'AKH' baekhyun meringis memegangi kepalanya. Kepalanya seperti berputar dan berdenyut sangat keras hingga begitu terasa sangat menyakitkan. Baekhyun meremas tangan chanyeol sebagai penyalur rasa sakit dikepalanya.
Panik jelas chanyeol orang pertama yang paling panik saat melihat tubuh baekhyun bersimbah darah beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang chanyeol juga panik melihat baekhyun yang memegangi kepalanya.
"Kau baik-baik saja" tanya chanyeol. Baekhyun menggeleng lemah. Palanya begitu sakit seperti dipukul dengan balok.
Tanpa pikir panjang chanyeol menggendong baekhyun menuju mobilnya. Dipangkunya tubuh baekhyun sama seperti saat chanyeol membawa baekhyun kerumah sakit. Dipeluk erat badan baekhyun yang masih mengeluh sakit dikepalanya.
Strawberry Avalanche
Baekhyun sadar dari tidur panjangnya. Ia ingat betul mengenai chanyeol yang mencium hyejin. Air matanya menggenang dipelupuk matanya. Oh astaga, baekhyun bahkan baru sadar kalau dirinya berada dikamar milik sang tunangan, Chanyeol. Park Chanyeol.
Clek
Pintu kamar chanyeol terbuka. Sosok pemuda melangkah memasuki ruangan yang sudah dihak miliki oleh pemuda itu. Chanyeol sang pemilik kamar. Dia melihat gadisnya sudah terbangun dari pingsannya. Setelah kejadian dicafexo, dan baekhyun yang tak sadarkan diri chanyeol hanya pasrah memohon pada Tuhan agar baekhyun segera pulih kembali.
"Baby" chanyeol menghempaskan tubuhnya dipinggir ranjang ukuran king size miliknya.
Baekhyun menundukan palanya. "K-kau siapa? Aku dimana?" baekhyun berusaha mati-matian menahan suara bergetarnya. Bukan karna gugup, ia takut chanyeol tau kalau ingatannya sudah kembali. Dan baekhyun sendiri tidak mau mengingat hal buruk itu.
Puk
Chanyeol mengelus pucuk pala baekhyun.
"Kau ada dikamarku. Kau berada dikediaman Park baby. Apa kau lupa eoh?" chanyeol menatapnya curiga.
"Baby angkat palamu. Tatap mataku baby" chanyeol menarik dagu baekhyun. Menyatukan kening hingga mata mereka saling bertemu. Baekhyun memejamkan matanya, gadis berambut sebahu itu mencoba tidak menjalin kontak mata dengan chanyeol.
"Aku ingin pulang" baekhyun membuka suara.
"Aku akan mengantarmu baby." jawab chanyeol memundurkan wajahnya dan menatap lekat-lekat wajah gadisnya seolah takut kehilangan.
Chanyeol meraih tangan baekhyun dan mengenggamnya erat. Mencium punggung tangan baekhyun. "Kumohon maafkan aku baekhyunnie. Jangan siksa aku seperti ini. Cepatlah pulih jadilah gadisku yang selalu ada disisiku" ucap chanyeol penuh penyesalan.
Baekhyun menatap chanyeol dalam mencari kebohongan yang tersimpan disana. Tapi nihil, baekhyun hanya menemukan ketulusan dimata chanyeol.
"Aku mencintaimu Byun Baekhyun" chanyeol mencium pipi baekhyun. Baekhyun tertegun. Ia sadar kalau chanyeol sangat mencintainya meskipun masih bersekolah tapi baekhyun mengerti sedikit mengenai percintaan. Hehe
Chanyeol baru saja beranjak dari duduknya. "Eh!? A-aku boleh minta pelukan?" pinta baekhyun sambil mendongakkan wajahnya menatap mata bulat milik chanyeol.
"Tentu saja nona"
Baekhyun berdiri. Ia sedang bergelut dengan pikirannya betapa bodohnya baekhyun meminta pelukan pada chanyeol. Bagaimana jika chanyeol menyadarinya kalau ingatannya sudah kembali, aih pabo-ya byun baekhyun.
Greb
Tangan chanyeol menarik tangan baekhyun hingga tubuh mungil milik baekhyun bertemu tubuh tegap milik chanyeol. Tangan kekarnya melingkar dipinggang baekhyun. Chanyeol rindu celotehan baekhyun yang selalu mengingatkan untuk makan bahkan baekhyun rela berkunjung ke dorm untuk memastikan chanyeol benar-benar sudah makan. Tapi gadis mungil yang setia menemani chanyeol kemanapun ia melangkah hilang entah kemana chanyeol sungguh tersiksa andai ia bisa memutar waktu. Andai ia bisa menghidari pertemuannya dengan hyejin. Andai saja gadis itu tidak datang dan mencium chanyeol. Tentu saja baekhyun tidak akan mengalami kecelakaan fatal yang membuatnya kehilangan ingatannya.
Baekhyun merasakan baju seragamnya basah. Baekhyun kira sedang ada hujan lokal. Tapi baekhyun dan chanyeolkan ada didalam ruangan tertutup dan bukankah ini kamar chanyeol? Lalu mengapa bajunya basah? Baekhyun melepaskan pelukannya. Ia menatap chanyeol yang tengah menangis.
"Hey, kau baik-baik saja chanyeol-ssi" baekhyun berjinjit menangkup wajah chanyeol dan menghapus air mata chanyeol menggunakan telapak tangannya.
Chanyeol menahan kedua tangan baekhyun. Chanyeol sedikit menunduk dan menyatukan kening mereka. " Bawalah aku, Ketempat kau berada, bawa aku bersama mu. Meski itu diujung dunia, aku akan terus mengikutimu. Jangan pernah kau pergi dari pandanganku, Cara mu melangkah adalah caraku bermimpi, hanya dirimu baekhyun. Aku mencintaimu"
Blush
Wajah baekhyun merona mendengar kata-kata chanyeol. Hey, chanyeol tidak dalam mode bercanda ia berkata seperti itu karna chanyeol benar-benar merasa tersiksa karna ketidakhadiran baekhyun dalam setiap langkah hidupnya. Bahkan waktu satu bulan tanpa baekhyun sudah seperti ratusan tahun bagi chanyeol.
.
.
.
.
.
Seorang wanita tengah sibuk berjalan mengitari rumahnya sambil mengigit jari telunjuknya.
"Yeobo, apa baekhyunie sudah pulang?" tanya wanita setengah tua tapi telihat cantik dan sexy. Byun taeyeon nama wanita yang sedang mengitari Byun Jiyeong.
"Bukankah baekbom bilang kalau uri baekhyunie sedang bersama chanyeol" jawab jiyeong menutup korannya. Jiyeong memperhatikang taeyeon yang sedang dilanda kepanikan karna anak bungsu mereka belum pulang.
"Sayang, bisakah kau duduk sebentar? Jangan mengitariku terus kau malah membuatku pusing sayang" tukas jiyeong kesal. Sedari tadi sang istrinya. Byun taeyeon terus memutari kursi yang sedang ia duduki.
"Sayang ini semua salahmu. Kau menyita ponsel dan dompet anak kita bagaimana jika uri baekhyunie tidak bisa makan dan minum. Bagaimana dengan isi t-moneymu apakah cukup untuk pulang-pergi? Kau bahkan tidak mengkhwatirkan anak bungsumu hiks.. Kau jahat sayang" taeyeon menangis ia kesal dengan sifat jiyeong yang terlalu kasar pada baekhyun. Wajar bukan jika seseorang kehilangan ingatannya dan meminta membatalkan pertunangannya bukankah itu hal yang wajar? Apalagi baekhyun kehilangan ingatan mengenai chanyeol.
"Hiks.. Hiks.. Wajar jika uri baekhyunie merengek untuk membatalkan pertunangannya hiks. Bukan kah ia kehilangan ingatan tentang chanyeol hiks yeobo kau terlalu keras pada uri baekhyunie aku takut ia kenapa-kenapa. Aku takut jika anemianya kambuh ia bisa saja merepotkan chanyeol yeobo hiks hiks" ucap taeyeon susah payah sambil menahan tangisannya agar tidak pecah. Ia sungguh mengkhwatirkan baekhyun.
"Aigoo, maafkan aku eum. Maafkan aku jika aku terlalu keras pada baekhyunie" jiyeong menarik taeyeon dalam pelukannya. Pria setengah tua namun masih mengikuti trend ini sedang berusaha menenangkan sang istri yang tengah menangis seperti anak kecil yang kehilangan lollipopnya.
"Baikalah aku akan menghubungi chanyeol." jiyeong mengeluarkan ponselnya. Menekan tombol 5 pada papan dialpadnya.
"Yeoboseo. Chanyeol-ah apa baekhyunie ada disana?" tanya jiyeong tanpa basa-basi lagi. Terdengar kekehan kecil dari ujung telpon.
"Kkk~ Ne Appa Byun. Sebenarnya tadi ada sedikit masalah. Kepala baekhyun tiba-tiba saja sakit. Karna panik makanya baekhyun kubawa pulang" jelas chanyeol menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal sesekali melirik kearah baekhyun yang sedang duduk bersama yura noona diruang tamu.
"Apa! Kenapa tidak dibawa kerumah saja. Aaaawwwww~~~" jiyeong menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia meringis kesakitan karna dicubit oleh taeyeon. Taeyeon mendelik ia meminta untuk baekhyun segera dipulangkan karna baekhyun belum pulih.
"Yeoboseo appa byun"
"Aku mendengarmu. Chanyeol-ah segera antarkan baekhyun pulang nde. Eomma sangat mengkhawatirkan baekhyun. Apalagi ia belum pulih benar" tutur taeyeon merampas ponsel jiyeong.
"Nde eomma. Aku segera mengantarkan baekhyun pulang."
"Gomawo chanyeol. Eomma akan menyiapkan Smootie banana kesukaanmu. Eomma tutup nde" taeyeon memutuskan panggilan. Kemudian menatap tajam pada suaminya.
"Jangan harap kau mendapat jatah malam ini" ancam taeyeon sambil melempar ponsel kedada bidang jiyeong.
"Aigoo, manisnya appa dan eomma" baekbom berjalan menuju appa dan eommanya yang sedang duduk disofa keluarga.
"Aigoo sejak kapan anak appa jadi penguntit" tukas jiyeong sambil terkekeh.
"Penguntit yah? Aku sih cuma berdiri disana" baekbeom menunjuk tempat ia berdiri tadi. "Menunggu kalian menyambutku pulang. Waaahh uri baekbom sudah pulang dari kantor. Tapi tidak ada yang menyambutku" baekbom monolog sendiri. Sungguh kasihan.
"Jadi kalian mau minum apa? Yeobo kau mau apa?" taeyeon melempar pandang pada jiyeong.
"Aku mau kau" jawab jiyeong asal.
Blush
Pipi taeyeong merona seperti kepiting baru direbus.
"Omona~ lihat eomma dan appaku sedang masa puber kedua" baekbom melihat mini drama antara eomma dan appanya.
Taeyeon melemparkan batalan sofa pada jiyeong. Karna perkiraannya tepat tentu saja jiyeong dengan mudahnya menangkap bantalan sofa tersebut.
"Eomma aku ingin ice cappucino, lalu jangan lupa untuk adikku susu strawberrynya oke" pesan baekbom seenak jidatnya kemudian berlalu menyisakan appa dan eommanya yang masih diruang tamu.
.
.
.
.
.
Sore hari itu nampak tenang dikediaman keluarga Kim. Seorang gadis cantik bertubuh profesional tengah merengek meminta dipindahkan kesekolah yang sama dengan Chanyeol.
"Appa pindahkan aku kesekolah yang sama dengan chanyeol appa" pinta hyejin dengan wajah memelas.
"Cukup mempermalukan appamu hyejin. Kau sudah ditolak oleh keluarga Park. Dan kau sekarang mengemis-ngemis kepada appamu untuk memindahkan sekolahmu kesekolah dimana anak brengsek itu berada" ucap tuan kim penuh amarah.
"Appa biarkan aku membalas dendamku appa. Gadis itu juga bersekolah disana. Kumohon appa" hyejin putus asa ia berlutut dihadapan appanya sambil menangis. Ia mengingat kisah cintanya bersama chanyeol dulu. Ia mengingat kedatangan baekhyun yang merusak hubungannya dengan chanyeol. Hyejin sungguh ingin membalaskan rasa sakit hatinya pada keluarga park dengan cara menghancurkan baekhyun.
"Baiklah. Appa akan memberikanmu satu kesempatan untuk membalaskan rasa sakit hatimu sayang. Tapi jika kau tidak berhasil dan mempermalukan appa lagi maka bersiaplah pergi dari seoul" tuan kim berlalu meninggalkan anaknya yang masih berlutut dan menangis.
"Terima kasih appa"
.
.
.
.
Byun taeyeon bukan hanya seorang ibu rumah tangga tapi juga seorang bartender dirumahnya. Sang eomma beranak dua ini sangat menyukai meracik minuman hanya saja sang suami tidak memperbolahkannya membuka cafe dan berkerja terlalu keras karna bisa mempengaruhi daya tahan taeyeon.
Beberapa gelas ada cappucino, ice cappucino, smootie banana, susu strawberry, dan secangkir teh manis. Sudah menunggung untuk diminum oleh sang pemilik masing-masing gelas.
"Cappucino buatanmu makin enak saja chagi" jiyeong menyesapkan secangkir cappucino kedalam mulutnya.
"Yak, kenapa kau minum baekhyunie dan chanyeol saja belom datang, baekbom juga belom turun." taeyeon memukuli jiyeong dengan tangannya.
"Uri baekbom sayang, cepat turun icemu sudah siap" teriakan indah taeyeon menggema indah dirumah kediaman Byun.
"Siap eomma"
Chanyeol mengenggam tangan baekhyun keluar dari rumah chanyeol. Bukan rumahnya sih tentu rumahnya appa dan eomma chanyeol. Menuntun baekhyun menuju rumahnya. Tak perlu ongkos ataupun menaiki mobil mewah milik chanyeol. Hanya butuh jalan kaki mungkin sekitar sepuluh langkah karna rumah mereka bertetanggaan.
Dua orang maid membukakan pintu ketika mengetahuin chanyeol dan baekhyun sudah ada didepan pintu kediaman keluarga Byun.
"Oh terima kasih"
Dari tangga terdengar suara gaduh seperti langkah kaki seorang yang terburu-buru menuruni anak tangga. Chanyeol dan baekhyun menggelengkan kepala mereka bersamaan mengingat bunyi langkah kaki tersebut milik baekbeom.
"Uri baekhyuniee dan Chanyeollie sudah datang" pekik taeyeon girang. Taeyeon berhambur memeluk anaknya kemudian memeluk chanyeol calon menantunya.
"Kajja eoma sudah mempersiapkan smootie banana dan susu strawberry untukmu sayang" taeyeon menggandeng kedua orang ini menuju ruang makan mereka yang sudah ada appa byun dan baekbom. Mereka tengah asyik dengan minuman mereka sendiri. Jiyeong dengan secangkir cappucinonya dan juga koran yang tidak ketinggalan. Sedangkan baekbom dengan ice cappucinonya dan ponsel ditangannya yang tak pernah lepas.
Baekhyun duduk disamping eommanya. Itu tandanya ia diapit oleh appa dan eommanya. Dan chanyeol duduk dihadapannya. Chanyeol menopang dagunya menatap baekhyun membuat baekhyun merasa risih oleh tatapan matanya.
"Eomma lihat dia seperti ajussi-ajussi mesum" baekhyun menunjuk kearah chanyeol. Baekbom yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh kearah chanyeol. Bahkan Byun Jiyeong-pun mengintip dari balik korannya. Kemudian sang eomma hanya tertawa geli melihat tingah putrinya.
"Bwahahahaha, ajussi-ajussi mesum" tawa baekbom pecah. Ia menertawai perkataan adik bodohnya. Ia makin bodoh saja saat kehilangan ingatannya.
"YAK! Hyung tidak bisa kau jangan tertawa sekerah itu ditelingaku" kata chanyeol sedikit membentak. Chanyeol memajukan bibirnya kesal. Baekhyun yang melihat chanyeol seperti itu ikut tertawa bersama sang oppa.
"Ahahaha, Chanyeol-ssi kenapa bibirmu maju minta dicubit appa yah ahahaha" ucap baekhyun disela tawanya. Ia tertawa sampai mengeluarkan air mata. Baru kali ini ia bisa mengerjai chanyeol dengan bebasnya.
Tok
Jitakan mulus mendarat dikepala baekhyun. "Eomma appa menjitakku" adu baekhyun pada eommanya. Baekhyun mengelus-elus palanya, ini sakit-sakit sekali. AHA sebuah lampu menyala dikepala baekhyun pertanda baekhyun memiliki ide cemerlang untuk mengerjai sang appa.
Baekhyun menggenggam tangan ibunya kuat-kuat. Tentu taeyeon panik karna genggaman tangan baekhyun sungguh kuat.
"Eomma palaku sakit sekali. Appa menjitaknya terlalu kuat" baekhyun mengelus palanya dan memasang wajah kesakitannya. Tentu perkataannya mampu membuat semua orang yang ada diruangan itu memperhatikannya.
"Jinjjayo" taeyeon menatap baekhyun yang kesakitan. "Eomma antar ke kamarmu nde" ajak taeyeon. Namun chanyeol terlebih dulu berjongkok didepan taeyeon dan baekhyun. Taeyeon tersenyum ia menyuruh baekhyun naik kepunggung chanyeol.
"Eomma," wajah baekhyun dibuat ragu-ragu.
"Tidak apa-apa sayang. Ia tunanganmu." kata taeyeon penuh penekanan dibagian akhirnya.
Baekhyun sudah mengkalungkan lengannya dileher milik chanyeol. Ia bahkan menyenderkan palanya dibahu tegap milik chanyeol sebagai pelancar dramanya untuk membalas appanya. Chanyeol menopang kedua paha baekhyun dengan lengan kekarnya kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar baekhyun yang ada di lantai dua. Dibalik punggung tegap chanyeol. Baekhyun memasang wajah murungnya mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian yang takkan ia lupakan.
Jangan lupa tinggalakn reviewnya yah. Aku usahakan ceritanya dipanjangkan hehe.
Terima kasih yang udah review sebelumnya. H.u.l.l.i yap
