Apa kabar? Akhirnya update juga. Nah, sesuai janji, hubungan antara Mito dan Erza akan dijelaskan lebih mendalam lagi. Selamat membaca.
Warning: cerita gak jelas.
Disclaimer: Fairy Tail by Hiro Mashima.
A New Life at Fairy Tail Academy by AeUrichima123.
Chapter 2
Truth Behind The Wall, Part I
Begin
TETET TETET [06:15]
Suara alarm menggema di kamar itu. Terlihat seorang gadis berusia 15 tahun baru bangun dari tidur nyenyaknya. Gadis berambut jingga kemerahan itu adalah Mito Urichima. Siswa baru di Fairy Tail Academy gedung A, yang mempunyai suatu urusan dengan Erza Scarlet dari gedung S.
"HUUUUAAAAAHHHHH!", erangnya saat bangun. "Iya, aku bangun, aku bangun.", ucapnya seraya mematikan alarmnya.
Gadis itu pun bangun dan mempersiapkan dirinya menuju sekolah. Setelah selesai mandi dan memakai seragam sekolah rapi, iya segera memasak sarapan untuknya sendiri. Ia sekarang memang tinggal sendiri di rumahnya, sejak ayahnya meningkalkan rumah untuk pergi kerja sejak usianya 9 tahun. Walaupun begitu, ia sudah terbiasa dengan keadaan yang sepi seperti itu, walaupun kadang-kadang ia masih berharap ayahnya ada di rumah bersamanya.
"Aku berangkat.", ucapnya sebelum meninggalkan rumah minimalisnya itu.
Sesampainya Mito di kelas dan duduk di kursinya, Lucy dan Natsu sahabat barunya itu langsung mengelilingi mejanya diikuti oleh Gray yang tiba-tiba saja datang dari kelas sebelah. Mito sempat terkejut karena tiba-tiba teman-temannya mengerubunginya. Natsu, Gray, dan Lucy yang tadinya ragu untuk bertanya soal kemarin akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Mito.
"Ne, ne, Mito-chan.", kata Lucy yang hanya dibalas dengan pandangan mata Mito yang datar. "Soal kemarin."
"Ada apa dengan kemarin? Apa terjadi sesuatu yang menarik setelah aku pulang?", tanya Mito pada teman-temannya dengan polos seakan mereka tidak mengalami 'pembicaraan' itu.
"Apa kau bodoh. Itu loh, soal 'si iblis' itu.", timpal Gray.
"Iya, apa yang sebenarnya kau inginkan dari dia?", tanya Natsu heran sekaligus takut.
"Yang pastinya, urusanku dengan dia bukanlah urusan kalian sampai kepo begitu!", ucap Mito dengan nada kesal karena selalu ditanya oleh teman-temannya.
"Ayolah, Mito-chan. Mungkin saja kami bisa membantumu dengan 'sang iblis' itu. Kami lebih mengenalnya di sini daripada kau.", rayu Lucy agar Mito mau menceritakannya.
"Huff.", desahnya sambil melihat jam yang ada di dinding menandakan sebentar lagi akan masuk. "Aku akan menceritakannya nanti saat istirahat saja. Kalu diceritakan sekarang, waktunya tidak akan cukup."
"Baiklah akan kami tunggu istirahat nanti. Jadi, jangan kabur!", ucap Natsu sedikit mengancam.
'Terserah.', batin Mito serasa tidak peduli dengan permintaan temannya yang memaksa.
TRING TRING TRING [08:15]
Pembelajaran pun di mulai. Lucy dan Natsu segera kembali ke kursi mereka masing-masing dan Gray segera kembali ke kelasnya. Teman-teman Mito pun menunggu dengan sabar melewati beberapa jam sampai saatnya jam yang mereka nanti, jam istirahat. Sedangkan Mito, dia hanya sesekali melihat keluar jendela memandangi gedung S dan kadang-kadang menyimak penjelasan guru dan sesaat entah pikirannya melayang kemana. Sampai saatnya jam istirahat...
TRING TRING [11:00]
Istirahat yang dinanti-nanti pun tiba. Sebelum sempat beranjak dari tempat duduknya, Mito sudah dihalang oleh Natsu dan Lucy, diikuti Gray, yang membawanya ke suatu tempat di kantin sekolah dimana jarang orang melintas.
"Jadi ceritakan yang tidak sempat kau ceritakan pada kami tadi pagi!", kata Natsu tidak sabaran.
"Baiklah, semuanya berawal saat...
FLASHBACK [5 tahun lalu, saat Mito masih berusia 10 tahun sedangkan Erza berusia 13 tahun]
"Wah, kemampuanmu boleh juga, Erza-nee.", ucap Mito pada Erza.
"Hahaha. Terima kasih, Mito-chan. Tapi sudah kubilangkan, jangan panggil aku 'Erza-nee', 'Erza' saja cukup. Lagipula aku ini bukan kakakmu.", kata Erza.
"Tapi, walaupun begitu, kau tetap kuanggap sebagai mentor, layaknya kakakku sendiri.", ucap Mito dengan bangga.
Hubungan Erza dan Mito memang baik, setidaknya dulu. Dulu Mito selalu menganggap Erza sebagai yang terbaik diantara semuanya bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Erza sering bermain di rumah Mito karena ia tau Mito hidup sendirian, bahkan ia biasanya menginap di sana hanya untuk menemani Mito. Setidaknya semuanya itu sempurna, sebelum kejadian itu terjadi.
"Oy, Erza-senpai ayo lawanlah Mito, sekarang ia sudah berkembang sangat pesat. Aku yakin sekarang Mito dapat mengalahkanmu.", kata seorang teman Mito.
"Ha, baiklah. Bagaimana menurutmu, Mito-chan?", ucap Erza ramah.
"Baiklah. Aku terima tantanganmu. Aku tidak akan kalah bermain pedang darimu, Erza-nee!", ucap Mito dengan lantang.
Mereka bertarung di arena yang sudah disiapkan. Pertarungan itu berlangsung sengit. Mito mulai menyerang Erza dari segala sisi, tapi dapat dihindari dengan mudahnya oleh Erza. Sekarang gantian Erza yang mulai menyerang Mito, beberapa serangan berhasil dihindari sengan sempurna tetapi Mito hampir kena serangan beruntun Erza berikutnya. Suara pedang yang beradu, terdengar dari ujung ke ujung. Pertarungan itu juga tidak menunjukan akan segera berakhir, kedua belah pihak keliatan imbang. Teman-teman Mito yang dari tadi menonton mulai memasang taruhan pada Mito, begitu juga teman-teman Erza yang tak kalah banyaknya mulai bertaruh pada Erza. Mereka sebenarnya mempertaruhkan hal yang konyol, seperti mengerjakan tugas selama setahun dan sebagainya.
"Ayo Mito! Kami bertaruh padamu! Pastikan menang! Hidup kami dipertaruhkan!*lebay*", teriak suporter-suporter Mito.
"Ayo Erza! Jangan mau kalah dari adik kelas! Buktikan bahwa senior selalu lebih baik!*anarkis*", teriak suporter Erza tak mau kalah.
Hingga akhirnya saat kedua pihak hanya memiliki sediki tenaga tersisa, Erza langsung melancarkan serangan akhirnya. Pedang Mito terpental dan menancap di tanah jauh dari posisinya dan Erza mengarahkan pedangnya pada Mito yang tersungkur ke tanah menandakan berakhirnya pertarungan mereka.
"A..aku kalah.", desah Mito seakan tidak percaya.
"Ap..APA!? Mito kalah!?", sahut suporternya.
"Hehehe. Sekarang kalian harus mencuci pakaian kami, mengerjakan pr kami, tunduk pada kami, ..., selama setahun!", ucap suporter anarkisnya Erza yang membully suporter lebay Mito.
"Kau hebat juga Mito-chan.", kata Erza sambil membantu Mito berdiri. Mito pun menerima bantuan Erza dan mereka berdua pergi dari tempat itu.
Beberapa bulan kemudian saat mereka semua bertemu lagi,
"Terima kasih banyak Mito, berkatmu kami jadi seperti asisten pribadi para senior.", kata salah satu teman Mito.
"Ya, apa kau tau betapa sulitnya itu? Dan masa hukumannya pun jauh dari selesai, masih ada 11 bulan lagi!", ucap salah seorang temannya yang lain.
"Padahal kami mempercayaimu untuk mengalahkan Erza-senpai, tapi kenapa kau sampai kalah! Kau sudah menghilangkan kepercayaan kami. Ayo pergi teman-teman.", kata seorang yang sepertinya adalah ketua mantan suporter pendukung Mito.
"Hey, Mito-chan. Apa kau baik-baik saja?", saat Erza ingin memegang pundak Mito, Mito langsung menangkis tangan Erza.
"pergi. PERGI DARIKU. JANGAN PERNAH MENDEKATIKU LAGI. KAU MEMBUAT TEMAN-TEMANKU PERGI. JANGAN PERNAH LAGI KAU MENGINJAK RUMAHKU MAUPUN MENYAPAKU LAGI. MULAI SEKARANG KITA ADALAH MUSUH. AKU MEMBENCIMU, ERZA!", teriak Mito sekuat-kuatnya pada Erza.
Sejak saat itu Mito tidak pernah berhubungan lagi dengan Erza, begitu juga dengan Erza yang tidak pernah lagi mendekati Mito karena tidak ingin melukai hati Mito lagi.
FLASHBACK END
... jadi kira-kira begitulah hubunganku dengan Erza.", ucap Mito setelah menyelesaikan ceritannya. "Apa kalian sudah puas sekarang?"
"Hiks..hiks", Lucy, bahkan Natsu dan Gray terharu mendengar cerita Mito. 'Apa-apaan mereka. Tiba-tiba menangis hanya karena cerita seperti itu.', batin Mito.
"Mito, aku tidak tau bahwa kau punya masa lalu yang begitu indah dengan 'si iblis'. Aku benar-benar tersentuh.", ucap Gray.
"Mulai sekarang, aku tidak akan menjahilimu lagi. *Natsu selalu berusaha menjahili Mito, tapi selalu gagal*", ucap Natsu seperti tulus yang dibuat-buat. 'Kapan kau pernah menjahiliku?', batin Mito.
"Lalu, kenapa kau bersekolah di sini dan mencarinya, Mito-chan?", tanya Lucy heran.
Setelah diam sejenak, Mito akhirnya berbicara. "I..itu.. itu karena apa yang kuperbuat dulu sampai membencinya itu konyol dan juga aku mau membuktikan bahwa aku jauh lebih kuat dari padanya.", ucap Mito sedikit ragu.
"Jadi, apa kau masih membencinya sekarang?", tanya Gray.
"Te..tentu saja aku masih membencinya. Aku hanya ingin pertandingan ulang saja.", kata Mito yang bingung kenapa dari tadi ia ragu untuk menjawab.
"Wah. Kalau begitu kau beruntung Mito.", ucapan Natsu membuat Mito heran. "Sehabis istirahat adalah olahraga dan kita akan berbagi lapangan dengan siswa kelas S-2, tempat 'sang iblis' berada.", lanjut Natsu menjelaskan situasi.
Mendengar perkataan Natsu, Mito tersenyum kecil, karena pada akhirnya menemukan orang yang selama ini dicari-cari. Setelah pembicaraan kecil mereka selesai, Natsu, Lucy, dan Mito, mengganti baju mereka dengan baju olahraga, karena istirahat sebentar lagi berakhir, Gray juga langsung menuju kelasnya karena tidak mau dimarahi gurunya kalau terlambat.
DI GEDUNG S, KELAS S-2
"Wah, hari ini olahraga dengan kelas A-1, ya.", kata siswa S-2 (1).
"Iya kau benar. Tapi kudengar ada siswa baru di kelas A-1, dia sangat cantik dan katanya dia bisa terbang.", kata siswa S-2 (2) memulai gosip.
"Erza, apa kau sudah siap?", tanya seorang pemuda tinggi besar berambut kuning.
"Ya, ayo kita sebaiknya bersiap-siap di lapangan, Laxus.", kata Erza kepada pemuda berambut kuning bernama Laxus itu.
"Erza, Erza!", teriak seorang gadis berambut putih yang mencegat mereka berdua di depan pintu.
"Ada apa, Mira?", tanya Erza pada gadis itu.
"Aku dengar kabar ada siswa baru dari kelas A-1.", kata gadis bernama Mirajane itu.
"Ya, kami sudah tau akan hal itu.", ucap Laxus.
"Aku sudah duga itu tapi, nama gadis itu.", ucap Mira yang mendadak berhenti seperti sedang berpikir.
"Siapa namanya?", tanya Erza.
"Namanya adalah Mito Urichima. Kau mengenalnya, ya kan, Erza. Lagipula dia itu dulu adalah sahabat baikmu.", kata Gildarts-sensei yang muncul entah dari mana.
"Gildarts-senpai.*karena Gildarts adalah alumni dan kakak kelas Erza di Fairy Tail Academy*", sapa Erza .
"Kurasa aku akan pergi duluan, ini tidak ada urusannya denganku.", kata Laxus meninggalkan yang lain.
"Kau tau Erza, dia sangat ingin mengalahkanmu sekarang. Kuharap kalian memberikan pertarungan yang bagus. Ya sudah, aku cuma ingin lewat saja, permisi.", kata Gildarts-sensei meninggalkan Erza dan Mira.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Erza? Kau bilang, kau tidang ingin berhubungan dengannya karena tidak mau membuatnya sedih lagi. Tapi sekarang, kalian akan bertemu setelah 5 tahun lamanya.", kata Mira yang mengingatkan Erza.
"Ya, kau benar. Aku akan lakukan apa yang harus kulakukan.", tegas Erza.
"Kalau begitu, semangatlah Erza!", ujar Mira menyemangati kawannya itu. "Aku harus kembali ke kelas. Sampai jumpa.", ucap Mira sambil meninggalkan Erza di ambang pintu menuju kelasnya S-1.
TRING TRING TRING [12:00]
Istirahat pun usai, semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing. Karena Fairy Tail Academy hanya mempunyai 1 lapangan jadi, siswa gedung A dan gedung S harus berbagi lapangan saat olahraga. Siswa kelas A-1 dan S-2 sudah ada di lapangan menunggu instruksi guru mereka, Yury-sensei. Setelah mereka berlari mengelilingi lapangan dan melakukan pemanasan serta bermain-main bola gak jelas, permainan yang disiapkan oleh Yury-sensei pun dimulai.
"Baiklah semuanya, karena tampaknya semua siswa A-1 maupun siswa S-2 sudah ada disini semua mari kita mulai permainannya.", ucap Yury-sensei semangat. "Pertama, dari masing-masing kelas memilih 3 perwakilan untuk memainkan permainan ini. Setelah itu, siswa yang lain dapat menyemangati temannya dari kursi penonton."
DI SISI S-2
"Baiklah, yang akan ikut adalah Laxus, Freed, dan yang pastinya Erza.", kata ketua kelas S-2.
"Ta..tapi aku tidak bis-", belum selesai Erza bicara sudah dipotong oleh ketua kelas banyak gaya itu.
"Tidak ada kata tapi lagi, aku tidak menerimanya. Keputusan ketua adalah mutlak.", jelas ketua kelas S-2.
DI SISI A-1
"Oke, oke, karena lawan kita kali ini adalah kelas S-2, kita harus memberikan perlawanan yang pantas. Siapa yang mau ikut?", ujar ketua kelas A-1.
"Aku akan ikut.", ucap Mito tanpa ragu membuat teman-temannya yang lain heran, kenapa anak baru sudah mau ikut permainan misterius yang diciptakan Yury-sensei dan melawan kelas S-2 pula, yang jauh lebih tua dari mereka.
"Kalau Mito ikut maka aku juga akan ikut.", ucap Natsu membela Mito. Selama ini Natsu tidak pernah ikut permainan seperti ini walaupun temannya memaksa.
"Aku juga!", ucap Lucy mendekati kedua temannya.
"Ya sudah, karena timnya sudah diputuskan maka ini adalah perwakilan kelas kita.", kata ketua kelas A-1.
Setelah selesai memilih tim, perwakilan tim dari kedua kelas maju sedangkan yang lainnya duduk di bangku penonton.
"Baiklah karena tampaknya timnya sudah dipilih, saya akan mengumumkan nama dari masing-masing anggota tim.", ucap Yury-sensei. "Dari kelas A-1, Natsu Dragneel, Lucy Heartfillia, dan Mito Urichima. Dari kelas S-2, Laxus Dreyar, Freed Justine, dan Erza Scarlet."
To Be Continue
Tada. Itu dia rahasia dibalik permusuhan Mito dan Erza. Tunggu permainan Yury-sensei di chapter 3 ya. Siapa yang menang ya, antara kelas A-1 dan kelas S-2. Coming soon chapter 3: Truth Behind The Wall, Part II.
