Pernahkah kalian merasakan yang namanya kesepian ?
Keadaan dimana kita merasakan kesendirian, kekosongan dan kehampaan
Seolah tak ada orang yang akan mengerti
Karena kita merasa menjadi satu-satunya makhluk yang seolah tak beruntung
Apalagi ketika semua orang tampak bahagia dan hanya kita satu-satunya yang terjebak dalam rasa sepi itu
Terjebak dalam rasa sepi bisa membuat seseorang merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung dan menjadi makhluk yang tak berguna
Rasa ini kerap muncul apabila kita sudah kehilangan arah tujuan, saat sudah tak ada lagi gairah atau semangat untuk menjalani hidup
.
Itulah yang kurasakan saat ini, hidupku terasa hampa tak ada semangat maupun gairah. Seolah aku hidup di dunia ini hanyalah sia-sia. Aku tak tahu apa sebenarnya tujuan hidupku, semua masih terasa abu-abu.
Bertambahnya usia, seseorang pasti akan memikirkan masa depan mereka sebaik mungkin atau bahkan sudah mempersiapkannya secara masak-masak. Tapi tidak denganku aku hanya berpikir'Jalani saja apa yang ada di depanmu, untuk hari kedepannya kita cukup ikuti seperti air yang mengalir'.
Kheh... bahkan air yang mengalir 'pun masih punya tempat tujuan untuk berlabuh. Aku merasa malu dengan pemikiranku itu.
Cukup konyol memang tapi itulah pemikiranku, pemikiran seseorang yang telah menyerah akan hidupnya, seseorang yang hanya mengikuti garis takdir yang telah ditentukan karena aku takut jika harapan yang selama ini kuinginkan tidak sesuai dengan kenyataan, maka perasaan kecewalah yang akan datang menghantuiku.
.
.
.
Look at Me
.
.
Fanfiction Naruto & Hinata
Story of SelMinho
Disclaimer©Masashi Kishimoto
.
.
Warning : AU, OOC, Typo(s) dan masih banyak kekurangan yang lain.
.
.
R&R
.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
Drrtt... drrttt...
Ponselku bergetar pertanda ada pesan masuk, aku melihat ada satu pesan.
From : Naruto
Kau di mana? Apa semua baik-baik saja?
"Apa maksudnya?" Aku bingung dengan isi pesan itu, mengapa ia tiba-tiba menanyakan hal yang tidak ku mengerti.
To : Naruto
Di rumah. Semua baik. Memangnya ada apa?
.
From : Naruto
Tidak ada. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku takut kau merasa kesepian dan membutuhkan teman.
.
Hahh... Dia selalu mengerti akan kondisiku ini. Apakah dia itu seorang peramal? Mengapa dia selalu tahu dengan semua masalah yang ku alami. Aku meletakkan ponselku kembali di atas nakas, memilih memandang langit-langit kamarku dengan pandangan kosong. Aku sempat berpikir sebenarnya siapa aku? apa tujuanku? dan mengapa aku hidup?
Semua pertanyaan itu selalu berputar di otakku, jika aku sendiri tidak tahu tujuan hidupku lantas mengapa aku hidup. Tidakkah ada orang yang mau memahami apa keiinginanku? Tapi apa sebenarnya keiinginanku?
Lebih baik aku tidur daripada memikirkan hal yang menurutku rumit. Tapi belum sempat menutup mata aku mendengar suara orang tuaku yang bertengkar (lagi). Haahhh... akhir-akhir ini aku sering sekali menghela nafas mungkin karena sudah bosan dengan semua hal yang ku alami. Sayup-sayup aku mendengar suara ayah yang marah besar, sebenarnya ada masalah apa lagi ini.
Aku memilih keluar dari kamar dan ingin menghentikan pertengkaran ini, karena aku benar-benar sudah muak mendengar semua pertengkaran mereka. Di sana aku bisa melihat wajah ayah yang memerah karena menahan amarah sedangkan ibu hanya duduk diam di sofa dan memilih menundukkan kepala.
"DIAMMM !" Aku berteriak menghentikan pertengkaran mereka.
"Tidak bisakah kalian berhenti bertengkar, aku benar-benar sudah muak melihat kalian yang setiap harinya bertengkar tanpa ada alasan yang jelas."
"Aku benar-benar muak, jadi tolong hentikan... hiks... a-aku..."
Aku mulai terisak dan tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Orang tuaku langsung diam dan melihatku dengan pandangan sendu. Sungguh aku membenci pandangannya itu, seolah mereka memandangku karena merasa kasihan. Aku menghapus air mataku dengan kasar dan memilih berlari menuju kamar, mengabaikan panggilan mereka.
.
.
Brakk...
.
.
Aku membanting pintu kamar dan langsung menenggelamkan wajahku di atas bantal. Aku menangis histeris, saat ini aku benar-benar tidak bisa menahan semua emosiku. Aku butuh teman untuk mendengar semua keluh kesahku. Aku meraih ponsel dan ingin menghubungi Naruto tapi aku urungkan karena takut mengganggunya lagipula ini sudah terlalu larut.
Memilih meletakkannya kembali dan mencoba untuk bersikap tenang, tapi itu sangat sulit kulakukan. Aku benar-benar kalah dengan emosiku ini.
.
.
Tok... tok... tok... Cklek...
.
Aku mendengar suara pintu kamarku yang diketuk dari luar setelah itu terdengar langkah kaki yang mulai mendekat. Aku merasa ada seseorang yang duduk di samping ranjangku dan mengelus rambutku.
"Hinata, kami ingin berbicara."
Itu suara ayahku, aku yakin mereka pasti akan membahas soal yang tadi. Aku mengabaikan keberadaan mereka dan masih setia menenggelamkan wajahku di atas bantal. Terdengar ayah yang sedang menghela nafas karena melihat tingkahku ini.
"Ayah dan Ibu memutuskan untuk bercerai."
.
.
Deg...
.
.
.
Aku langsung bangkit duduk dan melihat ke arah mereka, memastikan apakah mereka bersungguh-sungguh untuk mengambil keputusan tersebut. Tapi aku bisa melihat jika keputusan mereka sudah bulat.
"Mengapa?" Ucapku lirih dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Air mata sialan... kenapa kau terus datang tidak bisakah kau berhenti.
"Ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua, kau akan tinggal bersama ibumu. Tapi tak perlu khawatir, ayah akan sering berkunjung ke rumah ini. Hubungan kita masih terjalin baik. Hanya saja mungkin ayah tidak bisa berada di sampingmu. Maaf jika selama ini kami tidak memberi perhatian padamu, tapi asal kau tahu kami sangat-sangat menyayangimu."
Aku hanya diam mematung mendengar semua penjelasan ayah, menatap mereka dengan pandangan kosong. Karena tidak ada respon dariku, Ibu memelukku dan menangis histeris di pelukanku, apakah ia merasa bersalah padaku.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
Beberapa hari setelah kejadian itu orang tuaku telah resmi bercerai dan beberapa hari ini aku juga mengurung diri di kamar tidak keluar rumah bahkan aku memilih membolos kuliah. Aku membolos 'pun tidak akan ada yang mencari atau khawatir dengan keadaanku. Ya... walaupun ada satu orang yang selalu menggangguku, siapa lagi kalau bukan pemuda blonde dengan tiga garis di kedua pipinya.
Setiap hari ponselku akan berbunyi, ah bukan... bahkan setiap satu jam sekali dia akan menghubungiku. Astaga dia benar-benar sangat peduli padaku. Setelah ini lebih baik aku menemuinya karena aku tahu sikap keras kepalanya itu hampir sama denganku jika tidak menemuinya mungkin ia akan terus menggangguku. Membayangkan hal itu membuatku merasa ngeri.
.
.
Kami biasa janjian di taman kota dekat rumahku, sepertinya aku telat datang atau dia yang datang lebih awal? Ah.. sudahlah itu hal yang tidak penting. Aku datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Dia tersentak dan menoleh ke arahku.
"Apa kau sudah lama menunggu?"
"Astaga Hinata... kau benar-benar mengejutkanku."
Aku ingin tertawa melihat tingkahnya itu, lihatlah wajah idiotnya yang sangat lucu.
"Emm... Hinata."
"Hm."
"Apa kau baik-baik saja? Mengapa kau tidak masuk kuliah? Kau juga tidak pernah membalas pesan-pesanku dan tak pernah manjawab telepon ku. Dan lihatlah wajah pucatmu itu apa kau sakit. Ayo jawab aku Hinata! Kenapa kau diam saja."
Astaga aku baru datang dan langsung dibanjiri seribu pertanyaan sebenarnya dia ini pria atau wanita, kenapa cerewet sekali.
"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu, jika dari tadi kau tidak berhenti mengoceh." Ujarku kesal
"Eh... Gomen, karena jujur beberapa hari ini aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Jadi, apakah kau mau bercerita mengapa beberapa hari ini kau sangat sulit dihubungi?"
"Haahhh... jika aku tak bercerita kau pasti akan terus menggangguku." Aku menggerutu kesal dan dia hanya terkekeh. Astaga... rasanya aku ingin memukul wajahnya yang sangat menyebalkan itu.
"Jadi, mulailah bercerita Hime-sama." Astaga panggilan apa itu, pipiku rasanya memanas. Dia benar- benar sangat pandai menggodaku. Sadarlah Hinata jangan sampai kau terayu oleh mulut manisnya itu, saat ini kau harus memasang wajah yang serius. Aku mulai mencari posisi duduk yang nyaman untuk mulai bercerita.
"Emmm... jadi begini mengapa aku tidak masuk kuliah dan tidak menjawab semua pesanmu karena keluargaku ada masalah."
"Masalah apa?"
Lihatlah dia benar-benar antusias ingin mengetahui masalahku, apakah aku harus menceritakannya?
"Orang tuaku resmi bercerai."
Terlihat ia hanya diam saja karena belum memahami ucapanku setelah sadar ia langsung berteriak
.
.
.
"APA?"
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
~To Be Continue~
.
.
Holla ketemu lagi dengan saya adeknya abang Minho :*
Gimana nih pendapat kalian tentang fic ini ? Apakah ada yang suka ?
Kalo suka tolong Review ya!
Karena dengan Review kalian itulah yang nantinya akan menjadi semangatku untuk nulis chap berikutnya hehehehe :D
Dan untuk yang nunggu fic Orange Dusk maaf aku belum bisa up :(
Tapi kalian gak usah khawatir secepatnya pasti akan up kok jadi harap sabar ini ujian hehehehe :D
.
Oh ya, Special thank's to : sanblum yang udah review dan juga untuk para reader yang udah follow dan favorite fic ini^^
.
Arigatou^^
.
SelMinho^^
