Chapter 3 : Precious
Disclaimer : Detective Conan milik Aoyama Gosho. Alur cerita milik penulis.
Recomended song : Youme - Last One
Little talk :
Arigatou minaa-san yang uda baca review dan nasihatnya di fanfic absurd ini hihi xD Zero Kirena, Dendy2398, uyab4869, Mell Hinaga Kuran, affreeze thank you^^
Mungkin di chap ini agak aneh/lebai/dst maapin ya ._. gaada ide waktu buatnya kkk
Untuk pairing emang aku paling suka ShinShi, jadi maklumin yah kalau banyak fanfic ShinShi ;)
Ja... Happy reading minaa-san, RnR pliis ^^
Memang 'gingko' dulu yang terbaik, 'LeoEisaki' pasti bersyukur
Entah, 'lambang biru muda' itu mungkin warna yang 'tertua'
Dan juga aku 'kembali mencarinya' seperti Sherlock Holmes.
Ingatanku yang hilang
Cukup, sudah
Akhirnya kenangan kelam itu muncul lagi
Lari, aku ingin lari dari tempat 'gingko' itu, membuang yang tidak 'berbeda' atau 'kembali mencarinya' walaupun harus 'turun' dan meledakkannya dengan bom 'besar' pada pukul 15:15 nanti.
P.S: Bisakah kalian menghentikan ku?
Chapter 3
"Jadi? Akan ada ledakan bom, Inspektur?" Pemuda itu kaget. Megure mengangguk membenarkan.
"Dan kami polisi yakin bahwa itu memang nyata. Kami bahkan sudah diancam dengan ledakan bom kecil di dekat kantor pagi ini."
Shinichi menggertakkan giginya cemas. Iris blue sky miliknya menatap beberapa tanda petik yang terdapat di beberapa kata yang ada dalam surat tersebut.
"Lalu, apa anda sudah bisa menebaknya inspektur?" ucap Shinichi, berharap ia ada sedikit petunjuk dari inspektur Megure. Pria perawakan besar itu menggeleng lemah dan jelas sekali bahwa pertanda tidak bagus. Shinichi berupaya kembali fokus pada surat yang ada di tangannya, memegang dagunya sembari menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang ada.
"Tapi sepertinya tempat pengeboman berada di Universitas Tokyo ini, Kudo-kun. Kami para polisi berasumsi bahwa kata 'Leo Eisaki' itu mungkin karena ia alumni disini," seru Inspektur Megure menyela pemikiran pemuda bermarga Kudo itu.
"Sepertinya begitu, inspektur. Anda tahu kan? 'Leo Eisaki' sang fisikawan alumni Universitas Tokyo pada tahun 1959 dan diberi penghargaan atas penemuannya yang bernama Diode Esaki. Yah, setahuku itu sebuah terobosan elektronik di dalam benda padat. Dan juga, yang meyakinkan deduksi anda lagi adalah 'gingko' dan 'biru muda' ini. Bukankah jelas bahwa daun gingko merupakan logo dan warna biru muda adalah tanda untuk Universitas Tokyo?" jelas Shinichi panjang lebar. Ia sedikit menyunggingkan senyum walaupun di dalam otaknya ia masih berupaya memecahkan tempat -lebih spesifik- bom tersebut berada.
"Inspektur!" panggil seseorang tergesa. Dia detektif Takagi, bawahan Megure.
"Bagaimana kondisinya?"
"Banyak mahasiswa yang datang kuliah pada jam-jam ini. Tapi kami akan segera memberitahu mereka untuk meninggalkan universitas secepatnya!"
Laporan Takagi ditanggapi Megure dengan anggukan pertanda setuju. "Baiklah. Tetap waspada, Takagi. Kita tidak tau bencana besar apa yang akan datang!"
Shinichi tiba-tiba menyadari sesuatu. "Besar?" gumamnya pelan, kembali menatap surat itu. Sepersekian detik kemudian Sunggingan khas itu terlukis di bibir tipis pemuda ini.
'Jadi begitu ya...'
Tanpa basa-basi, Shinichi segera berlari dan mengajak Inspektur Megure untuk mengikutinya -walau pria paruh baya tak tahu apa-apa- keluar gedung fakultas dan mengikuti saran pemuda itu untuk menaiki sebuah mobil patroli yang kebetulan berada di situ. Inspektur yang kebingungan itu kini menuntut jawaban atas aksi detektif timur tersebut.
"Kuncinya adalah yang ditandai, Inspektur. Pada kalimat terakhir, disitulah semua petunjuk dikumpulkan. 'Gingko' merupakan universitas ini dan 'berbeda' adalah kita harus memperhatikan yang ditandai itu. Lalu ada kata 'mencarinya kembali', 'turun' dan juga 'besar'," terang Shinichi cepat. Entah sejak kapan ekspresinya seperti dilanda kepanikan. Berkali-kali ia mencoba menelfon seseorang di ponselnya yang nampaknya tidak diangkat-angkat.
"Sial!" umpatnya dalam hati.
"Oe, Kudo-kun! Lalu apa arti ketiga kata itu? Kenapa kita harus ke Laboratorium medis?" potong Megure mengusik kepanikan Shinichi. Mau tak mau Shinichi harus menjelaskannya dengan cepat kali ini.
"Kata 'mencarinya lagi' jika kita mengubahnya ke dalam bahasa Inggris akan menjadi 'Re-Search', bisa diartikan sebagai pusat penelitian juga. Lalu kata 'turun' kita harus membacanya secara vertikal dari atas ke bawah. Apa yang harus dibaca? Kata 'besar' dapat diartikan di dalam surat sebagai huruf kapital. Nah didalam surat ini, kalau kita baca huruf kapital nya saja, Inspektur... akan jadi..."
Megure mengamati surat yang diarahkan kepadanya. Matanya membesar begitu mengetahuinya.
"M-Medical?!!"
Shinichi mengangguk. Kembali fokusnya ke depan tanpa menghiraukan Inspektur di sampingnya yang memberi komando ke semua pasukan kepolisian untuk ke tempat yang akan mereka tuju. Pemuda itu mengeraskan genggaman kertas surat yang berada ditangannya. Ia ingat perkataan seseorang yang kini membuatnya panik.
"Shiho, kau nanti pulang seperti biasanya kan?"
"Tidak. Aku pulang agak sore. Aku ada penelitian di lab medical nanti."
Setelah Shinichi keluar dari mobil polisi, ia dan juga Inspektur Megure segera mendekat ke gedung laboratorium yang terdiri dari lima lantai itu. Mereka berdua terkejut, mendapati kerumunan disana dan seseorang yang berteriak memegang sesuatu.
Pemicu.
Sontak Shinichi mempercepat larinya. Ia gerakkan giginya, tanda bahwa ia begitu panik saat itu.
"Jangan mendekat! Atau kusentuh pemicu ini!" Teriakan seorang lelaki bermasker dan berambut keriting dengan topi hitam yang dikenakannya membuat Shinichi sulit melihat wajah aslinya. Badan pria itu bergerak gelisah ketika banyak mobil patroli dan anggota kepolisian yang datang. Ia terus berteriak agar tidak ada yang mendekat.
"Jangan mendekat! Sudah kubilang kan! Aku punya sandera di dalam sana!" pria itu terus saja meracau.
"Sandera?! Apa maumu? Siapa kau?!" seru Megure keras. Ia mencoba perlahan mendekati pria tersebut.
"Kalian polisi kan? Tidak tau malu! Seenaknya menghentikan penyelidikan pembunuhan di laboratorium ini. TIDAK INGAT?! 5 tahun yang lalu?! Riyumi Hasegawa!" pria itu berteriak kencang. Seluruh tubuhnya terguncang, sorot mata lelah itu mulai berair menandakan emosinya meluap seolah-olah ia teringat sesuatu yang sangat menyakitkan selama hidupnya. Setelah keheningan muncul untuk beberapa detik yang lalu pria ini tiba-tiba tertawa yang terkesan sadis.
"Yah, kini aku puas membuat kepolisian panik... Hahaha,"
Shinichi yang tadinya cuma diam mencerna maksud dari kejadian lima tahun lalu kini bergerak gelisah. Debaran detak jantungnya makin tak karuan, iris blue sky itu menyisir orang-orang yang ada di sekitarnya. Berharap menemukan satu sosok yang ia cari dalam benaknya.
Dimana Shiho?
Gadis itu tak ada.
"SIAPA! SIAPA YANG KAU SANDERA!" teriak Shinichi spontan. Pikiran pemuda itu berkecamuk, menggumamkan kata-kata umpatan di dalam hatinya. Ia pandangi tajam pria paruh baya di depannya. Sorot tegas miliknya seolah menghakimi pria pengebom itu. Tampak tertegun sesaat, pria berambut ikal tersebut akhirnya menatap Shunichi berkaca-kaca. Tahu akan kecemasan yang dilanda pemuda lawab bicaranya.
"Tolonglah aku... Dia juga berharga kan untukmu?"
Sial.
Shinichi berlari mencoba masuk ke gedung dengan melewati pria itu. "Tunggu aku," bisiknya pada pria itu. Shinichi sempat melihat pemicu, dan waktu kurang dari tiga menit. Ia gerakkan giginya, tangannya terkepal kuat dan hatinya terus menerus memanggil nama Shiho. Ia tak peduli pada teriakan Inspektur Megure yang menyuruhnya berhenti, tak peduli pada semuanya kecuali teriakan dari pria bertopi itu.
"DIA ADA DI LANTAI TIGA!"
...
Don't let go of my hand until this world ends
Cause you my only one and my last one
"SHIHO!"
"DIMANA KAU!"
"SHIHO!"
Shinichi terus memanggil gadis itu dalam keputusasaannya. Dengan nafas terengah ia berlari memasuki tiap ruangan yang ada di lantai tiga itu. Mencari dengan nafasnya yang memburu. Ia tahu percuma mencoba menghentikan bom itu. Waktu tak memungkinkan. Dan ia tahu bahwa bom itu mungkin hanya akan memakan habis gedung ini saja, takkan ada yang terluka nantinya tapi tidak untuknya. Shiho masih disini. Ia tergesa mencoba membuka pintu gudang peralatan kebersihan. Dikunci. Shinichi yakin Shiho ada disana.
Ia dobrak pintunya. Berkali-kali hingga tubuhnya merasakan nyeri begitu menekan syarafnya, namun pemuda itu tak peduli dan tetap berusaha sekuat yang ia bisa.
"SHIHO!"
BRAK!
Pintu terbuka dan tampaklah seorang gadis berkulit pucat terkulai tak sadar di sudut ruangan yang cukup luas itu. Shinichi langsung mendekatinya memeluk tubuh gadis itu dalam dekapannya. Emosinya meluap. Setetes kristal cair itu keluar dari mata indah pemuda itu.
"Kudo... -kun..."
Suara lemah itu terdengar. Shiho sadar. Gadis itu mencoba membuka kelopak matanya susah payah. Dan tampaklah iris aquamarine yang indah itu menatap Shinichi. Pemuda itu tersenyum, mendapati gadis di rengkuhannya ini sadar.
"Kita harus keluar dari sini, Shiho. Ada bom. Akan ku jelaskan nanti." Perlahan Shinichi membantu Shiho berdiri. Ia menatap tiap inchi tubuh Shiho, memastikan gadis itu tak terluka. Ia bernafas lega begitu ia tak mendapatinya.
"Bodoh."
Shiho mendesis. Kepala gadis itu menunduk dan bahunya bergetar. Shinichi terdiam.
"Kenapa malah kemari!" teriak Shiho. Ia benar-benar ingin menangis kali ini. Shinichi menyentuh rambut blonde strawberry Shiho yang berkilauan itu. Perlahan mengangkat kepalanya agar pandangan mereka bertemu.
A world without you is like pitch-black darkness
"Karena aku tak mau kehilanganmu... bodoh," ujar Shinichi lembut. Gurat merah jambu itu tampak menghiasi pipi kedua insan tersebut. Shinichi mengusap pelan kedua bahu Shiho, seolah berkata kepada Shiho untuk tidak khawatir, mereka akan selamat. Jantung Shiho menegang. Berdetak begitu cepatnya menanggapi tatapan dan sentuhan Shinichi. Ia tak bisa mengalihkan tatapannya dari pemuda itu, ia cari makna sorot mata Shinichi dan memang itu benar adanya, Shinichi mengkhawatirkannya, pemuda itu peduli padanya, pemuda itu memikirkannya.
Detik-detik berikutnya mereka berdua sudah berada di atas troli angkut barang yang beroda dengan sebuah penahan berat di depan mereka. Kaca yang menjadi dinding ruangan yang terhubung langsung dengan luar gedung itu telah dipecah. Mereka akan keluar dengan menggunakan alternatif itu. Di punggung belakang troli sudah siap sebuah benda yang menegang. Gesper elastis yang kedua titik tumpunya terikat erat pada sisi kanan dan kiri kerangka dinding kaca yang pecah. Mereka mencoba teori ketapel.
Waktu tinggal 5 detik. Shinichi memeluk Shiho erat sekali, seakan takut gadis itu akan lepas dari genggamannya.
Welcome to ma kingdom
Close your eyes
There's no need to hesitate
Follow your heart
5
Semua yang diluar menunggu dengan tegang.
4
Perlahan pemuda itu menekan tubuhnya mundur. Mencoba membuat gerakan kecil agar gesper itu semakin tegang. Kaki kanannya siap untuk mengayuh troli itu.
3
Dan dengan cepat ia menggeser penahannya dan mencondongkan badannya ke depan. Serta Merta gesper itu membantunya dalam menjalankannya troli dengan cepat.
2
Di ujung jalan Shinichi memeluk Shiho lebih erat. Keduanya berusaha melompat. Tangan besar Shinichi berusaha melindungi kepala Shiho.
1
Mereka melayang di udara. Menunggu gravitasi menjatuhkan mereka berdua ke bumi.
0
Tiba-tiba tangan Shiho terulur, memeluk kepala Shinichi. Gadis itu tak mau pemuda itu terluka lebih parah.
Suara letusan itu akhirnya menguncang sekitarnya. Merobohkan ruangan itu dan perlahan merobohkan laboratorium medical hingga pendaran api berwarna jingga bermunculan dan siap membakar habis gedung.
Dan mereka berdua jatuh dengan saling melindungi. Shinichi kehilangan tenaganya saat itu juga karena tubuhnya terbentur di sebidang tanah berumput tebal. Shiho bangun dan berusaha mengontrol ledakan tangis dalam dirinya. Meraih lengan Shinichi, dan bersyukur bahwa denyut Shinichi masih terasa di kulit tangannya. Kejadian ini mengingatkannya pada kejadian pembajakan bus beberapa tahun silam.
'Jangan lari, Haibara.'
'Jangan lari dari takdirmu.'
Gadis itu tersenyum dengan kedua matanya yang tergenang airmata. 'Kau menyelamatkanku lagi. Kau memang tangguh Kudo-kun.'
To Be Continue
