Terkadang air mata lebih berharga dari senyuman
Karena air mata menetes ketika hati tersentuh
Sedangkan senyuman tak selalu dari hati
Senyuman memang bisa menyembunyikan perasaan yang kita alami
Tapi itu semua hanyalah topeng belaka
Kita berpikir jika dengan senyuman semua masalah akan tertutup
Semua itu salah karena manusia diciptakan untuk berbagi
Entah itu berbagi kebahagiaan maupun kesedihan
Jika kita bisa melakukan itu maka kau tidak akan merasa sendiri
.
.
.
Look at Me
.
.
Fanfiction Naruto & Hinata
Story of SelMinho
Disclaimer©Masashi Kishimoto
.
.
Warning : AU, OOC, Typo(s) dan masih banyak kekurangan yang lain.
.
.
R&R
.
.
.
Aku terkejut saat mendengar jika orang tua Hinata resmi bercerai, aku sangat tidak menduga jika hal itu akan terjadi. Memang aku sudah sering mendengar Hinata bercerita tentang masalah keluarganya yang sering bertengkar. Tapi jujur saja itu tidak bisa menghilangkan rasa terkejutku.
Aku tahu Hinata adalah perempuan yang kuat karena ia mampu memendam semua perasaannya seorang diri, tapi bolehkah aku berharap untuk mendampinginya. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa memahaminya walau aku tahu jika ia hanya memandangku sebagai temannya tidak lebih.
Dan ketika aku melihat ia menangis aku merasa senang bercampur sedih. Senang karena ia mau menumpahkan sedikit perasaannya padaku dan sedih karena aku tidak pernah melihat dia serapuh ini. Masalah yang ia alami pasti sangatlah berat.
"Apa yang terjadi?"
"..."
Haahh... aku hanya bisa menghela nafas. Jika terus-menerus diam bagaimana aku tahu letak masalahnya. Aku sangat ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, alasan mengapa kedua orang tuanya bercerai dan masih banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan.
Setelah 5 menit yang lalu ia baru berhenti menangis, aku bisa melihat wajahnya yang kacau. Hinata hanya melihat ke depan dengan pandangan kosong dan pikiran yang entah kemana. Dan aku hanya bisa memeluknya kebiasaan yang sering kulakukan untuk menenangkannya.
Setelah merasa cukup tenang Hinata mulai mengurai pelukanku tapi tatapannya masih fokus ke arah depan. Kami berdua memilih diam, aku juga bingung harus berkata apa lagi. Karena dari tadi aku bertanya ia tak pernah menjawab.
"Menurutmu arti hubungan itu apa?"
"Eh..."
Aku tersentak ketika tiba-tiba ia bertanya tentang arti sebuah hubungan. Jujur aku sendiri bingung harus mendefinisikan hal itu seperti apa, karena menurutku hubungan di dunia ini sangatlah banyak. Hubungan antara orang tua dan anak, hubungan antara suami dan istri, hubungan antara keluarga, hubungan antar teman dan hubungan antar kekasih. Yang menjadi pertanyaan, yang dimaksud Hinata itu hubungan yang seperti apa.
"Ehem... begini jika kau bertanya makna dari hubungan itu sendiri aku tidak bisa mendefinisikan secara menyeluruh, tapi menurut pandanganku hubungan adalah suatu hal yang mempersatukan perebedaan menjadi satu tujuan yang sama. Entah itu perbedaan pendapat, karakter maupun visi dan misi. Adanya sebuah hubungan karena untuk melengkapi satu sama lain, bukan untuk mencari kesempurnaan satu sama lain. Meskipun itu hubungan antar keluarga maupun hubungan dengan orang lain. Untuk itu manusia diciptakan untuk saling berhubungan satu sama lain. Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?"
"..."
Argghhh... rasanya aku ingin berteriak dan terjun dari gedung lantai 20. Percuma aku bicara banyak tapi justru ia hanya diam tak merespon semua ucapanku. Apa ia menganggap jika aku ini patung. Ayolah! Aku benar-benar frustasi melihat tingkahmu itu Hinata, tidak kah kau sadar jika pria di sampingmu ini butuh responmu. Hah... aku hanya bisa mengacak rambutku frustasi.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
Kami masih bertahan untuk saling diam, entah siapa yang akan menang karena tidak ada yang ingin mengalah. Karena jujur saja sikap keras kepalaku memang susah untuk dihilangkan begitupun perempuan di sampingku ini. Dasar kepala batu! Aku hanya diam menunduk putus asa, bayangkan saja jika dari tadi kau bicara panjang lebar tapi rekan bicaramu justru tak memberi respon. Jika seperti ini terus, lama-lama aku bisa gila karena stres.
"Naruto."
"Hm." Aku hanya bergumam malas dengan kepala yang masih tertunduk.
"Arti pernikahan itu apa?"
'Ehhh... pertanyaan macam apa itu? Kenapa ia menanyakan pernikahan padaku? Apa Hinata berniat menyindirku karena belum menikah. Eh.. tunggu dulu! Tapi umurku kan baru 20 tahun jadi masih lama.' Batinku heran
"Hinata kau kan tahu jika aku ini masih lajang. Jadi kenapa kau menanyakan hal yang belum pernah aku alami. Cobalah bertanya dengan hal yang masuk akal!" Aku mulai menggerutu dengan semua pertanyaannya. Ia langsung menoleh ke arahku dengan tatapan sengit. Astaga seharusnya yang merasa kesal itu aku, kenapa dia malah menatapku dengan pandangan seperti itu.
Glek... Aku hanya bisa menelan ludahku gugup. Ya ampun lihatlah matanya yang menatap tajam ke arahku dan juga warnanya yang sangat merah, mungkin karena efek setelah menangis tadi, tapi aku bersumpah jika itu sangatlah menyeramkan.
"Jawab saja apa susahnya sih!" Lihatkan dia semakin kesal.
"Ba-baiklah, begini pernikahan itu adalah hal sakral yang dilakukan untuk menyatukan dua hati yang berbeda dengan tujuan saling melengkapi dan juga meraih kebahagiaan bersama, saling mencintai dengan membangun sebuah visi dan misi yang sama sebagai pondasi yang kuat."
"Jika memang seperti itu lantas mengapa harus ada pernikahan jika pada akhirnya harus berpisah."
Oke sekarang aku merutuki semua ucapanku karena merasa mengguruinya. Lidahku rasanya kelu untuk mengucapkan satu patah kata pun. Ayo berpikir Naruto! Jangan sampai ia salah mengartikan semua ucapanmu tadi.
"Begini Hinata kau pasti pernah dengar istilah 'Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan'. Memang tidak semua pernikahan harus berjalan dengan lancar ada kalanya masalah akan datang menghampiri. Entah itu masalah kecil maupun masalah besar. Tergantung masing-masing ingin menyikapinya seperti apa. Jika mereka memilih berpisah itu bukan karena sudah tak saling mencintai mungkin itu pilihan yang terbaik untuk tak saling menyakiti satu sama lain."
Aku bisa melihat pandangannya berubah menjadi sendu dengan mata yang berkaca-kaca. Oh astaga... apa aku salah bicara?
"Hi-hinata jangan menangis!" Aku gelagapan saat air matanya turun semakin deras. Ya ampun aku benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus kulakukan? Oh iya dengan pelukan aku yakin ia bisa tenang. Tapi apa yang terjadi, Hinata malah berontak dalam dekapanku. Aku semakin mengeratkan pelukanku tapi dia tetap meronta.
"Le-lepaskan aku Naruto... hiks... pergilah aku ingin sendiri!"
"Hinata kau bisa menceritakan semua masalahmu padaku, aku di sini bersamamu. Jadi-"
"Cukup Naruto! Aku bilang aku ingin SENDIRI... Hiks... Lihatlah aku! Apa salahku? Mengapa semua masalah selalu menghampiriku. Aku hanya ingin hidup tenang... Hiks..."
Aku hanya diam setelah ia berteriak padaku. Mungkin saat ini ia benar-benar terbawa emosi. Kau hanya cukup diam Naruto dan biarkan ia tenang.
"Dengarkan aku Hinata! Aku selalu melihatmu."
'Hanya saja kau tak pernah sadar jika aku selalu melihatmu.' Lanjutku dalam hati.
"Kau pernah mengatakan padaku jika manusia bisa saling memahami tapi semua itu salah, bahkan kau tak tahu bagaimana perasaanku selama ini."
.
.
Jleb...
.
.
'Tahukah kau Hinata jika semua ucapanmu itu bagaikan sebilah pedang yang menusuk jantungku. Kenapa kau mengatakan itu? Aku selalu berusaha memahamimu? Aku selalu berusaha untuk membuatmu nyaman di sampingku tapi kau selalu menutup rapat semua masalah yang kau alami.'
"Aku memang tak tahu apa yang kau rasakan saat ini. Untuk itu biarkan aku mengertimu, aku ingin menjadi sandaranmu, tempatmu mengeluh, dan tempat untukmu pulang."
Aku menangkup pipinya yang masih dibanjiri air mata dengan tangan kananku. Menatap lurus mata yang selalu teduh bagaikan rembulan itu kini berubah menjadi tatapan sendu. Apakah begitu berat beban yang kau pikul selama ini Hinata?
Aku tersentak ketika tiba-tiba ia menangkup tanganku yang berada dipipinya itu, yang membuatku terkejut bukan karena hal tersebut. Yang membuatku terkejut adalah ketika ia memberi senyuman yang membuatku benci melihatnya.
Dia tersenyum seolah semuanya baik-baik saja? Astaga kenapa harga dirinya tinggi sekali sampai harus memasang senyuman yang membuatku muak. Rahangku mulai mengeras hingga gigiku saling bergemelutuk dan tangan kiriku mulai terkepal erat. Aku langsung menarik tangan kananku secara kasar dan menatapnya tajam.
"Tidak bisakah kau mengurangi harga dirimu yang tinggi itu Hinata. Kau selalu beranggapan jika semua akan baik-baik saja jika kau memendamnya sendiri. Tidakkah kau lihat jika aku bersedia menjadi sandaranmu. Bahkan aku lebih suka melihat wajah datarmu yang seperti biasanya daripada melihat senyumanmu yang memuakkan itu."
Setelah mengatakan itu aku langsung berdiri hendak pergi tapi Hinata langsung mencekal lenganku. Aku bisa melihat tatapannya yang sendu, apakah sekarang kau sadar Hinata jika dengan senyuman seperti itu tidak akan bisa menutupi masalahmu itu dariku.
"Menangislah! Jika kau tak mau bercerita cukup keluarkan bebanmu melalui air mata. Percayalah semua akan baik-baik saja. Aku selalu ada di sampingmu."
Tangisannya semakin keras dan pelukannya semakin mengerat. Aku pun melakukan hal yang sama, mengeratkan pelukanku dan juga membisikkan kata-kata penenang.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
Hinata Hyuga kau selalu berhasil menyita atensiku. Perempuan rapuh yang berlagak kuat dan menyimpan kesedihan itu dengan memasang wajah datar. Cih! bahkan aku tahu jika itu semua hanya topeng belaka.
Aku sudah lama mengenalmu dan aku tahu bagaimana sikapmu. Kau masih bisa tersenyum meski hatimu menangis. Senyuman yang seolah-olah tulus dari hati, tapi aku bisa melihat jika senyuman itu hanyalah semu. Aku tahu kau yang selalu menyembunyikan kesedihan itu sendiri. Menyimpan luka yang tak mungkin orang lain mengerti. Selalu menutup diri agar tak merasa dikasihani karena kau sangat benci jika dipandang lemah.
Untuk itu aku selalu membuka diri agar kau mau berbagi. Berbagi masalah maupun kesedihan yang kau alami selama ini. Aku siap menjadi tempat sandaranmu. Menopangmu ketika kau berada dititik terendah. Dan aku sudah bertekad akan mengembalikan senyumanmu kembali. Senyuman tulus yang tak pernah kau tampakkan lagi. Kau pantas hidup bahagia Hinata. Dan aku adalah orang yang akan membuatmu bahagia. Itulah janjiku, janji dari seseorang yang telah jatuh hati padamu. Namikaze Naruto.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
~To Be Continue~
.
.
Huweeee gomen baru up, dan juga maaf kalo gk puas dengan chap ini.
Jujur aja aku udah baca berulang kali chap ini tapi entah kenapa feelnya gak dapet. Mau diperbarui tapi idenya buntu, jadi maaf cuma bisa buat cerita kayak gini.
Gomen kalo mengecewakan *bungkukbungkuk
Do'akan semoga chap depan idenya bisa berkembang dan juga bisa lebih baik lagi ^^
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Arigatou^^
SelMinho^^
