Sinar pagi mulai terlihat saat ku hendak membuka tirai jendelaku. Bisa dikatakan fajar terlalu cepat menyingsing, tidak.. itu semua hanya karena aku kurang tidur tadi malam. Lebih tepatnya kejadian kemarin membuatku tidak bisa berpikir jernih, aku mengurung diri di kamar sampai-sampai aku lupa untuk makan malam dan beristirahat, sangat bodoh bukan?

Tapi, satu hal yang paling membuatku terkejut. Saat aku memutuskan untuk keluar dari kamarku, aku tak menyangka bahwa Akashi-kun juga tak keluar dari kamarnya, aku yakin ia memang sengaja tidak keluar, karena biasanya ia orang pertama yang bangun pagi.

"Sial!" cetusku panik saat membaca surat yang tertinggal di meja makan.

Aku buatkan sup daging. Makan dan jangan lupa minum antibiotikmu.

Ojisan kemarin menitip pesan agar kau tidak sekolah dulu, aku juga sudah menyampaikannya kepada sensei.

-Akashi

Pantas saja Akashi-kun tidak keluar dari kamarnya, aku bahkan baru ingat hari ini adalah hari senin, ia pasti pergi ke sekolah. Mungkin ini adalah efek terlalu lama di rumah sakit.

"Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi." gerutuku dalam hati sambil mulai melahap makanan yang telah Akashi-kun siapkan.

Tapi memang benar, aku ini lemah, aku bisa saja sakit lagi kalau tetap beraktivitas saat baru saja pulih. Tentu aku sangat iri dengan Aomine-kun dan Kagami-kun yang bertubuh kekar dan kuat.

Sekolah berakhir pukul 3 sore, dan sekarang masih sangat pagi. Sepertinya aku bisa kebosanan di rumah, mungkin sebaiknya aku pergi ke supermarket untuk membeli beberapa makanan kecil. Jarang-jarang aku tidak masuk sekolah, aku harus memanfaatkan waktu ini untuk menonton film kesukaanku, lagipula aku izin sakit bukan membolos kan?

Pada akhirnya setelah sarapan aku pun memutuskan untuk pergi ke supermarket dekat rumahku. Setidaknya tidak akan ada yang menduga aku tidak sekolah hari ini, ini masih terlalu pagi untuk melihat murid-murid sekolah berkeliaran, kecuali jika mereka senasib denganku.

Sesampaiku di supermarket, aku langsung mengambil keranjang dan mencari-cari apa yang kubutuhkan. Aku belum pernah berbelanja sendirian, mungkin karena dulu aku selalu menitip kebutuhan kepada ibuku, sekarang pun aku masih suka menitip kepada pelayan keluarga Akashi-kun, hanya saja pelayan itu juga bekerja di tempat lain, sehingga tidak banyak waktu di rumah kami.

"Apa? ada Kuro-chin disini?"

Satu suara membuatku teralih dari aktivitas belanjaku.

"Kau siapa?" tanyaku ragu. Aku merasa seperti mengenalnya, tapi entah itu dimana.

"Kejam sekali. Ini aku Murasakibara, kita dulu dekat saat kelas 2 SMP."

Ah! aku baru ingat, Murasakibara-kun, temanku dengan Kise-kun, lebih tepatnya aku berteman baik dengannya dulu sebelum bersama Kise-kun, ia pindah sekolah ditengah semester, saat itu aku sangat mudah melupakan orang, jadi jangan heran apabila aku tidak mengingat wajahnya, setidaknya aku masih tahu namanya.

"Gomen, aku tidak pandai menghafal wajah yang sudah lama tiada."

"Sudah lama tiada? kau pikir wajahku seperti sudah mati? hmm.. sudah, ngomong-ngomong, apa kabar dengan Kise-chin?"

"Kami habis melalui hari yang berat. Saat ini ia sedang di rawat di rumah sakit."

"Bolehkah aku menjenguknya?"

"Tentu, aku akan mengantarmu. Ngomong-ngomong juga, apa kau tidak sekolah? sekarang kau sekolah dimana?"

"Aku tinggal di Akita, aku hanya sedang berlibur dengan temanku di Tokyo. Kau sendiri?"

"Aku baru keluar dari rumah sakit, jadi aku tidak sekolah dulu hari ini."

"Kenapa kau dan Kise-chin sangat lemah hingga mudah sakit-sakitan?"

"Sudah, tunggu aku bayar belanjaanku dulu ya."

Murasakibara-kun menantiku diluar pintu kasir. Sebentar aku mengambil beberapa barang yang ku perlu, lalu segera membayarnya. Aku tak menyangka akan bertemu dengan dirinya, mungkin Kise-kun akan terkejut juga melihatnya yang sudah tambah tinggi. Soal itu, mungkin Kise-kun sudah baikan dan bisa dikunjungi.

"Semuanya jadi 1800yen."

"Baik, ini uangnya.."

Setelah membayar belanjaanku, aku langsung menemui Murasakibara-kun, seperti rencana kami, kami akan menjenguk Kise-kun.

"Apa kau masih tinggal di rumah pohonmu?" cetus Murasakibara-kun memecah kesunyian.

Setelah ibuku bercerai dengan ayahku, kami memutuskan untuk membeli rumah baru, sebenarnya itu bukan rumah pohon seperti yang dibayangan banyak orang, hanya saja rumah itu berlokasi di tempat yang jarang penduduk, sehingga suasananya sepi, ditambah pohon-pohon besar mengelilingi. Murasakibara-kun memang suka memberi nama random, lebih tepatnya setelah ia pernah merasakan suasana pribadi di rumahku yang lebih cocok jadi rumah pohon atau markas baginya.

"Ibuku menikah lagi, jadi aku mengikutnya tinggal di rumah suaminya."

"Gomen, aku tidak tahu. Apa mereka kaya? lalu bagaimana ibumu sekarang? apa ia masih mengingatku?"

Ibuku sangat ramah pada teman-temanku, seperti Kise-kun dan Murasakibara-kun, tidak heran kalau Murasakibara-kun menanyakannya, ia sudah seperti anak bagi ibuku. Mengharukan bukan?

"Ibuku sudah meninggal."

Murasakibara-kun menghentikan langkahnya dan menepuk punggungku, jarang sekali orang kekanakan sepertinya bisa memberi empati.

"Gomenne, aku tidak tahu."

"Tak apa, lagipula itu sudah lama." kataku sambil melempar senyum biasa.

Sesaat aku merindukan ibuku, tapi aku hanya anak lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menghadapi kenyataan.

"Ibumu terlalu baik, Kuro-chin."

"Ya, tapi itu semua sudah berlalu. Sekarang aku tinggal dengan kakak tiriku, anak dari suami ibuku, ayahku juga meninggal bersamaan dengan ibuku karena suatu hal. Rasanya hidup ini tidak pernah berpihak denganku, bukan?"

"Kuro-chin harusnya senang, kau punya Kise-chin dan aku, lalu teman-temanmu di SMA juga kan? Jangan pandang dunia ini sebelah mata, masih ada hal indah, hanya kau terlalu terpaku pada sisi negatifnya."

"Sugoii, Murasakibara-kun. Darimana kau bisa sebijak ini?"

"BL."

"Itu bahkan tidak ada hubungannya, Murasakibara-kun. Kau salah genre."

Sekitar 15 menit kami berbincang, kami pun sampai di rumah sakit. Rumah sakit tidaklah jauh dari supermarket tadi, jadi kami memilih untuk berjalan kaki sebentar.

Kami pun segera menuju pintu masuk dan mencari ojisan, karena menurutku ojisan yang paling tahu keadaan pasien-pasiennya.

Baru aku membuka kecil pintu masuknya, tiba-tiba ku lihat seseorang berlari tergesa-gesa keluar pintu dan membuat pintu menghantamku hingga terjatuh. Barang belanjaanku semuanya jatuh dan berserakan. Untung saja orang itu tidak kabur dan membantuku berdiri.

"Hwaa, sumimasen, kau tidak apa-apa, nak?" tanyanya panik.

Ku lihat seorang pria paruh baya, tubuhnya tinggi tegap seperti Aomine-kun, berkumis tipis, sepertinya ia sudah menikah, karena ia terlihat tua dan sepertinya sudah menginjak kepala 5.

Sekalipun ia yang menabrakku, aku tetap harus bersikap sopan karena ia lebih tua dariku.

"Aku baik-baik saja, gomennasai, aku juga tidak melihat-lihat dulu. Sepertinya anda sedang buru-buru." kataku dengan ramah.

"Tidak masalah. Ah, siapa namamu, nak?"

"Kuroko Sei.. ehm.. Kuroko Tetsuya desu."

"Tetsuya? ah, kalau begitu ini permen untukmu, nak. Kau bisa berbaginya dengan teman ungumu itu. Senang bisa bertemu denganmu, Tetsuya."

Seketika orang itu pergi. Orang itu sangat baik, tidak seperti orang dewasa pada umumnya yang pasti akan marah-marah apabila seseorang berbuat kesalahan padanya.

"Boleh aku minta permennya, Kuro-chin?"

"Nanti saja, kita ke kamar Kise-kun dulu."

"Baikkkkk..."

Aku ingat kamar Kise-kun berada di kamar nomor 201 seperti yang ojisan katakan. Aku pun memutuskan untuk langsung menjenguk ke kamarnya, mungkin saja ojisan sedang sangat sibuk di rumah sakit ini.

Begitu kami sampai di kamar Kise-kun, bisa ku lihat Kise-kun masih terbaring di kasurnya, tapi sepertinya ia sudah lebih baik, bahkan ia sudah bisa menonton acara tv kesukaannya.

"Kise-kun?" panggilku.

Ia melirik ke arah kami dan langsung memasang senyum lugunya seperti biasa, aku tahu ia sangat senang dengan kehadiran kami.

"Hwaaa, Kurokocchi? aku sangat merindukanmu-ssu. Tumben sekali, sekolah pulang cepat."

"Aku tidak masuk sekolah. Ojisan ingin aku istirahat dulu karena aku baru saja pulih."

"Ojisan?"

"Inspektur Shin, lebih tepatnya ayah Midorima-kun."

"Ah, aku baru ingat. Dan... ini siapa?" tanya Kise-kun sambil melirik Murasakibara-kun.

"Dasar kau ini sama saja, Kise-chin."

"Ah? Murasakibaracchi? Gomen, aku tahu itu dirimu, tapi hanya takut salah orang."

"Chee! urusai!"

Murasakibara-kun benar. Aku memang selalu memandang hidup ini sebelah mata, padahal sudah jelas di depan mataku sendiri, ada orang-orang yang selalu siap menemaniku sekalipun dalam keterpurukan. Mungkin sudah rencanaNya untuk kami dipertemukan lagi.

"Bagaimana kalau kita hari ini ke rumah Kuro-chin?"

"Baka, aku masih harus tinggal di rumah sakit sampai besok-ssu."

"Kalau begitu kau tak usah ikut, Kise-chin."

"Hidoi-ssu!"

"Hmm, ide yang bagus, bagaimana kalau kau ke rumahku, Murasakibara-kun? aku akan meminta teman-temanku yang lain datang, setidaknya kau bisa kenalan dengan mereka, dan juga dengan kakak tiriku."

"Bagaimana sepulang dari sini?"

"Baiklah. Dan untukmu, Kise-kun, lusa ikutlah kami makan di Maji Burger, bagaimana?"

"Mantap-ssu.."

Aku harap hari seperti ini tidak pernah berakhir.


Tok... Tok... Tok...

Ku dengar suara ketukan pintu, aku yakin itu pasti Akashi-kun. Tak terasa setelah lama berbincang di rumah sakit, aku dan Murasakibara-kun memutuskan untuk berbincang-bincang di rumahku sambil menanti yang lain datang, aku juga sudah mengajak Aomine-kun dan teman-teman lain.

"Tadaima." cetus Akashi-kun diikuti rombongannya dibelakang, sudah jelas itu adalah Aomine-kun, Kagami-kun, dan Momoi-san. Mereka benar-benar datang.

"Okaeri, aku sudah membuatkan makanan, sebaiknya kalian makan dulu."

"Kau memasak? kesannya seperti kau tidak sedang sakit, Tetsu?" kata Aomine-kun sambil tertawa kecil.

"Karena memang aku tidak sakit. Ojisan terlalu melebih-lebihkan."

"Sudah..sudah.. ayo makan. Kuroko sudah repot-repot memasak untuk kita." tambah Kagami-kun, membuat yang lain langsung masuk ke rumah dan melihat-lihat masakanku.

Di waktu yang bersamaan, aku juga melihat Murasakibara-kun mulai akrab dengan yang lain, bahkan belum aku memperkenalkannya pada Akashi-kun dan teman-temanku, ia sudah dengan cepat beradaptasi. Andai aku bisa seperti itu.

"Jadi, kebiasaanmu hanya mengemil? tapi kau kan sudah besar, Murasakibara."

"Hmm, bagaimana ya, memang kau tidak suka mengemil, Mine-chin?"

"Mine-chin? apa-apaan itu?"

"Gomen, aku terbiasa memanggil orang terdekat dengan chin."

"Kita bahkan baru saling kenal hari ini."

"Gomennasai, Mine-chin."

"Cukup sudah!"

Bahkan ia sudah bisa bercanda dengan Aomine-kun. Untuk bisa bermain-main dengan Aomine-kun pada awalnya akan sangat sulit, ia kurang suka diajak bercanda.

"Sugoii, Momoi. Bagaimana kau bisa mengetahui data akurat murid-murid kelas sebelah?"

"Tidak semudah itu. Kagamin harus banyak relasi tentunya."

Kagami-kun dan Momoi-san juga sepertinya sedang asyik berbincang. Setidaknya suasana rumahku sangat ramai, tidak seperti biasanya.

"Sumimasen, Minna! tolong jangan lupakan satu tamu lagi." seru Akashi-kun sambil membuka pintu rumah. Sosok yang sempat ku cari-cari ternyata datang, ia membawa dua bungkus kue dan seperti biasa ia selalu membawa benda aneh disakunya, entah apa maksudnya.

"Midorima!" seru Aomine-kun juga tak mau kalah dan langsung merangkul Midorima-kun dengan akrabnya.

"A..A...Aomine! jangan anggap kita ini seperti akrab saja ya. Aku tidak mau dekat dengan orang sepertimu, nanodayo.."

"Sudah cukup sifat tsunderemu, Midorima. Ayo makan bersama kami!" kata Aomine-kun lalu menyuguhkan beberapa lauk kepada Midorima-kun.

Andai Kise-kun ada disini, pasti rumahku akan semakin ramai dengan suara-suara mereka semua. Aku tak menyangka, ini pertama kalinya aku mengajak teman-temanku ke rumah dan semuanya nampak ceria, bahkan Akashi-kun tidak masalah untuk pergi bersama mereka.

Membahas soal Akashi-kun, apa ia sudah lupa soal kejadian kemarin?

Wajahnya tampak biasa saja, tapi bisa saja ia masih menyimpan perasaan tak enak padaku.

"Kuroko, ada masalah?"

Seolah bisa mendengar pikiranku, Akashi-kun menghampiriku disaat yang lain sedang sibuk berbincang di meja makan.

"Tidak. Aku hanya senang, teman-teman bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama disini."

"Apa yang kau lakukan selama aku sekolah tadi?"

"Aku hanya berbelanja di supermarket, lalu bertemu dengan Murasakibara-kun, setelah itu kami pergi menjenguk Kise-kun. Sepertinya Kise-kun sudah pulih, ia bilang ia sudah bisa pulang besok."

Entah mengapa, aku tidak berani menatap mata Akashi-kun. Ini aneh.

"Eh? Kuroko." tiba-tiba saja Akashi-kun menggenggam kedua tanganku dan mendorongku sehingga tubuhku tersandar ke dinding. Dari sini aku tidak bisa melihat teman-temanku, mungkin Akashi-kun sengaja agar tidak terlihat.

Tatapan tajamnya sama seperti kemarin, ia menatapku begitu dalam. Sial, apa yang ia pikirkan?

"Aka..Akashi-kun."

"Gomen, bisakah kita lupakan soal kemarin? sungguh, aku tidak bermaksud. Tapi aku tidak ingin kau membenciku, Kuroko."

"Marah padamu saja aku tidak bisa, bagaimana aku bisa membencimu?"

"Sungguh?"

"Sejujurnya aku..."

"Apa, Kuroko?"

"Aku merasa, aku mengingin-"

Chu.

Untuk kedua kalinya bibir kami saling bertemu, namun kali ini, perlakuannya lebih lembut.

"Aku mencintaimu, Kuroko. Tapi, aku tidak bisa karena kita ini saudara." bisiknya membuatku terhanyut dalam suaranya yang lembut itu.

Itu juga yang selalu menghantui pikiranku, Akashi-kun

"Akashi-kun, aku juga men-"

Tok.. tok.. tok..

Suara ketukan pintu membuat kami teralih. Dengan inisiatif aku segera berlari ke arah pintu dan membukakan pintu, namun Akashi-kun terlebih dahulu menghampiri pintu itu dan membukakan pintu.

"Kali ini siapa lagi yang kau undang, Kuroko?" bisik Kagami-kun.

"Aku tidak mengundang siapa-siapa lagi, mungkin saja ayah Midorima-kun."

"Ayahku? ku kira ia lembur di rumah sakit." tambah Midorima-kun saat mendengar ayahnya dibicarakan.

Kalau bukan ojisan, lalu...

"Ah, sumimasen, aku mencari Kuroko."

Ku dengar seseorang menyebut namaku. Ku lirikkan pandanganku ke arah suara itu dan mendapati sosok yang ku kenal berdiri di depan pintu masuk.

Sebenarnya aku tidak mengenalnya sekali, kami baru bertemu tadi siang di rumah sakit. Ia adalah pria paruh baya yang tak sengaja menabrakku.

Tunggu, bagaimana ia bisa tahu rumah ini?

Ku hampiri pria itu dan memasang wajah biasa.

"Ada perlu apa?" tanyaku singkat.

"Ternyata memang benar, itu memang kau Kuroko." katanya tak masuk akal, namun wajahnya seolah meyakinkan, siapa pria ini? bagaimana ia bisa bersikap seolah pernah bertemu denganku?

"Maaf, aku tidak mengerti. Aku merasa belum pernah bertemu dengan anda."

"Apa kau lupa?"

"Apa maksud anda?"

Seketika suasana menghening, wajah-wajah ceria pun menjadi wajah-wajah serius. Aku hanya bisa terdiam dan menanti pria di depan mataku menjawab.

Hingga...

.

.

.

"Kuroko, aku ini ayahmu."

.

.

.

TBC