Disclaimer: Hiro Mashima
Fanfic by AeUrichima123
Chapter 4
6 Years Arc
Awal dari Pertemanan Mereka
Begin
Ini adalah cerita masa lalu Mito, Erza, Jellal, dan Siegrain. Keempat sahabat yang memutuskan untuk memulai petualangannya sendiri.
6 TAHUN YANG LALU, TAHUN XX897.
Tok Tok Tok
Erza mengetuk pintu depan rumah Mito. Beberapa saat kemudian, tampak seorang pria paruh baya membuka pintu rumahnya.
"Permisi, apa Mito-chan ada?", tanya Erza pada pria itu.
"Oh, Erza-san. Masuklah, Mito ada di dalam. Akan kupanggilkan.", sapa pria berambut karamel itu. "Mito, Erza-san datang menjemput.", teriaknya memanggil Mito yang masih ada di kamarnya di lantai 2.
"Maaf harus menggangumu lagi, Erza-san. Tapi, tolong jaga Mito sampai aku pulang ya.", ucap pria tua itu.
"Erza-nee! Ayo kita pergi. Sampai jumpa, yah.", ucap Mito pada pria yang merupakan ayahnya sambil pergi dari rumah bersama Erza.
"Sampai jumpa nanti malam, Mito. Hati-hati di jalan.", ucap ayahnya Mito.
Di sepanjang jalan mereka bercanda gurau, menemani perjalanan mereka sampai taman kota Magnolia. Mito saat ini masih tinggal bersama ayahnya, Roku Urichima. Karena pekerjaan ayahnya yang sangat menyita waktu, Mito biasanya ditemani Erza sampai ayahnya kembali. Mito bisa bertemu dengan Erza karena mereka latihan bela diri (pedang) di peguruan yang sama. Karena selalu bersama, Mito sudah menganggap Erza sebagai kakaknya sendiri.
"Erza-nee. Apa kau hari ini tidak ada kegiatan lain?", tanya Mito.
"Tidak juga. Kenapa kau tanya itu?", tanya Erza balik.
"Tidak ada, hanya saja kau selalu bersamaku hampir tiap hari. Bukannya kau juga punya teman lain? Kalau ayah memaksamu menemaniku, kau bisa bilang, Erza-nee. Aku tidak keberatan.", ucap Mito tulus.
"Tidak apa-apa. Memang benar aku punya teman lain, tapi mereka mengerti kok. Lagi pula bermain dengan mu itu seru juga.", ucap Erza sambil tersenyum pada Mito.
"Kalau begitu, ayo kita ke taman bermain. Aku mau naik roller-coaster.", ucap Mito bersemangat.
Mereka segera menuju taman bermain tak jauh dari pusat kota. Sesampainya di taman itu, Mito sudah menghilang entah kemana sedangkan Erza hanya berjalan santai melihat kelakuan temannya itu. Hingga beberapa saat kemudian, HP-nya Erza berbunyi menandakan adanya pesan masuk dari Siegrain.
"Erza, kau kemana saja? Ayolah datang kesini. Pestanya sedang seru. Kalau kau tidak datang maka sayangmu, Jellal, akan sedih. Ini kan pesta ulang tahun kami jadi, kau adalah tamu penting. Harus datang, ditunggu!"
'Maaf teman-teman, tapi aku harus menjaga Mito hari ini. Aku tidak bisa datang, maaf. Selamat ulang tahun ya, Jellal dan Siegrain. Sekali lagi maaf tidak bisa datang.', ucap batin Erza saat dia membalas pesan dari Siegrain.
"Erza-nee! Ayo kita naik roller-coaster. Antriannya sudah pendek.", ajak Mito yang sudah mengantri.
"Baiklah, aku segera kesana.", ucap Erza yang segera ke arah Mito sambil memasukkan HP-nya ke dalam tasnya.
"Berikutnya! Silahkan masuk dan nikmati wahana kami.", ucap salah satu pegawai di sana.
SEMENTARA ITU, DI KEDIAMAN KELUARGA FERNANDES
"Bagaimana dengan Erza? Apa dia akan datang?", tanya Jellal beruntun.
"Aku tidak tau. Aku baru saja kirim sms ke Erza.", jawab Siegrain. "Apa kau kuatir pada pacarmu sayang itu?"
"Sudah ku bilang jangan mengejek kami seperti itu dan tentu saja aku kuatir.", tegas Jellal pada saudara kembarnya itu.
*TING*
"Hey, Jellal, aku baru mendapat balasan dari Erza. Katanya dia tidak bisa datang, dia harus menjaga gadis bernama Mito, yang selalu dia bicarakan. Dia juga bilang selamat ulang tahun untuk Siegrain yang tampan dan cintaku, manisku, pacar tebaik sepanjang masa, sayangku Jellal.", ucap Siegrain sambil menggoda Jellal.
"Berikan aku ponselmu. Biar kubaca sendiri.", ucap Jellal yang sedikit memerah bercampur kesal pada kembarannya. "Dia tidak pernah menulis seperti itu, baka!"
Siegrain membalas Jellal yang sedang kesal sendiri dengan senyum licik.
"Intinya, dia tidak bisa datang. Kau tau, ini sudah yang ketiga kalinya dalam seminggu ini dia harus menjaga anak itu.", ucap Siegrain.
"Ya, kau benar juga. Baiklah kalau dalam seminggu ini dia harus menjaga anak itu lagi, maka bagaimana menurutmu kalau kita paksa dia untuk ke sini?", ucap Jellal.
"Baiklah aku ikut.", ucap Siegrain yang setelah itu tertawa kecil bersama Jellal.
Kakak mereka, Mystogan, yang kebetulan lewat di dekat mereka sempat heran dengan tingkah adik kembarnya yang tertawa sendiri, tapi dia pikir itu mungkin karena mereka bahagia karena ini hari ulang tahun mereka.
KEMBALI KE TAMAN BERMAIN
Setelah puas bermain hingga sore, Erza dan Mito memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Mito, dilihat bahwa Roku belum pulang, sehingga Erza menemani Mito hingga ayahnya pulang.
"Erza-nee, besok ayah akan ada di rumah jadi kau tidak perlu meluangkan waktumu untuk datang ke sini.", ucap Mito.
"Benarkah. Baiklah, kebetulan juga ada tugas sekolah yang harus ku kerjakan.", ucap Erza. "Tapi jika kau butuh teman bermain atau butuh bantuan, kau tinggal menelponku, Mito-chan."
"Kurasa itu tidak perlu. Besok ayah berjanji aku boleh membantu eksperimennya. Jadi aku juga sibuk besok.", ucap Mito sambil tertawa kecil.
Saat mereka sedang asik mengobrol, tak lama kemudian Roku datang.
"Aku pulang.", ucap Roku saat memasuki rumah.
"Selamat datang, ayah.", sambut Mito pada ayahnya yang baru saja memasuki rumah.
"Erza-san, terima kasih karena sudah menjaga Mito hari ini.", ucap Roku.
"Tidak masalah. Kalau butuh bantuan lain saya siap membantu.", ucap Erza.
"Kurasa tidak dalam waktu singkat. Besok aku akan ada di rumah menyelesaikan proyekku dan Mito akan membantuku.", kata Roku sambil menepuk kepala Mito.
"Kalau begitu saya permisi. Sampai jumpa, Mito-chan.", ucap Erza meninggalkan ayah dan anak itu.
"Dahhh, Erza-nee. Sampai nanti.", ucap Mito sambil melambaikan tangannya pada Erza yang berjalan menjauh.
2 HARI KEMUDIAN [07.00]
'Tumben sekali ayah belum bangun jam segini. Pasti ayah lelah karena kemarin bekerja sampai larut malam. Baiklah, aku akan menyiapkan sarapan untuk ayah.', ucap Mito dalam hati.
Karena ini hari libur, biasanya Roku ada di rumah dan menghabis waktu dengan putri tercintanya. Mito yang bangun lebih awal dari ayahnya segera mandi dan mengganti bajunya. Setelah selesai, ia segera pergi ke dapur membuat sarapan untuk dirinya dan ayahnya. Ia memasak telur mata sapi dan bacon, lalu memanggang roti dan menyiapkan kopi untuk ayahnya. Setelah matang, ia menatanya di piring dan ditaruh di meja makan beserta kopi untuk ayahnya dan susu yang dia ambil dari kulkas untuk dirinya. Aroma dari dapur menggelitik hidung Roku yang sedang tertidur itu.
"Ayah, ayo bangun! Sarapan sudah siap!", teriak Mito membangunkan ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Roku turun dari kasurnya dan bersiap menuju meja makan. Setelah mandi, Roku langsung menjumpai anaknya di meja makan yang menanti sang ayah untuk sarapan bersama.
"Wah. Apa kau yang menyiapkan ini semua, Mito?", ucap Roku kagum pada sarapan buatan Mito.
"Tentu saja. Ayo kita makan sebelum makanannya dingin.", ucap Mito.
"Selamat makan.", ucap mereka berdua kompak.
Di tengah mereka sarapan, terdengar bunyi ponsel berdering. Roku yang merasa itu adalah suara ponselnya melihat siapa yang menelpon.
"Maaf Mito, tapi ayah harus angkat telpon dulu. Ini penting.", ucap Roku sambil meninggalkan Mito dan menuju teras rumah untuk mengangkat telpon.
Sambil menunggu ayahnya kembali, Mito melanjutkan makannya dengan pelan. Beberapa saat kemudian, Roku buru-buru ke kamarnya dan mengganti baju santainya dengan jas kerjanya.
"Maaf Mito, tapi ada urusan mendadak. Baru saja atasanku menelpon, dia bilang urusan mendesak dan mereka kekurangan orang jadi aku harus kembali bekerja hari ini.", jelas Roku panjang lebar sambil menghabiskan sarapannya dengan cepat.
"Tapi bagaimana dengan rencana pendakian kita. Aku sudah merencanakannya lebih dari sebulan yang lalu dan kau juga sudah berjanji.", ucap Mito yang tidak terima dengan alasan ayahnya.
"Aku benar-benar minta maaf, Mito. Tapi ada masalah di kantor yang harus aku selesaikan dulu. Kita harus bisa memprioritaskan yang paling penting. Maaf ya, tapi kita harus menunda rencanamu dulu.", jelas Roku pada putrinya lagi.
Setelah itu, Roku langsung berangkat ke kantornya menggunakan taksi yang sudah ia pesan. Ia juga sudah menelpon Erza untuk menjaga Mito lagi.
SEMENTARA ITU, DI RUMAHNYA ERZA [09.00]
Erza terlihat sedang asik menelpon seseorang. Terdengar samar-samar pembicaraan mereka.
"Erza, Siegrain dan aku akan menjelajahi rumah hantu itu. Aku harap kau juga bisa ikut.", ucap Jellal dari seberang telpon.
"Tentu saja aku mau ikut. Aku juga penasaran dengan misteri hantu yang ada di rumah itu.", balas Erza.
"Hahaha. Jangan takut, aku akan menjagamu.", ucap Jellal percaya diri.
*TERT TERT TERT* Hp Erza bergetar (ada pesan masuk)
"Jellal, tunggu sebentar. Aku dapat sms dari Roku-ojisan.", kata Erza sambil membaca pesan.
"Halo, Erza. Apa kau masih di sana?", tanya Jellal beberapa saat kemudian.
"Ya. Jellal aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa ikut dengan kalian hari ini. Aku harus menjaga Mito lagi, gomenne.", kata Erza kemudian.
"Gak usah cari alasan. Bilang saja kalau kau sebenarnya takut, Erza.", ledek Siegrain yang tiba-tiba saja merebut hp-nya Jellal.
"Aku benar-benar tidak bisa. Ya sudah aku harus pergi sekarang.", balas Erza dingin lalu mematikan telponnya.
DI SAAT YANG SAMA, DI KEDIAMAN FERNANDES
"Apa-apaan, Erza langsung memutus telponnya. Sangat tidak sopan. Ini!", ucap Siegrain sambil melempar kembali Hp-nya Jellal.
"Jadi ku rasa kita hanya akan masuk berdua saja.", kata Jellal setelah menangkap teleponnya.
"Baka, tentu saja kita akan masuk bersama Erza. Kau masih ingat kan dengan rencana kita sebelumnya.", ucap Siegrain.
"Oh, kau benar juga. Ayo kita lakukan.", ucap Jellal menyeringai yang diikuti oleh Siegrain.
DI DEKAT RUMAH MITO [11.00]
"Erza-nee, kira-kira apa yang akan kita lakukan hari ini?", tanya Mito.
"Entahlah. Kau ingin melakukan apa, Mito-chan?", Erza membalik pertanyaan.
"Aku juga tidak tau. Seharusnya hari ini aku dan ayah akan pergi mendaki, tapi tidak jadi.", ucap Mito.
Tiba-tiba saja saat mereka sedang berjalan-jalan, Hp Erza berbunyi.
"Halo, Jellal sudah ku-", belum selesai bicara sudah dipotong.
"Maaf Erza tapi, Jellal dalam bahaya cepat datang ke rumah tua berhantu itu. Ini darurat!", ucap Siegrain yang memotong perkataan Erza.
"Siegrain?! Dimana Jellal? Ini Hp-nya kan? Kenapa kau menelponku menggunakan Hp-nya Jellal?", tanya Erza bertubi-tubi.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Intinya, datang saja kesini! Kami dalam bahaya!", ucap Siegrain sebelum telponnya terputus.
"Halo...halo.. Siegrain!?", ucap Erza saat sambungannya terputus.
"Erza-nee, ada apa?", tanya Mito heran.
"Mito-chan maaf tapi, aku harus pergi dulu.", ucap Erza panik.
"Aku akan ikut denganmu, Erza-nee.", ucap Mito yang melihat wajah panik Erza.
Mereka berdua pun langsung berlari sekuat tenaga menuju rumah horor itu. Mereka melewati sebuah gang kecil yang tidak pernah dilalui orang. Mereka menuju rumah tua yang katanya dihantui dan siapapun yang memasuki atau mendekati rumah itu tidak akan keluar dengan selamat.
"Jellal... Siegrain...", panggil Erza berulang kali.
Mito yang dari tadi mengikuti Erza, mulai memanggil-manggil kedua orang yang tidak pernah ia kenal. Tiba-tiba saja muncul perasaan bahwa mereka sedang diawasi dari dekat. Perasaan itu sempat membuat mereka berdua merinding. Tiba-tiba saja muncul dua sosok dari dalam rerumputan tinggi yang ada di sekitar rumah itu.
"BOOOOOOO!", teriak kedua sosok itu.
"KYA!?", Erza menjerit ketakutan.
"Eh?", Mito bingung begitu melihat kedua sosok itu dengan jelas.
"Hahahahahaha...", salah satu sosok itu tertawa puas. "Kau tampak benar-benar ketakutan, Erza."
"A..a..apa!? Siegrain dan Jellal!? Kalian menakutiku! Kukira benar-benar ada sesuatu yang akan memakan kami!", ucap Erza kesal sambil memukul-mukul Jellal. "Lalu bagaimana dengan 'kami dalam bahaya' itu?"
"Maaf Erza, tapi itu hanya sekedar alasan agar kau kesini saja. Kami tidak benar-benar dalam bahaya.", jelas Jellal.
"Ya, jenius bukan?", ucap Siegrain yang membuat Erza tambah kesal dan akhirnya memukulnya.
"Baka, sudah kubilang aku sedang sibuk, jadi tidak bisa ikut kalian.", ucap Erza.
"Tapi ini sudah yang keempat kalinya dalam minggu ini kau melewati semua undangan kami. Saat kau sedang bebas kau malah mengerjakan tugas.", ucap Siegrain membenarkan diri.
"Maaf, apa Erza-nee tidak pernah datang karena harus menjagaku?", tanya Mito walaupun sedikit gugup.
'Shimatta, aku benar-benar lupa kalau anak itu juga ada di sini.', batin Siegrain.
"Tidak ini bukan salahmu. Saudaraku ini memang kalau bicara selalu berlebihan. Hai, namaku Jellal Fernandes dan ini adalah saudaraku yang tidak pernah berpikir dulu sebelum bicara.", katanya sambil menunjuk seseorang yang ada di sebelahnya.
"Namaku Siegrain.", ucap anak laki-laki yang mirip dengannya.
"Hai, aku Mito Urichima. Jadi kalian adalah temannya Erza-nee, tapi kenapa Erza-nee tidak pernah cerita tentang kalian?", tanya Mito yang berhasil membuat Jellal kesal.
"Kurasa aku sudah menceritakan mereka padamu, Mito-chan. Kau ingat waktu itu saat kita sedang main di taman.", ucap Erza pelan sambil menarik Mito menjauhi kembar Fernandes.
"Oh... jadi mereka adalah teman yang kau bilang selalu menggangggu itu.", ucap Mito dengan suara sedikit keras agar terdengar mereka berdua.
"Mito-chan! Aku tidak pernah bilang mengganggu kok.", ucap Erza sambil melambai-lambai pada Jellal yang terlihat kesal.
"Mengganggu katamu? Akan kutunjukan mana yang mengganggu. Kesini kau.", ucap Jellal sambil mengejar Erza yang berlari itu.
"Sudah biarkan saja mereka. Mau kau bilang apa juga, tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Mereka memang pasangan yang serasi, aku jadi iri dengan mereka.", ucap Siegrain menatap kedua sejoli yang saling kejar-kejaran dan tertawa itu.
"Ya, kurasa kau benar. Orang itu tampak cocok dengan Erza-nee dan dia juga lulus tesku.", ucap Mito sambil tersenyum puas.
'Apa-apaan dengan anak ini. Aneh sekali. Kenapa juga aku jadi tertarik dengannya?', ucap Siegrain dalam hati.
Beberapa jam kemudian...
"Hari sudah larut, sebaiknya kita pulang sekarang, Mito-chan.", ucap Erza.
"Ya, sebaiknya kita juga pulang.", ucap Jellal pada saudara kembarnya.
"Kau tau, karena sekarang kita sudah saling kenal, mungkin kita bisa main bersama lagi besok.", ucap Siegrain sedikit malu.
"Ya, Jellal-nii benar. Kita bisa main lagi besokkan, Erza-nee?", ucap Mito.
"Aku Siegrain, dia Jellal.", ucapnya membenarkan perkataan Mito. "Apa kau benar-benar tidak bisa membedakannya?"
"Tentu saja kita bisa main lagi besok, benarkan Jellal, Siegrain?, ucap Erza sambil tertawa kecil.
"Ya tentu saja.", ucap kembar Fernandes itu.
Sudah sebulan sejak mereka pertama bertemu. Sejak saat itu, mereka sering menjelajah hutan bersama, menemukan hal-hal yang baru, berlatih bela diri bersama, dan lain-lain. Mereka sudah menjadi tim yang baik, sehingga mereka pun memutuskan untuk memasuki rumah hantu yang menjadi tempat pertama mereka bertemu.
End
Wah, ceritanya jadi gini. Jadi selama 2 chapter (chap 4 dan 5) akan diceritakan masa lalu keempat sahabat ini dan di chapter 5 akan diceritakan bagaimana mereka dapat mempunyai kekuatan sihirnya. Ya sudah sekian spoilernya, silahkan review. Ditunggu chap 5.
