Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Rate M
Genre: YAOI, Mystery, Thriller
Warning!: AU, bahasa sehari-hari, OOC, YAOI, LEMON/SMUT
Dont Like Dont Read!
Dont Forget to Review :D
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat datang di keluarga Seijuro."
Sambutan hangat yang tak pernah ku lupakan
Saat itu aku berumur 12 tahun, kedua orang tuaku bercerai, karena aku dekat dengan ibuku, maka aku memutuskan untuk mengikutinya, hingga satu waktu, ibuku tak sanggup menghidupiku lagi, dan segala sesuatunya menjadi kacau.
Hidupku begitu gelap selama beberapa tahun, aku tak bisa merasakan kehangatan ibuku seperti saat keluarga kami masih utuh dan harmonis, sekarang keluargaku sudah seperti pecahan kaca, entah apa masih pantas disebut keluarga?
Aku jarang berbicara dengan ibuku, aktivitas yang ku lakukan selama hidupku hanyalah sebagai formalitas dan itu membosankan. Semua berlalu begitu saja, saat ibuku memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang pria duda yang sama-sama senasib seperti ibuku, yaitu mengurus satu anak. Awalnya aku tidak setuju, tapi saat ku lihat ukiran senyum yang sudah lama ibuku tak tampakan lagi di depanku, aku memutuskan untuk menjalankan sesuai keinginannya.
Dan itu berhasil.
Aku begitu nyaman dan akrab dengan keluarga baruku, keluarga Seijuro. Dan tak ku sangka aku memiliki seorang kakak tiri yang diluar ekspetasiku, namanya...
"Kuroko, berhentilah bermain-main di kamarmu, cepat turun karena okaasama sudah mempersiapkan makan."
"Ya, satu menit, nii-san."
Aku bangun dari posisi malas-malasanku dan dengan cepat menuruni anak tangga untuk segera berkumpul di meja makan.
Ku serbu makanan yang telah disediakan ibuku. Sebenarnya hampir satu tahun sejak keluarga Tetsuya mengganti nama menjadi keluarga Seijuro. Tapi, aku tetap ingin memakai nama Tetsuya sebagai nama belakangku, karena apapun yang terjadi sebelumnya, aku tetaplah anak dari seorang ayah bermarga Tetsuya.
"Kuroko.. Akashi... otousan dan okaasan ingin menyampaikan suatu hal." tiba-tiba saja ibuku membuat suasana menjadi serius.
"Ada apa, okaasama?"
Kakak tiriku yang terlebih dahulu merespon, keluarga Seijuro memang keluarga yang bermartabat, lebih tepatnya formal dan kaku, panggilan sama adalah semacam kewajiban. Walau ibuku tidak terlalu bermasalah akan hal itu dan lebih senang jika dipanggil san. Keluarga yang begitu kaku, namun Akashi nii-san begitu cepat akur denganku, bahkan kami benar-benar sudah seperti saudara kandung, itulah mengapa aku begitu betah dan bersyukur memiliki keluarga sepertinya.
"Kami akan pergi berlibur selama satu bulan, okaasan berharap kalian bisa akur selama kami pergi."
"Betul sekali, otousan juga berharap begitu. Dan sepertinya tak perlu kuatir, karena kalian berdua.. Akashi.. Kuroko.. sangat akrab bukan?"
Kami semua tertawa kecil, dan saat itu juga Akashi nii-san merangkulku dan tersenyum padaku. Perasaan apa ini?
Perasaan yang begitu diluar ekspetasi, inikah rasanya kembali memiliki keluarga yang harmonis? dan memiliki seorang kakak?
Sejak saat itu, aku dan Akashi nii-san benar-benar semakin dekat, bahkan saat kedua orang tua kami sedang pergi, aku dan Akashi nii-san tak pernah berselisih, aku bisa merasakan kehangatan dari dirinya. Jarang sekali dijumpai dua saudara laki-laki yang akrab satu sama lain.
"Kuroko, aku sudah menyiapkan teh, sebaiknya kau berhenti membaca buku anehmu itu."
"Baik, nii-san."
Aku pun menuju meja makan dan menemui Akashi nii-san yang tengah duduk sambil meminum teh buatannya.
"Aku sudah mengatakan pada otousama, kalau nanti kau akan bersekolah di sekolah yang sama denganku."
"Itu ide yang bagus. Aku akan senang bisa satu sekolah denganmu."
"Ya, aku juga tentu akan melindungimu kalau ada yang membullymu."
"Ano.. tapi aku ini laki-laki, aku tidak mungkin meminta nii-san melindungiku terus menerus. Aku bisa disangka yang tidak-tidak."
"Tidak ada yang salah kan kalau aku hanya ingin menjagamu? aku ini kakakmu. Akan ku hantam habis orang-orang yang berani melukaimu."
"Ba..Baik, nii-san. Tapi apa itu tidak berlebihan?"
"Tentu tidak, Kuroko."
Sebenarnya menurutku, hal seperti ini terlalu berlebihan, tapi mungkin untuk Akashi nii-san aku tidak akan mempermasalahkannya, ia adalah kakakku dan tak ada yang salah untuk seorang kakak yang protektif pada adiknya. Mungkin itulah hal yang membuatku merasa nyaman di dekatnya. Aku harap perasaan nyaman itu memang sebatas kakak-adik saja.
-3 minggu kemudian-
"Akashi nii-san, ada surat.. sepertinya dari okaasan."
3 minggu terlewatkan, dalam hitungan hari, orang tua kami akan pulang, dan sepertinya ibu juga sudah berjanji akan mengirim surat sebelum pulang.
"Surat? biar ku baca."
Ku berikan surat itu pada Akashi nii-san. Aku begitu senang kalau sebentar lagi ibu akan pulang. Aku benar-benar merindukannya. Tak sabar ingin kami bisa berkumpul lagi.
Bugggg...
Tiba-tiba saja Akashi nii-san terjatuh namun kedua lututnya berhasil menopangnya.
"Onii-san.."
Aku panik dan membantunya berdiri, sepertinya tubuhnya terlalu lemah, membuatku harus membaringkannya di sofa. Ku ambil surat yang tadi dibacanya, aku yakin sesuatu yang tertulis disana membuatnya syok.
APA?!
Ini tidak mungkin kan? ini semua pasti hanya kebohongan.
Amplop dari surat ini berisi surat-surat keterangan tentang warisan dari ayah kami yang akan diserahkan pada Akashi nii-san, bukan itu yang mengejutkanku sebenarnya, namun ku dapati surat lain yang ditulis tangan, sepertinya bukan kedua orang tua kami yang menulis surat ini, surat ini mengatakan bahwa kedua orang tua kami-
Meninggal
Surat ini mengatakan bahwa seseorang akan datang dan menjelaskan segalanya kepada kami.
Melihat Akashi nii-san yang masih terdiam di sofa sambil mengepal kedua tangannya membuatku terhanyut dalam kesedihan.
Saat ini, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, mendengar berita bahwa ibuku meninggal, apa yang bisa ku lakukan selain menangis hingga nafasku tersesak.
Cukup lama aku mengurung di kamar dan berkabung entah apa tujuannya, aku mendengar suara ketukan pintu, ku hapus air mataku dan membuka pintu itu.
Ku dapati seseorang bertubuh tegap tinggi berdiri di depanku, di waktu yang bersamaan, Akashi nii-san keluar dari kamarnya dan menghampiri orang itu.
"Ojisan?" sahutnya.
Orang itu hanya tersenyum. Ojisan? apa ini adalah paman dari Akashi nii-san?
"Saat ini, kau bisa memanggilku inspektur Shin."
"Baik, inspektur.. silahkan masuk."
Sepertinya keluarga Seijuro sudah sangat kaya sehingga mampu memiliki inspektur atau semacam detektif pribadi untuk melindungi keluarga, apa begitu? sepertinya aku terlalu banyak membaca buku detektif.
"Aku sangat berduka cita atas meninggalnya Masaomi-sama. Aku kesini untuk menyampaikan sesuatu."
"Apa itu, inspektur Shin?"
"Bahwa Masaomi-sama meninggal karena kecelakaan."
Kecelakaan?
"Bagaimana bisa? ibuku juga-" selaku dengan begitu terkejut.
Namun, aku nyaris ternganga saat melihat Akashi nii-san berteriak dan menarikku untuk duduk.
"DIAM!"
Tak pernah aku melihatnya seperti ini. Bahkan selama aku mengenalnya, aku tak pernah melihatnya marah hingga seperti ini. Aku tak tahu apa saat ini ia sedang marah apa bagaimana.
"Mungkin aku terlalu cepat mengatakan hal ini. Untuk saat ini, kalian bisa tinggal bersamaku sampai kalian cukup umur dan setidaknya bisa mencari pekerjaan walau hanya part time."
"Tidak, aku akan tetap tinggal di rumah ini. Menurutku, aku sudah cukup dewasa untuk memanage segalanya, inspektur tak perlu kuatir."
"Lalu bagaimana denganmu, Kuroko-kun?"
"Aku akan mengikuti Akashi nii-san."
"Baiklah, kalau begitu. Hubungi saja aku kalau ada apa-apa."
Semula aku merasa itu adalah hal yang tepat, dimana pegangan terakhirku hanyalah kakakku. Namun, dunia memang kejam, semuanya berubah, Akashi nii-san menjadi pribadi yang aneh, ia cenderung diam dan tidak sehangat dulu. Setiap kali aku menatap matanya, aku hanya menyadari kalau ia memiliki dua krom mata yang berbeda warna, dan semua tatapannya hanya penuh dengan kedinginan, ia seolah nyaris tak berekspresi sejak hari itu.
Tetap seperti keputusanku di awal, aku memutuskan untuk satu sekolah dengannya. Namun, untuk pertama kalinya ia memintaku untuk tidak menganggapnya kakak, dan bersikap seolah-olah kami tak pernah menjadi keluarga.
"Akashi nii-san?"
"Tidak ada istilah nii-san, panggil saja aku dengan namaku, Tetsuya."
Ia benar-benar tidak ingin menganggapku sebagai keluarganya lagi, bahkan ia tak henti-hentinya memanggilku dengan nama margaku dan ibuku.
"Aku mengerti, Akashi-kun."
Hal ini berlangsung hingga umurku beranjak 18, kembali hidupku diisi oleh kekosongan dan kegelapan, kali ini kegelapan yang dua kali lipat lebih menyeramkan.
Seseorang yang bisa ku jadikan pegangan, ternyata tak mau mengenalku lagi seperti dulu, sikapnya yang membuatku nyaman, sekarang membuatku ingin menjauh.
Sejujurnya, aku merindukan kehangatan dari Akashi-kun, kakakku, yang membuatku menyukainya lebih dari sekedar seorang kakak.
Namun, aku harus mengakui... sisi gelapnya.
TBC
Doumo, minna-san..
Akhirnya bisa berkarya kembali dengan jadinya FF AkaKuro ini.
Walau seharusnya sudah publish dari bulan-bulan sebelumnya, namun karena terdesak oleh waktu, jadi baru bisa publish..
Bagaimana untuk awalnya?
Aku mengharapkan kritik saran yang membangun dan dukungan dari readers .. supaya FF ini bisa lancar hingga tamat.
Yoroshiku Onegaishimasu..
:D
