From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 7
Jimin sedikit mengernyit ketika menatap Yoongi yang tiba-tiba berbeda. Lelaki itu tampak begitu bergairah, tatapan matanya seolah akan melahapnya hidup-hidup dan meskipun kegelapan meliputi sosok lelaki itu, Jimin bisa merasakan nafsunya yang meluap-luap.
Dengan penuh nafsu, Yoongi memposisikan dirinya di tengah paha Jimin, kemudian meluncur masuk tanpa permisi, menyatukan dirinya. Jimin mencengkeram pundak Yoongi, sejenak menahan perasaan tidak nyaman, karena ini baru kedua kalinya Yoongi memasukinya. Tetapi lelaki itu tidak mau menunggu, dia menggerakkan tubuhnya dengan penuh gairah, seakan begitu kehausan dan akan mati kalau tidak dipuaskan.
Gerakan Yoongi sedikit kasar, lelaki itu mengecupi seluruh wajah Jimin, lalu bibirnya melumat bibir Jimin dengan penuh gairah, melahapnya tanpa batas. Bibirnya melumat bergantian bibir atas Jimin dan bibir bawah Jimin, menyesapnya, menghisapnya, mengulumnya dan menikmatinya sesukanya. Lalu lidahnya menelusup masuk begitu dalam dan inten. Ciuman itu menyatukan bibir dan lidah mereka, lalu bergerak menggoda, seiring dengan gerakan pinggul lelaki itu yang semakin cepat di bawah sana.
Percintaan itu keras dan cepat. Yoongi tidak lembut lagi, tetapi setidaknya dia membawa Jimin ke puncak kenikmatan dengan cepat dan meledak, hingga Jimin hampir tak sadarkan diri ketika akhirnya Yoongi mencapai puncak kepuasan, sekali lagi meledakkan dirinya dalam-dalam jauh di dalam tubuhnya.
Napas mereka terengah-engah dengan tubuh yang berkeringat. Jimin membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata tajam itu. Yoongi menatapnya seakan menembus hatinya. Lelaki itu tampak berbeda... tiba-tiba perasaan takut itu datang lagi, membuat Jimin begidik dan merasakan dorongan untuk menjauh. Tetapi Yoongi tiba-tiba saja meraih pinggangnya dan membalikkannya supaya membelakanginya. Lelaki itu menempelkan kejantanannya yang mengeras di bagian belakang pinggul Jimin. Jemarinya menelusur penuh gairah, menyentuh paha Jimin dan mengangkatnya ke atas...
"Yoongi...?"
"Aku belum puas sayang, malam ini belum selesai untuk kita..."
Lelaki itu menyelipkan dirinya dari belakang dan menyatukannya lagi dengan kewanitaan Jimin. Dia menggerakkan tubuhnya lagi penuh gairah. Membawa Jimin kembali naik ke dalam pusaran yang makin lama makin membawa kesadarannya.
Yoongi benar, malam itu seakan tidak ada ujungnya, gairah Yoongi seakan tidak ada
habisnya untuk Jimin.
Yang tidak Jimin sadari... sepanjang sisa malam itu, dia bercinta dengan Suga.
Jimin menggeliat ketika terbangun dari tidurnya. Dan langsung merasakan rasa tidak enak yang amat sangat. Kewanitaannya terasa tidak nyaman dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Dia membuka matanya dan mengernyit. Kemudian baru menyadari bahwa Yoongi masih ada di sebelahnya. Lelaki itu masih telanjang dengan selimut putih membungkus pinggangnya, dia berbaring miring dengan bertumpu siku dan telapak tangannya menopang kepalanya. Lelaki itu tampaknya sudah mengamati Jimin dari tadi, matanya tampak sedih.
Jimin berbaring diam, tiba-tiba merasa malu. Semalam mereka begitu intim dan diliputi gairah. Dan sekarang ketika mereka terbangun dengan logika. Jimin sangat malu dengan ketelanjangan mereka yang diterangi sinar matahari yang menyusup remang-remang dari jendela. Tetapi sepertinya Yoongi tidak merasakan itu. Jemarinya menelusuri leher Jimin, lalu menurunkan selimutnya ke buah dadanya, jemarinya menelusur di sana, mengusap dengan lembut ke buah dada dan turun ke perutnya, selimutnya makin diturunkan ke bawah, ke pahanya... dan Jimin melihat, semakin jauh selimutnya turun, mata Yoongi tampak semakin sedih.
"Maafkan aku." Akhirnya lelaki itu bersuara, pekat, penuh kepedihan. Membuat Jimin mengernyitkan dahinya.
"Untuk apa?"
Yoongi menghela napasnya dengan berat, dia lalu mengecup bibir Jimin lembut, dan mengelus pipinya, "Untuk semua kekasaranku... ini... bekas-bekas ini... Oh Astaga, aku minta maaf Jimin.."
Jimin menatap Yoongi bingung, lalu dia menundukkan kepalanya dan menatap tubuhnya yang tadi di elus oleh Yoongi. Matanya membelalak, ada bekas-bekas merah ciuman di tubuhnya, dan juga beberapa memar di lengan dan pahanya, mungkin akibat cengkeraman yang terlalu keras. Tetapi Jimin semalam tidak merasakannya, dia terlalu larut dalam gairah, hingga tidak menyadari kalau sentuhan dan ciuman Yoongi terlalu keras sehingga menimbulkan bekas. Mungkin hal inilah yang menyebabkan tubuhnya terasa pegal dan tidak nyaman ketika bangun pagi tadi.
"Aku kasar dan melukaimu...kau memar-memar seperti ini." Yoongi menarik Jimin ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat, "Maafkan aku Jimin."
Jimin membalas pelukan Yoongi,"Tidak apa-apa Yoongi,.toh aku tidak menyadarinya semalam."
"Maafkan aku menyebabkanmu harus mengalami ini." Lelaki itu tampaknya tidak mendengar kata-kata Jimin. "Maafkan aku."
Jimin tertegun. Yoongi tampak merasa sangat bersalah karena melukainya. Semalam memang lelaki itu tampak aneh. Dipenuhi dengan gairah yang sepertinya tidak bisa ditahankan lagi, mungkin gairah itu pula yang menyebabkan Yoongi terlalu kasar, lelaki itu tidak sengaja... Tetapi sekarang Yoongi tampak begitu membenci perbuatannya, tampak begitu jijik kepada dirinya sendiri. Membuat Jimin langsung memeluknya dengan lembut,
"Aku tidak apa-apa Yoongi."
Dan Yoongi terdiam. Tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Kau brengsek." Yoongi menatap bayangan Suga di cermin. "Kau memperlakukannya seperti pelacur."
Suga mengangkat alisnya, "Aku memang seperti itu kalau bercinta. Lagipula... kau tidak bisa menyalahkanku, aku sudah lama tidak bercinta. Apalagi aku sudah menunggu lama untuk memiliki Jimin, bukan salahku kalau aku terlalu bergairah dan sedikit melukainya."
"Sedikit katamu?" Yoongi menggeram, mengernyit pahit ketika mengingat pemandangan tubuh Jimin tadi pagi. Hatinya langsung hancur, menyadari bahwa Jimin dilukai, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Seluruh tubuh Jimin memar dan merah penuh bekas ciuman dan cengkeramanmu, aku yakin kewanitaaanya juga terasa sakit meski dia menutupinya darimu. Kau seperti binatang Suga! Dia baru kehilangan keperawanannya, Demi Tuhan!"
"Ah ya..." Suga tertawa, "Dan kau harusnya berterimakasih kepadaku, karena aku memberikan kesempatan untuk mengambil keperawanan Jimin kepadamu. Aku hanya mendapatkan sisanya. Yoongi. Jadi aku mengambil semuanya."
"Brengsek!" Yoongi menggeram marah, tinjunya melayang ke arah kaca, menghancurkannya. Membuat bayangan Suga terpecah menjadi kepingan kecil-kecil. Tetapi Suga tidak terpengaruh. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak, menertawakan luapan emosi Yoongi,
"Hati-hati Yoongi." Suga bergumam di sela tawanya, "Kau tahu kalau kau marah, aku akan
menguasai tubuh ini."
"Tuan melukai tangan Tuan begitu dalam." Hoseok mencabut hati-hati serpihan kaca di buku jari Yoongi, setelah yakin tidak ada kaca lagi, dia membasuh luka Yoongi dengan alkohol dan antiseptic lalu membalut luka itu. "Anda tahu, anda harus menahan kemarahan anda."
"Aku tahu. Kalau aku marah atau tidak bisa mengendalikan emosi, aku akan lengah dan Suga menjadi kuat." Yoongi mencoba menggerakkan tangannya yang diperban, lalu mengernyit ketika merasakan sakit, "Kemarin malam aku lengah... dan Suga melukai Jimin."
"Anda tidak bisa menyalahkan diri anda. Kehadiran Jimin membuat tuan Suga semakin kuat."
"Ya aku tahu. Seharusnya aku menjauhkan Jimin dari diriku... tapi aku.. aku mencintainya Hoseok." Suara Yoongi menjadi tersiksa. "Aku tahu kalau dia berada dekat denganku, dia akan ada dalam bahaya... tetapi aku begitu egois tidak bisa jauh darinya. Apa yang harus kulakukan Hoseok?"
Hoseok mengamati tuannya dengan sedih. Dia juga tidak tahu. Tuannya ini telah menanggung penderitaan sejak lama karena kehadiran Suga yang begitu kejam di dalam dirinya. Tetapi mereka adalah satu kesatuan. Satu tubuh, dua kepribadian yang bertolak belakang. Tuan Yoongi sangat baik, sayangnya alter egonya... sangat jahat.
Yoongi menghela napas panjang, menatap Hoseok dengan hati-hati lalu berucap misterius kepada Hoseok. "Lakukan apa yang harus kaulakukan pada saatnya nanti Hoseok..."
Taehyung mengamati rumah Jimin dari dalam mobilnya. Dia sudah tahu bahwa rumah itu kosong dan dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tetapi dia ingin datang hari ini dan mencoba menemukan petunjuk.
Kenapa Jimin menghilang setelah kematian ibunya di rumah milyuner itu? Apakah Jimin tahu identitasnya sudah terbongkar sehingga dia bersembunyi dari wartawan? Tetapi bersembunyi di mana? Taehyung sudah mencoba mencari di semua orang yang mungkin berhubungan dengan Jimin, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu di mana perempuan itu berada.
Ketika seorang lelaki tua penjual sayur keliling lewat, dan berhenti untuk beristirahat sambil berteduh di perempatan dekat rumah Jimin, Taehyung langsung turun dari mobilnya dan menghampiri.
"Saya ingin bertamu ke teman saya di rumah ini. Tetapi rumahnya kosong." Taehyung menunjuk ke arah rumah Jimin.
Pedagang sayur itu menengok ke rumah Jimin dan tersenyum, "Maksud anda Nona Jimin?"
"Ya. Apakah anda mengenalnya?"
"Saya sudah berdagang di kompleks ini lebih dari tujuh tahun. Saya mengenal Nona Jimin bahkan saat kakek neneknya masih hidup. Dia perempuan yang baik, ramah pada orang tua." Pedagang itu tersenyum mengenang Jimin.
"Anda tahu dia kemana? Tidak ada kabar darinya, dan rumahnya kosong."
"Mungkin dia sedang bersama ibunya?"
Taehyung langsung mengejar, berharap kalau pedagang sayur itu tahu sesuatu, "Kenapa anda bilang begitu?"
Pedagang itu rupanya tidak mengikuti perkembangan berita artis dan hiburan, dan dia sepertinya tidak tahu kalau Jin, artis yang sangat terkenal itu adalah ibu Jimin. Pria itu mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat, "Terakhir saya bertemu Nona Jimin dia berbelanja sedikit. Anda tahu dia selalu berbelanja bahan makanan kepada saya, saya menanyakannya, dan kata nona Jimin dia akan pergi beberapa lama bersama ibunya untuk berkenalan dengan calon ayahnya."
Itu informasi yang sangat membantu. Taehyung merenung setelah pedagang sayur itu pergi dan dia kembali ke mobilnya. Tidak ada yang pernah menebak hal itu. Bahwa Jimin pergi bersama ibunya untuk menginap di rumah milyuner bernama Min Yoongi itu. Kalau hal itu benar-benar terjadi... berarti Jimin ada di dalam rumah itu ketika kematian ibunya terjadi? Tetapi kenapa tidak ada yang tahu kehadirannya? Bahkan di pemakaman dia tidak muncul. Para wartawan yang sempat berkemah di depan rumah Yoongi pun tidak bisa menyadari kehadirannya. Sepertinya ada misteri yang tersembunyi di sini. Apakah Yoongi menyembunyikan Jimin di balik rumah besarnya yang berpagar tinggi?
Taehyung menjalankan mobilnya, dan mengarahkannya ke rumah Yoongi dengan penuh tekad. Dia harus bisa mencari tahu apa yang ada di balik pagar yang tinggi itu.
"Astaga... kau terluka." Jimin menyentuh jemari Yoongi yang dibalut perban, "Kenapa?"
Yoongi menggelengkan kepalanya, "Luka ini tidak apa-apa, aku mengalami kecelakaan kecil tadi." Tatapannya berubah lembut ketika menelusuri seluruh tubuh Jimin, "Kau sendiri, bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa?"
Bercinta dengan Yoongi sangat menguras energi. Pipi Jimin memerah ketika mengingat itu, dan memang memar-memar dan bekas ciuman di sekujur tubuhnya membuatnya bingung, tetapi Yoongi sudah meminta maaf bukan pagi itu?
"Aku baik-baik saja Yoongi."
Tatapan Yoongi kembali sedih, lelaki itu menyentuhkan jemarinya di pipi Jimin, mengelusnya lembut, "Aku jadi takut bercinta denganmu lagi, aku takut menyakitimu."
"Apakah kau selalu sekasar itu kalau bercinta?" Jimin mengernyit. Yoongi berkata seolah-olah bercinta dengan kasar itu ada di luar kendalinya.
Pertanyaan Jimin membuat Yoongi tertegun. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, "Tidak... bukan begitu.. aku hanya terlalu bergairah, jadi mungkin aku tidak bisa menahan diri." Dikecupnya bibir Jimin lembut. "Kau harus tahu Jimin, hal terakhir yang ada di pikiranku adalah menyakitimu."
Jimin mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada Yoongi, "Aku percaya, Yoongi.."
Ketika Taehyung sedang mengamati rumah Yoongi di sudut yang tak terlihat, jendela kacanya diketuk. Dia menoleh dan mengernyitkan keningnya melihat sosok lelaki tua berpakaian rapi berdiri di sana. Diturunkannya kaca jendelanya.
"Ya? Ada apa?"
Lelaki tua itu tampak serius, dia melirik ke arah rumah mewah milik Min Yoongi dan menundukkan tubuhnya supaya jelas melihat Taehyung, "Anda Taehyung wartawan investigasi yang saya tahu punya reputasi bagus. Maaf, saya menyelidiki anda sebelumnya." Hoseok menghela napas panjang, "Saya adalah kepala pelayan di rumah Tuan Min Yoongi...
saya punya informasi untuk anda. Tetapi sebagai gantinya saya ingin meminta tolong anda melakukan sesuatu."
"Melakukan apa?", Taehyung langsungtertikketika mengetahui adaorang dalam yang ingin memberikan informasi.
Hoseok melirik ke kanan dan kiri, tampak tak nyaman berdiri di luar mobil Taehyung, "Boleh saya masuk? Tidak aman bagi saya untuk berdiri di sini dan bercakap-cakap dengan anda."
Sejenak Taehyung ragu. Dia menatap Hoseok lagi, tetapi kemudian menyimpulkan bahwa lelaki itu adalah lelaki baik-baik. Dia membuka kunci pintu mobilnya. Bunyi 'klik' terdengar dan Hoseok melangkah masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Taehyung. "Sekarang bagaimana?", tanya Taehyung kemudian.
"Mohon jalankan mobil anda menjauh dari rumah ini. Saya akan menjelaskan semuanya kepada anda di perjalanan."
Hoseok tidak menjelaskan semuanya kepada Taehyung, informasi yang diberikannya kepada Taehyung hanyalah kebohongan yang bisa memberikan alasan kepada Taehyung untuk membantunya. Tuan Yoongi telah menyuruhnya mencari orang yang dipercaya untuk membawa Jimin kabur kalau tiba waktunya Suga menguasai tubuhnya. Dia harus menyelamatkan Jimin dari Suga. Tetapi Tuan Yoongi melarangnya memberitahukan semua rencananya kepadanya. Hoseok harus merencanakan semuanya sendiri, dan menjaga jangan sampai Tuan Yoongi tahu, karena kalau Tuan Yoongi tahu, Suga kemungkinan besar juga tahu.
Rencana ini mengancam nyawanya, Hoseok tahu itu. Tetapi dia tidak peduli. Anak, menantu, dan cucunya sudah dimintanya pindah jauh ke tempat yang semoga tidak terdeteksi oleh Suga. Hoseok telah memutuskan hubungan dengan mereka. Dia telah mengucapkan selamat tinggal dalam perpisahan yang haru. Toh usianya tidak akan lama lagi, dia sudah tua dan siap mati demi kesetiaannya kepada Tuan Yoongi.
Sekarang tinggal meyakinkan Taehyung untuk membantunya. "Nona Jimin terjebak di rumah Tuan Yoongi, dia menahannya. Karena Tuan Yoongi ingin menjadikan nona Jimin sebagai pengganti Ibunya." Hoseok menyelesaikan kebohongannya, "Saya meminta bantuan anda untuk membantu Nona Jimin melarikan diri, Karena saya tidak bisa melakukannya, saya sudah terlalu tua dan Tuan Yoongi pasti akan bisa melacak saya. Bawa nona Jimin menjauh dari rumah ini. Dari kota ini kalau perlu. Saya tahu anda mempunyai banyak koneksi yang bisa membantu anda, dan anda bisa pergi kemana saja tanpa ketahuan, karena itulah saya meminta bantuan anda untuk membantu Nona Jimin kabur ke luar negeri kalau perlu."
Ini akan menjadi berita yang luar biasa bagus. Taehyung menghela napas panjang. Merasa
senang, "Kalau aku melakukan .kudapatkan?"
"Anda tidak boleh memuat berita tentang pelarian Jimin atau obsesi Tuan Yoongi untuk membuatnya menjadi pengganti ibunya." Hoseok tampak serius, "Kalau anda melakukannya, saya akan menyangkal semua pemberitaan anda, dan Tuan Yoongi bisa membuat anda kehilangan kredibilitas dengan menuntut anda atas pencemaran nama baik."
"Lalu aku dapat untung apa?" Taehyung mengernyit, mulai merasa bingung atas kesepakatan ini.
"Anda akan mendapatkan berita ekslusif mengenai siapa ayah kandung Jimin. Siapa laki-laki yang menghamili Jin di masa mudanya. Berita itu akan menguntungkan anda."
Wah. Itu baru luar biasa. Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai, " Oke deal. Jadi siapa ayah kandung Jimin?"
Hoseok menggelengkan kepalanya. "Seseorang akan mengirimkan semua berkasnya ke kantor anda. Nanti setelah anda berhasil membantu Nona Jimin. Sebelumnya anda harus membantu Nona Jimin melarikan diri dulu dan menolongnya ke luar kota, kalau perlu ke luar negeri. Anda bisa meminta bantuan koneksi anda yang banyak." Lelaki itu mengeluarkan amplop cokelat yang besar dan tebal dari dalam jasnya. "Saya tidak bisa menggunakan cek atau rekening bank karena itu akan terlacak, jadi maafkan saya menggunakan uang tunai. Ini uang untuk proses membantu Nona Jimin melarikan diri. Semoga cukup." Hoseok meletakkan amplop itu di dekat perseneling di antara kedua kursi.
Koneksiku memang banyak dan pekerjaan ini tampaknya mudah, dia tinggal meminta bantuan teman-temannya untuk menyembunyikan Jimin dan kemudian membantunya kabur ke luar negeri, itu gampang. Apalagi amplop cokelat itu tampaknya sangat tebal, uang akan memuluskan sehalanya... Taehyung membatin sambil melirik amplop cokelat itu. Tapi Hoseok tampak begitu ketakutan seakan kabur dari Min Yoongi adalah hal yang sangat sulit,
"Apakah Min Yoongi sebegitu hebatnya?" Taehyung bertanya.
Dan Hoseok mengangguk tanpa ragu. "Dia sangat hebat. Anda harus sangat berhati-hati. Kalau menginginkan sesuatu dia akan mengejarnya sampai dapat. Saya mohon lindungi Nona Jimin sampai dia bisa kabur, surat berisi berkas-berkas tentang ayah kandung Nona Jimin sudah saya siapkan di brankas rahasia di sebuah bank. Orang kepercayaan saya akan mengirimkannya kepada anda segera setelah anda berhasil menyelamatkannya." Hoseok mengisyaratkan Taehyung untuk menepi dan lelaki itu melakukannya, dia meminggirkan mobilnya di tepi trotoar dekat kawasan perdagangan, Hoseok tersenyum kepada Taehyung, mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya, "Terima kasih atas kerjasama anda Taehyung. Nanti kalau ternyata terjadi sesuatu kepada saya sehingga saya tidak bisa bertemu anda
lagi, anda tahu betapa saya menghargaibantananda ."
Lalu lelaki tua itu keluar mobil dan melangkah pergi. Taehyung memandang sampai Hoseok menghilang di keramaian. Dahinya mengernyit ketika dia melirik amplop cokelat itu. Diambilnya, dan diintipnya.
Semuanya dalam dolar amerika. Dan mengingat banyaknya tumpukan di dalamnya,
jumlahnya mungkin ada puluhan ribu dolar...
Yoongi merasakannya. Dia sudah tidak mampu menahannya. Suga begitu kuat, mendesak untuk menguasai tubuhnya. Yoongi sudah sekuat tenaga menahannya. Dia tidak mau Jimin menghadapi sosoknya yang mengerikan ini. Sosok kejam Suga. Jimin pasti akan langsung membencinya.
Jauh di dalam sana Suga tertawa mengejek. "Kau bodoh karena terperangkap perasaan Yoongi, cinta hanya akan memberatimu. Sekarang kau makin lemah karena kau jatuh cinta."
"Diam kau!" Yoongi mencoba menghilangkan bisikan-bisikan Suga di dalam sana. "Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Jimin."
"Jimin milikku." Suga mengucapkannya dengan yakin seakan itu sebuah kebenaran absolut. "Kau tidak akan bisa menyingkirkannya dariku Yoongi, apapun rencanamu, aku akan mendapatkannya. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu dibantu oleh si Tua Hoseok, kalian tidak akan berhasil. Jimin akan menjadi milikku."
"Dia mencintaiku. Bukan dirimu." Yoongi menggeram marah.
"Aku tidak membutuhkan cinta dari Jimin, silahkan. Miliki saja cintanya." Suga terkekeh, "Aku butuh tubuhnya untuk memuaskanku, aku butuh dia tak berdaya di tanganku, jatuh di bawah kuasaku dan tidak berdaya."
"Kau gila!"
"Itu sudah bukan rahasia Yoongi..." Suga tersenyum kejam. "Kegilaanku, dan hasrat ingin membunuh ini sebenarnya milikmu juga. Apa kau sudah lupa? Kita ini satu. Dan mengingat kita ini satu... apakah Jimin masih bisa mencintaimu kalau tahu bahwa kitalah yang membunuh seluruh keluarganya? Kakek dan nenek dari pihak Jin, kakek dan nenek dari pihak Namjoon, dan kedua orang tuanya, Jin dan Namjoon. Jimin pasti akan sangat membencimu dan kehilangan cintanya kepadamu seketika kalau dia tahu."
Yoongi mengernyit, merasakan kepalanyaberdentam -dentam. "Kauyang melakukan semua kejahatan keji itu. Bukan aku, dasar Iblis!"
"Aku melakukannya dengan tanganmu, Yoongi. Ingat itu. Kita ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua."
Suga tertawa. Dan saat itulah Yoongi merasakan semuanya menjadi gelap. Ia berusaha menggapai dan menahan, tetapi Suga terlalu kuat dan mendesaknya hingga dia menyerah.
"Jimin.." Nama itu terucap di bibirnya sebelum kesadarannya hilang...
Yoongi mengurung dirinya di ruang kerjanya sejak tadi. Lelaki itu bahkan tidak turun untuk makan siang. Jimin mengernyit. Ada apa sebenarnya? Tiba-tiba saja Jimin merasa sangat cemas. Yoongi tampak pucat dan aneh di pertemuan mereka terakhir tadi. Lelaki itu menatap Jimin seolah mereka akan berpisah lama.
Jimin hendak melangkah dan mengetuk pintu ruang kerja Yoongi ketika dia berpapasan dengan Hoseok. Lelaki itu mengenakan baju biasa, bukan seragam pelayannya. Tampaknya dia baru pulang dari berpergian.
"Nona Jimin..." Hoseok membungkukkan badannya dengan sopan. "Apa kabar. Kenapa anda sendirian? biasanya Tuan Yoongi menemani anda siang-siang begini?"
Jimin melirik ke arah ruang kerja Yoongi, kemudian menatap Hoseok dengan bingung. "Itulah yang ingin kutanyakan Hoseok, Yoongi mengurung dirinya sejak tadi di ruang kerjanya, apakah mungkin dia sakit? Tangannya tadi terluka dan aku mencemaskannya."
Hoseok tertegun, tampak waspada. Matanya melirik ke arah pintu ruang kerja tuannya. Apakah sudah saatnya? Tuan Yoongi bilang dia berusaha mengendalikan Suga sekuat tenaga meskipun dia tidak yakin akan menang. Suga bertekad kuat memiliki Jimin dan dia semakin kuat. Tuannya bilang dia akan mengurung diri dan mencoba menahan Suga. Apakah sekarang Tuan Yoongi sedang melawan Suga di dalam sana? Jantung Hoseok berdebar kencang. Ini lebih cepat dari perkiraannya. Dia belum menyiapkan Nona Jimin untuk rencana melarikan dirinya. Well, Hoseok harus bertindak cepat kalau ingin semuanya lancar.
"Nona Jimin." Hoseok berbisik lirih, memandang cemas ke arah pintu ruang kerja tuannya lagi, "Kalau boleh saya ingin berbicara dengan anda. Penting."
Jimin mengernyitkan dahinya ."Tentang apa Hoseok?"
"Silahkan anda ikut saya." Hoseok mengajak Jimin ke arah dapur. Di sana ada ruang bawah tanah untuk menyimpan persediaan anggur. Lebih aman di bawah sana, karena Tuan Yoongi dan Suga hampir tidak pernah ke area dapur.
Mata Jimin membelalak kaget. Wajahnya pucat pasi.
"Kepribadian ganda? Apakah kau serius Hoseok?"
Sang kepala pelayan sudah tidak mampu mempertahankan ekspresi datarnya. Dia sudah menceritakan semua kepada Jimin, mengenai Yoongi dan alter egonya yang jahat, yang bernama Suga.
"Anda tentunya menyadari bahwa kadang-kadang Tuan Yoongi tampak begitu berbeda. Alter egonya...Tuan Suga sangat kejam dan dia membawa aura menakutkan itu kesekelilingnya."
Jimin tertegun. Ingatan pertamanya adalah ketika Yoongi tiba-tiba muncul di kamar mandi, ketika Jimin sedang berendam, itulah pertama kali Jimin merasakan bahwa Yoongi membawa aura menakutkan... Kemudian malam itu di ruang makan, ketika Yoongi meminta maaf dan mengatakan bahwa dirinya mungkin sedang mabuk... dan terakhir... kemarin malam, ketika mereka bercinta. Yoongi berubah menjadi sosok yang begitu bergairah dan kasar, paginya lelaki itu tak henti-hentinya meminta maaf karena tidak bisa mengendalikan dirinya... Wajah Jimin menjadi pucat pasi ketika menyadari kenyataan itu, Apakah itu berarti semalam dia telah bercinta dengan Suga? Apakah Suga yang meninggalkan bekas memar dan kemerahan di tubuhnya ?
"Tuan Suga terobsesi kepada anda. Anda tahu. Begitu tuan Namjoon meninggal, ketika anda berumur delapan tahun. Tuan Yoongi hendak menemui anda, beliau menyusul anda ke taman hiburan, karena dia mendapatkan informasi bahwa nenek anda membawa anda ke sana. Tetapi kemudian ada insiden seorang penodong berusaha merampoknya, dan karena bersedih atas kematian keluarga angkatnya, Tuan Suga menjadi kuat dan mengambil alih seketika itu juga... saat itulah Tuan Suga pertama kali bertemu dengan anda." Hoseok menjelaskan kisah yang pernah dikatakan Tuan Suga kepadanya, kisah pertemuan pertamanya dengan Jimin.
Jimin mengernyitkan dahinya makin dalam. "Aku pernah bermimpi di taman hiburan... oh astaga.. mungkinkah itu bukan mimpi? Mungkinkah aku benar-benar bertemu dengan Darr...
Suga di usiaku yang ke delapan?"
"Itu benar-benar terjadi ." Hoseok mengangguk meyakinkan .Jimin . "Dan entah apa yang anda lakukan, anda membuat Tuan Suga terobsesi kepada anda sejak saat itu."
Dalam mimpinya Suga sudah hampir membunuh dirinya yang masih kecil. Jimin bergidik mengingat betapa tidak ada belas kasihan dan penyesalan di mata Suga ketika dia membunuh penodong itu... juga ketika dia akan membunuh Jimin kecil, tidak ada keraguan sedikitpun di matanya. Lelaki itu hampir tidak punya emosi menyangkut pembunuhan...
tetapi kemudian, Suga mengurungkan niatnya untuk membunuh Jimin karena..
"Aku menawarkan plester untuk menutup lukanya akibat percobaan penodongan itu." Jimin mencoba menguak ingatannya yang berkabut.
"Mungkin itu pemicunya. Tidak pernah ada orang yang seberani itu kepada Tuan Suga, semua orang ketakutan kepadanya dan menghindarinya. Saya mengikuti Tuan Yoongi dan Tuan Suga sejak beliau kecil, dulu saya adalah pelayan pribadi ayah Tuan Yoongi. Ketika Tuan Suga ada, semua orang kabur ketakutan menghindarinya." Hoseok menghela napas panjang. "Plester itu bahkan masih tersimpan di kotak kaca di brankas Tuan Yoongi. Anda benar-benar membuat Tuan Suga terobsesi kepada anda karena itu.
Karena sebuah plester? Jimin merasakan tubuhnya gemetar. Tidak! Bukan karena sebuah plester. Perbuatannya itu mempunyai arti yang sangat dalam bagi Suga. Jimin satu-satunya orang yang tidak takut padanya. Oh Astaga, mimpi apa dia sehingga monster menakutkan seperti Suga terobsesi kepadanya?
"Saya mungkin menyakiti anda dengan apa yang akan saya katakan kepada anda." Hoseok menatap Jimin sungguh-sungguh. "Tetapi saya mohon, setelah anda tahu, jangan anda membenci Tuan Yoongi, dia sudah berusaha mencegahnya, tetapi kadang-kadang Tuan Suga terlalu kuat.."
Jantung Jimin berdebar, entah kenapa. "Mengetahui tentang apa?"
"Bahwa Tuan Sugalah yang bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarga anda, kakek dan nenek anda... keluarga angkatnya, termasuk ayah anda, Namjoon... dan yang terakhir... ibu anda, Nona Jin..."
Kata-kata Hoseok bagaikan petir yang menyambar dirinya dengan keras dan tanpa ampun. Jimin sampai terhuyung dan harus berpegangan kepada rak anggur di belakangnya,
"Apa?"
"Yang pertama Tuan Suga bunuh adalah keluarga angkatnya. Ayah dan Ibu Namjoon mengetahui bahwa Tuan Yoongi mempunyai kepribadian ganda ketika anjing mereka dibunuh dengan kejam dan mayatnya digantung di pohon, hanya Tuan Yoongi yang ada di
rumah waktu itu, tetapi Tuan Yoongi mengaku tidak ingat apapun ... sejak ikut keluarga angkatnya dia telah berhasil menekan Tuan Suga supaya tidak bangkit, anjing itu dibunuh Tuan Suga, tentu saja dia mengambil kesempatan ketika Tuan Yoongi lengah, dan berusaha menunjukkan kalau dia masih eksis. Keluarga angkat Tuan Yoongi lalu mengirimkan Tuan Yoongi ke psikiater ... dan psikiater itu melakukan usaha hipnotis untuk berkomunikasi dengan Tuan Suga. Sebuah kesalahan bodoh, karena Tuan Suga pada akhirnya bangkit setelah sekian lama. Dulu Tuan Suga hanya bangkit sebentar-sebentar ketika Tuan Yoongi lemah, hipnotis itu memberinya kekuatan." Hoseok melanjutkan kisahnya sambil beberapa kali menatap ke arah pintu ruang bawah tanah di atas.
Sementara itu Jimin menahan napasnya mendengar cerita itu. Oh ya ampun.. " Lalu apa yang terjadi?"
"Tuan Suga bangun dan pulang ke rumah. Berpura-pura seperti Tuan Yoongi. Keluarga angkatnya tidak ada yang menyadari bahwa dia adalah pribadi yang berbeda... lalu pada suatu hari, ketika kedua orang tua angkatnya dan Tuan Namjoon sendiri mengendarai mobil untuk suatu urusan... mereka menabrak truk besar karena rem mereka blong." Hoseok tampak ketakutan, "Tuan Suga telah merusak rem mobil mereka."
Jimin merasakan bulu kuduknya berdiri, Suga benar-benar kejam... dan dia... dia satu tubuh dengan Yoongi, Yoongi yang dicintainya. Apa yang harus dia lakukan? Suga telah membunuh kedua orang tua ayahnya yang berarti kakek dan neneknya juga, dia juga membunuh Namjoon, ayahnya, sehingga tidak sempat bertemu dengannya. Suga telah merenggut kesempatan Jimin untuk bertemu ayah kandungnya. Dan Suga sama dengan Yoongi... Yoongi sama dengan Suga... hati Jimin berdarah oleh rasa sakit.
Tetapi Hoseok rupanya belum selesai, masih ada lagi rasa sakit yang akan mengoyak-koyak hati Jimin. " Kemudian Tuan Suga mengejar anda... dia menemui kakek dan nenek anda, mengatakan akan mengambil anda untuk mengemban pesan dari ayah kandung anda, Tuan Namjoon. Tentu saja kakek dan nenek anda menolaknya. Mereka melarang Tuan Suga mendekati anda selamanya, selain itu mereka takut akan terjadi skandal karena Jin sedang berada di puncak ketenarannya..." Kemudian, Tuan Yoongi berhasil bangkit lagi, dia menenggelamkan Tuan Suga dan berusaha memperbaiki semuanya. Bayangkan kesedihan yang dirasakan Tuan Yoongi ketika menyadari bahwa orangtua angkatnya, kakak angkatnya dibunuh dengan tangannya sendiri, dan dia tak kuasa mencegahnya." Hoseok menarik napas panjang. "Saya ada di sisi Tuan Yoongi waktu itu, beliau sangat menderita..."
Karena itulah Yoongi tampak sangat menyesal. Jimin bisa merasakan betapa sayangnya Yoongi kepada keluarga angkatnya. Memiliki monster tersebut di dalam dirinya dan tidak bisa mengendalikannya... rasanya pasti sangat menyiksa.
"Tetapi ternyata Tuan Suga tidak kalah. Dia hanya memutuskan duduk dan menunggu hingga saatnya tepat. Dialah yang menyebabkan kakek anda meninggal..."
"Tetapi kakekku meninggal karena sakit... dia meninggal di rumah... tidak mungkin Suga
yang membunuhnya."
"Tuan Suga yang membunuhnya. Karena kakek anda mengancam agar dia tidak berurusan lagi dengan anda." Hoseok menatap Jimin lurus-lurus, "Anda ingat pembantu rumah tangga di rumah anda, yang bersedia digaji murah untuk membersihkan rumah kakek dan nenek anda?"
Jimin ingat. Pembantu itu, perempuan setengah baya yang datang di pagi hari dan pulang ketika menjelang malam. Untuk memasak dan membersihkan rumah mereka, serta mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga.
"Pembantu itu adalah orang suruhan Tuan Suga. Dia jugalah yang memotret anda setiap saat tanpa ketahuan dan mengirimkannya secara berkala kepada Tuan Suga."
Jimin ingat album foto yang ditunjukkan Yoongi kepadanya, hanya ada tiga dan semuanya berisi kumpulan foto masa kecilnya yang dikirimkan oleh kakek neneknya sendiri kepada Namjoon, ayahnya.
"Kakek dan nenek anda berhenti mengirimkan foto setelah Namjoon meninggal. Jadi Tuan Suga mengirimkan pegawainya untuk mengawasi dan mengirimkan foto-foto anda kepadanya. Dia punya delapan album besar berisi foto anda."
Dan yang Yoongi tunjukkan kepadanya hanya tiga album. Jimin membatin. Menunggu Hoseok melemparkan bom yang lebih besar itu kepadanya.
"Pembantu anda yang memasukkan racun yang tidak terdeteksi kepada makanan kakek anda... dia memberikannya sedikit demi sedikit kepada kakek anda sehingga kondisi kakek anda menurun dan makin melemah, hingga pada akhirnya meninggal dunia."
Mata Jimin terasa panas mendengarkan informasi itu. Oh betapa kejamnya Suga, lelaki itu melindas nyawa siapapun yang menghalanginya dengan kejam, sangat kejam!
"Tuan Suga berpikir bahwa dengan meninggalnya kakek anda. Dia bisa membujuk nenek anda untuk menyerahkan anda di bawah perwaliannya. Tetapi nenek anda sama keras kepalanya dengan kakek anda, mungkin dia melihat ada aura jahat di dalam aura Tuan Suga, sehingga bahkan ia menawari nenek anda uang, tetapi nenek anda menolaknya mentah-mentah...bahkan nenek anda mulai mencari informasi tentang Tuan Suga, dan
hampir menemukan kejanggalan atas kematian suaminya .Sayangnya, Tuan Suga sudah menginstruksikan untuk membunuh nenek anda juga. Tubuh nenek anda makin melemah, dan ketika dia menyadari bahwa kakek anda dan dia diracun, semua sudah terlambat, dia bahkan terlalu lemah untuk memperingatkan anda ..."
Jimin ingat neneknya terus menangis, tetapi kondisi neneknya sangat lemah sehingga jangankan berkata-kata, menelan ludahpun sangat sulit dilakukan neneknya. Waktu itu Jimin berpikir bahwa neneknya menangisi kakeknya, bahwa kondisinya melemah karena patah hati. Jimin tidak berpikir bahwa gejala penyakit kakek dan neneknya sama persis, kondisi tubuh yang menua diikuti kerusakan organ-organ vitalnya, ginjal, paru-paru, jantung, dan kemudian syarafnya... Apakah waktu itu neneknya menangisinya? Karena neneknya tidak bisa memperingatkannya? Air mata Jimin menetes di pipinya mengingat penderitaan neneknya di saat-saat terakhirnya. Suga sungguh kejam. Lelaki itu tak punya hati. Dia seperti iblis yang jahat dan tiba-tiba kebencian memuncak di hati Jimin. Lelaki itu telah merenggut seluruh keluarganya, seluruh keluarganya!
"Apakah Suga juga yang membunuh ibuku?"
Hoseok menganggukkan kepalanya, "Nona Jin berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Tuan Suga mengejarnya hanya untuk memasukkanmu ke rumah ini. Kemudian nona Jin menemukan album foto anda tanpa sengaja, membuat Tuan Suga marah..." Hoseok menatap Jimin yang berurai air mata dengan sedih, "Tuan Suga... mendorong Nona Jin jatuh dari tangga."
Pemandangan mengerikan itu berkelebat di benak Jimin. Ibunya yang sudah menjadi mayat, terbaring dengan posisi aneh bersimbah darah di bawah tangga. Ekspresinya ketakutan... Suga benar-benar kejam dan menakutkan. Tiba-tiba Jimin menyadari bahwa dia terjebak di rumah ini bersama Suga.
"Kenapa Yoongi mengurung diri di ruang kerjanya?" Jimin menyadari firasat buruk itu.
Hoseok menghela napas panjang, "Karena Tuan Suga makin kuat dari hari ke hari...
dia..bisa saja bangkit dan mendesak Tuan Yoongi... Tuan Yoongi meminta saya mempersiapkan kalau ini semua terjadi."
Jimin gemetar. Dia takut, dia telah mendengar kisah kekejaman Suga. Dan sekarang dia hanya bergantung pada kekuatan Yoongi. Bagaimana kalau Yoongi kalah dan Suga menguasainya?
"Saya merencanakan pelarian anda. Seharusnya tidak secepat ini. Tetapi sepertinya kita harus bergerak cepat. Malam ini anda harus bersiap-siap." Hoseok bergumam dengan gelisah. Jimin menyadari Hoseok gemetar. Lelaki itu ketakutan. Sama seperti dirinya.
Takut kepada Suga yang mengerikan.
-to be continued
