From The Darkness Side

Original Story by Santhy Agatha

Disclaimer :

Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.

Caution!

Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.

Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.

BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )

Min Yoongi

Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.

"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."

-Min Suga-

.

.

.

.

.

.

.

BAB 10

Suga menggedong Jimin memasuki rumah itu. Para pelayan tampak sibuk menyiapkan segala sesuatunnya, suasana begitu sibuk tidak kelihatan kalau sekarang sudah dini hari.

Lelaki itu mendudukkan Jimin di ranjangnya yang berseprai satin, lalu memberikan beberapa instruksi kepada para pelayannya.

Setelah air panas dan perban serta obat-obatan lain diletakkan, para pelayan melangkah pergi dan meninggalkan Jimin sendirian di dalam kamar bersama Suga.

Jimin terdiam, berusaha menggenggam jari-jarinya yang gemetaran. Dia masih mengenakan jas Suga yang diselimutkan di bagian depan dadanya, menutupi pakaiannya yang robek. Dia sangat ketakutan, usaha pemerkosaan yang dilakukan Taehyung telah menguras seluruh emosinya, dan kemudian pemandangan mayat Taehyung yang bersimbah darah dengan mata dan ekspresi terkejut akan selalu menghantuinya. Ditatapnya Suga dengan pandangan ragu.

"Apakah kau akan membunuhku?"

Lukas hanya tersenyum misterius dan kemudian bergumam tenang. "Buka jas itu."

Jimin langsung berjingkat dari ranjang, terkejut. Apakah dia dilepaskan dari mulut buaya hanya untuk masuk ke kandang harimau yang lebih ganas? Apakah lelaki itu akan memperkosanya?

Digigitnya bibirnya. Dia tidak akan menyerah kepada Suga, dan membiarkan lelaki itu menguasainya dengan mudah.

"Tidak." Jawabnya dengan menantang.

Suga mengangkat alisnya, "Keras kepala, padahal kau begitu lemah. Buka jas itu."

"Tidak!" suara Jimin makin keras, dia benar-benar ketakutan.

"Aku tidak akan memperkosamu. Aku tidak tertarik dengan perempuan yang acak-acakan setelah dipegang lelaki lain, dan terluka di mulutnya, tidak akan enak untuk dicium." Suga tampak tidak sabar, "Biarkan aku melihat lukamu."

Jimin gemetar. Aura menakutkanitumasihada, memancar jelas dari tubuh Suga. Benarkah lelaki itu akan melakukannya? Ataukah lelaki itu akan memperdayanya?

Suga mendekatkan meja yang berisi baskom air hangat, obat-obatan, kapas, perban dan beberapa obat luar lainnya ke dekat ranjang. Kemudian dia menarik kursi, duduk tepat di depan Jimin yang terduduk di tepi ranjang. Matanya menatap tajam, memaku Jimin di tempat sehingga Jimin tidak bisa berbuat apa-apa ketika Suga melepaskan jas yang melindungi buah dadanya yang terpampang jelas karena pakaiannya yang robek.

Otomatis Jimin langsung menutupi buah dadanya. Tetapi Suga mencengkeram pergelangan tangannya lembut, dan menyingkirkan tangannya ke samping tanpa kata. Pipi Jimin memerah ketika telanjang dada di depan lelaki itu tampaknya tidak tertarik dengan pemandangan ranum buah dadanya. Matanya terpaku pada bekas cakaran dan goresan yang menimbulkan bilur-bilur merah di pundak Jimin. Dengan seksama Suga meraih pergelangan tangan Jimin, memeriksa memar-memar kemerahan yang beberapa mulai membiru dengan mengerikan di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mengangkat dagu Jimin. Memiringkan bibirnya agar terkena sinar lampu sehingga lukanya terlihat jelas.

Sejenak suasana hening. Tetapi aura kemarahan terasa kental. Memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi menakutkan. Lelaki itu menggertakkan gerahamnya sambil mengamati luka-luka Jimin. Dan kemudian terdiam lama seolah mencoba menahan diri.

Lalu dalam keheningan pula Suga mengambil kapas dan mencelupkannya ke dalam cairan alkohol antiseptik kemudian mengusap bilur-bilur kemerahan yang sedikit berdarah di pundak Jimin. Jimin mengerang atas sentuhan pertama kapas itu. Tetapi Suga memperlembut gerakannya,

"Shhh..." dia berbisik pelan, mencoba menenangkan Jimin ketika sekali lagi dia mengusap bilur-bilur itu dengan cairan alkohol dan antiseptik, membersihkannya. Jimin mengernyit merasakan pedih di kulitnya ketika proses itu. Kemudian lelaki itu mencelupkan kapas di air hangat dan menggunakan jemarinya sekali lagi untuk mengangkat dagu Jimin, dengan gerakan lembut tetapi pasti, diusapnya luka bekas tamparan Taehyung di ujung bibir Jimin.

"Ini akan membiru dan rasanya akan sedikit sakit." Suga mengucapkan kata-kata yang memecah keheningan, dia mengerutkan keningnya seakan tidak suka, "Aku tidak akan bisa menciummu untuk beberapa lama.

Jimin melotot, memandang Suga dengan marah. Seluruh tubuhnya sakit dan dia hampir diperkosa dengan memar dan luka di semua sisi tubuhnya, dan lelaki itu malahan mencemaskan tidak bisa menciumnya? Jimin makin yakin Suga lelaki yang jahat dan tidak

punya empati.

Tetapi lelaki jahat inilah yang menyelamatkannya dari pemerkosanya. Jimin tiba-tiba menyadari kenyataan itu. Kalau Suga tidak datang dan menancapkan pisaunya ke punggung Taehyung tadi, mungkin Taehyung sudah berhasil memperkosanya. Jimin bergidik ngeri membayangkan apabila hal itu benar terjadi.

Suga mengamati perubahan ekspresi Jimin. Tetapi dia tetap diam. Tangannya masih sibuk membersihkan darah di sudut mulut Jimin. Setelah yakin sudah bersih, lelaki itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya dengan bilur-bilur bekas goresan dan cakaran di tubuh Jimin, dioleskannya dengan antiseptik.

"Selesai. Sekarang buka bajumu."

"Tidak mau." Jimin kembali melindungi dadanya dengan kedua lengannya. Lelaki itu bermimpi kalau dia bisa membuat Jimin telanjang secara sukarela di depannya.

Suga menatap Jimin dengan marah. Sejenak ada api di matanya, seolah dia bertekad akan membuat Jimin menuruti kemauannya. Tetapi kemudian lelaki itu melihat penampilan Jimin yang mengenaskan dan acak-acakan, dan entah kenapa memutuskan mundur dan mengalah.

"Oke. Ganti bajumu dengan itu." Lelaki itu menunjuk piyama sutra warna hitamnya yang terlipat rapi di meja. "Aku akan membalikkan badan."

'Kenapa kau tidak keluar dari ruangan ini?"

"Karena aku tidak mau." Tatapan Suga kejam dan mengancam, mengingatkan Jimin kalau perempuan itu sudah terlalu jauh mencoba batas kesabarannya, "Cepat ganti bajumu."

Suga melangkah ke jendela yang membelakangi Jimin dan menatap ke arah luar. Sejenak Jimin terpaku menatap punggung Suga, tak menyangka kalau Suga mau mengalah untuknya.

Kemudian dia berusaha membuka gaunnya. Roknya sobek dan menggantung dengan menyedihkan di pinggangnya. Jimin melepaskan gaunnya hingga dia hanya mengenakan pakaian dalam. Diliriknya Suga dengan waspada. Lelaki itu masih membelakanginya dan menatap ke luar jendela. Kaku bagaikan batu. Dengan cepat Jimin meraih celana piyama itu yang kebesaran dan mengenakannya. Ketika hendak memakai piyama hitam itu, dia harus mengenakannya dengan susah payah. Lengannya kaku karena memar, dan kegiatan

mengancingkan kemeja itu sangatlah susah dilakukan karena jemarinya kesakitan dan gemetar.

Air matanya menetes, berusaha mengancingkan kemeja itu berkali-kali tetapi tidak berhasil. Dia mengutuk ketikdakberdayaannya.

Suga membalikkan badannya ketika mendengar isakan tertahan Jimin, dan menemukan gadis itu sedang berusaha mengancingkan kemejanya dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran. Lelaki itu mengumpat pelan, lalu menghampiri Jimin.

Tatapan Jimin kepadanya sungguh meluluhkan hati, bahkan untuk lelaki berhati kejam seperti Suga. Air mata yang menetes tanpa henti mengalir di pipi Jimin,

"Aku... aku sudah berusaha... tapi ini susah sekali." Tangan Jimin gemetar tak terkendali. Hingga Suga menangkupkan jemarinya ke jemari Jimin, berusaha menghentikan gemetarnya,

"Biarkan aku yang melakukannya." Lelaki itu menyingkirkan tangan Jimin dan mengancingkan kemeja Jimin satu persatu. Ketika sudah tertutup sampai ke atas, dia menghela Jimin supaya berbaring ke atas tempat tidur satin hitamnya.

"Tidurlah." Suga bergumam memerintah, tetapi rupanya dia tidak perlu melakukannya karena begitu berbaring, Jimin langsung tertidur pulas.

Semalaman Suga tidak tidur. Dia bersandar di jendela, sambil mengamati Jimin yang tertidur pulas.

Kai menghadapnya pagi-pagi sekali, dan Suga menemuinya di ruang kerjanya.

"Sudah kau bereskan?"

"Semuanya." Jawab Kai tenang, "Tidak akan ada yang tahu bahwa Taehyung telah lenyap. Dia menghilang begitu saja dari muka bumi. Dan apartemennya sudah bersih, dari semua bercak darah, dari semua sidik jari dan jejak kaki. Tidak akan ada yang bisa mengaitkan kita dengan apartemen itu."

"Bagus." Suga masih tampak tak puas, "Apakah Taehyung punya keluarga?"

"Dia punya seorang kakak laki-laki, kakaknya seorang wartawan juga. Dan juga seorang

tunangan di luar kota." Kai mengerti apa yang diinginkan bosnya, "Apakah anda ingin saya 'membereskan' seluruh keluarganya?"

"Ya." Suga menggeram. "Jangan habisi mereka, cukup hancurkan kehidupannya, aku ingin mereka hancur perlahan dan menderita pelan-pelan." Bayangan akan goresan luka di pundak Jimin, memar-memarnya dan bekas tamparan keras di pipi dan ujung bibirnya membuatnya marah besar. Taehyung sudah mati untuk bisa menerima pembalasannya. Tetapi keluarganya tidak. Suga tidak tanggung-tanggung kalau membalas dendam. Siapapun yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya, dalam hal ini merusaknya, maka akan menerima pembalasan yang setimpal.

Jimin terbangun hampir tengah hari. Kali ini seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Ujung bibirnya terasa bengkak sehingga dia susah berbicara. Dengan susah payah dia berusaha duduk di ranjang. Tetapi lalu berbaring lagi dengan lemah.

"Jangan duduk dulu. Kau akan merasakan kesakitan yang tidak menyenangkan setelah beberapa hari, tetapi setelah itu kau akan membaik." Suara itu terdengar lagi dari sudut gelap di dekat jendela. Jimin menolehkan kepalanya dan mendapati Suga berdiri di dekat bayang-bayang di jendela, lelaki itu sedang mengamatinya.

Kepala Jimin terasa pening, bahkan sekarang dia ditempatkan di kamar Suga. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan dirinya?

"Kau sudah berhasil menahanku di rumah ini. Sesuai obsesimu. Sekarang apa yang akan kaulakukan padaku?"

Suga tertawa pelan dan melangkah mendekati Jimin, "Kau benar-benar tidak takut padaku ya..." Lelaki itu membuat Jimin menghadapnya lalu sebelah jemarinya mencengkeram leher Jimin yang mungil. "Seharusnya kau tidak pernah mencoba kabur ...

" Suara Suga mendesis penuh kemarahan, dan menatap Jimin mencoba-coba. "Aku bisa meremukkan leher mungilmu ini dengan sebelah tangan. Membunuhmu dengan tangan kosong... Kau tahu aku pernah melakukannya pada seorang pelacur. Aku membunuhnya dengan tangan kosong, lalu pergi. Aku melakukannya hanya untuk mengganggu Yoongi, meninggalkannya terbangun dengan mayat wanita yang mati tercekik di ranjangnya. Lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengamati dia berusaha membereskan semuanya."

"Kalau begitu lakukan saja." Jimin memejamkan matanya. Toh dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalaupun dia harus mati di tangan Suga, mungkin itu jalan yang terbaik.

Jemari Suga mengencang di lehernya, seakan benar-benar ingin mencekiknya. Tetapi

kemudian pegangannya mengendurdanlelakiit.melepaskan .pegangan tangannya di leher Jimin.

Jimin membuka matanya dan melihat Suga sedang mengamatinya dengan pandangan menilai.

"Kenapa kau tidak membunuhku?"

"Karena kau akan lebih bernilai bagiku kalau kau hidup." Suga menyeringai dengan tatapan jahat, "Aku menyimpanmu di sini bukan untuk kubunuh. Kalau aku ingin membunuh perempuan, aku tinggal menjentikkan jari dan membuat mereka datang kepadaku. Mereka bahkan tidak akan sadar sampai mereka sudah di ambang kematian."

Mata Jimin membara, "Seperti yang kau lakukan pada Jin, ibuku."

"Itu kecelakaan." Suga tampak tidak menyesal, bahkan tampak sangat puas, "Ibumu menyelinap masuk ke dalam kamarku, dengan baju seksi transparan yang dikiranya bisa membujukku untuk jatuh dalam pesona tubuhnya." Suga mengernyit jijik. "Dan rasa ingin tahu membuatnya membuka koleksi album foto milikku." Suga tersenyum, tahu bahwa Jimin mengetahui apa maksudnya, dia yakin Hoseok sudah menjelaskan semuanya kepada perempuan ini, "Jadi dia harus kubunuh."

"Apakah begitu mudahnya bagimu untuk membunuh seseorang? Apakah kau memang tidak punya perasaan?"

"Perasaan?" Suga tertawa keras, "Cukup Yoongi yang selalu dikuasai perasaannya, perasaan hanya akan membuatmu lemah. Sama seperti ibu kandungku yang dikuasai perasaan cinta membabi butanya kepada ayahku, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku dihajar dan dipukuli ketika usiaku masih kecil"

Jimin memandang Suga dengan terkejut. Yoongi tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Apakah yang dikatakan Suga itu benar, ataukah Suga hanya berusaha memanipulasinya.

"Yoongi tidak ingat apa-apa, dia tahu kalau dipukuli, tetapi itu hanya karena dia terbangun dengan bilur luka di punggungnya." Mata Suga tampak gelap penuh amarah. "Ayahku itu monster yang suka memukuli anak-anaknya, kalau aku tidak sesuai dengan standarnya, dia akan mengayunkan tongkatnya dan memukuli punggungku tanpa ampun. Aku muncul karena peristiwa itu." Suga tersenyum dingin kepada Jimin, "Kau pasti bertanya apakah Yoongi memilikiku sejak awal. Jawabannya mungkin tidak. Aku adalah pertahanan diri Yoongi ketika dia merasakan sakit yang amat sangat ketika dipukuli oleh ayahnya. Yoongi menenggelamkan kesadarannya dan lari dari kesakitan itu. Dan akulah yang kemudian

terbentuk dari alam bawah sadarnya, terbangun untuk sadar penuh ketika ayahku memukuli punggungku dengan tongkat. Akulah yang menanggung kesakitan atas pukulan-pukulan itu untuk Yoongi."

Jimin menutup bibirnya dengan tangan. Terkejut atas cerita Suga, dia pasti masih sangat kecil ketika harus menanggung kekejaman orangtuanya seperti itu.

Suga menatap Jimin tajam. "Semua kemarahan Yoongi, kebenciannya kepada orang tuanya, kebenciannya kepada dunia, semuanya terkumpul pada diriku. Yoongi yang membentukku menjadi seperti ini. Sampai kemudian aku tidak tahan lagi menerima pukulan-pukulan ayah. Aku merenggut tongkat itu dari tangannya dan memukul kepalanya sampai berdarah. Ibuku berteriak-teriak, dia membela ayahku, bayangkan, anaknya dipukuli dengan tongkat sampai tidak bisa berdiri dia hanya diam... dan ketika suaminya dilukai dia membelanya sekuat tenaga, sungguh ibu yang tidak berguna," Yoongi mencibir sinis, "Aku lalu mengancam kedua orang tuaku, kalau mereka berani bertindak kasar kepadaku lagi, aku akan membunuh mereka."

Jadi Suga terbentuk karena kemarahan terpendam Yoongi di masa kecilnya. Kepribadian itu kemudian tumbuh bebas dan kuat, mencari waktu di saat Yoongi lemah, lalu menjadi individu yang benar-benar berdiri sendiri.

"Apakah Yoongi tidak akan kembali lagi?"

Suga tersenyum lambat-lambat, "Tidak sayang, dia sudah lemah dan tak sadarkan diri di sana, aku bahkan tidak bisa merasakan kehadirannya. Kau tahu, aku selalu lebih kuat dari Yoongi. Ketika dia menguasai tubuh ini, aku masih tersadar, mengamati dari sudut yang paling gelap di dalamnya. Tetapi ketika aku menguasai tubuh Yoongi, dia sepenuhnya tertidur, dan mungkin akan terbangun dengan ingatan samar-samar akan perbuatanku. Hanya saja ketika itu aku masih merasakan kehadirannya, tertidur dalam tubuh ini. Sekarang aku tidak bisa merasakannya." Senyum Yoongi melebar puas, "Tubuh ini sekarang menjadi milikku sepenuhnya."

Wajah Jimin pucat pasi, benarkah yang dikatakan oleh Suga? Bahwa Yoongi sudah lenyap? Kalau begitu... apakah sama saja Yoongi sudah mati?

Itu tidak mungkin. Jimin menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Yoongi pasti masih hidup jauh di dalam sana. Dia hanya lemah. Kalau Jimin ingin menyelamatkan Yoongi, dia harus bisa membangunkan kembali Yoongi.

Tetapi bagaimana caranya? Lelaki ini tampak begitu kuat dan berkuasa. Dan juga begitu percaya diri. Akankah Jimin bisa membangunkan Yoongi lagi?

Suga menemui Hoseok di rumah sakit. Kedua tangan Hoseok yang patah sudah dipasang pen dan di gips. Lelaki tua itu tampak tak berdaya duduk di atas ranjang rumah sakit, benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan Suga.

Para penjaga berjaga ketat di dalam dan dl luar ruangan rumah sakit di kamar paling privat itu. Suga memasuki kamar itu, dan berdiri sambil mengamati Hoseok.

Hoseok memalingkan muka, tidak mau melihat Suga. Bayangan anaknya, menantunya, dan cucunya yang masih kecil dan api yang membakar masih begitu menghantuinya. Seharusnya Suga membunuhnya juga karena sekarang dia sudah tidak pantas hidup lagi. Tetapi entah kenapa Suga tidak membunuhnya. Hoseok tidak tahu alasannya.

"Aku berhasil mendapatkan kembali Jimin." Suga bergumam lambat-lambat dengan puas, dia seakan hendak menilai reaksi Hoseok.

Hoseok memejamkan matanya, merasakan kesedihan yang menusuk jiwanya. Semuanya gagal. Bahkan usaha satu-satunya menyelamatkan Jimin pun gagal. Tuan Yoongi pasti akan kecewa kepadanya.

"Lain kali, kalau mau merekrut orang, jangan hanya melihat pada hasil penyelidikan di atas kertas. Nilailah moralitas dan kejujurannya." Suga bergumam lagi, membuat Hoseok akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap Suga dengan bingung.

Apa maksud kata-kata Tuan Suga?

"Taehyung langsung meneleponku, menawarkan kesepakatan yang lebih besar." Suga tersenyum mengejek. "Dia berpikir bahwa menjalin kesepakatan denganku akan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dengamu."

Hoseok mengernyitkan dahinya. Dasar wartawan bodoh! Hoseok benar-benar menyesal mempercayakan tugas sebesar itu kepada Taehyung.

"Dan aku menyelamatkan Jimin dari Taehyung pada waktunya."

Hening. Lalu Hoseok menatap Suga dengan pandangan bertanya-tanya. "Apa maksud anda?"

"Rekananmu itu mencoba memperkosa Jimin, aku datang tepat pada waktunya."

"Apakah anda membunuhnya?" Hoseoktetap bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.

Suga terkekeh, "Tentu saja."

Hoseok menarik napas panjang, baru kali ini dia merasa lega atas pembunuhan kejam yang dilakukan Tuan Suga. Kalau memang benar Taehyung mengkhianati kesepakatan mereka dan kemudian malah mencoba memperkosa Nona Jimin, maka dia pantas mati.

"Aku seharusnya menghukummu karena sudah menempatkan Jimin dalam situasi seperti itu. Dia milikku dan lelaki itu hampir menyentuhnya, dan sudah melukainya."

Hoseok menatap Suga dengan tatapan datar. Tuannya itu sudah mematahkan kedua lengannya, hukuman apa lagi yang akan diterimanya? Apakah Tuan Suga akan mematahkan kedua kakinya juga?

"Aku akan memikirkan hukuman itu nanti. Sekarang aku sedang cukup senang karena Jimin telah kembali kepadaku lagi." Suga melangkah pergi sambil terkekeh mengejek kepada Hoseok. Ketika berada di pintu, tiba-tiba dia memutar langkahnya, "Dan omong-omong, aku tidak membunuh anak, menantu, dan cucumu, mereka baik-baik saja dan berhasil pindah ke tempat antah berantah yang kau sediakan buat mereka. Sayangnya aku tahu di mana tempat antah berantah itu berada." Tawa mengejek Suga semakin keras, "Aku mengatakan bahwa aku membunuh mereka, hanya untuk menyiksamu."

Lelaki itu pergi sambil menutup pintu di belakangnya. Tetapi tawa mengejeknya masih menggema keras dari lorong rumah sakit itu.

Yang bisa dilakukan Hoseok hanya menangis. Air matanya bercucuran. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangisan syukur dan kelegaan yang luar biasa.

Suga menatap bayangannya di cermin dan dia mengernyitkan keningnya. Dia merasakan Yoongi, yang kini berada di dalam cermin, membalas tatapannya.

Yoongi ternyata masih ada. Beberapa lama ini Yoongi tidak dirasakannya lagi sampai Suga mengira dia telah berhasil mengenyahkan Yoongi selamanya. Tetapi sekarang Yoongi sepertinya menggeliat lagi, bangun dari tidurnya yang panjang. Apakah jangan-jangan, kehadiran Jimin juga membuat Yoongi menjadi kuat?

"Aku pikir kau sudah mati." Suga tersenyum mengejek kepada bayangannya di cermin

Yoongi menatap tajam Suga,"Aku masih ada di sini, Suga. Kau tidak bisa menguasai tubuh ini sendirian. Dan aku merasakan kehadiran Jimin."

Suga mengernyit. Jadi benar, Jiminlah yang menggugah Yoongi agar terbangun. Tetapi bagaimana mungkin? Suga yakin Jimin membuatnya kuat karena gadis itu membuatnya terobsesi, obesi membuatnya fokus dan makin kuat sehingga bisa menguasai tubuh ini. Tetapi, bagi Yoongi, perasaannya kepada Jimin adalah perasaan cinta. Dan cinta bagi Suga adalah sesuatu yang melemahkan. Bagaimana mungkin perasaan cinta bisa membuat Yoongi menjadi kuat? Yoongi tersadar lagi padahal Suga sudah mengusirnya jauh ke dasar.

"Kau tidak akan bisa menguasai Jimin." Yoongi menatap Suga dengan pandangan mengancam, "Aku tidak akan membiarkannya."

"Oh ya?" Suga tertawa, "Kita lihat saja nanti."

Ketika meninggalkan cermin itu, geraham Suga mengeras. Dia harus menguasai Jimin segera dan menunjukkan kepada Yoongi bahwa dia lebih kuat.

Jimin berdiri mondar-mandir di kamar Yoongi. Kamar itu terletak di lantai dua sehingga dia tidak bisa melompat, dan pintunyapun di kunci. Benak Jimin dipenuhi oleh pikiran-pikiran membingungkan. Dia ingin membangunkan Yoongi, tetapi bagaimana caranya? Jimin sama sekali tidak punya pengalaman ataupun pengetahuan tentang hal-hal psikologi seperti orang-orang berkepribadian ganda.

Mungkin kalau bisa membujuk Suga supaya mengizinkannya ke perpustakaan, dia bisa menemukan buku-buku psikologi yang bisa memberikannya petunjuk bagaimana caranya membangunkan kembali Yoongi. Suga mengatakan dia sudah tidak merasakan Yoongi di dalam dirinya, dan dari senyum puasnya, Jimin tahu Suga tidak bohong. Dan itu membuat Jimin ketakutan. Yoonginya tidak mungkin mati dan hilang begitu saja bukan?

Tiba-tiba terdengar bunyi klik dari luar, dan Jimin melompat mundur dari pintu, menatap waspada ke sana. Tahu bahwa musuh besarnya, Suga akan masuk ke kamar ini.

Dan benar, Suga memang masuk, dengan pakaian hitam-hitamnya yang khas. Lelaki itu menatap Jimin dengan intens dan kemudian mengunci pintunya.

Jimin mundur selangkah, menyadari tekad yang sangat kuat di mata Suga. Tekad yang hampir sama seperti hasratnya untuk membunuh. Tubuh Jimin gemetaran. Apakah lelaki ini

memutuskan bahwa sudah antasbaginyauntumati?

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Suga tidak menjawab. Lelaki itu malahan melepas kancing jasnya dan kemudian membuang jas itu di lantai. Dasinya menyusul kemudian. Dan lelaki itu mulai membuka kancing kemejanya.

"Apa yang akan kau lakukan?" Jimin menatap panik ketika Suga melemparkan kemejanya ke lantai, memamerkan tubuh indahnya yang sempurna. Otot-otot itu begitu pas dan keras di lengannya, bisepsnya membentuk lengkungan yang indah, begitupun otot dadanya dan perutnya yang kencang. Semuanya otot yang keras dan maskulin, tidak ada sedikitpun lemak di sana.

Suga melangkah maju, dan Jimin melangkah mundur. Suga melangkah maju selangkah lagi dan dengan refleks Jimin melangkah mundur lagi.

"Apa yang akan kau lakukan?" Jimin setengah berteriak, dengan panik menyadari bahwa dia sudah menempel pada pinggiran kasur, tidak bisa mundur lagi.

Suga tidak tersenyum, tatapan matanya tampak kejam tetapi penuh tekad,

"Aku akan bercinta denganmu."

-to be continued

curhatan author

hello readers. author cuma mau minta maaf buat keterlambatan update ff remake ini ya:( tugas kuliah sangat menumpuk dan sekarang juga lagi sibuk shoot buat mini drama (tugas kuliah), maafin yaa:( mumpung lagi ada waktu yg super duper mepet jadinya upload aja sebelum kelupaan lagi. duh berasa gaenak bngt sama readers-nim /deep bow