsu." Maki Ten ganas, tapi tunggu dulu. Pacar? Woah! Ten pasti sudah gila, baru kemarin rasanya ia memaki-maki anggota Quidditch asrama dengan lambang ular hijau itu sekarang tiba-tiba mereka menjalin hubungan? "Kau sudah berjanji Ten, kupastikan kau pergi denganku. Aku tunggu kau di depan hall,"

Buru-buru Taeyong menyembunyikan badannya dan membiarkan Johnny berlalu, tapi ia langsung menghadang ketika Ten akan keluar. "Ten, aku rasa kita butuh bicara bukan? Jadi itu alasan kau uring-uringan sepanjang hari, hm?" dan Ten yang sudah berhadapan dengan mata setajam elang milik Taeyong pun hanya mengalah seperti tikus yang terperangkap.

.

..

"Jadi kau kalah taruhan dan terpaksa berpacaran dengannya? Dan kau tidak punya pilihan untuk pergi ke pesta selain bersamanya?" Ten mengangguk-angguk, mereka sudah bersiap tidur di tempat tidur masing-masing. Taeyong menyalakan lumos dengan intensitas rendah, ia masih membaca untuk materi besok.

Sementara itu Ten sendiri menenggelamkan kepalanya di bantal, mungkin dia harus meminta Taeyong merapalkan mantra obliviate supaya dia tidak kenal siapa itu Johnny. "Kau yakin, Ten?"

Mendengar suara itu membuat Ten mendudukkan tubuhnya lagi, melihat Taeyong yang bahkan tidak bergeming dari bukunya. "Kau bahkan tidak pernah mengalah denganku, tidak juga dengan Doyoung. Lantas mengapa kau tak berkutik dengannya? Dia bahkan tidak memberikan ramuan cinta padamu,"

Mulut Ten terbuka bersiap membantah, tapi ia tidak mengeluarkan suara apapun. "Kau menyukainya? Kalau tidak kau tidak akan mungkin menerimanya Ten, kau kan sudah biasa menolak orang, mengapa kali ini tidak? Mudah sekali bagimu untuk kalah taruhan," wajah lelaki Thailand itu memerah, "Aku tidak mencintainya!"

Taeyong tersenyum kecil, lebih mirip seringaian. "Aku tidak bilang kau mencintainya, jangan mengelak Ten. Kau tahu kemampuan legilimencyku baik. Aku tidak segan-segan melakukannya untuk mencari info yang sebenarnya loh,"

"Sial! Ah! Tidak tahu! Aku mau tidur, berhenti membaca dalam keadaan gelap, Tae."

"Night Ten," balas Taeyong jahil sambil tersenyum singkat.

Oh oke, apa ia sudah berubah jadi pakar cinta sekarang? Membantu Taeil dan Doyoung, menyakinkan Ten tentang perasaannya? Entahlah. Ngomong-ngomong pesta dansanya dua hari lagi dan ia tidak punya pasangan untuk pergi. Sepertinya ia benar-benar harus kabur.

. . .

"U-uh Jay, apa kau.. mau pergi.. bersamaku?"

"No! Jaehyunnie, bagaimana kalau kau menjadi pasangan kencanku?"

"Tidak, Jung hanya bisa pergi bersamaku karena orangtua kami adalah kerabat dekat. Jadi, menjauh kalian semua. Apa kalian lupa kalian tidak sederajat dengan kami?"

Mendengar itu gadis-gadis maupun lelaki yang berniat mengajak Jaehyun ke pesta mendadak mundur, itu Yeri Kim. Dia juga anak dari penyihir berdarah murni, kakeknya merupakan teman baik kakek Jaehyun, sementara paman iparnya adalah sepupu dari ibu Jaehyun. Wajahnya cantik dan penampilannya elegan, benar-benar sebanding dengan Jaehyun sendiri.

"Aku tidak pergi ke pesta itu, tidak juga denganmu, Yeri." Tanpa mengucap apa-apa, Jaehyun melangkah dari tempat itu dengan dagu terangkat. Menyisakan orang-orang yang mengerumuninya memasang wajah kecewa, termasuk Yeri sendiri. "Aku akan bilang pada kakek untuk menentukan tanggal pertunangan kita! Lihat saja!" gerutunya, lantas menatap kerumunan siswa di sekelilingnya. "Apa lihat-lihat?!"

Membuat murid-murid yang lain segera menghindarinya, sementara Jaehyun sendiri tampak tidak terlalu ambil pusing. Yuta menepuk bahunya kencang, dan ia membalasnya dengan lirikan tajam. "Kau serius tidak pergi dengan Yeri? Tidak kusangka," Jaehyun menggeleng. "Aku tidak pergi dengan siapapun, kecuali kalau Chaeyeon pindah dari Beauxbatons."

"Kau benar-benar punya crush dengan sepupu cantikmu itu?" kali ini Johnny yang menyahuti, "Tentu saja tidak, idiot. Aku dan Chaeyeon itu sama, kita sudah dipersiapkan takdirnya. Kita tidak akan punya pasangan sampai waktu yang ditentukan, dan kami tidak tertarik untuk berkencan. Lagipula hanya dia yang bisa membantuku menghindar dari godaan gadis-gadis kelaparan itu, dia juga beruntung karena tidak digoda oleh lelaki-lelaki kurang ajar. Itu sebabnya Chaeyeon pindah ke sekolah sihir khusus wanita, dia punya trauma tersendiri," jelasnya, cukup jarang Jaehyun berbicara panjang lebar seperti itu.

Baik Johnny dan Yuta sama-sama mengenal Chaeyeon meski tidak dekat, dua sepupu Jung itu memiliki pembawaan yang mirip. Sifat dingin namun anggun dan wajah kelewat rupawan. Mereka selalu bersama sampai tahun keempat sampai tiba-tiba Chaeyeon pergi dari Hogwarts. Ternyata itu alasan mengapa Chaeyeon masuk ke sekolah wanita.

Mereka masuk ke kelas ramuan bersama-sama dengan siswa dari asrama lain, "Bisakah kau berhenti tertawa, Youngho? Kau seperti troll hutan yang bodoh kalau tersenyum terus," itu Yuta dan kata-kata pedasnya yang seperti bom waktu, siap meledak kapan saja. Mereka bertiga tahu kalau Youngho kini ada hubungan spesial dengan anak dari singa merah yang berdiri tak jauh dari mereka. Dan membuatnya jadi aneh, biasanya seorang slytherin akan menjaga image, tapi dia lebih mirip orang gila.

Itu Mr. Lau, keturunan Kanada dan China. Pengajar ramuan yang menyenangkan, namun sayang harus benar-benar bekerja keras untuk bisa dapat nilai sempurna disini. Profesor Lau—anak-anak lebih suka memanggilnya Henry karena dia terlalu akrab— belum memerintahkan apapun. Namun Jaehyun berinisiatif mempersiapkan kualinya untuk meramu terlebih dahulu. Ia juga meletakkan buku panduannya di atas meja.

Masih ada sisa waktu sembari menunggu anak-anak yang belum hadir, Jaehyun sengaja mengambil tempat sejauh-jauhnya dari Yuta yang buruk di pelajaran meramu. Kalau Johnny sih setara dengan dirinya, jadi tidak masalah ada di dekat Johnny dan—chaser quidditch Gryffindor serta teman kutu bukunya yang menyebalkan. Oh jangan kira Jaehyun lupa dengan insiden kecoa di kelas transfigurasi tempo hari itu ya. Sejak kapan mereka dekat dengan Gryffindor? Cinta memang membutakan otak Johnny.

Terkejut? Tidak perlu, memang pembawaan Johnny suka seenaknya. Tapi ia masih seorang penyihir yang gigih dan sungguh-sungguh, ambisinya sebagai seorang Slytherin tidak akan berhenti begitu saja. Termasuk cintanya yang sudah ia pendam hampir satu tahun lamanya. Semenjak itu Johnny selalu mengamati Ten Leeichai—abaikan, namanya terlalu susah— dan berusaha menarik perhatiannya.

Syukur saja mereka sudah terjalin dalam sebuah hubungan, meski kelihatannya masih main-main dan Ten yang menolak sepanjang waktu. "Tae, kau sudah mengajak anak-anak ravenclaw yang kau katakan padaku itu hm?" Taeyong mematung, menghentikan sejenak kegiatannya membersihkan peralatannya, Jaehyun baru tahu Taeyong suka sekali bersih-bersih. Tapi ia jelas menangkap bagaimana Taeyong berusaha mengalihkan tatapannya. "Kurasa aku tidak pergi, Ten."

"Jangan gila! Kau ini dikenal oleh professor Henry. Dia pasti mencarimu kalau kau tidak datang, kau bilang kau dekat dengan gadis-gadis ravenclaw yang menawan itu?" desak Ten lagi, "Iya tapi aku tidak punya waktu mengajak mereka. Lagipula, ini sudah kurang sehari, mereka pasti sudah punya pasangan."

Ten memukulkan pengaduk kualinya ke punggung sahabatnya itu, membuat sasarannya mengaduh pelan. "Ten!" peringatnya. "Kau menyuruhku pergi dengan dia, tapi kau kabur?! Awas saja, aku akan menggeretmu kalau kau tidak datang-datang! Cepat hampiri Sejeong atau Nayeon," gertak Ten lagi, "Aish, baik-baik. Akan aku lakukan setelah ini,"

Kelas hening beberapa saat ketika profesor Lau berdiri di tengah ruangan, dengan senyum ramah dan jubah berwarna maroon miliknya. "Kali ini kita akan belajar ramuan yang ada di tingkat advanced, artinya ramuan ini tidak mudah untuk dibuat dan memakan waktu yang lama. Tapi ramuan ini merupakan ramuan penting, terutama untuk yang ingin bekerja menjadi auror ketika lulus nanti."

Mendengar itu Taeyong langsung menegakkan kepalanya, Jaehyun mengamati hal itu diam-diam. Apa lelaki itu berkeinginan bekerja menjadi auror? Tidak disangka, tubuhnya kan kecil. Bagaimana kalau berhadapan dengan pelahap maut yang biasanya bertubuh kekar? Dia lebih pantas bekerja di laboratorium dan jadi ahli herbologi atau ahli ramuan.

"Ramuan ini adalah ramuan veritaserum, ramuan yang akan memaksa peminumnya untuk menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Walau ada batasan penggunaannya, ramuan ini tetap sangat berguna, tapi ingat, aku mengajarkannya hanya semata-mata agar kalian mengerti cara membuatnya, dan kalian tidak dapat menggunakannya sembarangan karena penggunaan ramuan ini dibatasi oleh kementrian."

"Silahkan bekerja secara individu dan petunjuknya ada di buku halaman 87, pengumpulannya adalah seusai purnama bulan ini. Apa kalian mengerti?"

Gumaman tanda mengerti terdengar, Mereka pun mulai meramu dalam kelas 120 menit itu di bawah pengawasan Henry tentu saja. Sementara Henry berkeliling dari meja ke meja, membantu Yuta yang melelehkan gelas ukurnya. Dan beberapa anak Gryffindor yang selalu tampak tidak serius. Sepertinya akan jadi waktu yang panjang untuk meramu sebotol veritaserum saja.

.

..

Taeyong menyisir rambutnya dengan jari, ia harus menghampiri anak-anak ravenclaw yang kebanyakan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Dengan tekad bulat ia melangkah yakin ke perpustakaan, sekalian mencari referensi untuk membuat veritaserumnya. Ia tidak boleh gagal.

Begitu masuk Taeyong langsung berbelok ke area buku-buku yang memuat tanaman sebagai bahan dasar ramuan, dan beruntung di lorong ia bertemu dengan Nayeon. Dia adalah ketua murid ravenclaw yang rupawan, Taeyong sendiri cukup dekat dengannya karena mereka pernah ada di beberapa kelas yang sama. "Sendiri saja Taeyong? Apa kau membutuhkan sesuatu?"

"U—uh, hai? Y-ya aku sedang mencari bahan referensi untuk ramuanku," kenapa jadi gugup begini? Tidak seharusnya bukan? "Aku kira kau sedang tertarik belajar herbologi, mau aku bantu?" dan Taeyong tidak bisa untuk tidak mengangguk. Tentu ia butuh bantuan Nayeon bukan?

Ia mengekori Nayeon yang mengembalikan buku-bukunya, "Jadi kau mau buat ramuan apa?" tanyanya dengan suara lembut, "Veritaserum." Jawab Taeyong cepat-cepat, Nayeon tiba-tiba berbalik membuat lelaki itu harus mundur selangkah karena terkejut. "Rupanya profesor Lau sudah sampai di bab yang cukup jauh, ramuan itu memang susah. Tapi kalau tidak salah aku pernah menemukan bukunya, ah, itu!"

"Uhm, Nayeon. Apa kau pergi ke—pesta? Maksudku pesta prof Lau?" tanya Taeyong ragu, membuat Nayeon yang sedang memegang buku tebal itu diam, oh wanita ini mengingatkan Taeyong pada Doyoung karena gigi lucunya yang mirip kelinci. "Seharusnya tidak Tae, karena aku tidak mengambil kelasnya. Tapi.. Bobby mengambil kelasnya dan dia sudah mengajakku terlebih dulu, maaf."

Nayeon memandang Taeyong merasa bersalah, "Hei, tidak apa-apa Nayeon. Aku yang terlalu terlambat baru mencari pasangan di hari ini." Hibur Taeyong, "Terima kasih bantuannya ngomong-ngomong," lanjutnya lagi kemudian ia mengambil alih buku dari teman perempuannya itu.

"Syukurlah, aku kira kau akan marah. Aku benar-benar minta maaf, mengapa kau tidak coba mengajak Sejeong? Sepertinya dia belum punya pasangan, kalian cukup dekat bukan?" Merasa mendapat pencerahan ia buru-buru mengucap terima kasih dan menghampiri Sejeong—adik tingkatnya— yang menurut info Nayeon sedang asyik membaca di bagian sejarah sihir.

Yang kali ini Taeyong harapkan adalah ia tidak akan ditolak oleh adik tingkat anggota paduan suara Hogwarts itu. "Permisi Sejeong, apa aku mengganggu waktumu?"

Perempuan itu mengangkat wajahnya, ia buru-buru melepaskan kacamatanya dan membungkuk sekilas. Rambut pirangnya dikuncir ekor kuda dengan rapi, bergerak ketika ia membungkuk. "Sunbae!" sapanya dalam bahasa Korea, ah Taeyong selalu suka ketika orang-orang masih berbicara dengan bahasa ibunya.

"Sejeong, apa kau akan pergi ke pesta dansa milik Mr. Lau?" tanyanya tanpa basa-basi, "Oh, aku tidak mendengar beritanya. Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan persiapan O.W.L-ku," jawabnya riang. "Jangan terlalu kaku begitu, kau pasti melaluinya dengan mudah. Aku ingin bertanya, apa kau keberatan untuk pergi bersamaku ke pesta itu?"

Seulas senyum menghiasi wajahnya, "Tidak, tentu saja tidak." Jawabnya dengan senyuman lagi, ah ravenclaw benar-benar gudang perempuan cantik dan elegan. "Kalau begitu, sampai jumpa di depan hall." Taeyong tersenyum lebar kemudian berpamitan dengan Sejeong yang langsung membungkukkan badannya, "Sampai jumpa, sunbae."

. . .

"Jasmu kelihatan keren, Ten." Puji Taeyong, ia mengenakan tuxedo biasa dengan kemeja putih dan celana kain, dilengkapi dasi kupu-kupu yang tersemat rapi di kerah bajunya. Pakaian yang sama yang selalu ia kenakan setiap kali ada pesta. Ten sudah menganjurkannya untuk membeli baju baru ketika mereka pulang musim panas, tapi Taeyong selalu menolak. Padahal Ten sendiri sudah ingin membelikan Taeyong baju-baju terbaik, tapi sahabatnya itu selalu menolak.

Untung saja Taeyong berwajah rupawan, sehingga pakaian apa saja akan terlihat bagus kalau ia yang mengenakan. Sementara Ten sendiri, ia tentu mengenakan pakaian terbaiknya yang baru saja datang dikirim burung hantu pos kemarin. Kalau saja ia tidak ingat ia akan pergi dengan Johnny tentu Ten mungkin sudah mengajak perempuan paling cantik di sekolahnya ini. Sekali lagi membuat siapapun meragukan status darah Ten sebagai seorang berdarah murni karena tingkahnya yang sama sekali tidak mirip penyihir.

Jas yang ia kenakan berwarna biru navy, dengan kemeja putih gading di dalamnya. Kalau tidak salah merknya itu Zoro, itu brand terkenal di kalangan anak muda muggle. Dia bilang dia mau cari warna selain hitam dan yang bukan jubah, lucu sekali. "Kau sepertinya sudah sangat siap, cepat berangkat, mungkin saja pangeranmu itu sudah menunggu." Canda Taeyong.

"Berhenti mengatakan hal menjijikan Tae! Aku bahkan ragu apa dia sudah bersiap dia terlihat buruk tadi setelah kelas mantra,"

"Oh kau sudah memperhatikan kebiasaan Johnny rupanya," Taeyong tertawa senang begitu mendengar Ten masuk perangkapnya, sementara Ten menahan diri untuk tidak menyerang Taeyong dengan mantra pembungkam suara. "Ngomong-ngomong, kau belum mengatakan padaku dengan siapa kau akan pergi?"

Taeyong nyengir lebar, Ten pasti akan terkejut kalau ia datang dengan Sejeong. Salah seorang gadis cantik di Hogwarts. "Dengan someone special, kau akan tahu nanti." Lawan bicaranya mencibir pelan, "Awas kalau kau tak datang, ya sudah aku duluan."

Sementara itu Taeyong masih merapikan ruangannya, memasukkan baju-baju Ten ke dalam keranjang kotor. Ia tidak suka melihat ruangannya berantakan, bahkan hanya sedikitpun. Setelah memastikan semuanya rapi ia mengunci kamarnya dan turun ke Gryffindor common room, kemudian keluar dari asramanya. Baru saja ia akan berjalan turun tiba-tiba seorang anak perempuan menghadangnya.

"Uh, aku Kang Mina. Maaf aku harus menyampaikan kabar ini, Lee. Tapi Sejeong sedang sakit, madam Jane bilang dia keracunan makan siangnya. Dia menyuruhku menyampaikan bahwa ia tidak bisa datang ke pesta bersamamu, dia sungguh-sungguh menyesal dan minta maaf."

Apa?

Lalu, bagaimana ini? Apa Taeyong batal saja pergi ke pesta mr. Lau dan mendekam di kamar? Tapi Ten bisa mencabiknya kalau ia tahu, info saja meskipun dia kecil Ten itu sedikit menyeramkan. "Tidak apa-apa Mina-ssi, sampaikan pada Sejeong semoga ia cepat sembuh. Terima kasih infonya,"

"Maaf aku baru menyampaikannya sekarang, disaat kau sudah siap. Aku sudah menunggu dari tadi tapi nyonya gendut tidak mengizinkan aku masuk ruangan Gryffindor." Mina melihat lukisan penjaga pintu asrama itu dengan takut, Taeyong meringis begitu tatapannya dibalas oleh lukisan itu namun ia tetap tersenyum. "Tidak apa-apa,"

Kemudian Mina undur diri dan pergi, gadis itu mengenakan seragam. Maka bisa dipastikan dia bukan termasuk orang-orang yang menghadiri pesta mr. Lau, ah kenapa kau tidak mengajaknya saja Taeyong bodoh! Maki Taeyong pada dirinya sendiri.

Kalau begini ceritanya, maka Taeyong akan bersembunyi di perpustakaan saja. Karena kalau ia kembali ke kamar bisa saja Ten menyusulnya ke kamar lagi, lalu ia akan ketahuan. Jadi tempat terbaik adalah perpustakaan. Mungkin ia bisa beralasan pada Ten kalau ia sebenarnya datang ke pesta tapi Ten tidak melihatnya, ya! Perpustakaan!

Ia berlari dengan cepat ke perpustakaan yang sepi pengunjung, hanya ada penjaga perpustakaan dan beberapa anak-anak yang berniat belajar disana. Beberapa memandanginya aneh mengapa ia datang ke perpustakaan dengan pakaian rapi begitu, namun lelaki itu tidak perduli. Seandainya saja ia punya jubah gaib yang bisa menyembunyikan tubuhnya.

Taeyong mencoba berjalan dengan santai, ia tidak mengantongi izin dari guru untuk menuju ke bagian terlarang, tapi ia sudah tingkat enam jadi tidak masalah bukan masuk kesana? Ia berjalan mengendap-endap, ia harus bersembunyi disana sebelum orang-orang menemukannya tidak mendatangi pesta.

Langkahnya ia buat sepelan mungkin, dan ia berjalan mundur.

Bruk!

Perlu beberapa saat Taeyong untuk menyadari ia menabrak sesuatu—eh bukan seseorang—terbukti dari nafas hangat yang mendera lehernya. Taeyong berbalik pelan dengan wajah horror, jangan bilang itu adalah Mr. Filch penjaga sekolah yang galak? Atau lebih parah lagi.. ibu kepala sekolah?! Mampus, detensi pasti menunggu dirinya.

"Mengapa kau mengendap-endap di restricted section, Lee?"

"Jung Jaehyun?!"

Duh, seharusnya lelaki dengan lesung pipi itu menanyakan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri. Dia adalah salah satu undangan pesta dansa itu bukan? Lantas mengapa ia ada di tempat itu dengan pakaian pesta yang sama seperti Taeyong? Ia memang ingin bersembunyi di area terlarang, tapi kalau bersama Jaehyun sih maaf saja. Lagipula jangan bilang, sesungguhnya Taeyong takut Jaehyun membalas tindakannya yang waktu itu.

. . .

Ten meminum lemonade nya untuk kesekian kali, sebenarnya tidak ada yang tahu dia itu payah dengan minuman beralkohol, makanya dia menghindarinya sebisa mungkin di pesta. Apalagi kalau tidaka da Taeyong.

Ngomong-ngomong dimana sahabatnya itu? Dia bilang akan datang dengan orang spesial, buktinya dari tadi surai hitamnya saja tidak terlihat. Awas ya kalau dia mangkir dari pesta ini dan menyebabkan Ten terjebak di tengah-tengah para slytherin yang sekaligus merayakan kemenangan mereka di quidditch kemarin.

Rasanya harga diri Ten seperti diinjak-injak saja.

Tapi sedari tadi tangan Johnny Suh bahkan tidak berpindah seinchi pun dan tetap memegang erat telapak tangannya. Mungkin lelaki tinggi itu takut ia kabur, atau entahlah. Yang jelas genggaman tangannya hangat, dan menenangkan. Ia kira Johnny akan bersikap menyebalkan, tapi nyatanya lelaki itu cukup baik.

"Mau pergi ke lantai dansa?"

Sungguh-sungguh tidak dibayangkan sebelumnya, tapi Johnny mengulurkan tangannya dan sedikit menundukkan badannya. Benar-benar mencerminkan perilaku bangsawan sejati, jauh dari kesan menyebalkannya selama ini. "Y—Ya, boleh. Lagipula memang itu tujuan kita diundang bukan," jawab Ten sedikit dingin.

Jujur ia tidak bisa langsung menerima Johnny bukan? Jadi ia mempertahankan wajah juteknya dan berusaha tak terlihat perduli. Seandainya ia sadar ia cukup beruntung pergi bersama Johnny disaat perempuan lain antri mengajak pemuda itu ke pesta.

"Oh! Kalian baru datang?" tiba-tiba suara Henry terdengar cukup keras, membuat perhatian tamu undangan mengarah ke profesor mereka itu. Namun disusul langsung oleh bisik-bisik tak percaya tamu undangan lain, Ten yang baru saja akan meletakkan tangannya di pinggan Johnny terpaksa menarik lagi tangannya.

Ada apa sehingga perhatian tamu pesta tiba-tiba teralihkan? "For god's sake.." gumam Johnny, senyum menyebalkan tersungging di bibirnya. Ten mendongak, salahkan tinggi badannya yang cukup mungil bagi laki-laki.

Tapi setelah ia berhasil melihat dua orang yang menjadi pusat perhatian orang-orang ia langsung menutup mulutnya. Kenapa Lee Taeyong sahabatnya yang kelewat pintar tapi kadang tidak sesuai antara wajah dan sifatnya itu datang dengan pemuda yang dibilang paling tampan se Hogwarts?! Yaampun Jung Jaehyun? Serius Tae? Ditambah lagi bukannya mereka itu musuh sebelumnya?! Dan apa-apaan itu, kenapa tangan Jaehyun ada di pundak Taeyong?! Ten memaki-maki dalam benaknya.

"Oh aku tidak menyangka kalian adalah pasangan, aku kira dua murid terbaikku ini tidak datang. Kalau begitu silahkan menikmati pesta," Henry berkata canggung, sementara Jaehyun membalasnya dengan senyum datar lalu melangkah ke lantai dansa, dan musik klasik yang akan mengiringi mereka berdansa kembali berputar.

"Jadi itu someone special menurutmu heh? Lee Taeyong kini kau yang berhutang satu penjelasan padaku,"

. . .

TBC

Ehehe ada yang penasaran kenapa mereka jadinya malah pergi bareng? Tungguin ya x) tapi maaf banget aku mendekati uas:( aku harus hiatus jadi ga bisa update cepet huhu. Makanya aku bikin chapt ini lebih panjang dari sebelumnya, semoga suka kkk.

Review?