Author: Athiya064/Kyung064
Title: Mind if I Knock In?
Cast: Lee Taeyong, Jung Jaehyun, Mark Lee, Johnny Seo, Ten Chittaphon
Other Cast: NCT, SM, YG, JYP artists & other.
Genre: Romance, hurt, Hogwarts!AU
Language: Indonesian.
Desclaimer: I do not own the characters.
Words:
Contacts: athiya064 on line/twitter/ig
"Aku bersumpah akan merubahmu menjadi katak rawa di kelas transfigurasi nanti, Jung! Lihat saja!"
. . .
"Come on Jae, angkat bokongmu dari kasur sekarang sebelum aku benar-benar menyeretmu loh," ancam Johnny, tidak sepenuhnya main-main. Maksudnya, dengan badan sebesar beruang rasanya tidak mustahil bagi lelaki itu untuk menggeret Jaehyun, ya walaupun Jaehyun juga sama berototnya dengan Johnny sih.
Sore itu dua orang kurang ajar—yang sayangnya adalah sahabat Jaehyun sendiri— menerobos ke kamar pribadinya. Mungkin lain kali ia akan memasang mantra khusus agar tak sembarang orang bisa masuk kamar pribadinya itu.
Oh iya, karena Slytherin didominasi oleh anak-anak berdarah murni yang mana sudah sangat jarang, asrama itu memiliki siswa yang lebih sedikit jumlahnya dibanding tiga asrama lain. Itu menyebabkan kebanyakan dari mereka tidak perlu berbagi kamar dengan siswa lain, oh seandainya saja ia memang diharuskan punya teman sekamar tentu ayahnya pasti sudah membayar untuk membuatkan kamar khusus untuk anaknya.
Sementara itu Yuta malah dengan asyik membaca daily prophet, oke, sejak kapan dia suka membaca koran? "Aku sudah bilang aku tidak akan pergi ke pesta," jawab Jaehyun masih dengan nada datar andalannya, Yuta melipat koran yang di depannya menampilkan berita terhangat hari ini di Hogwarts. "Kita teman, jadi kita akan pergi bersama. Aku tidak mau jadi obat nyamuk di antara Johnny dan kekasihnya,"
Pemuda Jung itu langsung mendengus, "Giliran seperti ini saja kalian mengajakku, tidak dan tetap tidak. Lagipula Yuta, jangan bilang alasanmu mengajakku karena kau tidak punya pasangan? Maaf sekali,"
Yang berasal dari Jepan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jangan samakan aku denganmu ya, aku sudah ada, tapi bukan dari Slytherin. Dan aku butuh kawan Slytherin," oh iya, Yuta ini terkenal dengan mulut tajam tanpa filternya, kebanyakan tidak mudah menerima sifatnya. Ia memang diam—tidak terlalu heboh seperti Gryffindor—tapi sekali bicara akan mematikan lawannya, kebanyakan ravenclaw dan hufflepuff pasti sakit hati dengannya, dan Gryffindor akan menantang Yuta balik. Padahal sebenarnya dia ramah.
Dan pasangan? Biasanya juga mereka bertiga hadir tanpa pasangan—bukan berarti tidak laku, mereka tidak pernah mengajak orang tapi perempuan-perempuan selalu mengerubungi mereka—, tapi tahun ini hanya Jaehyun saja yang tidak punya.
Terlalu sibuk memperhatikan Yuta membuat Jaehyun lengah, tidak sadar kalau Johnny sudah memberi suatu kode pada Yuta. Tiba-tiba saja ia mendengar mantra petrificus totalus –mantra yang akan membuat lawan menjadi kaku— dilayangkan padanya, dan Jaehyun tidak ingat apa-apa lagi.
"Ennervate!" Jaehyun membuka matanya, rasanya tubuhnya baru saja dibebaskan dari tali yang membelenggu. Dan tiba-tiba saja.. dia sudah berada di luar kamar tidurnya. Dengan jas hijau kebanggaan Slytherin dan kemeja putih, ia melihat teman-temannya nyengir lebar sambil melangkah menjauh. "Pintumu sudah kami mantrai, jadi kau tidak akan bisa masuk kamar kecuali bersama kami, jadi datanglah ke pesta dan kembali bersama kami, mate." Canda Johnny.
Punggung kedua temannya itu menjauh, dan Jaehyun baru sadar ia tidak membawa tongkatnya bersamanya. Sial, double sial. Jung Jaehyun bahkan tidak bisa masuk ke kamarnya sendiri.
Dukk! Dukk!
Ia memukul pintu kamarnya percuma, tidak mungkin bisa terbuka sendiri. Ia juga telah merapalkan alohomora beberapa kali tapi gagang pintu itu tetap tidak terbuka. Padahal ia sudah sedikit menguasai sihir tanpa tongkat tapi tetap tidak terlalu tinggi tingkatannya hingga ia bisa menembus pintu tersebut.
Lantas.. apa ia benar-benar harus datang ke pesta Mr. Lau? Dengan keadaan tidak ada pasangan? Great.
Jaehyun melangkah keluar dari asramanya, dan berjalan dengan langkah tegap menuju hall. Bagian belakang pakaiannya yang mirip jubah berkibar pelan, pakaiannya memang terlihat kuno, tapi jangan salah. Harganya tidak murah, padahal Jaehyun sendiri tidak masalah dengan pakaian yang biasa-biasa saja. Ayahnya saja yang terlalu maniak mengatakan penyihir seharusnya berpenampilan seperti seorang penyihir, bukannya seperti muggles yang menjijikan.
Jadi penampilan Jaehyun selalu mirip dengan orang-orang tua yang ada di kementrian, untung wajahnya tampan.
"Jaehyunnie?"
Oke suara itu tidak asing, Jaehyun jarang menghafal suara perempuan kecuali ibunya dan Chaeyeon. Tidak mungkin mereka berdua, jadi Jaehyun memutuskan untuk menoleh—keputusan yang salah sebenarnya— "Kau baru akan berangkat? Oh syukurlah tasku tertinggal jadi aku harus kembali ke kamar, ayo pergi bersama,"
Itu Yeri Kim, lagi.
Lihat rambutnya yang disanggul ke atas, anting berkilau, lipstik yang terlalu merah, pakaian yang sedikit terbuka di area dada. Jaehyun rasanya mau muntah melihatnya. "Aku sudah punya pasangan, jadi permisi Kim." Dan Jaehyun berlari secepat kilat menjauhi wanita berbahaya yang selalu mengancamnya dengan hubungan kerabat kakek-kakek mereka.
Ia bahkan tidak sadar sudah berlari terlalu jauh sampai ia menabrak empat siswa yang berjalan berlawanan arah ke arahnya, untung tidak parah sampai harus menyebabkan mereka semua terjerembab ke lantai. "Astaga, maaf aku berlari tanpa memperhatikan jalan." Sesalnya, tidak ada jawaban.
Empat orang siswa itu sudah pasti adik kelasnya, mungkin tingkat tiga atau tingkat dua. Tapi yang menarik adalah atribut asrama yang mereka kenakan, keempatnya berbeda. Seolah mereka adalah representatif Hogwarts yang tidak mempermasalahkan perbedaan asrama dan berkawan baik.
Lihat saja yang berambut cokelat dengan mata sipit itu adik kelas yang cukup dekat dengannya karena mereka adalah rekan di tim quidditch, Lee Jeno yang seorang Slytherin. Di sampingnya ada yang berwajah manis dengan rambut hitam dengan tinggi hampir setara dengan Jeno, di seragamnya ada warna biru, anak Ravenclaw. Di sampingnya lagi ada yang berambut pirang dengan syal merah kuning Gryffindor, sepertinya yang paling dewasa di antara mereka. Dan yang terakhir wajahnya sedikit konyol, mungkin yang paling pendek, dengan wajah manis dan rambut hitam legam juga, atributnya hufflepuff.
"Jaehyun hyung mau kemana terburu-buru?" tanya Jeno bingung.
"Err.. aku menghindari sesuatu yang lebih parah dari troll gunung, jadi bisa sarankan aku tempat sembunyi?" tanyanya sambil mengatur nafas. Si Ravenclaw menunjuk perpustakaan yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tidak diragukan sebenarnya. "Thanks, err.."
"Ini Jaemin dari Ravenclaw, yang ini Mark dari Gryffindor, dan Haechan dari Hufflepuff." Jelas Jeno saat menyadari raut kebingungan Jaehyun, "Oke sampai nanti adik-adik." Kemudian ia berlari.
Mengabaikan Haechan yang bertanya, "Jaem, apa orang-orang ke perpus dengan pakaian seperti itu?" dan tentu saja mendapat gelengan keras dari Jaemin.
Sementara itu Jaehyun masuk ke perpustakaan dengan langkah tegap, beberapa siswa menyapanya, termasuk sang penjaga perpustakaan. Biarpun dilahirkan dari keluarga bangsawan, bukan berarti Jaehyun anti perpustakaan. Bahkan di manor nya ia punya perpustakaan pribadi, menjadi siswa pintar itu bukan keturunan, melainkan kerja keras.
Beberapa orang memperhatikan pakaiannya, tapi Jaehyun tetap acuh. Sekalian saja mengerjakan essai herbologinya disini. Ia akan kembali ketika pesta dansa selesai dan menemui dua teman bodohnya itu.
"Apa ada seseorang tahu dimana Jaehyun? Jung Jaehyunnie?"
Oh sial.
Bagaimana bisa perempuan itu menemukannya? Jaehyun membatalkan niatnya untuk pergi ke bagian herbologi dan berjalan ke bagian belakang perpustakaan terus. "Maaf mrs. Kim dilarang berteriak disini, dan sepertinya kau harus kembali ke acaramu." Itu Katherine, penjaga perpustakaan.
Yeri menggeram marah, tapi perempuan itu akhirnya pergi. Jaehyun yang mengintip di balik rak-rak buku menghembuskan nafas lega, ia menatap ke sekeliling. Sejak kapan ia ada di bagian terlarang?
Buku-buku di sekelilingnya kebanyakan membahas dark arts yang tentu saja tidak akan diajarkan pada siswa yang ada di tingkat awal, begitupula buku pertahanan terhadap ilmu hitam. Jaehyun bukannya awam pada buku-buku itu, ia sudah mengetahuinya sejak di tingkat awal. Ayahnya memiliki koleksi buku seperti itu di manor mereka.
Pemuda itu asal saja menarik buku berjudul Magic Moste Evile, ia dengar itu adalah salah satu buku paling terlarang di Hogwarts. Tidak semua orang boleh membacanya, mencegah ada yang menyalahgunakannya. Buku itu menyuguhkan informasi mengenai deathly hallows, jujur saja ia sudah mendengar ceritanya melalui buku dongeng anak-anak penyihir sama seperti yang lain. Dan ketiga benda yang menjadi relikui kematian itu juga sudah dihancurkan tuan Potter di masa lampau.
Samar-samar Jaehyun mendengar suara langkah kaki mendekat, dan makin lama makin dekat. Bukannya ia takut, tapi itu bisa saja sang penjaga sekolah. Biarlah, ia akan jujur pada mr. Filch kalau pintu kamarnya terkunci oleh mantra jadi ia tidak punya tempat untuk beristirahat saat ini.
Jaehyun menatap lurus ke arah lorong, dan mendapati seorang siswa dengan tubuh kecil dan pakaian pesta jalan mundur ke arahnya. Kalau Jaehyun tidak salah perhitungan siswa ini pasti akan menabraknya sebentar lagi.
Lima..
Empat..
Tiga—dua..
Satu….
Bruk!
Yang lebih tinggi menghembuskan nafas lelah, kenapa begitu banyak orang ceroboh di dunia ini? Berjalan mundur? Yang benar saja, heh? Ia menyadari bahu pemuda di depannya menegang tiba-tiba. Ketakutan kah? Pemuda itu berbalik dengan wajah horror, oh tidak, kenapa Jaehyun harus bertemu Lee Taeyong di saat seperti ini? Bukankah dia salah satu tamu pesta?
"Mengapa kau mengendap-endap di restricted section, Lee?" tanya Jaehyun kesal, ia tidak mau ketahuan bersembunyi dari pesta, sungguh.
Perlu beberapa detik bagi Taeyong untuk memproses segala sesuatu, "Jung Jaehyun?!" pekiknya panik, Jaehyun memutar bola matanya malas. Tentu saja ia Jung Jaehyun, memang ada orang lain dengan nama sama sepertinya di sekolah ini?
"Pasanganku tiba-tiba keracunan, dan aku takut Ten mencariku karena tidak segera berangkat. Aku juga tidak mau dia mengejekku karena datang tanpa pasangan, jadi—aku kabur. Kau sendiri kenapa ada disini juga? Kau juga kabur dari pesta? Maksudku, pakaianmu itu.."
Jaehyun menimang apa ia harus bercerita pada Taeyong atau tidak, insiden kecoa itu membuatnya kesal setengah mati. Tapi sudahlah, mereka bernasib sama. "Aku dipaksa pergi, dan kamarku dimantrai teman-temanku. Tiba-tiba saja aku sudah berada di luar kamar dengan pakaian ini, dan aku tidak punya teman kencan. Parahnya Yeri mengejarku jadi aku harus kabur kesini, perempuan fanatik itu.." ia juga tidak tahu sejak kapan ia bisa bercerita sepanjang itu pada orang selain sahabatnya.
Taeyong menganggukkan kepalanya beberapa kali, "Kita senasib, mungkin kita memang harus bersembunyi sampai pesta selesai. Pasti mr. Lau akan marah karena kita tidak hadir," Keluhnya, Jaehyun tidak membalas.
Tunggu..
Jaehyun lupa mr. Lau itu sangat suka orang-orang pintar, dan baginya Jaehyun dan Taeyong itu merupakan permata kesayangannya. Mereka adalah salah satu siswa yang selalu mendapat nilai yang memuaskan, jadi mengecewakan mr. Lau itu pasti buruk. Dia tahu siapa saja yang datang ke pestanya.
"Hei Lee, sepertinya aku berniat membalas teman-temanku. Jangan berpikiran aneh, aku rasa Henry akan marah besar kalau kita tidak datang. Jadi.. bagaimana kalau kita pergi bersama?" tanya Jaehyun datar, sama sekali tidak mencerminkan orang yang akan mengajak pasangannya pergi ke pesta. Kalau keadaannya beda, Jaehyun juga tidak mau mengajak Taeyong. Ini hanya senjata alternatif, mungkin saja Yeri akan mengalah. Taeyong kan biarpun aneh dan kutu buku, merupakan salah satu murid terkenal dan berwajah rupawan.
"Hah?" mulut Taeyong menganga kemudian menutup kembali persis seperti ikan koi, ia terkejut namun tidak mampu menyuarakan keterkejutannya sehingga hanya kata 'hah' saja yang berhasil keluar.
"Tapi kita perlu bersikap seperti pasangan sebenarnya, untuk malam ini saja. Kau tidak perlu memanggilku dengan nama lengkap atau dengan marga saja, panggil saja namaku, Jaehyun. Atau nama kecilku, Yoon-oh. Dan aku akan memanggilmu Taeyongie, jadi ayo kita pergi."
"HAH?!" Taeyong benar-benar terlihat konyol dengan mulut yang terbuka sepenuhnya.
. . .
Mereka berdua memasuki hall pesta dengan ragu—lebih tepatnya Taeyong yang ragu dan Jaehyun yang bersikap biasa, sangat biasa sebenarnya— ia berakting seperti pasangan pada umumnya, tangan yang memeluk pundak Taeyong, senyum tipis khas keluarga Jung. Ya ampun, mimpi apa Taeyong semalam bisa-bisanya malah pergi dengan musuh bebuyutannya?
Lelaki di samping Taeyong berhenti sejenak, "Kau tegang segali, santai saja." Bisik Jaehyun dengan suara beratnya, ia membuka pintu hall dan disambut dengan musik klasik. Sepertinya mereka memang benar-benar terlambat, untung saja Henry ada di dekat pintu masuk.
"Oh! Kalian baru datang?" tiba-tiba suara Henry terdengar cukup keras, membuat perhatian tamu undangan mengarah ke profesor mereka itu. Taeyong mematung, tidak menyangka seluruh atensi tamu undangan malah terarah padanya.
Jaehyun tersenyum tipis, "Maaf Henry kami terlambat, harus ke perpustakaan dulu tadi." Balas Jaehyun dengan nada tegas seperti biasa, bisik-bisik tamu mulai terdengar. Tentu saja, sejak kapan Jaehyun dan Taeyong dekat memangnya?
"It's alright, aku tidak menyangka kalian adalah pasangan, aku kira dua murid terbaikku ini tidak datang. Kalau begitu silahkan menikmati pesta," Henry berkata canggung, tapi ia sepertinya bahagia. sementara Jaehyun membalasnya dengan senyum datar lalu melangkah ke lantai dansa.
Mata Taeyong membola, Jaehyun serius mengajaknya berdansa? Seumur hidup ia tidak pernah berdansa dengan laki-laki! Mana ia tahu bagaimana cara berdansa dengan anak laki-laki?!
Sekalipun Tuhan mengaruniainya dengan bakat menari, bukan berarti Taeyong bisa menyesuaikan diri berdansa dengan laki-laki, apalagi jadi pihak perempuannya. Tidak, sungguh tidak. Demi Merlin, demi Godric, demi semua penyihir hebat di dunia ini! Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan.
Dan sekarang.. mereka sudah benar-benar terjebak di antara siswa-siswi lain di tengah pesta dansa. "Jaehyun! Kau serius? Hei dengar aku belum pernah berdansa dengan laki-laki sebelumnya jadi—"
Ucapan Taeyong berhenti ketika ia merasakan tangan lebar milik Jaehyun memegang pinggangnya, Jaehyun juga mengarahkan tangan kiri milik Taeyong ke pundaknya. "Hanya begini saja, ke kiri dan ke kanan, kemudian berputar. Jauh lebih mudah daripada pelajaran rune kuno bukan?" Merlin! Rasanya Taeyong mau menyumpahi pemuda di depannya ini. "Kau punya pinggang yang ramping untuk ukuran laki-laki,"
Iya, dia sudah dengar tentang hal itu. Apalagi dari Ten yang selalu membandingkan pinggangnya dengan pinggang mirip perempuan, tapi mendengar ucapan itu dari Jung Jaehyun entah mengapa ada hal yang aneh di perutnya. Mungkin Taeyong akan muntah setelah ini dan berakhir di hospital wing bersama Sejeong.
Berbicara mengenai Sejeong.. ah sepertinya Taeyong harus menjenguk adik kelasnya itu besok. Lagipula ia memaafkan adik kelasnya itu, ini semua gara-gara pemuda Jung yang mengajaknya paksa. "Diam sialan! Aku tidak pernah bilang untuk setuju dengan rencanamu ini, aku bisa saja merubahmu menjadi apapun karena kemampuan transfigurasiku baik, aku selalu membawa tongkatku kemana-mana,"
Tapi Jaehyun malah terkekeh, dan itu sungguh menjengkelkan. Pemuda itu mengeratkan pelukannya di pinggang Taeyong—ngomong-ngomong mereka sudah berdansa sesuai irama sedari tadi— "Peluk aku balik, ada seseorang yang harus aku hindari." Titah Jaehyun semaunya, Taeyong berdecak, tapi ia melakukan hal itu. "Oh, aku akan mengabulkan keinginanmu setelah ini, Lee. Mungkin aku akan memaafkan tindakanmu tempo hari, atau kau mau kutraktir di Hogsmeade? Apapun, asal aku terbebas dari gadis fanatik itu."
"Kurang ajar sekali kau menggunakanku sebagai tameng dari Yeri Kim," gerutu Taeyong.
Musik berhenti dan mereka menyingkir dari lantai dansa, dengan terpaksa karena masih berakting sebagai pasangan Taeyong mengekori Jaehyun ke anak-anak Slytherin. Oh ngomong-ngomong ia tadi sungguhan melihat Doyoung pergi dengan Taeil, tapi Doyoung menatapnya tajam seperti induk kelinci yang anaknya diculik. Mungkin Doyoung membencinya karena ia pergi dengan Jaehyun, seandainya saja dia tahu ini semua bukanlah kesengajaan. Tapi dia tetap senang melihat Doyoung dan Taeil bersama.
"Kau datang," Yuta menyambut Jaehyun dengan sapaan yang mirip sindiran, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit, mengejek. Di sebelahnya, bukannya itu prefek Hufflepuff? Ji Hansol? Boleh juga Yuta kalau memilih pasangan.
Sementara itu Taeyong sendiri tampak tidak nyaman dengan Ten yang terus-menerus menatapnya seperti singa lapar. Ya ampun Ten pasti berpikir macam-macam karena Taeyong tidak menjelaskan bahwa sebenarnya ia akan pergi bersama Sejeong. Jadi Taeyong mundur sedikit dan bersembunyi di balik punggung bidang Jaehyun.
"I don't know you guys are a 'thing'," ungkap Johnny, sebelum Jaehyun mampu menjawab suara sepatu hak tinggi mendekati mereka. "Jaehyun kita harus bicara, aku sudah bilang pada kakek. Dia akan datang ke manormu liburan semester ini, aku tidak terima hal ini. Kenapa kau pergi dengan dia?! Seorang berdarah campuran, bukan bangsawan, berasal dari asrama lain, dan yang terpenting.. laki-laki!"
Perempuan itu mendorong pundak Taeyong supaya menyingkir, bukannya lemah, Taeyong belum memproses apa yang terjadi hingga ia hampir saja jatuh kalau Hansol tidak menahannya. "Yeri, aku tegaskan padamu. Kita bukan apa-apa, jadi terserah bagiku untuk pergi bersama siapa, berkencan bersama siapa, atau bahkan menikah bersama siapa. Kakekmu tidak akan merubah apapun, ayahku juga tidak bilang kita akan dijodohkan. Dan jaga sikapmu, kau fikir laki-laki akan suka dengan perempuan bar-bar?"
Yeri nampaknya terkejut dengan perkataan Jaehyun, perempuan itu hampir menitikkan air matanya. Taeyong benci perhatian berlebihan, tapi kali ini ia termasuk salah satu pusat perhatiannya. Perempuan itu pergi dengan kesal, menerobos kerumunan siswa yang mengelilingi mereka. "Jaehyun kau tak seharusnya membuat dia menangis, biar aku yang jelaskan—" Taeyong tidak ingin memperkeruh suasana, jadi dia berniat untuk mengejar Yeri, tapi Jaehyun menahan lengannya.
"Kalian berdua, pastikan kamarku sudah terbuka ketika aku kembali." Ia memerintah Yuta dan Johnny, kemudian melangkah pergi dengan Taeyong yang ia genggam tangannya—lebih mirip menggeret pemuda itu.
Mereka berjalan keluar dan malah menghilang di koridor yang cukup tersembunyi, letaknya ada di belakang ruang-ruang kelas mereka. "Taeyong dengar, aku tidak menyukaimu, tapi aku tidak ingin kau mengejar Yeri. Dia pantas mendapatkannya, aku sangat marah ketika dia menjelekkanmu tadi." Suara Jaehyun yang berat memecah kesunyian, nadanya dingin, dan nafasnya tidak beraturan khas orang yang sedang menekan emosinya dalam-dalam.
"Tapi orang-orang akan berfikir akulah pihak jahatnya, Jaehyun. Yeri bahkan tidak tahu apa-apa dan kau memarahinya! Pikirkan perasaannya, dia menyukaimu!"
"Berhenti!" nada Jaehyun naik, Taeyong langsung terdiam. Aura Jaehyun terdengar seperti seorang alpha yang sedang mengatakan perintah mutlaknya, membuat Taeyong hanya mampu bungkam dan menunduk. Jaehyun yang melihat lawan bicaranya menunduk dengan gestur ketakutan langsung menyesali perbuatannya, ia mengacak rambutnya kasar. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu, Lee Taeyong." Sesalnya.
Taeyong mengangkat kepalanya ragu, menatap Jaehyun tepat di mata. "Maaf aku terlalu ikut campur," bisik Taeyong, membuat yang lebih tinggi menggeleng pelan. "Bukan begitu, percayalah, aku hanya tidak suka dia terus mengejarku apalagi sekarang menarikmu ke dalam masalah dan menjelekkanmu. Kau tidak pantas mendapatkannya, kau itu punya wajah yang rupawan dan otak yang jenius. Lagipula, masa bodoh dengan status darah seseorang. Asal aku tidak hidup bersama muggle, dad pasti tidak ambil masalah."
Tunggu..
Kenapa jadi seperti orang sedang menyatakan cinta sih?
Buru-buru Taeyong menarik diri sedikit menjauh dari Jaehyun, ia berdeham canggung. "Uhm.. kurasa aku harus segera kembali ke kamar, kau lihat wajah Ten tadi, hehe." Ia menggaruk tengkuknya. Jaehyun tidak membalas perkataannya, tapi ia malah mencondongkan tubuhnya dan mencium Taeyong tepat di dahi.
Membuat Taeyong seperti diberi mantra kejut, diam kaku tanpa berkedip dan mulut yang setengah terbuka. "Y—YA! Apa itu tadi?!" pekik Taeyong yang tanpa sadar menggunakan bahasa ibunya, bahasa Korea. Jaehyun terkekeh, "Cara keluarga Jung berterima kasih, mungkin? Hehehe. Kita berpisah disini, Lee. Selamat tinggal, oh jangan lupa aku akan mentraktirmu ke Hogsmeade, tentukan tanggalnya saja."
Dan Jaehyun benar-benar menghilang.
Wajah Taeyong merona parah, seingatnya ia tidak minum minuman beralkohol tadi, pasti gara-gara pemuda Jung sialan itu!
. . .
"Tae, we need to talk," tuh kan baru saja sampai di depan kamar Ten sudah menyambutnya seperti seorang penjaga ruangan, kedua tangannya dilipat di dada, bahkan ia belum mengganti pakaiannya itu.
Dan sepanjang jalan, semua siswa memandanginya, bahkan beberapa guru juga! Demi apa, memang ia dan Jaehyun itu pasangan David dan Victoria Beckham yang mengumumkan kalau mereka akan rujuk apa? Sampai jadi viral begini. "Baik, kita akan bicara. Tapi minimal biarkan aku berganti pakaian dulu,"
Mereka memasuki kamar bersamaan, Ten memantrai kamar mereka supaya jadi kedap suara. Taeyong masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, ia juga mengganti pakaiannya dengan piama berwarna merah garis-garis. Kemudian ia mendudukkan badannya di tepi kasur.
Tangannya meraba-raba meja nakas di sampingnya, menemukan puding cokelat yang ia simpan dari makan siang tadi. Masih enak. "Seandainya aku punya peri rumah, sudah kusuruh ia mengirimiku makanan dari rumah," gerutu Taeyong pelan, "Ten, kau punya peri rumah?" tanyanya iseng. Ten mengangguk, "Tentu saja, kalau tidak siapa yang akan membersihkan mansion dan memasak?"
"Oh, aku kira orangtuamu akan mempekerjakan maid dibanding peri rumah," mengingat kecintaan keluarga Ten pada barang dan sesuatu yang berkaitan dengan muggles, "Tidak sampai ke tahap itu, dad tidak terbiasa dengan orang asing. Lagipula Freezy dan Moony sudah bersama orangtuaku sedari mereka kecil. Mereka tidak mau dibebaskan, kau sendiri?"
Taeyong menggeleng, "Tentu tidak, ibuku bisa mati kaku kalau ia mendapati makhluk seperti peri rumah di rumah kami. Ayah saja tidak pernah menunjukkan kekuatan sihirnya, bahkan kami tidak memasang jaringan floo di rumah. Jadi harus pergi ke leaky cauldron atau ke tempat yang benar-benar tersembunyi untuk melakukan apparation. Itu kenapa aku sering naik pesawat ke London, baru naik kereta di King Cross daripada langsung berapparate."
Kalau soal itu Ten sih tidak bisa beradaptasi seperti Taeyong, lebih enak langsung sampai daripada capek di perjalanan. "Kau tidak sedang mengalihkan pikiranku dari kejadian tadi bukan?" selidik Ten, Taeyong nyengir. Temannya itu peka sekali urusan seperti ini. "Ceritanya panjang Ten, seharusnya aku pergi bersama Kim Sejeong dari ravenclaw—"
Dan cerita Taeyong pun mengalir, mengenai bagaimana ia bersembunyi ke perpustakaan, menabrak Jaehyun, dan mendengar cerita bahwa lelaki itu dikerjai teman-temannya. Sampai akhirnya Jaehyun mengajaknya pergi bersama dengan paksa dan menjadi pusat perhatian di pesta. Sampai situ Ten pasti paham bagaimana kejadian selanjutnya yang menyangkut Yeri Kim. Ten mengangguk-angguk, ia masih mengira ada sesuatu yang terjadi antara Jaehyun dan Taeyong, tapi ia mempercayai temannya itu.
Ya walaupun ada yang Taeyong lewatkan, soal Jaehyun yang sempat membentaknya, tapi kemudian mencium pipinya. Sial, kenapa wajahnya terasa hangat lagi mengingat hal itu. "Kalian sungguhan tidak menjalin hubungan di belakangku bukan?" selidik Ten lagi, "Demi Merlin! Tidak Ten, aku bersumpah."
"BAIK! Aku percaya, ku kira kalian ada apa-apa." Mereka berdua akhirnya sama-sama berbaring di tempat tidur. "Tae," panggil Ten lagi.
Taeyong yang hampir memejamkan matanya, membuka matanya lagi. "Hm?" jawabnya singkat. "Pernah tidak, kau merasakan perasaan asing yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya. Rasanya badanmu menghangat, tapi lidahmu kelu, kupu-kupu merayapi perutmu, dan kau—selalu mengingat hal yang sama yang akan membuatmu tersenyum seperti orang idiot sepanjang waktu,"
Kok Taeyong rasanya bisa membayangkan apa yang Ten rasakan sih, pipi menghangat, tidak mampu berkata-kata, perut tergelitik, setidaknya ia tidak tersenyum-senyum sendiri. "Mungkin pernah," balasnya, tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. "Benarkah? Kau beruntung, lantas perasaan apa itu Tae? Dan bagaimana kau mengatasinya?"
Skak mat..
Ia juga baru merasakannya barusan. "Tidak tahu, aku hanya membiarkan perasaan itu apa adanya. Nanti juga pasti ada jalan keluarnya," jawab Taeyong sekenanya. "Begitukah? Ah, apa benar kata orang-orang, benci itu bisa berubah menjadi cinta?"
Sungguh Ten seperti anak berumur 15 tahun yang beru kenal dengan apa itu cinta, banyak bertanya dengan polosnya. Memang dia kira Taeyong sudah berpengalaman apa?! "Entah, tapi kurasa mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin bukan? Setetes amortentia saja sudah bisa membuat orang yang kau inginkan bertekuk lutut,"
"Bukan, amortentia itu menciptakan obsesi. Bukan perasaan tulus, hah, kalau veritaserumku jadi nanti, aku akan memberikannya pada Johnny supaya tahu apa yang ia pikirkan mengenaiku. G'nite Tae,"
Astaga.. Taeyong jadi ingat tugas membuat veritaserumnya! Belum dikerjakan dengan benar, dan sudah mendekati bulan purnama.
Eh tunggu! Jadi sedari tadi Ten mengoceh tentang Johnny?! Pantas jadi aneh, rupanya Johnny sudah hampir mendapatkan Ten. Semoga saja lelaki itu tidak mempermainkan Ten, kalau iya, Taeyong akan menendang kejantanannya kalau perlu sampai dia tidak bisa memiliki keturunan di masa mendatang.
. . .
Hari ini hari libur dan Ten menyeretnya yang masih ingin tidur lebih lama ke hogsmeade, Ten bilang ia bosan makan di aula besar terus-menerus sesekali mereka harus makan di luar. Taeyong merapatkan topi kupluknya, dingin, tentu saja karena salju sudah mulai turun.
Atribut natal sudah mulai dipasang dimana-mana, kalau natal begini rasanya Taeyong rindu ibunya. Tapi dia tidak mungkin menelpon ibunya dengan ponsel bukan? Bawa saja tidak.
Setelah berbelanja untuk beberapa detik—lebih tepatnya Ten yang belanja dan Taeyong membeli buku— mereka mampir ke three broomstick untuk makan siang. Mereka berdua memesan fish and chips dan butterbeer.
"Keberatan kalau aku bergabung?" sebuah suara berat mengejutkan mereka berdua, lelaki tinggi dengan senyum lebar duduk di hadapan mereka. Astaga! Itu senior mereka yang sekarang menjadi elite auror di kementrian, Chanyeol Park. "Senior!" sapa Ten ramah.
Chanyeol merapatkan mantelnya, "Meja lain sudah penuh, ah senang bertemu dengan kalian. Terakhir kali kuingat kalian masih tingkat tiga dan masih kecil, tapi sekarang tetap saja kecil ya." Candanya, membuat Ten dan Taeyong merajuk kesal.
Ngomong-ngomong, dulu sekali Taeyong pernah tertarik pada Chanyeol. Memang hanya sebatas suka, tapi baginya yang masih di tingkat awal, Chanyeol adalah pemuda keren. Mantan kapten Quidditch Gryffindor, mantan ketua asrama, lulus dengan nilai tinggi, dan langsung diterima sebagai auror tanpa tes berarti pula. Sudah begitu wajahnya tampan dan badannya bagus. Taeyong memang suka perempuan tapi ia juga suka laki-laki, apalagi yang keren seperti Chanyeol, seandainya Chanyeol adalah kakaknya.
Menurut kabar kekasih Chanyeol sakit dan meninggal dua tahun lalu, tepat ketika Chanyeol ditugaskan sebagai Auror ke Switzerland. Padahal mereka itu salah satu pasangan hits di Hogwarts dulunya, dan menurut kabar juga Chanyeol tidak menjalin hubungan dengan siapapun setelah itu. Mungkin cintanya pada sang mantan kekasih begitu dalam.
"Bagaimana rasanya menjadi auror, hyung?" tanya Taeyong penasaran, "Perfect, sekarang sudah jauh lebih ringan daripada dulu ketika masih jadi junior. Moody tidak pernah memberi kami waktu istirahat," kenangnya sambil tertawa, jujur saja Taeyong masih ingin jadi auror. Dan sosok di depannya ini adalah inspirasinya. "Kau mau jadi auror, hm?"
Taeyong mengangguk yakin, "Semangat, kalau kau memang sungguhan berbakat pasti akan diterima, bagaimana denganmu Ten?" Ten yang menyuapkan kentang goreng ke mulut buru-buru menelannya, "Belum kupikirkan, mungkin aku akan bekerja di dunia muggle seperti dad, atau bahkan ikut dia jadi auror." Ten kan bukan tipe yang menentukan masa depannya, baginya biarkan saja jalan apa adanya.
Chanyeol tertawa mendengar jawaban Ten, mereka berbincang-bincang sampai Taeyong menggebu-gebu menceritakan ambisinya menjadi seorang auror, dan Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk tidak mengacak rambut adik kelas di depannya itu gemas.
Tanpa tahu seseorang memperhatikan mereka dengan kesal.
"Jaehyun! Mau kemana kau? Kau yang paling semangat ke three broomstick tapi kenapa pergi! Hei!" Yuta menjerit-jerit, tapi pemuda yang ia panggil tetap melengang pergi, Johnny menahan lengannya. "Biarkan saja, ayo masuk."
Mereka melangkah mendekat dan menemukan Ten, Taeyong, dan juga sosok lain di dekat pintu. "Oh hai, Ten! Kebetulan sekali," sapa Johnny, memang kebetulan, mereka dipaksa Jaehyun pergi ke hogsmeade pagi tadi. Tapi malah pemuda itu berbalik pergi, jadi Johnny tidak tahu kalau akan bertemu Ten disana. "Yo! Chanyeol!" sapa Johnny akrab, tentu saja, mereka kenal lama.
Yuta juga menyapa Johnny, "Berdua saja, kemana temanmu yang satu lagi?" Chanyeol tahu Johnny punya teman akrab dua orang. "Ah, Jaehyun. Entahlah bocah sinting itu, baru juga masuk kesini langsung berlari keluar lagi," balas Yuta acuh, Ten menyetujui, Jaehyun memang sedikit sinting.
Taeyong diam, padahal kan mereka sempat berjanji bertemu di hogsmeade kalau ada waktu? Ah, mungkin bukan hari ini yang Jaehyun maksud. Lagipula Jaehyun bilang kalau Taeyong yang mengatur tanggal, dan Taeyong belum menentukan harinya.
Tapi tetap saja aneh, ada apa dengan Jaehyun sampai ia berbalik pergi?
. . .
TBC
Yee bisa update xD ternyata aku minggu tenang, doain ya minggu depan uasku lancar aamiin ^^ AAAAA ASDFGHJKL NCT127 COMEBACK!:( ya Allah mas johnny;A; fyi dia itu salah satu bias aku di rookies, dan sekarang debut. Demi apaaaaaaa;A; aaaa kenapa ketika aku mau uas sihhh /bakar gedung sm/ .g wkwk. Sukses ya comebacknya semoga 1st win aamiiinn duh sayang-sayangkuuu. Ah kacau, makin muda aja grup yg aku suka:( aku kira svt itu terakhir, ternyata masih ada nct ga bener T.T gapapa lah, jadi ahjumma fans pun aku siap lol.
Wkwkw abaikan kita doain aja comebacknya nct bagussss hidup limitless! Kasian dd mark ga bisa istirahat:( ah aku selalu suka tipe cowo kaya mark, unyu ehehehehe. Yasudah abaikan lagi, ayo review biar aku semangat ketik lanjutannya XD wkwkwk /g
Review?
