Halo, minna! Evil kembali dengan membawa chapter 2 dari fic Under The Rain of Blood! Dan Evil ucapkan terima kasih bagi yang sudah mau fav dan follow juga yang membaca fic gaje-asal-kepikiran ini! *bungkuk* Silahkan dilihat balasan review nya!
AMEUMA
Wah, AMEUMA-san fans Miyaji ya? Hehehe, tenang aja, Miyaji sering muncul kok! Nanti Evil kirimin nanas yang baru saja disentuh Miyaji ke rumah AMEUMA-san deh (?) Thx atas review nya!
Under The Rain of Blood
Genre: Action, Romance
Rate: T (Sementara T dulu. Nggak tau deh naik atau tidak hahaha)
Pairing: KagaKuro, AoKise, MidoTaka, NijiAka, MuraHimu, KiyoHana, ImaSaku, NebuMibu, HyuIzu, OkaFukui, OtsuMiya, MoriKasa
Kuroko no Basket belongs to Tadatoshi Fujimaki, not Evil
.
.
.
Kau bisa menyebut pemuda berambut merah itu dengan nama lengkap Seijuro Akashi. Saat ini, pria yang menjabat sebagai Kapten anggota teroris 'Twisted Fairytale Corps' lengkap dengan seragamnya yang serba hitam-hitam dengan resleting biru muda, dilengkapi jaket putih panjang yang ia taruh di pundak. Langkah heels dari boots 3 cm-nya berbunyi cukup kencang ketika menelusuri lorong markas mereka.
Akhirnya, tibalah ia tiba di depan pintu ruang rapat mereka. Dibukanya pintu tersebut. Yang dilihatnya adalah…
"Kamu jangan tinggalin aku! Hiks, hiks, aku mohon!"
"Maaf sayang…tapi waktuku sudah-"
"Nggak! Kamu nggak boleh mati dulu! Uhuhuhuhu…*sniff* *sniff*…"
Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally
"Hiks, hiks…" Takao, yang duduk disebelah Kuroko yang lagi asyik nyeruput vanilla milkshake nya dengan anteng, segera mencari-cari tissue.
"Wuaaah! Jangan mati, Tappeicchi!"
"Iya, jangan…hiks,hiks…"
"Huaaa!"
Kise dan Mibuchi pun berpelukan penuh haru.
"Ihik…hiks, hiks. Sedih sekali ya…" kata Sakurai, sambil berusaha menyeka air mata.
"Ahaha, Sakurai, ini tissue nya…" sahut Himuro, membagi tissue yang dipegangnya kepada rekannya.
"Apa-apaan sih nih film?"
"Kasamatsu…kau nggak nangis? Hiks…" sahut Hayama. Matanya sudah mulai basah berurai air mata.
"Ya nggaklah! Lagian salah seme nya sendiri kenapa bla bla bla…"
Kasamatsu pun melanjutkan komentar pedasnya.
"Hiks…" tangan milik Fukui diam-diam menuju tempat tissue berada. Ingin menyeka air matanya yang sempat keluar.
"…" Mayuzumi memperhatikannya.
"Apa lihat-lihat? Aku mengambil tissue karena tanganku belepotan popcorn!"
"Hiks, hiks…oh, itu indah!" kata Izuki dengan tissue ditangan.
'Tumben nih orang nggak ngeluarin guyonannya…' ucap Miyaji dalam hati.
"Hiks…indah seperti berlian yang diasah. Ooh, kitakore!"
"Brengsek! Ikh!"
Miyaji pun melempar tissue penuh ingusnya ke yang bersangkutan.
"Aaaah…"
DHEG!
"Hiks, kasihan…"
Semua pun menoleh ke belakang. Dilihatnya, Hanamiya sedang bersandar di kursi sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Wakil Hanamiya, kau bisa menangis? Slurp, slurp…" Kuroko bertanya sambil minum milkshake miliknya.
"Oh, ya, aku menangis karena ending game yang kumainkan. Lihat ini."
Didalam layar kaca HP Hanamiya, terlihat gambar potongan *beep*, *beep*, dan *beep*.
"AAAAHHH!"
"Ehem!"
Suara deheman yang berasal dari depan pintu ruang rapat itu langsung mengundang seluruh perhatian 13 orang di dalam ruangan tersebut. Mereka terdiam sesaat sebelum akhirnya suara melengking memenuhi ruang rapat itu.
"KA-KAPTEEEEEN?!" Teriak mereka bersamaan, kecuali Hanamiya yang terlihat santai-santai saja.
"Oi, cepat matikan tv nya, bodoh!"
"Sakurai, segera buang sampah-sampah ini!"
"Eh?! Ma-maaf, tapi kenapa aku?!"
"Hei! Tissue siapa ini! Sampai menumpuk membentuk gunung begini!"
"Kuroko, ayo bantu!- Ah, disaat seperti ini dia malah menghilang!"
Dan akhirnya rapat pun terpaksa diundur beberapa menit untuk membersihkan ruang tersebut.
.
.
.
Ruangan itu dapat dikatakan luas, dengan desain interior serba putih dan kursi-kursi hitam berjajar rapi didepan meja kayu besar. Meja itu lonjong, berada di tengah ruangan dan televisi LED besar yang bertengger di tembok ditemani beberapa pajangan seperti lukisan pemandangan serta vas bunga.
Saat ini, 14 figur cantik-cantik dari Twisted Fairytale Corps. sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing. Eits, jangan tertipu dengan penampilan mereka yang memesona. Karena kalau kalian macam-macam dengan mereka, bisa-bisa nyawa taruhannya. Mereka adalah penjahat yang mematikan, dan tak kenal ampun. So, berhati-hatilah.
Dan, mereka sedang rapat kali ini.
Si empunya manik heterochromia merah dan kuning, yang tempat duduknya pas di depan, menaruh kedua tangannya diatas meja sambil menatap anggota yang lain lekat-lekat.
"Jadi, untuk sekarang, kita sudah menghancurkan dua dari tiga perusahaan besar dan terkenal di Jepang, yaitu perusahaan saham di Kyoto dan perusahaan bank di Akita." kata Akashi, menjelaskan. "Berarti, kita tinggal menghancurkan 1 perusahaan lagi."
"Kalau boleh tahu, sekarang kita mau menyerang perusahaan apa?" tanya Fukui.
"Hmm…bagaimana kalau …? Oh, oh! Perusahaan kosmetik di Ginza! Perusahaan mereka kan top tuh, apalagi keluaran produknya! Wah, wah, duitnya pasti-!" Bola mata Hayama mulai berbinar-binar, membayangkan lembaran demi lembaran kertas bernama uang itu.
"Kau ini! Perusahaan itu kan sudah bangkrut! Gimana sih!" ujar Miyaji yang tangannya sudah gatal ingin memukul kepala Hayama.
Mendengar kata-kata Miyaji, Hayama langsung terlonjak kaget.
"Eh?! Masa sih?! Kita telat dong… Siapa sih, yang membuat perusahaan itu bangkrut?!" Hayama menggembungkan pipinya kesal.
"KITA!" teriak Miyaji, Kasamatsu, dan Takao bersamaan.
"Hah? Kapan?" tanya Hayama dengan tampang polos.
"LIMA BULAN YANG LALU!" teriak mereka lagi dengan wajah memerah karena marah. Yang merasa diteriaki pun hanya mengedipkan sebelah matanya sambil menjulurkan lidahnya keluar. Sok imut.
"Ah, iya… Hayama kan punya shorten memory loss…. Aku hampir saja lupa…" kata Himuro diiringi dengan tawa kecil. Sakurai yang duduk di sebelahnya pun ikut tertawa.
Akashi menghela napas. "Jadi, perusahaan besar yang akan kita hancurkan setelah ini adalah, perusahaan multinasional."
"Owh." sahut Mibuchi, merasa kagum.
"Perusahaan multinasional yang mana ya?" tanya Sakurai innocent.
"Ini aku baru mau bilang…"
"Ah, sungguh?! Waah, sumimasen, sumimasen! Maafkan aku Kapten!"
"Ya, tidak apa. Makoto."
Sang wakil kapten pun langsung beranjak dari kursinya. Ia mencolok kabel yang sudah terpasang di TV ke HP-nya.
Akashi diam. Ia tahu benar ekspresi Hanamiya yang seperti itu. Prank mode.
'Menghadap jendela dulu , ah.' batin Akashi, sambil memutar kursinya kearah jendela.
Ternyata, yang sadar bukan hanya dirinya saja. Himuro menghadap kearah jendela seperti dirinya, Mibuchi terlihat mengutak-atik HP, Mayuzumi memejamkan mata seolah pura-pura tidur, Izuki…entahlah dia sadar atau tidak, karena sorot matanya terlihat tidak fokus pada layar TV. Yang terakhir, tidak kurang tidak lebih, Kuroko hilang.
"Ya. Jadi ini gambarnya."
Sebuah gambar pun muncul di televisi LED besar itu. Wajah penuh darah dan rambut hitam panjang terpampang jelas di layar televisi tersebut, membuat orang-orang yang tidak peka dengan ekspresi Hanamiya barusan pun teriak. Lagi.
"KYAAAAAA!"
Merasa bahwa rencananya berhasil, Hanamiya berusaha menahan tawa melihat berbagai macam ekspresi yang muncul di wajah-wajah mereka. Lihat saja, dia sedang menutupi mulutnya dengan tubuh bergetar agar tidak kelepasan tertawa.
"Makoto." panggil Akashi pada wakilnya. Kedua manik heterochrome miliknya menatap pemuda beralis tebal itu dengan intens.
"Iya, iya, aku hanya bercanda kok." Hanamiya pun mengganti gambar 'terkutuk' itu dengan sebuah gambar gedung mewah bertingkat 12 lantai.
"Ini adalah gedung yang bakal kita rampok dan kita hajar, yaitu kantor perusahaan Oniveler yang berada di pusat Tokyo. Kenapa Tokyo? Tentu saja, setelah 3 serangan dari kita, aku yakin orang-orang sudah mulai sadar akan keberadaan kita, dan sudah saatnya kita bikin kekacauan di pusat kota. Lagipula, ibukota merupakan sumber uang paling terbaik, tentu saja." jelas Hanamiya, dengan senyum licik, seperti biasa. Lalu, ia mengganti layar TV itu menjadi sebuah foto pria berambut hitam pendek yang kurang lebih berumur 35 tahun.
"Baiklah, langsung saja ke inti masalah. Dari data yang telah kupelajari, 5 hari lagi, CEO Oniveler Jepang, Mochihiro Takashimura, akan mengadakan pertemuan rahasia dengan agen black market untuk mengadakan transaksi organ jantung disana. Ia pria aneh yang memiliki hobi mengumpulkan organ tubuh manusia."
Mendengar itu, yang lainnya pun langsung menoleh satu sama lain.
"Wah, mengerikan-ssu!" pekik Kise.
"Namun, mengadakan transaksi seperti itu di gedung perusahaan sendiri? Apa tidak berbahaya?" pertanyaan tersebut dilontarkan Himuro.
"Aneh memang, mengadakan transaksi seperti itu di gedung perusahaannya sendiri. Namun, gedung itu memiliki lantai yang sepi orang dan layak dijadikan transaksi gelap."
"Oke…jadi kita butuh penyamaran?" sahut Kasamatsu.
"Betul." balas Hanamiya. "Pertama, kita kuasai agen black market ini, berpura-pura berkontak terus dengan Takashimura, lalu menyamar sampai ajal menjemputnya. Jangan lupa, urus kamera, alarm, dan segala perlengkapan elektronik juga. Oh, dan ranjau. Kali ini kita akan menaruh gas racun dan bom mikro."
"Bom mikro juga?" tanya Takao.
"Untuk antisipasi kalau pengganggu menggunakan helm. Kalau tidak tahunya mereka orang ahli, mau tidak mau terpaksa kita hadapi dengan cara membunuh."
Mendengar siasat dari wakil kapten, sang kapten pun tersenyum puas. Begitu juga dengan anggota yang lain. Mereka setuju saja karena memang, Hanamiya adalah ahli siasat terbaik didalam organisasi.
"Bagus." jawab Akashi setuju. " Kali ini, langsung kubagikan saja tim-nya. Yang akan membereskan agen black market yang asli, Cursed Aurora dan Death Wishes Granter Jasmine yang akan menangani mereka."
"Siap, Akashicchi!" ucap Kise sambil memberi hormat pada kaptennya.
Mibuchi tertawa kecil sebagai respon. Fukui mengangguk dengan wajah berbinar-binar, dan Mayuzumi tetap dengan poker face kesayangannya.
"Little Killer Ariel, kalian yang akan melakukan penyamaran di misi ini sebagai agen black market."
Takao terkekeh.
"Hehe, bukan 'di misi ini' saja, tapi memang selalu kan, kapten? Benar, Kuroko?" tanya pemuda pemilik rambut hitam model belah tengah itu pada pemuda lain bermahkota baby blue yang mengangguk setuju sebagai balasan.
"Evil Spirit Pocahontas pun juga ikut serta dalam penyamaran sebagai bodyguard dari agen black market."
Kasamatsu mengangguk mengerti. Sedangkan Hayama melompat-lompat bahagia di kursinya bak anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan balon oleh orangtuanya.
"Yeeeei! Menyamar! Menyamar! Aku suka menyamar!" Serunya penuh antusias. Kasamatsu hanya memandangnya dengan tampang jengkel.
Akashi pun kembali melanjutkan pembagian tugasnya. "Beastly Belle akan mengatur seluruh bagian elektronik di gedung besar itu, seperti yang Makoto katakan tadi."
Izuki mengacungkan jempolnya kearah Akashi. "Baik, aku akan melaksanakan apa yang kapten perintahkan padaku. Wah, kitakore!" Dengan sigap, Izuki meraih ponselnya dan mengetik pun yang baru saja dibuatnya.
Kretek, kretek. Bunyi tulang-tulang jari Miyaji terdengar keras, bersiap untuk meninju penggila pembuat guyonan tidak danta itu tepat di wajah.
Akashi menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan pembagian tugas yang sempat terhenti. "Dan untuk bagian ranjau, kuserahkan pada Poisonous Snow White ."
Sakurai terlonjak kaget di kursinya,sedangkan Himuro hanya tersenyum saja.
"Semoga semuanya bisa berjalan lancar…" senyum sang ketua, yang selalu ia diperlihatkan usai menyusun rencana. Didalam senyumnya, tersirat jelas bahwa ia tidak akan menerima yang namanya jawaban 'gagal'.
Rapat pun ditutup.
.
.
.
Malam hari, pukul 23:44…
Gudang itu sunyi senyap. Tentu saja, selain malam, gudang itu digunakan sebagai transaksi ilegal seperti narkotika, perdagangan manusia, dan juga organ-organ tubuh.
"A-apa mau kalian?!" Pekik ketua agen black market itu sembari berjalan mundur, berusaha menjauh dari dua sosok cantik nan mengerikan di hadapannya sekarang. Cahaya lampu yang redup membuatnya sedikit susah untuk menggunakan indera penglihatannya dengan baik.
"Kami hanya ingin barangnya saja, pak. Dimana kau menyimpannya?" tanya Mibuchi dengan senyuman penuh arti setia melekat di wajahnya. Rod yang sedari tadi ia bawa diarahkan ke wajah ketua agen black market itu. Percikan-percikan listrik muncul dari bola kristal di atas rod tersebut ketika Mibuchi menekan salah satu tombol berwarna ungu di gagang rod nya.
"Barang? Barang apa? Kalian bicara apa?!" ketua agen black market itu bertanya balik dengan polosnya.
Prik prik prikprikprik!
"Hiiii!"
Percikan-percikan listrik itu lama kelamaan semakin besar, membuat ketua agen itu ketakutan dan mundur agar menjauh dari senjata yang mengerikan itu.
"Jangan pura-pura bodoh, bapakcchi! Kau bukan aktor yang hebat, tahu!" seru Kise sambil berkacak pinggang.
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dengan jelas dari luar ruangan itu, disusul oleh suara tebasan.
"AAAAAH!"
Craaaas!
"Nah, ayo katakan, dimana kau menyimpan barangnya! Kau tidak mau berakhir seperti bodyguard mu tadi kan? Hm?" tanya Kise sambil tersenyum. Senyum jahat tentunya.
Tap. Tap. Tap.
Mibuchi semakin gencar melangkah maju. Rod yang penuh oleh aliran listrik itu sudah di depan wajah ketua agen black market beberapa inci. Sekali lagi melangkah dan sudah dipastikan nyawanya akan melayang dalam 1 detik saja.
"3…"
Kise mulai menghitung. Ketua agen itu terlihat panik.
"2…"
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Sa-"
"Ba-barangnya ada di brangkas itu!"
"Di mana?"
"Di-di bawah meja!"
Kise mendekati sebuah meja cokelat yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menunduk dan melihat sebuah koper kecil berwarna hitam tergeletak di situ. Jari-jari lentiknya meraih brangkas tersebut dan menaruhnya di atas meja.
"Apa kodenya?" tanya pemilik surai pirang itu.
"1011…!"
Kise mulai mengotak-atik 4 digit yang tertera di brangkas tersebut menjadi 4 angka yang sempurna.
Klik!
"Oh! Terbuka!" pekik Kise senang. Dibukalah bagian atas brangkas itu dan terlihatlah isi dari brangkas tersebut.
Sebuah jantung. Dengan darah kering yang menodai sedikit bagian dalam brangkas tersebut.
"Bagaimana, Kise? Asli atau palsu?" tanya Mibuchi pada rekan se-timnya.
"Hmm…" Kise mulai meneliti organ tersebut dengan teliti. "Yup! Asli, Mibuchicchi!"
Mibuchi mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan ketua agen black market itu berdiri dengan tubuh bergetar hebat.
"Ku-kumohon! Le-lepaskanlah aku! Kumohon! Kalian sudah menemukan apa yang kalian cari kan?!" ucapnya dengan penuh ketakutan.
Mibuchi memandangnya sejenak, kemudian ia menjauhkan rod nya dari wajah ketua agen itu. Kepalanya ia tengokkan ke kanan, mengisyaratkan pada ketua agen black market itu untuk pergi. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menjauh dari Mibuchi dan membuka pintu ruangan itu dengan kasar.
Tiba-tiba, sebuah cambuk yang terbuat dari besi mengikat kencang leher ketua agen tersebut sebelum ia menapakkan kakinya keluar dari ruangan.
"Agh!"
"Kau mau kemana, bapakcchi? Kita belum selesai loooh…!" Kise mulai berjalan mendekat kearah pria tua itu.
"Kami memang melepaskanmu. Tapi kami tidak bilang kalau kau bisa keluar dari sini hidup-hidup! Ahahaha!"
Kise mempererat ikatan chain whip nya di leher ketua agen black market itu. Darah mulai mengucur keluar dari lehernya karena besi yang terus saja menggesek kulitnya. Ia sudah tidak bisa bernapas lagi. Kerongkongannya sudah terasa hancur karena dililit oleh senjata tajam itu.
"Selamat tinggal!"
Craaak!
Tik… tik… tik…
Kise tersenyum puas melihat hasil karyanya. Chain whip kesayangannya yang penuh dengan darah ia jauhkan dari makhluk tak bernyawa di depannya dan menyimpannya kembali ke tempat semula.
Di saat yang bersamaan, Fukui dan Mayuzumi datang dengan tubuh dan senjata yang diselimuti oleh banyak darah. Dengan santai mereka berjalan mendekat kearah Kise dan Mibuchi.
"Kalian sudah mendapatkan barangnya?" tanya Fukui pada tim Cursed Aurora.
Mibuchi mengangkat brangkas berisi barang yang mereka incar-incar dengan bangga. "Sudah~"
"Asli?"
"Asli~"
"Bagus. Sekarang, ayo kita kembali ke markas dan segera membersihkan diri. Aku penuh dengan bau darah orang-orang berdosa." ucap Fukui sambil mengendus-endus kerah bajunya.
'Padahal kau salah satu dari orang berdosa juga kan?' batin Mayuzumi.
"Apa? Apa aku salah bicara?" tanya Fukui pada Mayuzumi yang sedari tadi menatapnya.
Mayuzumi pun menggeleng sebagai balasan.
.
.
.
Hari yang dinantikan telah tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tim Little Killer Ariel dan Evil Spirit Pocahontas telah bersiap di basement markas mereka. Kuroko dan Takao sudah masuk di dalam mobil Honda CR-V biru berplat 729 KIO milik Kasamatsu. Tapi nyatanya, si pemilik malah belum duduk di kursi pengemudi. Kemanakah dia?
"Kau yang mengemudi!"
"Tidak! Kau!"
"Kau lah! Aku capek nih!"
"Tidak! Itu kan mobil punyamu! Kalau aku yang bawa, bisa-bisa kita semua ke rumah sakit!"
"Kau kan sudah bisa bawa mobil, oon! Lebih tepatnya, kita semua BISA!"
Ah, ternyata dia sedang ribut dengan Hayama, rekan timnya, di luar mobil, sedang menentukan siapa yang lebih pantas duduk di samping pengemudi ketimbang menjadi pengemudi.
"Kalau begitu, kita suit saja!" Hayama mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap-siap untuk mengeluarkan bentuk gunting, kertas, atau batu.
"Ngapain pakai suit segala! Ah, sudahlah! Aku saja yang mengemudi!" Kasamatsu melangkah mendekati mobilnya dan membuka pintu kemudi.
"Memang seharusnya begitu!" Hayama menjulurkan lidahnya dan masuk ke tempat duduk samping pengemudi.
"Sudahlah guys, jangan berantem." kata Takao, berusaha meredam keributan yang baru saja terjadi. Kuroko, yang disebelahnya, hanya duduk anteng.
"Nggak ribut kok, cuman berisik!"
"Hah?! Please Hayama, stop! Ah, sudahlah," pekik laki-laki berambut hitam cepak itu sambil menginjak rem, memasang gigi 'D' serta menurunkan rem tangan, dan langsung tancap gas. "aku capek!"
"Pufft!" Takao menahan tawa. Kalau sampai tawanya meledak, bisa-bisa ia kena sambar Kasamatsu juga.
"Takao-kun, wajahmu seperti ikan cupang kehabisan nafas."
"Bwahahahahaha!"
"Takao, kulempar kau!"
Dan perjalanan mereka menuju kantor Oniveler pun dimulai.
.
.
.
4 figur itu berjalan di lobby gedung Oniveler. Kuroko dan Takao, dengan mengenakan jaket panjang, celana panjang, dan masker serta topi fedora. Mencurigakan memang, namun berhubung kamera dan petugas disana sudah ditangani oleh anggota lain yang sudah sampai, mereka santai saja.
Setelah mendapat izin masuk dari resepsionis, Takao pura-pura pergi ke toilet untuk memberitahu tim-tim lain yang sudah datang lebih awal bahwa mereka telah sampai. Kuroko, Kasamatsu, dan Hayama sekarang berdiri di depan sebuah ruangan milik Takashimura. Kuroko menyuruh kedua 'bodyguard' nya untuk berjaga di luar selagi ia melakukan transaksi. Keduanya mengerti dan berdiri tegap di kedua sisi pintu.
Tangan putih nan mungil mengetuk-ngetuk pintu kayu eboni mahal itu, yang langsung dibalas dari dalam ruangan.
"Ya, masuk," seru Takashimura.
Kuroko pun mulai memasuki ruangan Tuan Takashimura.
Cklek!
Blam.
"Oh, Bu…*Banira Honda?" tanya Takashimura pada Kuroko.
"Ya. Ini barangnya, Tuan," Kuroko menaruh brangkas hitam itu di atas meja, dan membukanya tepat di depan Takashimura.
Jantung seorang manusia yang ditaruh di dalam sebuah tabung berisi air.
"Hmm…bagus. Seperti yang aku harapkan."
Takashimura terlihat senang. Ia mengambil sebuah koper hitam dan menyodorkannya pada Kuroko, atau kita sebut dengan Honda?
'Ternyata Tuan Takashimura tinggi juga ya kalau dilihat dari dekat…' ucap Kuroko dalam hatinya.
Kuroko menerima koper tersebut dan membukanya, memastikan apakah isinya uang asli atau tidak. Setelah yakin bahwa lembaran-lembaran kertas itu asli, Kuroko menutup koper itu kembali.
"Terima kasih. Dan-" Kuroko menaruh tangan kirinya ke belakang, dan mengeluarkan tiga buah pisau.
"-Ini bonusnya." Kuroko langsung melemparkan tiga pisau itu ke Takashimura.
Tapi di luar dugaan, Takashimura bisa menangkap lemparan pisau itu dengan sigap. Lemparan pisau Kuroko itu bukan hal yang mudah untuk dihindar ataupun ditangkap karena kecepatan melemparnya itu melebihi batas rata-rata.
"… Huh?" Kuroko menaikkan sebelah alisnya, tanda bahwa ia bingung. Dia itu manusia biasa kan?
"Maaf, aku dibayar untuk tidak merusak properti."
Tring! Tiga pisau milik Kuroko dilemparnya ke sembarang arah.
"Tapi-"
Srek brek srek!
Kuroko terkejut. Takashimura merobek wajahnya sendiri!
Ia menggunakan kulit artifisial untuk menutupi identitas aslinya. Didepan Kuroko sekarang, terpampang seorang pria muda, kira-kira seusia dirinya. Jauh sekali dari image Takashimura yang sudah berusia 30 lebih. Iris maroon itu menatap pemilik surai biru dengan intens, rasanya seperti bertatapan langsung dengan seekor harimau. Ia memiliki kulit sawo matang yang eksotis melekat di tubuhnya, dan rambut merah bergradasi hitam miliknya menambah kesan wild.
"-sepertinya jebakannya berhasil." ucap pria itu sambil menunjukkan deretan giginya. "Bukan begitu, Vanilla?"
'A…apa-apaan ini?!'
Kuroko mulai merasa risau dengan perkataan figur didepannya, sekaligus jengkel.
.
.
.
.
~TBC~
Ahh! Akhirnya chapter 2 rilis! *lesehan di lantai* Sebenarnya sih, Evil masih mau lanjut lagi. Tapi apa daya, mata sudah kelap-kelip bak lampu disko, pandangan mulai burem-burem ga jelas- oh, mungkin karena Aomine lewat-yah, singkat cerita… Evil ngantuk. *gubrak*
Jangan lupa review ya guys! Hehe… Sampai jumpa di chapter berikutnya! Stay tune and see you next chapter, readers! Sayonaraaa!
*Banira = Banira itu pronounciation dari Vanilla :3 Dan waktu Kagami berkata Vanilla itu maksudnya mengejek Kuroko.
