From The Darkness Side

Original Story by Santhy Agatha

Disclaimer :

Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.

Caution!

Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.

Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.

BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )

Min Yoongi

Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.

"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."

-Min Suga-

.

.

.

.

.

.

.

BAB 8

"Anda harus bersikap biasa saja supaya lolos malam ini. Tuan Suga bisa saja sudah menguasai tubuh Tuan Yoongi, dan dia berpura-pura. Dia sangat ahli kalau berpura-pura...

sama seperti yang dulu dilakukanya kepada keluarga angkatnya. Anda harus sangat waspada, dan bersandiwara. Jangan sampai Tuan Suga tahu bahwa anda sudah tahu semuanya. Rencana kita bisa gagal."

Jantung Jimin berdebar liar. Melarikan diri? Rasanya begitu menakutkan melarikan diri dari sosok mengerikan seperti Suga. Jimin ketakutan. "Aku akan berusaha Hoseok." Jimin berusaha tampak tenang, "Terima kasih karena sudah melakukan ini semua untukku, aku tahu kau bertaruh nyawa di sini."

Hoseok tersenyum lembut, sebuah ekspresi yang akhirnya ditunjukkannya setelah sekian lama memasang wajah datar. "Anda tahu, saya menyesal karena anda harus kehilangan seluruh keluarga anda. Dan saya sangat setia kepada Tuan Yoongi... beliau.. beliau sungguh-sungguh mencintai anda. Beliau yang merencanakan ini semua untuk menyelamatkan anda, kalau beliau sudah tidak mampu menahan Tuan Suga lagi."

Perkataan Hoseok terasa menusuk hatinya, membuatnya terasa nyeri. Yoongi mencintainya, dan Jimin juga mencintai Yoongi. Semula hanya sesederhana itu, tetapi ternyata tidak. Yoongi... dia satu dengan Suga... dan merekalah yang bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarganya. Bagaimana mungkin Jimin bisa tetap mencintai Yoongi setelah ini? Tetapi Jimin memang mencintai Yoongi, jauh di dalam hatinya dia menyadari bahwa Yoongi telah mencuri seluruh hatinya, dengan segala kelembutannya, sikap tegasnya, kasih sayangnya. Jimin mencintai Yoongi, meskipun waktu itu dia tidak tahu bahwa Yoongi mempunyai alter ego bernama Suga yang begitu kejam...

Begitu Jimin pergi, Hoseok langsung menelepon Taehyung, dia sudah menyimpan nomor itu dari hasil penyelidikannya.

"Halo?"

"Ini Hoseok."

"Well, Hoseok, uang yang ada di amplop ini banyak sekali..."

"Anda akan membutuhkannya nanti. Malam ini saya membutuhkan anda untuk bersembunyi di sudut dekat pagar rumah Tuan Yoongi. Saya akan menyelundupkan Nona Jimin keluar malam ini."

"Malam ini?" Taehyung merenung, tidak menyangka mereka akan menjalankan rencana ini secepat itu. Dia belum menyiapkan segalanya. Tetapi mungkin dia bisa menaruh Jimin di apartemennya dulu. Atau di hotel dan menyamarkannya.

"Keadaan menjadi gawat." Hoseok berbicara pelan dan waspada dengan keadaan sekelilingnya, "Saya harap anda siap di posisi. Tepat jam dua belas malam."

"Oke. Aku akan siap."

"Jimin kau ada di mana?" Yoongi mencari-cari Jimin. Untunglah Jimin sudah naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Dengan gugup dia menghela napas panjang, lalu membuka pintu kamarnya.

Yoongi tampak sangat tampan berdiri di sana. Dengan sweater abu-abu dan celana gelap warna hitam. Lelaki itu sepertinya habis mandi karena rambutnya basah.

Yoongi tersenyum lembut ketika menyadari bahwa Jimin sedang mengamati rambutnya yang basah, "Aku berenang tadi." Gumamnya pelan, "Sebenarnya ingin mengajakmu, tetapi kau sepertinya ada di kamar sedang beristirahat. Aku tak mau mengganggumu."

Ini Yoongi atau Suga yang sedang berpura-pura? Jimin mengernyit. Bagaimanapun,sebelum dia bisa menentukan kepribadian siapa yang sedang menguasai tubuh Ini. Jimin harus berhati-hati.

"Kenapa kau mengernyitkan keningmu?" Yoongi menyentuh lembut dahi Jimin dan mengelusnya, "Kau sakit?"

Kesempatan. Jimin langsung menyambarnya, "Iya.. aku sedikit pusing, aku mendapatkan haidku siang ini. Kalau hari pertama rasanya sedikit tidak nyaman..." Jimin berdoa dalam hati semoga kebohongannya tidak terbaca, dia tidak pandai berbohong, dan dia tidak sedang mendapatkan haid. Tetapi dengan berpura-pura sedang haid, setidaknya dia bisa mengamankan dirinya kalau-kalau Yoongi mengajaknya bercinta malam ini. Selain itu, malam ini dia harus berada di kamarnya sendiri. Karena Hoseok akan merencanakan pelarian untuknya malam ini.

"Kau sedang berhalangan?" Yoongi tampak terkejut, dia lalu menatap Jimin penuh arti, "Jadi malam ini sepertinya kita tidak bisa bermesraan."

Jimin menganggukkan kepalanya, menatap Yoongi menyesal, "Maafkan aku, Yoongi."

"Hey, jangan minta maaf. Tidak apa-apa. Seks bukan hal utama untukku." Yoongi meraih Jimin ke dalam pelukannya, "Aku senang bersamamu, malam ini kita bisa berpelukan, hanya berpelukan saja di kamarku."

Tidak, mereka tidak boleh berpelukan di kamar Yoongi. "Aku.. mungkin aku lebih baikmalam ini tidur di kamarku sendiri, Yoongi... kau tahu... perempuan biasanya tidak nyaman ketika mengalami haid hari pertamanya.."

Yoongi mengernyitkan dahinya, menatap Jimin dalam-dalam, lalu tatapannya berubah lembut dan penuh pengertian. Lelaki itu masih memeluk Jimin erat dan mengecup pucuk hidupnya dengan sayang.

"Tentu saja sayang, aku mengerti. Aku akan menunggu dengan sedikit frustasi." Yoongi terkekeh menertawakan dirinya sendiri.

Jimin menenggelamkan wajahnya di pelukan Yoongi. Oh Astaga. Lelaki ini terasa sama...

terasa sangat Yoongi, aromanya, tatapan lembutnya, kasih sayangnya. Mungkinkah dia bukan Yoongi?

Sejenak Jimin terlena. Tetapi kemudian dia teringat peringatan Hoseok. Mereka tidak tahu siapa yang sekarang berdiri di depan Jimin. Kalau memang ini benar-benar Yoongi,dia akan dengan rela melepaskan Jimin untuk pergi. Dan kalau ini Suga... lelaki itu akan mengamuk kalau tahu Jimin sudah pergi, setidaknya Jimin sudah menyelamatkan dirinya.

"Kita akan makan malam di luar." Yoongi tersenyum, menyampaikan kabar itu dengan gembira. Jimin mengangkat kepalanya, tiba-tiba merasa senang. Sudah lama sekali dia tidak keluar dari rumah Yoongi, meskipun segala kebutuhannya tercukupi dan hiburan yang disediakan untuknya lebih dari cukup, pergi keluar terasa begitu menyenangkan.

"Benarkah? Ke mana?"

"Ke restoran favoritku, di sana sangat private sehingga kita tidak perlu mencemaskan wartawan. Para pengawalku akan menjaga kita dengan sangat ketat."

Itu berarti Jimin juga dijaga supaya tidak punya kesempatan melarikan diri. Sebenarnya kesempatannya keluar malam ini sudah tidak penting lagi, karena dia tahu malam ini dia

akan menghirup kebebasannya .Tetapidiaharus.tampak bahagia, kalau tidak Yoongi akan curiga. Jadi dipeluknya Yoongi, berakting seolah bahagia.

Mereka makan malam di sebuah restaurant yang benar-benar private. Di lantai delapan sebuah hotel bintang lima. Mereka keluar dengan mobil Yoongi yang berkaca gelap. Jimin melihat di belakang mereka ada setidaknya tiga mobil pengawal Yoongi yang mengikuti.

"Kau senang?" Yoongi tersenyum kepada Jimin ketika hidangan pembuka sudah datang. Jimin mencicipinya dan memutuskan dia menyukainya.

"Ya Yoongi, terima kasih."

Yoongi menatapnya dengan lembut dan intens, "Aku senang kalau kau bahagia Jimin, kau tahu kebahagiaanmu adalah tujuan hidupku."

Apakah ini Yoongi? Jimin menatap ragu. Suga tidak akan mengatakan hal seperti ini kepadanya bukan? Tetapi bukankah Suga diam-diam mengamati jauh di kedalaman jiwa Yoongi? Dia pasti tahu apa yang harus Yoongi katakan untuk membuat Jimin terpedaya, menyamar sebagai Yoongi sangat mudah bagi Suga.

"Kenapa kau sedikit kaku malam ini kepadaku sayang? Apa yang mengganggu pikiranmu?"

Suara Yoongi menyentakkan Jimin yang sedang sibuk mengaduk-aduk makanannya. Oh, apakah terlihat jelas dia berbeda? Gawat. Tidak boleh begitu. Kalau yang di depannya ini Suga, lelaki itu akan menyadari bahwa dia sudah tahu segalanya. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Suga kepadanya setelahnya? Paling aman adalah membuat Yoongi ataupun Suga, siapapun yang di sana yakin bahwa Jimin tidak tahu apa-apa.

Dengan tatapan meminta maaf, Jimin menatap ke arah Suga, "Maafkan aku... hari pertama haid biasanya membuatku sedikit tidak enak badan."

'Oh iya. Aku lupa." Yoongi menatap Jimin menyesal, "Maafkan aku, waktunya tidak tepat ya."

Jimin menatap lembut ke arah Yoongi. "Tidak apa-apa Yoongi aku yang meminta maaf."

Jimin merasakan jantungnya berdegup liar. Dia akan meninggalkan Yoongi malam ini. Melarikan diri dari Suga. Dia tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Pasrah kepada rencana Hoseok.

Malam itu Jimin sudah berpakaian lengkap dia menyiapkan sedikit bawaannya. Gaun dan pakaian paling sederhana yang dia bawa, dan sepasang sepatu datar yang paling tidak mencolok. Sisanya, gaun-gaun indah dan segala perlengkapannya yang dibelikan oleh Yoongi untuknya, dia tinggalkan tergantung di atas lemari.

Malam ini adalah malam pelariannya.

Jimin merasa sangat gugup. Gugup dan takut. Takut rencana Hoseok gagal. Takut dia harus bertahan di rumah ini, bersama Suga yang telah mengalahkan Yoongi.

Ah... Yoongi. Tiba-tiba matanya terasa panas dan ingin menangis. Kenangannya bersama Yoongi adalah kenangan yang indah. Jimin sungguh-sungguh mencintai Yoongi, kebersamaan mereka memang singkat, tetapi sepenuh hatinya. Dia tidak akan merasakan itu kepada lelaki lain. Tidak akan pernah bisa sedalam yang Jimin rasakan kepada Yoongi.

Ketukan di pintunya begitu pelan, tetapi dalam keheningan itu membuat Jimin melonjak kaget. Dia termangu sejenak. Itu Hoseok? Atau Yoongi?

Dengan hati-hati dia membuka kunci pintu, berdoa supaya Hoseok yang ada di depan pintunya. Dan syukurlah doanya dikabulkan. Hoseok yang ada di sana, membawa bungkusan warna hitam.

"Pakailah baju ini. Cepat." Suaranya berbisik pelan, penuh kehati-hatian.

Jimin masuk kembali ke kamar dan buru-buru mengenakan pakaian itu. Itu pakaian pelayan pria. Jimin mengikat rambutnya dengan karet yang disediakan, lalu memasukkan rambutnya ke dalam jaket pelayannya. Sekilas dia melirik ke kaca. Penampilannya mirip seperti anak lelaki yang masih remaja.

Dia segera keluar dan menemui Hoseok yang masih menunggu di depan pintu dengan gelisah, dibawanya kantong tas kecilnya yang berisi pakaiannya seadanya. Hoseok lalu mengajaknya melangkah pelan menuju tangga. Mereka harus melewati kamar Yoongi untuk menuju tangga. Jantung Jimin berdebar kencang seperti mau pecah ketika melangkah melewati pintu kamar Yoongi. Dia sempat melirik ke arah bawah pintu Yoongi dan menyadari kalau kamar itu gelap dan hening. Sepertinya Yoongi sedang tertidur. Syukurlah.

Mereka melangkah menuruni tangga dengan hati-hati. Hoseok mengajak Jimin keluar, banyak pengawal Yoongi yang berkeliling di sekitar taman. Hoseok mengajak Jimin berjalan pelan mengitari rumah menuju gudang di halaman belakang. Hoseok mengambil

sebuah drum sampah besar dan dengan susah payah mengangkatnya ke sebuah gerobak kecil yang disandarkan di pinggiran gudang. Dia menyuruh Jimin mengikutinya ke arah sebuah pintu kecil di samping.

Mereka berpapasan dengan salah satu penjaga keamanan yang berpatroli, Jimin bersikap gugup tetapi Hoseok tersenyum dan menyapa penjaga keamanan itu dengan santai,

"Hai Youngjae, malam yang dingin ya."

Lelaki yang dipanggil Youngjae itu tersenyum, Jimin begidik ngeri melihat apa yang terselip di pinggang lelaki itu. Itu sudah pasti sebuah pistol, sebuah pistol yang sangat mengerikan.

"Hai Hoseok. Malam membuang sampah? Sepertinya kau kemalaman ya? Dan kenapa tidak menyuruh salah satu anak pelayan melakukannya?"

Hoseok terkekeh, "Aku tertidur dan lupa kalau sampah harus dikeluarkan setiap hari Jumat. Dan anak pelayan ini baru jadi aku harus membimbingnya."

Youngjae tertawa. "Menyebalkan memang. Tapi setelah ini kau bisa tidur, sementara aku harus berjaga semalaman."

"Tapi kau kan sudah tidur seharian tadi sementara aku berkeliaran mengurusi rumah." Hoseok menyahut dengan sebal. Kedua lelaki itu tertawa bersama, sementara Jimin berdiri dengan gugup di tepi gerobak. Kemudian Youngjae menepuk pundak Hoseok dan berpamitan pergi.

Hoseok sangat gugup, dibalik sikapnya yang tenang, Jimin melihatnya berkeringat, padahal malam ini sangat dingin. Lelaki itu mengajak Jimin berhati-hati berjalan-jalan menuju ke arah pintu samping. Mereka berdiri di sana dan Hoseok membuka grendel pintu samping itu. Dan dalam sekejap pintu itu terbuka.

"Lari..." Hoseok berbisik, "Ada mobil yang menunggu anda di ujung sana. Dia orang baik. Dia akan menjaga anda. Ini uang untuk pegangan anda, ini dari tabungan investasi Tuan Yoongi atas sebuah peternakan yang diberikan kepada saya. Saya sudah menyiapkan uang itu untuk anda, saya harap uang itu cukup." Hoseok meletakkan amplop tebal berisi uang ke tangan Jimin.

"Anda sendiri... bagaimana dengan anda?" Jimin kaget, tidak menyangka bahwa Hoseok tidak akan ikut lari bersamanya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya dan menatap Jimin dengan menyesal,

"Saya tidak bisa ikut memperlambat anda. Dan Tuan Suga akan bisa melacak saya." Dia menatap Jimin dengan sedih, "Lari. Dan berhati-hatilah."

Jimin menatap Hoseok dengan mata berkaca-kaca, 'Terima kasih." Dia berbisik pelan, lalu membalikkan badan. Berlari dan tidak menoleh ke belakang lagi.

Hoseok melangkah hati-hati, memasuki pintu rumah Min Yoongi yang mewah itu. Lobby sangat gelap ketika malam. Berusaha tanpa menimbulkan suara sedikitpun, Hoseokmenutup pintu itu.

"Senang Hoseok karena berhasil membodohi tuanmu?"

Suara itu datang dari kegelapan, dan membuat Hoseok terperanjat. Benar-benar terperanjat. Dia melihat ke atas dan seketika itu gemetar.

Tuan Yoongi... oh Tidak! Itu Tuan Suga berdiri di ujung atas tangga, dengan jubah tidur hitam. Lelaki itu tampak seperti hantu yang muncul dari kegelapan malam, dengan pakaian hitam-hitam dan aura gelap menakutkan yang menyelubunginya. Seakan-akan ingin mempermainkan ketakutan Hoseok, dia melangkah pelan-pelan menuruni tangga.

"Kau pikir aku tidak tahu?" Suga tersenyum kepada Hoseok, senyum membunuh yang kejam. "Aku berpura-pura sebagai Yoongi malam ini. Dan Jimin bertingkah ketakutan. Dia bilang dia sedang haid untuk menolakku. Tetapi tentu saja aku tahu dia bohong. Ketika kalian mengendap-endap melewati kamarku, aku hampir tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Dan aku mengawasimu sampai kau melepaskan Jimin lewat pintu samping..."

"Ke... kenapa anda tidak mencegah kami kalau anda sudah tahu?" Suara Hoseok tertelan ludahnya, dia sangat ketakutan. Ini sangat tidak dia sangka, dia pikir semuanya sudah teratur dan sangat rapi. Sama sekali tidak disangkanya kalau Tuan Suga sudah mengetahui semua rencananya.

"Karena aku ingin melihat sejauh mana kau mengkhianatiku." Suga masih mempertahankan suara tenangnya yang penuh senyum, "Dan ternyata kau tidak berpikir panjang untuk mengkhianatiku." Lelaki itu sudah berdiri di ujung tangga dan sekarang melangkah mendekati Hoseok, pelan-pelan sampai kemudian berdiri di dekatnya, menjulang tinggi dan begitu mengintimidasi. "Apa yang diberikan Tuanmu Yoongi itu sehingga kau begitu setia kepadanya?"

"An... anda bisa membunuh saya sekarang." Hoseok bergumam, pasrah mungkin memang

sudah saatnya dia mati.

Tetapi Suga malahan tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Suga, "Membunuhmu? Setelah pengkhianatan yang kau lakukan? Tidak Hoseok, aku tidak sebaik itu kepadamu. Kalau kau mati, kau tidak akan menderita." Suga mengarahkan tangannya ke leher Hoseok dan mencengkeramnya, Hoseok memejamkan matanya ketakutan, lelaki ini akan mencekiknya dan meremukkan lehernya, "Walaupun aku sangat ingin mencekikmu, tetapi tidak akan kulakukan. Itu terlalu mudah untukmu." Suga melepaskan tangannya dari leher Hoseok. Lalu melangkah mundur memberi Hoseok ruang untuk bernapas, sebelum menjatuhkan bom mengerikan itu kepada Hoseok,

"Apakah kau ingat ancamanku Hoseok? Bahwa aku tidak akan melepaskan anak, menantu, dan cucumu, kalau kau mengkhianatiku?"

Wajah Hoseok pucat pasi, dia langsung panik. Suga bisa menemukan anak dan cucunya? Bagaimana mungkin? Sudah jauh-jauh hari dia menyuruh mereka pergi secara hati-hati dan rahasia.. seharusnya mereka tidak akan pernah terlacak!

"Aku tahu kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa menemukan keluargamu, yang telah kau coba sembunyikan dengan begitu ahli." Suga terkekeh, "Seperti yang kulakukan kepada kakek dan nenek Jimin, aku menempatkan pegawaiku untuk menyamar sebagai babby sitter keluarga. Dan dia melapor kepadaku, ketika keluargamu berusaha pindahdengan terburu-buru. Kau tak menyangka itu bukan?"

Hoseok sungguh tak menyangka. Bukankah seharusnya Tuan Yoongi memperingatkannya kalau itu terjadi?

"Kau tak mengerti ya?" Suga menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Hoseok seolah-olah lelaki itu orang bodoh, "Aku lebih kuat dari Yoongi. Kalau Yoongi sadar, aku bisa berdiri di sudut dan mengamati semuanya. Tetapi kalau aku sadar. Yoongi tertidur. Jadi aku bisa melakukan apapun sesukaku dan Yoongi tidak akan ingat apapun, tetapi ketika Yoongi melakukan sesuatu, aku akan tahu." Tatapan Suga berubah kejam dan marah, senyumnya menghilang, "Dan ketika aku tahu keluargamu akan pergi. Aku mengutus Kai mencegat mereka dan menahan mereka di sebuah gudang tua di pinggir kota..." Matanya bersinar, tampak puas, "Dan sekarang gudang itu sedang terbakar habis dilalap api karena kau sudah berani mengkhianatiku..."

"Tidak! Tidaaakkk!" Hoseok menjerit, tidak percaya akan semuanya, tidak percaya akan kekejaman Suga.

Suga tertawa pelan, tawa yang kejam. "Aku menyuruh Kai membakar gudang itu sementara mereka terikat hidup-hidup di dalam sana..."

"Tidaaak... tidaaak kau iblis! Kau iblis yang kejam! Aku akan membunuhmu!" dengan histeris Hoseok mencoba menyerang Suga, tetapi tentu saja lelaki itu bukan tandingannya. Suga muda dan prima dan dipenuhi insting membunuh, dengan mudah Suga menelikung Hoseok dan mengunci kedua tangannya ke belakang.

"Tuan Yoongimu yang kau puja itu sudah tidak dapat menolongmu." Suga mendesis lirih, "Katakan kepadaku kau menyuruh Jimin kabur kemana...dan siapa yang membantumu di luar sana."

Hoseok menangis, bercucuran air mata. Karena kesalahannya, anak, menantu, dan cucunya menjadi korban. Sekarang hidupnya tidak ada artinya lagi, dia tak akan memberikan kepuasan kepada iblis jahat ini untuk menelan korban lagi.

"Lebih baik bunuh saya sekarang."

Suga tersenyum, "Terserah. Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan menemukan Jimin." Dia menekan tangan Hoseok yang ditelikungnya di belakang punggung laki-laki itu. Dan kemudian menekannya hingga suara patah terdengar keras, Jeritan keras Hoseok membahana ke seluruh ruangan membuat beberapa pelayan tergopoh-gopoh berlarian keluar dari ruangan mereka. Semuanya tertegun melihat tuan mereka melepaskan tubuh Hoseok yang langsung terjatuh ke lantai. Mereka memandang ngeri tangan Hoseok yang lunglai dalam posisi aneh. Tuan mereka telah mematahkan kedua tangan Hoseok!

Suga menatap Hoseok tanpa belas kasihan, lalu dia memerintahkan kepada salah seorang pelayannya. "Bawa dia ke rumah sakit." Diliriknya para pengawalnya yang berdatangan, "Dan jaga dia dalam pengawalan ketat, dia tidak boleh berbicara dengan siapapun selama di rumah sakit."

Lalu Suga membalikkan badan dan menaiki tangga, terdengar suaranya memasuki kamarnya dan pintu kamarnya dibanting dengan keras. Sementara beberapa pelayan langsung berusaha mengangkat Hoseok dan memapahnya untuk dibawa ke rumah sakit.

Mobil itu menunggu di sudut yang gelap. Dan setengah berlari Jimin menghampirinya dengan ragu. Taehyung yang sudah menunggu di balik kemudi melongokkan kepalanya,

"Jimin?" Jimin langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Taehyung, "Masuklah." Lelaki itu membukakan kunci pintu penumpang untuk Jimin. Mobil langsung melaju kencang menembus kegelapan malam.

"Pria tua itu... Hoseok... diatidakikut?"

Taehyung menjalankan kemudi sambil melirik ke arah Jimin yang masih gemetaran. Jimin menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat amplop cokelat yang diberikan oleh Hoseok. Benaknya kalut memikirkan apa yang akan terjadi pada lelaki tua yang baik hati itu. Apakah Suga akan membunuhnya? Jimin berharap yang tadi itu benar-benar Yoongi. Yoongi akan menghargai usaha Hoseok melepaskan Jimin, dan itu berarti Hoseok akan selamat. Tetapi kalau yang tadi itu Suga, maka... Jimin memejamkan matanya, tidak berani membayangkan. Semoga Tuhan melindungi Hoseok di sana.

Mobil berhenti di sebuah kawasan apartemen di pinggiran kota. Taehyung memasukkan mobilnya ke parkiran di basemen apartemen dan mengajak Jimin keluar,

"Ayo, malam ini kita menginap di apartemenku dulu. Besok akan kuantar kau kepada temanku yang akan membantu pelarianmu ke luar negeri."

K e luar negeri? Jimin membelalakkan matanya. Terkejut dengan kata-kata Taehyung. Sementara itu Taehyung terkekeh melihat reaksi Jimin.

"Lelaki tua itu tidak mengatakan kepadamu ya." Taehyung melangkah ke area lift di basemen dan mengajak Jimin. Pintu lift terbuka beberapa saat dan mereka masuk, liftpun bergerak ke atas, "Hoseok menyuruhku membantumu melarikan diri ke luar negeri. Dia bilang Min Yoongi sedang mengejarmu karena dia gila dan terobsesi menjadikanmu pengganti Jin." Taehyung menatap Jimin, mencoba mencari informasi tetapi ekspresi Jimin tetap datar meski wajahnya pucat pasi.

Jadi informasi itu yang diberikan Hoseok kepada penolongnya ini. Hoseok pasti punya alasan sendiri merahasiakan informasi kepada lelaki di depannya, dan Jimin memutuskan akan mengikuti arus.

Taehyung mengawasi Jimin, dia seorang wartawan dan dia tergelitik untuk bertanya, "Aku penasaran kenapa kepala pelayan Min Yoongi sangat serius untuk membantumu melepaskan diri."

Jimin tergeragap, tapi langsung menjawab sekenanya, "Dia sahabat kakekku."

Taehyung rupanya bisa menerima jawaban Jimin. Pada saat itu pintu lift terbuka di lantai dua puluh tujuh. Taehyung mengajak Jimin keluar dari lift dan menuju kamar apartemennya di tempat yang paling ujung.

"Sebelumnya aku minta maaf kalau kamarku berantakan. Maklum, kamar bujangan yang tidak tersentuh wanita." Lelaki itu memutar bola matanya dan membuka kunci pintunya, "Oke silahkan masuk."

Jimin memasuki ruangan apartemen yang cukup luas itu.. Sebenarnya kondisinya tidak seburuk yang dikatakan Taehyung. Apartemen itu cukup rapi untuk ukuran penghuni lelaki.

"Ada dua kamar di sini. Kau bisa memakai kamar kecil di sebelah sana itu. Kamar itu kosong. Dan semoga nyaman, besok kita akan berkendara lama, jadi beristirahatlah." Taehyung mempersilahkan. Sebenarnya dia sudah gatal ingin mewawancarai Jimin. Wawancara langsung dengan Jimin pasti akan menjadi berita eksklusif baginya. Karena tidak ada yang bisa melakukannya selain dirinya. Taehyung membayangkan betapa para wartawan lain akan iri dengannya.

Jimin mengucapkan terima kasih dengan gugup. Lalu memasuki kamar kecil itu. Sementara Taehyung termenung sambil menatap pintu kamar Jimin yang tertutup.

Hoseok telah menjanjikan berita eksklusif untuknya, berita tentang ayah kandung Jimin. Tetapi Taehyung memiliki berita itu sendiri di rumahnya. Seorang wartawan akan sangat bodoh kalau melewatkan kesempatan ini.

Dia berjalan mondar mandir di kamarnya. Min Yoongi tampaknya punya segalanya. Dan kalau pelayannya saja bisa memberikan uang yang begitu banyak untuk kerjasamanya. Bayangkan apa yang bisa diberikan oleh Min Yoongi sendiri kepadanya. Taehyung terdiam, menimbang-nimbang. Kalau dia menyerahkan Jimin kepada Min Yoongi, lelaki itu pasti akan memberikan imbalan yang banyak. Dan Taehyung akan bisa memuat berita tentang itu... tentang skandal Min Yoongi yang menahan Jimin dan berusaha menjadikannya pengganti Jin, dia bisa menggunakannya untuk mengancam Min Yoongi, dan kemudian dia pasti akan menerima uang tutup mulut yang banyak.

Taehyung tergoda, sungguh-sungguh tergoda. Tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh pertanyaan tentang siapa ayah kandung Jimin. Dia menghela napas panjang, Kalau Hoseok yang notabene pelayan Min Yoongi bisa mengetahui informasi itu, itu berarti Min Yoongi mungkin juga tahu. Taehyung tersenyum. Dia harus bisa membujuk Min Yoongi untuk bekerjasama dengannya.

Taehyung tahu nama perusahaan Min Yoongi... dia berusaha menelepon kantor itu. Tetapi tidak ada yang mengangkat. Dia tersambung dengan mesin perekam pesan kantor.

Lelaki itu menarik napas, sambil melirik ke arah kamar Jimin. Well, maafkan aku Jimin. Aku bagaikan ikan hiu yang diberi umpan. Tentu saja aku akan memilih umpan yang lebih besar.

Dengan tenang, Taehyung meninggalkan pesan di mesin perekam pesan kantor Min Yoongi itu,

"Hai. Min Yoongi. Saya wartawan tabloid terkenal yang ingin meliput anda. Kalau anda menyetujui kerjasama untuk wawancara eksklusif, saya akan memberikan informasi tentang seseorang bernama Jimin kepada anda. Saya yakin nama itu punya arti buat anda.".

Lalu Taehyung mematikan ponselnya dan menunggu. Senyumnya mengembang, uang besar akan datang kepadanya, tidak disangkanya dia seberuntung itu.

-to be continued