From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai-
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 2
Meskipun sudah berjanji pada Yoongi untuk menahan diri, dia tetap saja mendatangi Jimin di kamarnya.
Yoongi bisa marah, nanti. Tapi dia tidak peduli. Bagaimana mungkin dia tahan berdiam diri begitu saja saat gadis yang sudah ditunggu-tunggunya sekian lama sekarang ada di rumah yang sama dengannya?
Dia berdiri di sudut ranjang, mengamati Jimin yang tertidur pulas seperti bayi.
Sejenak kemarahan menyelimuti hatinya.
Sampai kapan dia hanya bisa melihat Jimin di saat gadis itu sedang tertidur?
Yoongi harus cepat. Mereka sudah sepakat tentang Jimin, padahal jarang sekali mereka berdua sepakat. Dia dan Yoongi bertolak belakang dalam segala hal.
Yoongi cenderung baik hati dan menggunakan cara-cara pintar untuk meraih tujuannya, sedangkan dia selalu menggunakan cara-cara licik. Licik, bukan pintar - untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan seperti yang Yoongi katakan tadi, dia sangat kejam.
Tapi Jimin adalah gadis yang sudah menyentuh perasaannya. Mungkin gadis itu sudah melupakannya, bahkan mungkin gadis itu tidak menyadarinya, tapi kejadian dua belas tahun lalu itu tidak akan pernah dilupakannya, pertemuan pertamanya dengan Jimin sekaligus hari di mana dia memutuskan akan memiliki Jimin.
Yoongi harus memaklumi ketidaksabarannya, dia sudah menunggu selama dua belas tahun. Menunggu dan menunggu sampai Jimin siap menjadi miliknya. Dan sekarang gadis itu ada di depan matanya.
Dia mendekat, tangannya menyentuh pipi Jimin lembut. Jimin bergeming, masih pulas, tidak menyadari ada sosok yang mengamatinya lekat di tepi ranjangnya.
"Kau milikku Jimin, jangan lupakan itu."
Jimin bermimpi. Dia ada di sebuah taman hiburan yang sangat ramai. Penuh dengan pedagang dan para orangtua yang menggandeng anak-anak mereka. Suara musik dari berbagai stan permainan dan suara-suara manusia terdengar bercampur menjadi satu, riuh
rendah di telinganya.
"Jimin, jangan kesitu," suara neneknya terdengar memperingatkan.
Jimin mengernyit. Neneknya masih hidup? Dia menolehkan kepalanya dan mendapati neneknya berdiri di belakangnya, neneknya benar-benar masih hidup. Hidup dan tampak lebih muda.
Dengan bingung Jimin mengamati sekeliling, dan menyadari kalau bukan dia yang dipanggil neneknya, di sana berdiri seorang anak, mungkin delapan tahun, kurus dan agak canggung, itu adalah dirinya yang masih berumur delapan tahun!
"Jangan bermain terlalu jauh Jimin, nenek tidak mau kamu tersesat, di sini sangat ramai," sang nenek menggandeng tangan Jimin kecil, lalu membawanya ke sebuah kursi kosong yang terletak di pinggir taman.
"Duduk di sini dulu, nenek akan membelikanmu es krim," kata sang nenek sambil menunjuk stan es krim dengan antrian pembeli yang panjang, yang terletak kurang dari seratus meter dari tempat mereka, "Jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan orang asing, kalau ada apa-apa teriak saja, nenek pasti akan mendengarnya."
Jimin kecil mengangguk tapi matanya memandang sekeliling dengan penuh semangat.
Jimin tetap mengamati dari kejauhan, kenangan ini masih terpatri samar-samar di benaknya, kenangan saat pertama kali dia di ajak ke taman hiburan.
Tiba-tiba Jimin kecil melangkah turun dari kursi, dan mulai berjalan menjauh.
Jimin langsung panic.
Hey... Kembalilah, kau bisa tersesat !
Dengan gugup Jimin menoleh ke arah sang nenek yang sedang antri di stan es krim, dia ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak keluar, setelah beberapa kali usaha yang sia-sia, ahkirnya Jimin memutuskan untuk mengikuti Jimin kecil.
Jimin kecil terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa tertarik, tidak menyadari bahwa dia makin tersesat menembus keramaian. Dengan susah payah Jimin berusaha mengikuti sampai kemudian mereka berdua sampai di pinggiran taman, berlokasi di bagian belakang stan yang sepi.
Jimin pucat pasi ketika sadar, pemandangan yang ada di depan mereka sungguh mengejutkan, di sana ada sosok lelaki tinggi dengan pakaian rapi, sedikit acak-acakan
karena baru saja berkelahi, rambutnya yang sedikit lebih panjang daripada seharusnya menutupi sisi wajahnya, lelaki itu berdarah di bahunya, darahnya merembes menembus kemeja putihnya. Tangan lelaki itu memegang pisau yang penuh darah... Dan di depannya, di depannya tergeletak sosok lelaki lain besar dan berpakaian kusam, dengan perut terluka parah oleh tusukan pisau, sosok itu tidak bergerak. Mati.
Lelaki tampan itu menoleh dan melihat Jimin kecil sedang terpaku menatapnya. Seperti neneknya tadi, lelaki itu sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Jimin, dan entah bagaimana Jimin seolah-olah terpaku, hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Well, halo nak," sapa lelaki itu sambil tersenyum mempesona, "Apakah kau tersesat?" tanpa peduli lelaki itu melipat pisau penuh darah di tangannya dan memasukkannya ke saku.
Jimin kecil mengerutkan keningnya, "Aku bersama nenek tadi... Apakah kau membunuhnya?" tanyanya dengan suara kekanak-kanakan.
Lelaki itu melirik mayat di kakinya, lalu mengangkat bahunya tak peduli. "Dia pantas mati, dia tadi berusaha merampokku dengan pisau, jadi aku membunuhnya dengan pisaunya sendiri, manusia seperti itu tidak pantas hidup."
Jimin kecil menatap lelaki itu tanpa takut. "Kau tidak lapor polisi?" tanyanya polos.
Lelaki itu langsung tertawa. "Polisi? Apa yang bisa dilakukan polisi di sini? Aku sudah cukup beruntung tidak ada yang melihat kejadian ini, sampai kau datang," ekspresinya berubah kejam. Lalu lelaki itu mendekati Jimin kecil.
Lari! Ayo lari!
Jimin berusaha berteriak, memperingatkan Jimin kecil, tetapi suaranya tidak bisa keluar, kakinya seolah-olah terpaku.
Lelaki itu lalu berjongkok di depan Jimin kecil. "Aku minta maaf kau berada di tempat yang salah nak, tapi sepertinya aku harus menyingkirkanmu juga."
Jimin kecil sama sekali tidak memperhatikan ucapan laki-laki itu tatapannya terarah pada darah di bahunya. "Kau terluka," gumam Jimin kecil.
"Apa?" lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bahunya yang penuh darah, "Oh...
Ini hanya luka kecil, akan kututup dengan jaket," sambungnya sambil melirik jaket cokelatnya yang tergeletak di tanah.
Tanpa di duga Jimin kecil mengeluarkan plester luka yang selalu dibawa-bawanya dari
sakunya.
"Bisa diobati dengan ini? Nenek selalu menutup lukaku yang berdarah dengan ini."
Lelaki itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja bisa, terima kasih," sambil masih tersenyum dia mengambil handyplast itu dari tangan Jimin dan memasukkannya ke saku, "Siapa namamu nak?"
"Jimin," jawab Jimin polos.
Dengan pelan lelaki itu berdiri, mengambil jaketnya dari tanah dan memakainya, lalu mengulurkan tangannya kepada Jimin kecil.
"Jimin...dan kau bilang sedang bersama nenekmu tadi? Sungguh suatu kebetulan karena aku kemari untuk melihatmu," lelaki itu mengamati Jimin dengan teliti, tampak puas dengan apa yang ditemukannya, "...hmm...sepertinya kau tersesat, ayo, aku akan mengantarkanmu ke bagian informasi supaya nenekmu bisa menemukanmu."
Jimin menarik napas lega karena lelaki itu sepertinya sudah mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Jimin kecil seperti yang dikatakannya tadi.
Tangan Jimin kecil menerima uluran lelaki itu, dan mereka bergandengan menuju ke area yang lebih ramai. Buru-buru Jimin mengikuti mereka berdua.
Mereka sampai ke bagian informasi dan lelaki itu menyerahkan Jimin kecil ke petugas yang berjaga di sana, sebelum pergi dia berjongkok lagi di depan Jimin kecil. "Kau tidak akan mengatakan apapun yang kau lihat tadi kepada orang lain kan?" tanyanya sambil tersenyum.
Jimin kecil menganggukkan kepalanya.
Lelaki itu memajukan kelingkingnya. "Janji?"
Jimin kecil tersenyum, senyum polos anak-anak dan menautkan kelingkingnya di jari lelaki itu. "Janji."
Dengan senyumnya yang sedikit berbahaya, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan. "Kalau begitu selamat tinggal Jimin. Tapi aku janji kita akan bertemu lagi, dan saat kita bertemu, kau akan menjadi milikku, jangan lupakan itu," gumamnya sambil melangkah menjauh.
Tiba-tiba lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya, berhadapan langsung dengan Jimin.
Jimin langsung pucat pasi, lelaki tampan itu menatap langsung ke arahnya! Apakah dia menyadari kehadirannya ?
Tatapan mata Jimin menelusuri lelaki itu. Kali ini wajah lelaki itu benar-benar jelas. Dan sebuah kesadaran menyentaknya, rambut cokelat dengan sulur keemasan itu...
Mata cokelat itu... Semuanya tampak lebih muda, tetapi Jimin mengenalinya.
"Yoongi...?" gumamnya ragu.
Lelaki itu tersenyum, senyum puas yang sedikit keji, senyum yang tidak mungkin ditampilkan Yoongi yang begitu dingin. "Bukan sayang, panggil aku Suga."
Jimin tersentak dan membuka matanya. Keringat dingin mengalir di dahinya, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejenak kehilangan orientasi karena dia tidak mengenali kamar ini.
Tapi lalu dia sadar, ini di kamar tamu rumah Yoongi, calon ayah tirinya.
Dengan gugup Jimin mengusap keringat di dahinya, mimpi itu... Mimpi itu terasa begitu nyata sekaligus aneh, tapi Jimin tidak tahu apakah itu kenangan masa kecilnya atau cuma mimpi...
Jimin duduk di tepi ranjang lalu menuang air ke gelas dari teko yang terletak di meja samping ranjang. Setelah meminum seteguk air dia memejamkan mata.
Perasaannya tidak enak. Seperti ada yang terus menerus mengawasinya di kegelapan, menunggu sesuatu terjadi. Tetapi sesuatu apa?
Dengan putus asa Jimin mengeryit, mengingat mimpi anehnya tadi. Benar-benar mimpi
yang aneh...
Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yakin bahwa dia sendirian di kamar ini, Jimin membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.
Itu pasti cuma mimpi aneh karena dia tidak terbiasa tidur di kamar yang bukan kamarnya sendiri. Itu cuma mimpi.
Tapi kata-kata itu tetap terngiang-ngiang di benaknya.
"Kau milikku Jimin, jangan lupakan itu..."
Jimin terbangun di dini hari yang temaram, masih fajar dan sinar matahari sudah mulai menembus jendela-jendela yang ditutup oleh gorden putih yang indah.
Hey... Kamar ini indah sekali...
Jimin baru menyadarinya sekarang, kemarin ia terlalu lelah sehingga tidak sempat melihat ke sekeliling.
Kamar ini bernuansa putih gading, semua ornamen dari karpet bulu yang tebal, gorden dan tempat tidur semuanya bernuansa putih. Bahkan dinding-dinding dan kusen jendela serta atapnya semuanya berwarna putih.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
"Masuk," tanya Jimin sambil mengernyitkan kening, siapa gerangan yang mengetuk pintu sepagi ini?
Ternyata yang masuk adalah seorang pelayan, masih muda seumurnya dan kelihatan agak gugup.
"Nona Jimin, saya eh diperintahkan untuk melayani anda,"
Jimin mengernyit? Melayaninya? Seumur-umur dia tidak pernah dilayani oleh siapapun, apalagi oleh pelayan. Konsep ini terasa sangat baru baginya.
"Tidak usah... Saya bisa semuanya sendiri," Jimin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari tasnya. Untung saja dia membawa pakaian ganti, Jin sudah mengingatkannya akan kemungkinan mereka menginap di ahkir pekan ini.
Tapi di mana tasnya itu ?
Pelayan wanita itu seolah-olah tidak peduli dengan perkataan Jimin, dia melangkah menuju lemari pakaian indah yang juga berwarna putih.
"Saya akan menyiapkan perlengkapan mandi nona, dan ini... Semua pakaian nona sudah disiapkan disini," dia lalu membuka lemari itu.
Jimin ternganga.
Didalam lemari itu terdapat banyak gaun dan pakaian, mungkin puluhan dan semuanya digantung dengan rapi dibalik plastik pembungkus yang masih baru. Tidak mungkin kan
pakaian itu untuknya? Pelayan itu pastislah.
"Ti...tidak mungkin pakaian-pakaian ini untukku. Kamu pasti salah..." Jimin berusaha mengatasi rasa gugupnya, "Mungkin...mungkin ini untuk ibuku?"
Dengan tegas pelayan itu menggeleng. "Saya mendapat instruksi langsung oleh kepala pelayan. Mari, saya akan menyiapkan air dan peralatan mandi Anda."
Jimin sebenarnya ingin membantah. Tidak mungkin kan Yoongi menyiapkan pakaian baru sebegitu banyak untuknya? Dia kan hanya akan tinggal disini selama ahkir pekan, apakah Yoongi tetap berpendapat Jimin akan tinggal bersama mereka setelah pernikahannya dengan Jin? Tapi, meskipun Yoongi berpendapat begitu, lelaki itu kan tetap saja tidak perlu menyiapkan baju sebanyak itu?
Pelayan itu pasti salah, Jimin memutuskan. Semua baju itu pasti untuk Jin. Jimin mengernyit ketika membayangkan kemarahan Jin atas kesalahan ini. Ibunya itu sangat posesif. Egois dan posesif, dan Jin pasti tidak akan suka kalau Jimin memakai salah satu baju yang disiapkan untuknya.
"Aku... Aku ingin memakai bajuku sendiri, kau tahu tidak dimana tas pakaianku yang berwarna cokelat? Sepertinya kemarin aku meletakkannya di atas meja."
Pelayan itu menggeleng.
"Tidak ada tas disini," jawabnya datar lalu meninggalkan Jimin untuk masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuknya.
Jimin termangu, matanya masih mencari-cari dan dia masih belum putus asa mencari sampai pelayan itu muncul lagi dari kamar mandi.
"Mari, airnya sudah siap, saya akan merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian nona."
Mau tak mau, meski dengan dahi berkerut Jimin melangkah masuk ke kamar mandi. Dia tidak terbiasa dilayani, dan tidak suka di layani.
Seperti jaman feodal saja, gerutunya dalam hati.
Tapi apapun keberatan yang ada di dalam hatinya itu langsung hilang melihat keindahan kamar mandi di depannya.
Kamar mandi itu dipenuhi kaca, di dinding dan di atap, dengan bingkai-bingkai putih di sekelilingnya, kaca itu beruap karena air panas dari bath-tub yang penuh busa dan
menguarkan aroma wangi campuran mawar dengan susu.
Tiba-tiba saja mandi terasa sangat menggoda bagi Jimin.
Pelan-pelan dia mencelupkan tangannya ke air hangat dalam bath tub itu, hangatnya pas, pelayan tadi benar-benar mempersiapkannya dengan baik.
Jimin lalu berendam dan memejamkan matanya. Rasanya nikmat sekali, seperti otot-ototnya yang kaku dilemaskan pelan-pelan.
Rasanya sangat nyaman hingga Jimin hampir tertidur. Perasaannya damai hingga makin lama Jimin makin tenggelam dalam alam mimpi.
"Jangan tertidur disini, dari yang kudengar, banyak orang mati tenggelam karena tertidur di bath-tub."
Suara itu begitu mengejutkan Jimin dari tidur-tidur ayamnya, dia terlonjak kaget dan begitu menyadari siapa yang berdiri sambil bersandar santai di kusen pintu penghubung kamar mandi wajahnya langsung merah padam.
Secepat kilat Jimin menenggelamkan tubuhnya sampai ke leher, menyembunyikannya di balik busa.
Yoongi, yang bersandar di pintu tampak tidak terpengaruh dengan rasa malu Jimin, lelaki itu malah menyeringai dalam senyuman sedikit mengejek.
"Aku bertanya-tanya kenapa kau tidak segera keluar dan sarapan, pelayan itu bilang kau sedang mandi dan dia tidak berani mengganggumu."
Rona merah di wajah Jimin mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, dia malu sekali! Tapi kenapa lelaki ini seolah-olah tidak peduli? Tidak sopan bukan masuk ke kamar mandi di mana ada perempuan sedang mandi?
Tapi sepertinya Yoongi tidak peduli dengan etika ataupun kesopanan, mata tajam Yoongi menelusuri wajah dan leher Jimin yang merona, ada api memancar di sana, dan ekpresinya berubah, sedikit liar tapi menakutkan. Bukan seperti ekspresi yang akan muncul di wajah lelaki sedingin Yoongi, pikir Jimin tiba-tiba, ini terasa sangat aneh karena ketika menatap mata Yoongi, ada nyala api yang sedikit menakutkan di dalam mata kecokelatan itu.
"Aku sudah menyelamatkan nyawamu tadi, kalau terlambat kau mungkin sudah mati
tenggelam di kamar mandi, tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih?"
Suara itu setengah berbisik, diucapkan dengan nada malas, tapi bulu kuduk Jimin langsung berdiri.
Dia menatap Yoongi dan menyadari lelaki itu masih berdiri di sana, menunggu
"Te...Terima kasih," gumamnya pelan entah kenapa meskipun tidak yakin kenapa harus berterima kasih dia merasa terdorong untuk melakukannya. Lelaki ini begitu mengintimidasi dan sepertinya kalau keinginannya tidak dituruti dia akan melakukan sesuatu yang tak terduga.
Senyum yang muncul pelan-pelan di bibir lelaki itu malah membuat Jimin sedikit takut dan gelisah. Hey... Apakah ini orang yang sama dengan calon ayah tirinya yang berkenalan dengannya kemarin? Kenapa auranya begitu berbeda ?
"Bagus," gumam Yoongi lambat-lambat, lalu melangkah mundur, "Cepat selesaikan mandimu, aku menunggu di ruang makan, oh ya, bajumu sudah kusiapkan di ranjang, kupilihkan sendiri dari lemari."
Yoongi menyiapkan bajunya? Jimin mengernyit dan bertanya-tanya. Jadi memangpakaian-pakaian itu disiapkan untuknya? Tapi kenapa? Lagipula kenapa Yoongi menyiapkan bajunya?
Dia menoleh untuk bertanya, Tapi sosok Yoongi sudah lenyap.
Dengan gugup Jimin menyelesaikan mandinya dan melangkah keluar dari kamar mandi.
Pelayan wanita itu masih di sana, tapi tampak lebih pucat, "Kau tidak apa-apa?" Jimin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Pelayan itu mengangguk sedikit gemetar.
"Tuan Yoongi memarahi keteledoran saya karena tidak menengok anda di kamar mandi, Tuan Yoongi sangat menakutkan kalau marah," suara wanita pelayan itu berbisik ketakutan.
Sekali lagi Jimin mengernyit. Menakutkan kalau marah? Dalam majalah-majalah bisnis dan gosip mengenai Yoongi yang dibacanya karena ingin tahu, calon ayah tirinya itu dikenal sangat pandai mengendalikan emosi, malah ada yang menyebutnya tak punya emosi. Apakah selama ini Yoongi menyembunyikan sifat aslinya?
"Baju anda sudah disiapkan, nona."
Jimin menoleh ke ranjang, tempat bajunya dihamparkan dan sekali lagi terperangah.
Indah sekaliā¦
Itulah yang terpikir pertama kali olehnya ketika melihat gaun itu. Gaun itu panjang dibawah lutut, berpotongan sederhana tetapi sangat indah. Warnanya ungu muda, dan bahannya dari sutera yang sangat halus, berdesir setiap kali kain itu digerakkan.
Masih termangu, Jimin membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan pakaiannya, lalu membiarkan lagi dirinya dibimbing untuk duduk di depan meja rias.
Seperti sudah biasa melakukannya, pelayan itu langsung menyisir rambut panjang Jimin yang terurai.
Sementara Jimin menatap bayangan dirinya di cermin.
Betapa sebuah gaun bisa mengubah penampilan seseorang ! Yang terpantul di sana bukanlah Jimin yang kuno dan berpenampilan seperti kutu buku. Bayangan yang muncul di cermin di depannya itu adalah bayangan perempuan muda yang cantik, dengan pipi kemerahan dan rambut panjang tergerai sampai bahu,
"Rambut anda indah sekali," gumam pelayan itu sambil terus menyisir.
Jimin tergeragap. Menyadari bahwa dari tadi dia melamun sambil menatap bayangannya sendiri.
"Oh iya, aku harus mengikat rambutku," matanya mencari-cari, ahkirnya menyadari bahwa ikat rambutnya sama raib nya dengan tas pakaiannya.
"Anda tidak boleh mengikat rambut lagi, begitu perintah Tuan Yoongi kepada saya tadi."
Hah?
Kali ini Jimin tidak bisa menahan gumaman kagetnya. Tetapi pelayan wanita itu tidak bereaksi apa-apa, setelah selesai membereskan semuanya, dia berpamitan dan melangkah keluar dari kamar.
Meninggalkan Jimin sendirian di kamar ini.
Sejenak Jimin termangu, lalu teringat pesan Yoongi tadi. Sarapan. Tadi Yoongi bilang begitu kan? Mungkin Yoongi dan ibunya sudah menunggu di sana.
Dengan bergegas, Jimin melangkah keruang makan.
-to be continued
