"Shit!" Harry mengumpat keras dan segera membereskan kekacauan diruang tamunya, karena mendadak Lucius mengiriminya sebuah pesan kalau dia menitipkan Draco padanya karena Lucius dan Narcissa harus terbang ke Dallas malam ini.

ooo

Haa? Cinta Terlarang?

Disclaimer: J.K Rowling

Aurorafalter

Warning: AU, OOC and maybe typos~

RnR please!

kripik, saran, flame dipersilahkan ^^

Enjoy~

ooo

Draco Malfoy, 18 tahun, anak tunggal dari pebisnis kaya raya Skotlandia, Lucius Malfoy. Hidup dengan bergelimang harta membuat hidup Draco sangat jauh dari kata kemiskinan dan kesusahan. Dalam hidupnya Draco tidak mengenal kata penolakan, setiap apa yang dia inginkan harus dan wajib untuk terpenuhi, setiap apa yang dia tunjuk dengan jarinya itu adalah miliknya. Sifat itu sepertinya menurun dari ayahnya, Lucius Malfoy yang memang terkenal dengan keabsolutannya.

Dengan wajah bak Adonis kendati umurnya masih menginjak 18 tahun, Draco menjelma menjadi idaman wanita maupun pria. Tiap hari tak kurang dari lima belas surat cinta selalu mampir ke dalam lokernya, dan sebanyak itulah surat-surat itu hanya menjadi bahan bakar perapian dirumahnya.

Ditopang dengan wajah rupawan dan otak jenius, tak heran banyak yang memujanya, walaupun Draco mempunyai sikap yang angkuh dan sombong bak diktator, pada kenyatanya tak menyurutkan barisan penggemar yang gemar mengedip-ngedip genit ke arahnya. Walaupun kerap mengganggu dan membuat kesal, Draco tidak pernah mempermasalahkannya, yang penting mereka tidak mencampuri urusan pribadinya. Draco enjoy, dia tetap menikmati kepopulerannya.

Seperti jamaknya remaja penuh hormon, Draco tidak menyia-nyiakan talenta yang dimiliki olehnya, dengan berbekal senyuman yang menggoda, dia menyeret bermacam-macam jenis perempuan untuk menghangatkan ranjangnya. Sekedar one night stand, ataupun percumbuan singkat dianggapnya sebagai olahraga rutin mingguan. Kelakuannya yang seperti itu sudah menjadi rahasia umum sepertinya, tiap ada yang berbisik mempermasalahkan kelakuannya, beraneka suara akan membela Draco, 'Bisalah hormon remaja' atau 'Draco memang mempesona, jangan salahkan dia, salahkan si wanita yang telah menggodanya'.

Sikap Draco yang seperti itu semakin menjadi-jadi ketika dia menempati kelas akhir, merasa sudah mumpuni, dia tak lagi mempunyai rasa hormat kepada orang lain—terkecuali orangtuanya, pelanggaran demi pelanggaran kerap dia lakukan, tapi toh siapa yang sanggup menghukum si anak pemilik yayasan yang menyokong sekolah? Mau cari mati? Atau emang niat gali kubur sendiri?

Lucius sendiri tidak begitu menggubris kelakuan anfal Draco yang seperti itu. Asalkan Draco bahagia dan senang itu semua tidak membuatnya sakit kepala. Lagi pula Draco juga murid yang jenius, tak perlu terlalu lama tinggal di kelas, dia hanya perlu membaca buku teksnya sekilas dan abrakadabra nilai 100 saat test akan menghiasi papernya.

ooo

Dengan terburu-buru Harry membersihkan kekacauan pada ruang tamunya, tak ingin di cap sebagai guru yang tidak berdedikasi oleh Lucius tentunya, padahal toh sebenarnya Lucius pun tak mempermasalahkan hal itu, Lucius telah mengenal Harry cukup lama, sejak Harry masih menjadi mahasiswa baru di universitas.

Kala itu Lucius adalah salah satu mahasiswa program doktoral yang sedang kebingungan mencari bahan untuk disertasinya. Harry datang bak dewa penyelamat untuk Lucius, dengan sigap Harry membantu Lucius mencari bahan-bahan serta referensi untuk disertasinya, mulai dari yang remeh temeh sampai yang maha sulit. Harry pun tak sungkan-sungkan membantu Lucius padahal Harry cuma mahasiswa baru strata satu, tapi berkat otak Harry yang lumayan cemerlang dia mampu meringankan tugas Lucius. Sejak dari itu Lucius menjadi akrab dengan Harry dan menjadi sahabat, walaupun terpaut umur yang lumayan jauh yaitu dua puluh lima tahun—lebih tua dari James sebenarnya, itu semua tak membuat persahabatan mereka kaku. Harry menghormati dan menghargai Lucius yang merupakan seniornya dan yang lebih berumur, begitu pula dengan Lucius yang menyayangi Harry seperti adik yang tidak pernah dia punyai selama ini. Berkat rekomendasi dari Lucius, Harry dapat bekerja sebagai guru Biologi disekolah yang disokong perusahaan Lucius selepas wisuda.

"Lucius, kau mengagetkanku kau tahu? Ayo masuklah kedalam dulu, Cissy." semprot Harry ketika membukakan pintu untuk Lucius, Narcissa dan Draco.

"Maaf merepotkanmu Harry, sebenarnya kami hendak meninggalkan Draco dirumah seperti biasa, tapi entah mengapa tiba-tiba dia meminta ke apartementmu saat kami membahas tentang dirimu," ucap Lucius kalem.

"Hhh, baiklah Lucius, kuharap anakmu ini tidak merencanakan sesuatu yang aneh-aneh, sudah cukup semua kelakuannya selama ini di sekolah," keluh Harry.

"Jadi kelakuan seperti apa Harry, dear? Dan sepertinya kau sedang tidak enak badan, wajahmu terlihat pucat Harry."

"Ehm, ya kelakuannya seperti itulah Cissy. Aku tak apa-apa, yah aku cukup frustasi malam ini, kau tahu rutinitas weekendku selama ini," ucap Harry nelangsa.

"Blind date lagi? Sepertinya aku perlu bicara dengan Lily tentang ini Harry, dear."

"Tak usah Cissy, mum pasti tak suka kalau kau mengajaknya bicara menyangkut urusan kencan buta ini, biarlah mum bahagia dengan jalannya," ujar Harry.

"Yah baiklah, aku dan Lucius pamit dulu. Kami titip Draco disini sampai besok malam."

"Ya Cissy."

"Dan Draco son, bersikaplah yang wajar pada Harry, ok?"

"Hmm, ya Mother."

ooo

"Jadi ini ya apartementmu Mr Potter, sir? Oh bisakah aku memanggil namamu? Mr Potter membuatmu terlihat begitu formal dan kuno, dan lagipula kau dan father bersahabat. Dan ini kucingmu, Charles?" ucap Draco sambil memangku kucing Harry.

"Ya ya terserah kau Mr Malfoy, jadi apa yang sedang kau rencanakan?" ucap Harry suntuk.

"Panggil aku Draco, Mr Pott—Harry. Whoaa, santai, aku sedang tidak merencanakan apa-apa, lagipula cukup bertemu denganmu sudah menuntasku rencanaku," ujar Draco enteng.

"Eh? Maksudmu Mr Malfoy?" Harry mengusap mukanya yang tengah menampilkan raut kebingungan.

"Draco, Harry, Draco! Yah bertemu denganmu, bertigaan denganmu dan kucingmu diapartement ini adalah rencanaku."

"Wha... What? Kau sehat Mr Malf—"

"Draco, Harry!"

"Ya ya baiklah Draco, kau sedang tidak ngelindur kan?"

"Kedengaran merdu sekali saat kau memanggil namaku, Harry. Dan no, aku masih sehat wal afiat, mempunyai kesadaran penuh saat ini."

Blush. Wajah Harry menampilkan rona kemerahan. Agaknya Harry sangat malu dengan kalimat Draco 'Kedengaran merdu sekali saat kau memanggil namaku, Harry.'

Ok Harry tenang, dia hanya muridmu, anak didikmu, anak dari sahabatmu, dan dia bukanlah apa-apa, terkecuali senyumannya yang seksi dan—arggh shit! Harry mengumpat dalam hatinya. Bisa-bisanya dia masih membayangkan senyuman Draco yang sek—oh lupakan. Hell no! Dia masih normal, dia juga bukan pedofil—'apa sih yang aku pikirkan' rutuk Harry dalam hati.

"Berhenti bercanda denganku Draco. Dan cukup, kau telah membuat bulu kucingku berhamburan kemana-mana dengan elusan macam kuli itu!"

"Apakah aku terlihat seperti bercanda, Harry?"

TBC

A.N: hehehe, aku mendapatkan suatu waktu dimana ide mengalir dengan lancar tanpa gangguan, laptop yang sehat wal afiat, dan dukungan dari pada readers dan reviewer :D

Wow wow, thanks atas apresiasianya mulai dari chapter pertama sampai yang kedua, aku menghargai kalian semua ^^ sebisa mungkin aku akan memperbaiki bolong-bolong fict ini ya dan akan mengupdate secara teratur, karena jika tersendat-sendat aku akan susah menembus rasa malasku untuk membuat fict lagi hahahaha.

Thanks a lot guys! So, mind to RnR again? :D