Chapter 5 : Meant To Be

Recomended Song : Shayne Ward - Until You

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho


Tokyo Dome, Jepang

Sepasang tangan tampak saling bertautan satu sama lain di tengah kerumunan padat tempat wisata terkenal di Jepang itu. Seorang pemuda tampan bersurai hitam dan seorang gadis cantik dengan rambut blonde stroberinya yang terurai diatas leher. Mereka berdua tampak mengedarkan pandangan kesegala arah, sepertinya sedang mencari sesuatu atau mungkin seseorang.

"Profesor, dimana sih?" keluh pemuda itu menghela nafas pendek. Sedangkan Shiho -gadis yang bersamanya- menguap malas. Sudah berkali-kali mereka memutari area depan Tokyo Dome ini, namun tak satupun sosok yang mereka cari berada pada jangkauan pengelihatan. Shiho sedikit lelah dan mengurai tautan tangannya dari tangan milik Shinichi, mendudukkan tubuhnya pada kursi pengunjung yang disediakan disana serta tak lupa memandangi postur tegap pemuda itu yang masih meneropong sekitar dengan mata biru langitnya yang tajam. Shiho sebenarnya sangat suka ketika Shinichi seperti itu.

"Kudo-kun, sudahlah. Tunggu saja disini, aku capek." Shiho menepuk pelan ruang kosong disampingnya, mempersilahkan pemuda itu untuk duduk. Mata biru laut miliknya mampu membaca langkah Shinichi yang terlihat lesu.

"Maaf, Shiho." Shinichi bergumam pelan setelah tubuh jangkung pemuda itu terhempas pelan ke kursi bercat putih lilin ini, menundukkan pandangannya ke bawah. Gadis disampingnya merespon dengan helaan nafas yang bernada jengkel.

"Sudahlah. Kita bisa berjalan-jalan saja, takkan buruk buatku. Yah, sekali-kali mentraktir anak novelis terkenal yang sombong akan harga dirinya yang tinggi itu ternyata cukup menghibur."

"HEI! Aku yang kau maksud?;" tanggap Shinichi spontan. Kerutan empat siku tanda jengkel muncul di dahi Shinichi. Shiho tersenyum penuh kemenangan kali ini. Memang hiburan yang terbaik adalah menggoda pacarnya sendiri.

"Memang. Siapa lagi yang memiliki ciri-ciri tadi selain dirimu, Kudo Shinichi." goda Shiho semakin senang. Bahkan kini garis melengkung keatas dari bibir cherry indah milik gadis itu dapat Shinichi lihat.

Baby life was good to me

But you just made it better

"Sheesh, Kau memang sungguh cantik Shiho. Aku kalah." Shinichi membuang muka dan pandangannya kearah lain. Ia malu jika Shiho melihat semburat pink hampir diseluruh pipinya terlihat oleh gadis itu. Senyum Shiho selalu bisa membuatnya harus menekan detakan jantung yang semakin tak beraturan temponya.

"Jangan menggombal. Aku akan meninggalkanmu, Kudo-kun." Shiho sesegera berdiri dan mulai berjalan menjauhi sosok pemuda yang masih duduk bersamanya beberapa detik yang lalu. Keadaannya pun tak berbeda jauh. Warna memalukan di pipinya dan juga irama jantungnya yang semakin cepat, ia pun merasakannya. Hei, apa seperti ini rasanya pacaran?

"Oi! Tunggu Shiho! Dasar, tak bisakah kau memanggil pacarmu ini selain Kudo? Namaku Shinichi, Shiho!" omel Shinichi berusaha menyamakan langkahnya dengan gadis yang sudah berjalan beberapa langkah didepannya. Untuk beberapa detik keduanya membisu. Shiho hanya melirik kecil kearah pemuda disampingnya. Gumaman kecil darinya terkadang sampai hingga ke telinga Shiho.

"Apa aku harus memanggilmu seperti itu?" tukas Shiho tak tahan melihat bibir Shinichi terus bergerak naik turun entah mengumpat atau apapun itu. Selagi Shinichi terkejut mengolah masukan kata-kata dari Shiho, gadis itu rupanya sudah berpindah tempat dari sisi kiri ke sisi kanan tubuhnya. Sedikit mendorong sosok jangkung itu kekiri.

"Hei-"

"Aw!"

I love the way you stand by me

Throught any kind of weather

Tubuh ramping Shiho sedikit terdorong kasar ke belakang. Dengan sigap tangan Shinichi yang lainnya menangkap lengan kecil dan menarik Shiho mendekat kearahnya. Shinichi sedikit meringis tatkala tangan ber-gips itu sedikit terbentur dengan tubuh Shiho dan untungnya respon gadis cantik itu secepat kilat, sehingga sedetik berikutnya ia sudah berdiri tegak.

"Oi, Shiho! Tadi bahaya seka-"

Shiho memotong cepat,

"Sekali-kali aku ingin melindungimu..." Ada jedaan bisu dalam jawaban Shiho. Rautnya sedikit ragu, namun akhirnya ia mengatakannya, apa yang pemuda itu inginkan darinya.

Don't wanna make it worse

Just wanna make us work

Baby tell me I will do whatever

"Shin."

Kini giliran maniak kasus itu yang tercengang sempurna. Bahkan ia tak menyadari mata dan mulutnya yang terbuka lebar. Rasanya seperti ia mendapat kejutan meriah di hari ulang tahunnya. Bunga-bunga fantasinya bermekaran. Shinichi ingin sekali melonjak kegirangan jika saja ia bukan penggila harga diri. Ia memilih diam dan berdehem pelan, meski Shiho menangkap semburat yang kini hampir menyamai warna tomat terpulas rata di wajah tirus pemuda itu.

Shiho memanggil namanya.

Keajaiban Tuhan. Terimakasih.

Shinichi benar-benar bersyukur banyak hari ini.

It feels like nobody ever knew me until you knew me

"Patung-Shin, ayo jalan, bodoh," olok Shiho mencoba mengembalikan kesadaran kekasihnya itu. Kedua kelopak mata Shinichi menyempit dengan kerutan di dahi akibat tarukan alisnya yang ia dekatkan. Shiho memang paling fasih kalau mengoloknya. Entah berapa puluh julukan aneh dari gadis ilmuwan itu tersemat kepadanya.

"Baiklah. Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, Shiho. Tanganku baik-baik saja. Ayo, kita jalan lagi." Shinichi mengulurkan tangan kirinya, mengkode Shiho dengan tatapannya agar gadis itu menyambut ulurannya. Shiho sedikit ide lagi untuk sekedar menggodanya.

"Baiklah. Aku kapok melindungimu, tuan Shinichi-"

"Oi oi! Lagi?! Kau sebenarnya membenciku kan, Shiho?" protes Shinichi bernada bercanda karena terus-terusan dibully Shiho. Namun siapa sangka, ia senang luar biasa. Tak ada yang mencintainya seperti cara Shiho. Ia ingin sekali mendengar sekali saja gadis itu bilang bahwa ia mencintainya. Sekali saja.

Feels like nobody ever loved me until you loved me

"Your answer is wrong."

"So?" Shinichi belum puas dengan jawaban gadis itu.

"I like you. Tsk, I love you, fool man." balas Shiho lagi dengan sedikit mendengus. Apa ia harus menjawab lagi?

Shinichi tersenyum penuh kemenangan. Tanpa ragu ia meraih pergelangan tangan Shiho, menuntun tubuh ramping dan proporsional gadis itu agar berada disampingnya.

Feels like nobody ever touched me until you touched me

"Good Answer. I love you too, Miss Shiho." Shinichi tersenyum lebar mendengar kalimatnya sendiri. Gigi-gigi putih yang teratur itu tampak menggambarkan betapa bahagianya pemuda yang satu itu. Shiho hanya mendengus kecil, ia juga sedikit tersenyum. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada dua kepalan tangan berbeda pemilik saling bergandengan erat satu sama lain. Tangan Shinichi hangat. Shiho suka. Sangat suka.

####

Mereka memang berencana menaiki kincir raksasa kalau saja Shiho tak mau membuang waktu hanya untuk menunggu antrian panjang di malam minggu ini. Ha-ha. Bahkan untuk ukuran kencan pertama, mereka kini hanya bisa duduk di tepian sungai besar yang berada di dalam Tokyo Dome ini dan menunggu pesta kembang api yang akan dimulai beberapa menit lagi. Keduanya hanya memakan mochi hangat dan memandang langit malam yang dipenuhi dengan kerlipan bintang dan segala wujud yang ada disana.

"Ayah... Ibu... Kapan kembang apinya muncul?" ujar seorang anak kecil kepada sepasang suami-istri yang ia sebut ayah dan ibu itu. Pasangan yang duduk di depan Shinichi dan Shiho itu tersenyum sambil tangan sang ayah mengusak pelan anaknya gemas.

"Sebentar lagi. Habiskan dulu takoyaki itu sayang."

Shiho melihatnya. Ia tersenyum dengan sedikit sorot kesedihan yang tertangkap dalam bingkai lensa mata Shinichi. Pemuda itu tahu, bahwa Shiho sedang memikirkan kedua orangtuanya.

Di dalam pikiran Shinichi, pemilik mata sinis cantik disampingnya ini sosok kuat sekaligus rapuh. Shiho yang bahkan tak pernah sejengkal pun menikmati bahkan mengenal kasih sayang, dibesarkan dengan penuh tekanan, sendirian, kesepian, tapi tangguh. Ia bahkan mampu melewati itu semuanya. Fase dimana kepompong seekor kupu-kupu yang harus bertahan dari hujan maupun angin agar tetap hidup seperti sesosok gadis itu. Walaupun berkali-kali ia menyerah untuk hidup, namun selalu ada sesuatu yang akan membantunya untuk bertahan.

"Shiho, kau ingin seperti itu?" tanya Shinichi pelan. Gadis itu masih bertahan dengan sedikit senyuman sendu itu, menghela nafasnya pelan -masih menatap keluarga did depannya itu-.

"Tentu saja, sekali saja, Shin." Shiho diam sesaat, sedikit menundukkan kepalanya agar poni lebat miliknya menutupi kedua mata indah itu yang mulai berair namun berusaha ia tahan agar tak menetes.

"Nah, bagaimana jika aku akan memberikan itu semua?" tanya Shinichi lagi. Tangan bebasnya ia arahkan kesalah satu sisi pipi putih salju milik Shiho, mengangkat kepalanya perlahan hingga warna iris mereka masing-masing saling terpantul dan menyatu dengan cahaya malam.

"Bagaimana-"

"Menikah. Maka aku akan memberimu keluarga. Kita dan ayah ibu akan melakukan piknik bersama suatu saat nanti. Itu pasti akan sangat menyenangkan."

See it was enough to know

If I ever let you go

I would be no one

"Shin. Kita baru beberapa jam yang lalu mulai berken-"

Lagi-lagi ucapan Shiho dipotong Shinichi. Pemuda jangkung itu masih dalam mode seriusnya.

Perlahan dari arah langit mulai nampak kembang api berbagai warna. Kemeriahan sontak memadati suara di sekitar pinggir sungai tempat banyak orang berkumpul kini. Tapi bahkan pandangan Shiho terkunci erat di dalam lingkaran biru langit pemuda itu.

"Aku hanya segera ingin meresmikanmu, ukh! Shiho,"

"H-A-H?" Bagus. Kacau sudah suasana romantis yang mereka bangun. Hanya karena jedaan kecil yang menganggu nada pembicaraan pemuda itu. Shiho kini menatapnya dengan penuh telisikan tajam.

"Kau yakin memilihku. Aku ini pemarah, Shin."

"Aku tahu."

"Aku bukan gadis lembut."

"Haha. Memang." Rona keduanya memerah malu, saling melempar dan menanggapi pertanyaan bodoh.

"Aku mungkin akan merepotkanmu."

"Aku sangat tahu itu. Aku tahu semuanya tentang seorang Miyano Shiho. Jadi bisakah nona Miyano ini berhenti bertanya hal bodoh dan mencoba memberi jawaban atas pertanyaanku?" Shinichi mengomel panjang lebar. Ia tak berani menatap Shiho. Jantungnya saja sudah sangat menyiksanya dengan detakan super cepat hingga ia kesulitan mengatur nafasnya.

DEG

DEG

DEG

Cause I never thought I'd feel

All the things you made me feel

Wasn't looking for someone until you

Shiho kali ini tersenyum lagi. Sinar matanya yang berkilauan menandakan bahwa ia bahagia sekali. Tak pernah ia merasakan perasaan paling mendebarkan seumur hidupnya.

"Hei, Shin," panggilnya pelan. Kedua tangan mungil miliknya menangkap pipi Shinichi, dan menolehkan kepalanya lembut agar menatap dirinya. Shinichi terkejut, namun ia hanya menurut dan diam saja.

"Baiklah. Aku pastikan akan menikah dengan tuan detektif di depanku ini jika ia siap dengan segala resikonya..."

"Shiho..."

"Shin. Terimakasih. Aku mencintaimu, sungguh."

Pelan dan lembut, bibir cherry Shiho bertemu dengan bibir maskulin Shinichi. Gadis itu akhirnya menangis dalam ciuman pertamanya malam ini.

"Aku juga sangat mencitaimu, Shiho..." Shinichi memperdalam gerakan bibirnya, menekan pelan kepala Shiho agar terus mendekat.

Dan, kembang api di langit akan menjadi saksi bahwa kedua insan itu akan berjanji untuk selalu saling mencintai.

Nobody, nobody, until you

Fine.


Huuaah *elap keringet. Akhirnya update jugaa maaf fanfic in terbengkalai padahal banyak yang udah mampir dan segala RnR-nya baik di fic ini maupun judul yang lain, voca ucapin makasi banyaak ^^ masih ditunggu RnR-nya untuk part ini minaa-san ^^ maafkan segala kekurangan fic ini dan semoga menghibur *hehe