Cinta...
"Maksudmu apa, Midorima-kun?"
"Ini adalah hal yang tidak mudah untuk dijelaskan, kau hanya bisa merasakannya, dan memang hanya kau, Kuroko, yang bisa merasakannya."
"Hanya aku, bagaimana-"
Belum aku menyelesaikan kalimatku, aku mendengar suara pintu terbuka dan mendapati sosok yang sedang berdiri di luar sana sambil membelakangi kami.
"Akashi?"
"Midorima, apa yang sedang kau lakukan dengan Kuroko?"
"Kami hanya berbincang."
"Baiklah, kalau begitu, aku meminta maaf, tapi Kuroko, kau harus segera kembali ke kelasmu karena ruangan ini hanya untuk anggota klub kami."
"Baik, Akashi-kun.."
Tatapannya masih dingin dan nada bicaranya masih sangat datar, tapi sikapnya tidak sedingin tatapannya.
Mungkin aku sebaiknya memang harus menemui teman-temanku, aku sudah puas dengan informasi Midorima-kun tadi. Dan semoga saja hal ini tidak diketahui Akashi-kun.
"Apapun yang kau ceritakan pada Kuroko, percayalah, yang sebenarnya hanya aku yang mengetahui dan aku yang berhak memutuskan kapan akan menceritakannya pada Kuroko. Aku harap kau paham, Midorima?"
Dan seketika langkahku terhenti saat mendengar Akashi-kun mengatakan hal itu. Bagaimana ia bisa tahu kalau kami baru saja membicarakannya?
Aku harap ia tidak akan marah soal hal itu.
"Sumimasen, Akashi.."
Ku lirik sebentar dua orang yang tengah terduduk di bangku itu, lalu tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pergi dan segera menemui teman-temanku.
Aku masih tidak mengerti beberapa hal disini, salah satunya mengapa Midorima-kun bisa begitu tunduk pada Akashi-kun? bukankah dalam suatu pertemanan yang sudah dipupuki sejak lama, tidak ada istilah mendominasi? apapun jawabannya, pasti ada sesuatu dibalik ini semua.
"Oi, Tetsu! Darimana saja kau? sebentar lagi bel masuk. Apa yang kau lakukan di ruang klub sastra? bukankah ketua klub sastra tidak pernah mengizinkan orang yang bukan anggota masuk ke ruangan?"
"Gomen, tapi ada hal penting yang perlu ku gali."
"Apa itu?"
"Kau tak perlu tahu, Aomine-kun."
Mungkin sebaiknya aku membeli minuman dulu sebelum kembali ke kelas.
"Tetsu!" tiba-tiba saja Aomine-kun menarik lenganku.
"Aku ingin membeli minuman di mesin minuman."
"Ah, aku ikut!"
Apapun yang kau ceritakan pada Kuroko, percayalah, yang sebenarnya hanya aku yang mengetahui dan aku yang berhak memutuskan kapan akan menceritakannya pada Kuroko. Aku harap kau paham, Midorima?
Menceritakannya padaku? apa itu?
Memang benar, Akashi-kun itu full of surprise, ibarat sebuah novel dengan sampul sederhana namun isinya begitu menarik. Andai aku bisa membaca pikirannya.
Dan soal cinta tadi, apa maksud Midorima-kun adalah, Akashi-kun kembali menjadi dirinya yang sebenarnya karena ia memiliki rasa 'kasih sayang' terhadap.. tidak mungkin!
Kami tetaplah saudara dan saudara tidak boleh memiliki hubungan asmara, walau secara logika, kami tidak memiliki hubungan darah, tetap saja itu hal yang tak benar, selain itu juga kami berdua ini adalah laki-laki.
"Berhenti melamun! ini minumlah, wajahmu pucat, baka!"
"Arigatou gozaimasu, Aomine-kun."
"Apa ada masalah? kau dengan Akashi?"
"Kami baik-baik saja."
"Jangan berbohong, Tetsu. Berbohong sajalah pada Kagami, tapi tidak padaku."
Mungkin aku bisa mempercayai Aomine-kun untuk hal ini. Setidaknya aku butuh teman yang siap mendengarkan daripada yang memberi saran.
"Ano.. ada hal yang kurang beres diantara kami berdua."
"Apa kau mau menceritakannya padaku?"
"Aku ingin sekali menceritakannya padamu, tapi tidak disini."
"Bagaimana seusai sekolah kita ke tempat biasa kau membeli vanilla shake?"
"Kalau begitu, bagaimana dengan yang lain? tidak adil kalau mereka tidak ikut."
"Kau benar, Tetsu. Tidak ada rahasia diantara teman, bukan?"
Ya, dan akan ada satu orang penting yang akan ku ajak. Ia adalah sumber jawaban kami saat ini.
-Pukul 17:10, di Maji Burger-
"Apa maksud ini semua? kau tidak bilang akan membawa rombonganmu ke sini, nanodayo.."
Aku tahu, Midorima-kun akan sangat terkejut dengan kehadiran Aomine-kun, Kagami-kun, dan Momoi-san, bahkan sebentar lagi, Kise-kun akan datang.
"Sumimasen, Midorima-kun. Tapi, banyak hal yang perlu kami bahas disini." jawabku dengan datar.
"Tetsu benar, wortel! sebaiknya kau membantu kami. Oh ya, dan sebelumnya, perkenalkan dirimu dengan baik di depan kami semua?" sela Aomine-kun.
"Kalian ini memang merepotkan, nanodayo.."
Semula ku mengira Midorima-kun adalah orang yang serius, begitulah yang sering ku lihat saat ia bersama Akashi-kun, namun, kalau dilihat-lihat, ia bukanlah tipe orang yang kaku, masih ada sisi menyenangkan dalam dirinya, hanya dirinya saja yang tak mau menunjukannya.
"Midorima Shintarou da."
"Yoroshiku, Midorin."
"Apa apaan itu Midorin, nanodayo..?"
"Kau ini tidak asik, Midorima. Momoi sudah biasa memberi nama panggilan pada kami semua."
"Apa nama yang ia berikan padamu?"
"Eh? Ka..Kagamin."
"Sudah, Midorima-kun.. Kagami-kun, kita harus serius kali ini. Arigatou Gozaimasu untuk perkenalanmu, Midorima-kun. Sekarang kita akan membahas hal penting."
Mendengar debat kecil Kagami-kun dengan Midorima-kun membuatku membayangkan sesuatu. Sebenarnya itu semua tidak masuk akal atau tidak berhubungan dengan pemikiranku ini, tapi begitulah yang terlintas saat itu.
"Kalau begitu, apa yang ingin kau bahas, Kuroko?"
"Menurutku, perubahan Akashi-kun dipicu oleh sesuatu. Anggap saja dua sisi itu adalah gelap dan asli. Ia menjadi sisi gelapnya saat mendengar kabar ayahnya meninggal."
"Tetsu, bukankah saat itu, ibumu juga.. hmm.. gomen, aku tidak bermaksud-"
"Ya, Aomine-kun. Aku masih merasa begitu sedih sejak itu, tapi satu hal yang paling membuatku sedih dan terkejut, ibuku meninggal karena dibunuh."
"DIBUNUH?!" respon semua kawanku saat aku mengatakan hal itu.
"Hmm, itulah rasa sakit yang paling menyakitkan dalam hidupku hingga saat ini. Tapi, apa dayaku yang hanya bisa menyesal dan menghadapi kenyataan."
"Bagaimana kau bisa tahu orang tua kalian dibunuh, Kuroko?"
"Itulah yang membuatku masih ragu, Kagami-kun. Namun, seorang inspektur bernama Shin mengunjungi rumah kami dan menjelaskan semuanya, ia mengatakan ia dan anak buahnya menemukan sebuah belati dan secarik kertas yang mungkin adalah surat. Namun, barang bukti masih diselidiki lebih lanjut saat ini."
"Inspektur Shin?" tiba-tiba Midorima-kun menyela.
"Ya, tapi Akashi-kun biasa memanggilnya ojisan."
"Sial! pasti otousan memaksa Akashi bersikap formal padanya."
"Otousan?"
"Inspektur Shin adalah ayahku, Kuroko."
Aku memang tidak boleh meragukannya, Midorima-kun pasti tahu segalanya. Selain itu, nampaknya ayahnya begitu dekat dengan ayah Akashi-kun.
"Sedekat itu kah keluargamu dengan keluarga Akashi?" tiba-tiba saja Kagami-kun menimbrung, mungkin bukan hanya aku saja yang bertanya-tanya soal itu.
"Sial, kalian sudah memasuki area privasi,nanodayo.." bantah Midorima-kun sambil beranjak berdiri dari kursi dan mengambil tasnya. Namun, kegesitan Aomine-kun membuatnya terdiam.
"Tidak semudah itu, wortel. Aku akan menghalangi pintu ini seharian kalau perlu, sampai kau akan memberi kami informasi."
Setidaknya, ancaman Aomine-kun berhasil dan membuatnya kembali duduk.
"Gomennasai, Midorima-kun. Aku memang terlalu memaksamu, tapi aku benar-benar membutuhkan informasimu. Bukankah kau ini teman masa kecilnya? apa kau ingin Akashi-kun terus memiliki sisi gelap dalam dirinya? sekalipun ia tak pernah menunjukannya?"
Keringat membasahi dahinya hingga mengalir ke seluruh wajahnya, aku bisa melihatnya sedang membayangkan ucapanku tadi.
"Ja..Jadi, apa yang kau harapkan, Kuroko?"
"Hanya informasi penting, Midorima-kun.."
Ia menaruh tasnya tadi seperti semula dan menatap kami semua dengan serius.
"Kami ini bertolak belakang, nanodayo... Kalau bukan karena ayah kami dekat dan mengadakan kerja sama, aku mungkin tidak akan pernah menjadi temannya hingga sekarang. Keluargaku tak pernah bermasalah dengan keluarga manapun, tapi keluarga Akashi memiliki musuh bebuyutan sejak dulu. Ayahnya yang paling haus akan dendam meminta ayahku untuk membantunya sebagai pelindung keluarganya. Aku tidak paham maksudnya, tapi menurutku, ayahku itu adalah pelindung dari balik bayangan."
Pelindung dari balik bayangan?
Mungkin saja, ayah Midorima-kun dijadikan sebagai senjata secara diam-diam untuk melawan musuh ayah Akashi-kun, karena keluarga Midorima-kun tidak pernah terlibat masalah apapun, sehingga tak akan ada yang menyadari bahwa yang menyerang mereka bukan berasal dari ayah Akashi ataupun keluarganya. Bisa dikatakan, ini semacam permainan yang penuh dengan tipuan.
"Tapi, Midorima? bukankah itu berarti ayahmu dimanfaatkan, atau lebih kejamnya adalah dijadikan umpan?" sela Aomine-kun. Ia pasti mengerti kemana arah permainan kedua ayah ini.
"Ya, dan itu berarti, ayahmu dilibatkan dalam masalah keluarganya dengan keluarga lain, ia mencoreng nama baik keluargamu bukan? bagaimana kalau keluargamu dianggap keluarga yang penuh masalah? dan buruknya, bagaimana kalau sewaktu-waktu ayahmu ketahuan dan keluargamu menjadi target?" tambah Kagami-kun penuh emosional.
Aku tak menyangka akan membahas hal diluar ekspetasiku. Semula aku hanya ingin membahas soal Akashi-kun, namun bisa ku tarik kesimpulan sementara, bahwa akar dari sisi lain Akashi-kun ialah ayahnya sendiri.
Selain itu, aku juga tak menyangka bahwa keluarga yang sekarang menjadi keluargaku pernah atau masih terlibat konflik besar.
"Mudah untuk kalian mengkritik disaat kalian tidak merasakan posisiku." ucap Midorima-kun sambil mengkepal kedua tangannya kencang-kencang, sepertinya ia sendiri tidak suka dengan keadaan ini, namun tak ada yang bisa ia lakukan selain diam.
"Tapi..tapi.. bukankah dengan meninggalnya ayah Akashi, itu berarti pihak lawan menang karena tujuannya tercapai dan dendam ini akan berhenti?"
"Pendapatmu ku hargai, Aomine. Tapi, ayah Akashi meninggal karena dibunuh, bukankah sudah jelas? bahwa yang membunuh ayah Akashi, kemungkinan adalah orang yang menjadi musuhnya sejak lama. Selain itu, apabila seorang ayah dibunuh dengan mengenaskan, bukankah itu akan meninggalkan luka bagi anaknya?"
Jackpot.
Mendengar kata-kata Midorima-kun, aku semakin paham kemana arah pembicaraan ini.
"Aku paham sekarang." kembali aku berucap setelah lama menyimak.
"Apa itu, Tetsu?" tanya Aomine-kun sambil menatapku serius.
"Sejak kami mendapat surat yang mengatakan orang tua kami meninggal, Akashi-kun nampak begitu marah hingga ia membangkitkan sisi gelapnya, menurutku, jika kecelakaan adalah alasan orang tua kami.. atau... ayahnya meninggal, mengapa ia begitu marah seolah itu bukanlah kecelakaan? menurutku, ia pasti sudah menduga bahwa telah terjadi pembunuhan. Dan seperti yang kau katakan, Midorima-kun, sisi lain Akashi-kun sengaja dibuat oleh ayahnya, jadi apabila sewaktu-waktu dirinya meninggal, Akashi-kun lah kekuatan baru untuk melawan musuhnya itu."
"Aku setuju denganmu, Kuroko. Dan sepertinya kembalinya diri Akashi yang sebenarnya itu karena diri yang sebenarnya tidak menyukai adanya dendam. Aku mengenal Akashi sangat lama, walau ayahnya haus akan dendam, Akashi bahkan tak pernah mau ikut campur dengan masalah ayahnya, ia selalu netral, nanodayo... Bisa dikatakan sisi gelap Akashi hanyalah kelemahannya."
Entah, pembicaraan ini semakin memanas, kami saling bertukar pendapat dan bisa menemukan beberapa titik yang menjadi kemungkinan-kemungkinannya. Aku harap pendapat kami bisa membongkar sesuatu yang telah lama ditutup-tutupi.
"Ehm.. ano, aku tidak bermaksud asal bicara, tapi, siapakah musuh keluarga Akashi-kun yang kau maksud? nampaknya orang tersebut kenal betul dengan ayah Akashi-kun, sampai-sampai perselisihan itu tak kian berhenti. Bahkan aku heran, apa masalah mereka hingga menyebabkan dendam yang membara?" dan satu hal yang membuatku terkejut. Bahkan, Momoi-san yang lebih suka bercanda, bisa serius dan menemui titik lain dalam masalah ini.
"Sugoii, Satsuki. Kau bisa memikirkan hal sejauh itu. Benar juga, faktanya musuh kitalah yang paling mengenal kita daripada sahabat kita sendiri, bukan?" cetus Aomine-kun.
"Hmm.. gomen, aku tidak tahu siapa orang itu dan tidak tahu apa masalahnya. Yang ku tahu, konflik itu sudah terjadi sejak aku dan Akashi berumur 7 tahun."
Kemungkinan yang Momoi-san katakan itu bisa saja benar. Aku yakin, orang yang menjadi musuh ayah Akashi-kun pasti pernah menjadi temannya, dan bisa saja, orang tersebutlah yang membunuh ayah Akashi-kun seperti dugaan Midorima-kun. Ketika kawan menjadi lawan. Siapapun orang itu, yang pasti ia juga yang telah membunuh ibuku. Kalau sampai aku tahu siapa orang itu, aku tidak akan pernah memaafkannya seumur hidupku.
"Ini sudah malam. Sepertinya kita hampir dua jam disini. Sebaiknya aku segera pulang sebelum ibuku memarahiku, nanodayo.."
"Kau benar, Midorima-kun. Arigatou Gozaimasu atas bantuanmu. Sepertinya kita bisa bekerja sama sebagai grup yang baik."
"Grup? apa maksudmu? maaf..maaf saja.. aku tidak tertarik masuk ke grup anehmu, nanodayo.. sudah, aku mau pulang. Jya."
Sepertinya Midorima-kun memiliki sifat tsundere. Tapi, mendapat bantuan darinya saja aku sudah cukup senang.
Ku ambil tasku dan segera beranjak dari kursiku. Aku merasa begitu biasa dan tenang, sampai tiba-tiba saja Aomine-kun menahanku untuk berjalan.
"Ada apa, Aomine-kun?"
"Tidakkah kau melupakan sesuatu?"
"Hmm, sepertinya tidak. Aku sudah memasukan dompetku ke tas."
"Bukan itu, rasanya seperti ada yang terlupakan."
"Apa itu?"
Obrolan yang panjang tadi membuatku melewati banyak hal, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang melelahkan. Jarang-jarang sekali aku pulang malam seusai sekolah, tapi itulah yang orang-orang sebut dengan masa paling indah adalah masa-masa di SMA. Berbagi cerita atau masalah dengan teman-teman sangat membantuku, bahkan aku merasa kelemahanku tertutupi dengan keberadaan mereka. Aku berharap perasaan itu tetap ada saat aku di rumah, sayang sekali, rumah dengan sekolah sungguh berbeda.
"Astaga, aku baru teringat, Ki-chan?! aku belum melihatnya, dimana ia?" cetus Momoi-san tiba-tiba membuatku sadar kalau sedaritadi Kise-kun tidak bersama kami.
"Sial, anak aneh itu bahkan tidak menghubungi kita semua. Pasti ia beralasan dan pulang begitu saja."
"Tenanglah, Kagami-kun. Akan lebih baik kalau ku hubungi dulu ponselnya."
Ku ambil ponsel di sakuku dan langsung menghubungi ponsel Kise-kun.
Di waktu yang bersamaan, ku lihat Aomine-kun memperhatikan pintu masuk restoran ini dengan seksama. Pintu restoran ini memang dipasang kaca film, sehingga tidak terlalu jelas untuk melihat keluar. Pasti ia ingin mengamati Midorima-kun. Sepertinya mereka memang tidak mudah akur.
"Ah, moshi moshi, Kise-kun?"
Belum lama telpon itu dijawab, terdengar suara yang nyaris tak jelas, seperti suara radio rusak yang begitu kacau, telingaku terasa sakit bila terus mendengarnya. Apa yang terjadi dengan ponsel Kise-kun?
Detik itu juga, ku lihat Aomine-kun mendekati pintu itu untuk melihat keluar, apapun yang ada diluar sana, pasti bukan pertanda baik.
"Kuroko, ada apa? bagaimana dengan Kise?" bisa ku dengar Kagami-kun yang berdiri di sampingku.
Namun, saat aku ingin mengatakan tentang suara aneh dari ponsel Kise-kun itu, suara itu menghilang.
"Kise-kun?"
Ku coba dekatkan lagi telingaku dengan ponselku, berusaha mencari tahu ada apa.
Tapi, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku dihadapi oleh sesuatu yang mengejutkan. Aku melihat Aomine-kun terkejut saat membuka pintu restoran dan langsung berlari ke arah kami.
Benar-benar di waktu yang bersamaan, ku dengar seseorang berkata sesuatu melalui telpon, dan sepertinya itu bukan Kise-kun.
"Ini semua belum berakhir.."
Seketika semua menjadi hening sesaat, tubuhku kaku dan mataku terbelalak melihat Aomine-kun yang berlari mendekati kami. Perlahan semua kembali normal, hingga ku dengar Aomine-kun berteriak.
"SEMUANYA MENUNDUK!"
Hitungan satu sampai lima saja, kami semua menunduk dan saat itu juga kami mendengar suara tembakan dari mana-mana. Semua orang panik, kaca restoran semuanya hancur bahkan barang-barang di dalamnya juga. Terdengar seperti ada puluhan orang sedang menembaki restoran ini.
Ini adalah hari yang buruk, aku tak pernah mengalami kejadian seperti ini. Dan kali ini, di depan mataku aku bisa melihat kehancuran dahsyat.
Tembakan-tembakan itu mengarah kemana saja, bahkan ada yang mengenai gas sehingga menghasilkan ledakan yang disertai api.
"Ini gawat, apa yang harus kita lakukan, Tetsu?"
"Kita tidak bisa keluar begitu saja menerjang api yang membara."
Bisa ku lihat, semua temanku menahan nafas karena asap yang begitu mengebul, bahkan Momoi-san jatuh pingsan. Menyisakan satu orang yang masih berusaha mencari jalan keluar dari antara api-api, sepertinya itu adalah Midorima-kun, mungkin saja ia mendengar tembakan itu dan kembali masuk untuk menemui kami. Menyadari keberadaannya, Kagami-kun dan Aomine-kun berlari ikut membantu Midorima-kun.
Aku berusaha berdiri untuk ikut membantu, namun asap membuat perih mataku, pandanganku buyar, hingga bisa ku lihat sepintas ada seseorang yang membawa kapak besar berdiri di depanku. Aku ingin berteriak, tapi itu hanya membuatku mengisap lebih banyak asap hingga semuanya menjadi gelap.
Tubuhku seperti ringan dan ambruk begitu saja, nafasku terengah, aku tidak bisa merasakan apapun selain mendengar semacam bisikan.
"Kembalilah, Kuroko!"
TBC
Doumo, minna-san..
Maaf ya chapter ini lebih panjang atau bahkan kepanjangan :D
Ditunggu kelanjutannya-ssu
