From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 3
Lelaki itu menatap Hoseok lalu mengalihkan pandangan ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun,
Di balik tumpukan daun-daun itu, ada tas cokelat Jimin yang berisi pakaiannya, dan tentu saja ikat rambutnya.
"Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu," gumamnya tegas.
Hoseok menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan Suga."
Lelaki itu mengernyit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau, Hoseok, pelayanku yang setia yang berani memanggilku seperti itu."
"Saya selalu setia kepada anda berdua," jawab Hoseok, suaranya masih datar.
Suga tersenyum lambat-lambat, kebiasaannya, kalau dia ingin memerangkap seseorang. "Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Yoongi... Tapi padaku?" dengan pelan Suga beranjak tepat di hadapan Hoseok yang mulai kehilangan topeng datarnya, pelayan tua itu mulai kelihatan gelisah.
"Saya setia kepada anda berdua, saya pastikan itu," jawab Hoseok cepat-cepat.
"Kau memang harus setia kepadaku," gumam Suga dengan nada malasnya yang biasa, "Karena kalau tidak... Aku akan marah. Dan kalau aku marah... Ah tidak perlu kujelaskan, kau sudah tahu bukan?" Suga tersenyum sangat manis.
Wajah Hoseok pucat pasi, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini. Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas, yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.
Ah... Kenapa Tuan Yoongi tidak muncul-muncul?
"Saya bersumpah tidak akan berkhianat," gumam Hoseok ahkirnya.
Suga terkekeh. "Ya... Ya... Karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya," Suga menoleh, senyumnya hilang dan
menatap Hoseok tajam, "Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berani berulah lagi, tapi aku tidak akan main-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengerti kan?"
Hoseok mengernyit, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Anak gadisnya dan menantunya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun lalu, sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemudi mobil itu mati seketika, tetapi anak dan menantunya bisa diselamatkan meskipun terluka parah, dan semua itu terjadi setelah Hoseok mencoba mengingatkan Kakek Jimin bahwa ada bahaya yang mengintai cucu mereka.
Senyum Suga muncul lagi melihat kernyitan Hoseok, dia lalu menatap Hoseok ramah. "Bukankah kau seharusnya berterimakasih padaku karena kebaikan hatiku?" gumamnya ramah.
Hoseok segera menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah. "Te...Terimakasih Tuan Suga."
Suga terkekeh mendengarnya, tampak puas.
"Dan kudengar anak gadismu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Cucu pertamamu?"
Hoseok langsung pucat pasi begitu Suga mengucapkan hal itu di depannya. Tidak mungkin kan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdaya? Tapi Hoseok kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Suga pasti mampu. Lelaki ini tidak punya setitikpun belas kasihan di hatinya.
"Saya bersumpah akan setia kepada anda Tuan Suga, tapi saya mohon, jangan sakiti cucu saya. Dia masih kecil..."
"Hei... Kau menghinaku," Suga terkekeh, " Aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk anak dan cucumu, lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?"
Hoseok menatap Suga dan bulu kuduknya berdiri. Suga mampu, dan dengan kata-katanya yang tersirat itu, Suga memastikan kalau Hoseok tahu bahwa Suga mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.
"Bagus," Suga tampak puas dengan sikap diam Hoseok, "Aku ingin kau setia kepadaku, bukan kepada Yoongi," Suga merenung lalu menatap tas pakaian Jimin yang terbakar habis, "Menjijikkan sekali pakaian itu, pakaian murah yang membuat kecantikan gadisku lenyap," tiba-tiba Suga menoleh kepada Hoseok, "Kau juga berpendapat begitu bukan?"
Hoseok langsung mengangguk "Ibunya, perempuan murahan itu memperlakukan anaknya dengan sangat buruk, ibu paling pendengki yang pernah aku tahu, dan menurutku...," api di mata Suga menyala, "Ibu semacam itu sebaiknya tidak ada di dunia ini."
Hoseok makin pucat ketika melihat api di mata itu. Itu api yang sama yang muncul ketika Tuan Suga memerintahkan untuk melenyapkan orang-orang yang tidak di inginkannya.
Hoseok berdoa, untuk Jin. Apapun yang direncanakan Tuan Suga padanya, Hoseok berharap agar Tuan Yoongi bisa membujuk Tuan Suga untuk membatalkannya. Kalau itu tidak berhasil, yah… Semoga Tuhan melindungi Jin.
Ruang makan itu kosong. Sarapan hangat sudah disiapkan di meja, dan belum tersentuh sekalipun.
Jimin mengernyit, tadi Yoongi mengatakan akan menunggunya sarapan, tapi kenapa ruangan ini kosong? Lagipula di mana ibunya?
"Kau cantik sekali."
Sekali lagi, suara itu mengejutkan Jimin hingga Jimin langsung memutar badannya, dia berhadapan dengan Yoongi yang baru memasuki ruangan.
Yoongi berhenti dan menatap lekat-lekat ke arah Jimin, dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
"Ah, maaf, sekali lagi aku mengejutkanmu," Yoongi tersenyum, "Baju itu cocok untukmu," sambungnya.
Jimin menundukkan kepalanya. "Te...Terimakasih," gumamnya pelan lalu menengok ke arah pintu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Jin di sana.
"Jin tidak pernah sarapan, dia terbiasa bangun siang, kesibukannya sebagai artis sudah mengubah pola tidurnya," gumam Yoongi tenang. Lalu mendahului Jimin ke meja makan, "Duduklah, kita sarapan, banyak yang ingin kutanyakan kepadamu."
Dengan patuh Jimin duduk, aura lelaki ini berubah. Kali ini aura berwibawa dan penuh kharisma, bukan aura menakutkan seperti tadi pagi.
Mereka menyantap sarapan dalam diam sampai Yoongi membuka percakapan. "Selama ini kau dirawat oleh kakek dan nenekmu?"
Jimin mengerjap mendengar pertanyanitu, "Iya...Jin terlalu muda ketika melahirkan saya. Jadi kakek dan nenek saya mengambil alih tugas untuk membesarkan saya," Jimin tersenyum, membayangkan kakek neneknya, "Saya tidak menyesalinya, mereka pengganti orangtua yang terbaik."
Yoongi ikut tersenyum lembut melihat ekspresi Jimin. "Kau pasti sangat menyayangi mereka."
Jimin mengangguk. "Tentu saja,"
"Kenapa kau memanggil ibumu dengan Jin? Kenapa bukan "ibu atau mama?", Yoongi bertanya dengan cepat, membuat tangan Jimin yang sedang mengarahkan sendok ke mulutnya membeku, pengalihan topik pembicaraan secara mendadak itu sejenak membuat Jimin terpaku bingung, tetapi dia segera menemukan jawaban.
"Ah... Mungkin karena saya kurang begitu dekat dengannya. Anda tahu, kami jarang bertemu, dan usia kami cukup dekat hingga rasanya aneh kalau saya memanggilnya ibu," Jimin berbohong, dan entah kenapa dia merasa kalau Yoongi tahu bahwa Jimin berbohong.
"Anak baik," gumam Yoongi sambil menyesap kopinya, tapi matanya menatap lekat ke arah Jimin, "Kau melindungi ibumu meskipun ibumu sama sekali tidak peduli padamu. Aku tahu kalau Jin tidak mau dipanggil ibu olehmu, dia tak mau terdengar begitu tua karena ada gadis seumurmu memanggilnya dengan sebutan ibu," Yoongi langsung melemparkan kebenaran telak itu ke hadapan Jimin. Membuat gadis itu tidak mampu berkata apa-apa.
"Katakan," sambung Yoongi sambil meletakkan cangkir kopinya, "Apakah kau menyayangi ibumu?"
Jimin langsung mengangguk. "Tentu saja, meskipun kami tidak terlalu akrab. Dia tetap ibu saya."
Wajah Yoongi tampak datar mendengar jawaban itu, "Lalu, kalau misalnya terjadi sesuatu pada ibumu, akankah kau merasa sedih?"
Jimin mengernyit. Sekali lagi laki-laki di depannya ini melemparkan pertanyaan yang begitu aneh.
"Tentu saja," jawabnya langsung.
Yoongi terdiam, tampak berpikir, lalu menarik napas. "Apapun yang terjadi nanti, kau harus tahu bahwa kesedihanmu adalah hal terahkir yang kuinginkan," gumamnya pelan. Lalu melanjutkan menyantap sarapannya dalam keheningan.
Sementara itu di ujung meja yang satunya Jimin sibuk berpikir, menelaah semuanya, pertanyaan-pertanyaan Yoongi benar-benar membuatnya kebingungan, dan kalimat terahkir Yoongi tadi... Apa maksudnya?
Jin terbangun hampir menjelang siang, dia segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Hatinya berbunga-bunga. Matanya memandang sekeliling kamarnya, kamar ini mewah, bukan yang terbaik memang, Jin mendengus, tapi kemudian segera tersenyum lagi.
Sebentar lagi. Dia hanya harus bersabar sebentar lagi, lalu dia akan menempati kamar terbaik di rumah ini: kamar Yoongi.
Seulas senyum puas tersungging di bibirnya, membayangkan masa depannya nanti. Hidupnya akan dipenuhi kemewahan, dan suaminya nanti... Jin menyeringai di cermin, suaminya adalah lelaki yang akan membuat wanita-wanita lain mati karena cemburu pada keberuntungannya.
Yoongi adalah calon suami paling potensial untuknya, dia melihat lelaki itu dalam acara amal yang kebetulan mengundang Jin sebagai artis pengisi acara di sana. Saat melihat Yoongi pertama kalinya, Jin langsung terpesona dan memutuskan untuk mencoba merayu.
Ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, Yoongi juga tertarik kepadanya, dan tiga bulan setelah mereka menjalin hubungan, lelaki itu melamarnya. Tentu saja Jin tidak menolak. Hanya wanita bodoh yang akan menolak lamaran lelaki seperti Yoongi.
Well... Cuma ada satu permasalahan, Yoongi selalu menolak tidur dengannya, padahalJin sudah jelas-jelas memberikan isyarat bersedia lebih dari sekedar bercumbu secara panas. Lagipula, bagi Jin, jika mereka tidur bersama, ikatan mereka bisa lebih kuat.
Jin perlu memastikan bahwa Yoongi tidak akan meninggalkannya sampai ikatan mereka sah dalam pernikahan nanti. Tapi Yoongi benar-benar tak tergoyahkan, lelaki itu hanya mencumbu Jin dengan keahliannya yang membuat Jin hampir gila, tetapi selalu mundur ketika hampir melewati batas.
Malam ini aku harus berhasil mengajaknya tidur denganku.
Jin bukan orang suci, dan dia tidak pernah berpura-pura sebagai orang suci. Reputasinya sebagai aktris sudah penuh dengan berbagai skandal dan gosip perselingkuhan, tujuh tahun tahun sejak kebodohannya yang melahirkan seorang anak yang
sama sekali tidak diinginkannya, dia menikah lagi dengan seorang pejabat kaya yang kemudian diceraikannya setelah dua tahun pernikahan. Perceraian yang menghebohkan karena marak dengan spekulasi perselingkuhan dan tuduhan- tuduhan lainnya. Jin mengerucutkan bibirnya yang indah, waktu itu dia memang selingkuh. Yah suaminya waktu itu sudah tua sedangkan dia masih muda dan cantik, jadi wajar-wajar saja kan kalau dia selingkuh?
Setelah perceraiannya itu, dia hidup dengan bebas dan bahagia, sampai dia bertemu Yoongi, pria yang akan mewujudkan seluruh impiannya untuk menjadi ratu yang akan membuat iri semua orang.
Setelah mengenakan gaun merahnya yang paling sexy, Jin melangkah keluar kamar dan melalui lorong yang sepi untuk mencari Yoongi.
Yoongi pasti akan terpesona dengan kecantikanku.
Senyum Jin makin membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai dia melewati lorong demi lorong rumah mewah itu menuju ruang kerja Yoongi.
"….harus menyiapkan yang terbaik untuk nona Jimin."
Langkah Jin langsung terhenti mendengar suara itu.
"Itu Instruksi langsung dari Tuan Yoongi, semua harus yang terbaik untuk nona Jimin. Apakah kiriman sepatu-sepatu dan perhiasan yang di pesan kemarin sudah datang?"
Suara itu... Jin mengernyit, itu suara Hoseok, kepala pelayan di rumah ini. Tapi apa Jin tidak salah dengar? Yang terbaik untuk Jimin? Jimin? Apa jangan-jangan kepala pelayan ini tertukar nama antara dia dengan Jimin?
Huh! Kalau begitu kepala pelayan bodoh ini harus menerima ganjarannya. Dia akan melaporkan hal ini pada Yoongi dan memastikan Hoseok dipecat! Enak saja menyebut dirinya dengan nama Jimin.
Dan apa yang dia dengar tadi? Sepatu-sepatu dan perhiasan? Jin langsung tersenyum lebar, lupa akan rencananya untuk mengadukan Hoseok kepdada Yoongi, calon suaminya pasti berniat untuk memberinya kejutan! Ah!vYoongi memang benar-benar mencintainya.
Dengan senyum lebar, otak Jin berputar… Dia punya rencana. Dia harus membuat Yoongi lebih mencintainya lagi sehingga tidak bisa hidup tanpanya, malam nanti, dia akan menyusup ke kamar Yoongi dengan gaun malam sexy dan menyerahkan dirinya. Yoongi pasti tidak akan menolak lagi. Tidak pernah ada yang menolak pesona Jin sebelumnya.
Jin mematut dirinya di cermin terahkir kali sebelum melangkah keluar kamar, mau tak mau dia mengagumi kecantikannya sendiri, rambutnya yang diwarnai kemerahan oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilauan indah, kulitnya yang sangat halus bagai sutera-hasil perawatan salon ternama – tampak bercahaya dan lembut.
Wajahnya sangat cantik, semua orang mengakuinya. Di usianya yang ke 32, Jin telah mencapai puncak sebagai wanita matang dan percaya diri. Dia sudah berpengalaman menaklukkan hati lelaki, dan malam ini dia bertekad menaklukkan Yoongi.
Setelah mengenakan jubah kamar tipisnya, pelengkap gaun tidurnya yang sexy, Jin melangkah keluar kamar diam-diam. Saat itu tengah malam, lorong itu bercahaya temaram, dan dengan senyum sensual, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Jin melangkah menuju kamar Yoongi.
Diketuknya kamar itu pelan, tidak ada jawaban. Dengan ragu Jin memegang handle pintu dan mencoba membukanya. Tidak dikunci.
Apakah Yoongi masih di ruang kerjanya?
Pikiran itu membuat Jin tersenyum. Kalau begitu kejutannya akan berjalan sempurna. Dia akan berbaring di ranjang dengan pose sexy, dan ketika Yoongi memasuki kamar lalu melihatnya, pasti akan senang sekali.
Jin masuk ke dalam kamar Yoongi, lalu menutup pintu di belakangnya. Kamar itu gelap dan temaram, Jin mengernyit menyadari bahwa ini pertama kalinya dia masuk ke kamar calon suaminya itu.
Diedarkannya pandangannya ke sekeliling ruangan. Kamar ini luas, mewah dan indah. Tetapi terlalu 'laki-laki.,
Jin mencibir, begitu mereka menikah nanti, hal pertama yang harus dilakukannya adalah mendekor ulang kamar ini. Karpet Persia mahal warna emas akan dipasangnya di lantai untuk menggantikan karbet bulu warna abu-abu yang sekarang di injaknya. Dia pasti akan mendekor ulang kamar ini hingga tampak seperti kamar raja dan ratu.
Dengan puas Jin melangkah mengelilingi ruangan, memikirkan perubahan-perubahan apa yang akan dilakukannya. Sampai ketika dia melangkah ke meja kayu di samping ranjang Yoongi. Langkahnya terhenti.
Tumpukan album foto?
Tertarik, Jin membuka album foto yang sangat tebal itu. Ada kira-kira delapan album foto di sana, dengan sampul kulit yang sangat tebal dan berukuran besar.
Dan foto-foto yang ada di dalam album itu membuat Jin ternganga.
Album foto itu penuh dengan gambar-gambar Jimin! Ada Jimin yang sedang berjalan di trotoar sambil membawa keranjang belanjaan, Jimin yang sedang duduk dan minum teh di sebuah rumah makan, Jimin yang sedang menyapu di depan rumah, Jimin yang sedang bercakap-cakap dengan seorang ibu setengah baya di tepi ranjang...
Jin membuka semua album foto ituan kedelapan-delapannya, dan wajahnya langsung pucat pasi.
Delapan album foto itu, semuanya berisi foto Jimin sejak dia masih kanak-kanak sampai sekarang!
Ada apa ini? Kenapa Yoongi punya album foto seperti ini? Tangan Jin mulaigemetaran.
Dan tiba-tiba saja suara itu terdengar dari belakangnya. "Ada yang bilang, kalau kau lancang memasuki territorial terlarang seseorang karena rasa ingin tahu yang berlebihan, maka keingintahuanmu itu bisa membunuhmu."
Suara itu begitu dingin, berbisik seperti dihembuskan angin, tapi seperti petir di telinga Jin, dia begitu terperanjat hingga menjatuhkan salah satu album foto itu ke lantai dengan suara berdebum keras.
Yoongi ada di sana, muncul begitu saja dari kegelapan, matanya menatap Jin lalu beralih ke album foto yang tergeletak di lantai, wajahnya tampak tidak senang.
"Sebelum kita berbicara," suaranya lembut mengalir, "Maukah kau ambil album foto di lantai itu dan meletakkannya kembali di meja, sayang?"
Menakutkan...
Itulah pikiran pertama yang terlintas di pikiran Jin ketika mendengarkan suara Yoongi. Suara itu biasa saja, diucapkan dengan sangat sangat lembut, tetapi entah kenapa terasa menakutkan…
Yoongi bilang apa tadi? Ah ya! Album foto…
Dengan sedikit gemetar, Jin mengambil album foto itu dan meletakkannya kembali di meja.
Yoongi tersenyum puas melihatnya, dan tersenyum.
"Yoongi… Apa maksud semua ini? Kenapa kau…"
"Stttt...," masih tetap tersenyum Yoongi meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri, memintanya untuk berhenti bersuara, "Saat aku bilang kita akan berbicara, berarti aku yang akan berbicara, bukan kau sayang."
Bibir Jin gemetar, gelisah dan bulu kuduknya tetap merinding. Kenapa Yoongi terasa berbeda? Padahal di matanya penampilan Yoongi tampak sama, begitu tampan, tetapi lelaki ini terlalu penuh senyum, senyum yang aneh… Sedikit keji, dan auranya begitu berbeda.
"Bertanya-tanya ya Jin sayang?" Yoongi terkekeh pelan.
Jin menggeleng, lalu mengangguk, kebingungan, membelalakkan matanya dan mencoba membuka mulut untuk bersuara.
"Sttttt...," Yoongi meletakkan telunjuk di bibirnya lagi, "Kita tidak mau membangunkan seisi rumah kan? Ini sudah tengah malam," suara Yoongi berbisik, matanya penuh canda, seperti anak kecil yang mengajak temannya berkompromi melakukan suatu kenakalan rahasia.
Mau tak mau Jin menahan suaranya, menunggu. Suasananya begitu menekan, menakutkan, sementara Yoongi terus berdiri di situ menatapnya dengan senyum manisnya yang terlalu manis.
"Sebenarnya ini di luar rencana… Aku tidak ingin melakukan semua secepat ini," lelaki itu melirik ke album foto di meja kayu itu, "Yoongi akan marah, tapi seperti kubilang tadi, ketika rasa ingin tahumu membawamu memasuki territorial terlarang… Kau… bisa... terbunuh," kata-kata terahkir itu diucapkan dengan penuh penekanan.
Jin mengernyit, Yoongi akan marah? Apa maksudnya? Bukankah lelaki yang sedang berbicara dengannya ini adalah Yoongi? Apa maksud kata-kata Yoongi tadi? Jin mencoba mencerna, tetapi otaknya yang gelisah tidak bisa diajak berpikir.
"Kita harus memikirkan sesuatu, jalan keluar dari permasalahan ini," Yoongi bersedekap. Pura-pura serius, "Kita bisa memakai pisau… Tapi darahnya terlalu banyak, dan aku sedang tidak ingin repot-repot membersihkan darah yang berceceran… Lagipula aku harus menggali lubang untuk mengubur mayat di belakang… Hmmm… Tidak, pisau terlalu merepotkan… Harus memakai cara lain," dahi Yoongi berkerut seolah berpikir, "Harus
dibuat seperti kecelakaan…," tiba-tiba Yoongi menatap tajam ke arah Jin sambil tersenyum, lalu melangkah maju mendekati Jin.
Otomatis Jin melangkah mundur, tapi terhenti karena menabrak meja di belakangnya.
"Bagaimana Jin? Aku mendapat ide bagus… Kecelakaan dengan tersetrum di dalam bath-tub sepertinya menyenangkan, tidak ada darah, paling cuma sedikit kesakitan…. Tapiaku harus merelakan bath-tub di salah satu kamarku tidak dipakai selamanya," dahi Yoongi berkerut seperti tidak senang – karena bath–tub nya tidak akan bisa dipakai selamanya? - lalu dia tersenyum lebar seperti mendapatkan ide cemerlang, "Ah… Ya… Aku tahu, jatuh dari tangga…. Rasa sakitnya sedikit, paling hanya kesakitan ketika tangan atau kaki patah… Dan ketika kepala menyentuh lantai dengan keras… Tidak ada kesakitan lagi karena nyawa langsung melayang, kita harus berharap nyawa langsung melayang karena kalau tidak kesakitannya akan tidak tertahankan. Hmm… Banyak darah mungkin, tapi aku bisa mengatasinya…"
"Yoongi… Kau sedang bicara apa?" suara Jin terdengar berbisik, sedikit tercekik di tenggorokan karena ngeri. Kata-kata Yoongi yang panjang dan lebar itu begitu mengerikan, dan tidak ada korelasinya dengan apa yang seharusnya mereka bicarakan!
Yoongi menatap langsung ke mata Jin, makin mendekat, senyum tidak pernah hilang dari bibirnya.
"Membicarakan apa katamu? Jin, kau ini bodoh atau apa?" Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berpura-pura kebingungan, "Aku maklum, semua artis biasanya bodoh."
Yoongi sudah berdiri satu langkah tepat di depan Jin, tangannya terulur meraih pipi Jin dan mengusapnya lembut. "Ah… Jin sayang, tentu saja aku sedang membicarakan cara kematianmu."
Wajah Jin pucat pasi, shock...
"Apa?"
"Hmmm," Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dahi berkerut seperti sedang memarahi anak kecil, "Kau sudah mendengarnya dengan jelas tadi, aku tidak mau mengulang lagi, sayang."
"Yoongi," Jin mulai merengek, kalau saat ini Yoongi sedang bercanda, maka candanya sudah keterlaluan, jantung Jin seperti mau meledak karena ketakutan.
"Yoongi," lelaki itu menirukan rengekan Jin dengan nada mengejek, "Panggil saja nama itu terus, tidak akan berhasil, kau sedang tidak beruntung sayang, karena sekarang kau
harus berhadapan denganku," gumam Suga misterius.
Entah karena tatapan Yoongi yang keji, entah karena nada suara Yoongi, detik itulah Jin sadar kalau Yoongi tidak main-main, lelaki ini benar-benar akan membunuhnya!
Jin berusaha melangkah dan berlari, tapi dengan mudah Yoongi menahannya, tiba-tiba Jin menyadari ada sesuatu yang berkilat di tangan kiri Yoongi, itu… Sebuah pisau!
"Well yah… Ini memang pisau, kalau kau bertanya-tanya," Yoongi mengangkat pisau yang kelihatan sangat tajam itu kedepan wajah Jin, membuat Jin memejamkan matanya dengan ngeri, "Kalau kau mencoba mengusik kemarahanku, aku terpaksa menggunakan pisau ini... Bukan masalah karena pada ahkirnya kau akan mati juga... Tapi kau tahu tidak," senyum Yoongi tampak lambat-lambat dan puas, "Tertusuk dengan pisau rasanya sangat menyakitkan...," mata Yoongi berkilat-kilat senang, "Pada awalnya, ketika perutmu tertusuk oleh pisau ini, tidak akan terasa sakit.. Tapi ketika aku mencabutnya, mungkin sambil membawa sebagian organ dalammu keluar... Sakitnya tidak tertahankan... Tapi tentu saja aku tidak akan berhenti di situ, aku akan menghujamkan lagi, mencabutnya lagi... Terus menghujamkan dan mencabut pisau itu berkali kali...dan ketika aku selesai, percayalah… kau akan lebih memilih jatuh dari tangga."
Seluruh tubuh Jin gemetar oleh rasa ngeri mendengar penjelasan gila Yoongi itu.
"Kau tidak akan berani melakukannya! Polisi…polisi akan…"
"Oh, apa aku lupa bilang soal mengubur mayat di kebun belakangku yang begitu luas?"
Wajah Jin pucat pasi. "Kalau aku menghilang begitu saja, polisi akan mencariku!" Jin mencoba mengancam.
"Aku punya banyak koneksi untuk mencegah hal-hal semacam itu terjadi, sedikit uang di sana sini, dan kau akan berahkir dengan cerita, "Artis Catherine Soraya kabur keluar negeri setelah meninggalkan calon suaminya yang kaya raya sebelum pernikahan mereka, dan membawa kabur koleksi perhiasan yang tak ternilai harganya dari rumah calon suaminya itu," Yoongi mengernyit, "Meskipun kalau memang harus terjadi seperti itu, nantinya akan sedikit merepotkanku... Oleh karena itu demi kebaikan kita, sebaiknya kita lebih memilih "tangga." Senyum mempesona Yoongi muncul lagi, "Bukankah kau harus berterima kasih karena aku begitu baik hati?"
Wajah Jin pucat pasi, "Berterimakasih? Apa maksud Yoongi? Pria ini tersenyum begitu manis tapi tatapannya begitu keji seperti orang gila, dan Jin yakin Yoongi tidak segan-segan melakukan apapun tadi itu yang dideskripsikannya dengan begitu mengerikan.
"Yoongi," air mata mulai muncul di sudut mata Jin mengalir melewati pipinya, "Aku tidak
tahu apa yang terjadi, tapi kau menakutiku…Ada.apa ini sebenarnya?"
Dengan santai, Yoongi mengambil dasinya, lalu mengikatnya di bibir Jin yang lunglai pasrah dibungkam mulutnya. Bagaimana mungkin dia berani memberontak kalau pisau tajam yang berkilauan itu teracung-acung di mukanya?
Yoongi mengamati hasil ikatanya, tersenyum puas melihat Jin tidak bisa berbicara, kelihatan senang melihat air mata mengalir di pipi Jin.
"Hmmm… Karena kau tidak mau berterima kasih, lebih baik aku mengikat mulutmu, dengan begitu kau tidak perlu berbicara, aku muak mendengar suaramu, kau tahu itu? Aksen mendesahmu yang dibuat-buat itu menjijikkan di telingaku, kau pikir kau seksi sekali ya?" Yoongi mencibir, dan berbisik di telinga Jin, "Lagipula aku tidak suka kau memanggilku dengan nama Yoongi… Kau bisa memanggilku dengan nama Suga, sayang…," lelaki dengan lembut mengusap air mata yang mengalir di pipi Jin, mata Jin membelalak, bingung dengan perkataan Yoongi barusan, "Aahh kasihan… Kau ketakutan sekali ya, sayang? Aku tak bermaksud membuatmu begitu ketakutan… Tapi kau tahu aku memang terlalu banyak bicara kalau sedang senang, maafkan aku ya?" dengan lembut Yoongi mengecup dahi Jin, lalu mendorong Jin pelan-pelan keluar ruangan, menempelkan pisau yang dingin dan keras itu di pinggangnya.
Mereka melewati lorong-lorong remang-remang itu, dan Jin berdoa sepenuh hati, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan gelisah dan ketakutan.
Kumohon! Siapa Saja! Selamatkan aku!
Tapi doanya sia-sia, rumah itu begitu sepi dan senyap. Sampai mereka berdua berdiri di ujung tangga yang mengarah turun ke pintu utama di bawah.
"Ada kata terahkir?" Yoongi terkekeh, "Aaah, aku lupa, mulutmu diikat ya?" dengan lembut Yoongi melepas ikatan di mulut Jin.
Saat ikatan di mulutnya terlepas, Jin bertekad untuk berteriak sekeras-kerasnya, membangunkan seisi rumah ini, meminta pertolongan.
Tetapi dia baru membuka mulutnya ketika merasakan tubuhnya melayang ke bawah.
Yoongi sudah mendorongnya !
Tubuhnya terlempar ke bawah melayang-layang sebentar, lalu terjatuh dengan keras. Bunyi tulang-tulang patah berderak terdengar di telinganya disertai rasa sakit yang amat sangat. Bau anyir darah mulai tercium… Terasa hangat dan nyeri menyebar tanpa henti dari belakang kepalanya.
Tapi tidak seperti kata Yoongi sebelumnya, rasa sakit itu tidak langsung lenyap, Jin masih sadar! Dan rasa sakit yang menyerangnya sangat luar biasa sungguh tak tertahankan lagi… Jin masih bisa mendengar langkah kaki Yoongi yang menuruni tangga pelan-pelan lalu membungkuk di atasnya.
"Ah… Masih hidup?" Yoongi tersenyum, mengamati posisi Jin yang terlentang dengan aneh, tangan dan kakinya tertekuk dengan posisi berlawanan, patah dengan tulang mencuat di kedua sisi. Dan darah segar mengalir dari bagian belakang kepalanya, mulai menggenang membasahi rambutnya, "Jin yang malang, sungguh tidak beruntung, kasihan sekali…," Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya pura-pura iba, lalu sekali lagi terkekeh sambil mengamati Jin penuh rasa humor.
Jin mencoba bicara, tapi hanya suara erangan yang terdengar dari tenggorokannya, dia terbatuk dan seketika itu juga darah segar menyembur dari mulutnya, menyembur tanpa henti, menyakitkan sekali… Sampai kemudian telinganya mulai berdenging, Jin mencoba menatap Yoongi, mempertahankan kesadarannya, lelaki itu masih berdiri di sana, tersenyum manis, mengucapkan "adios" -selamat tinggal- dengan lembut… Tetapi kemudian kegelapan itu mulai melingkupinya, menariknya ke dalam pusaran tak tertahankan… Dan benar kata Yoongi tadi, semuanya hilang… Semuanya lenyap…
-to be continued
