"Kuroko, okaasan menyayangimu."
"Ia akan menjadi pria yang tangguh suatu hari nanti."
"Kau dengar itu, Kuroko? otousan dan okaasan akan terus mendukungmu."
"Selamat datang di keluarga Tetsuya, anakku."
Mimpi?
Sesaat aku merasa hidupku seperti terulang. Aku masih bisa melihat ukiran kebahagiaan dari wajah kedua orang tuaku saat itu, walau aku mungkin masih tidak mengerti apa-apa, tapi aku bisa merasakan semua kebaikan dan kehangatan itu semua berasal dari orang tuaku. Dulu.
"Tetsu, kau sudah sadar?"
"Kuroko...Kuroko..."
Aku mendengar teman-temanku terus meneriaki namaku. Ku kerjapkan mataku perlahan, lalu menatap sekelilingku.
Sudah ku duga, aku saat ini sedang berada di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi tentunya aku masih ingat kejadian tembak-menembak itu.
"Kuroko, kau sudah bangun ternyata. Sudah ku siapkan makanan dan obatmu. Segeralah makan, lalu minum obatmu itu. Otousan bilang kau boleh pulang lusa ini, nanodayo.." dari arah lain ku lihat Midorima-kun yang sedang terduduk di sofa.
"Otousan?"
"Ayahku adalah dokter disini. Saat kau pingsan, aku langsung menghubungi ayahku untuk segera mengirim bala bantuan, dari medis pun juga."
"Ah, arigatou gozaimasu, Midorima-kun. Sudah ku duga, kau memang orang yang baik ya."
"Jangan terlalu senang, nanodayo. Aku melakukan ini bukan karena aku peduli ya, sudah menjadi tugasku untuk membantu ayahku, saat ada orang yang sedang sakit."
Ia memang tsundere.
"Momoi-san baik-baik saja?"
"Momoi sedang istirahat di rumahnya. Tapi, ia sudah baikan." kata Aomine-kun yang berdiri tepat disamping kasurku.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Kise-kun? apa kabarnya? dimana ia sekarang?"
"Tenanglah, Kuroko-kun."
Tiba-tiba inspektur Shin yang adalah ayah Midorima-kun datang dengan mengenakan jas lab dokter.
"Inspektur Shin?"
"Panggil saja ojisan. Ryota-kun sedang dalam masa pemulihan. Ia ada di kamar nomor 201, kalau ingin menjenguk, tolong jangan ribut, sepertinya ia sudah sadar namun tubuhnya masih sangat lemah."
"Ano.. Ojisan, apa yang terjadi dengannya?"
"Midorima melihatnya terkapar lemah di jalan, sepertinya tidak jauh dari restoran itu. Saat itulah, ia langsung menghubungi ponselku, namun semuanya benar-benar membuatku terkejut, tiba-tiba saja restoran sudah dalam keadaan terbakar."
"Apa aku boleh melihat keadaannya?"
"Tentu saja."
Tidak lama setelah inspektur Shin keluar dari kamarku, aku langsung beranjak berdiri dari kasurku. Lututku terasa seperti rapuh, sekujur tubuhku juga begitu lemah, setidaknya ada Aomine-kun dan Kagami-kun yang menopangku, mungkin setelah aku pingsan, aku kehilangan beberapa persen keseimbangan tubuhku. Walau tidak masuk akal, namun bisa menjadi kemungkinan.
"Apa yang ingin kau lakukan, Tetsu?" tanya Aomine-kun sambil terus menopangku sampai aku mampu berdiri dengan kedua kaki lemahku.
"Aku ingin melihat Kise-kun."
"Bukan ide yang bagus untuk saat ini. Kau hanya akan melihatnya sedang terbaring lemah di kasur, nanodayo. Setidaknya tunggu beberapa hari lagi sampai ia pulih." sela Midorima-kun.
Apapun alasannya, aku setuju dengan Midorima-kun. Aku tidak bisa menanyai Kise-kun disaat keadaannya yang masih dapat dikatakan buruk.
"Tapi, kau bisa melihatnya sekarang juga."
"Apa maksudmu, Midorima-kun?"
Tanpa berucap apapun, Midorima-kun mengajakku ke sebuah kamar yang tidak jauh dari kamarku, tentu jalanku masih begitu lambat dan lemah, Aomine-kun dan Kagami-kun berjaga-jaga dibelakangku apabila sewaktu-waktu aku terjatuh karena kakiku yang lemah ini, tapi aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi.
Begitu kami sampai di kamar tersebut, Midorima-kun langsung membukakan pintu itu. Semula aku mengira itu adalah Kise-kun, namun ekspetasiku berbeda, yang ku lihat disana ialah seseorang yang tak asing, ia sedang terbaring di kasur namun langsung terduduk saat melihat kedatangan kami. Lengannya berbalut perban putih dan beberapa luka goresan tampak di sekujur tubuhnya, bisa ku lihat dari kemeja putih tipisnya itu.
"Akashi-kun?" ucapku seraya menghampirinya.
"Akashi, jelaskan ini semua! bagaimana kau bisa seperti ini?" tambah Midorima-kun yang sepertinya tidak tahu apa-apa.
"Saat itu, aku berniat untuk mencarimu, Midorima. Lagi-lagi kau meninggalkan buku sastramu di ruang klub. Aku hanya menebak kalau kalian ada di Maji Burger, karena di jalan aku melihat Kise dan menurutku pasti kau pasti ikut mereka. Tapi, entah aku begitu bingung saat melihat Kise bertemu dengan seseorang, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya saat itu, dan sepertinya orang itu membawa Kise ke suatu tempat." jelas Akashi-kun.
Jadi, ada seseorang yang menemui Kise-kun? siapapun orang itu, pasti ia bukan orang baik-baik.
"Aku hanya berpikir bahwa orang itu adalah seseorang yang dikenalnya, jadi, aku tetap berjalan menuju Maji Burger. Entah sekitar beberapa belas menit kemudian, ku dengar suara tembakan dari arah Maji Burger, aku tahu ada yang tidak beres, maka saat itu aku berlari, dan tak ku sangka tempat itu sedang dalam kondisi terbakar hebat. Orang-orang ramai mengelilingi tempat itu dan beberapa orang sepertinya berusaha memadamkan api sambil menunggu petugas pemadam kebakaran. Aku menerobos ke dalam dari pintu belakang dapur dan langsung melihat Kuroko dalam keadaan pingsan."
Akashi-kun yang menolongku?
Bukan itu yang harus ku pikirkan, tapi seingatku, saat itu aku melihat dengan jelas, ada seseorang dengan kapak mendekatiku, hanya saja aku tidak tahu apa kelanjutannya karena aku sudah terkapar dan perlahan tak sadarkan diri.
"Hmm.. kau yang menolong Kuroko? pantas saja, nanodayo, aku dan yang lain terlalu sibuk mencari jalan keluar, sampai-sampai kami tak sadar Kuroko pingsan saat itu. Tapi, syukurlah, tim pemadam kebakaran sangat cepat dan membantu kami keluar dari tempat itu. Dan saat itu juga, ayahku sedang memasukkan kalian.. termasuk Kise.. ke dalam ambulans. Setidaknya kalian tidak menghilang dan terbakar hidup-hidup di dalam."
Aku tidak terlalu paham apa yang Midorima-ku katakan, mungkin aku masih terlalu lelah dan banyak pikiran setelah kejadian kemarin, akan lebih baik kalau aku tidak menceritakan soal orang itu pada siapapun.
Setidaknya aku menanti hingga waktu yang tepat.
-2 hari kemudian-
Saat ini aku sangat senang bisa kembali ke rumahku, suasana sunyi namun menenangkan, dekor kuno yang dipenuhi barang-barang antik, rumahku lebih cocok disebut sebagai kerajaan. Ya, karena sebenarnya ini bukan benar-benar rumahku, ini adalah rumah keluarga Akashi-kun dan secara tak langsung aku hanya berstatus menumpang di rumahnya.
Kaki sudah kembali sehat, aku sudah bisa berjalan normal dan melakukan hal-hal seperti biasanya, tapi untuk Akashi-kun, tangannya masih harus dibalut dengan perban namun perbannya jauh lebih tipis, ia sudah kembali pulih total, hanya tangannya belum bisa digerakan dengan bebas.
"Ini tehnya, Akashi-kun." kataku sambil menaruh segelas teh di meja ruang tamu. Akashi-kun sedang membaca buku kesukaannya.
"Arigatou gozaimasu, Kuroko."
Baru aku ingin kembali ke kamarku, Akashi-kun menarik tanganku dan membuatku terduduk di sampingnya.
"Ada apa, Akashi-kun?"
"Apa yang terjadi saat itu?"
"Apa maksudmu?"
"Saat kau terjebak di dalam restoran yang sedang terbakar itu. Apa yang terjadi sebenarnya?"
Sudah ku duga, ada sesuatu yang aneh sebelum ia menolongku saat itu.
"Entahlah, saat itu aku menghubungi ponsel Kise-kun, namun hanya suara abstrak yang ku dengar. Tiba-tiba saja Aomine-kun berlari panik ke arah kami seraya menyuruh kami semua menunduk, bisa ku hitung beberapa detik sebelum baku tembak itu, ku dengar seseorang menjawab melalui telpon itu, hanya saja aku lupa ia mengatakan apa."
"Apa yang terjadi setelah baku tembak itu berakhir?"
"Mungkin baku tembak itu berakhir karena restoran sudah terbakar. Aku dan yang lain terjebak, Momoi-san pingsan, yang bisa ku lihat hanya Aomine-kun dan Kagami-kun yang berusaha mencari jalan, tiba-tiba saja Midorima-kun ikut membantu. Hmm.. sebenarnya sebelum aku pingsan, aku melihat seseorang yang membawa kapak besar, tapi aku terlalu lemah hingga terjatuh pingsan."
"Lalu, setelah itu?"
"Aku tidak bisa melihat apa-apa, selain mendengar semacam bisikan."
"Apa itu?"
"Orang itu berkata, kembalilah Kuroko, seperti itulah."
Akashi-kun menggebrak keras meja di depannya, membuatku terdiam dan tak berani angkat bicara. Amarahnya sedang sangat membara, aku bisa membaca wajahnya, aku hanya berharap sisi gelapnya tidak muncul di saat-saat seperti ini, karena sungguh, aku membutuhkan Akashi-kun sebagai pelindungku.
"Aku yakin orang itu pasti ada hubungannya dengan orang yang melukai Kise. Ini benar-benar kelewatan, aku bisa saja membunuhnya jika aku tahu siapa dia." tukasnya.
"Ano..Akashi-kun, ku mohon, stabilkan emosimu, kau masih dalam masa pemulihan."
Mungkin kata-kataku berhasil menenangkannya. Ia kembali mengatur nafasnya.
"Gomen, Kuroko. Aku tidak bermaksud, sepertinya kau tidak akan betah tinggal dengan orang pemarah sepertiku."
"Ti..tidak seperti itu, Akashi-kun. Justru, aku sangat nyaman disini bersamamu."
Apa yang baru saja ku katakan?
Tiba-tiba Akashi-kun menarik tengkukku dan membuatku tenggelam dalam pelukannya. Aku tak tahu apa yanga ada dipikirannya saat ini, yang perlu ku lakukan hanyalah diam dan membiarkannya seperti ini lebih lama.
Jujur, aku merindukan dirinya yang dulu sejak lama
"Kuroko, aku menyayangimu."
Mendengar bisikan lembutnya membuat jantungku berdetup kencang. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku percaya ini adalah dirinya yang sebenarnya.
"Aku juga me-"
Hap!
Ia langsung menutup mulutku dengan tangannya, matanya menyorot tajam ke arahku, bahkan tangan lainnya mengusap rambutku dengan lembut. Semua perlakuannya ini hanya sebatas perlakuan kakak kepada adiknya, tentu saja, tidak ada hal lain, aku pun harus memikirkan hal yang masuk akal.
"Kau menyayangiku? sebagai apa?" tanyanya sambil kembali mengatur posisi duduknyanya dan membiarkanku berbicara.
Sial, aku tak sanggup menatap matanya, bukan karena tatapan tajamnya, hanya saja, entahlah..
Intinya, Akashi-kun adalah kakak tiriku, sekalipun kami tidak memiliki hubungan darah, kami tetap tidak boleh memiliki perasaan diluar batas kakak-adik, selain itu juga, kami berdua adalah pria. Lebih tepatnya, sekalipun kami kakak-adik, kami berdua adalah pria, akan sangat aneh apabila dua pria berlaku lembut satu sama lain.
Dulu ibuku selalu berkata bahwa perasaan itu tidak dapat ditipu. Mungkin apa yang ibuku katakan benar, perasaanku seolah memiliki arti lain yang unik, namun otakku berusaha menyangkalnya, pada akhirnya tidak ada yang bisa mengalahkan hati bukan?
Tapi, aku sendiri tidak tahu apa yang hatiku maksud. Aneh.
"Gomenne, Kuroko. Sepertinya aku sudah menyakitimu terlalu parah. Alasan terbesarku meminta agar kau tidak menganggapku ini kakakmu adalah-"
Perlahan ia mengusap kepalanya dan kembali menatap wajahku.
"Hmm, intinya aku ingin bisa memperlakukanmu tidak sebagai adikku."
Aku tidak paham apa yang ia katakan, tapi apapun yang ia maksud, kami pasti memiliki pikiran yang sama. Hanya saja bagaimana menjelaskan isi pikiran kami itulah yang sulit.
"Aku tidak paham dengan semua ini." jawabku apa adanya.
"Akan ku buat kau paham, Kuroko."
Akashi-kun mendekatkan dirinya padaku, ia mendorong tubuhku hingga aku telentang di sofa. Matanya menatapku tak henti-henti, sedikit terukir senyum di wajahnya lalu ia mendekatkan wajahnya padaku. Entah reflek atau bagaimana, tanganku ku lingkarkan di lehernya.
Ku pejamkan mataku dan bisa ku dengar suara nafasnya yang teratur namun lambat. Aku tidak melihat apapun, tapi aku bisa merasakan nafasnya di telingaku, begitu hangat. Lalu ia membisikkanku sebuah kalimat.
"Aku menyayangimu lebih dari adik, Kuroko."
Aku terkejut saat merasakan tangan hangatnya menyeludup masuk ke pakaian yang ku gunakan. Hangat tangannya sangat terasa di tubuhku. Perlahan ia mengarahkan wajahnya lebih dekat kepadaku dan mulai menempelkan bibir tipisnya kepada bibirku. Dalam waktu yang sangat singkat, aku seolah menemukan jawaban hatiku.
Ini memang aneh, tapi aneh bagi hatiku itu lain.
Tangan lainnya mulai meraba-raba tubuhku dan merambat hingga entah apa yang ku rasakan. Begitu nikmat. Kehangatan yang ku rindukan telah kembali, tapi kali ini jauh berbeda, aku merasa begitu nyaman dan tak ingin berhenti begitu saja.
"A..Akashi-kun.." ucapku disela-sela ciuman kami.
Ia melepas ciuman itu dan menatapku kaget, seolah yang ia lakukan tadi bukanlah dari dirinya.
"Go..gomen, Kuroko. Aku tidak-"
Belum selesai ia berucap, ia langsung beranjak dari sofa dan langsung berlari ke kamarnya.
Sekarang aku tahu, perasaan yang menghantui diriku sejak dulu, perasaan yang aneh namun itulah kenyataan. Walau masih ada dinding saudara diantara kami, tapi tidak bisa ku sangkal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku mencintai Akashi-kun, kakak tiriku sendiri."
.
.
.
TBC
Maaf ya author slow update karena sibuk banget dan baru bisa update sekarang :D
Chapter ini dan seterusnya mulai memasuki unsur hard yaa, sekedar warning lagi, bagi yang ga bisa baca bumbu rate M apalagi ada unsur incestnya, mohon untuk skip saja bagian yang ada unsur tersebut :D
Terima kasih..
See you again, jya ne.
