Disclaimer: Fairy Tail by Hiro Mashima.

A New Life at Fairy Tail Academy by AeUrichima123.

Ahh. Maaf ya baru bisa update sekarang. Walaupun libur seminggu tapi tugas sekolah menumpuk. Maklum masih kelas 1 SMA. Sekali lagi maaf semuanya.


PREVIOUSLY

"Kau tau, karena sekarang kita sudah saling kenal, mungkin kita bisa main bersama lagi besok."

"Tentu saja kita bisa main lagi besok, benarkan Jellal, Siegrain?

"Ya tentu saja."

Chapter 5

6 Years Arc

Rumah Hantu Misterius

Begin

Tak terasa sebulan telah berlalu sejak mereka bertemu dan menjadi teman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, hampir setiap hari. Sampai pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memasuki rumah tua yang terkesan angker di ujung jalan setapak di tengah hutan. Mereka setuju untuk bertemu di rumah Mito karena jaraknya paling dekat dengan rumah tak berpenghuni itu.

Mito, Erza, Jellal, dan Siegrain, masing-masing sibuk mempersiapkan barang bawaan mereka. Mereka berencana untuk tinggal di rumah itu setidaknya 2-3 hari. Mereka akan berangkat menuju hutan saat siang dan tentu saja mereka memberi tau keluarga mereka, karena akan terlalu mencurigakan jika siang-siang membawa tas ransel untuk berkemah.


[12:35]

"Mito, ayah pergi dulu. Apa kau tidak apa-apa jika di rumah sendiri?", tanya Roku pada Mito yang masih mengemas barangnya.

"Ya tentu saja. Lagipula Erza-nee dan teman-temannya akan segera kesini.", jawab Mito dari kamarnya di lantai 2.

"Apa kau yakin? Maksudku kalau kau butuh sesuatu atau apapun kau bisa selalu menelponku dan aku akan segera pulang kalau kau ada masalah.", ucap Roku cemas akan putrinya yang berumur 9 tahun itu.

"Tidak usah kuatir, yah. Aku akan baik-baik saja. Ayah urus saja pekerjaan ayah. Kita harus bisa memprioritaskan yang penting, bukan?", ucap Mito yang turun dan menenangkan ayahnya itu.

"Ya kau benar, tapi kalau ada keadaan darurat kau telpon saja dan ayah akan datang. Jangan masuk ke dalam hutan terlalu jauh, jangan sampai tengah atau kau akan dapat masalah besar!", tegas ayahnya.

Jangan masuk kedalam hutan katanya!? Bukankah letak rumah angker itu ada di tengah-tengah hutan? Apa ayahnya tidak mengijinkan putrinya untuk pergi atau dia tidak tau sama sekali tentang rencana putri tercintanya!?

"Ya tentu saja, yah. Aku tidak akan masuk ke dalam hutan. Sekarang pergilah! Pekerjaan menunggu.", ucap Mito lembut yang terdengar seperti mengusir.

"Hai Roku-ojisan.", sapa Erza yang berpapasan dengan Roku di pintu gerbang.

"Oh, hai Erza dan teman-temannya. Tolong jaga Mito ya. Aku tidak akan ada di rumah sampai beberapa hari kedepan.", ucap Roku yang berlalu meninggalkan mereka berempat.

"Erza-nee dan juga kembar biru bersaudara, ayo masuk!", ajak Mito pada teman-temannya.

"Apa kau sudah siap, Mito-chan?", tanya Erza begitu memasuki rumah.

"Ya, tentu saja! Aku bahkan sudah menyiapkan alat-alat kalau misalnya kita tersesat atau dalam bahaya.", ucap Mito girang sambil mengeluarkan kompas, senter, korek api, pedang, golok, kapak, pisau, dll.

"Ba..ba..baiklah. Kau bisa tinggalkan senjatanya. Kita tidak memerlukan itu. Bawa saja kompas dan senternya.", ucap Siegrain sedikit ketakutan.

"Baiklah karena semuanya sudah siap, ayo kita pergi!", ucap Jellal.

Mereka pun pergi memasuki hutan dengan semua perlengkapan mereka. Perjalanan yang mereka lalui panjang juga menyulitkan. Kalau diingat-ingat, pertemuan pertama mereka adalah di depan rumah tua itu dan sekarang mereka akan memasuki rumah itu untuk mengenang masa lalu dan juga karena terakhir kali tidak jadi. Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah itu.


[17:45]

"Wah. Akhirnya kita sampai juga.",ucap Mito sambil merenggangkan tubuhnya yang pegal.

"Ya, kita sudah sampai. Sebaiknya kita segera masuk sebentar lagi akan gelap.", ucap Siegrain datar.

"Kau benar, ayo!", ucap Jellal kepada ketiga orang yang ada di sebelahnya.

Mereka pun memasuki rumah itu bersama-sama dan menelusuri rumah itu perlahan-lahan. Mereka memutuskan untuk menyiapkan tempat tidur begitu langit menjadi gelap. Mereka sementara menetap di sebuah kamar di dalam rumah itu. Semakin lama, langit semakin gelap dan mereka menyalakan senter mereka untuk menerangi ruangan sempit yang terkesan horor itu.


[23:00]

Setelah mempersiapkan semuanya, mereka berempat tertidur pulas. Tiba-tiba saja terdengar suara berisik yang datang dari suatu tempat di dalam rumah itu. Mendengar itu, Siegrain pun terbangun dari tidurnya.

KRANG KLETEK BROOM GRUUU KLUNGKLUNG TUNGTING

"Hah... apa itu!?", ucap Siegrain yang tiba-tiba saja terbangun.

Melihat teman-temannya yang masih tertidur, ia pergi mencari sumber suara tersebut sendiri. Tanpa ia sadari ada seseorang yang diam-diam mengikutinya dari belakang. Suara yang didengar Siegrain berasal dari lantai atas rumah itu. Saat Siegrain hendak menaiki tangga yang ada di depan matanya, seseorang menutup mulut Siegrain dan menariknya ke bawah tangga.

"Ummfpfp.. Fumfmmdf!", Siegrain berusaha berbicara. *Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!*

"Sttt.. diamlah!", ucap orang itu seraya melepas tangannya dari mulut Siegrain.

"Mito!? Apa yang kau lakukan di sini?", ucap Siegrain terkejut dengan pelan.

"Suaranya berasal dari loteng. Sebaiknya Jellal-nii tetap di sini atau kembali ke kamar saja. Aku akan memeriksa sumber suaranya.", ucap Mito sambil berjalan ke atas tanpa mempedulikan Siegrain.

"Apa? Aku yang seharusnya bilang itu! Dan namaku Siegrain bukan Jellal!", ucap Siegrain tidak terima dan mengikuti Mito.

Mereka berdua pun melanjutkan merjalanan mereka menuju loteng rumah 3 lantai itu. Suara yang dari tadi mereka dengar semakin lama semakin kencang begitu mereka semakin mendekati loteng. Sesampainya di loteng, mereka mengintip dari depan pintu masuk memeriksa keadaan sekitar. Saat mereka ingin menginjakkan kaki memasuki loteng yang berdebu itu, terlihat sosok bayangan menyeramkan di tembok depan mereka. Saat mereka berdua melihat sesosok bayangan tersebut, bayangan itu pun seolah-olah menatap mereka balik.

"Ehhh. Kurasa sebaiknya kita kembali ke bawah.", ucap Siegrain gemetar.

"Sudah kubilang sebaiknya pedangnya kubawa saja tadi!", ucap Mito berlari mengikuti Siegrain.

"AAAAHHHHHHHHH!", teriak keduanya menuruni tangga dan menuju kamar mereka.

Erza dan juga Jellal yang tertidur pulas terbangun mendengar jeritan kedua temannya yang berlari ke arah mereka.

"Ada apa?", tanya Erza yang terbangun dari tidurnya.

"Di..di.. di loteng!", jawab Siegrain terbata.

"Memang ada apa di loteng?", tanya Jellal yang semakin penasaran.

"Di loteng ada monster mengeramkan! Dia memiliki taring dan mata yang menakutkan!", ucap Mito menambahkan.

"Ayolah, tidak ada monster seperti itu.", ucap Erza.

"Tapi monster itu beneran ada Erza-nee. Dia ada di loteng dan akan memakan kita!", ucap Mito panik.

"Baiklah, aku akan ke atas dan membuktikan kalau monster itu tidak ada.", tegas Jellal.

"Jangan pergi ke atas atau kau akan mati, Jellal!", ucap Siegrain.

"Ayolah, jangan bilang kau percaya dengan omong kosong ini, Siegrain.", ucap Jellal berlalu mendahului mereka.

Jellal pun menaiki tangga diikuti dengan Erza di belakangnya. Siegrain dan Mito yang tadinya tidak mau ikut akhirnya mengikuti kedua temannya yang sudah memimpin. Mereka berjalan berdekatan menuju loteng. Siegrain mengambil sebuah sapu dan menjadikannya sebagai senjata. Melihat Mito yang ketakutan, Siegrain menyuruh Mito untuk tidak jauh-jauh dan Mito memegang lengan baju Siegrain dengan erat. Mereka berempat pun menaiki tangga menuju loteng. Sesampainya di loteng...

"Dimana? Dimana monster yang kau bilang itu?", tanya Jellal.

"Semenit yang lalu dia ada di sini. Mungkin dia sedang sembunyi.", balas Mito.

Mereka pun, setidaknya Jellal dan Erza, berkeliling loteng mencari sosok yang dilihat oleh kedua temannya itu. Setelah mencari selama beberapa menit, tidak juga ditemukan hawa keberadaan makhluk tersebut seakan itu tidak pernah ada.

"Sudahlah, mungkin kalian hanya salah lihat. Sebaiknya kita kembali ke bawah dan tidur, ini sudah larut malam.", ucap Jellal beranjak turun.

"Kau boleh tidur di sebelahku malam ini, Mito-chan.", ucap Erza ramah dan dijawab oleh anggukan oleh Mito.


KEESOKAN HARINYA [09:00]

"Apa kau bisa tidur nyenyak, penakut?", tanya Siegrain pada saudara kembarnya.

"Aku bukan penakut! Sosok yang kulihat tadi malam beneran ada", ucap Siegrain membela diri.

"Sudahlah kalian berdua, jangan saling mengejek. Sebaiknya kita sarapan dulu.", ucap Erza yang terkekeh melihat tingkah kedua temannya.

"Itadakimasu!", ucap mereka bersamaan.

Setelah selesai makan, mereka pergi ke hutan untuk bermain. Saat sedang asik bermain, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan gerak-gerik mereka berempat dari dalam rumah kosong itu. Mito mempunyai firasat ada yang memperhatikan sedari tadi. Tapi saat ia menoleh, ia tidak melihat siapapun di sana. Rasanya seperti mencari hantu yang selalu menghilang.


[13:00]

Tak terasa hari sudah semakin siang. Mereka kembali ke dalam rumah untuk makan siang. Selama ada di rumah itu, mereka hanya makan seadanya dari bekal yang sudah mereka bawa dari rumah. Tak lama kemudian, mereka sudah menyelesaikan makanan mereka dan bersantai di dalam rumah.

Sosok yang mengawasi mereka juga masih memperhatikan mereka dari jarak yang aman supaya mereka tidak menyadari kehadirannya.

"Hmmm.", gumam Mito yang menyadari adanya hawa keberadaan orang lain.

"Ada apa, Mito-chan", tanya Erza yang dari tadi bingung melihat tingkah laku Mito yang mencurigakan.

"Ah.. tidak ada.", ucap Mito tersadar. "Ngomong-ngomong, Erza-nee, apa kau merasa seperti diawasi atau semacamnya?"

"Diawasi? Tidak, aku tidak dapat merasakan apapun. Mungkin itu hanya imajinasimu saja, Mito-chan.", jawab Erza.

"Aku yakin Mito pasti masih takut karena kejadian kemarin, dimana dia melihat monster menakutkan, di mimpinya. Hahahaha.", ucap Jellal meledek Mito.

"Aku tidak takut! Dan monster itu benar-benar ada, kalian hanya terlambat melihatnya.", ucap Mito kesal.

"Ya ya tentu saja.", ucap Jellal seraya menepuk kepala Mito yang lebih pendek darinya.

PRANG…. (sosok itu memecahkan gelas saat ingin mendekat)

"Apa itu!", ucap Jellal kaget sambil menghampiri sumber suara bersama ketiga temannya.

Saat mereka sampai, terlihat pecahan gelas yang berserakan di lantai. Sosok itu sudah pergi sebelum mereka datang.

"Mungkin itu cuma kucing lewat.", ucap Erza.

"Apa mungkin kucing bisa meninggalkan jejak darah seperti itu?", ucap Siegrain seraya menunjuk jejak tetesan darah di lantai.

"Ayo kita ikuti!", ucap Mito memberanikan diri.

Mereka mengikuti jejak itu sampai di sebuah lemari tua yang besar dan berdebu. Saat mereka membuka, pintu lemari itu berdecit nyaring dan di dalamnya…

"AAAAAAAAHHHHHHHH!", teriak mereka berempat juga sosok di dalam lemari.

"MONSTER!", teriak Jellal panik.

"Tunggu dulu, kau bukan monster.", ucap Mito setelah melihat baik-baik sosok di dalam lemari.

"Tentu saja aku bukan monster! Kalian yang selalu bicara omong kosong mengenai monster, di sini tidak ada yang namanya monster.", ucap sosok kakek tua itu keluar dari lemari.

"Kakek siapa? Kenapa kakek ada di dalam lemari?", tanya Erza membantu kakek itu keluar.

"Aku berusaha menghindari kalian, anak-anak nakal. Namaku adalah ...", pria tua itu menarik napas panjang seolah akan bicara.

"Namamu adalah...", gumam mereka berempat menunggu lanjutan si kakek.

"... kalian tidak perlu tau namaku.", ucapnya dingin. "Aku adalah penghuni rumah ini dan kalian ada di wilayah pribadiku.", lanjutnya.

"Ehh. Jadi kakek adalah pemilik rumah ini. Berarti kakek itu hantu yang sering dibicarakan itu ya.", ucap Mito menyimpulkan situasi.

"Aku bukan hantu, aku masih hidup!", ucap kakek itu membentak. "Aku jarang keluar rumah dan pergi ke kota. Mungkin karena itu mereka tidak tau kalau rumah ini berpenghuni. Lagipula rumor rumah hantu itu sangat membantuku jadi tidak ada anak-anak jail yang akan menggangguku.", lanjutnya panjang lebar.

"Lihat, sudah kubilang tidak ada yang namanya hantu atau monster.", tegas Jellal.

"Huh.. tadinya aku ingin langsung mengusir kalian, tapi kakiku saat ini terluka gara-gara kalian jadi aku sulit untuk berjalan.", keluh kakek tua itu.

'Siapa juga yang mengawasi diam-diam bukannya bicara langsung dari kemarin.', protes Mito dalam hati.

"Jadi sebagai hukumannya, kalian harus tetap di sini dan membantuku sampai kakiku sembuh.", lanjutnya.

"APA!?", sorak Jellal kaget.

"Jangan mengeluh! Karena daerah sekitar sini sebenarnya berbahaya jadi aku akan mengajari kalian dasar-dasar sihir untuk melindung diri kalian sendiri. Kalian seharusnya berterima kasih karena aku mau mengajari kalian.", ucap kakek tua itu lagi.

"Kalau begitu kapan kita mulai latihan?", tanya Erza.

"Segera setelah kalian membersihkan rumah ini sampai bersih kinclong.", ucap kakek itu merjalan pincang melewati mereka berempat yang diam membatu.

Merasa tidak memiliki pilihan lain, mereka mengikuti perintah kakek itu. Membersihkan rumah 3 lantai bukanlah hal yang mudah. Apalagi kalau rumah itu tampak seperti rumah tak berpenghuni yang sudah berpuluhan tahun tidak didiami.


[17:10]

"Kakek! Kami sudah selesai membersihkan semuanya.", teriak Siegrain memanggil kakek itu.

"Oh benarkah? Tampaknya kalian benar-benar membersihkan semuanya.", ucap sang kakek memeriksa rumahnya dengan teliti.

"Jadi karena kami sudah membersihkan rumah, kau akan mengajari kami kan?", tanya Mito berharap sekali.

"Hmm... Tidak. Kalian masih harus mengambil bahan-bahan untuk makan malam.", ucapnya dingin.

"Ap...apa!? Ta...tapi..", balas Mito yang segera dipotong.

"Tidak ada tapi-tapi-an. Sebaiknya kalian cepat, sebelum malam. Ini daftarnya.", ucap kakek tua itu menyerahkan secarik kertas. "Kembalilah sebelum hari gelap. Keadaan di hutan menjadi buruk saat malam.", lanjutnya memperingati.

Mereka pun terpaksa menjalani perintahnya lagi. Mencari 10 bahan sebelum malam di hutan yang mengerikan bukanlah hal yang mudah. Karena bahan yang mereka cari sulit ditemukan, mereka memutuskan membagi 2 kelompok. Jellal dan Erza akan mencari buah teratas dari pohon buchclaire (tumbuhan langka yang hanya tumbuh di Magnolia) di hutan bagian selatan. Sedangkan Siegrain dan Mito, mencari bunga croxtrein yang tumbuh di balik air terjun di hutan bagian barat.

Setelah beberapa jam mereka mencari [18:50]

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH", terdengar suara jeritan panjang.

"Ayo cepat masuk!", teriak Jellal pada teman-temannya yang menjerit seraya berlari ketakutan.

BROM (suara pintu ditutup)

"Huff. Itu benar- benar menakutkan.", ucap Siegrain terengah-engah.

"Ya siapa sangka kalau akan ada beruang besar mengerikan seperti itu.", ucap Erza yang sudah sampai dari tadi.

'Sial, kalau saja aku bisa menguasai sihir yang sudah diajarkan ayah dengan sempurna. Aku pasti bisa mengalahkan beruang sebesar itu.', batin Mito menyalahkan dirinya sendiri.

"Oh.. kalian sudah kembali.", ucap kakek tua itu datar. "Apa kalian dapat semua bahan-bahannya?"

"Ya, semacam itulah.", ucap Siegrain mengambil napas.

"Duduklah. Aku akan menyiapkan makan malam.", ucap si kakek menuju dapur.

Mereka pun mengikuti arahan si kakek dan berkumpul di meja makan. Setelah beberapa menit kakek itu kembali dengan makanan di atas kereta kecil yang dia dorong. Mereka ber-5 makan bersama untuk yang pertama kalinya. Setelah selesai makan, Erza membantu kakek mencuci piring kotor, Mito membaca bukunya di kamar, lalu Jellal dan Siegrain membantu si kakek memindahkan barang-barangnya.

"Baiklah, kalian pergi tidur sana! Hari sudah malam dan kalian akan sangat membutuhkan energi untuk besok.", ucap si kakek.

"Butuh energi? Untuk apa?", tanya Jellal yang hanya dijawab dengan senyum licik sang kakek.


KEESOKAN HARINYA [07:00]

"Ayo bangun anak-anak! Bersihkan dirimu dan berkumpul di depan rumah.", tegas sang kakek dengan suara keras yang sontak membangunkan keempat anak itu.

Keempat sahabat itu segera mandi dan berganti pakaian, lalu menemui si kakek yang menunggu di depan pintu rumahnya. Mereka sudah berharap akan diajarkan sihir, karena dengan menguasai ilmu sihir mereka akan dianggap hebat oleh teman-teman yang lainnya. Tetapi bukannya pelajaran sihir yang mereka dapatkan, melainkan tugas rumah yang menumpuk menanti mereka.

"Jadi Erza akan memetik buah di kebun tak jauh dari sini, Mito akan membereskan rumah, Siegrain akan mengecat rumah, dan Jellal akan mengumpulkan kayu bakar di hutan.", ucap kakek itu tegas.

"Siap, pak!", sorak mereka serentak.

'Apa-apaan ini. Bukannya diajari sihir malah disuruh mengurus rumahnya sendiri.', ucap Siegrain mengeluh dalam hati.

Dan selama 5 hari kedepan mereka kembali ke rumah itu, melakukan apapun yang diperintahkan oleh kakek tua itu. Hingga suatu hari...

"Baiklah, kalian sudah membuktikan keteguhan kalian selama ini. Kuputuskan untuk mengajarkan kalian sihir.", ucap si kakek yang mengejutkan keempat sahabat itu.

"Benarkah!", ucap Mito kegirangan.

"Akhirnya.", sorak Siegrain yang tidak sabar.

"Tapi ingatlah! Sihir ada bukan untuk merusak, melainkan untuk memberi harapan.", ucap kakek itu bijaksana.

Sang kakek pun mengajari mereka sihir. Berbulan-bulan berlalu dan mereka semakin menguasai sihir mereka masing-masing. Setelah 4 bulan didampingi si kakek, kakek tua itu pun meninggal dimakan usia. Walaupun begitu, mereka tidak pernah berhenti berlatih dan menyempurnakan sihir mereka. 1 bulan kemudian ayah Mito, Roku, pergi ke Crocus, ibu kota Fiore, karena masalah pekerjaan. Erza, Jellal, dan Siegrain menemani Mito setiap hari setelah itu.

End

6 Years Arc End


Begitulah akhir dari chapter ini, menjelaskan masa lalu ke-4 sahabat itu. Makasih yang udah baca. Mulai sekarang update gak tentu, karena saya lagi sibuk masih ada cerita lain yang harus di tulis. Harap sabar ya. Sayonnara.