From The Darkness Side

Original Story by Santhy Agatha

Disclaimer :

Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.

Caution!

Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.

Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.

BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )

Min Yoongi

Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.

"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."

-Min Suga-

.

.

.

.

.

.

.

BAB 4

Pagi itu diawali dengan teriakan histeris seorang pelayan, dan kemudian semuanya berjalan dengan begitu membingungkan bagi Jimin.

Dia terbangun karena teriakan itu, dan langsung keluar kamar, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Di pintu, dia berpapasan dengan Yoongi yang sepertinya terbangun juga oleh jeritan itu, bersama-sama dengan beberapa pelayan lain mereka melangkah ke arah jeritan dan keributan yang mulai terdengar,

"Apa-apaan ini?" Yoongi melangkah di depan Jimin, jelas sekali jengkel dengan keributan yang mengganggu tidurnya. Lalu di ujung tangga langkahnya mendadak terhenti hingga Jimin menabrak punggungnya, "Oh Tuhan! Tidak…" Yoongi berusaha mencegah Jimin menengok, "Jangan lihat."

Tapi Jimin sudah terlanjur melihat, …..di bawah sana, di ujung paling bawah tangga, ibunya terlentang dengan posisi aneh. Tangan dan kakinya patah, mencuat ke arah yang berlawanan, darah menggenang di belakang kepalanya, di mulutnya, di wajahnya, di dagunya hingga membasahi gaun tidur putihnya….. dan matanya melotot…. Penuh dengan ketakutan…

Tubuh Jimin langsung lunglai, hingga Yoongi harus menopangnya.

"Telepon polisi." Jimin lamat-lamat mendengar suara Yoongi memberi perintah kepada beberapa pelayan yang mulai berkerumun, "Panggil dokter!", perintah Yoongi lagi… lalu kemudian kesadaran Jimin menghilang.

Jimin terbangun di kamarnya, dengan dokter membungkuk di atasnya, memeriksanya, tampak lega ketika melihat dia sadar,

"Dia sudah sadar Tuan Yoongi".

Lalu Yoongi mendekat, tampak pucat dan cemas,

"Kau tidak apa-apa?" kecemasan tampak jelas di matanya, emosi pertama yang dilihat Jimin dari Yoongi sejak perkenalan pertama mereka.

"Jin…." suara Jimin menghilang.

Yoongi menggenggam kedua tangan Jimin, tampak sedih, "Aku menyesal Jimin, aku sangat sangat menyesal….. Aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, polisi ada di bawah… dan menurut mereka Jin terpeleset di tangga, mungkin dia mengantuk….. aku…..", suara Yoongi tampak tertelan, "Aku…. menyesal Jimin,"

Jimin mengamati kesedihan di mata Yoongi dan air mata mengalir di matanya.

Ibunya telah tiada. Seberapapun buruknya hubungan mereka berdua, Jin tetap ibunya, dan Jimin masih selalu menyimpan harapan kalau suatu saat nanti ibunya akan mencintainya. Sekarang Jin telah tiada, dan harapan Jimin seolah-olah dipadamkan dengan kejam.

Tangis Jimin muncul, semula hanya isakan pelan, tapi makin lama makin keras tak tertahankan, dan Yoongi langsung memeluknya menenangkannya. Mereka berdua berpelukan dalam kesedihan

Yoongi melangkah memasuki kamarnya, letih. Jimin sudah tidur, dokter terpaksa memberikan obat penenang karena Jimin tidak henti-hentinya menangis.

Polisi sudah membawa jenazah Jin ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para pelayan langsung bergerak cepat dengan instruksi Hoseok, karpet yang penuh darah langsung diganti dan disimpan bersama barang-barang lain yang diminta, untuk diserahkan kepada pihak kepolisian. Selain itu semuanya di bersihkan, barang-barang Jin yang masih tersimpan di kamarnya dibereskan dan dikemas dalam satu kotak. Dalam sekejap rumah itu sudah tampak seperti semula, seolah-olah tidak ada yang mati beberapa saat lalu di sana.

Sedikit masalah dengan wartawan, Yoongi mengernyit. Mereka langsung berbondong-bondong mencoba mencari berita, seperti semut merubungi gula. Tapi pengamanan rumahnya yang ketat menyebabkan wartawan-wartawan itu hanya tertahan sampai pintu gerbang. Yoongi hanya mengizinkan wartawan yang memperoleh kualifikasi dari kepolisian untuk meliput TKP.

Sekarang Yoongi berdiri di depan cermin mengamati wajahnya dengan tajam.

Sosok di cermin itu tersenyum kejam, sedikit mengejek, sosok Suga,

"Bravo…. Akting yang sangat hebatYoongi." Gumamnya lambat-labat penuh tawa.

"Brengsek!" Yoongi memaki, tidak bisa menahan kemarahannya.

Suga terkekeh, tidak mau repot-repot menyembunyikan kepuasannya, "Jangan marah padaku, bukankah aku menolongmu? Kau kan tahu sendiri, kemarin Jin melihat album foto yang penuh berisi foto-foto Jimin sejak dia berusia delapan tahun sampai sekarang"

"Kau tidak perlu membunuhnya! " desis Yoongi geram.

Suga mengangkat bahu, "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membungkam mulutnya? Kalau dia mencari tahu sedikit lebih dalam lagi, dia akan menemukan semuanya….. maksudku, semuanya Yoongi… Termasuk apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Jimin, dan kau pikir apa yang akan terjadi kalau Jimin sampai tahu? Aku melepaskanmu dari kesulitan dengan mengambil jalan termudah, kau harusnya berterimakasih padaku." gumam Suga sombong.

Yoongi menatap geram pada bayangan di depannya, "Ralat kata-katamu! Kau bilang 'Apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Jimin? , Kau yang melakukannya! Kau dengankegilaanmu yang tak berperikemanusiaan, dan jangan bertingkah seolah-olah kau menyelamatkanku! Kau hanya mencoba menyelamatkan dirimu sendiri!"

Senyum Suga tak pudar juga meski dibentak seperti itu, malah semakin lebar, "Menyelamatkan kita berdua, ingat itu Yoongi, kita berdua", gumamnya puas, membuat Yoongi kehabisan kata-kata. "Aku tidak berniat melakukan itu kepada kakek Jimin, tetapi dia mulai menyadari tentang kita dan hendak membawa Jimin menjauh. Jadi aku harus menyingkirkannya.. mengenai nenek Jimin.. dia terlalu ingin tahu, seperti Jin, mengorek-ngorek informasi mengenai kematian suaminya. Aku harus bertindak. Memangnya kau punya cara lain?"

Yoongi terdiam mendengar pertanyaan Suga, membuat tawa Suga makin keras. "Lihat kan? kau tidak bisa membantah… seharusnya kau berterimakasih padaku," Suga terdiam menunggu.

Tapi Yoongi tak bergeming sehingga Suga terkekeh lagi, "Ah, percuma mengharapkan terimakasih darimu," tatapan Suga berubah tajam ketika dia mulai berpikir, "Sekarang tanpa adanya Jin, segalanya akan lebih mudah untuk mendapatkan gadisku."

"Dia bukan gadismu!", potong Yoongi marah.

Suga menatap Yoongi penuh perhitungan, lalu tersenyum, "Cemburu Yoongi? Kau juga

menginginkannya kan? Akutahuitu,takadayang bisakausembunyikan dariku, aku bisa merasakannya, perasaan ingin memiliki ketika kau menatap Jimin dari kejauhan….. " tawa Suga membahana di ruangan itu. "Kita lihat saja nanti, akan jatuh cinta kepada siapa Jimin, kepadamu dengan kekakuanmu yang membosankan itu, atau kepadaku dengan segala pesonaku."

Ucapan itu bagai sebuah janji, menggema dari sudut yang gelap, janji yang menakutkan…..

Ketika Jimin terbangun, rasanya masih seperti mimpi, dia mandi, berpakaian dan berjalan seperti robot, mengernyit ketika menyadari bahwa tasnya memang benar-benar tidak ada. Dia harus pergi dari rumah ini.. segera. Selain karena dia sudah tidak sepantasnya berada di rumah ini lagi, kenangan itu…. Kenangan akan tubuh Jin yang tergeletak di bawah tangga dengan mata menyiratkan ketakutan yang amat sangat itu…..

Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikirannya yang mulai melantur jauh. Suara gaduh di luar membuatnya tertarik, dia melangkah ke pintu dan mengintip, para pelayan tampak sibuk kesana kemari.

"Kau sudah bisa bangun rupanya."

Suara itu membuat Jimin terlonjak kaget, dia menoleh, dan di sana, sambil bersandar di dinding lorong, dengan pakaiannya yang hitam-hitam, Yoongi berdiri dengan menatapnya geli.

Jimin menghembuskan nafas panjang, ah astaga, sepertinya laki-laki ini memang sangat suka membuatnya terkejut.

"Oh… iya… saya…"

"Hari ini pemakaman Jin, karena wartawan ada banyak sekali di sana, aku sarankan kau tidak usah hadir, semua sudah diurus," sela Yoongi seolah tak tertarik dengan kata-kata Jimin.

Jimin menelan ludah, kenapa lelaki ini tampak begitu dingin? Bukankah Jin adalah calon isterinya? Setidaknya bukankah seharusnya ada setitik perasaan sedih yang tersirat di sana?

"Saya eh… sedang berpikir untuk segera pergi dari rumah ini." guman Jimin lemah, entah kenapa kehadiran Yoongi yang hanya berdiri di sana terasa begitu mengintimidasi.

"Kenapa?" alis Yoongi tam akengernyit.

"Karena saya sudah tidak sepantasnya tinggal disini, lagipula, saya memang tidak berencana pergi terlalu lama…."

"Tidak." Suara Yoongi berubah, kelam dan gelap. Ekspresi wajahnya pun berubah, seolah-olah orang lain yang berdiri di situ.

"Apa?" Jimin mengamati wajah Yoongi, tiba-tiba merasa takut entah kenapa.

"Kau tidak boleh pergi dari rumah ini." Lelaki itu melangkah maju dengan pandangan mengancam.

Jimin melangkah mundur dengan gerakan refleks, "Kenapa?"

"Karena..." Lelaki itu mengerutkan keningnya, tampak berpikir, "Para wartawan masih berkeliaran mengawasi rumah ini, mereka akan memangsamu seperti piranha mengerubuti mangsanya kalau mereka tahu tentangmu."

"Tetapi... mereka tidak tahu tentang saya, saya akan menyelinap diam-diam di malam hari, mereka mungkin akan mengira saya salah satu pelayan di rumah ini."

"Jangan merendahkan dirimu." Yoongi mengerutkan keningnya, tak suka ketika Jimin menyamakan dirinya sebagai pelayan, "Ibumu sudah tidak ada, jadi tidak akan ada yang bisa merendahkan dirimu lagi. Aku sudah memastikannya."

Jimin menatap Yoongi, dan mengerutkan keningnya lagi. Lelaki itu tampak berbeda, dia tampak menakutkan. Dan dia mirip dengan laki-laki dalam mimpinya... laki-laki yang mengatakan bahwa namanya adalah Suga...

Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Jimin, dan Yoongi tampaknya mengetahuinya, entah kenapa lelaki itu tampaknya bisa mengendus ketakutan dalam diri Jimin.

"Kenapa Jimin?" ada senyum di situ, senyum yang lembut, tetapi tampak menakutkan, "Kenapa wajahmu pucat? Kau teringat sesuatu?" Lelaki itu melangkah maju, mulai mendekat

"Tidak... tidak. Saya hanya sedikit pusing." Itu memang benar. Semua hal ini membuat kepalanya pusing.

"Karena itulah kau tidak boleh pergi dari rumah ini dulu. Aku tidak akan mengizinkanmu."

Yoongi berhenti mendekati Jimin,untukkemdian melangkah.mundur, "Istirahatlah."

Dan dengan tenang, lelaki itu melangkah pergi. Meninggalkan aura ketakutan memancar di belakangnya.

"Kau harus menyebarkan kabar itu kepada para wartawan." Yoongi berbicara dengan dingin kepada seseorang di seberang telepon. "Hembuskan kabar bahwa Jin memiliki anak gelap."

"Apakah anda ingin semua wartawan berbondong-bondong datang ke rumah ini?". Itu suara Ronald, salah satu anak buah kepercayaan Yoongi yang sangat setia.

"Ya. Buatlah kekacauan. Aku akan memastikan Jimin tahu tentang itu semua."

"Saya akan menyebarkannya. Para wartawan akan berpesta pora."

"Bagus." Daren tersenyum. "Lakukan dengan baik."

Telepon ditutup, dan Yoongi menghela napas. Dia harus mempertahankan Jimin dulu di rumah ini. Setidaknya sampai dia bisa mengambil hati Jimin. Sampai Jimin tertarik kepadanya dan tidak mau pergi dengan kemauannya sendiri.

Tetapi hal itu tampaknya tidak mudah. Ketika Suga muncul dan menguasainya, Jimin tampak ketakutan, Yoongi memperhatikan ketika Jimin melangkah mundur dengan refleks untuk melindungi dirinya dari aura mengancam Suga.

Dia menatap ke arah cermin dan melihat bayangannya. Bayangannya yang dalam benaknya kini tampak tersenyum mengejek dan jahat, senyuman Suga.

"Dia tidak menyukaimu. Kalau kau tidak mau membuatnya kabur dan lari ketakutan, kau harus menyingkir."

Suga tersenyum sinis, "Dan kau pikir dia lebih menyukaimu?"

"Dia lebih tenang kalau aku yang ada di depannya." Yoongi menatap Suga tajam, "Aku sedang berusaha membuatnya bertahan di tempat ini. Jangan mengacaukannya!"

Suga terkekeh mendengar perkataan Yoongi, "Aku tidak janji." Lalu bayangan lelaki itu menghilang dalam kegelapan, dan Yoongi menatap kembali wajahnya sendiri di cermin.

Menghembuskan napasnya dengankesl.

Yoongi tidak memiliki Suga di dalam dirinya sejak lahir. Dulu dia anak yang normal dan biasa-biasa saja. Kemudian ketika usianya enam tahun, di saat kedua orang tua kandungnya masih hidup, Yoongi mulai merasakannya. Ada sesuatu yang gelap dan menakutkan tumbuh di dalam dirinya. Sesuatu yang kejam dan mengerikan.

Dia pernah tersadar ketika memegang seekor kelinci yang telah dimutilasi dengan kejam. Kelinci itu masih utuh, tetapi tangan dan kakinya dipotong, dan mata serta organ dalam tubuhnya dikeluarkan, berceceran di tanah. Yoongi yang masih berumur tujuh tahun tersentak dan membuang kelinci itu ke tanah, berlari ketakutan.

Rupanya itulah saat pertama Suga bisa muncul dan menguasai tubuhnya.

Kejadian-kejadian lain tak kalah mengerikannya. Suga selalu membawa aura kemarahan dan kebencian. Dan selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.

Di masa sekolah dasarnya, Yoongi selalu di skors di sekolah untuk hal-hal kejam yang dia tidak tahu, memukul teman sekelasnya dengan penggaris logam, menggores pipi teman perempuannya dengan pisau cutter, membunuh anjing peliharaan penjaga sekolah yang selalu mengonggonginya... dan semua hal itu, bahkan Yoongi tidak merasa pernah melakukannya.

Yoongi kebingungan, merasa difitnah dan diperlakukan kejam oleh orang-orang di sekelilingnya, semua orang takut kepadanya. Bahkan mama kandungnya sendiri mulai takut kepadanya dan menjauhinya, bersikap gugup kalau Yoongi ada di dekatnya. Begitu juga ayahnya, yang memang sejak semula bersikap dingin dan menjauh. Meskipun ada perubahan besar dalam diri ayahnya, ayahnya sangat kejam dan tegas, dan tidak segan-segan memukul Yoongi kalau Yoongi melakukan sesuatu yang menurutnya salah dan tidak sesuai dengan standarnya, tetapi sepertinya ayahnya sudah berhenti memukulinya.

Pertama kali Suga berkomunikasi padanya adalah suatu malam di usianya yang ke sepuluh. Yoongi melihat bayangan di depannya bisa membalas perkataannya. Dan memperkenalkan diri.

"Aku Suga." Katanya waktu itu. "Bisa dikatakan kita berbagi rumah yang sama."

Lalu semuanya jelas bagi Yoongi, Sugalah yang melakukan semua kekejaman itu. Suga adalah sisi lain dirinya, alter egonya yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Lelaki itulah yang dirasakannya menyelinapbagai bayangan gelap dan menakutkan bertahun lalu, seakan menunggu saat untuk meledak dan menguasainya.

Yoongi tidak mau Suga lepas dan tak terkendali, lalu merusak hidupnya. Yoongi lalu dengan sekuat tenaga berusaha menekan Suga dalam-dalam, mengendalikannya, membuatnya tertidur jauh di dalam dirinya. Sampai kemudian kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat itu dan Yoongi diambil oleh keluarga angkatnya, sebagai wali Yoongi. Sampai dia berusia 21 tahun dan boleh menerima warisan keluarga secara hukum, yang ditunjuk oleh ayah Yoongi, mereka adalah sahabat Ayah Yoongi. Dan mereka memberikan suasana keluarga yang hangat dan menyenangkan bagi Yoongi, jauh dari suasana dingin dan kaku yang ada di rumah Yoongi sebelumnya.

Bahkan Sugapun sepertinya menyadari kebaikan keluarga angkat itu, karena dia jarang memberontak muncul dan mengganggu. Semua tampak berjalan lancar, sampai entah kenapa Yoongi lengah dan Suga berhasil menguasai tubuhnya. Lalu menciptakan sebuah kejadian yang membuat mereka sama-sama terobsesi kepada Jimin.

Obsesi itu yang membuat Suga semakin lama semakin kuat dan bisa muncul kapanpun sesuai kemauannya sendiri. Keinginan Suga memiliki Jimin begitu kuat sehingga Yoongi sendiri tidak mampu membuatnya tertidur lama-lama

Suga memasuki kamar Jimin, dengan langkah tenang dan tidak terlihat, seperti yang biasanya dilakukannya kalau dia menyelinap ke kamar perempuan itu.

Jimin tertidur dengan lelap, mungkin obat penenang dari dokter itu membuatnya tenggelam dalam mimpi yang dalam. Bagus. Itu berarti Suga bisa leluasa.

Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang dan menyentuhkan jemarinya menelusuri pipi Jimin. Benarkah perempuan ini takut kepadanya? Kenapa Jimin takut kepadanya? Dalam benak Suga. Jimin adalah perempuan satu-satunya yang melihatnya apa adanya. Mata polos itu dulu pernah menatapnya, menatapnya dengan perhatian ketika dia telah membunuh orang dengan mengerikan.

Bahkan Jimin waktu itu menawarkan plester untuk lukanya. Suga saat itu sudah siap membunuh Jimin. Baginya tidak masalah membunuh anak kecil, apalagi anak kecil yang merupakan saksi mata. Tetapi dia mengurungkan niatnya karena anak kecil itu menawarkannya plester untuk menyembuhkan lukanya. Sebuah tindakan yang konyol...

tetapi menyentuh hati Suga yang gelap. Dan di hari itu, Suga menyadari bahwa dia harus bisa memiliki Jimin. Apapun akan dilakukannya untuk memiliki Jimin. Gadis itu memberikannya kekuatan. Semakin lama semakin kuat. Hingga mungkin dia bisa

menyingkirkan Yoongi dari tubuhini,danmenguasainya seenuhnya .

Suga menunduk dan mengecup bibir Jimin yang sedang tertidur pulas. Bersyukur atas obat penenang yang diberikan oleh dokter itu sehingga Jimin tidak akan sadar kalau dia bertindak sedikit lebih jauh. Jemarinya membuka kancing kemeja Jimin, menyentuh buah dadanya, dan meremasnya lembut. Gairahnya naik, seperti biasanya. Kalau berhubungan dengan perempuan, Suga hanya mengetahui satu hal : nafsu. Dia tidak pernah tahu cara lain untuk menggambarkan perasaannya kepada perempuan.

Bibirnya turun ke leher Jimin, meresapi harumnya perempuan itu yang menggoda seluruh saraf tubuhnya. Dan Suga mengecupnya, mencecap setiap rasanya. Ketika bibirnya sampai ke bagian paling atas payudara Jimin yang ranum dan menggoda, Suga mengecup lebih dalam, melumat kulit halus itu, sehingga meninggalkan tanda kemerahan di sana, membuat Jimin sedikit menggeliat dan mengerutkan kening dalam tidur pulasnya. Dia menegakkan tubuh dan tersenyum puas melihat hasilnya. Ini sama seperti seorang pejantan yang memberi tanda kepada betinanya.

Dengan tenang dia mengancingkan kembali piyama Jimin, dan merapikan kembali selimutnya. Dalam senyuman dia mengecup bibir Jimin untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan gadis itu terbaring lelap di ranjang.

Sekarang belum saatnya memiliki Jimin. Nanti, kalau waktunya sudah tepat. Suga akan mengambil Jimin, menundukkannya, menguasainya dan mempermainkannya sesukanya, sampai dia bosan.

Ketika Jimin terbangun keesokan harinya, hujan turun dengan derasnya di pagi hari yang muram itu. Menghantamkan air ke jendela kaca kamarnya, membuat suasana makin gelap dan murung. Jimin melangkah turun dari ranjang. Pelayan biasanya sudah datang dan menyiapkan peralatan mandinya, tetapi kali ini tidak ada yang datang. Jimin berpikir mungkin Yoongi memerintahkan mereka untuk tidak mengganggu tidurnya.

Dengan gontai, masih setengah mengantuk Jimin melangkah ke dalam kamar mandinya. Dia melepaskan piyamanya dan berdiri telanjang di bawah pancuran air hangat. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, karena itu dia sama sekali tidak melirik ke arah bathtub. Selesai mandi dan merasa segar akibat siraman air hangat ke tubuhnya, Jiminberdiri di depan cermin dan mengambil sikat gigi dari tepi wastafel. Dia mulai menyikat giginya dan tertegun.

Jimin tertegun melihat bayangan yang terpantul di kaca kamar mandinya. Di bagian atas payudaranya, ada tanda merah yang sekarang sudah sedikit membiru. Dengan bingung

digosoknya tanda itu, gigitanserangga? Kenapa tidak terasa gatal dan sakit?

Lama Jimin mengerutkan keningnya sambil memandang tanda itu. Tetapi kemudian dia menarik napas dan melanjutkan menggosok giginya. Mungkin memang hanya ruam di kulitnya yang sekarang sudah sembuh. Pikirnya dalam hati.

Yoongi memintanya datang ke ruang keluarga setelah sarapan, jadi Jimin menurutinya meski sedikit enggan, berduaan dengan lelaki itu terasa sedikit mengintimidasinya. Tetapi tentu saja Jimin tidak bisa menolaknya.

"Kemarilah." Lelaki itu duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya dengan ramah, membuat Jimin mau tak mau mengambil tempat duduk di sebelah Yoongi.

DI depan mereka ada sebuah televisi besar yang dinyalakan. Menayangkan berita gosip.

"Lihatlah berita itu." gumam Yoongi datar.

Jimin melihat berita itu dan mengernyit. Para wartawan sedang berdiri di depan tempat yang dia kenal. Tempat itu... tempat itu adalah rumahnya! Rumah tempat tinggalnya dengan kakek dan neneknya. Kenapa para wartawan berdiri di depan rumahnya?

"Mereka entah darimana mendapatkan kabar bahwa Jin mempunyai seorang putri yang dirahasiakan." Yoongi bergumam sambil mengamati berita di televisi itu, "Dan sekarang mereka menyerbu ke rumahmu, mencari tahu. Untung saja rumah itu kosong karena kau ada di sini, kalau tidak mereka akan menyerbumu."

Jimin masih tertegun. Tiba-tiba merasa takut, para wartawan itu sama persis seperti yang dikatakan Yoongi, mereka seperti piranha yang kelaparan, berusaha mengerubuti dan mengejar mangsa mereka. Hidupnya dulu tenang, dan Jimin nyaman berada di dalamnya, kenapa hidupnya bisa berubah seperti ini?

Yoongi menoleh menatap Jimin yang masih terdiam, "Mereka juga berusaha mengejarku, tetapi mereka tidak bisa menembus pagar rumahku. Kalau kau mengintip jauh ke luar sana, kau pasti bisa melihat beberapa mobil parkir di sana, mengintip dan berusaha mendapatkan informasi sekecil apapun." Yoongi menarik napas panjang, "Mereka tidak tahu kau ada di rumah ini, jadi kau bisa berlindung di rumah ini. Untuk sementara, sampai para wartawan itu tenang."

Jimin menghela napas -sungguh inginpergi .Perasaannya tidak enak dan dia merasa tidak pantas berada di rumah ini. Yoongi bukan siapa-siapanya, dan tinggal di sini terasa mengganggu pikirannya. Tetapi kalau situasinya berubah seperti ini, dia tidak bisa bisa menolak bantuan Yoongi bukan?

Jimin menghela napas panjang lagi, berusaha mencari cara untuk menghindar, ditatapnya Yoongi dengan ragu,

"Mungkin saya bisa mencari teman yang bersedia menampung saya untuk sementara waktu?"

Yoongi terkekeh, "Aku yakin teman-temanmu tidak mempunyai pagar yang kokoh dan tak tertembus seperti pagarku. Apakah kau ingin mengganggu kehidupan mereka dengan serbuan wartawan itu? Wartawan itu tak akan berhenti Jimin, kau adalah berita panas yang mereka kejar, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkanmu."

Jimin mengernyitkan dahinya, "Tetapi .. saya merasa tidak pantas tinggal di rumah ini. Saya bukan siapa-siapa anda dan..."

"Anggaplah aku temanmu, oke? Rumah ini besar dan bisa menampungmu. Kau akan aman di sini. Tidak ada yang tahu kau di sini. Aku tidak merasa direpotkan olehmu, dan kau bebas pergi setelah keadaan aman." Yoongi tersenyum lembut, "Aku akan menjagamu Jimin."

Dan entah kenapa Jimin menyadari ada kejujuran yang tulus di balik kata-kata Yoongi itu.

Tetapi Yoongi yang sekarang makan malam dengan Jimin sangat berbeda. Lelaki itu berubah, menyebarkan aura ketakutan yang sama seperti yang dirasakan Jimin beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu diam sepanjang makan malam yang hening. Hanya melirik Jimin dengan tatapan tajam yang sedikit menakutkan beberapa kali. Membuat Jimin merasa tidak nyaman.

Yoongi tidak berusaha memulai percakapan, karena itu Jimin juga diam saja. Membiarkan para pelayan melayani mereka dari sajian pembuka, sajian utama dan kemudian sajian penutup. Ketika sajian penutup sudah selesai dihidangkan, Jimin menatap Yoongi yang mulai menuangkan anggur ke gelasnya dengan gugup,

"Saya rasa... saya akan kembali ke kamar dan beristirahat."

Lelaki itu diam saja, menyesap anggurnya dan menatap Jimin dari atas gelasnya. Semakin

lama aura lelaki itu terasa semakinmenyesakkan.dadanya .

Jimin meletakkan serbetnya dengan hati-hati, lalu menganggukkan kepalanya kepada Yoongi dan dengan langkah cepat melangkah keluar dari ruang makan itu, berusaha secepat mungkin keluar dari sana, membebaskan diri dari suasana yang menyesakkan dadanya.

Dia sudah membuka pintu ruang makan itu sedikit, ketika tangan Yoongi yang ramping dan kuat terulur begitu saja di belakangnya. Telapak tangannya mendorong pintu itu supaya menutup lagi.

Yoongi sudah berdiri di belakang Jimin, begitu dekat hingga napasnya berembus hangat di puncak kepala Jimin dan dadanya hampir menyentuh punggung Jimin. Jimin berdiri dengan gugup menghadap pintu, masih membelakangi Yoongi, jantungnya berdebar entah kenapa.

Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya, berbisik dengan hembusan lembut di telinga Jimin, membuat bulu kuduk Jimin berdiri.

"Kenapa kau begitu buru-buru berpamitan Jimin? Apakah kau takut kepadaku?"