From The Darkness Side

Original Story by Santhy Agatha

Disclaimer :

Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.

Caution!

Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.

Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.

BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )

Min Yoongi

Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.

"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."

-Min Suga-

.

.

.

.

.

.

.

WARNING!

NC in this chapter.

.

.

.

.

.

BAB 6

"Namjoon sangat senang membaca buku, karena itu aku senang ketika siang itu kau memilih duduk di perpustakaan. Aku sangat senang, karena kau sangat mirip dengannya."

Mereka duduk sambil minum kopi dan kue yang disediakan di kebun belakang rumah. Yoongi sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak Jimin duduk dan bercerita. Tentu saja Jimin tidak menolak, jantungnya berdegup kencang, menanti cerita tentang Namjoon, ayah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Tetapi Yoongi mengenalnya. Dan lelaki itulah satu-satunya penghubung Jimin dengan ayahnya.

Lelaki itu menyesap kopinya, lalu menatap Jimin dengan alis diangkat, "Aku lupa menanyakannya. Kata Jin kau bekerja di sebuah biro wisata. Apakah mereka tahu kenapa kau tidak bisa masuk kerja?"

"Aku sudah menelepon mereka dan mengambil cuti besarku.. aku punya dua puluh hari cuti besar... tapi kalau lebih dari itu, tidak bisa... jadi beberapa hari lagi aku harus masuk kerja."

Mata Yoongi berkilat mendengarkan keterangan Jimin, tetapi Jimin tidak melihatnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya menatap ke arah album foto keluarga itu dengan sangat tertarik.

Yoongi begitu baik, dia menunjukkan album foto keluarga kepada Jimin, di sana ada foto Namjoon dan dengan rinci Yoongi menjelaskan masing-masing kisahnya,

"Ini foto Namjoon waktu wisuda..." Yoongi menunjukkan jarinya ke foto lelaki muda yang tampak begitu bahagia dan mengenakan toga yang terpasang rapi, senyumnya lebar, dan sangat mirip dengan Jimin. "Dia sangat gugup pagi itu... karena di hari yang sama dia diwawancara oleh perusahaan besar yang sudah memesannya jauh-jauh hari. Kau tahu, Namjoon mahasiswa jenius, jadi banyak yang mengejarnya ketika lulus. Dia memilih penghasilan terbesar meskipun dia harus bekerja keras. Lebih dari separuh gajinya dia kirimkan kepada kakek dan nenekmu, untuk membantu biaya perawatanmu."

Jimin membelalakkan matanya, "Ayahku melakukan itu?"

Yoongi menganggukkan kepalanya, "Keluarga angkatku tidak kaya dan ayah Namjoon tidak tahu tentang dirimu, jadi Namjoon harus bekerja keras demi bisa mengirimkan uang untukmu... Mereka dulunya sahabat ayahku, ayah Namjoon sempat satu sekolah dengan ayahku di London. Mereka terus menjalin persahabatan ketika ayah Namjoon ditugaskan ke

salah satu cabang perusahaan di Yunani, di dekat rumah ayahku. Ketika kedua orangtuaku meninggal, ayahku menunjuk ayah Namjoon sebagai waliku sampai aku berusia dua puluh satu tahun dan bisa menerima warisan sah secara hukum. Dan kemudian ayah Namjoon harus kembali ke negaranya, sehingga aku dibawanya. Dan disinilah aku sekarang. Aku cukup bahagia dengan keluarga angkatku, mereka menyayangiku dan tidak pernah menganggapku sebagai orang luar. Ketika usiaku dua puluh tahun, mereka semua meninggal karena kecelakaan dan itu merupakan pukulan yang sangat besar untukku. Karena masih kurang dari usia wajibku untuk menerima warisan, Aku mengajukan gugatan ke pengadilan dan dikabulkan, dan mereka akhirnya memberikanku warisanku. Yang ternyata sangat besar, ditambah dengan bunga dan pengembangan saham selama bertahun-tahun, membuatku luar biasa kaya. Aku akhirnya mengembangkan perusahaan dan di sinilah aku." Yoongi tersenyum menyesal, "Aku menyesal keluarga angkatku pergi begitu cepat karena aku belum membalas budi kepada mereka.. dan aku menyesal karena kau tidak sempat bertemu Namjoon."

Jimin mendengarkan kisah Yoongi dan termenung. Kisah lelaki ini hampir sama dengannya, mereka sama-sama kehilangan orangtuanya dan bertahan hidup dari kasih sayang orang lain yang mencintai mereka. Ada perasaan empati yang berkembang untuk Yoongi di hati Jimin, membuat dadanya terasa hangat.

Yoongi menyesap kopinya dan mengalihkan pandangannya kembali ke album foto, "Mari kita bahas lagi tentang Namjoon, ini fotonya ketika dia merayakan ulang tahun ke dua puluh. Kau tahu apa doanya? Dia ingin waktu cepat berlalu dan kau segera berumur tujuh belas tahun..."

Jimin membawa album foto itu ke kamarnya. Ada kekosongan besar yang dirasakannya atas kematian Jin. Kekosongan itu menciptakan palung yang dalam di hatinya. Karena ibunya telah tiada. Tetapi palung itu juga menyisakan goresan menyakitkan, karena dia tahu pasti ibunya tidak pernah mencintainya dan tidak pernah menyayanginya.

Perasaannya terhadap ayahnya berbeda. Dia hanya mengenal Namjoon, Ayahnya, dari cerita-cerita Yoongi dan dari foto-foto keluarga yang sekarang dibukanya di atas ranjangnya. Tetapi hatinya terasa sedih, mengetahui bahwa ayahnya mencintainya, tetapi tidak pernah bisa menemuinya. Mengetahui bahwa kecelakaan itu telah merenggut ayahnya bahkan sebelum dia sempat mengetahui bahwa dia memiliki seorang ayah yang selalu menjaganya diam-diam. Rasanya seperti sesuatu direnggut dari jantung dan dihantamkan ke tanah.

Mata Jimin terasa panas, dan tanpa tertahankan air matanya menetes jatuh, mengenai wajah ayahnya yang sedang tersenyum di foto. Diusapnya air matanya dan tangisnya

semakin terisak. Tangis yangterlambat,ataskematian ayahnya, atas kesempatan untuk bertemu yang tidak pernah tersampaikan, atas penyesalannya karena tidak pernah sempat mengatakan bahwa dia juga mencintai ayahnya dan selalu memikirkannya.

"Ayah..." Jimin mengusap foto itu sambil menangis, "Ayah..." Air matanya tak terbendung. Dan dia terisak-isak di kamar itu.

Di luar kamarnya, Yoongi berdiri membeku. Meresapi kepedihan Jimin. Ada kepedihan yang sama di matanya. Sebuah penyesalan yang tak tertahankan.

"Maafkan aku Jimin." Yoongi menggumam dalam hati dan mengusap wajahnya dengan frustasi.. Kalau saja dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, mungkin dia masih bisa mengharapkan Jimin mengerti. Tetapi kekejaman Sugalah yang menyebabkan Jimin tidak bisa bertemu dengan ayahnya, dan kehilangan seluruh keluarganya, dan Suga melakukannya dengan tangan Yoongi.

"Bakar biro wisata itu nanti malam." Suga memberikan instruksi dengan dingin di telepon, "Buat seperti kecelakaan."

Suara Kai di sana menyahut dengan patuh, "Baik tuan. Saya akan laksanakan sebaik mungkin."

Suga meletakkan gagang teleponnya dan tersenyum. Dia memang tak segan-segan mengotori tangannya dengan darah kalau perlu. Tetapi untuk hal-hal semacam ini, dia punya Kai untuk melaksanakannya, pegawainya yang setia dan bersedia melakukan apapun demi dirinya.

Begitu biro wisata tempat Jimin bekerja terbakar habis. Jimin tidak punya alasan untuk masuk kerja karena cutinya sudah habis.

Berita di koran itu membuat mata Jimin terbelalak. Sebuah kawasan ruko terbakar habis dilalap api, tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian uangnya luar biasa. Ruko itu menampung banyak usaha niaga, seperti salon, bank perkreditan rakyat, toko elektronik, dan biro wisata tempat Jimin bekerja.

Jimin mencoba menelepon atasannya. Tetapi selalu terhubung dengan mailbox. Mungkin atasannya sedang sibuk ... siapa yang tidak sibuk kalau lahan bisnisnya terbakar habis

seperti itu? Jimin membayangkan atasannya dengan sedih, atasannya lelaki setengah baya yang baik dengan keluarga besar dan anak-anak yang baik pula. Tidak terbayangkan betapa sedihnya mereka kehilangan bisnis keluarga seperti itu. Semoga semua sudah diasuransikan, Jimin membatin.

Dan sekarang dia harus memikirkan pekerjaan, karena sudah jelas dengan kejadian ini, dia tidak punya pekerjaan lagi.

"Kau bisa menjadi asistenku." Yoongi mengusulkan ketika Jimin menceritakan kebakaran yang menimpa biro hukum tempatnya bekerja.

Jimin mengernyitkan alisnya, "Tidak Yoongi... aku akan mencari pekerjaan lain, segera."

"Oh ayolah, kau bahkan belum bisa keluar dari rumah ini, Para wartawan masih berkerumun di sana, mengendus sana dan sini. Aku juga mengalami nasib sama, tidak bisa keluar, aku harus menjalankan perusahaanku dari rumah...akan sangat membantu kalau aku mempunyai asisten."

Jimin menatap Yoongi ragu. Jalan keluar yang diberikan oleh Yoongi memang membantu mereka berdua, tetapi Jimin merasa tidak enak, dia telah begitu banyak memanfaatkan kebaikan hati Yoongi. Dan sekarang bahkan lelaki itu memberinya pekerjaan.

"Terimalah. Dan jangan merasa tidak enak. Aku keluargamu bukan? Keluarga saling membantu." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.

Bagaimana Jimin bisa menolak kalau menerima penawaran seperti itu?

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir satu bulan Jimin tinggal di rumah itu. Hubungannya dengan Yoongi berlangsung dengan baik karena mereka berinteraksi dengan intens hampir setiap hari.

Secara aktual. Hanya Yoongi yang ditemui oleh Jimin setiap harinya, hanya Yoongi teman bicara dan berbaginya, dan hanya Yoongi satu-satunya orang yang bisa diajaknya berkomunikasi.

Menjadi asisten Yoongi sangat rumit dan Jimin harus belajar banyak. Mengerjakan pekerjaan di perusahaan internasional tentu saja berbeda dengan mengerjakan pekerjaan

administrasi di sebua dengan sabar membantu dan membimbingnya sehingga dia lancar mengerjakan semua pekerjaannya.

Dan perasaan Jimin berkembang kepada Yoongi. Oh ya, lelaki itu sangat tampan bagaikan dewa Yunani di kisah-kisah para dewa. Dengan warna rambutnya yang unik, matanya yang dalam dan garis wajahnya yang keras. Penampilan fisik lelaki itu pastilah bisa menaklukkan wanita manapun, termasuk Jimin. Tetapi bukan itu yang utama, sikap Yoongi yang lembut dan perhatian kepadanyalah yang membuatnya terpesona. Yoongi selalu membantunya, menjadi teman bicaranya yang baik, lelaki itu mendengarkannya dan bersedia memberikan solusi yang baik. Jimin merasa nyaman bersama Yoongi, dan mulai merindukan lelaki itu ketika mereka tidak bersama.

Apakah dia mulai mencintai Min Yoongi?

Pipi Jimin memerah. Oh Astaga, dia tidak boleh menumbuhkan perasaan itu. Lagipula Yoongi pasti tidak punya perasaan apapun kepadanya. Lelaki itu baik kepadanya karena dia adalah putri Namjoon. Bahkan lelaki itu pernah mengatakan bahwa Jimin boleh menganggapnya sebagai pamannya, sebagai keluarganya. Jimin sangat bodoh jika mengharapkan lebih. Apalagi usia mereka terpaut jauh, dua belas tahun. Jimin yakin Yoongi akan mencari wanita berpengalaman seperti Jin daripada melirik perempuan ingusan seperti dirinya.

Dengan tegas Jimin berusaha mematikan perasaan cinta yang mulai bertumbuh itu.

Suga merasa bosan. Sangat bosan. Dia menuruti permintaan Yoongi, diam dan menunggu di sudut gelap dan mengamati. Seperti yang biasa dia lakukan. Dia bersedia menunggu bukan karena ingin menuruti permintaan Yoongi, tetapi lebih karena dia melihat bahwa usaha Yoongi dengan sikap halus dan lembutnya berhasil menahan Jimin di sini.

Tetapi lama kelamaan dia merasa gemas dan tak sabar. Yoongi terlalu lambat. Dia bersikap seperti keluarga, memperlakukan Jimin dengan penuh kasih sayang. Dan tak segera bertindak.

Kalau dia bisa keluar, dia akan segera memiliki Jimin, menguasai tubuh mungil itu dan menjadikannya miliknya. Suga tidak sabar menanti semua itu terjadi.

Tetapi dia memang harus bersabar. Yoongi sedang kuat dan lelaki itu bisa menahan kemunculannya. Suga hanya tinggal menunggu Yoongi lengah, lalu dia akan muncul dan bertindak.

Dengan rasa haus yang amatsangatuntukmenguasai Jimin,.lelaki itu menjilat bibirnya.

Tunngu Jimin, kau akan sangat menikmati ketika aku memilikimu..

"Maafkan aku, aku baru sadar, apakah kau merasa bosan? Kau hampir tidak pernah keluar dari rumah ini. Aku menyesal." Yoongi meletakkan serbet makannya dan menatap Jimin penuh permintaan maaf, "Wartawan-wartawan itu sudah tidak berkumpul di depan, tetapi mereka menyebarkan mata-mata untuk mengawasi diam-diam... Aku baru sadar kalau kita tidak pernah keluar dari rumah ini."

"Tidak apa-apa Yoongi, aku cukup sibuk di rumah ini." Jimin tersenyum, berusaha meredakan rasa bersalah yang ada di mata Yoongi, "Aku bekerja, aku membaca koleksi bukumu yang luar biasa, aku menonton televisi dan aku mendengarkan musik."

Yoongi terkekeh, "Sungguh Jimin, aku harus mengajakmu keluar dari rumah ini kapan-kapan." Lelaki itu mengangkat alisnya, "Omong-omong tentang musik, kita bisa berdansa." Lelaki itu berdiri lalu mendekati pemutar musik di rak samping meja makan. Setelah musik berputar, dia berdiri di dekat Jimin, mengulurkan tangan sambil setengah membungkuk elegan,

"Lady, maukah anda memberi kehormatan kepada saya untuk mengajak anda berdansa?"

Jimin terkekeh dan membalas uluran tangan Yoongi,

Yoongi melangkah mundur, mengajak Jimin ke area kosong di ruang makan yang besar itu. Diletakkannya sebelah tangan Jimin di pundaknya dan yang satunya lagi di genggamannya, dibimbingnya Jimin mengikuti langkah dansanya.

Jimin terkekeh lagi sambil dengan susah payah mengikuti gerakan kaki Yoongi, "Aku akan menginjak kakimu, aku tidak pernah berdansa sebelumnya."

Yoongi ikut terkekeh dan mereka tertawa bersama-sama. Lalu tiba-tiba saja mata mereka bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi sensual.

Dan ketika Yoongi menundukkan kepala untuk mencium bibir Jimin. Jimin memejamkan mata.

Bibir itu mulanya terasa dingin,menyentuh bibir Jimin yang lembut . Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Jimin, dan memagut bibir bawah Jimin. Yoongi menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin Jimin menerimanya, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Jimin supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Jimin erat-erat dan melumat bibirnya.

Ciuman Yoongi sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu melumat bibir Jimin dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Jimin membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Jimin dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.

Ketika Yoongi melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Jimin, penuh gairah,

"Aku ingin memilikimu, Jimin." Bisiknya dengan suara parau. Logat asing terdengar kental di suaranya, membuktikan kalau lelaki itu sedang terbawa gairahnya.

Dan bagaimana mungkin Jimin menolak ajakan sensual itu? Mata Yoongi begitu dalam, menghipnotisnya, dan Jimin seolah tenggelam di sana, kehilangan daya dalam jebakan sensual yang luar biasa panas.

Yoongi mengangkat tubuh Jimin seolah Jimin sangat ringan, lalu membawanya menaiki tangga menuju kamarnya.

Kesan pertama Jimin atas kamar Yoongi adalah kamar itu begitu gelap. Nuansanya hitam, cokelat, dan abu-abu. Sangat lelaki. Tubuhnya dibaringkan dengan lembut di atas seprai sutra berwarna hitam pekat. Dan lelaki itu lalu berbaring di sebelahnya, memeluknya.

"Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau." Yoongi mengangkat dagu Jimin supaya menatap matanya yang dalam, "Kau bisa pergi kalau kau berubah pikiran. Tetapi kalau kau memutuskan iya. Maka kau tidak bisa mundur lagi."

Jimin menatap Yoongi dan berpikir. Yoongi begitu baik kepadanya selama ini. Hanya Yoongi yang ada dalam hidupnya sebulan terakhir ini, dan Jimin hampir yakin kalau dia mencintai lelaki ini. Suasana malam ini begitu mistis, dan Jimin ternggelam ke dalam godaan sensual. Dia siap. Meskipun mungkin dia akan menyesal keesokan harinya, tetapi malam ini dia siap.

Yoongi sepertinya membaca pancaran dari.mata Jimin, lelaki itu mengerang, lalu melumat bibir Jimin lagi dengan bergairah, lumatannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Jimin, menjilat dan memainkannya dengan lidahnya, mencecap rasanya.

"Ah ya Ampun, akhirnya aku memilikimu sayang." Yoongi mengerang parau. Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Jimin, terus menurunkannya sampai ke pinggang, melepaskan bra Jimin dengan cekatan sehingga buah dada Jimin yang ranum terpampang di depannya,

"Ah... indahnya.. Jimin yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan sayang..." jemari Yoongi bergerak lembut dan menyentuh puting payudara Jimin, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut. Jimin mengerang, merasakan keintiman baru yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

"Yoongi... jangan... jangan disitu." Jimin mengerang merasakan rasa panas menyerangnya, di putingnya yang sekarang menegak kaku dan payudaranya yang mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.

Yoongi mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Jangan di sini katamu?" senyumnya polos dan sensual. Lelaki itu menjilat puting Jimin sambil lalu kemudian meniupnya lembut, "Apa Jimin? Katakan lagi... kau bilang jangan di situ?"

"Oh.. ya Yoongi.. yaa... di situ Yoongi." Jimin mengerang putus asa, putingnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Yoongi yang panas dan lidahnya yang menggoda.

Dan Yoongi mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Jimin tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap puting Jimin dengan penuh gairah, memuja payudara Jimin bergantian, membuat tubuh Jimin menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendamba.

Jemari Yoongi bergerak dan menuju pusat gairah Jimin, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika putingnya dihisap dengan penuh gairah oleh Yoongi. Jemari itu menelusup menyingkap gaunnya dan menyusup ke balik celana dalam berendanya, dan menyentuh kewanitaannya. Dengan ahlinya Yoongi menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sensitif di tubuh Jimin.

Jemari Yoongi mengusapnya pelan dan tubuh Jimin seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang. Mata Yoongi mengamati setiap reaksi Jimin dengan penuh gairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Jimin dan kemudian melakukan usapan memutar. Erangan Jimin makin kencang, membuat mata

Yoongi berkabut penuh gairah.

"Jimin yang tidak pernah disentuh sebelumnya…." Lelaki itu menunduk ke telinga Jimin dan berbisik parau, "Biarkan aku memuaskanmu." Dicumbunya telinga Jimin membuat gadis itu menggeliat penuh gairah. Dan kemudian dengan cekatan Yoongi menelanjangi Jimin, membuat Jimin terbaring tanpa busana di atas ranjang berseprai sutra hitamnya. Tampak siap dan menggairahkan bagaikan Dewi Amor yang dikirim dari khayangan untuk memuaskannya.

Yoongi tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gairah. Tapi dia tahu bahwa dia harus berhati-hari. Jimin masih perawan dan Yoongi harus menjaga supaya Jimin terus larut dalam godaan gairahnya. Yoongi akan terus menggoda Jimin sampai tiba saatnya tubuh perempuan itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.

Dengan penuh gairah dan keahlian, Yoongi mencumbu Jimin, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Jimin, di lehernya, pundaknya, payudaranya, perutnya, pinggulnya, dan... Jimin menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh kewanitaannya.

Lelaki itu mencumbu kewanitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Jimin. Lidah Yoongi mengusap titik paling sensitif di kewanitaan Jimin dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Jimin memekik atas sensasi yang dirasakannya.

Ketika Yoongi memutuskan bahwa Jimin sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga telanjang di depan Jimin. Jimin menatap Yoongi dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Yoongi tampak sangat...

jantan... oh Astaga... Jimin tidak pernah melihat kejantanan lelaki sebelumnya dan dia.. perasaan di dalam dirinya tidak bisa dijelaskan... tiba-tiba Jimin merasa takut.

Yoongi rupanya melihat rasa takut di mata Jimin. Lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Jimin dengan lembut, kemudian bergantian mengecup mata, dahi, dan pucuk hidung Jimin dengan tak kalah lembutnya,

"Jangan takut sayang... aku... aku tahu ini pengalaman pertamamu dan aku mungkin akan menyakitimu.. tapi kau harus percaya kalau aku akan menjagamu."

Jimin percaya. Kelembutan di mata Yoongi membuatnya percaya, karena itu, ketika lelaki itu menempatkan diri di antara kedua pahanya, Jimin membuka dirinya untuk Yoongi, lelaki itu setengah menindihnya. Jimin bisa merasakan kejantanannya yang besar dan keras menggesek kewanitaannya, membuatnya menggeliat oleh sensasi asing yang aneh.

Yoongi menatap Jimin lembut, tapi ada api di sana, menatapnya dengan penuh gairah, nafasnya sedikit terengah, sementara pinggulnya bergerak lembut, memperkenalkan bagian dirinya yang keras dan bergairah kepada Jimin.

"Rasanya akan sakit.." Yoongi berbisik parau, "Kau boleh mencakarku atau mengigitku untuk melampiaskan sakitmu, tetapi kau harus tahu, betapapun sakitnya itu, aku tidak akan berhenti... bukan karena aku ingin menyakitimu, tetapi karena aku harus melakukannya...

kau mengerti Jimin?"

Jimin menganggukkan kepalanya, menatap Yoongi percaya. Lelaki itu lalu mendesakkan pinggulnya pelan-pelan, berusaha membuka pintu untuk memasuki kewanitaan Jimin. Tetapi Jimin terasa sangat sempit sehingga Yoongi harus mendesakkan dirinya berkali-kali dengan kewalahan. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Yoongi menekankan dirinya dengan kuat, membuat Jimin merasakan rasa nyeri yang amat sangat di kewanitaannya.

Jimin menjerit, mencakar lengan Yoongi meminta lelaki itu berhenti. Tetapi Yoongi tidak bisa berhenti. Dia menemukan penghalang itu, dan dia harus menembusnya. Akhirnya dengan satu tekanan kuat, penghalang itu terkoyak, diiringi erangan kesakitan Jimin.

Mereka berbaring bersama dalam diam. Yoongi sudah membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Jimin, menyatu sepenuhnya, tetapi lelaki itu tidak bergerak, memberi kesempatan Jimin untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Dikecupnya air mata yang keluar dari sudut mata Jimin,

"Maafkan aku... aku tidak bermaksud menyakitimu." Yoongi berbisik pelan sambil mengecup bibir Jimin lembut.

Jimin membuka matanya dan menatap Yoongi, menemukan kelembutan dan penyesalan di sana. Air matanya turun dan Yoongi mengecupnya lagi.

"Aku akan bergerak lagi." Suara Yoongi serak, "Mungkin pada awalnya akan tidak nyaman.." lelaki itu menggerakkan pinggulnya, membuat Jimin mengernyit.

"Sakit sayang?" Yoongi memandang Jimin cemas. Tetapi Jimin sudah tidak begitu merasakan sakit lagi, tubuhnya menerima tubuh Yoongi di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas, dia menggelengkan kepalanya. Yoongi tersenyum menerima jawaban Jimin, dia menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gairah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal,

"Oh ya ampun, kau rapat sekali Jimin... kau membungkusku dengan begitu rapat..."

Yoongi berbisik parau penuh gairah, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Pinggul Jimin bergerak mengikuti Yoongi membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sensasi gerakan tubuh Yoongi pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya. Jimin akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan samar dia mendengar Yoongi mengerang, lelaki itu meledak di dalam tubuhnya dan memeluknya erat-erat.

Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi euforia dan orgasme yang luar biasa dasyat. Yoongi memeluk Jimin erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Jimin yang telanjang, merapatkan tubuh perempuan itu ke dalam lindungan dada bidangnya.

Jimin menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan dada Yoongi, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Orgasme membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Yoongi penuh cinta, "Aku mencintaimu Min Yoongi."

Tatapan Yoongi kepadanya tampak lembut dan penuh haru, "Aku juga Jimin, aku mencintaimu."

Dan mereka tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta,

Jimin terbangun ketika merasakan pundaknya dikecupi dengan penuh gairah. Payudaranya diremas dengan lembut tetapi menggoda. Suasana kamar itu gelap karena lampu-lampu sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang menembus jendela kaca yang belum ditutup memancarkan cahaya temaram memasuki kamar.

Pria yang mencumbunya ini sangat bergairah. Jemarinya menggoda Jimin, dari dada turun ke kewanitaannya dan memakinkannya di sana dengan sangat ahli, dengan sangat bergelora. Bibirnya yang panas mencumbui sisi telinga dan leher Jimin. Membuat Jimin makin terjaga, dan kemudian tersadar bahwa dia sedang bersama Yoongi yang dicintainya.

"Yoongi?" Jimin mengelus punggung Yoongi yang sudah mulai menindihnya. Lelaki itu menempatkan dirinya di antara paha Jimin dan menyentuhkan kejantanannya yang sudah sangat keras ke sela paha Jimin.

Yoongi tampak terlindungi bayangan gelap dalam temaramnya kamar. Dalam pengelihatannya yang masih mengantuk, Jimin melihat Yoongi tersenyum samar. Tatapan lelaki itu tampak tajam, membuat Jimin ketakutan sekejap, tetapi ditepiskannya

ketakutannya itu. Mungkin kegelapan yang meliputi Yoongi mebuat lelaki itu tampak menakutkan, tetapi Jimin yakin Yoongi tidak akan menyakitinya. Yoongi mencintainya juga, dan lelaki itu akan menjaganya. Di pejamkannya matanya, dan dibukanya pahanya untuk Yoongi.

Suga tersenyum dengan penuh gairah sambil menatap Jimin yang memejamkan matanya. Bayangan gelap melingkupi tubuhnya.

"Kau akan menikmatinya sayang... dan kita baru saja mulai." Bisiknya parau, lalu menenggelamkan dirinya dalam-dalam di tubuh Jimin. Perempuan yang sangat diinginkannya.

to be continued-

notes author :

hello readers-nim, disini saya cuma mau minta maaf karena gak bisa konsisten buat update seminggu sekali. maafkaaann /deep bow. but sebisanya bakal update cepet. kalau gak gitu ya update double kayak sekarang, lol. thanks a lot buat yg udah review, favorite, follow cerita ini ya~ gamsahamnida, saranghamnida kkk~ at least, I don't own this story, I just remake this into my fav couple, yoonmin *yeay. rencananya juga sih bakalan post ff baru, tapi ga tau kapan. do'ain secepatnya ya guys.

thank you so much~~

yuanlie-