TRIPLE SCARLET

2/2

Kuroko No Basket Doesn't Mine

Fujimaki Tadatoshi is owner

AKAshi Seijuurou x KUROko Tetsuya with OC!Akashi twins

Warning : BL, Male x Male , Yaoi, Mpreg

Family, OOC dad!Akashi, OOC mom!Kuroko alur cepat, tulisan kacau, fluff(?)

Don't like Don't read!

A/N : Halo semuanya. Terima kasih pada para reader yang sudah mau mampir,baca,follow, fav dan terkhusus bagi yang udah review. Saya merasa bangga sekali/hahaha. Gomen, karena baru bisa update hari ini, karena kemarin sibuk main/saya mau ketemu idola soalnya~. Seperti yang saya bilang di chapter sebelumnya, bahwa endingnya tidak terlalu cetar dan tidak ada plot twist di sini. Sehingga, saya tidak menjamin para reader sekalian akan terpuaskan dengan fict saya/lalala~ saya tidak bertanggung jawab apabila reader merasa di kecewakan/ dihajar. Dan anggaplah lelaki yang hamil itu sudah biasa/yeah! Tidak suka. Tidak usah flame, tidak usah baca. Silahkan kembali dan Scrolling down cerita lain./becanda.Tidak suka. Silahkan klik kembali sebelum menyesal. Wanna review? Klik tulisannya di bawah.

DLDR!

Enjoy~

~0o0~


.

Seichiya hari ini begitu semangat. Manik scarlet itu begitu berbinar. Sena ikut tersenyum senang dalam gandengan sang kakak kembar sejak bel pulang sekolah tadi. mereka bahkan tidak pulang ke rumah untuk sekedar ganti baju. Ransel hitam masih menggantung di pundaknya. Kalau biasanya lorong sepi rumah sakit ini selalu mengingatkannya pada hari-hari di mana sang Mama dalam kondisi buruk. Sekarang Koridor ini serasa penuh dengan bunga-bunga mawar di sisi jalannya. Ya, hari ini sedikit berbeda. Ia kembali ke rumah sakit bukan untuk memantau kondisi sang Mama seperti biasanya. Ia benar-benar akan menjenguk sang Mama, Mamanya dua hari lalu sudah memeluk adik kembarnya tanpa adanya penolakan. Dan kini giliran ia yang akan mendapatkan kesempatan memeluk Mamanya sepuas mungkin. Meskipun ia harus berpura-pura menjadi orang lain.

Daisuke berjalan di samping mereka, merasa tidak adil karena Seichiya selalu menggandeng Sena kemana-mana. Dia kan juga ingin menggandeng tangan Sena. Kakaknya Sena itu overprotektif sama seperti ayahnya,yang ada nanti malah gunting yang melayang ke wajahnya.

Aduh, Daisuke kamu masih kecil sayang, berhitung saja dulu yang benar.

Kalau bertanya kenapa Daisuke ada di rumah sakit, itu karena sang Oka-channya juga sedang ada di sini. Ia disuruh untuk pergi ke rumah sakit bersama si kembar Akashi. Hari ini hanya si kembar yang pergi ke rumah sakit, Papa mereka masih bergelut dengan urusan kantor.

Suara cempreng yang sangat familiar di telinga Daisuke bahkan sudah terdengar meskipun jarak mereka masih sepuluh langkah dari pintu masuk. Daicchi—begitulah panggilan sang Oka-chan— sampai sekarang heran kenapa Tetsuya-niisan mau berteman dengan Oka-channya yang cerewet itu. Mungkin indra pendengaran Tetsuya-niisan sudah kebal. Daisuke masuk pertama kali, berlari menerjang sang ibu,disusul oleh Sena yang masuk setelahnya dan berjalan mendekati Tetsuya,lalu Seichiya yang masuk terakhir dengan perasaan canggung. Langkahnya tiba-tiba saja jadi terasa dipasung. Ugh, kok bisa ia jadi canggung,padahal ia hanya bertemu dengan Mamanya.

"Tetsuya nii-san, ini Sei-kun yang Sena bilang. Sei-kun ini kakak kembar Sena." Sena memperkenalkan. Menunjuk si kakak kembar.

"Konnichiwa, Seichiya-kun." Sapa Tetsuya hangat.

Deg!

Mama menyapanya, Mama memanggil namanya. Seichiya merasa lidahnya terasa kelu. Ia tidak bisa menjawab sapaan sang Mama. Manik scarlet itu bertubrukan dengan iris aquamarine yang binarnya begitu ia rindukan. Ini Mamanya, ini Mamanya! Ini Mama yang ia rindukan. Bibir itu terbuka namun kembali menutup. "Mama…" suara itu begitu lirih, begitu pelan. Tetsuya memandang bingung begitu juga ketiga sosok yang lain di sana.

Seichiya mengigit bibir, memejamkan mata berusaha agar emosinya itu tidak pecah. Mencoba menahan isakannya agar tidak keluar dari bibir mungilnya. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak cengeng, ini bukan waktunya menangis.

Tetsuya masih memandangi bingung. Dari yang Sena bilang kemarin, kalau ia punya seorang kakak kembar. Ia memanggilnya Sei-kun, Sena bilang Sei-kun seperti Papa, selalu bisa diandalkan saat Sena membutuhkan. Tapi keras kepala dan egois. Daisuke bilang Seichiya itu kejam dan popular di sekolah. Seichiya juga jago basket seperti Papanya dan selalu jadi kapten ketika pelajaran olahraga. Dan Daisuke selalu iri karena Sena lebih menyukai kakaknya dibanding dirinya. Untuk itulah, Tetsuya menyuruh Sena untuk mengajak Seichiya menjenguknya juga. Ia penasaran dengan sosok sang kakak kembar dan mereka memang kembar. Kembar identik dengan surai merah dengan poni hampir menutup mata. Seichiya sedikit lebih tinggi dibandingkan Sena. Perbedaan mereka hanya pada warna manik mata. Seichiya punya mata bulat dengan pupil yang menajam, warna rubynya semakin menambah kewibawaan yang sekilas mengingatkannya pada seseorang. Sedangkan Sena punya mata besar dengan warna cerulean yang sama persis seperti miliknya. Setelah mengingat reaksi Sena kemarin saat pertama kali bertemu dengan dirinya ,Tetsuya mengerti reaksi yang sama pasti akan dialami oleh kakak kembarnya.

Tetsuya turun dari tempat tidurnya, berjalan sedikit tertatih mendekati sang surai merah yang masih memejamkan mata di dekat pintu. Mungkin benar kata Sena, kakaknya ini memang keras kepala dan entah karena alasan apalagi, Tetsuya berlutut dan langsung memeluk sosok mungil itu. Mendekapnya erat seperti mereka sudah sangat lama berpisah. Hatinya berkecambuh, bergerumuh aneh namun menyenangkan. Reaksi yang sama ketika ia memeluk Sena. Seichiya membelalakan matanya tidak percaya. Mamanya memeluknya sendiri. Mamanya apakah sudah mengingatnya?

"Mama..—hiks" emosi itu tak terbendung, Setegar apapun Seichiya di mata dunia, ia tetaplah anak yang cengeng jika bersama sang Mama. ia terisak, menangis,gemetar,tidak percaya. Ia memeluk erat Tetsuya, sosok yang begitu ia rindukan keberadaannya sudah kembali. Tetsuya membiarkan Seichiya menangis sepuasnya di ceruk lehernya. Mengelus pelan punggung mungil itu. Menenangkannya. Manik azure Tetsuya melirik Sena yang berdiri di samping mereka. Ia juga ikut terisak. Tetsuya tersenyum lembut,jemari lentiknya diulurkan pada si adik. Memberi isyarat menyuruhnya ikut bergabung. Sena berlari ikut memeluk Ibunya erat. Ikut menangis bersama sang kakak kembar.

"Mama…"

Tetsuya kembali mengelus surai merah itu sayang. Sungguh Tetsuya tidak mengerti kenapa perasaanya jadi begitu sesak sekarang. Entah mengapa ia jadi ingin ikut menangis. Ia pun tidak tahu kenapa ada rasa bahagia dan lega ketika memeluk bocah asing ini. Yang Tetsuya tahu, bahwa Seichiya juga merindukan Mamanya sama seperti Sena, Tetsuya benar-benar tidak pernah mengerti bagaimana orang tua bisa tega memilih egonya dan menelantarkan anak-anaknya. Seandainya ia yang menjadi ibu mereka, sudah pasti ia tidak akan meninggalkan mereka.

Ya, Tetsuya hanya belum mengingat seberapa pentingkah dirinya bagi kedua sosok mungil bersurai merah dalam pelukannya.

Aomine Ryota ikut tersenyum sambil memangku Daisuke . Ia tidak pernah membayangkan seberat apa beban yang dirasakan oleh si kembar ketika saat-saat masa kritis sang bunda. Ia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada dirinya,Daisuke,maupun Daiki. Apa kedua orang itu bisa bertahan seperti Akashicchi dan anak-anaknya? Sungguh ia berjanji akan menjaga keluarga kecilnya ini. Ryota mengusap setetes air mata yang mulai mengalir dari pelupuknya. Mungkin bagi Ryota, kejadian di depannya ini adalah telenovela yang paling pantas masuk ajang penghargaan tingkat dunia. Daisuke yang menyadari bahwa sang Oka-channya ikut terbawa suasana, menyerahkan tisu pada sang Oka-channya. Menerima itu, Ryota semakin terharu. Ia berjanji akan membahagiakan Daisuke.

"Oka-chan sayang Daicchi,suu!" Ucapnya sambil memeluk erat sang buah hati.

"Oka-chan sesak."

~0o0~


.

Seijuurou hari ini harus menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berada di perusahaannya. Keadaan Tetsuya sudah membaik begitu pula perusahaannya. Sempat terjadi krisis yang hampir menjatuhkan perusahaan . banyak tender-tender besar yang membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan miliknya. Seijuurou tidak pernah habis pikir dengan para pesaingnya yang melakukan segala cara hanya untuk menjatuhkan kekuasaanya.

Untuk itulah hari ini ia hanya bisa mengunjungi rumah sakit ketika matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Sekarang ia tidak perlu setiap hari datang ke Rumah Sakit untuk mengecek kondisi Tetsuya. Ia hanya mengantar pakaian dan keperluan Tetsuya yang lain, mertuanya masih berada di Tokyo dan akan pulang ketika anaknya sudah benar-benar dalam keadaan pulih. Meskipun ia belum bisa menemui Tetsuya, setidaknya ia bisa melihat senyum dan manik berbinar dari Tetsuya sekarang. Itu saja sudah membuatnya bahagia.

Ia masuk ke dalam ruangan dengan plat bertuliskan Dr. Midorima Shintarou di atas pintunya setelah mengetuk. Dilihatnya Midorima sedang membolak-balik kertas –entah apapun itu Seijuurou tidak ingin tahu- dengan sangat tekun. Ia duduk di sofa tamu tanpa suruhan sang empunya sofa.

"Sepertinya kau sedang sibuk Midorima, Tidak biasanya." Seijuurou memulai pembicaraan. Basa-basi.

Midorima hanya menanggapi datar "Kau pikir, aku ini dokter tidak punya kerjaan Akashi?"

"Ya, siapa tahu kau mulai bosan jadi dokter,Midorima."

"Tidak mungkin, nanodayo." Midorima masih tekun membolak-balik kertas yang sedari tadi dibacanya.

Seijuurou mulai berjalan melewati meja kerja Midorima. Baginya ruang kerja Midorima sudah seperti ruang kerjanya sendiri dan Midorima tidak pernah keberatan akan hal itu. Seijuurou membuka sedikit tirai yang menutupi kaca kecil di sana. Dari balik kaca itu ia bisa melihat istrinya sedang berbincang dengan Ryota dan juga ibunya. Manik scarletnya mengamati setiap gerak-gerik dan lekuk tubuh sang kekasih. Tetsuya sudah sembuh ternyata. Ia tersenyum tipis mengetahui kondisi baik sang istri.

"Kapan aku bisa bertemu dengannya Midorima?" pertanyaan miris itu terlontar begitu saja dari bibirnya. Midorima mengalihkan atensinya dari kertas sejenak. Ditatapnya sosok mantan kapten klub basket semasa SMA itu.

Midorima hanya mendesah pelan. Apa yang akan dilakukan oleh Seijuurou bila ia tahu kalau Tetsuya, sudah bisa melupakan traumanya. Ia tentu mengetahui setiap kejadian yang terjadi di balik kaca transparan itu. Bahkan acara mengharu biru yang terjadi tadi siang. Tapi, tanpa Midorima bilang pun Seijuurou pasti mengetahuinya.

"Ngomong-ngomong, Akashi. Tadi siang anak-anakmu menjenguk Tetsuya, Nanodayo."

Seijuurou lagi, mengalihkan pandangannya pada Midorima.

"Anak-anakku? Sejak kapan?"

Midorima mengganguk mengiyakan. "Sepertinya sejak tadi siang, nanodayo. Aku pikir mereka sudah mendapat izinmu."

Seijuurou mendesah berat. Dasar keras kepala. Anak-anaknya itu benar-benar membuatnya sakit kepala.

"Sepertinya mereka juga belum Pulang,nanodayo."

"Apa?" Lagi, Seijuurou mendesah penat. Tirai kelabu kembali disibak kecil, di sana ia dapat melihat jelas istrinya sedang bercengkrama hangat dengan Sena maupun Seichiya. Sena sedang duduk manis di atas tempat tidurnya sambil menikmati apel yang dikupaskan Tetsuya. sedangkan Seichiya sedang berbaring di sofa sambil membaca buku.

Tunggu.

"Midorima, Apa Tetsuya sudah mengingat semuanya?"

Midorima beranjak dari tempat duduknya, berdiri di sebelah Seijuurou."Setelah pemeriksaan yang aku lakukan sore tadi, bisa aku simpulkan Tetsuya belum ingat apapun tentang kalian, nanodayo. Kemungkinan Tetsuya hanya mengetahui kalau cerita bahwa ibu mereka berdua sudah bercerai denganmu. Mungkin Tetsuya hanya merasa iba pada anak-anakmu,nanodayo. Tapi, dibalik itu, aku yakin batin mereka bertiga saling terhubung. Jangan remehkan kekuatan batin ibu dan anak, Akashi."

Sekarang rasanya Seijuurou ingin sekali menancapkan anak guntingnya pada kening tan dari seorang Aomine Daiki. Seenaknya saja ia mengarang cerita. Tapi bila Tetsuya sudah merasa akrab pada kedua anaknya. Apakah artinya, sudah saatnya ia menunjukkan diri?

Seijuurou lagi-lagi menghembuskan nafas tipis "Aku akan menjemput anak-anak. Terima kasih sudah mau menjaga mereka semua Midorima."

"Itu sudah tanggung jawabku sebagai dokter, nanodayo," Kaki jenjang berbalut celana katun hitam mulai melenggang pergi.

"Tapi, bukan berarti aku mau dititipkan mereka,nanodayo."

Ya, Midorima-sensei kami mengerti.

~0o0~


.

Pintu kayu di buka setelah di ketuk. Seijuurou memasang senyum charming ketika menatap ruangan. Semua atensi di dalam ruangan mengalihkan pandang pada pintu yang terbuka. Sena turun dari kasur dan berlari menerjang kaki jenjang Seijuurou.

"Papa!" Serunya riang.

"Hallo, Sena. Asik sekali bermainnya sampai lupa waktu untuk pulang." Ia mengelus surai merah itu gemas. Alhasil Sena cemberut karena surai rapi yang dibuat oleh Sang Mama rusak. "Mou, Papa Jangan diacak! Tuh kan jadi rusak." Seijuurou terkekeh kecil. Cerulean mungil itu terlihat lebih hidup sekarang. dan Seijuurou amat bersyukur atas hal itu.

Atensinya melirik pada sosok baby blue yang juga sedang menatapnya. Ah, tatapan itu. Seijuurou ingin sekali memeluknya sekarang.

"Maaf, Kalau aku menggangumu Kuroko Tetsuya-san. Ah, apa aku salah menyebutkan namamu?"

Tetsuya masih terus menatap Seijuurou sejak kedatangan sosok scarlet itu ke ruangannya. Ada suatu perasaan yang mulai bergetar aneh di hatinya. Senyuman itu,ia yakin ia tidak pernah bertemu orang asing di depannya. tapi, senyuman itu terasa begitu familiar untuknya.

"Kuroko-san?" Seijuurou memanggil kembali istrinya bingung. Tersadar dari lamunannya. Tetsuya memasang senyum ramah pada Seijuurou.

"Ah, tidak …A-Akashi-san." entah dari mana Tetsuya punya kepercayaan diri kalau orang di depannya bermarga Akashi. Tapi, tadi bukakah Sena memanggilnya Papa. Benar kan? Ia tidak salah,kan? Loh? Kok,Kenapa malah ia jadi gugup begini?

"Aku dengar anak-anakku ada di sini dari Midorima-sensei. Apa mereka merepotkanmu?" Seijuurou melangkah elegan memasuki ruangan. Memungut sebuah buku bergambar yang ia yakini milik Sena.

"Tidak Akashi-san. Mereka anak-anak yang baik. Aku senang ditemani oleh mereka." Tetsuya tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada kedua bocah kembar yang sudah duduk kembali di tepi kasurnya.

Seijuurou hanya tersenyum dalam diamnya. Mengamati keluarganya berkumpul seperti ini, merupakan obat pelepas stress paling manjur. Ya, apabila kenyataan bahwa Tetsuyanya masih tidak mengingat mereka bertiga tidak pernah terjadi. Manik Scarlet itu berubah sendu. Bertanya-tanya sampai kapan cobaan ini terus berlanjut menimpa keluarga kecilnya. Tatapan nanar itu jelas tertangkap oleh sepasang manik azure yang sejak tadi mengamati gerak-gerik dari orang asing yang berdiri tak jauh di sebelahnya.

Tanpa sadar tangan pucat itu terangkat ingin menyentuh bahu yang terlihat begitu kaku di matanya. Namun, Tetsuya langsung tersadar dan kembali menarik tangannya jauh di atas kasur. Kenapa dengan perasaan nostalgia ini ?

"Akashi-san?" Panggil Tetsuya.

Seijuurou tersadar dari lamunannya. Menggelengkan kepalanya kecil dan kembali memasang senyum yang begitu palsu di mata Tetsuya. "Ah, maaf aku melamun."

Tetsuya mengangguk mengerti. "Apa kau mau menjemput Anak-anakmu, Akashi-san?"

Kembali manik azure itu bertubrukan dengan manik scarlet. Manik yang sama seperti maniknya Seichiya. Hanya saja, yang ini begitu tegas, begitu sarat akan emosi yang terpendam.

"Ya, aku mau menjemput mereka. Aku sempat terkejut saat mengetahui anak-anakku ada di sini,— ia menghela nafas— padahal hari ini mereka punya jadwal kursus piano di rumah. dan tidak ada satupun diantaranya meminta izin dariku." Kali ini maniknya mendelik tajam pada kedua anaknya. Merasa diintimidasi oleh sang Papa, kedua kembar Akashi mencoba mencari perlindungan dengan menaiki kasur dan bersembunyi di belakang tubuh Tetsuya .

"Kami lupa, Papa."ucap mereka bersamaan. Tetsuya terkekeh pelan. Padahal ia baru saja mengenal mereka berdua tapi, entah kenapa rasanya seperti sudah begitu lama mengenal si kembar..

"Kalian seharusnya meminta izin Papa kalian kalau mau pergi kemana saja. Kalau kalian diculik bagaimana?" Tetsuya menasehati sambil mengelus kedua kepala merah itu jadi suka mengelus surai kembar ini sekarang.

Seichiya dan Sena saling menatap lalu menunduk. Ya, mereka tahu kalau mereka memang salah.

"Ayo, minta maaf pada Papa kalian." Ucap Tetsuya menasehati.

"Maaf, Papa." Ucap mereka bersamaan lagi.

Tersenyum tipis, Seijuurou bergerak mendekat, mengacak surai merah kedua anakknya. "Jangan diulangi lagi, mengerti. Kalau tidak Papa akan menambah jadwal kursus kalian." Si kembar berjengit ngeri. Sekarang saja, mereka rasanya sudah kebanyakan kursus, masa harus ditambah lagi. Papanya ini kelihatannya baik, padahal kejam sekali.

"Baiklah, ayo bergegas. Ini sudah sore dan Kuroko-san harus beristirahat." Titah Seijuurou sambil menurunkan kedua anaknya dari kasur. Ia mulai mengemasi barang-barang milik anaknya yang entah mengapa bisa berserakan dimana-mana. Seijuurou begitu asik dengan acaranya sendiri sementara sang kembar tetap tidak bergerak dari tepi ranjang dan hanya mengamati pergerakan sang Papa. Sadar bahwa kedua anaknya tidak juga bergegas. Seijuurou mendengus pelan. Apalagi sekarang.

"Papa, hari ini kami menginap di sini ya?"

Menginap? Seijuurou memandang kedua anaknya heran. Memangnya ini hotel? sebenarnya Seijuurou sudah pasti memperbolehkan mereka menginap disini. Hanya saja, mereka masih tetaplah orang asing di mata Tetsuya.

"Menginap? Sena, Seichiya ini bukan hotel. Kalian akan menggangu kuroko-san nanti. Ayo kita pulang sekarang. " Seijuurou bergegas menggandeng kedua anaknya untuk segera keluar dari sana.

"Tidak mau!" kompak, mereka menghempas kuat tangan besar sang ayah. Seijuurou nampaknya harus menambah kesabarannya hanya untuk menghadapi anak-anaknya yang mulai rewel.

Kesal, Seijuurou menatap tajam kedua anaknya. "Seichiya,Sena. Pulang sekarang juga." ucapnya penuh penekanan di setiap kata. Sayangnya, kedua anaknya bukanlah orang yang gampang takut dengan aura hitam sang ayah.

"TIDAK MAU!" Seichiya, kukuh dengan pendiriannya. Untuk apa pulang kalau disini ia bisa tidur dengan Mamanya. Ia pernah bilang kalau ia tidak mau dipisahkan oleh sang Mama meskipun itu sang Papa sekalipun.

Seijuurou memijit tungkai hidungnya penat. "Tidak Seichiya, apapun alasannya. Kalian tidak boleh tidur di sini. Kuroko-san akan terganggu."

"Sebenarnya aku tidak keberatan sama sekali Akashi-san" Tetsuya menimpali. Ya, jujur saja ia senang ditemani kedua bocah merah ini.

Merasa mendapat dukungan tidak langsung dari sang mama, Seichiya semakin semangat mengalahkan sang Papa. "Lihat, Tetsuya-niisan juga tidak keberatan Papa. Sudah diputuskan aku akan menginap di sini. "

"Papa, Sena juga mau tidur di sini." Sena tidak mau kalah. Ikut bergabung dengan sang kakak. Dua lawan satu.

"Tidak, Sena. Tidak ada menginap-menginap."

"Tap—"

"Tidak ada tapi-tapian. Papa tidak menerima bantahan."

Kompak mereka memasang wajah kesal pada sang Papa. Seijuurou tanpa membuang waktu menggeret mereka untuk keluar dari kamar Tetsuya. meminta maaf pada Tetsuya karena benar-benar sudah merepotkannya. Tetsuya ikut mengantar keluarga merah ini—tetap memaksa ikut mengantar meskipun sudah dilarang oleh Seijuurou—hingga pintu masuk.

Tetsuya melambai pelan dari depan pintu kamar. Dari penglihatan Tetsuya, masih kelihatan cekcok di antara bertiganya. Ya, kalaupun kedua kembar Akashi itu menginap di kamarnya, Tetsuya juga tidak keberatan. Mungkin menyenangkan bisa tidur bersama dengan kedua anak itu. Tapi, kelihatannya Papa mereka cukup galak juga. Tetsuya terkekeh pelan ketika mengingat pertengkaran kecil keluarga tadi. Rasanya ia juga ingin punya anak.

Anak ya ?

Mendadak kepala cukup terasa pusing hanya karena memikirkan anak. Ia mendengus sebal karena berpikiran yang aneh-aneh. Tidak mau berlama-lama di depan pintu, ia bergegas masuk kembali ke dalam kamar, dan membaca novel yang sempat diberikan oleh Ryota tadi siang sembari menunggu sang ibu yangmenggambil perlengkapan miliknya kembali—sebelum,sosok berkepala merah menerjang tungkai kakinya dengan suara terisak. Eh, anak ini kenapa?

Sosok itu, diketahui Tetsuya adalah Akashi Sena. Tetsuya ikut berjongkok dan mengelus kepala merah itu sayang. Meski bingung, ia berusaha tersenyum di depan bocah merah itu. "Sena-kun,Ada apa? Kenapa belum pulang?"

Wajahnya memerah, air mata itu mengalir deras dari manik ceruleannya. "Sena tidak mau pulang. Sena mau di sini, menemani Tetsuya-niisan." Ucap Sena gemetar dalam isakannya. Tetsuya hanya tersenyum tipis, ia berlutut menyamakan tinggi dengan sang bocah sembari jemari kanannya menghapus linangan air yang jatuh di pelupuk indah itu. Dari arah belakang Sena, Tetsuya mendapati dua sosok merah berlari mendekati mereka. Sena mengikuti arah di belakang punggungnya dan langsung beringsut di balik punggung Tetsuya.

"Maaf Kuroko-san, kami mengganggu waktu istirahatmu lagi." Ucap Seijuurou. Ia melirik sang anak yang bersembunyi di balik punggung sang Mama meminta perlindungan. Seijuurou menghela nafas berat. Ya, ia mencoba selalu sabar menghadapi kedua anaknya dalam masa seperti ini. "Sayang, ayo pulang."

Sena hanya menggelengkan kepalanya bersikukuh tidak ingin dia ajak pulang. Tetsuya memutar badannya untuk menatap sang bocah. "Sena-kun, Ayo ikut Papamu pulang. Tetsuya-niisan akan baik-baik saja di sini. Yuhi obaasan juga akan datang sebentar lagi. Jadi Tetsuya-niisan tidak akan kesepian. Lagipula besok Sena-kun harus sekolah,ne?"

Sena menunduk dan menggelengkan kepalanya. Ia masih merindukan Mamanya, hati kecilnya terus berteriak memaksa. Apa Papanya tidak mengerti. Lagipula Mamanya sudah tidak menolaknya lagi. Tidak ada alasan lagi untuk tidak berdekatan dengan sang Mama.

"Pokoknya tidak mau!" Sena menatap manik sang papa menantang. Sedangkan Tetsuya menatap cemas pada sosok kecil di depannya.

"Papa, izinkan kami menginap di sini. Malam ini saja." Mohon Seichiya pada sang Papa.

"Tidak, Seichiya. Jangan ikut-ikut."

"Akashi-san, biarkan mereka menginap di sini malam ini. Aku benar-benar tidak keberatan." Ucap Tetsuya pada sang kepala keluarga Akashi. Jujur saja, ia paling tidak tega melihat anak kecil sampai menangis hanya karena ingin menginap di kamarnya. ini permasalah kecil. Jadi tidak perlu sampai dibesar-besarkan.

"Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu Kuroko-san."

"Akashi-san. Sungguh aku benar-benar tidak keberatan mereka ada di sini," ucap Tetsuya, manik azurenya menatap dua bocah kembar teduh. Garis melengkung tertoreh lembut di bibirnya.

"Lagipula...entah kenapa aku juga tidak ingin mereka meninggalkanku."

Manik scarlet Seijuurou membulat. Cukup kaget dengan ucapan yang dilontarkan oleh Tetsuya barusan. Di tatapnya kedua anaknya lekat,lihatlah bahkan Seichiya sudah pindah ke rangkulan Tetsuya. Seijuurou memandang Tetsuya intens. Lalu gantian menatap sang kembar lagi. Binar di mata ketiganya terlihat sama, bulat seperti mata ras kucing anggora yang meminta ikan segar dari pasar. Mengiba. Tatapan yang sama saat ketiganya memohon untuk menikmati golden week di Kyoto tahun lalu. Tatapan triple combo yang tidak akan pernah sanggup Seijuurou tolak. Ya, Seijuurou tersudut, terpojok. Ia kalah.

"Baiklah, kalian boleh menginap." Izin resmi keluar dari bibir tegas Seijuurou.

"Hontou?" Ucap ketiganya kompak. Seijuurou mengangguk mengiyakan.

Ketiganya bersorak, lalu saling menepuk tangan, Tetsuya menepuk kedua tangannya dengan milik Seichiya, lalu dengan Sena. Seijuurou mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan ketiganya. Bahkan disaat Tetsuya tidak mengingat keluarga kecilnya, raga itu tetap memahami kebiasaan-kebiasaan sepele yang biasa ia lakukan. Dan setiap gerakan itu tertangkap jelas di manik scarletnya. Tidak perlu waktu lama bagi Seijuurou untuk mengetahui kalau Tetsuya telah terhubung erat dengan keluarga kecilnya. Senyum mengembang di paras tampan sang surai merah. Sebentar lagi, keluarga kecilnya akan kembali seperti semula.

"Tapi, ada syaratnya." Mungkin sudah giliran Seijuurou untuk mengisi pikiran Tetsuya.

Euphoria ketiga sosok di depan Seijuurou mendadak berhenti. Dengan kompak mereka menatap Seijuurou tidak suka. Bahkan disaat seperti ini, mereka bertiga benar-benar bisa kompak memusuhinya.

"Syarat apa Akashi-san?" ujar Tetsuya tanpa sedikitpun intonasi bertanya, yang bahkan bagi Seijuurou itu adalah ancaman kalau ia tidak boleh berbuat apa-apa lagi. Seijuurou mendengus sebal. Tetsuya sejak awal memang terlalu memanjakan kedua anak-anaknya.

"Syaratnya adalah aku akan ikut menginap di sini." Ya, siapa tahu Tetsuya bisa mengingat sesuatu nanti.

~0o0~


.

Setelah perdebatan sengit antara kedua anaknya yang tidak terima kalau sang Papa ikut menginap di kamar Mamanya dan tentu saja kali ini sang Papalah yang memenangkan pertempuran. Ya, meskipun ia hanya akan tidur di sofa . tapi, selama ia bisa melihat binar bahagia di ketiga manik orang yang dicintainya, itu sudah cukup baginya. Untunglah kamar tempat perawatan Tetsuya besar. Ada dua tempat tidur yang disediakan di sini. Sayangnya, kedua anak-anaknya akan tidur satu kasur dengan istrinya, sedangkan kasur yang lain akan digunakan oleh mertuanya.

Malam semakin larut namun semua sosok di dalam kamar bernomor 411 masih terjaga. Kedua bocah kembar masih asik bermain dengan Tetsuya, sedangkan Seijuurou masih asik bercengkrama dengan mertuanya. Kehangatan itu begitu terasa, Kuroko Yuhi sempat terkejut saat mengetahui sang menantu dan kedua cucunya ada di kamar sang anak dan berniat untuk menginap di sana. Tapi, melihat binar kebahagian itu kembali hadir di manik baby blue sang anak tunggal. Ia hanya bisa tersenyum senang. Binar itu telah kembali dan keluarga kecil ini sebentar lagi pasti akan kembali berkumpul.

.

.

.

'MAMA, SAKITT!'

'SENA! Kenapa tubuhmu basah—Mama, dahi sena berdarah!'

'Sei-kun,-hiks- Sakitt.'

'Sena bertahanlah!'

'Mama, kita harus membawa Sena ke rumah sakit sekarang.'

'Mama, jangan Mama!"

PRAANGGG

'PAPAAAAAAA!'

'Astaga, apa yang terjadi—Tetsuya, ada apa ini?'

'Astaga, Sena kepalamu berdarah—Seichiya, kenapa lenganmu bisa terluka begini?'

'Papa sakitt…'

'Bertahanlah sayang.'

'Papa, kita harus membawa Sena ke rumah sakit.'

'TETSUYA/MAMA!

~0o0~


.

Tetsuya terbangun dari tidurnya dalam kondisi terduduk, keringat mengalir deras dari kulitnya, parasnya pun begitu pucat. Tubuhnya gemetar, ia mengalami tremor hebat. Nafasnya memburu, dadanya terasa sesak dan perutnya terasa mual sekali. Kepalanya terasa berat sekali dan air matanya ikut mengalir dari pelupuk. Ia terisak. Mimpi itu sangat menakutkan baginya. Mimpi yang masih sama dengan kemarin, mimpi yang membuatnya bahkan merasa takut hanya untuk menutup mata. Darah, teriakan,kaca,pisau dan tiga sosok bersurai merah. Tetsuya berpikir mimpi itu memanglah sebuah bunga tidur. Namun, kali ini berbeda.

Ya,Tetsuya mengingat semuanya. Ia sudah mengingat semuanya.

Kapan kejadian itu, teriakan-teriakan itu benar-benar terekam jelas di dalam ingatannya. Ia mengingat semua, siapa ketiga sosok adalah orang yang sangat begitu berarti baginya. Sosok yang begitu dicintainya. Diliriknya kedua sosok mungil yang sedang berbaring di sisi kanan dan kirinya. Ia tidak percaya,Tetsuya percaya kalau semua itu memang hanya bunga tidurnya. Tidak mungkin ia berniat membunuh anaknya sendiri. Tangan kanan miliknya meraih sosok Seichiya gemetar. Disibaknya selimut hangat yang menutupi tubuh sang anak. Manik azure itu membulat, dengan jelas ia melihat bekas luka memanjang yang sudah kering di lengan kirinya yang tertutup piyama . Itu membuat ulu hatinya serasa di tonjok keras, ia semakin merasa ingin muntah saat menemukan luka yang mulai mengering di pelipis Sena. Ia meriang hebat, perutnya terasa di kocok dengan sangat kuat. Mimpi itu kembali terniang, begitu jelas dan begitu nyata. Buru-buru Tetsuya menuruni tempat tidur. Tergesa-tega menuju kamar mandi, menghiraukan Seijuurou di sofa yang tidak sengaja terbangun dari tidurnya.

"Hoekk… hoekk…"

Tetsuya tidak dapat menahan gejolak aneh di perutnya, bayang-bayang mimpi tadi masih terlihat jelas, semakin lama ingatan kejadian nyata itu terlintas di benaknya, bagaimana bisa ia melukai anak-anak yang begitu di cintainya. Bukankan ia sudah berjanji tidak akan melukai anak-anak. Sungguh ia tidak mengerti. Ia terduduk lemas di depan kloset. Kepalanya sungguh sakit bukan main, ia menyandarkan tubuhnya tidak peduli kuman ataupun sekotor apa kloset itu. Ia sungguh tidak berdaya, tangisnya tidak bisa ia bendung. Hatinya sakit, ia merinding setengah mati. Tetsuya menangis dengan tubuh gemetar.

"Tetsuya, kau tidak apa-apa?!" Seijuurou panik bukan main saat mendapati istrinya nampak sesegukan dan gemetar di pinggir kloset. Dengan cepat ia mendekati Tetsuya, menguncang pelan bahu mungil itu. "Tetsuya!" panggilnya.

Mendapati bahu itu berjengit saat ia memanggil tadi, Seijuurou tahu ada yang tidak beres dengan istrinya.

Tetsuya perhalan menoleh, manik azure itu membola saat mendapati ruby cemas yang sungguh familiar olehnya. Air matanya mengalir deras ketika mendapati suaminya ada di sana. "S-Seijuurou-kun?"

Seijuurou-kun ?

Manik ruby Seijuurou gantian membulat. Tidak, ia tidak salah dengar. Istrinya memanggil nama kecilnya, bukan menyebut marganya. Jangan – jangan…

"Tetsuya, K-kau sudah mengingat semuanya." Hati-hati, Seijuuro bertanya pada sang kekasih. Ia tidak ingin berharap banyak,mereka baru bertemu hari ini. Tapi,melihat reaksi sang istri yang kembali menangis terisak, Seijuurou tahu Tetsuya-nya sudah mengingat semuanya.

"…Sei-kun, aku..aku ini pembunuh" Lirihnya di sela-sela isaknya.

Seijuurou mungkin merasa senang, Tetsuyanya akhirnya bisa mengingatnya kembali. Tapi, sungguh hatinya begitu cemas sekarang. ia tahu apa penyebab sang kekasih berbicara seperti itu. Dengan hati-hati Seijuurou merangkul sang istri, memeluknya dalam dekapan hangat tubuhnya. Ia tidak berkata apapun. Ia hanya memeluk Tetsuya, mengelus surai biru mudanya lembut. Menyalurkan segala rasa aman pada pemuda baby blue dalam dekapannya,membiarkan Tetsuya menangis sejadi-jadinya dalam rengkuhannya. Jujur, Seijuurou sangat merasa bersalah pada Tetsuya. Ya, seandainya ia bisa lebih peka. Seandainya ia tidak terjebak, semua ini tidak akan terjadi dengan keluarga kecilnya.

"Tetsuya, tenanglah., kau bukan pembunuh," Seijuurou tak peduli tetsuya terus meronta dalam pelukannya."ini bukan salah Tetsuya, ini semua… salahku." Kepala baby blue semakin direngkuh dalam oleh Seijuurou.

"Ini semua salahku, Tetsuya tidak bersalah sama sekali." Seijuurou berbisik lirih di telinga Tetsuya. kepala biru itu tidak henti-hentinya ia hujani dengan kecupan-kecupan kecil, sementara Tetsuya terus menyangkal bahwa ia yang jelas salah dengan percobaan pembunuhan pada buah hatinya sendiri. "Aku melukai mereka Seijuurou-kun, aku pembunuh."

Wajah pucat sang istri ditangkupkan dalam kepala tangan besar milik sang pria. Seijuurou tersenyum tipis sembari menghapus lelehan bening di paras kacau sang istri. "Hei Tetsuya, berhenti menangis. Lihat aku!" Tetsuya menurut dan memandang manik ruby kekasihnya.

"Kau tahu, ini bukan salahmu,"Seijuurou menghela nafas"… ini semua salahku."

"Tidak! Aku yang melukai mereka, ini bukan salah Sei-kun."

Manik ruby itu memandang Tetsuya sendu. Rasa bersalah kembali mengikat di hatinya."Apa Tetsuya ingat, apa yang menyebabkan Tetsuya melukai anak-anak?" Tetsuya diam sesaat, manik azurenya mengecil saat ingatan hari itu memenuhi kepalanya. Hari di mana foto dan surat kaleng yang memenuhi kotak surat merusak segalanya. Merusak keutuhan keluarganya. ia kembali menatap nanar pada Seijuurou. Tetsuya begitu merasa sakit sekarang. Ia sungguh tidak akan sanggup mengingat kenangan pahit itu. Tetsuya kembali menangis.

"Maafkan aku Tetsuya, aku sungguh tidak bermaksud apapun. Perasaanku murni hanya untuk Tetsuya." Seijuurou lagi merengkuh tubuh rapuh itu. Tetsuya tak berbicara apapun. Ia hanya memeluk lengan Seijuurou yang melingkari bahunya erat. Berharap rasa sesak dan perih dihatinya segera menghilang. Berharap bahwa Seijuurou benar-benar tidak pernah meninggalkannya sendirian lagi

"Sei-kun, beri tahu aku kalau semua itu hanya rekayasa semata." Tetsuya berucap lirih di sela isakannya, mencoba mempercayai sang suami. Seijuurou melepas rengkuhannya. Kedua pasang manik itu kembali bertabrakan saling mendalami kebenaran dan keraguan yang terdapat disana.

"Aku tidak punya pilihan Tetsuya. Aku dijebak. Orang-orang brengsek itu akan melukai kau dan anak-anak. Aku kacau Tetsuya. Pikiranku tidak pernah bisa fokus jika itu menyangkut keselamatan kalian semua," Seijuurou tidak akan pernah bosan untuk terus memeluk pemuda didepannya ini. "kejadian ini diluar prediksiku Tetsuya. Aku sangat putus asa, aku seperti orang bodoh Tetsuya. Aku sungguh tidak berguna tanpamu."

Tetsuya tentu mengingat betul bagaimana fitnah itu membuat dirinya bertengkar hebat dengan Seijuurou. Saat itu ia terlalu kalut hanya untuk mempercayai belahan jiwanya, terlalu sakit hanya untuk berfikir jernih. Akibatnya, sungguh fatal. Begitu mengerikan hanya untuk ia ingat. Tetsuya sungguh terlalu egois,hanya memikirkan perasaannya tanpa melihat sekeliling yang juga mencemaskannya. Membuatnya mematahkan ikrar janji yang sudah bertahun-tahun ia pegang. Menenggelamkannya pada kenangan masa lalu. Masa lalu yang menyebabkannya menjadi pelaku kriminalitas kepada anak-anaknya sendiri.

Tetsuya tidak ingin berkata-kata lagi. Ia sudah mengingat segalanya. Ia pelaku sekaligus korban. Ia mengerti bahwa selama ini Seijuuroulah yang sudah berusaha mati-matian untuk selalu disisinya,ia menyadari selama ini Seijuurou harus berusaha keras menjaga keutuhan keluarga mereka. Semuanya,semua hal yang seharusnya menjadi kewajibannya,Seijuurou menggantikan semua perannya tanpa sungkan. Sungguh Tetsuya bersyukur bisa mengenal Seijuurou. seharusnya ia tidak mudah percaya pada selembar foto, seharusnya ia lebih mempercayai suaminya, apapun yang terjadi.

"Maaf… maafkan aku. Seharusnya aku lebih percaya pada Sei-kun. Maafkan aku."Tetsuya lagi-lagi menangis. Namun kali ini adalah tangisan haru, tangisan lega. Jemari kecilnya membalas pelukan sang surai scarlet. Kepala baby bluenya ia tenggelamkan dalam kehangatan dada bidang sang belahan jiwa.

Ruang berkeramik putih itu begitu hening setelahnya. Hanya suara isakan dan kata maaf yang terdengar lirih dan semakin lama berganti menjadi hembusan nafas teratur hingga Seijuurou merasa pelukan di punggungnya melonggar dan menemukan paras letih sang istri yang terlelap di dadanya. Jemari kokohnya mengelus pipi basah itu perlahan, senyuman hangat terpasang di bibir pria tampan. Sekali lagi ia mengecup surai baby blue itu sayang, sebelum menggendong Tetsuya bridal style keluar dari tempat lembab itu menuju kasurnya dan membaringkan kembali sang istri di tengah kedua anak kembarnya. Tidak lupa membetulkan selimut menutupi ketiga sosok berlian miliknya dan membubuhkan ciuman singkat pada setiap sosok yang begitu ia cintai. Senyuman itu tidak juga lepas dari bibirnya sejak tadi.

Esok akan menjadi hari yang selama ini ditunggu oleh Seijuurou . Ah, mungkin bukan hanya Seijuurou. Sungguh ia tidak sabar melihat reaksi si kembar dan mertuanya ketika mengetahui apa yang telah terjadi pada Tetsuya.

"Oyasuminasai, aku mencintai kalian semua."


~END~


A/N : yeeyy, akhirnya selesai juga. Bagaimana. Garing krenyes-kreyes bukan? anda merasa kecewa? Kalau begitu jangan salahkan saya../wkwk. Apa reader-san sudah bisa menebak apa yang menyebabkan Tet-chan kita tersayang jadi gila/ semoga sudah ketebak ya. saya, tidak ingin menjelaskan seluruh peristiwanya/marilah kita saling tebak-menebak bersama. See u next in another akakuro's story~

Wanna Review ?