From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 5
Debar di jantung Jimin makin kencang. Perasaan ini sama seperti perasaan seekor tikus yang terperangkap dalam cengkeraman kucing besar. Kucing itu tidak ingin memakannya dulu, dia lebih memilih bermain-main dengan korbannya, membuatnya kaku ketakutan, sebelum menelannya bulat-bulat.
"Ti...tidak, saya hanya sedikit lelah.."
"Kau sudah tidur seharian ini, tidak mungkin kau lelah." Yoongi masih berbisik pelan di telinga Jimin. Lalu tanpa disangka-sangka, lelaki itu menunduk makin dalam, jemarinya menyingkap leher gaun Jimin sehingga menampakkan pundaknya yang rapuh. Dengan gerakan sensual yang mengancam, lelaki itu mengecup pundak Jimin, ringan bagaikan kupu-kupu, tapi membuat Jimin gemetaran, "Kau bisa menemaniku bercakap-cakap malam ini. Aku kesepian."
Apakah lelaki ini mabuk? Jimin bertanya-tanya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ingin melepaskan diri, tetapi terhimpit oleh Yoongi di pintu. Dia takut lelaki ini berbuat kasar kepadanya, karena sepertinya lelaki ini dalam suasana hati yang buruk.
"Lepaskan saya Yoongi." Suara Jimin pelan, dan gemetar, tetapi dia berusaha terdengar tegas.
Yoongi terkekeh pelan di belakang Jimin. Tetapi lelaki itu melangkah mundur satu langkah dan melepaskan Jimin. Membuat Jimin langsung menghembuskan napas lega merasakan tubuh Yoongi menjauh.
"Selamat beristirahat Jimin..."
Jimin tidak sempat mendengarkan lagi. Dia langsung membuka pintu ruang makan itu dan setengah berlari ke kamarnya. Dengan tergesa dikuncinya pintu kamarnya, lalu bersandar di pintu itu dengan ketakutan. Aura lelaki itu berbeda, ada nuansa kejam di sama. Yoongi yang di ruang makan tadi mirip sekali dengan Yoongi dalam mimpi Jimin beberapa waktu lalu... Lelaki yang mengatakan bahwa namanya adalah 'Suga'...
Jimin memandang ke sekeliling ruangan. Setelah memastikan bahwa pintunya terkunci rapat, dia melangkah ke ranjang dan duduk di sana dengan gelisah. Ini tidak bisa dilanjutkan. Dia tidak bisa tinggal di rumah ini. Ada sesuatu yang gelap dan misterius yang menghantui rumah ini. Membuatnya merasa diawasi, merasa tidak tenang setiap saat.
Jimin harus keluar dari rumahini, dia mungkin bisa menemukan teman di daerah terpencil yang bisa menampungnya, jauh dari jangkauan para wartawan. Ya, sebesar apapun resikonya, Jimin merasa dia harus segera pergi dari rumah ini.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Jimin terbangun dari tidur lelapnya. Dia membuka matanya dan mengerjap merasakan terpaan sinar matahari menyilaukannya. Astaga.. sudah jam berapa ini?
Sepertinya karena semalam dia lama tidak bisa tidur, dia bangun kesiangan. Dengan gugup dia duduk di ranjangnya. Ketukan itu terdengar lagi, membuat Jimin waspada. Dia memang sengaja mengunci pintunya, hanya sekedar berjaga-jaga atas ketakutan yang tidak bisa dijelaskannya.
"Siapa?"
"Ini Hoseok." Suara Hoseok sang kepala pelayan terdengar di luar, "Tuan Yoongi meminta saya memastikan anda baik-baik saja, karena anda tidak turun untuk sarapan."
"Saya.. saya baik-baik saja." Jimin merapikan rambutnya dan memastikan piyamanya rapi, lalu melangkah turun dari ranjang dan membuka kunci pintu. Hoseok tampak berdiri di sana dengan ekspresi datarnya.
"Saya bangun kesiangan, mungkin karena pengaruh obat dari dokter, maafkan saya tidak turun untuk makan malam." Jimin tersenyum meminta maaf kepada Hoseok.
Ada seulas senyum kecil yang muncul di wajah Hoseok yang datar. Tetapi hanya sekerjapan mata dan menghilang, hingga Jimin sendiri tidak yakin dengan penglihatannya. "Tidak apa-apa Nona Jimin. Saya senang anda baik-baik saja. Oh ya, kalau anda sudah siap, Tuan Yoongi ingin bertemu di ruang kerjanya." Hoseok sedikit membungkukkan badannya, "Kalau begitu saya permisi dulu."
Jimin termangu. Kenapa Yoongi ingin bertemu dengannya? Dibayangkannya suasana makan malam kemarin yang menakutkan, membuatnya merasa enggan.
Sementara itu, langkah Hoseok tampak meragu, kemudian dia berhenti melangkah dan berputar, menatap ke arah Jimin yang masih berdiri di ambang pintu, "Anda mengunci pintu kamar anda." Hoseok menatap Jimin dengan tatapan tajam.
"Eh... iya.." Jimin mengalihkan pandangannya gugup, tidak tahan dipandang setajam itu,
benaknya berputar mencari alasan,"Saya terbiasa mengunci pintu kamar di rumah, maafkan saya membawa kebiasaan itu di sini."
"Tidak apa-apa." Hoseok menggelengkan kepalanya. "Saya harap anda melakukannya terus."
"Melakukan apa?" Jimin menatap Hoseok dengan bingung.
"Mengunci pintu kamar anda setiap malam." Hoseok berucap misterius, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Jimin yang masih terpaku bingung di ambang pintu, memikirkan arti dari kata-kata Hoseok. Lelaki itu menyuruhnya mengunci pintu kamar setiap malam. Seakan-akan ada bahaya yang mengintainya kalau dia tidak mengunci pintu kamar. Tiba-tiba Jimin merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ada bahaya apa yang mengintainya di rumah ini?
"Maafkan aku memanggilmu kemari." Lelaki itu sedang menghadap berkas-berkas yang tampaknya rumit di meja kerjanya. Ketika dia melihat Jimin melirik berkas-berkas itu, Yoongi tersenyum, "Oh... aku sedang memeriksa beberapa pekerjaan, kau tahu wartawan-wartawan di depan itu membuatku tidak bisa keluar rumah, jadi aku melakukan pekerjaanku dari dalam rumah. Untunglah teknologi sudah cukup maju sekarang ini, jadi perusahaanku tetap aman dan terkendali. Duduklah Jimin, aku ingin membicarakan sesuatu."
Jimin mengikuti permintaan Yoongi dan duduk di kursi di depan meja kerja Yoongi, mengamati ketika lelaki itu merenung dengan kedua tangan ditumpangkan di dagu. Lalu lelaki itu menghela napas,
"Mungkin apa yang akan kukatakan ini akan sangat mengejutkanmu." Tatapannya berubah lembut, penuh permintaan maaf, "Sebelumnya aku minta maaf atas tingkahku saat makan malam kemarin, aku tahu itu keterlaluan dan tidak dapat dimaafkan. Tetapi semoga kau mengerti, mungkin malam itu aku sedang mabuk, aku bahkan tidak begitu ingat apa yang kulakukan dan kukatakan, tapi aku tahu itu buruk, dan aku menyesal."
Ini Yoongi yang biasa. Jimin menyimpulkan dalam hatinya, lelaki ini kembali menjadi Yoongi yang berwibawa dengan auranya yang tulus. Tidak menakutkan seperti semalam, Jimin masih begidik mengingat kejadian semalam... Dan Yoongi mengatakan dia mabuk, mungkin jauh di dalam hatinya lelaki itu masih bersedih atas kematian ibunya. Bagaimanapun mereka sepasang kekasih bukan? Mungkin kelakuan menakutkan Yoongi yang kemarin masih bisa dimaklumi.
"Tidak apa-apa. Saya mengerti..."
Yoongi tersenyum lalu matanya berubah serius, "Well, ini mengenai apa yang akan kuungkapkan kepadamu Jimin... aku minta maaf kalau aku tidak menghubungimu sebelumnya. Aku hanya ingin memastikannya sebelum mengatakannya kepadamu..." Lelaki itu mengambil album foto yang pernah dilihat Jimin sebelumnya, di situ ada foto kedua orang tua angkat Yoongi dan kakak Yoongi yang lebih tua, " Kau lihat, ini kedua orang tua angkatku dan kakak angkatku, namanya Namjoon." Mata Yoongi tampak sedih, "Mereka semua meninggal karena kecelakaan... kedua orang tua angkatku meninggal di tempat begitupun Namjoon... tetapi jauh, lama sebelum Namjoon meninggal dia menitipkan sebuah rahasia kepadaku..."
Jimin menatap foto Namjoon di sana. Lelaki yang tampan. Dengan senyumnya yang hangat, sayang sekali dia harus meninggal di usia muda.
"Namjoon pernah mengatakan kepadaku, di masa mudanya dia pernah melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab, dia menghamili kekasih masa SMUnya, tetapi hubungan mereka tidak berjalan baik sehingga dia memberikan uang kepada kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya dan kemudian dia pergi dan meninggalkan kekasihnya..." Yoongi menatap Jimin dalam-dalam. "Tetapi kemudian, dia menyadari bahwa ternyata kekasihnya di masa lalunya itu tidak pernah mengugurkan kandungannya, dia ternyata mempunyai seorang putri yang waktu itu sudah berumur satu tahun."
Jimin mulai menangkap sinyal-sinyal itu. Benaknya menarik kesimpulan, tetapi pikiran logisnya tidak mau percaya... apakah itu benar? Mungkinkah itu? Bagaimana mungkin semua bisa begitu kebetulan?
"Ya Jimin... putri Namjoon adalah dirimu." Yoongi melemparkan jawaban itu, menghapuskan semua keraguan di pikiran Jimin, "Tidakkah kau lihat foto itu? Dia sangat mirip denganmu."
Jimin menatap foto itu, kali ini tangannya gemetar, begitupun hatinya, ikut tergetar. Oh astaga, lelaki ini, yang sedang membalas senyumnya di foto ini adalah ayahnya? Ayahnya yang selama ini dia anggap tidak pernah ada? Ayahnya yang selama ini tidak dia ketahui di mana dia berada, tidak berani ditanyakannya, meski hatinya bertanya-tanya?
Jimin mengakui mereka mirip, warna kulit itu, warna rambut yang pekat, bentuk alis dan bibir mereka, bahkan bibir mereka mirip. Sisanya adalah warisan dari Jin... tetapi Jimin menyadari dia percaya kepada Yoongi, Namjoon adalah ayahnya. Tetapi.. ayahnya sudah mengetahui tentang dirinya sejak dia berumur satu tahun, kenapa ayahnya tidak pernah menemuinya? Apakah ayahnya juga menolaknya seperti ibunya? Menganggapnya seperti aib di masa lalu yang harus dienyahkan?
Jimin mendongakkan kepalanya dari foto itu, menatap Yoongi dengan tatapan ragu dan takut, ragu akan jawaban yang diberikan oleh Yoongi, "Apakah ayah saya... dia juga menolak saya?"
"Jangan menggunakan kata 'saya' Jimin, itu terlalu formal." Yoongi menggelengkan kepalanya, "Dan astaga, tidak Jimin, ayahmu mencintaimu..dia langsung menemui kakek dan nenekmu ketika dia tahu bahwa Jin membuangmu. Tetapi kakek dan nenekmu begitu ketakutan bahwa Namjoon akan merenggutmu dari kalian, mereka mengancam Namjoon kalau dia berani menemuimu, mereka akan menuntut Namjoon karena telah memperkosa Jin. Ancaman yang bodoh... tetapi Namjoon begitu mencintaimu sehingga takut pertikaian itu akan mempengaruhimu, karena itu dia menerima kesepakatan dengan kakek dan nenekmu."
"Kesepakatan apa?"
"Bahwa ayahmu tidak boleh menemuimu. Tidak boleh berinteraksi denganmu, setidaknya sampai kau berusia tujuh belas tahun dan sudah dewasa dan bisa menerima penjelasan. Sebagai gantinya, kakek dan nenekmu akan mengirimkan laporan perkembanganmu dan mengabari keadaanmu." Yoongi mengeluarkan dua album foto besar dari laci meja kerjanya, "Kakek dan nenekmu mengirim foto perkembanganmu kepada Namjoon secara berkala, dan ayahmu menyimpannya di sini." Yoongi mendorong album foto itu kepada Jimin. Di dalamnya berisi foto-foto masa kecil Jimin. Tentu saja Yoongi tidak mengatakan bahwa dia memiliki enam album besar lain yang berisi foto-foto Jimin ketika dewasa, yang dikirim oleh para anak buahnya yang mengikuti Jimin secara diam-diam dan mengambil fotonya secara rahasia setiap saat.
Jimin membuka album-album foto itu. Yoongi benar. Isinya adalah fotonya dari bayi sampai kanak-kanak. Jadi selama ini ayahnya mengawasinya dari kejauhan, mencintainya diam-diam...matanya terasa panas, mulai berkaca-kaca.
"Dia sangat menyayangimu. Dia hanya menceritakan tentangmu kepadaku karena aku adik laki-laki yang dipercayainya. Meskipun aku hanya adik angkat, kami sangat dekat dan bersahabat..." Mata Yoongi melembut, "Dia selalu menunjukkan foto-fotomu dengan bangga, menyimpannya dengan hati-hati... dan berkata dia tak sabar untuk menunggu usiamu tujuh belas tahun dan menemuimu, mengatakan siapa sebenarnya dirinya..." Yoongi menghela napas panjang, "Sayangnya dia tidak bisa mencapai saat itu... sebelum usiamu tujuh belas, dia sudah terenggut karena kecelakaan tragis itu."
Air mata Jimin menetes di pipinya tanpa disadarinya. Ayahnya ternyata begitu menyayanginya. Dia ternyata bukan putri yang ditolak dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, setidaknya ayahnya menyayanginya. Album foto itu basah oleh air matanya yang menetes. Dengan tangan gemetar diusapnya air matanya, dan dipeluknya album foto itu
seakan itu harta yang alingberhrgabaginya, "Album foto ini... bolehkah aku membawanya ke kamar? Aku ingin melihat-lihatnya..." dan Jimin ingin membuka setiap lembar album ini sambil membayangkan bagaimana ayahnya membuka album ini dulu ketika dia masih hidup. Album ini menyimpan kenangan, kenangan berharga akan ayahnya yang tak sempat dikenalnya.
Yoongi menganggukkan kepalanya, "Tentu saja Jimin.. itu milikmu." Dia menatap Jimin dengan serius, "Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku begitu kuat melarangmu keluar dari rumah ini... selain karena wartawan-wartawan itu... ini alasannya, sebelum meninggal, Namjoon memintaku menjagamu. Namjoon meninggal ketika usiamu delapan tahun. Aku berusia dua puluh tahun ketika itu. Dia memintaku menjagamu.. karena itulah aku berusaha mencarimu. Tetapi sama seperti yang dilakukan kakek dan nenekmu kepada Namjoon, mereka melarangku mendekatimu... apalagi aku tidak ada hubungan apa-apa denganmu, jadi mereka melarangku mendekatimu sampai kapanpun, dan melarangku memberitahukan yang sebenarnya kepadamu, karena saat itu karier Jin sedang sangat menanjak...
mereka takut akan ada skandal yang mempengaruhi karier Jin.. jadi aku mundur dan menunggu."
Tiba-tiba pikiran itu terasa menggelitik Jimin sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apakah kau mendekati ibuku karena..."
"Ya, aku mendekati ibumu karena mencari jalan untuk menemuimu. Tetapi jangan salah paham, aku memang tertarik pada Jin, dia cantik dan menyenangkan dan aku serius untuk memperistrinya, dengan begitu aku bisa mendapatkan istri yang cantik, sekaligus bisa menunaikan janjiku kepada Namjoon, untuk menjagamu sebagai putriku." Yoongi mengernyit mendengar kebohongannya sendiri. Dia sama sekali tidak tertarik kepada Jin, apalagi memperisteri perempuan yang palsu di segala hal itu, dan daripada menjadikan Jimin puterinya, Yoongi lebih tertarik menjadikan Jimin istrinya.
Sementara itu Jimin berpikir dan menelaah semua hal. Pantas di saat pertemuan pertama mereka dulu, Yoongi begitu ngotot agar mereka menjadi satu keluarga dan agar Jimin tinggal bersamanya kalau dia dan Jin menikah nanti. Ternyata ini alasannya. Dan ternyata ini pula alasan kuat kenapa Yoongi menahannya di rumah ini.
"Ternyata semua tak berjalan sesuai rencana... Jin meninggal dan..." Yoongi menghela napas panjang, "Maafkan aku, aku berencana memberitahukan kepadamu pelan-pelan. Tetapi aku tidak mau kau salah paham dan bingung karena aku menahanmu di sini. Aku...meski tidak berhubungan darah, aku sama saja seperti pamanmu. Ayahmu menitipkanmu kepadaku untuk kujaga, dan aku ingin melakukan janjiku kepadanya. Karena itu, kumohon kau mau mempertimbangkan untuk tinggal di sini bersamaku."
Jimin tertegun, teringat akan tekadnya semalam untuk segera pergi dari rumah ini. Tetapi
waktu itu dia ketakutan dengan tingkah Yoongi yang aneh dan dia tidak tahu tentang kenyataan ini. Apakah dia harus mempertimbangkan lagi?
"Ada banyak kisah tentang Namjoon yang ingin kubagi denganmu, kalau kau tertarik ingin mendengar tentang ayahmu.." Yoongi melemparkan tawaran yang sangat menarik bagi Jimin, membuat Jimin tidak bisa menolak.
"Baiklah Yoongi, aku... aku akan tinggal di rumah ini, aku akan senang sekali kalau kau mau berbagi cerita tentang ayahku kepadaku."
"Aku salah mengatakan kau kurang cerdik.. kau ternyata cerdik." Bayangan di kegelapan itu melemparkan senyum jahatnya kepada Yoongi, "Kau berhasil menahannya di rumah ini."
"Diam Suga!" Yoongi menggeram marah, "Kau hampir membuatnya kabur semalam, dan aku yang harus membereskan kerusakan yang kau buat."
"Aku tidak tahan kalau dia ada di dekatku. Rasanya aku ingin melahapnya bulat-bulat..."
"Kalau kau berani menyakitinya, aku akan membuat Jimin pergi dari rumah ini. Jauh darimu sehingga kau tidak bisa menemukannya lagi." Yoongi mendesis, mengancam.
Tanggapan yang dia terima dari Suga hanyalah tawa mengejeknya yang khas, "Apakah kau berani melepaskannya Yoongi? Kau bahkan tidak tahan jauh-jauh darinya, aku ragu kau berani membuatnya jauh dariku, karena itu sama saja menjauhkannya darimu."
Yoongi terdiam, tertegun kaku. Tetapi kemudian menatap Suga dengan pandangan menantang,
"Kalau kau membahayakan Jimin, aku akan melakukannya. Aku lebih mementingkan keselamatan Jimin daripada kebahagiaanku. Kalau dengan menjauhkannya dari diriku dan kau akan membuat Jimin bahagia dan selamat, aku akan melakukannya."
Suga mengerutkan keningnya, mulai menyadari kebenaran dari ancaman Yoongi, dia menatap Yoongi penuh spekulasi.
"Kau tidak akan berani melakukannya,"
"Aku akan melakukannya."
"Walaupun begitu, Jimin tidak akan lepas dariku, aku akan mencarinya kemanapun. Percuma saja Yoongi. Apapun yang terjadi... Jimin akan menjadi milikku."
Tawa Suga masih membahana di kegelapan, penuh dengan ejekan yang kejam...
"Kalau terjadi apapun kepadaku. Kau akan melakukannya kan Hoseok?"
Hoseok menatap ragu ke arah Yoongi, tahu kalau Suga mendengarkan di dalam sana.
"Kau tidak usah takut." Yoongi menghela napas, "Aku minta maaf atas insiden kecelakaan itu, yang hampir merenggut keluargamu.,,," lelaki itu mengacak rambutnya dengan frustasi, "Monster ini kadangkala sangat kuat, tetapi aku akan menahannya sekuat tenaga. Sementara itu, kau lakukan apa yang kuminta untuk kulakukan."
Monster... Hoseok membatin dalam hati. Panggilan itu sangat cocok untuk Tuan Suga, lelaki itu berjiwa kelam dan bengis, melindas siapapun yang menghalanginya tanpa ampun. Hoseok takut setengah mati kepada Tuan Suga. Tetapi kesetiaannya kepada Tuan Yoongi mengalahkan segelanya. Kalau memang nanti terjadi sesuatu kepada Tuan Yoongi, Hoseok akan melaksanakan instruksinya. Melindungi Jimin dan membawanya lari jauh-jauh dari jangkauan Tuan Suga, meskipun nyawanya menjadi taruhannya.
"Kau masih penasaran akan kasus kematian artis itu?"
Sapaan itu membuat Taehyung menoleh dan tersenyum, "Aku sedang menyelidiki kasusnya untuk artikel khusus di majalah. Kau tahu, kisah tentang anak gelap Jin membuat semuanya makin menarik."
"Tetapi anak gelap Jin itu tidak bisa ditemukan di mana-mana. Rumahnya ditinggalkan begitu saja. Dia mengambil cuti dari tempat kerjanya, dia seolah lenyap dan aku bahkan mulai ragu kalau dia ada." Teman wartawannya yang bernama Mark menyahut sambil memutar bola matanya.
Taehyung tertawa, "Dia memang ada." Dibukanya berkas-berkasnya, "Aku menyelidiki ke sekolahnya dan berhasil mendapatkan fotonya waktu masih muda. Usianya pas. Sepertinya gosip itu benar, Jin melahirkan anaknya ketika usianya enam belas tahun."
Mark mengambil berkas Taehyung dan mengamati foto Jimin yang terpampang di sana.
"Siapa namanya? Jimin? Hmm dia cantik, sepertinya mewarisi kecantikan ibunya."
"Asalkan tidak mewarisi sikapnya." Taehyung tersenyum sinis. Sifat buruk Jin sebagai artis memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan artis dan wartawan.
"Bahkan kita tidak bisa menebak siapa ayah anak ini." Mark menatap Taehyung dengan serius, "Kau sudah ada ide di mana Jimin berada sekarang ini? Kau harus menemukannya, artikelmu tidak akan berhasil kalau kau tidak bisa menemukan Jimin."
Taehyung mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja sambil merenung. Sesungguhnya dia mengalami jalan buntu. Tidak ada yang tahu di mana Jimin berada. Dia sudah menghubungi semua orang yang mungkin berhubungan dengan Jimin, Jimin tidak punya banyak teman dan kenalan. Tetapi semua nihil. Tidak ada yang tahu di mana Jimin berada, gadis itu tampaknya lenyap begitu saja. Tetapi Taehyung bertekad menemukannya, dia pasti akan menemukan Jimin.
"Dan milyuner kaya itu, pacar Jin, juga tidak ada kemajuan dengannya ya?"
Taehyung mengerutkan keningnya, Min Yoongi menjadi satu lagi masalah besar. Sejak kematian Jin dia sangat sudah ditemui. Pintu gerbangnya selalu tertutup rapat, dia bahkan tampaknya tidak pernah keluar dari rumahnya. Penjagaan rumahnya sangat ketat, dan tidak peduli para wartawan berkemah di depan rumahnya, mereka tidak berhasil menemui Min Yoongi.
"Sebenarnya kau bisa menjadikannya bahan artikelmu." Mark mengusulkan.
Taehyung mengernyitkan keningnya, "Siapa? Min Yoongi? Tetapi dia hanya milyuner kaya yang kebetulan memacari artis, banyak yang seperti dia, tidak menarik untuk dibahas...
Publik akan lebih menyukai kisah anak gelap yang disembunyikan seorang artis sekian lama..."
"Tetapi dari rumor yang aku dengar, Min Yoongi selalu membawa kematian di sekelilingnya."
"Apa maksudmu?" Taehyung memfokuskan pandangannya kepada Mark, insting wartawannya mulai berdering.
"Yah kau tahu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, keluarga angkatnya juga meninggal begitu saja karena kecelakaan mobil... dan sekarang calon isterinya meninggal pula, di rumahnya. Mungkin pria itu menyimpan kutukan yang membunuh orang-orang terdekatnya." gumam Mark.
Atau pria itu terlibat sesuatu yang menyebabkan.kematian orang-orang terdekatnya. Taehyung menyimpulkan. Matanya menatap berkasnya yang memuat tentang Min Yoongi. Well, kalau dia menggali sedikit lebih dalam, mungkin dia bisa mendapatkan sesuatu... Taehyung bertekad dalam hati, dia akan mencari tahu dan menemukan kisah yang menarik untuk diberitakannya kepada publik.
