Author: Athiya064/Kyung064
Title: Mind if I Knock In?
Cast: Lee Taeyong, Jung Jaehyun, Johnny Seo, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul
Other Cast: NCT, SM, YG, JYP artists & other.
Genre: Romance, hurt, Hogwarts!AU
Language: Indonesian.
Desclaimer: I do not own the characters.
Words:
Contacts: athiya064 on line/twitter/ig
"Aku bersumpah akan merubahmu menjadi katak rawa di kelas transfigurasi nanti, Jung! Lihat saja!"
. . .
"Jeno, aku serahkan sisa pengarahannya padamu. Aku ada urusan sebentar," Jeno menunjuk dirinya sendiri tanpa suara dengan terkejut, namun Jaehyun sudah berlari meninggalkan tempat mereka berkumpul dengan para pemain Quidditch lainnya.
Sementara itu Jaehyun berlari sekencang mungkin menuju ke salah satu tempat yang ia yakini terdapat Taeyong di dalamnya, hospital wing—ya mana lagi selain disana. Jaehyun mengabaikan ia juga basah karena bermain quidditch di tengah hujan deras, bahkan sekarang hujannya pun masih turun.
Ia sampai di menara tempat merawat anak-anak yang sakit itu beberapa menit kemudian, Jaehyun membuka pintunya perlahan. Air menetes dari seragam quidditchnya, ia melangkah dan menemukan Ten duduk di salah satu ranjang kosong dan Taeyong yang terbaring di depannya. Seluruh ranjang kebetulan sedang kosong saat itu. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Jaehyun, membuat Ten sedikit terlonjak karena tidak menyadari lelaki itu masuk ke dalam ruangan.
Ten merapatkan bibirnya, dia sebenarnya tidak tahu apa Jaehyun dan Taeyong telah 'berbaikan' atau belum. Namun kalau difikir Jaehyun tidak perduli pada semua orang kecuali hanya yang dekat dengannya bukan? "Lumayan, madam Jane bilang dia hanya kelelahan dan kurang asupan nutrisi. Dia sering begitu, namun jarang sampai pingsan mendadak. Tadi madam Jane sudah memberinya ramuan, dia bilang Taeyong mungkin akan sembuh besok,"
Penjelasan itu membuat Jaehyun melangkah makin dekat, Taeyong terbaring dengan wajah pucat dan bibir yang memutih. "Lalu kemana madam Jane?" herannya, tak biasanya wanita yang sudah menjadi ahli kesehatan itu meninggalkan ruangan ini. "Ah, rapat guru-guru. Entahlah, hal semacam itu. Aku menunggu Taeyong sadar dan akan mengajaknya kembali ke asrama,"
Berarti intinya Taeyong sudah diperbolehkan meninggalkan hospital wing namun masih perlu beristirahat lebih. Jaehyun mendekati tubuh lelaki itu, "Ya! Mau kau bawa kemana dia?" protes Ten bingung ketika Jaehyun tiba-tiba menggendong badan kecil Taeyong, "Kamarku, percuma dia disini Ten. Madam Jane pasti mengerti,"
Yang paling tinggi mengarahkan tongkatnya ke arah teko berisi ramuan dan menyihirnya menjadi lebih kecil, kemudian menyimpan teko tersebut di kantong jubahnya. "Hm Ten, kurasa Johnny akan sangat senang kau temani di perayaan kemenangan Slytherin," pemuda Jung itu menampilkan senyum tipisnya, membuat Ten mau tidak mau membiarkan Jaehyun membawa Taeyong. Dan ia membawa langkah kakinya menuju aula untuk menghadiri perayaan Slytherin.
Jaehyun merapatkan gendongannya, sungguh apabila apparation tidak dilarang di dalam Hogwarts maka ia sudah ber-apparate sedari tadi. Bukannya Taeyong berat, namun jarak hospital wing dan asramanya itu terbilang cukup jauh apalagi karena kastil Hogwarts yang besarnya benar-benar kelewatan.
Setelah perjuangan cukup lama Jaehyun akhirnya sampai ke asramanya, sepi, tentu saja semua pergi ke perayaan. Pasti enak menikmati segelas butterbeer dan kue-kue hidangan di suasana dingin begini, namun bagi Jaehyun tidak ada yang lebih penting daripada sosok yang terbaring tidak berdaya di gendongannya ini.
Ia meletakkan badan Taeyong perlahan ke atas ranjang luasnya, mengunci pintu kamar, kemudian merapalkan mantra penghangat. Jaehyun kembali lagi dengan sebuah baskom dan handuk kecil di tangannya, kemudian meletakkan baskom itu di meja kecil di sebelah ranjangnya, Jaehyun meraih tongkatnya kembali "Aguamenti," rapalnya lirih, perlahan muncul air dengan skala sedang dari ujung tongkatnya, air itu memenuhi setengah isi baskom. Jaehyun menyimpan tongkatnya dan merendam handuk kecil itu, kemudian ia memerasnya dan meletakkan handuk tersebut di atas dahi Taeyong.
Pucat..
Tapi masih rupawan.
Dengan sabar Jaehyun menyingkirkan poni dan beberapa anak rambut Taeyong dari wajahnya, tangan dinginnya begitu kontras dengan badan Taeyong yang sedang demam. Pemuda Jung itu berdiri, kemudian berputar-putar di area kamarnya. Baju Taeyong cukup basah dan ia tidak mungkin membiarkan teman sekelasnya beristirahat dalam keadaan yang seperti itu.
Namun kalau ia harus menggantinya.. Jaehyun menepuk dahinya berusaha mengusir berbagai pikiran kotor yang mungkin singgah, "Sadarlah Jung Jaehyun!" makinya pada diri sendiri, ia nampak berpikir kemudian menjentikkan jari. Ia ingat bagaimana dnegan menyebalkannya Johnny dan Yuta memaksanya pergi ke pesta, mereka saat itu mengganti bajunya secara paksa dengan bantuan sihir. Baiklah..
Jadi ia membuka lemarinya, mengambil sebuah sweater rajut berwarna hijau dan celana training berwarna cream. Jaehyun mengarahkan tongkatnya, pertama ia membuka syal yang dipakai pemuda itu, kemudian jubahnya, dan—astaga bagaimana bisa lelaki punya kulit yang semulus itu? "Hah, ini membuatku gila!" Jaehyun memukul kepalanya, kemudian mempercepat pekerjaannya, ia melepas kaos dalam dan boxer Taeyong lalu menggantinya dengan pakaiannya sendiri.
Sungguh pekerjaan yang berat, kemudian ia melanjutkan dengan merapal mantra pengering ke badan Taeyong dan kasurnya yang sedikit basah tadi. "Kau terlihat lebih baik," gumamnya puas. Ia menumpukan badannya di lutut dan mendekatkan dirinya dengan Taeyong, "Mengapa kau sakit begini? Apa semalaman kau tidak beristirahat? Ten bilang kau juga tidak makan, lalu kehujanan, dasar bodoh." Meski kata-katanya terdengar tajam namun Jaehyun mengatakannya dengan begitu lembut, ia juga mengelus pipi tirus Taeyong.
Sentuhan Jaehyun sampai pada bibir pucat Taeyong yang biasanya terlihat merah alami, jujur saja ia tidak suka dengan bibir pucat lelaki itu karena dingin dan tidak lembut tidak seperti biasanya. Tanpa sadar Jaehyun telah mencondongkan badannya ke arah Taeyong, dengan mata yang tidak terlepas dari sepasang bibir menggemaskan itu.
Jarak keduanya semakin dekat dan Jaehyun menghentikan pergerakan tangannya, ia memajukan wajahnya sampai ia rasa cukup dekat karena ia bisa merasakan nafas lemah Taeyong. Jujur, ia sangat tergoda untuk menempelkan bibirnya ke bibir lelaki manis itu, namun Taeyong pasti membencinya. Jadi Jaehyun memutuskan untuk mencium hidung mancung Taeyong dan kedua pipinya. "Get well soon, dear."
Jaehyun bangkit, lalu menggerakkan tongkatnya pelan, secara ajaib selimut yang awalnya berada di bawah badan Taeyong kini ganti menyelimuti badannya. "Hah, aku juga harus mandi." Gerutunya sebelum melepas seragam quidditch kesayangannya dan memasuki kamar mandi.
. . .
Langit mendung perlahan terganti oleh langit yang kemerah-merahan, mendakan petang akan datang sebentar lagi. Namun masih ada waktu untuk menikmati keindahan langit sore sebelum berubah gelap. "Aku tidak tahu apakah bertemu di taman lebih baik daripada menghadiri selebrasi kemenangan timmu," gumam seseorang dengan rambut pirang kecokelatan—beda dengan pirang gelap Jaehyun— sambil berjalan dan menyimpan kedua telapak tangannya di dalam kantong jubah.
Yang disindir hanya menampilkan senyum manis andalannya, "Aku sudah bosan dengan pesta, tapi jalan hanya berdua denganmu tidak bisa setiap hari kulakukan. Kau selalu sibuk dengan banyak hal," jawabnya santai. "Tapi Hansol hyung, kau serius akan ikut triwizard? Bukannya itu berbahaya? Bagaimana kalau kau bertarung dengan naga Hungarian Horntail yang super besar dan akan membakarmu dengan apinya? Atau diserang para duyung di danau hitam? Atau menemukan portkey yang akan membawamu ke kau-tahu-siapa di dalam labirin?"
Hansol menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mengangkat sebelah alisnya tanda tidak percaya. Badannya yang jauh lebih tinggi dari sosok di depannya membuat yang lebih pendek merasa ciut dan sedikit terintimidasi, "Yang benar saja, Yuta? Kau kira kementrian sihir akan mengizinkan turnamen ini berjalan kembali apabila keamanannya tidak dijamin? Lagipula belum tentu aku menang, aku hanya berminat memasukkan namaku di piala api, empat tahun lalu aku masih belum cukup umur. Kau tahu sendiri saingan di Hogwarts itu berat, Kim Mingyu, Choi Seungcheol, Yugyeom, bahkan temanmu Johnny," baru kali ini Yuta mendengar Hansol menjawab pertanyaannya dengan penjelasan panjang.
Namun Yuta tetaplah Yuta, ia mendecih pelan, "Cih, Johnny itu badannya saja besar. Dia kurang cerdik dan lihai, mungkin Jaehyun yang akan terpilih kalau dia ikut, namun sayang ayahnya pasti tidak mengizinkan, dasar." Ia menjawab dengan sedikit kasar, kemudian berdeham pelan, "Aku—aku hanya takut terjadi sesuatu padamu,"
Ia tau Hansol cukup mendekati kandidat ideal turnamen itu, badannya tinggi dan tegap, cerdik, pintar, cepat, tangkas, selain itu ia punya sense yang bagus. Besar kemungkinan ia yang akan mewakili Hogwarts nanti. "Kenapa kau begitu khawatir, eh? Kan aku yang melaksanakannya, bukan kau," Hansol berujar santai, sebenarnya ia hanya berniat bercanda. "Hei! Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja aku khawatir karena kukira kau menanggap ada yang spesial di antara kita? Oh,pantas kau tidak pernah menemuiku, mungkin kau juga bahkan tidak ingat padaku kalau aku tidak menarikmu paksa dari menara astronomi kesini. Jaehyun salah, kau tidak akan pernah membuka hatimu, mr. prefect!" nada bicara Yuta naik, ia menunjuk Hansol dengan telunjuknya sebagai ungkapan kemarahannya, dan ia mulai berbicara cepat dengan beberapa bahasa Jepang yang terselip—kebiasaan unik ketika ia marah.
"Kau meragukanku rupanya, Nakamoto," balas Hansol kalem, mata Yuta membola. "You're playing hard to get! Itulah mengapa aku meragukanmu dan—"
Tangan Yuta yang sudah siap menunjuk Hansol kembali tiba-tiba digenggam oleh yang lebih tinggi, Yuta tidak melanjutkan kata-katanya. Ia mengenal Hansol dan cukup tahu pemuda itu bukanlah penggila skinship, bergandengan tangan saja hampir tidak pernah, lantas mengapa ia menggenggam tangan Yuta? Dia bisa saja menepisnya bukan?
Pemuda Ji itu menunduk, mengunci tatapannya dengan Yuta. "Y—Ya.. lepaskan bodoh," maki Yuta, namun tidak berpengaruh untuk Hansol. Malah pemuda itu menggenggamnya makin erat.
"Matamu—" Hansol menggantung kata-katanya, Yuta diam, 'Ada apa di mataku?' batinnya bingung, ia ingin memeriksanya dengan tangan namun tangannya sedang digenggam erat, jadi ia hanya mengerjap beberapa kali. "K—Kenapa mataku?" tanya Yuta sambil berkedip lebih cepat.
Hansol tidak mengalihkan pandangannya seinchi pun, Yuta bahkan ragu ia berkedip atau tidak. "Hansol? Ji Hansol? Kau oke? Ada apa dengan mataku?" Yuta mulai merasa tidak nyaman dengan tangan lebar Hansol yang memegang miliknya, ia takut ada siswa lain salah paham—padahal sebenarnya ia senang sih karena Hansol itu miliknya, namun Hansol tidak pernah mengatakannya dengan serius, jadi Yuta ragu.
"Matamu.. cokelat, seperti lelehan cokelat." Bisik Hansol, kemudian melepaskan genggamannya pada Yuta. Dan berjalan lebih cepat, "Ya! Anni.. memang mataku cokelat, mata okaa-san juga cokelat begini! Ya! Kau tidak berniat minta maaf dan malah pergi? Aish! Geurae, tenggelam saja kau di danau hitam besok," Yuta menyumpahi pemuda Ji itu, tidak menyadari jika yang lebih tua menahan tawanya sambil berjalan.
Lelaki bermarga Ji itu berjalan lebih cepat mendahului Yuta untuk masuk kembali ke dalam kastil, sebelum ia menoleh pada lelaki berkebangsaan Jepang itu, "Bagaimana kalau besok kita bertemu di hogsmeade? Jam 4 sore," ujarnya, membuat Yuta terpaku, namun Hansol sudah masuk lebih dulu ke dalam kastil. "Maksudnya apa coba?" batin Yuta bingung, namun ia memutuskan untuk tidak perduli dan masuk ke dalam kastil pula.
. . .
Taeyong membuka matanya perlahan, ini adalah salah satu tidur ternyamannya selama berada di Hogwarts, andaikan saja badannya sudah cukup fit. Lilin-lilin beraroma terapi yang menenangkan, kasur yang empuk dan lebar, serta sweater yang membuat tubuhnya hangat. Hmm—benar-benar seperti bukan berada di kamarnya.
Hah? Bukan berada di kamarnya?
Sedetik kemudian Taeyong membuka kelopak matanya, kemudian mengerjap beberapa kali berusaha menyesuaikan diri dan menghilangkan rasa pening yang masih menderanya. Mengapa atap kamarnya tiba-tiba tinggi dan kenapa kamarnya berubah dua kali lebih luas? Kemana tempat tidur Ten?
Mari berpikir, mengerjakan ramuan, tidur, sarapan, pergi ke lapangan quidditch, kemudian—aku tidak ingat. Dengan perlahan Taeyong menoleh, dan menemukan wajah damai seseorang yang dikenalnya, Jung Jaehyun yang masih tertidur dengan menghadap ke arahnya. Oh yaampun, seluas apapun kasur Jaehyun tapi mereka masih tidur di tempat yang sama! Jangan bilang.. ia ada di kamar Jaehyun?
"Ngh—oh, kau sudah sadar Tae?" Jaehyun yang awalnya baru membuka mata dan merenggangkan tubuhnya terkejut karena mendapati Taeyong menatap ke arahnya, Taeyong juga sama terkejutnya dan sedikit—malu. Tentu saja, harusnya ia sudah bangun bukannya malah balik menatapi Jaehyun seperti orang aneh! "Y—Ya, baru saja, a—aku tidak enak membangunkanmu," gumamnya, lalu cepat-cepat bangkit.
Jaehyun menahannya, "Jangan bangkit dulu, madam Jane bilang kau harus bedrest sampai besok." Dahi pemuda Lee itu berkerut heran, berarti dia sempat dibawa ke hospital wing? "Uhm, jangan salah sangka. Ten membawamu ke hospital wing, tapi guru-guru sedang sibuk dan kurasa Ten harusnya menemani Johnny di pesta, jadi aku memutuskan menjagamu disini. Ini kamarku ngomong-ngomong,"
"Ah begitu, iya aku terkejut menyadari berada di kamarmu," Taeyong menatap ke sekeliling, ada beberapa foto keluarga Jaehyun dan foto bersama teman-temannya di Hogwarts ketika kecil. Seperti biasa, Hogwarts selalu menyimpan foto-foto yang bergerak merekam setiap momen, kelihatannya keluarga Jaehyun sangat-sangat anggun terutama ibunya yang cantik dan ayahnya yang gagah. "Kau sebaiknya meminum ramuan dari madam Jane, sudah kuhangatkan." Jaehyun bangkit dari tempat tidurnya dan menuangkan minuman dari teko ke gelasnya.
Tiba-tiba Taeyong terbangun, "Astaga! Ramuanku!" pekiknya panik, ia ingat ia harus mengaduknya selama delapan jam sekali. Jadi ia merapalkan tempus dan sekarang sudah petang, waktu menunjukkan sudah waktunya makan malam. Artinya sudah terlambat beberapa jam dari waktu yang ia perkirakan. "Ten sudah mengurusnya, beruntung dia dengar kalau kau harus mengaduknya delapan jam sekali,"
Taeyong mendesah lega, "Syukurlah," ia menerima cangkir dari Jaehyun dan meminumnya perlahan, rasa pahit menyerang indra pengecapnya. "Istirahatlah, tiga jam lagi aku akan menemanimu mengaduk ramuanmu." Taeyong mengangguk, lalu meletakkan cangkirnya. "Ah, apa kau tidak pergi ke pestanya?"
Pertanyaan itu membuat Jaehyun kembali duduk di ranjang dan menggeleng, "Tidak, aku tidak apa-apa, malahan lebih senang menemanimu disini," entah mengapa Taeyong merasa sedikit senang, namun ia berusaha mengontrol raut wajahnya, takut tiba-tiba merona dengan memalukan di depan Jaehyun. "Mm, Taeyong, sebenarnya aku ingin meminta satu hal padamu." Nada suara Jaehyun tiba-tiba serius.
Mendengar itu Taeyong menegang, apa kiranya yang akan diminta Jaehyun? Dan situasi mereka saat ini sama sekali tidak menguntungkan baginya, ia ada di asrama Slytherin, di kamar Jaehyun, hanya berdua, dan mereka… berbagi ranjang. "A—Apa itu Jae?"
"Ng.. aku—"
Sudut mata Taeyong berkedut pelan, detak jantungnya meningkat tiba-tiba..
"Ajarkan aku membuat veritaserum!" pekik Jaehyun.
Tiba-tiba suasana berubah hening, mulut Taeyong membuka kecil kemudian menutup kembali. Sungguh ia merasa bodoh karena sempat berfikir yang macam-macam, "Ha..hahaha, baiklah," ia terkekeh canggung, Jaehyun tersenyum lebar bak bocah berumur lima tahun yang dibelikan mainan baru. "Nice, aku sudah mencobanya kemarin, namun gagal. Apalagi aku harus membagi waktu dengan latihan quidditch, punyamu sudah hampir selesai kan? Kau memang terbaik," celoteh Jaehyun. Membuat Taeyong mengelus dadanya sendiri, sabar.
. . .
Hari ini adalah dua hari sebelum Natal, Taeyong dan Ten akan mengambil liburan. Mereka rencananya kembali dengan menaiki Hogwarts express menuju stasiung King Cross di London dan melanjutkan perjalanan dengan menaiki pesawat ke negara masing-masing di bandara London.
Ten dan Taeyong menyihir barang bawaan mereka menjadi kecil dan memasukkannya ke dalam kantong, akan repot membawa koper besar bila mereka bisa menyihirnya menjadi lebih kecil. Taeyong mengambil mantel dan memakainya sebelum berjalan keluar kamar bersama teman sekamarnya itu. Mereka menuruni tangga menara Hogwarts dan berjalan menuju hall yang akan menghubungkan dengan pintu keluar kastil.
"Kau benar tak mau mampir ke mansionku Tae?" tanya Ten, Taeyong tersenyum meminta maaf, "Sesungguhnya aku ingin sekali, namun kau tahu sendiri aku tidak punya jaringan floo di rumah Ten, dan appa pasti tahu kalau aku melakukan apparation, Thailand itu jauh sekali dari Korea," jawabnya memberi pengertian.
Wajah Ten ditekuk kesal, "Pasti aku kesepian sekali di pesta," Taeyong memutar bola matanya, rumor mengatakan rumah Ten bisa ditempati seratus orang di dalamnya—saking besarnya— dan keluarganya akan mengadakan pesta Natal, sudah pasti mereka akan mengundang banyak orang bukan? Apalagi Ten bilang adiknya Tern dan pacarnya juga akan menghabiskan liburan di Thailand, jadi bagaimana mungkin dia kesepian? "Johnny bagaimana? Dia datang bukan?"
Senyum lebar tiba-tiba terlukis di wajah Ten, ia mengangguk, "Dia tidak janji sih, soalnya setelah mengunjungi manornya di London dia akan pergi ke Chicago dulu menemui neneknya. Ya asal acara di manor neneknya selesai dia akan pergi ke rumahku." Taeyong memberi senyum jahil, "Cie, kau akan mengenalkannya ke keluargamu?" Ten mendengus sebal dan memukul lengan Taeyong, "Aish, seperti aku tidak pernah membawa teman ke rumah saja, jangan berlebihan!"
Keduanya tertawa, kemudian memelankan suara karena melewati ruang guru-guru, namun keduanya berhenti mendadak karena pintu ruang guru dibuka dengan debuman keras. Profesor Leo dengan wajah dinginnya berdiri tepat di hadapan mereka, "Pro—profesor?" gumam Ten dan Taeyong kompak. "Sudah kubilang mereka ada disini," jawab profesor itu dengan nada kalem yang ganjil.
Pintu kembali dibuka namun kali ini lebih pelan, ibu kepala sekolah berdiri di samping profesor Leo. "Terima kasih profesor, ah, Taeyong.. ada yang ingin aku berikan kepadamu, ini," baik Ten maupun Taeyong sedikit bingung mengapa kepala sekolah ada di ruang guru, bukannya di menara kepala sekolah? Namun Taeyong tetap mengulurkan tangannya menerima amplop berlambang kementrian dan membukanya, tiba-tiba surat itu melayang dan surat itu berbicara dengan suara milik ketua divisi Departemen Kerjasama sihir internasional alias ayah Johnny. Perlu aku ingatkan Taeyong masih suka terkejut dengan apa yang bisa dilakukan sihir termasuk surat yang berbicara sendiri.
'Kepada: Lee Taeyong.
Selamat kau diterima menjadi calon auror baru di kementrian. Untuk itu karena kau belum lulus dari sekolah sihir Hogwarts maka kau perlu mengikuti pelatihan terlebih dahulu di kementrian selama libur musim panas depan. Tidak lama, hanya satu bulan saja. Pelatihan akan dipimpin langsung oleh auror-auror senior dan diikuti oleh beberapa calon auror baru. Apabila kau berminat untuk mengikuti maka kau perlu mengisi formulir persetujuannya dilengkapi dengan tanda tangan orangtua/wali. Dikumpulkan selama bulan Januari.
Terima kasih.
Salam, kementrian sihir.'
"W—Wah, benarkah ini profesor?" Taeyong memegang surat tersebut, lalu mendekapnya di dada. Ibu kepala sekolah mengangguk sambil tersenyum lembut, "Selamat, ternyata formulir aplikasimu diterima Taeyong. Namun apabila kau merubah pikiran kau bisa mengumpulkan formulir aplikasi untuk pekerjaan yang baru,"
Taeyong tersenyum bahagia, namun perlahan senyumnya luntur, "Ah—tapi.. ayahku pasti tidak akan mau menandatanganinya," gumamnya sedih, tentu ia tidak akan minta tanda tangan ke ibunya yang seorang muggle, ibunya kan tidak tahu apa-apa. "Coba berbicara dulu dengan ayahmu Tae, kalau belum berhasil kami akan membantu, bagaimanapun kejadian dulu adalah kesalahan kementrian,"
Mendengar itu mata Ten melebar, "Kesalahan kementrian? Ada apa Tae? Ada hubungannya dengan ayahmu yang melarang kau menjadi auror?" tanyanya penasaran, "Ah.. itu, iya, tapi aku tidak bisa menceritakan masalahnya Ten, itu rahasia kementrian dan keluargaku." Sebenarnya Ten masih ingin bertanya lebih lanjut, namun ia sadar Taeyong pasti menutup mulutnya. Lagipula.. mereka bisa ketinggalan kereta.
"Baiklah, nikmati waktu libur kalian baik-baik. Sampai jumpa di tahun baru anak-anak," ibu kepala sekolah melambaikan tangannya, Ten dan Taeyong mempercepat langkah mereka. Mereka perlu mengejar kereta Thestrals—well lebih tepat disebut dengan kereta atau gerobak penumpang tanpa penarik, karena tidak semua orang bisa melihat makhluk itu, hanya orang-orang yang pernah melihat kematian saja— untuk sampai ke stasiun.
Keduanya sampai di luar kastil Hogwarts, dan hanya perlu berjalan sedikit untuk sampai ke gerbang dan menaiki kereta Thestrals disana. "Hai Ten, halo Taeyong," sapa sebuah suara, "Oh senior Chanyeol," Ten tersenyum ramah, sementara Taeyong sedikit bengong, Chanyeol tidak memakai jubah khas guru dan menggunakan pakaian kasual. Ketampanannya jadi bertingkat beberapa derajat. "Sudah mau pulang?"
"Iya, kuharap kami sampai ke stasiun tepat waktu," jawab Taeyong, "Hanya berdua saja?" profesor Chanyeol menatap ke sekeliling, mereka memang termasuk yang paling akhir kembali untuk mengambil liburan karena yang lain sudah kembali lebih awal, Taeyong saja sudah berniat kembali lebih lambat apabila ramuan veritaserumnya belum jadi, untung saja ramuan itu selesai tepat waktu dengan hasil yang cukup baik.
Tiba-tiba terdengar dua pasang langkah kaki berat menuju mereka, "Sebenarnya berempat, senior," dengan suara dingin dan nada datar sudah bisa dipastikan yang berbicara adalah Jung Jaehyun, Taeyong berkedip beberapa kali, perasaan ia tidak memiliki janji untuk pulang bersama dengan Jaehyun dan juga.. Johnny.
Ten menyikut Johnny pelan, "What?! Kau bilang tidak pulang sekarang karena menemani Yuta dulu di Hogwarts? Dan baru besok langsung pergi ke rumahmu dengan bubuk floo?" tanya lelaki yang lebih pendek dengan bisikan namun mampu didengar semua orang, "Awalnya begitu, tapi kurasa Yuta lebih suka kalau aku pergi karena dia bisa berduaan dengan tuan prefect favoritnya. Lagipula.. Jaehyun memaksaku pergi ke stasiun," balas Johnny dengan bisikan yang sama kerasnya dengan Ten, pasangan itu benar-benar.
"Aku tidak memaksamu!" ketus Jaehyun, "Blah, blah, siapa yang membangunkanku pagi buta dan memaksaku berkemas? Oh sial, padahal dengan bubuk floo aku bisa sampai kemana saja secepat kedipan mata," sindir Johnny, Chanyeol mau tidak mau tertawa melihat mereka saling uring-uringan satu sama lain.
"Kadang sifat kalian lebih kekanakan daripada Mark dan teman-temannya," senior itu tersenyum geli, keempatnya langsung diam dan memasang pose tegap. "Tidak senior, aku tidak mau disamakan dengan mereka, aku adalah pihak paling tenang disini." Taeyong mencibir, langsung dibalas dengan jitakan oleh Ten. "Kalau begitu sampai jumpa senior!" Johnny melambaikan tangannya.
Chanyeol balas melambaikan tangannya juga, "Merry christmas anak-anak! Dan selamat tahun baru juga," ucapnya memberi selamat dengan tulus, "Merry christmas!" balas mereka berbarengan.
Akhirnya mereka benar-benar keluar dari gerbang Hogwarts dan untungnya sudah ada satu kereta thestrals yang menunggu, Johnny merangkulkan tangannya di pundak Ten yang lebih pendek dan mulai berbincang bersama, sementara di belakang pasangan itu Jaehyun dan Taeyong berjalan beriringan dengan hening.
Kereta Thestral mulai bergerak menelusuri hutan yang akan menghubungkan mereka dengan stasiun di dekat Hogwarts, "Adakah dari kalian yang melihat thestral?" tanya Ten, Taeyong menggeleng, begitu pula dengan Jaehyun. "Aku," jawab Johnny, ia pun melakukan high five karena Ten juga melihat makhluk itu.
Jaehyun mendecih, "Jangan membual John," Johnny memicingkan matanya tidak terima, "Hei, aku sungguh melihatnya! Aku menyaksikan kematian dua kali, kakekku dan kucingku,"
Bahkan tangan Johnny sudah berniat menyentuh thestral sebelum Taeyong menahannya, "Sudah-sudah jangan bertengkar, aku memang tidak melihat thestral, tapi aku tahu dia adalah makhluk yang bisa terbang dengan cepat bahkan lebih cepat dari firebolt. Aku tidak mau kita mati mengenaskan karena dibawa terbang olehnya, oke?"
Kereta thestral akhirnya berhenti, Johnny turun dan mengelus moncong makhluk itu lembut, "Bye, see you next year buddy!" ia menyuapkan segenggam daging segar yang langsung hilang—sepertinya karena dimakan oleh makhluk tak kasat mata itu— Ten memekik girang, "Wow! Dia menyukainya," lalu ikut-ikutan mengelus makhluk itu. Sungguh apabila ada manusia biasa yang melihat kelakuan keduanya mereka pasti dicap pasangan gila karena mengelus-elus angin.
Sementara Jaehyun nampak tak perduli dan melangkah masuk ke dalam Hogwarts express, kereta yang akan membawa mereka ke London. Diikuti Taeyong di belakangnya, "Aku bahkan heran sejak kapan dia membawa daging segar di tasnya," Jaehyun menggeleng-geleng, "Jae.."
"Yes?" dia menoleh, "Eum, bukannya kompartemen Slytherin ada disana?" Taeyong menunjuk ke gerbong kereta yang lain, "Aku ingin berada dalam kompartemen yang sama denganmu," Jaehyun akhirnya tersenyum, Taeyong melongo namun mengangguk-angguk saja.
Percakapan mereka disela oleh Johnny yang bersiul dengan kerasnya dari belakang mereka, "Kode terus sampai mampus~" dan dengan sengaja ia menyenggol bahu Jaehyun lalu masuk ke salah satu kompartemen yang ada di gerbong Gryffindor bersama Ten, Jaehyun menahan dirinya supaya tidak mengumpat. "Lihat saja, kubocorkan rahasia besarmu pada Ten,"
Membuat Johnny terdiam, namun akhirnya keempat orang itu berakhir duduk di dalam kompartemen yang sama. "Mengapa Yuta tidak kembali bersama kalian juga?" Ten membuka suara, Johnny yang langsung memesan berbagai camilan dari nyonya pengantar makanan mengunyah kuenya dulu sebelum menjawab. Begitu pula dengan Taeyong yang memandangi cokelat-cokelat di hadapannya dengan mata berbinar.
"Karena Hansol tidak pulang, tuan prefect itu akan berlatih untuk triwizard, jadi Yuta memilih menemani. Lagipula, hari ini mereka ada kencan di Hogsmeade." Jelasnya, Ten mengangguk lalu memakan salah satu permen yang warna-warni dan bisa ditarik—seperti yupi— "Kau sendiri serius ikut triwizard? Tidak usah, kompetensi itu menakutkan." Tukas Ten dengan nada sedikit berapi-api.
"Aku tetap meletakkan namaku di piala api, tapi siapapun pasti tahu Hansol-lah yang akan keluar jadi juara Hogwarts. Makanya Yuta stress sendiri," jawab Johnny, "Hm, menarik. Bagaimana bisa Yuta bersanding dengan Hansol yang kalem. Tapi kalau dilihat mereka memang cocok, Hansol selalu terlihat melindungi Yuta yang ceroboh." Taeyong ikut-ikut mengomentari.
Jaehyun yang dari tadi diam pun membuka suara, "Makanya kubilang mereka itu sama-sama tidak peka, Hansol tidak peka karena tidak sadar dengan perasaan Yuta padahal Yuta sudah blak-blakan, sementara Yuta sendiri juga tidak peka padahal Hansol menyukainya," yang lain menyetujui perkataan itu.
Sampai akhirnya percakapan mereka kembali terhenti karena sudah sampai di King's Cross stasiun, mereka turun bersama dengan beberapa penumpang asal Hogwarts yang lainnya. "Nah, sampai jumpa di mansionmu Ten, pastikan kau membuka jaringan floo nya." Johnny memeluk badan kecil Ten sekilas lalu menangkup pipi Ten, "Ya! Pastikan kau melafalkan alamat rumahku dengan benar! Bisa-bisa kau berakhir di bagian lain Thailand dan nyasar karena salah melafalkan,"
Johnny menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Ten buru-buru melepas tangan besar Johnny di pipinya lalu memberi pelukan singkat sekali lagi. "Aku akan belajar melafalkannya, kita berhubungan lewat Skipe ya nanti," sumpah alamat mansion Ten sama rumitnya dengan nama pemuda itu. Mereka berpisah karena Jaehyun dijemput, Johnny lewat jaringan floo stasiun, sementara Ten dan Taeyong akan berapparate ke bandara.
Namun sesaat setelah Johnny menghilang ditelan api hijau jaringan floo, Jaehyun menahan pundak Taeyong. "Bolehkah aku mampir ke rumahmu malam tahun baru nanti?" tanyanya, "Uh, boleh sih.. akan kuberikan alamatnya, tapi di rumahku tidak ada jaringan floo dan jangan berapparate! Ayahku akan mengetahui jejaknya,"
Jaehyun terkekeh, "Aku sudah dengar tentang hal itu, tidak masalah, aku bisa naik pesawat ke Seoul. Lagipula keluargaku juga berasal dari Korea," dalam hati Taeyong mencibir, tentu harga tiket pesawat tidak akan menjadi masalah untuk keluarga Jung. "Lalu setelahnya aku akan mengajakmu main ke manorku, sebelum kita kembali ke Hogwarts,"
"Ah.. apa ayahmu.. tidak keberatan dengan half blood sepertiku?" Jaehyun menggeleng, "Tidak, sudah tidak apa-apa sekarang. Kalau begitu sampai jumpa,"
Ten dan Taeyong menatap Jaehyun yang dijemput dengan sebuah mobil limousine, "Holy moly! Bahkan di dunia muggle dia tetap seorang lord," pekik Ten, tidak sadar bahwa dia juga hampir sama kayanya dengan Jaehyun. Taeyong menggeleng-geleng, "Ayo Ten!" dan mereka berapparate dari bilik kamar mandi agar tidak diketahui manusia biasa.
. . .
"Merry christmas!—"
"—Ya! Merry christmas! Butuh sebuah lelucon untuk menghabiskan Natal?"
Haechan dan Mark terkekeh memandang si kembar trouble maker pemilik toko lelucon paling terkenal seantero Hogsmeade. Toko itu memang dulunya milik kakak laki-laki kembar keluarga Weasley, namun setelah salah satu dari sang kembar itu meninggal toko itu sempat didiamkan beberapa saat.
Sampai bertahun-tahun kemudian entah keturunan keberapa dari mereka mulai menjalankan toko tersebut lagi, dan lucunya, mereka juga kembar. Sekarang toko itu milik Youngmin dan Kwangmin, si kembar lucu yang baru saja lulus dari Hogwarts. Mark dan Haechan baru saja kembali dari membeli buku pesanan Mark di Leaky Cauldron kemarin, mereka memang tidak pulang liburan ini. Kemudian memutuskan berjalan-jalan sebentar ke Hogsmeade sebelum kembali ke Hogwarts.
"Mark hyung, kira-kira aku membeli apa ya kali ini?" Haechan menggaruk dagunya bingung, Mark menatapnya tajam. "Berhenti bersifat jahil Haechan, kau sudah menjahili aku, Jeno, dan Jaemin dengan mainan-mainanmu itu. Bahkan kau memberi profesor Alexia bola berisik membuat profesor itu tidak bisa tidur semalaman dan mengadu ke ibu kepala sekolah, jangan kira aku tidak tahu ya,"
Haechan menampilkan senyum jahilnya, bola berisik adalah mainan yang dijual di toko ini juga. Di tahun ketiga ketika pertama kali diperbolehkan keluar Hogwarts, Haechan membelinya, awalnya hanya ingin digunakan sebagai koleksi pribadi. Karena menurut penjelasan bola itu tidak akan berhenti mengeluarkan suara memekakkan ketika dinyalakan dan hanya berhenti ketika pemilik bolanya mematikan bola tersebut. "Habis, professor Alexia memberiku detensi padahal aku hanya membantah penjelasannya mengenai ramalan karena memang ramalan itu bukan hal yang pasti,"
Keduanya menyusuri rak-rak berisi barang-barang antik dengan sihir jahil yang kuat, "Terserahmu lah, hei Youngmin hyung, apa kau punya barang menarik yang tidak menimbulkan efek kejahilan yang besar? Aku sedang tidak ingin dapat masalah," Mark beralih pada Youngmin yang sedang membereskan sebuah rak, "Oh, Mark, si anak baik-baik. Hmm sepertinya ada tapi kau perlu membayar mahal untuk itu, sebentar biar ku ambilkan,"
Tangga yang dipakai Youngmin berdiri untuk melihat isi rak paling atas bergerak secara horizontal sendiri, membantu Youngmin berpindah ke sisi rak yang lain. "Hyung! Lihat, mereka punya ramuan baru. Aku beli tiga karena gratis satu, satu botol hanya lima galleons," Haechan tiba-tiba muncul dengan empat buah botol ramuan bening, botol yang isinya hanya sepuluh mili itu bisa menimbulkan efek yang sangat besar, tergantung isi di dalamnya.
Yang lebih muda menunjukkannya ke depan Mark, "Lihat, yang ini adalah ramuan cinta. Ini yang kudapatkan gratis, padahal kalau buat sendiri memakan waktu lama kata para senior, dan biasanya lebih mahal. Nah, kalau yang ini felix felicis, ramuan keberuntungan kita kan baru tingkat empat, hanya siswa tingkat enam yang bisa mendapatkannya. Kalau yang ini ramuan pereda kemarahan, yang terakhir ramuan pembungkam," Mark mencibir, "Yang terakhir harusnya kau beli setiap saat Haechan-ah, supaya kau lebih tenang," Haechan memukul bahu Mark, lalu pergi kembali.
Mereka dikejutkan oleh Youngmin yang tiba-tiba kembali dengan sebuah kamera kuno yang bahkan cahaya blitznya lebih menyilaukan dari cahaya kutukan terlarang—seperti kata Jeno—. "Bloody, apa itu hyung?" Mark memandang kamera yang ada di tangan Youngmin itu, untungnya ukurannya kecil sehingga bisa pas di kantong, seperti kamera pocket biasa. "Oh, ini, adalah kamera pencari berita yang biasanya dipakai oleh juru kamera yang menemani Rita Skeeter. Hanya saja, aku dan Kwangmin sudah memodifikasinya, kamera ini akan menghasilkan foto sesuai dengan apa yang ada di pikiranmu."
Kemudian tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan muncul di depan Mark, membuatnya sampai harus berkedip-kedip untuk menyesuaikan penglihatannya kembali. "Astaga hyung, kau hampir membuatku buta," kesal Mark, dan Youngmin menyerahkan secarik foto yang baru saja jadi—Mark baru tahu cara kerja kamera itu seperti polaroid— "Hah? Apaan ini?" pasalnya, di foto tersebut Mark mengenakan pakaian badut, bukannya mantel dengan hoodie dilengkapi bulu-bulu di sekelilingnya. "Karena aku berfikir aku melihatmu dengan kostum badut Mark, ini dua puluh galleon,"
Namun karena ia merasa benda tersebut cukup menarik ia mengeluarkan uang dua puluh galleonnya, "Trims hyung," Youngmin hanya mengangguk. "Mark hyunggg! Aku beli kuping pengintai, untuk mendengar pembicaraan yang jauh. Wah kau beli kamera? Aku jadi ingin beli, eh tidak jadi deh." Mark memutar bola matanya, "Kau sudah beli banyak, Haechan."
Suara langkah mereka yang menginjak salju yang masih tipis menjadi satu-satunya suara selain christmas carol yang diputar dengan suara rendah, padahal masih baru saja petang, belum mendekati jam malam namun karena musim dingin langit menjadi hitam pekat. "Oh, bukannya itu Hansol hyung?" Haechan yang seorang hufflepuff tentu saja mengenali prefectnya, "Assa! Karena Hansol hyung masih di luar artinya ia tidak akan berpatroli lebih awal,"
Mark menoyor kepala Haechan, "Ya! Kita tetap kembali tepat waktu oke," Haechan mendengus, "Tunggu, Hansol hyung bersama siapa?" matanya memicing, Mark ikut-ikutan, "Itukan.. Yuta hyung, pemain quidditch Slytherin, mengapa mereka terlihat sangat dekat?" tanya Mark.
Mereka ikut masuk Yuta dan Hansol ke dalam sebuah kedai makan dan Mark memilih lantai atas dan duduk di tempat di dekat perapian, sayang posisi duduknya jauh dengan Hansol dan Yuta yang memilih duduk di lantai dasar. "Mereka bicara apa sih? Aku penasaran, habisnya, senior Yuta kan galak, bagaimana bisa dekat dengan Hansol hyung?" Haechan menggelengkan kepalanya tidak percaya, namun ia teringat sesuatu. Ia mengeluarkan kuping pengintainya, "Nah, kuharap benda ini akan berguna,"
Haechan menjulurkan tali kuping pengintai itu sampai lantai dasar, berusaha membuat kuping mainan itu tidak mencolok. "Mark hyung, ayo dengarkan!" Mark mendesah malas, "Ini tidak dibenarkan tau," nasihat Mark, namun ia tetap ikut mendengarkan.
"Sebaiknya kita makan lebih cepat, aku harus berlatih beberapa mantra penyerang," samar-samar mereka mendengar Hansol membuka suara, sepertinya mereka tidak sadar akan keberadaan kuping pengintai Haechan, "Astaga, makanan kita bahkan belum datang hyung. Memang kau tidak takut terkena detensi karena melanggar jam malam?"
"Tidak, masih ada tiga jam lagi. Kau pergilah tidur," Yuta menggeleng, "Aku akan menemanimu. Lagipula, aku bisa kok menjadi lawan duelmu," kali ini Hansol yang menggeleng, "Yuta, itu bisa jadi berbahaya. Aku tidak ingin kau terluka karena tidak bisa menghindari seranganku,"
Yuta sepertinya mendelik marah, "Hei! Jangan meremehkanku hyung, hyung membuatku terlihat seperti orang bodoh, aku ini jago tahu," Haechan terkikik geli, "Yuta hyung memang pandai berkelahi dengan tangan kosong, dan juga quidditch. Tapi menggunakan mantra kan dia tidak sejago Hansol hyung," Mark menyuruh Haechan untuk diam supaya ia bisa mendengarkan percakapan mereka dengan fokus.
"Dan Yuta, berhentilah khawatir. Ini tidak seperti aku akan mati dalam turnamen itu, kujamin aku pulang dengan membawa nyawaku oke?" Hansol berusaha menyakinkan, Yuta menundukkan kepalanya, "Mengapa kau selalu melarangku khawatir? Bukannya wajar aku bersikap seperti itu? Apa kau tidak ingin kukhawatirkan hyung? Apa kekhawatiranku mengganggumu? Aku tahu kau mungkin menganggapku tidak penting, namun aku—"
"Aku mencintaimu, Nakamoto Yuta."
Sontak Haechan dan Mark yang mencuri dengar hampir memekik terkejut sayangnya mereka berakhir dengan tersedak udara, "Hah? Apa ini?" Mark menyuarakan keterkejutannya.
Namun Yuta juga sama kagetnya dengan mereka berdua, ia sampai harus mendongak dan menampilkan wajah terkejut yang jarang ia tunjukkan pada siapapun karena image sassynya. "Kukira kau.." Hansol tertawa pelan, "Kau benar-benar tidak peka rupanya, aku akan mengusir orang semenyebalkan dirimu apabila aku tidak menyukaimu Yuta. Jangan kira aku tidak mendengar pembicaraanmu dengan Jaehyun di aula besar beberapa hari yang lalu. Aku hanya ingin kau tidak khawatir dan mendukungku, kalau kau khawatir aku juga ikut khawatir dan konsentrasiku akan pecah nantinya. Percayalah, dan aku akan membawakan kemenangan untukmu, bagaimana hm?"
Pemuda asal Jepang itu menggigit bibirnya sendiri malu, ia malu karena meragukan Hansol, dan malu juga karena berfikir yang tidak-tidak mengenai pemuda itu. "Maaf.. aku—aku tidak tahu kau juga merasakan hal yang sama, kukira benar-benar tidak ada yang spesial di antara kita." Hansol membelai pipi Yuta lembut, mengangkat dagu Yuta supaya ia berhenti menunduk. "Tidak apa-apa,"
"Mark hyung! Mana kameramu?" Mark yang masih dalam fase keterkejutan memberikan kamera yang baru saja ia beli pada Haechan, dan Haechan langsung menekan tombol shutternya. "Hae—Haechan! Kameranya bercahaya kuat—"
Blitz!
Terlambat..
Beberapa orang di bawah mendongak ke atas merasa terusik akan cahaya terang yang tiba-tiba muncul, mendapati Mark dan Haechan sedang melongok ke bawah, terutama Haechan yang memegang kameranya. Haechan tersenyum meminta maaf kemudian menarik diri, juga menarik kuping pengintainya. Untung saja Hansol dan Yuta tidak menyadari keberadaannya. "Hfft, hampir saja," Haechan mengelus dada, kemudian memegang foto hasil kamera tersebut.
Foto itu bergerak, seperti biasa. Namun ada yang berbeda, bila tadi Hansol hanya membelai pipi Yuta, di foto tersebut setelah membelai pipi Yuta, Hansol—memeluk Yuta, dan Yuta… mencium bibir tuan prefect tersebut. "Ehh? Bagaimana bisa begini?" Haechan menunjuk foto itu bingung, Mark menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menyimpan kameranya kembali. Memang sih kejahilan benda tersebut tidak seberapa, tapi tetap saja bahaya.
"Kau sih, tidak tanya aku dulu. Kamera itu menghasilkan gambar sesuai dengan pikiran yang mengambil gambarnya, kau membayangkan dua senior itu melakukan yang tidak-tidak ya?!" Haechan menggeleng kuat, namun Mark tahu jawaban yang sesungguhnya. "Simpan foto itu, jangan sampai tersebar dan masuk halaman utama daily prophet, aku tidak mau mati di tangan para senior," ancam Mark.
. . .
Yuta merapatkan mantelnya, syal hijau favoritnya ia tinggalkan di asrama. Dan ia sudah berjalan terlalu jauh ke dalam hutan terlarang, kembali ke asrama hanya untuk sekedar mengambil syal adalah perbuatan yang sia-sia.
Suara ranting terinjak dan lolongan hewan-hewan memasuki indra pendengarannya, ia hanya mengikuti Hansol, karena sebelumnya Yuta tidak pernah masuk sejauh ini ke dalam hutan terlarang. Lelaki yang lebih tinggi nampaknya sudah berpengalaman, ia memimpin jalan dengan sebelah tangan membawa tongkat sihir yang mengeluarkan cahaya berkekuatan sedang.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya berhenti di bagian hutan yang cukup lapang. Tidak ada pepohonan yang lebat, dan lebih utama tidak akan mengganggu keberadaan para hewan sihir. "Yuta? Kenapa kau ada di belakang sekali, kau bisa ketinggalan nanti," Yuta berjalan mendekat, Hansol langsung memegang telapak tangannya.
"Tanganmu membeku," gumam Hansol, "Ck, tidak, aku sudah biasa seperti ini!" Yuta membual dan berusaha menarik tangannya, sesungguhnya ia memang sudah sangat kedinginan. Tapi.. ia tidak ingin terlihat lemah. Hansol merengut tidak suka, ia merogoh saku mantelnya, "Finite," tiba-tiba muncul sebuah kain berwarna kuning—sebenarnya syal rajut—, rupanya Hansol memantrai benda tersebut dengan mantra pengecil kemudian mengembalikannya jadi besar lagi.
Lelaki asal Jepang itu memandangi syal Hansol, "Ini, aku selalu bawa dua kalau-kalau aku menghilangkan yang satunya. Lain kali, jangan keluar rumah tanpa syal di musim dingin," Hansol melingkarkan kain tersebut di leher Yuta, membuat sang empunya menahan diri agar tidak merona.
Cukup lama Yuta melihat Hansol berlatih, kebanyakan sih sudah sempurna karena lelaki itu memang pintar dari lahir. Namun mantra pertahanan dan perlindungannya kurang baik, selalu saja ada celah yang bisa ditembus, kemudian perisai yang ia buat lama-lama mengecil dan hilang. "Sial,"
"Hansol, sedang apa kau?" sebuah suara mengejutkan mereka, prefect Slytherin bernama Oh Sehun secara mengejutkan muncul dari balik rimbunnya pepohonan. Sebagai sesama prefect Hansol tak heran Sehun menemukannya, "Oh senior," Yuta membungkukkan badannya menyapa, biar bebal ia masih takut pada prefectnya, tapi senior itu tidak sendiri, rupanya bersama dengan Qian Kun, si pintar dari Ravenclaw.
"Aku sedang berlatih mantra protego, tapi sepertinya belum bekerja dengan baik. Kau sendiri?" Sehun menunjukkan buku tebal berjudul 'The monster book of monsters' miliknya, kemudian menunjuk Kun, "Aku mengulang pelajaran pemeliharaan satwa gaib, dan secara kebetulan dia adalah yang terpintar dan kepercayaan professor Wu, jadi—aku belajar dengannya,"
Kun tersenyum ramah, well, dia memang selalu ramah sih. "Kau berlatih untuk triwizard besok? Aku mendukungmu Ji, perlu bantuanku? Aku menguasai mantra protego dengan cukup baik," Kun dan Yuta mundur, mereka melihat Sehun yang rambut hitamnya tampak bersinar diterpa cahaya bulan mengeluarkan tongkat nadi naga miliknya. "Kunci dari mantra perlindungan adalah konsentrasi—"
"Tidak perlu kau jelaskan aku juga tahu itu, Oh." Hansol menjawab kalem, "Begitukah? Kalau begitu kau seharusnya sudah memahami cara kerjanya, hm, aku akan menggunakan salah satu dari kutukan tak termaafkan, kita kan sudah legal untuk mempelajarinya. Tenang aku tidak akan menggunakan mantra kematian, tentu saja memang aku mau berakhir di azkaban? Dan tidak menggunakan mantra penyiksaan pula, jadi.."
"Senior Sehun akan menggunakan Imperio," gumam Kun, Yuta menoleh, "Hah? Apa itu?" Kun menatap Yuta sabar, "Itu adalah mantra pengontrol, Nakamoto. Pelajaran defends against the dark art di tahun keempat, korban akan melakukan apapun yang diinginkan pemantra. Korban akan mati rasa juga tidak akan sadar walaupun pemilik menyuruhnya untuk menusuk dirinya sendiri dengan pisau, sederhana tapi keji,"
Sekarang Yuta baru merasa takut, mengapa ia tidak mendengarkan pelajaran dari dulu? Dan apa-apaan prefeknya itu? Mengapa ia menggunakan kutukan tak termaafkan!
"Protego,"
"Imperio!"
Bahkan hanya sedetik setelah Hansol merapalkan protegonya Sehun sudah merapalkan mantra tersebut, kini mereka bisa melihat Hansol bergerak sesuai dengan gerakan tongkat sihir Sehun. Bahkan Sehun menghempaskan badan Hansol ke pohon berulang-ulang, Yuta terbelalak memandang hal tersebut ia bersumpah akan melaporkan Sehun ke kepala sekolah meskipun tujuannya adalah pembelajaran. Ia tidak pernah mendapati bagaimana cara kerja mantra tersebut—tentu saja, lagipula siapa yang akan menggunakannya?
Yuta berdiri, "Hentikan! Senior, hentikan!" pekiknya marah, Hansol seperti anjing yang tunduk pada pemiliknya, lelaki itu bahkan tidak punya kendali atas dirinya sendiri. "Baik, aku hentikan." Sehun menjawab santai, "Argh!" Hansol mengerang, nyeri baru saja melanda tubuhnya, terutama di bagian punggung, sepertinya ia tertusuk ranting. "Nah, 1-0 untukku Ji Hansol." Sehun tersenyum meremehkan.
Mereka terus berduel dan saling menyerang dengan Sehun yang selalu jadi pemenangnya, sampai hanya tersisa tiga puluh menit lagi sebelum jam malam diberlakukan. "Expelliarmus!" lontar Hansol tak tahan, Sehun terpental berlawanan arah dengan tongkat sihirnya. "Hei! Ini curang, kau tidak bisa menyerangku dengan mantra itu, Hansol." Sehun bangkit lalu menepuk-nepuk jubahnya yang kotor karena ia terjerembab di tanah hutan yang basah.
"Sebentar, berhenti sebentar. Aku harus menguasai diri," Yuta langsung berlari mendekat, "Dimana kau terluka? Biarkan aku menyembuhkannya, atau kita perlu ke hospital wings?" Hansol malah masih bisa-bisanya tertawa pelan, "Kebanyakan orang akan bertanya 'apa kau baik-baik saja?' tapi kau malah sudah yakin aku terluka,"
Yuta menepuk Hansol kesal, "Karena aku tidak ingin dengar jawaban 'aku baik-baik saja' darimu, sudah, hentikan ini." Namun Hansol menggeleng, ia berdiri lagi dan menggulung ujung jubahnya sampai siku. "Mau kuberi petunjuk Hansol? Selain konsentrasi, ada lagi hal yang bisa membantu mantra perlindunganmu bekerja sempurna. Fikirkan mengenai memori bahagia dan hal yang paling ingin kau lindungi, it helps me a lot back then, Hm, mungkin kalau aku menyerang pacarmu itu mantramu akan bekerja,"
Setelah mendengar itu Hansol langsung mendorong Yuta ke samping, menyingkirkan lelaki itu sejauh mungkin dari posisinya berdiri dengan Sehun "Jangan macam-macam Oh Sehun!" geramnya marah, Sehun tertawa keras. Hansol buru-buru menguasai dirinya, 'Konsentrasi Hansol.. kenangan bahagia, bahagia..' rapalnya di dalam hati, ia membayangkan bagaimana ketika kecil orangtuanya mendidiknya dengan disiplin tinggi, mempertemukannya dengan Jonghyun—ah, orang itu, dia adalah kenangan buruk. 'Bukan itu Hansol, bukan..'
Perisai yang tadi muncul tipis kembali hilang, 'Sepertinya kenangan lama tidak akan berhasil, baiklah yang paling baru..' lalu otaknya dipenuhi bayangannya sebagai seorang prefek, professornya memberi ia penghargaan karena jadi yang paling baik di kelas, kemudian seseorang dengan bahasa Korea dan Inggris yang kurang lancar kala itu membuntutinya setiap saat.. memanggilnya 'Tuan prefek' atau 'Hansol hyung', kemudian ia mengetahui bahwa sosok itu bernama Nakamoto Yuta, Yuta yang menunggunya, Yuta yang menyukainya, Yuta tersenyum kepadanya, Yuta yang selalu khawatir kepadanya, dan—dengan seenaknya Sehun ingin menjadikan Yuta sebagai umpan.
Tidak boleh seorangpun menyakiti miliknya, bahkan Sehun sekalipun. Bayangan mengenai Yuta terkena salah satu kutukan dari tiga kutukan tidak termaafkan seperti sebuah teror bagi otaknya, tidak bisa! Yuta bukanlah objek sasaran, Yuta bukan—
"Protego totalum," sebuah perisai tak kasat mata muncul membentengi dirinya, bahkan saat ini ia bisa mengontrol mantra pelindung tersebut, ia bahkan bisa melindungi Yuta dan Kun yang ada beberapa meter darinya sekalipun.
Sehun memasang kuda-kuda, kemudian, "Crucio," bisiknya, dan.. berhasil!
Kutukan penyiksaan itu terpental dan untungnya tidak berbalik menyerang Sehun, berhasil. Tidak ada seorangpun yang terkena dampak kutukan tersebut! "Well done, Ji Hansol. Tak semua orang bisa belajar dengan kilat, kau memang murid andalan." Namun Hansol memberengut, "Kau menggunakan Yuta sebagai ancaman!" kesalnya, "Hm, kalau aku tidak menjadikannya umpan mungkin kau tidak akan secepat ini."
Yuta berlari ke arahnya, memeluknya erat, padahal jarang-jarang Yuta mau memeluknya seperti itu. "Cepat kembali dan pergi ke rumah sakit, Hansol hyung," Yuta membenamkan diri di dadanya, sepertinya lelaki itu benar-benar khawatir. "Yuta, lihat, aku baik-baik saja bukan? Aku berhasil, jangan sedih," Yuta melepaskan pelukannya, kemudian ia memandang Hansol bangga. Seulas senyum tampil di bibirnya, "Ya, kau memang hebat."
"Sudah, sudah. Ini sudah hampir jam malam, Hansol, maafkan aku. Pergilah ke hospital wings, kuijinkan kau untuk tidak patroli malam ini, kau tidak cukup baik untuk berjalan lama hehe."
Dan Hansol mengumpat karena Sehun menyindirnya.
. . .
"Ayah, kau ingat bukan kalau ada temanku dari sekolah yang berkunjung?" ayahnya mengalihkan pandangan dari koran, "Dia jadi datang hari ini?"
Taeyong mengangguk beberapa kali, "Ya! Dia akan menginap, apa boleh?" sebenarnya Lee Donghae –ayah Taeyong— tentunya curiga, seumur-umur baru kali ini Taeyong mengajak teman sekolahnya ke rumah. Memang, ia sering bercerita mengenai sahabat dekatnya yang bernama Chittapon Leeichaiyapornkul, namun karena berbeda negara Ten hanya berhubungan lewat sosial media.
Dan ayahnya baru tahu Taeyong punya teman lain, dari asrama yang berbeda pula. Seingat Donghae sewaktu ia menempuh pembelajaran di Hogwarts, Gryffindor dan Slytherin bukanlah asrama yang akrab.
"Ibu sudah memasak banyak untuk hari ini," ibunya yang cantik dan selalu terlihat awet muda bernama lengkap Park Sandara itu menyapa riang dari dapur. Suara derap kaki menuruni tangga mengejutkan mereka, "Hyung! Hyung! Lihat! Aku bisa membuat benda-bendanya terbang, aku belajar dari bukumu!"
Taeyong menganga, Jisung—anak bungsu keluarga Lee— menerbangkan sebuah perkamen tanpa sebuah tongkat sihir. "J—Jisung?!" pekik Taeyong terkejut, ia kira, ia adalah anak terakhir yang memiliki kemampuan sihir di keluarganya, ternyata takdir berkata lain. Ia ingat, Jisung sudah hampir masuk usia yang cukup untuk pergi ke Hogwarts. "Taeyong, bawa adikmu naik." Taeyong mengangguk patuh, "Jisung, kita main di atas oke?"
Sandara memandanginya, sebenarnya tak terlalu kaget. Sedari kedua anaknya kecil ia sudah sering menyaksikan hal-hal yang tidak wajar, "Sayang, apa Taeyong belajar ilmu sulap di sekolahnya? Atau ia belajar fisika untuk melawan gaya gravitasi? Mengapa Jisung juga bisa mempelajarinya?" Donghae terdiam kaku, "Entah.. mungkin keduanya,"
Sementara Taeyong berhati-hati menata buku pelajarannya, bagaimana bisa Jisung membaca buku-buku untuk tingkat enam ke atas? Jangan-jangan bakat sihir Jisung sebesar miliknya? Atau mungkin lebih? "Jisung, dengarkan hyung, semua hal ini boleh kau lakukan. Tapi.. jangan sampai ibu tahu, ibu tidak boleh tahu akan hal ini dan kau bisa pergi bersekolah ke tempat yang sama dengan hyung,"
Jisung mengangguk, "Yang ini kekuatan apa namanya hyung? Aku bukan avengers bukan?" Taeyong menggeleng, "Ini sihir, dan kau adalah calon penyihir Jisung. Penyihir yang baik," kakaknya memberi pengertian, Jisung hanya membentuk 'o' besar dengan mulutnya. "Nanti hyung akan mengajarimu,"
Ketika hampir jam makan malam, suara bel di rumah sederhana keluarga Lee membuat Taeyong buru-buru berlari keluar kamarnya, ia membuka pintu dan menemukan Jaehyun dengan kemeja biru dan jaket musim dinginnya. "Merry christmas dan selamat tahun baru, Tae,"
Sesungguhnya sang pemilik rumah benar-benar terkejut bahwa Jaehyun menepati janjinya, dan tepat waktu. Ia takut Jaehyun adalah orang yang mudah menebar janji, maksudnya buat apa orang seterkenal Jaehyun rela melakukan perjalanan lama dan melelahkan hanya demi menemui dirinya?
Berusaha mengalihkan rasa heran di benaknya, Taeyong membalas sapaan Jaehyun, "Masuklah, kau pasti jetlag melakukan perjalanan jauh dari London kesini," Jaehyun melangkah masuk dan dengan kikuk melepaskan sepatunya di rak terdekat, di manornya ia terbiasa berkeliling dengan alas kaki, namun di rumah Taeyong ia harus melepasnya. Sebenarnya tidak masalah karena rumah Taeyong sangat sangat rapi dan bersih.
"Taeyongie! Ajak temanmu langsung duduk di meja makan, kita mulai makan malamnya." Itu suara sang ibu dari ruang makan.
"Annyeonghasseyo, aku teman Taeyong, namaku Jung Jaehyun." Jaehyun mengenalkan dirinya ramah, sang ayah nampak tak bergeming, namun ibu dan adiknya menatap Jaehyun seolah melihat artis. "Wah, Jaehyun hyung keren sekali!" Jisung mengulurkan tanganya untuk berkenalan. Begitupula ibu Taeyong, "Senang bertemu denganmu Jaehyunnie, kau boleh panggil aku bibi atau ibu," Jaehyun menganggukkan kepalanya.
Sang pemilik rumah menawarkan diri untuk membantu menyimpan barang-barang tamunya di kamarnya, ia naik ke atas dan meletakkan sebuah koper serta tas kecil di sisi ranjangnya. Sampai sebuah panggilan dengan nada dering asing mengganggu Taeyong, rupanya milik Jaehyun—dan Taeyong tidak tahu seorang Jung memiliki barang muggle juga.
Awalnya Taeyong tidak berniat mengangkat panggilan tersebut, namun foto perempuan cantik di layar ponsel Jaehyun mengusiknya sehingga ia tidak sengaja menjawab panggilan tersebut. "H—Halo.." Taeyong berkata pelan.
"Jaehyunnie! Kau lupa ya kita janji menghabiskan tahun baru bersama? Mum—eh maksudku ibumu bilang kau ada di luar negeri? Tumben? Biasanya juga kau menghabiskan waktu untuk membuat ramuan! Aku akan sangat marah! Kau melanggar janjimu!"
Untungnya sosok di seberang sana marah-marah dengan bahasa Korea dicampur bahasa Inggris sehingga Taeyong sedikit banyak mengerti percakapannya. "Maaf, Jaehyun.. ada di bawah, ini temannya, akan kupanggilkan."
Panggilan itu berubah hening sebelum perempuan tadi berdeham, "Baik, katakan pada Jaehyun—kekasihnya menelpon."
Entah mengapa Taeyong merasa sebuah palu imajiner tiba-tiba menghantamnya, setengah berlari ia menuju Jaehyun. "Jaehyun maaf, aku tak sengaja menjawab panggilan untukmu. Ini.. kekasihmu menelpon," mata Jaehyun melebar sedikit, ia merebut ponsel itu dari tangan Taeyong dan menjauh dari meja makan.
Taeyong duduk dengan lesu di meja makan selama Jaehyun menerima panggilannya, "Taeyong? Kenapa tidak diminum? Ibu membuatkan cokelat panas untukmu," Sandara menatapnya, dan bahkan Taeyong sendiri baru sadar ada cokelat panas di hadapannya. "U—Uhm, iya bu.."
Merlin, selamatkan Taeyong dari rasa sakit tak berwujud di hatinya ini.
TBC
Yeay dream comeback!^^ dan asdfghjkl ga sabar liat 127 di weekly idol! Who's with me? Kkkk.
Beberapa ada karangan aku sendiri maafkan tak sesuai dengan series harry potter aslinya, ya gapapa lah buat mendukung cerita XD buat yang minta Yusol sudah aku kasih yaaa x) tapi maafin Hansol kubuat seme, bcs hansol ternyata manly banget kalo diliat apalagi yg kemarin dia main ke busan uuuuu! Dan yuta makin hari makin imut—dan nyabe— eh tolong:( tapi Yuta kubuat uke cool gitu, yaiyalah temenannya aja sama Johnny dan Jaehyun. Next mau dibanyakin sapa niiih wkwk. Aku baca looh reviewnya /tapi gapernah bales/ /author dosa/ /maunya bales tapi ffnku gabisa buka pm, sial/ :(
Eh aku khawatir sama hate article ttg taeyong, nct dream yang tanpa jaemin, dan… katanya mengenai mereka di do dari sopa itu, semoga Cuma rumor. Oh iya mark juga mau muncul di highschool rapper, hati nuna terluka:'( /g
Oiya kalau ada yang ga ngerti istilahnya menurut kalian apa aku harus buat kamus? Soalnya aku udah berusaha jelasin sih kaya mantra ini buat apa, ramuan ini buat apa gitu di narasi cerita kalo kalian baca baik-baik. Tapi kalau ada yang masih ga ngerti sih gapapa, menurut kalian enaknya kamusnya isinya apa? Misal kaya 'kyung tolong bikin kamus isinya member ini tuh di asrama apa sih, guru mata pelajaran ini tuh siapa sih, mantra sama ramuan ini buat apa sih, turnamen triwizard itu ngapain sih? Muggle itu apa? Prefect itu apa? Protego atau tempus dll itu apa?' gitu biar aku bisa gampang bikinnya. Soalnya aku takut kalo bikin kamus tuh kaya makan bagian cerita gitu, apa aku bikin chapter khusus?
Review ya hehe soalnya itu bener-bener semangatin akuuu;;; oiya aku juga mulai sibuk sih, bukannya ngemis review/pamrih(?) tapi kalo aku baca review itu semangat, emang sih ceritaku ga bagus bagus amat:( tapi gapap kok kalau kalian sekedar kritik gitu aku terima, aku ga maksa sih Cuma kalau ada review itu bantu aku banget wkwk jadi aku bisa mengalihkan pikiran buat bikin ff daripada ngerjain skripsi /plak /gabener.
Pokoknya makasiiihhh buat yang baca love you guys mwah /emot lopelope/
Review please?^^ sama di ff sebelahku yang 'A pretty boy' juga wkwk /banyak maunya/ /buang aja/ XD bye byeeee see you di ff rollercoaster nya markhyuck XD
