Disclaimer: Fairy Tail by Hiro Mashima.

A New Life at Fairy Tail Academy by AeUrichima123.

Oke gak usah basa-basi lanjut ke chapter 3. Happy reading :D.


Chapter 3

Truth Behind The Wall, Part II

Begin

Ini adalah hari ke-2 Mito berada di sekolah barunya. Pada hari ini juga, saat yang sangat ditunggu-tunggu Mito pun tiba, saat dimana pada akhirnya ia bisa melawan Erza. Grup Mito akan melawan grupnya Erza dalam semacam permainan olahraga yang dibuat oleh Yury-sensei. Perwakilan kelas A-1 adalah Natsu, Lucy, dan Mito sedangkan kelas S-2 adalah Laxus, Freed, dan Erza.

"Baiklah, akan ku jelaskan peraturan permainan ini. Pertama, tiap anggota tim akan memilih nomor undian. Peserta akan maju berdasarkan nomor undian. Lalu, aku akan memberikan instruksi lebih lanjut.", jelas Yury-sensei sambil membagikan kotak undian kepada masing-masing peserta.

"Ah. Tampaknya aku pertama.", ucap Lucy.

"Hm. Aku juga dapat nomor 1.", ucap Laxus sambil memperlihatkan kertas undian bernomorkan 1 di atasnya.

"Wah. Kalau begitu pertandingan pertama adalah Lucy vs Laxus!", ujar Yury-sensei dengan semangat.

"EEHHHHH. Apa yang harus aku lakukan? Laxus-senpai sangatlah kuat.", ucap Lucy bingung.

"Sudahlah cukup lakukan yang terbaik yang kau bisa.", Mito memberikan nasihat kepada Lucy.

"Baiklah, aku akan berusaha.", ucap Lucy walaupun sedikit gemetar.

"Ronde 1: Laxus vs Lucy. Instruksinya adalah lomba memanggang kue!", teriak Yury-sensei dengan semangat.

"Apa!? Lomba membuat kue!?", ucap Laxus terkejut. "Aku tidak pernah membuat kue sebelumnya."

"START", aba-aba Yury-sensei mengagetkan Laxus yang sedang kebingungan.

Lucy lega karena lombanya adalah lomba membuat kue. Kalau soal memanggang kue bisa dikatakan Lucy adalah juaranya, karena dia sering membuat kue sebelumnya. Tapi, di sisi lain, yaitu Laxus yang tidak pernah membuat kue bahkan menginjakkan kaki di dapur saja tidak pernah, mengalami kesulitan dalam percobaan pertamanya. Dia berusaha mengikuti langkah Lucy tapi tidak menangkap semua. Dan berikut adalah resep kue buatan Laxus; 900 gram tepung beras, 200 gram coklat bubuk, 3 butir telur bebek, 50 gram mentega kambing, 3 sendok makan soda kue, 5 sendok teh garam, 10 tetes cuka, dan air secukupnya. Setelah selesai dengan adonannya, Lucy maupun Laxus memasukkan adonan kuenya kedalam oven yang sudah disediakan. Beberapa puluh menit kemudian, kue buatan mereka sudah selesai dan dibawa ke tempat duduk Yury-sensei untuk dinilai.

"Baiklah mari mulai penilaiannya. Kita mulai dari kelas S-2.", ucap Yury-sensei seraya membuka tudung saji yang menutup kue itu.

Saat Yury-sensei membuka tutupnya, tiba-tiba saja kue buatan Laxus meledak, sehingga kuenya berceceran kemana-mana. Karena kuenya Laxus hancur, penilaian dilanjutkan ke Lucy. Begitu Yury-sensei membuka penutup kue buatan Lucy, semua yang ada di situ terpana, tidak bisa melakukan apa-apa kecuali tergiur oleh kue buatan Lucy.

"Jadi pemenang dari ronde pertama ini adalah kelas A-1.", ucap Yury-sensei mengumumkan pemenang ronde 1.

"Semoga beruntung lain kali, Laxus.", ucap Freed menyemangati temannya itu.

"Apa-apaan itu, Laxus! Kue macam apa itu? Kenapa bisa meledak? Hoy, Laxus, jawab aku!", teriak ketua kelas banyak gaya itu.

"Nice, Lucy! Kau memenangkan ronde pertama.", ucap Natsu yang dijawab oleh senyum puas Lucy.

Permainan pun dilanjutkan dengan menarik undian dari peserta yang tersisa.

"Yes, aku selanjutnya.", ucap Natsu sambil berjalan ke depan.

"Kalau begitu, aku yang akan jadi lawanmu.", ucap Freed mendekati Natsu.

"Ronde 2: Freed vs Natsu. Lomba suit gunting-batu-kertas, 3 poin menang. Mulai!", teriak Yury-sensei memberi instruksi.

"Suit ya. Aku tidak akan kalah.", ucap Natsu bersemangat.

"Maju.", ucap Freed seraya menantang Natsu.

"Gunting-batu-kertas. *Kertas*", Natsu memberi aba-aba.

"*Gunting*", dimenangkan oleh Freed. "Gunting-batu-kertas. *Kertas*", gantian Freed yang memberi aba-aba.

"*Batu*", Natsu kalah lagi. "Sekali lagi!", ucap Natsu yang sudah kalah 2 kali itu.

"GUNTING-BATU-KERTAS", sorak keduanya. Natsu mengeluarkan gunting dan Freed mengeluarkan batu.

"Ronde kedua dimenangkan oleh kelas S-2.", Yury-sensei mengumumkan.

"Kau payah, Natsu. Main suit aja kalah telak.", ucap Mito dengan datar seraya meledek Natsu. Natsu pun hanya bisa menerima nasibnya.

"Baiklah ronde 3: Erza vs Mito. Silahkan maju ke arena.",ucap Yury-sensei yang memegang pedang di kedua tangannya. Mereka berdua maju ke depan dan menerima pedang yang diberikan oleh Yury-sensei.

"Ronde terakhir ini akan menjadi pertempuran yang sebenarnya. Duel pedang!", instruksi Yury-sensei.

Mendengar hal itu, Mito tersenyum kecil, karena pembalasan dendamnya datang lebih cepat dari yang dia duga. Di lain sisi, Erza lebih terlihat sedih daripada Mito yang terlihat tidak sabar. Teman-temannya yang lain memberikan mereka berdua ruang agar mereka bisa memulai duelnya.

"Mulai!", terdengar aba-aba dari Yury-sensei.

"Ayo, maju duluan Erza.", ucap Mito menantang Erza.

Erza yang tadinya ragu, mulai menyerang Mito. Saat mereka mengayunkan pedangnya, terdengar suara pedang beradu yang cukup keras dan berisik. Tapi, perlahan serangan Erza menjadi berkurang. Mito yang mengetahui Erza hanya bermain-main dengannya saja, menghentikan serangannya, begitu juga Erza yang heran kenapa Mito tiba-tiba berhenti.

"Sudah cukup. Berhenti bermain-main denganku Erza! Dari suara pedangnya saja sudah ketahuan kalau kau tidak sedang serius. Kalau kau masih menganggapku anak kecil yang seharusnya kau biarkan menang, itu salah! Aku bukan anak kecil lagi! Sudah aku lelah. Aku menyerah.", ucap Mito melepaskan pedangnya dan berjalan kembali ke kelasnya.

Siswa yang lain hanya bengong mendengar ucapan Mito, terutama Erza yang mengerti maksud Mito. Apa lagi kelas A-1 yang masih melonggo kaya apa tau, yang shock terutama saat mendengar Mito menyerah begitu saja.

"Baiklah, karena Mito Urichima dari kelas A-1 menyerah, maka pemenangnya adalah kelas S-2.", ucap Yury-sensei mengumumkan pemenang dari permainan aneh tak terduga yang dia buat sendiri.

Kelas S-2 memenangkan permainan aneh yang dibuat oleh Yury-sensei dengan skore akhir 2-1. Semua siswa yang berkumpul di lapangan kembali ke kelasnya masing-masing dan mengganti pakaian mereka dengan seragam sekolah, lalu melanjutkan sisa pembelajaran mereka hari ini.


DI KELAS A-1

"Oy, Mito. Apa-apaan tadi? Kenapa nyerah gitu aja? Kalau dilihat, kau lebih unggul dari 'iblis' itu. Kau bisa saja menang.", kata ketua kelas A-1.

Perkataan ketua kelas A-1 hanya membuat Mito menjadi pusing. Ia yang dari tadi tiduran di mejanya, memutuskan untuk pergi, mengambil seragam dan keluar dari kelas.

"Maaf, ketua. Aku hanya sedang tidak enak badan.", ucapnya seraya pergi dari kelas.

"Mito-chan, kau mau kemana?", tanya Lucy yang melihat Mito pergi.

"Aku hanya akan tidur di ruang UKS, mungkin sampai pulang. Aku tidak bisa berpikir lurus saat ini. Jadi tolong bilang ke Warrod-sensei ya.", ucap Mito sambil pergi menuju ruang ganti untuk mengganti seragamnya.

Setelah Mito mengganti seragam sekolahnya, ia pergi ke ruang UKS untuk berbaring. Sesampainya di ruang UKS, ia tidak menjumpai siapapun. Karena tidak ada guru yang bertugas, Mito langsung berbaring di ranjang dekat jendela itu. Ia pun menutup tirai di sekitar ranjangnya agar tidak ada yang lihat. Lama-kelamaan ia merasa bosan. Dilihatnya teman sekelasnya yang sedang pergi ke kebun indoor sekolah yang dibimbing oleh Warood-sensei. Tanpa disadari, suasana UKS yang sunyi itu membuat Mito yang hanya tidur-tiduran menjadi tidur terlelap hingga akhirnya sekolah usai.

TRING TRING TRING TRING [15.00]

Suara bel sekolah yang nyaring membangunkan Mito dari tidur lelapnya. Ia segera bangun dan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Tidak ada orang lagi di kelas, yang tersisa di sana hanyalah tas Mito saja.

"Kurasa mereka sudah kelelahan hari ini, sampai buru-buru pulang.", gumam Mito pada dirinya sendiri.

Mito pun berjalan pulang. Saat di jalan, tidak terlalu jauh dari Fairy Tail Academy, dia melihat seorang pemuda berambut biru yang menunggu di depan mobil biru metalik punyanya.

"Jellal-nii! Kau Jellal Fernandes kan?", tanya Mito memastikan sambil menghampiri pemuda itu.

"Iya. Kau...", ucap pemuda bernama Jellal itu tidak bisa meneruskan kalimatnya.

"Ini aku, Mito. Mito Urichima. Kita dulu sering main bersama.", ucap Mito berusaha mengingatkan kenalannya itu.

"Oh. Kau Mito. Astaga, kau sudah besar sekarang. Seingatku kau masih sepinggang ku.", kata Jellal.

"Hahaha. Iya sekarang aku sudah 15 tahun. Jadi, apa yang kau lakukan disini Jellal-nii? Apa kau sedang menunggu Erza?", tanya Mito yang penasaran.

"Tidak juga. Sebenarnya aku dan Erza sudah putus 5 tahun yang lalu, 2 bulan setelah kau pergi. Lalu apa yang sedang kau lakukan disini?", kata Jellal membalik pertanyaan.

"Sekarang aku bersekolah disini. Baru 2 hari yang lalu.", ucap Mito.

"Apa sekarang kau mau pulang? Ayo ku antar.", tawar Jellal ramah.

"Tidak apa-apa. Aku jalan saja. Bukannya kau sedang menunggu seseorang, Jellal-nii."

"Tidak, sebenarnya aku hanya sekedar lewat saja. Ayo jangan malu-malu, masuklah.", ucap Jellal sambil membuka pintu depan mobilnya.

"Baiklah kalau kau memaksa.", ucap Mito memasuki mobil.

Jellal mengantar Mito sampai rumahnya. Di sepanjang jalan, mereka mengobrol melepaskan rasa rindu. Tak terasa, mereka sudah sampai tujuan.

"Apa kau masih tinggal sendiri, Mito?", tanya Jellal.

"Ya begitulah. Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya di Crocus.", jelas Mito. "Bagaimana kabar Siegrain-nii?", lanjut Mito.

"Sebenarnya alasan aku ke Fairy Tail Academy karena Siegrain bilang dia ingin sekolah disitu mengikuti Mystogan-niisan dan dia juga menyeret-nyeret ku untuk mendaftar juga.", jelas Jellal panjang lebar.

"Kalau begitu sampai bertemu lagi Jellal-nii. Sampaikan salamku pada Mystogan-senpai dan Siegrain-nii.", ucap Mito sambil melambaikan tangan pada Jellal yang akan pergi dengan mobilnya.

"Ya tentu saja. Sampai jumpa lagi, Mito. Jaga dirimu.", ucap Jellal seraya menjalankan mobilnya.


DI KEDIAMAN KELUARGA FERNANDES, DI SISI LAIN MAGNOLIA.

Jellal baru saja kembali dari Fairy Tail Academy. Saat dia ingin memasuki rumah, ia bertemu dengan kakaknya, Mystogan, yang datang mengenakan pakaian seperti tukang kebun.

"Jellal dari mana saja kau, baru pulang selarut ini?", tanya Mystogan penasaran.

"Aku habis dari sekolahmu. Ku pikir mungkin aku bisa memberimu tumpangan, tapi tampaknya waktunya tidak tepat.", jawab Jellal sambil memasuki rumah.

"Wah. Jellal-kun, kau sudah pulang.", ucap seseorang yang mirip dengan Jellal. "Aniki, apa kau habis berkebun lagi? Sudah kubilang jangan masuk rumah dengan baju yang kotor seperti itu! Bajumu itu penuh dengan tanah.", lanjutnya.

"Baiklah aku mengerti. Aku akan ganti baju dulu.", ucap Mystogan yang pergi menuju halaman belakang.

"Jadi, bagaimana dengan rencana kita? Apa kau dapat tiket masuk?", tanya pemuda berambut biru itu pada Jellal.

"Ya, aku sudah kesana, tapi aku tidak mendapatkan tiketnya. Semuanya sudah penuh. Mereka tidak bisa lagi menerima siswa baru.", ucap Jellal pada pemuda itu. "Tapi, tadi aku bertemu dengan Mito. Dia menitipkan salam. Kau masih ingat kan? Dengan anak kecil yang selalu ada di dekat Erza dulu, Siegrain."

"Mito-chan!? Kau bertemu dengan Mito-chan!? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Apa kau mengikutinya atau sesuatu? Apa kalian kebetulan bertemu? Jangan bilang kalau kau tiba-tiba muncul di depan rumahnya dan menyerangnya saat dia tidak tiap? Jawab pertanyaanku, Jellal. Kita ini saudara kembar. Seharusnya kau tidak merahasiakannya, itu sudah kode etik kembar.", pertanyaan pemuda bernama Siegrain yang bertubi-tubi itu membuat Jellal menjadi pusing.

'Apa-apaan dengan pertanyaannya. Lalu sejak kapan kita punya kode etik?', batin Jellal.

"Dia menyapaku saat aku baru mau pulang dari Fairy Tail Academy. Lalu aku memberinya tumpangan pulang. Dia sekolah di situ sekarang. Itu saja aku tidak melakukan apa-apa.", jelas Jellal.

"Baguslah kalau begitu. Tapi, kenapa dia sekolah di situ? Bukannya Erza juga sekolah di situ? Kupikir mereka tidak saling suka.", ucap Siegrain.

"Entahlah, aku juga tidak tau.", jawab Jellal.

"Kau tau, aku masih ingat saat dimana hari kita bermain bersama. Saat-saat yang indah.", ucap Siegrain sambil berjalan menuju kamarnya di lantai 2.

Mendengar Siegrain bicara seperti itu, membawa kembali kenangan Jellal bersama sahabat-sahabatnya itu. 'Benar. Saat yang indah.", ucap Jellal dalam hati.


End

Bagaimana? Di chapter selanjutnya, akan menceritakan tentang masa lalu Mito bersama Erza, Jellal, dan saudara kembarnya Siegrain, juga teman-temannya yang lain. Tunggu chapter selanjutnya ya.