Chapter 2 - Rough

Disclaimer : Detective Conan milik Aoyama Gosho.

Recomended Song : GFriend - Rough

Next story relase ^^ maaf jika kependekan. Happy reading... RnR please ^^


I wonder because I can't approach

I look away even though I like you

Shiho tak bisa tidur malam itu. Beberapa kali ia mencoba menggulingkan badannya ke kanan lalu ke kiri, mencari posisi paling nyaman untuknya agar segera terserang penyakit kantuk yang sangat ingin ia derita saat ini juga. Dengan begitu, ia bisa melewati beberapa jam ke depan tanpa perasaan gelisah menghantuinya untuk insomnia. Sialnya sampai jam weker di atas nakas tempat tidurnya menunjukkan pukul 02:00 dini hari ia masih setia memamerkan bola mata Aquamarine itu pada langit-langit kamarnya.

'Aku benar-benar menyukaimu, Shiho'

Suara berat milik seorang pemuda yang dua jam lalu bersamanya itu terngiang kembali. Gadis itu mengusap wajahnya pelan, mencoba untuk berpikir tenang.

"Bodohnya aku. Bukankah kau mengenalnya dengan baik? Dia selalu seenaknya kalau berkata kan? Tiba-tiba saja bilang menikah, tiba-tiba bilang... menyukaiku? Oh, ayolah tantei-san, kau berkata seperti itu hanya akal atau hatimu ikut bicara?"

Omelan Shiho terhenti. Goresan bibir cherry miliknya yang terkembang keatas perlahan terkulai,

"Bodoh."

-Next Day-

The harder I try to get closer

The farther our hearts drift away

"Professor, sudah berapa kali aku bilang kan? Ambil satu potongan saja. Kau mau aku kapok membuatnya lagi, huh?" Omelan Shiho disertai death glare miliknya sukses membuat Agasa, sang ilmuan benda-benda unik itu meletakkan kembali sandwich selai blueberry yang hampir saja ia makan. Pandangan menusuk itu otomatis menyiratkan sesuatu dengan jelas untuk pria paruh baya tersebut, ia harus diet, diet dan diet.

"Baiklah, Shiho-kun." Agasa menundukkan kepalanya lunglai menjawab pertanyaan dari gadis -yang sudah ia anggap keluarganya sendiri- surai blonde strawberry yang sibuk menyeduh teh hijau untuknya.

"Ohayou!" Teriak seseorang dari depan pintu. Mereka berdua sudah hafal siapa orangnya. Siapa lagi kalau bukan maniak kasus itu -Kudo Shinichi-.

"Oh! Shinichi-kun, kau mau sarapan? Kemarilah!" Ajak Agasa yang tiba-tiba menjadi ceria kembali. Berbeda dengan Shiho. Ia memilih tak menggubris dan tetap mengaduk teh hijaunya yang hampir jadi. Namun tak bisa dipungkiri, otak Shiho sedikit menegang, setelah semua yang terjadi semalam banyak pikiran berkecamuk di dalam imajinasinya.

Bagaimana ia harus bersikap?

Bagaimana jika Shinichi mengungkit lagi hal semalam?

Bagaimana ia harus menjawab jika ditanya?

I haven't been able to tell you I like you

I see you, hesitating

I guess we're still so young

Shiho tau, ia bukanlah gadis romantis, ia realistis. Menghadapi situasi seperti ini, sangat canggung dibenaknya. Bagaimanapun ia tetaplah seorang wanita, yang hatinya bisa luluh kapan saja jika pria yang menyukainya menyatakan perasaan yang sama dengan dirinya sendiri. Perasaan suka, sayang, cinta. Shiho masih tak yakin terhadap pernyataan pemuda yang kini berjalan mendekatinya dan duduk di kursi dapur yang bergaya bar tersebut. Tepatnya di depan gadis yang sibuk berfikir itu.

"Susu hangat untukku Shiho," ucap Shinichi membuka percakapan. Ia tatap Shiho dalam untuk sesaat, menyadarkannya betapa butuhnya ia pada gadis itu. Perlahan ia keluarkan ringisan kekanakan ala Edogawa Conan, berharap Haibara Ai versi dewasa di depannya ini rileks. Shinichi tau, gurat serius dan tekanan pada wajah cantik Shiho terbaca olehnya. Pemuda itu bersyukur dirinya adalah seorang Sherlockian, ilmu idola favoritnya itu berguna -membaca ekspresi seseorang- baginya. Lagipula semenjak tak ada lagi gangguan dari mantan organisasi yang ia masuki -dengan paksaan- dulu, Shiho mulai perlahan-lahan membuka dirinya akan dunia. Sudah banyak ekspresi-ekspresi kecil yang Shinichi tangkap selama bersamanya dan tak sedikit pula pemuda itu tanpa sadar belajar memahami tiap perubahan di wajah half-blood gadis cantik itu hingga saat ini. Saat gugup, terpesona, tersenyum, tertawa, bersedih, marah, kesal dan bahkan ekspresi damai Shiho saat tidur Shinichi tau, dan ia menyukai semua itu. Surai blonde strawberry itu selalu melakukannya dengan anggun.

I linger because I can't see you

We're like parallel lines

We can't be

Shiho terkejut untuk sesaat, mencoba untuk membaca balik maksud tatapan dan kekehan Shinichi. Dan ia tahu maksud pemuda itu.

'Bersikaplah seperti biasanya, Shiho. Aku tak mau canggung padamu,' batin Shiho berusaha berandai mengartikan. Ia membuang nafas kecil sebelum akhirnya tersenyum meremehkan. Ya, terlepas dari pernyataan pemuda bodoh di depannya ini kemarin malam yang sepertinya tak banyak berpengaruh pada sikap sehari-harinya -pikir Shiho-, ia sendiri seharusnya juga tak berfikir rumit hanya untuk urusan seperti ini. Shiho akan mencoba melupakannya.

"Tanpa gula ya? Gula mahal," ejek Shiho sukses membuat Shinichi mengerang pelan. Namun dalam hati pemuda itu lega, Shiho tak mendiamkannya.

"Baik-baik, minggu ini jatahku yang belanja. Akan kubelikan satu karung kalau perlu, Shiho!"

Surai blonde strawberry itu semakin menarik evil smirknya keatas, sangat tertarik dengan jawaban rekannya ini.

"Aku maunya gula berkualitas, bukan kuantitas, Meintantei-san." Shiho menjawab santai. Ia sajikan teh hijau itu kepada Agasa yang berada di samping Shinichi. Setelah itu ia membuat kopi untuk tuan detektif perengek yang sok itu.

"Oi oi, Shiho!" jawab Shinichi memasang muka 'Oi oi' miliknya. Dasar gadis ini.

But I know we'll end up together somehow

I'll wait forever

Tanpa mereka sadari, Agasa yang sedari tadi mengamati tingkah adam dan hawa didepannya tersenyum. Dalam diam ilmuan penemu lencana Detective Boys itu menyisipkan harapan bahwa ia akan melihat pemandangan menenangkan ini setiap pagi. Ia ingin kedua orang tersebut selalu bahagia, dan sangat berharap bahwa mereka berdua akan bersama dalam satu ikatan kuat nantinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai saat dimana mereka sadar bahwa mereka saling membutuhkan. Agasa pun tak menampik walau cuma ia utarakan di dalam hatinya sendiri, ia merasa bahwa mereka berdua memiliki aura kuat saat kedua orang ini bersama. Meskipun argumen demi argumen mereka berbeda, seperti kutub + dan - pada sebuah baterai yang saling bertolak arah, kabel paralel yang jelas berbeda, masa lalu mereka yang hitam dan putih, namun jika tanpa salah satunya, bagaimana bisa sesuatu hidup? Indah bukan? Seperti mereka berdua memang terlahir untuk berbagi jiwa satu sama lain.

Promise me this, I hope you don't change

I want you to smile at me like you do now

If only I could run through time and grow up

I'll hold your hands at the crossroads

-Fakultas Sosiologi dan Psikologi, Universitas Tokyo-

"Uaaah..." Shinichi menguap bosan untuk kesepuluh kalinya. Pekerjaan yang ia lakukan kali ini hanyalah bertopang dagu dan memandang keluar jendela. Mata kuliah psikologi faal kali ini tak begitu menyita perhatiannya, hanya sesekali ia akan mendengarkan ceramah super panjang dari dosen jurusan psikologi bidang klinis yang ia ambil. Fokusnya lebih kearah yang lain.

"Dia bahkan tak membalas pernyataan ku," kata Shinichi menggumamkan kecil. Dari hal itu, pastilah hal yang menganggu pikiran pemuda cerdas ini hanyalah karena sang gadis ilmuan muda tersebut.

"Hoi, Kudo?"

Shinichi menoleh, dan mendapati seorang pemuda yang berada di bangku sampingnya mencoba berbisik di telinganya.

"Jangan melamun, kau tahu sendiri kan Dosen Yamao."

Shinichi tersenyum kecil. Mengangguk sebagai pertanda setuju. Ia berusaha memfokuskan kembali fikirannya ke mata kuliah. Namun sebuah ketukan pintu dan suara seseorang yang membuka pintu ruang kelas Shinichi menginterupsi kegiatan belajar mereka.

"Permisi Professor, saya mengganggu waktu Anda mengajar. Kami ini polisi. Apa Kudo Shinichi ada?"

Mendengar namanya disebut, Shinichi langsung menoleh kearah pintu, suara itu terasa tak asing bagi Shinichi. Pemilik nada suara berat namun berkesan wibawa tersebut.

"Inspektur Megure!?" serunya tak percaya saat melihat sesosok pria dengan balutan setelan jas cokelat susu tersebut masuk. Refleks ia berdiri dan perlahan mendekati inspektur kepolisian Tokyo tersebut dengan kepalanya yang penuh tanda tanya. Untuk apa sampai ia kemari?

"Kudo-kun, maaf menganggu kuliahmu, tapi bisakah kita membicarakannya di luar kelas? Aku sepertinya akan membutuhkan bantuanmu," ujar Megure singkat dan serius. Mau tak mau Shinichi mengangguk, daripada ia hanya berdiam di kelasnya yang membosankan ini.

"Jadi, ada apa inspektur?" Tanya Shinichi begitu ia berada di luar. Tak banyak berkata, Megure mengeluarkan secarik kertas dari saku dari dalam mantel cokelat susu yang selalu ia pakai. Menyerahkannya pada pemuda didepannya yang memandang bingung.

"Tadi pagi, kantor kepolisian pusat mendapat telegram berupa surat yang kini kau pegang. Coba bacalah, aku yakin kau akan paham situasinya, Kudo-kun."

Shinichi menerima selember kertas tersebut dan mulai membacanya.


Memang 'gingko' dulu yang terbaik, 'Leo Eisaki' pasti bersyukur

Entah, 'lambang biru muda' itu mungkin warna yang 'tertua'

Dan juga aku 'kembali mencarinya' seperti Sherlock Holmes.

Ingatanku yang hilang

Cukup, sudah

Akhirnya kenangan kelam itu muncul lagi

Lari, aku ingin lari dari tempat 'gingko' itu, membuang yang tidak 'berbeda' atau 'kembali mencarinya' walaupun harus 'turun' dan meledakkannya dengan bom 'besar' pada pukul 15:15 nanti.

P.S: Bisakah kalian menghentikan ku?


TBC