From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 12
"Hamil?" Yoongi terperangah. Sejenak dia termenung bingung. Tetapi kemudian dia tersenyum, "Hamil?"
"Haidku tidak datang bulan ini... dan tidak pernah terjadi sebelumnya." Jimin menatap Yoongi penuh rasa bersalah, "Maafkan aku Yoongi..."
"Kenapa kau minta maaf? Aku akan menelepon dokter sekarang. Kita pastikan. Kalau kau memang hamil, kita harus berhati-hati menjagamu. Dan kita akan menikah segera."
"Menikah?" Jimin menatap ragu ke arah Yoongi yang sudah mulai memijit nomor di ponselnya
"Ya. Anak itu harus mempunyai ayah, dan dilahirkan dari pernikahan yang sah." Yoongi menatap Jimin lembut dan cemas, "Bagaimana perasaanmu? Apakah kau merasa pusing? Mungkin kau harus berbaring dan jangan berjalan-jalan,"
Jimin tersenyum geli, "Aku tidak apa-apa Yoongi..."
Lelaki itu menelepon dokter pribadinya dan mengucapkan instruksi agar lelaki itu datang. Kemudian lelaki itu meletakkan teleponnya dan menatap Jimin takjub. "Wow... kau hamil Jimin... hamil anakku..."
Jimin tersenyum, "Aku bilang aku mungkin hamil karena aku terlambat haid, belum tentu aku hamil, Yoongi..."
Yoongi menatap Jimin dengan lembut, "Kau pasti hamil, karena kau terlihat begitu cantik." Lelaki itu memundurkan kursi kerjanya yang besar dan membuka tangannya, "Sini, duduk di pangkuanku."
Jimin tersipu, tetapi dia datang mendekati Yoongi, lelaki itu memeluknya dan mendudukkan Jimin dengan lembut ke pangkuannya, mereka bertatapan. Lengan Yoongi melingkari pinggang Jimin dan kedua lengan Jimin melingkari leher Yoongi.
Jimin hamil, dan itu berarti seluruh rencananya untuk mengakhiri kehidupannya agar bisa mengenyahkan Suga tidak bisa dilakukan. Yoongi selalu menjadi anak tunggal, ayahnya kejam dan ibunya tidak dekat dengannya. Keluarga angkatnya sempat mengisi kekosongan di dalam dirinya, tetapi itupun tidak berlangsung lama. Anak itu, kalau benar Jimin hamil,
anak di dalam kandungan Jimin harus dia jaga. Yoongi harus bisa menekan Suga semakin dalam supaya tidak terbangun dan menguasainya lagi.
"Aku akan menjagamu Jimin, aku akan berusaha supaya Suga tidak bangun dan berbuat jahat."
Jimin menatap Yoongi dengan cemas, "Bisakah kau melakukannya Yoongi? Aku takut Suga mendesakmu lagi sampai kau tenggelam dan dia menguasai tubuh ini.."
Yoongi menyentuh lembut perut Jimin dan mengusapnya penuh sayang. "Aku sebenarnya putus asa, sudah tidak menemukan cara lagi untuk mengalahkan Suga... tetapi semuanya berbeda kalau ada anak ini, anak ini memperkuat tekadku untuk bertahan, Jimin... Aku harus lebih kuat demi menjaga kalian berdua..."
Jimin menangkup tangan Yoongi yang sedang memegang perutnya. "Terima kasih Yoongi."
"Ya Tuan Yoongi, Nona Jimin hamil." Dokter itu sudah selesai memeriksa Jimin. "Hasil tes urine menyatakan positif, dan dari USG saya sudah bisa melihat kantong kehamilannya tampak, meskipun masih kecil."
Yoongi menerima kabar itu dengan sangat gembira, dia menyalami dokter itu dengan bersemangat dan menanyakan detail yang sekecil-kecilnya kepada sang dokter. Setelah dokter itu pergi, Yoongi duduk di sebelah ranjang dan menggenggam erat tangan Jimin yang sedang berbaring.
"Kau harus benar-benar menjaga dirimu, jangan terlalu lelah."
Jimin terkekeh, "Yoongi, aku cuma hamil, bukan sakit."
Lelaki itu tersenyum malu, "Aku tidak pernah dekat dengan wanita hamil sebelumnya. Maafkan aku. Kaulah wanita hamil pertamaku."
Jimin tertawa, "Benarkah kau tidak pernah dekat dengan wanita hamil sebelumnya Yoongi?"
Yoongi menggelengkan kepalanya, "Aku cenderung menghindari wanita hamil dan anak-anak, bukan karena aku tidak menyukai mereka... Aku... aku takut Suga tiba-tiba muncul dan melukai mereka."
Kehadiran Suga telah begitu membatasi Yoongi, Jimin yakin dengan kelembutannya Yoongi pasti menyukai anak-anak kecil. Dia hanya tidak bisa mendekati dan berinteraksi dengan mereka.
"Apa yang dilakukan oleh Suga kadang begitu menakutkan... dia benci hewan peliharaan, dia selalu terdorong untuk membunuhnya, entah untuk bersenang-senang atau memang dia sengaja menggangguku. Karena itulah aku tidak berani mengambil resiko membiarkannya berdekatan dengan anak-anak. Suga, sama seperti diriku, tidak punya pengalaman sama sekali yang berhubungan dengan anak-anak."
Jimin mengerutkan keningnya. Kalau sampai yang terburuk terjadi dan Suga menguasai tubuh Yoongi lagi, apakah Suga akan melukai anaknya? Anak yang dikandung Jimin bagaimanapun juga hidup dari benih tubuh itu, tubuh yang sama-sama ditinggali oleh Suga dan Yoongi. Anak ini anak Suga juga bukan?
"Semoga semua baik-baik saja Yoongi." Jimin bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, dia berharap semuanya baik-baik saja.
Yoongi menatap ke cermin di ruang kerjanya. Menatap bayangan yang balas menatapnya dengan dingin.
"Aku akan semakin kuat karena adanya anakku di kandungan Jimin. Dan aku akan segera menikahinya." Dia mengucapkan kata-katanya kepada Suga, dengan tegas.
Ekspresi Suga tidak dapat ditebak, tentu saja dia sudah tahu kalau Jimin hamil. Dia selalu sadar dan mengawasi dari sudut yang gelap. Hanya saja saat ini dia terbelenggu. Yoongi benar-benar dalam kondisi kuat dan waspada sehingga Suga tidak bisa bangun dan menguasai tubuh itu.
"Anakku juga Yoongi. Jangan lupakan itu. Anak itu juga anakku."
"Tetapi tidak berarti kau tidak akan melukainya bukan?"
Suga memasang wajah datar, "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah dekat dengan anak-anak sebelumnya. Kau yang selalu menjauhkanku dari anak-anak."
"Karena kau kejam terhadap hewan peliharaan, kau membunuh anjing, membunuh kelinci dan hewan-hewan lain yang kau anggap mengganggu."
"Aku melakukannya untuk membuatmu merasa tidak nyaman." Suga menyeringai. "Bukan berarti aku akan melakukannya kepada anak-anak."
Yoongi mendengus, "Aku tidak akan membiarkanmu bangun Suga. Aku akan menekanmu kuat-kuat sehingga tidak ada kesempatan bagimu untuk melukai Jimin dan anakku."
"Anakku juga." Suga kembali mengoreksi, senyumnya tampak malas dan mengejek, "Apakah ini berarti kau membatalkan niatmu untuk membunuh kita berdua?"
"Ya." Yoongi menatap Suga dengan dingin, "Tetapi bukan berarti aku membatalkan niat untuk melenyapkanmu."
Suga terkekeh, "Tidak akan bisa Yoongi, kau sudah mencobanya dan tidak pernah berhasil bukan? Semakin kau mencoba melenyapkanku, semakin aku bertambah kuat."
Mata Yoongi menyipit, "Sebelumnya aku tidak punya perempuan yang kucintai dan calon anak untuk kulindungi."
Kata-kata Yoongi sedikit mengubah ekspresi Suga, tetapi lelaki itu tetap tersenyum dan sedikit mengejek, "Kita lihat saja nanti."
Hoseok pulang ke rumah ini. Kedua tangannya masih di gips tetapi kondisinya sudah lebih baik. Yoongi dan Jimin menyambutnya. Jimin waktu itu sangat bersyukur ketika Yoongi mengatakan bahwa Suga hanya melukai Hoseok dan tidak membunuhnya, bahwa Hoseok sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit. Tetapi Jimin tidak tahu bagaimana cara Suga melukai Hoseok, karena itu ketika dia melihat kedua tangan Hoseok di gips, Jimin menoleh ke arah Yoongi dan mengernyitkan keningnya,
"Apakah Suga..."
"Ya." Yoongi tampak begitu menyesal, "Suga mematahkan kedua tangan Hoseok."
Jimin begidik ketika membayangkan kekejaman Suga, membayangkan betapa sakitnya Hoseok ketika itu. Didekatinya Hoseok dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan saya." bisiknya, sungguh-sungguh menyesal, bagaimanapun Hoseok terluka karena membantunya melepaskan diri. Tetapi Hoseok membalas tatapannya dengan tatapan malu dan penuh penyesalan,
"Saya yang minta maaf Nona Jimin." Suaranya serak, "Saya mengira saya menolong anda, tetapi saya melemparkan anda ke dalam bahaya."
Jimin mengernyit, membayangkan ketika Taehyung berusaha memperkosanya. Kenangan itu terasa mengerikan, apalagi ketika dia mengingat pemandangan mayat Taehyung yang bersimbah darah dengan pisau tertancap di punggungnya. Dengan cepat Jimin berusaha mengenyahkan pikiran itu. Dia mencoba tersenyum kepada Hoseok,
"Tidak apa-apa, yang penting kita semua bisa berkumpul di sini dan baik-baik saja."
"Bersama bayi anda." Hoseok tersenyum, "Tuan Yoongi menceritakan semuanya kepada saya." Lelaki itu melirik Yoongi, "Selamat Tuan Yoongi, saya yakin anda pasti sangat bahagia."
"Sangat." Yoongi bergumam tulus. Dirangkulnya Jimin erat-erat ke dalam pelukannya.
Malam itu mereka tidur berpelukan. Yoongi berulangkali mengelus perut Jimin dengan lembut. Kemudian menciumi leher Jimin. Ciuman itu semula hanyalah ciuman lembut penuh kasih sayang, tetapi lama-kelamaan berubah panas. Yoongi mulai mencumbu Jimin dengan kecupan-kecupan kecil, membuat Jimin menggeliat karena geli.
"Apakah kalau kita melakukannya tidak akan mengganggu si bayi" mata Yoongi berkilat penuh gairah, tetapi ragu.
Jimin tersenyum, "Dokter bilang aman bagi kandungan."
Izin itu cukup buat Yoongi, dengan lembut dia mengecup biibir Jimin dan melumatnya lembut, mencicipinya dengan penuh perasaan, seakan bibir Jimin adalah buah yang sangat berharga yang harus disesap pelan-pelan agar semakin nikmat terasa. Ketika Yoongi mengangkat bibirnya, napas mereka berpadu, terengah-engah,
"Bibirmu sangat manis dan nikmat." Lelaki itu bergumam sambil mengecupi bibir Jimin lagi, "Aku bisa terus dan terus menciummu, dan tak pernah merasa bosan."
Mereka tenggelam dalam ciuman yang panas. Lalu bibir Yoongi mengecupi leher Jimin, menghirup aroma manis di sana yang memancing kejantanannya semakin menegang dan siap. Tangannya meraih jemari Jimin dan menggenggamkannya ke kejantanannya yang semakin menonjol dan mengeras,
"Kau rasakan itu sayang? Dia mengeras karena ingin segera memasukimu, ingin menyatukan dirinya dalam kelembutanmu." Jimin menggenggam kejantanan Yoongi, merasakan panas yang berdenyut di sana. Lelaki itu lalu melepaskan gaun tidur Jimin, mengangkatnya lewat atas kepalanya dan mencampakkan gaun itu begitu saja di lantai, dia lalu menelanjangi dirinya sendiri.
Mereka berbaring telanjang berpelukan, menikmati rasa kulit masing-masing yang berpadu, panas bertemu dengan panas yang menggetarkan. Setiap sentuhan dan gesekan kulit mereka terasa begitu nikmat. Yoongi yang keras dan Jimin yang lembut.
"Aku akan bersikap lembut." Yoongi tersenyum dan mengecup kedua alis Jimin, memposisikan dirinya di antara kedua paha Jimin yang membuka untuknya, siap menerimanya.
Jimin tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh bibir Yoongi yang ada di atasnya dengan jemarinya, Yoongi mengecup jemari itu.
"Aku mencintaimu Yoongi." Bisiknya dalam napas yang mulai terengah. Yoongi sudah menyentuhkan kejantanannya ke kewanitaan Jimin, menggeseknya dengan lembut dan menggoda di bagian luar kewanitaannya, dengan sengaja menyentuh titik sensitif di luar kewanitaannya sehingga menimbulkan getaran yang membuat gelenyar panas mengaliri tubuh Jimin.
Wajah Yoongi makin melembut mendengar pernyataan cinta Jimin, dia menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Jimin, "Aku juga mencintaimu Jimin.." sementara di bawah sana, kejantanannya mulai memasuki Jimin, membuat Jimin merasakan panas, keras dan berdenyut mulai menyatu ke dalam dirinya. Jimin mengerang dan melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Yoongi. Dorongan itu membuat Yoongi menenggelamkan dirinya dalam-dalam di pusat diri Jimin yang hangat dan basah.
Yoongi memejamkan mata, menikmati panas dan basah yang mencengkeramnya erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga. Jimin terasa begitu nikmat, begitu pas dan begitu menggairahkan. Perempuan yang sekarang berbaring di bawahnya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, tubuh yang pasrah menerimanya, dan perempuan itu sedang mengandung anaknya.
Dengan hati-hari Yoongi bergerak pelan, melakukan ritme bercintanya dengan hati-hati. "Apakah sakit?" Yoongi berbisik pelan, menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak mendorong terlalu keras, terlalu dalam.
Jimin menggelengkan kepalanya, "Tidak Yoongi, rasanya nikmat." Jimin menggerakkan pinggulnya, merespon dorongan Yoongi, membuat lelaki itu mengerang.
"Kau begitu nikmat sayang, seluruh tubuhmu begitu nikmat ." Yoongi menggerakkan badannya makin intens, menggesek seluruh titik kenikmatan di dalam tubuh Jimin, dan memuaskan dirinya sendiri. Lelaki itu menahan diri, menunggu Jimin mencapai kepuasannya. Dan ketika Jimin melengkungkan punggungnya dan mengerang pelan, Yoongi mengikutinya. Kenikmatan ini tiada duanya. Bercinta dengan orang yang dicintai memang selalu memberikan getaran yang berbeda. Yoongi tidak akan pernah bisa senikmat ini selain bersama Jimin. Mereka meledak bersama dalam orgasme yang luar biasa.
Tengah malam. Suga terbangun. Dia langsung terduduk, terkesiap kaget karena dia terbangun begitu saja. Lelaki itu menggerakkan tangannya. Well. Tubuh ini ternyata berhasil dia kuasai lagi. Yoongi terlalu larut dalam orgasme dan kenikmatannya bersama Jimin sehingga dia lengah. Dan Suga begitu saja mengambil alih. Suga tersenyum. Dia sudah lebih kuat, waktu itu dia menganggap remeh Yoongi dan tidak waspada, sehingga Yoongi bisa mengambil alih.
Suga menoleh dan menatap Jimin yang tertidur di sampingnya. Perempuan itu meringkuk ke arahnya dengan posisi seperti janin di dalam kandungan. Tampak begitu lemah dan tak berdaya. Suga membayangkan betapa kagetnya nanti Jimin ketika bangun dan menemukan Sugalah yang ada di sampingnya. Senyumnya tampak puas mengingat dia berhasil membuat Jimin orgasme ketika bercinta dengannya. Sedikit banyak, Jimin tetap terpengaruh oleh kemampuan bercinta Suga. Jimin akan dikuasainya sampai tidak bisa lepas lagi. Sampai Jimin tidak bisa memikirkan Yoongi lagi. Suga menyentuhkan jemarinya ke pipi Jimin. Tetapi kemudian pandangannya terarah ke perut Jimin dan dia mengernyit. Jimin sedang hamil.
Hamil... sama seperti Yoongi, Suga sama sekali tidak mempunyai pengalaman dengan perempuan hamil. Dan kali ini, perempuan yang ada di depannya sedang mengandung anak Yoongi, anaknya juga, anak mereka berdua. Apa yang bisa dia lakukan kepada perempuan hamil? Apakah emosi bisa membuatnya keguguran?
Kehamilan Jimin sebenarnya lebih membuatnya ingin tahu. Bagaimanakah rasanya memiliki seorang putra? Suga termenung dan memutuskan bahwa dia ingin memiliki seorang putra. Seorang putra yang akan dia besarkan dengan baik. Bukan dengan ancaman dan kekerasan seperti yang dilakukan ayah kandungnya kepadanya. Suga mengerutkan keningnya. Kalau begitu dia harus mengusahakan supaya kandungan Jimin baik-baik saja.
Dia akan berpura-pura menjadi Yoongi.
Ketika pagi hari Jimin terbangun, Yoongi masih ada di sebelahnya, lelaki itu tertidur pulas
dengan sebelah lengannya menjadi bantal untuk kepala Jimin. Jimin tersenyum dan mengecup lembut ujung hidung Yoongi dengan sayang.
"Selamat pagi tukang tidur."
Yoongi membuka matanya pelan-pelan dan kemudian menatap Jimin. Lalu dia tersenyum, "Selamat pagi, sayang." Dengan nakal dipeluknya tubuh Jimin dan dinaikkan ke atas tubuhnya, "Kau rasakan itu?" Yoongi berbisik dengan nada sensual, membuat tubuh Jimin menggelenyar. Dia merasakannya, kejantanan Yoongi yang begitu keras, lelaki ini sedang sangat bergairah.
"Naiki aku Jimin." Yoongi bergumam sambil mengarahkan pinggul Jimin sedikit turun sehingga kewanitaan Jimin menyentuh kejantanannya yang sudah siap. Jimin menempatkan dirinya, dan membiarkan Yoongi membimbingnya. Lelaki itu menaikkan pinggulnya dan menurunkan pinggul Jimin, membuat tubuhnya menelusup dengan mudahnya ke dalam kewanitaan Jimin, terasa begitu panas dan berdenyut di dalam sana.
"Gerakkan tubuhmu, sayang. Puaskan aku." Yoongi bergumam dengan nada menggoda, dan membiarkan Jimin menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu menggeram ketika merasakan gerakan Jimin, matanya berkilat penuh kenikmatan. "Oh, kau nikmat sekali sayang." Yoongi mengimbangi gerakan Jimin dengan menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat mereka makin menyatu dan merasakan sensasi kenikmatan
Percintaan dengan gaya ini membuat titik-titik di bagian paling sensitif Jimin tersentuh sepenuhnya, tanpa sadar dia menggerakkan tubuhnya semakin berani, mengekplorasi kenikmatannya dengan sebebas-bebasnya. Yoongi mengikuti gerakannya, dengan sama liar dan bergairahnya. Dan kemudian Jimin mendongakkan kepalanya dan melengkungkan punggungnya ke belakang ketika mencapai puncak kenikmatan, bersama Yoongi yang mengikutinya di belakangnya.
Tubuh Jimin rubuh, terkulai di atas tubuh Yoongi dengan napas terengah-engah. Sementara tangan lelaki itu memeluk punggungnya dan mengusapnya sambil lalu.
Lama kemudian Jimin mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. Mata Yoongi tampak penuh senyum dan menggoda, "Senang menaikiku?"
Pipi Jimin merah padam atas godaan itu, membuat Yoongi terkekeh, dengan lembut dia melepaskan dirinya dari tubuh Jimin, lalu menghela perempuan itu ke sampingnya untuk kemudian memeluknya erat-erat.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya." Setelah orgasme yang luar bias aitu, bagaimana mungkin dia tidak baik-baik saja?
"Bagaimana dengan perutmu?"
Jimin mengeryit. Mungkin maksud Yoongi adalah 'bayi'nya? Dengan geli dia menjawab pertanyaan Yoongi, "Perutku baik-baik saja, Yoongi."
"Bagus." Yoongi tampak puas dan mengetatkan pelukannya ke tubuh Jimin, sementara Jimin menenggelamkan kepalanya dengan damai di dada Yoongi. Yang tidak Jimin sadari adalah bahwa ada kilatan yang berbeda di mata Yoongi, dan bahwa kilatan mata itu, jelas-jelas milik Suga, bukan milik Yoongi...
"Kenapa kau hanya sarapan itu?" Suga mengerutkan kening menatap Jimin yang hanya menyantap beberapa keping biskuit asin dan teh hangat. Dia sendiri sedang menyantap seiris besar pancake hangat yang disiram dengan sirup maple. Setahu Suga, perempuan hamil harus makan banyak bukan?
Suga sepertinya berhasil mengelabui Jimin. Percintaan panas mereka tadi pagi buktinya, Jimin tidak akan mau bercinta sepanas itu dengannya kalau tahu bahwa dia adalah Suga, bukan Yoongi. Kali ini Suga bertekad agar Jimin selamat sampai melahirkan anaknya. Dia menginginkan anak itu. Dia ingin merasakan menjadi seorang ayah.
Dengan cepat, dia mengiris seiris besar pancake dan meletakkannya di piring dan menyorongkannya kepada Jimin. "Makan itu."
Jimin menatap Suga dengan memprotes, "Yoongi bukannya aku tidak mau makan, aku merasa sedikit mual di pagi hari... kalau aku memaksakan memakannya aku akan muntah."
Suga mengamati Jimin dalam-dalam. Dia pernah mendengar perempuan hamil muntah-muntah di awal kehamilannya, tidak disangkanya Jimin juga merasakannya.
"Apakah kau tidak apa-apa? Apakah kau perlu minum obat?"
Jimin menggelengkan kepalanya dan mengelus perutnya dengan lembut, "Tidak ada obatnya Yoongi, aku hanya harus mengalaminya, ini bukan penyakit."
Suga mengikuti arah pandangan Jimin, menatap perut yang sedang dielus oleh jemari Jimin, dia berdehem dan mengalihkan pandangannya, "Mungkin sudah waktunya kita membicarakan pernikahan." Suga sangat setuju dengan rencana pernikahan yang
direncanakan oleh Yoongi, dengan adanya pernikahan, Jimin dan anak itu akan terikat kepadanya.
Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Suga sambil tersenyum, "Aku akan mengikuti rencamu Yoongi, kapan kau ingin kita menikah?"
"Secepatnya." Suga tersenyum, aku akan menghubungi orangku untuk mempersiapkan semuanya."
Ketika Hoseok sedang berjalan menuju halaman depan, dia berpapasan dengan Tuan Yoongi. Lelaki itu sedang menelepon, sepertinya membahas tentang pernikahan.
"Hoseok." Suga tersenyum, "Sepertinya kau sudah membaik."
Hoseok menganggukkan kepalanya, "Sebentar lagi gips saya akan dibuka."
"Suga pasti mematahkan tanganmu dengan begitu keras ya?" Padahal dalam hati Suga tersenyum , dia ingin menilai reaksi Hoseok, ingin tahu apakah Hoseok akan menyadari penyamarannya sebagai Yoongi atau tidak. Dari dulu Suga suka bermain-main, menyamar sebagai Yoongi dan melihat reaksi orang-orang.
Hoseok sendiri tampak bergidik membayangkan ketika tangannya dipatahkan oleh Suga dengan kejam. Dia menatap tuannya dan menghela napas panjang, "Saya pantas menerimanya."
Suga tidak bisa menahan diri lagi, dia menyeringai menunjukkan senyum kejamnya yang biasanya, "Dan aku akan mengulanginya lagi, kapanpun aku rasa perlu menghukummu."
Seketika itu juga Hoseok berjingkat mundur, menyadari bahwa yang ada di depannya adalah Tuan Yoongi, bukan Tuan Suga. Oh Astaga. Bagaimana bisa Tuan Suga kembali mengambil alih? Bukankah Tuan Yoongi sudah semakin kuat?
"Dan lain waktu, aku tidak hanya akan mematahkan tanganmu." Suga terkekeh, "Aku pernah bilang padamu kan? Aku bisa saja mematahkan kedua kakimu juga, bunyi tulang patah membuatku senang."
"Anda... Tuan Suga." Hoseok makin gemetar. Menatap mata dingin yang penuh hasrat membunuh itu.
"Ya, aku Suga. Tetapi kau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun, atau aku tidak akan segan-segan melaksanakan ancamanku." Suga mendekatkan dirinya kepada Hoseok, membuat lelaki itu mundur dan akhirnya terperangkap di tembok, "Aku sedang menyamar menjadi Yoongi, dan itu demi kebaikan Jimin dan anaknya. Siapa yang tahu apa yang dilakukan Jimin kalau dia tahu bahwa aku adalah Suga, mungkin dia akan begitu ketakutan sampai keguguran. Kau tidak ingin Jimin keguguran kan?"
Hoseok segera menggelengkan kepalanya, wajahnya tampak waspada. "Anda... " dia memberanikan diri untuk bersuara, "Anda tidak akan mencelakai Nona Jimin dan bayinya kan?"
"Tergantung." Suara Suga terdengar kejam, membuat Hoseok semakin bergidik, "Tergantung suasana hatiku. Kalau aku senang aku tidak akan melukai siapa-siapa. Kau mengerti maksudku, Hoseok?"
"Saya mengerti..." Apapun akan dia lakukan agar Suga tidak bisa melukai Nona Jimin. Dia pernah bersalah kepada Nona Jimin dan menjatuhkannya ke dalam bahaya, sekarang dia akan menebus kesalahannya.
"Bagus. Sekarang aku ingin kau membantuku. Aku ingin melaksanakan pernikahan."
Pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana dan secepat kilat. Suga menyelipkan cincin berlian warisan turun termurun keluarga Min ke jemari Jimin. Surat-surat ditandatangani, dan dalam sekejap, dia dan Jimin sudah menjadi suami isteri. Tentu saja surat-surat untuk mempelai lelaki semuanya atas nama Min Yoongi, Suga sempat mengerutkan keningnya tak suka. Tetapi kemudian menerimanya sebagai keuntungan tersendiri, mau bagaimana lagi, tubuh ini sejak awal memang tercatat bernama Min Yoongi.
Suga kagum dengan betapa cepatnya dan betapa mudahnya proses pernikahan itu. Dengan sedikit uang di sana sini, memang semuanya bisa menjadi mudah.
Ketika semua pengurus pernikahan sudah pulang. Suga menyimpan seluruh berkas pernikahan ke dalam brankasnya dan kemudian turun menemani mempelainya. Hatinya terasa puas, Jimin sudah terikat dengannya dan menjadi istrinya,
"Bagaimana perasaanmu, Nyonya Min?" dia menyapa Jimin lembut.
Jimin yang bergaun putih tampak cantik dan segar, dia tersenyum lebar ketika melihat
Yoongi, "Aku bahagia Yoongi ."
"Aku senang kau bahagia." Suga mendekati Jimin dan menghela perempuan itu ke dalam pelukannya, menikmati betapa mudahnya Jimin tenggelam ke dalam pelukannya kalau dia berperan sebagai Yoongi, sama sekali tidak ada penolakan.
Sementara itu, Hoseok memasuki ruangan dan tertegun melihat Suga sedang memeluk Jimin. Nona Jimin tampak pasrah dan bahagia dalam pelukan Tuan Suga, Hoseok membatin, tentu saja itu karena Nona Jimin tidak menyadari bahwa yang sedang memeluknya bukanlah Tuan Yoongi. Hoseok mengernyit. Dia tidak bisa mengatakan kepada Nona Jimin meskipun dia sangat ingin. Tuan Suga telah mengancamnya. Lagipula Tuan Suga mengatakan kalau ketakutan mungkin bisa membahayakan kandungan Nona Jimin.
Hoseok menatap kedua pasangan yang berpelukan itu dengan resah. Bagaimana dia bisa menyelamatkan Nona Jimin dari cengkeraman Tuan Suga? Dan kenapa Tuan Yoongi bisa terkalahkan dan tak sadarkan diri kembali?
-to be continue
