Chapter 3
"mione…"
"bagaimana kalau riddle mati di zaman ini ?" hermione langsung menghentikan langkahnya. Mereka baru saja keluar dari aula dan akan menuju asrama mereka. Mereka memang berencana untuk keluar terlebih dahulu agar bisa mendiskusikan hal aneh yang baru-baru saja mereka alami.
"harry, aku mengerti perasaan mu. Tapi seperti yang sudah kita ketahui bahwa kita tidak boleh bermain-main dengan waktu, kita tidak boleh mengubah apapun di masa ini." Hermione tidak berani memandang mata harry yang menyala oleh kebencian besar terhadap voldemort muda. Hermione juga ingin sekali rasanya membunuh riddle dimana dia masih belum begitu berbahaya,tapi dia mengerti sekali aturan tentang perjalanan waktu.
"kita ada disini saat ini. Bukankah kita sudah mengubah waktu ? kurasa mengubah sedikit lagi tidak masalah, lagi pula perubahan itu akan membawa dampak yang besar di masa depan" suara harry terdengar getir, hermione merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Hermione tidak bisa berkata-kata lagi, menurutnya ini hanya emosi sesaat harry saja,dia hanya mengelus lembut punggung sahabatnya berusaha untuk menenangkannya.
"sudahlah harry, untuk sementara kita nikmati dulu saja hidup disini. Menurutku tidak buruk. Lagi pula kamu bisa bertemu sepuasmu dengan kakek buyut mu itu" hermione berusaha mengalihkan pembicaaran harry. Ekspresi harry langsung berubh lebih tenang membuat Hermione bernafas lega atas perubahan itu.
"iya, aku senang sekali bisa bertemu dengan kakek buyutku. Ternyata dia mirip sekali dengan ku. rasanya tak ingin aku kembali ke masa depan" harry tidak memiliki keluarga satupun di masa depan – keluarga dursley mungkin bisa di katakan keluarganya satu-satunya tapi mereka memperlakukan harry tidak sepantasnya dan sungguh harry sama sekali tak ingin berjumpa lagi dengan keluarga itu.
"liburan nanti aku akan mengunjungi keluarga ku lainnya. Ku harap profesor dumbledore mengizinkannya" hermione senang sekali melihat harry kembali ceria dan punya tujuan hidup di zaman ini.
"mione, hagrid bukankah sudah ada di zaman ini ? kira-kira dimana dia sekarang ?" harry teringat dengan sahabat raksasanya itu.
"ah iya, dia ada di zaman ini tapi dia sudah di keluarkan. Mungkin profesor dumbledore tahu. Besok kita tanyakan saja" mereka terus berjalan di sepanjang lorong. Lorong-lorong ini masih sama dengan lorong-lorong di zaman mereka. Mereka benar-benar menikmati nostalgia ini. Setelah menaiki berpuluh-puluh tangga sampailah mereka di sebuah lukisan yang sangat besar yang merupakan pintu penghubung menuju asrama gryffindor. Penghuni lukisan ini ternyata masih sama dengan yang ada di zaman mereka yang membuat mereka berjengit kaget.
"kenapa kalian ? dan sepertinya aku baru melihat kalian ?" tanya lukisan nyonya gemuk itu.
"tidak. Kami murid baru disini. Ingus troll" hermone mengucapkan password nya. Tanpa tanya-tanya lagi lukisan itu terbuka dan segera memperlihatkan ruangan yang ada di dalamnya. Ternyata masih sama dengan di zaman mereka. Suasana yang benar-benar merah menyambut mereka, sungguh kehangatan yang luar biasa bisa kembali ke ruangan ini.
"wow !" hanya itu saja yang keluar dari mulut hermione. Hermione memandang sekeliling ruang rekreasi yang masih tak berpenghuni, nampaknya mereka semua masih betah berlama-lama di great hall. Hermione jalan menuju salah satu sofa yang menghadap ke perapian. Tata letak semua barang-barang yang ada di ruang rekreasi tak ada yang berubah satu pun, masih sama seperti yang ada di zamannya.
"sepertinya aku akan betah mione, hidup lebih lama disini kurasa bukan masalah" kata harry nyengir.
"tidak boleh harry ! kita tidak boleh berlama-lama disini. Lagi pula tidakkah kamu rindu dengan semua teman-teman kita di masa depan ! ron ? ginny ?" harry tertawa terbahak-bahak melihat wajah hermione yang penuh kengerian.
"bergurau mione" harry tersenyum ala troll yang langsung mendapat hadiah pukulan keras di lengannya.
"aw, masih ada luka yang belum kering disini mione"harry tersenyum sambil meringis menahan sakit di lengannya.
(***)
Lima menit kemudian anak-anak gryffindor mulai banyak yang masuk ke ruang rekreasi.
"oh kalian sudah disini ? kami bingung tiba-tiba saja kalian sudah tidak ada. Eh tadi riddle mencari kalian. Jadi kalian sudah mengenal nya ?" potter bertanya.
"kami bertemu dengannya kemarin" jelas Hermione singkat.
"apakah ada yang salah dengan nya ?" tanya harry dengan suara yang datar. Harry sepertinya masih belum bisa menyembunyikan rasa bencinya terhadap voldemort muda. lupin dan potter saling pandang dan mengernyitkan dahinya bingung.
"harry !" tegur hermione.
"aku tidak tahu. Tapi kurasa ada yang aneh dengannya" jelas lupin.
"seperti apa itu ?" pancing harry.
"riddle punya komunitas aneh, aku tidak tahu dan kurasa tidak ada yang tahu." Jelas potter. Harry tampak berfikir sejenak, tentu Hermione tahu jelas apa yang sedang di fikirkan sahabatnya itu.
"sudahlah. Hey jadwal kapan di bagikan ?" tanya hermione mengalihkan pembicaraan.
"besok setelah sarapan" jawab lupin singkat.
Harry segera saja melupakan riddle sejenak, ia ikut hanyut dalam kegembiraan. Potter dan lupin ternyata kocaknya bukan main sampai-sampai membuat hermione dan harry tertawa terbahak-bahak. Menurut hermione, potter dan lupin mirip sekali dengan george dan fred weasley.
"aku sudah ngantuk. Aku duluan masuk ke kamar ya" hermione menguap, dia sangat lelah.
"hermione kamu sudah tahu dimana kamarmu ?" tanya lupin. Hermione segera menghentikan langkahnya, seharusnya dia memang belum tahu kamarnya dimana mengingat ini adalah pertama kalinya dia berada di asrama ini.
"oh iya, di mana kamarku ?" tanya mione,terlihat harry berusaha menyembunyikan tawanya.
"biar longbottom yang mengantarmu"lupin memanggil longbottom untuk mengantarkan hermione kekamarnya. Longbottom di zaman ini sangat berbeda dengan longbottom di zaman mereka, longbottom di zaman ini gadis yang sangat manis dan tentunya tidak teledor seperti longbottom di zaman mereka.
Setelah melewati tangga hermione sampai di sebuah kamar yang cukup luas,sama sekali tidak berbeda dengan zamannya. Masih dengan nuansa merah dan terjejer beberapa kasur lengkap dengan meja belajar dan lemari pakaian.
"ini kamarmu, kurasa tempatmu disana yang paling ujung"hermione memandang kasur yang paling ujung ternyata ada sebuah koper besar di atas kasurnya. Ia penasaran dengan isi koper tersebut mengingat ia pergi ke jaman ini tidak membawa barang apapun selain pakaian yang ia kenakan ketika pertama kali datang ke zaman ini. ia segera menghampiri koper itu dan siap untuk membukanya.
"oh iya, terimakasih longbottom" longbottom tersenyum dan turun kembali bergabung dengan yang lain. Koper itu ternyata berisi beberapa setel pakaian yang semuanya sesuai dengan zaman ini, dan lainnya adalah barang-barang untuk perlengkapan sekolahnya yang kemarin di berikan langsung oleh profesor dumbledore. Ia mengorek-ngorek lagi bagian dalamnya, ternyata ada sebuah kantung berkemrincing,hermione menariknya keluar dan menuangkan isi nya ternyata berisi 400galleon yang di duganya dari 'pamannya' yang baik hati. Hermione tersenyum dan memasukkan lagi kepingan galleon itu ke tempat asalnya. Hermione sudah begitu lelah, sedetik kemudian hermione sudah berada di alam mimpinya yang indah.
(+++)
Riddle sudah berada di kamar barunya, dia saat ini sudah menjadi ketua murid dan memiliki ruangan sendiri, seperti yang sudah lama ia idam-idamkan. Ia merebahkan tubuhnya, kamarnya bernuansa hijau dengan lukisan ular besar yang meliuk-liuk di dinding kamarnya.
"kemana mereka ? kenapa tiba-tiba menghilang di tengah-tengah pesta ?" riddle merebahkan diri di atas kasurnya tanpa repot-repot melepas seluruh jubahnya.
"kenapa mereka terlihat membenciku ? bukankan hampir semua penghuni di kastil ini memujaku ? tidak – tidak semua, dumbledore sialan itu. Pasti dia banyak membicarakan keburukan ku di hadapan mereka. Tapi dia tidak punya bukti, dumbledore sialan itu tidak mempunyai bukti apapun tentang keburukanku !" riddle melambai-lambaikan tongkatnya di udara.
Riddle duduk dan melepas lencana ketua muridnya, ia memandangnya cukup puas, saat ini hogwarts sudah ada di tangannya, ini lah yang sudah lama ia dambakan.
"hogwarts sudah di tangan ku, tidak ! belum ! setelah aku menakhlukan dumbledore sialan itu aku akan memagang kendali sekolah ini" dia tersenyum penuh kemengan.
Terdengar pintu kamarnya di ketuk membuyarkan lamunannya. 'sial !' kutuk riddle. Riddle merapihkan pakaiannya dan segera membukakan pintu kamarnya, senyuman lembut tersungging menghiasi bibir riddle.
"iya, ada yang bisa aku bantu miss. Weasley ?" riddle bertanya ramah.
"hmm riddle, aku ingin bertukar jadwal denganmu untuk hari ini dan besok bisa ? aku besok ada urusan lain yang tidak bisa ku tinggalkan. Jadi maksudku hari ini aku yang akan berpatroli dan besok kau yang berpatroli, bagaimana ?" wajah riddle tidak bisa di tebak, tetapi senyumnya terus menghiasi wajahnya.
"baiklah miss,untuk kali ini saja. Lain kali harus sesuai dengan jadwal yang ada" jawab riddle lembut.
"ah, thank's kau memang baik riddle, oke aku akan berpatroli. Selamat beristirahat riddle." Weasley berlari meninggalkan riddle dengan suka cita.
"gadis bodoh, aku yakin tidak lama lagi kau akan memohon supaya aku meniduri mu" riddle tertawa dan sudah meninggalkan kesan anak baiknya.
(***)
Hermione bangun pagi sekali, penghuni kamarnya ternyata belum ada yang bangun. Dia berjalan menuju kamar mandi, ia membuka pakaiannya dengan hati-hati, masih banyak sekali luka yang belum sembuh. Ia memutuskan untuk mandi saja, kemudian ia mengoleskan balsam untuk lukanya yang ia dapatkan dari madam pomfrey.
Setelah keluar kamar mandi ternyata masih belum ada yang bangun, ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk melakukan penelitiannya tentang perjalanan waktu yang aneh ini.
Ia turun ke ruang rekresi ternyata masih kosong, penghuni asrama masih di sibukkan dengan mimpi-mimpi indah mereka. Hermione ingin membangunkan harry tapi sepertinya harry benar-benar membutuhkan istirahat. Lagipula apa yang harus ia jelaskan ketika ia muncul di kamar anak-anak laki. Hermione memutuskan pergi tanpa harr. ia memanjat lukisan dan segera menuju perpustakaan.
Sepanjang koridor hermione tidak menjumpai siapapun,bahkan para hantu pun tidak ada yang memunculkan diri. Tak membutuhkan waktu lama hermione sampai di perpustakaan.
"hallo selamat pagi. Ini anak baru itu kah ? pagi-pagi sudah di perpustakaan saja." Penjaga perpustakaan itu begitu ramah, hermione hanya tersenyum kecil.
"iya madam ?"
"madam alice pince" tambahnya ramah.
"madam alice pince, ada banyak yang harus ku pelajari mengingat aku masih baru disini" jawab hermione, ia tidak berbohong memang banyak yang harus di pelajarinya saat ini. Madam pince hanya tersenyum menyilahkan hermione masuk.
Jari-jari hermione segera saja menelusuri buku-buku untuk mencari sesuatu yang mencerahkan. Ia mengambil beberapa buku tentang perjanan waktu. Di bacanya sampai habis ternyata tidak ada sesuatu yang di dapatnya, kebanyakan hermione sudah pernah membacanya di masa depan. Hermone mengembalikan semua bukunya. Ia duduk prustasi, tiba-tiba saja ada yang menghampirinya.
"selamat pagi miss dumbledore" ternyata riddle sedang berjalan menghampirinya. 'astaga kenapa harus bertemu dia sepagi ini ? sungguh bukan pagi yang menyenangkan !' batin hermione kesal, hermione tidak menjawab dan berusaha untuk menghindar.
"ada yang bisa di bantu ? sepertinya kamu sedang dalam kesulitan ?" tanya riddle sambil memamerkan senyumnya yang paling manis.
"tidak terimakasih" jawab hermione dengan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya tidak berani menatap langsung kea rah riddle.
"ingat aku ketua murid, jadi kalau ada apa-apa aku akan membantu mu" tambahnya. 'peduli apa ? membantu ? adanya dia akan membunuhku. Dia membunuh banyak orang yang tidak berdosa suatu saat nanti, seperti sebuah lawakan seorang voldemort menawarkan bantuan' dengus hermione. Hermione menoleh kearah riddle, riddle memamerkan senyuman yang di kenal hermione, yaitu senyuman voldemort di masanya. Mengerikan sekali, membuat bulu kudu hermione berdiri.
"se..selamat riddle. Permisi" hermione langsung pergi meninggalkan riddle dengan terburu-buru, ia tidak berani menoleh. Ia hanya terus berjalan keluar dari perpustakaan berusaha untuk menjauh dari riddle.
(++++)
Riddle berjalan menyusuri lorong berniat untuk keperpustakaan. Ya, riddle memang hobby sekali membaca, terutama buku-buku yang berada di sesi terlarang. Dia memiliki hak khusus untuk bisa berada di sesi terlarang.
"bodoh, ini semua buku-buku yang bagus. Kenapa harus di sembunyikan ?" gumam riddle. Riddle mengambil sebuah buku untuk di bacanya. Dia membolak balik halaman demi halaman, ia tidak mau melewatkan satu pun dari bacaannya.
"sial ! sepertinya aku terlalu asyik membaca. Sudah waktunya sarapan" riddle mengembalikan bukunya ke rak. Ia berjalan keluar dari sesi terlarang.
"eh ? apakah aku tidak salah lihat ? ada anak lain ternyata disini. Ah mungkin anak ravenclaw yang lupa mengerjakan tugasnya yang harus di kumpul hari ini. Eh tapi pelajaran kan belum di mulai" guamamnya, ia berjalan menuju gadis itu.
"selamat pagi miss….dumbledore"
'ternyata si cewe sialan ini,kenapa dia tidak menjawabku ?'gumamnya kesal.
"ada yang bisa di bantu ? sepertinya kamu sedang dalam kesulitan ?" tanya riddle sambil memamerkan senyumnya yang paling manis.
"tidak terimakasih" jawab gadis itu dengan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Tampak jelas kengerian di wajah nya yang membuat riddle sedikit bingung.
"ingat aku ketua murid, jadi kalau ada apa-apa aku akan membantu mu" tambahnya. 'atau mungkin jika ada kesempatan aku akan membunuhmu dan paman mu yang konyol itu' batin riddle sambil tersenyum. Yang ternyata senyuman yang tak di sadarinya membuat gadis di depannya semakin ketakutan.
"se..selamat riddle. Permisi" gadis itu langsung pergi meninggalkannya dengan terburu-buru dan tanpa menoleh lagi ke arahnya. Riddle hanya memandangi punggung gadis itu makin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan sama sekali.
"kenapa lagi dia ? dia selalu memandangku aneh. Dan yang ini sepertinya dia takut dengan ku. hmm takut dengan ku ?" gumamnya, ia sudah meninggalkan kesan anak baiknya. Ia segera keluar dari perpustakaan
Riddle berjalan penuh wibawa di sepanjang koridor. Ia memamerkan senyumnya yang paling manis ke seluruh penghuni hogwarts yang di jumpainya sepanjang koridor.
(***)
Hermione terus berjalan, ia memutuskan ke great hall untuk sarapan terlebih dahulu baru ia akan mengambil perlengkapan sekolahnya di kamarnya. Ia berjalan terburu-buru dan sesekali menengok ke belakang takut riddle mengejarnya. Tak lama kemudian sampailah hermione di sebuah pintu besar, dan dari suaranya sepertinya sudah banyak penghuni asrama yang turun untuk sarapan. Hermione membuka pintu itu lebar-lebar dan ternyata sahabatnya dan beberapa teman barunya sudah ada disana.
"hermione !" harry melambaikan tangannya. Hermione segera menghampiri nya dan duduk di sebelahnya.
"dari mana saja kamu ? kami mencari-cari mu tadi, kata teman-teman sekamarmu, kamu sudah pergi sebelum mereka bangun. Kata harry kamu ke perpustakaan" kata potter, ia memasukkan kentang gorengnya banyak-banyak ke mulutnya.
"ia aku tadi dari perpustakaan, ada banyak hal yang harus ku pelajari mengingat aku baru mana kau tau harry ?" Harry menjawab dengan senyuman yang seolah-olah mengatakan 'siapa sih yang tidak tahu dengan kebiasaan mu yg luar biasa itu?'
"ayolah, santai saja harmione. Harry juga baru,tetapi dia cukup santai. Tidak perlu terburu-buru. Harry mengatakan bahwa di sekolah mu yang lama, kamu tidak pernah telat mengunjungi perpustakaan. Jadi harry berfikir mungkin kamu penasaran dengan koleksi buku di perpustakaan hogwarts" kata lupin, harry hanya tersenyum memamerkan giginya yang rapih ketika hermione menatapnya dengan tatapan membunuh.
"tapi itu benarkan mione ?" goda harry sambil meminum jus labunya.
Hermione hanya memutar bola matanya. Ia mengisi piringnya dengan steak dan kentang rebus. Ia memandang sekeliling ternyata aula masih belum terisi penuh. Hanya meja anak-anak ravenclaw saja yang sudah ramai, hufflepuff yang paling parah. Ketika hermione memandang ke meja slytherin ternyata disana sudah duduk riddle dengan daily propetnya.
'kapan dia sampainya ?' fikir hermione. Lamunanannya buyar ketika riddle ternyata balik menatapnya,dan dia tersenyum. Hermione tidak membalasnya dan kembali asyik memakan makanannya.
profesor dumbledore turun ke meja gryffindor untuk membagikan jadwal baru mereka.
"wah jadwal mu padat sekali hermione !" hermione memandang jadwalnya biasa saja. Ia pernah mendapatkan jadwal yang benar-benar padat di tahun ke tiganya.
"itu tidak seberapa bagi hermione, dia pernah lebih parah...aw !" hermione menendang tulang kering harry.
"baiklah, aku akan diam mione !" harry meringis kesakitan. lupin dan potter hanya tertawa melihat kelaukan mereka berdua.
"hei apakah kalian sepasang kekasih ?" tanya lupin memandang mereka berdua.
"bukan, kami bersahabat. Mione lebih dari sekedar pacarku. Dia sudah seperti adik ku sendiri" jawab harry tersenyum sambil mengacak rambut Hermione yang memang sudah tak beraturan bentuknya.
"mione. Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Sebaiknya kita keluar duluan dari pada mereka" bisik harry dan hanya di jawab anggukan oleh hermione.
(+++)
Riddle sudah sampai di aula. Ia segera menuju ke mejanya. Sebelumnya ia mengecek ke meja gryffindor untuk mencari gadis itu. 'tunggu kenapa aku penasaran sekali dengan nya' fikir riddle. Tapi mata abu-abunya tetap menelusuri anak-anak yang ada di meja gryffindor.
"ah itu dia, di sebelah flamel. Apakah mereka sepasang kekasih ?" gumam riddle.
Riddle pun melanjutkan jalannya ke mejanya. Ia mempunyai tempat kebesaran yang tidak ada satu pun yang berani menempatinya. Ia mengambil daily propet yang ada di mejanya dan mulai membacanya. Ternyata daily propet masih membahas hal yang sama yaitu tentang penyerangan grindelwald. Riddle sudah bosan dengan korannya, dan meletakkannya kembali di mejanya.
'seperti ada yang memandangiku' batinnya. Ia pun mendongak dan ternyata gadis itu sedang memandanginya.
'seperti nya sebentar lagi tatapan jijik, dan takutnya akan berubah menjadi tatapan yang memuja' gumam riddle. Ia pun memamerkan senyumnya yang paling manis. Tapi gadis itu tidak membalasnya dan kembali ke makanannya.
'sial !' umpat riddle. Ia tetap memandangi gadis itu. Ia melihat flamel membisikkan sesuatu ke gadis itu dan di jawab nya dengan anggukan lembut.
"apa yang di bisikkan oleh flamel sialan itu ? mereka benar-benar seperti sepasang kekasih" gumamnya sambil mengisi cangkirnya dengan teh hangat.
"apa peduli ku ? sepertinya mereka pasangan yang cocok. Dumbledore dan flamel,mereka berdua sama-sama menjijikkan"
"maaf tuan ku. setelah liburan ini, kapan kita akan mengadakan pertemuan lagi ?" tanya malfoy takut-takut.
"kalau aku belum memberi tahunya, ku harap kamu tidak menanyakannya ! tapi aku ada tugas untuk mu,selidiki siapa anak baru itu" jawab riddle dingin yang membuat malfoy mengkerut takut.
"eh ?" malfoy terlonjak kaget.
"aku tidak butuh eh mu malfoy, kerjakan dan jangan banyak tanya !" suara riddle datar tapi terdengar dingin sekali.
"baik tuanku dan selamat menikmati sarapan mu tuan ku" malfoy meninggalkan riddle sendiri lagi.
(***)
Harry dan hermione keluar aula lebih dulu daripada teman-temannya. Mereka berhenti di depan pintu aula.
"mione, tadi kamu dari mana ?"tanya harry khawatir seperti sedang bertanya ke adiknya sendiri.
"aku…aku dari perpustakaan. Mencari tahu tentang perjalanan waktu, siapa tahu aku menemukan sesuatu. Tapi aku tidak menemukan apa-apa" jelas hermione.
"dan ada yang lain lagi ? mungkin tentang riddle ?" hermione nyaris terlonjak sangking kagetnya, 'harry tidak bisa membaca fikiran' gumam hermione dalam hati.
" eh ? ia aku tadi bertemu dengannya di perpustakaan"jelas hermione.
"lalu ? tidak terjadi apa-apa kan ?" harry tampak khawatir.
"tidak kok tidak. Ada apa harry ?" tanya hermione bingung.
"dia banyak memandangmu pagi ini. Saat masuk ia seperti mencari seseorang dan ternyata dia mencari mu. Dan saat makan dia banyak memandangmu. Mione, ini tidak baik. Jangan dekat-dekat dia. Dia mungkin belum terlalu berbahaya di zaman ini. Tapi tetap saja naluri iblisnya pasti sudah tertanam. Dan ingat mione, di masa sekolahnya saja dia sudah banyak membunuh" harry menjelaskan panjang lebar dan hermione hanya mengangguk. Obrolan mereka terputus ketika banyak anak mulai keluar dari aula. Hermione memandang jam nya
"astaga harry, 15 menit lagi masuk. Aku belum menyiapkan peralatan ku. aku harus ke kamarku. Lebih baik kau duluan saja harry"hermione berlari menyusuri koridor dan menaiki tangga-tangga yang jumlah nya banyak sekali.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Hermione untuk membereskan perlengkapan sekolah nya, ia segera keluar dan pergi ke kelas transfigurasi, dia sudah tidak sabar untuk tiba di kelas itu, yang akan mengajarnya adalah profesor dumbledore,dia penasaran sekali bagaimana rasa nya jika profesor dumbledore yang mengajar.
Ia terus menyusuri koridor. Tiba-tiba saja ada tangan yang mencengkram lengannya kuat-kuat. Ia membalikkan tubuhnya. Ternyata salah satu anak slytherin.
"siapa kamu ?" tanya hermione keras sambil berusaha melepaskan lengannya.
"sttt jangan membrontak sayang, aku hanya ingin menyicipimu saja. Perkenalkan aku avery" pemuda itu memluk hermione kuat-kuat sampai membuatnya sesak nafas.
"lepaskan ! lepaskan aku !" teriak hermione. Avery memepetnya ke tembok, usaha hermione sia-sia, ia ingin mengambil tongkotnya tapi tangan avery mencengkram ke dua tangannya kuat-kuat. Hermione membrontak keras yang membuat avery kesulitan, berkali-kali Hermione berusaha untuk menendang tapi pada akhirnya kedua kainya di himpit oleh kaki avery sehingga ia sama sekali tidak bisa bergerak.
"pelankan suaramu,nanti ada yang dengar" bisik avery di telinga hermione. Avery menggigit-gigit telinga hermione yang membuatnya membrontak lebih kuat lagi.
"lepaskan aku !" teriak hermione. Berkali-kali bibir every menuju bibir hermione tapi usahanya selalu gagal.
"INCARCEROUS !" tali tebal keluar dan langsung mengikat tubuh avery.
"mione, kamu tidak apa-apa ?" suara yang sangat khawatir muncul.
"harry ! harry kau menyelamatkanku!" Hermione yang melihat harry langsung memeluknya erat-erat.
"kamu tidak apa-apa ? aku menyusulmu karena kamu terlalu lama" harry mengelus rambut Hermione sayang.
"aku tidak apa-apa. Ayo kita segera ke kelas. Kita terlambat" Harry tampak menimbang sejenak, sepertinya ia masih ingin mengajar habis pria itu.
"ayo harry sudah lupakan !" Hermione nyaris menangis. Harry yang melihat Hermione seperti segera saja menggandengnya dan pergi dari tempat itu.
"lain kali, mau pergi kemanapun kamu harus mengajakku. Disini tidak seaman seperti yang kita fikir. Kamu harus tau dia dan rombongannya ada disini dan sangat berbahaya" Hermione hanya mengangguk pelan mendengar nasehat dari harry si kakak yang bijak.
"ada keributan apa ini ?" terdengar suara yang sama sekali tak diinginkan yang tak lam kemudian muncullah si pemilik suaranya. Mereka bertiga tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.
"miss Dumbledore, mr flamel dan mr avery. Apa yang kalian lakuakan ? apakah ada si pelanggar peraturan disini ?" Tanya nya lembut dengan senyum yang masih terpampang menghias wajah nya yang tidak sesuai dengan tatapan mata nya yang dalam, gelap dan dingin.
"avery ? oh jadi kamu menyuruh pengikutmu untuk mengganggu mione !?" gertak harry. Harry mengacungkan tongkatnya siap tempur. Hermione yang menyadari itu segera menggenggam erat tangan harry yang memegang tongkat.
"harry cukup, kumohon" cengkraman tongkat harry mulai mengendur. Kemudian mereka segera meninggalkan riddle dan avery tanpa mengucapkan sepatah katapun.
(TBC)
