"Artinya kamu adalah Erza Scarlet di tahun X781?! I-itu gila, jika ada hantu yang menetap di bumi lebih dari lima tahun, maka akan dibawa malaikat dan diseret ke neraka, tetapi kamu …." hanya terdapat satu kemungkinan, bocah ini mendapat wujud baru yaitu iblis!

"Benar katamu. Anak pemburu hantu memang berbeda. Baiklah, ayo bahas pembunuhan sepuluh tahun silam. Sekitar pukul lima sore setelah melaksanakan piket, aku hendak pulang ke rumah dan saat itulah, seseorang menikam jantungku dari belakang. Yang aneh adalah, pelaku tidak diketahui sampai sekarang, kemudian polisi seenak jidat menutup kasus ini. Dasar payah!"

"Menurutku ada orang yang menaruh dendam. Mencari teman-temanmu sepuluh tahun lalu pun sulit, meski bagian arsip masih menyimpan data murid tahun X781. Apa lagi harus dihubungi satu per satu untuk meminta kesaksian, kau memberi kasus yang sulit"

Jelas, karena Jellal bukan manusia berotak atau penggila detektif. Lucy terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan Erza. Arwah di depannya adalah iblis level tinggi, manusia dalam bahaya jika mengobrol terlebih membuat kontrak dengan mereka. Pintu tertutup rapat, langit masih bersapu hitam pekat di mana hantu jahat banyak berkeliaran. Mau keluar sia-sia, memojok di ujung kelas justru menarik perhatian si scarlet.

"Terimalah takdir anak itu, Lucy Heartfilia. Kalian harus menolongku, jika kau tidak mau bukan masalah, yang penting Jellal bersedia karena menolak sama saja meminta nyawa. Ayahmu pasti mengajarkan isi kontrak iblis, namanya Siegrain Fernandes, ya?" ternyata benar, dia sangat berbahaya!

"Lima tahun lalu sebelum menjadi iblis, Siegrain diberi tugas untuk memburuku. Sayang dia gagal, padahal kami hampir menjalin kontrak. Mendapat anaknya juga keberuntungan, jadi, biarlah. Ingat, selama tanda iluminati itu terukir di tanganmu, jangan harap bisa kabur"

"Kalau begitu, aku yang akan menghilangkannya demi keselamatan Jellal!" Lucy tersulut emosi, langsung maju melayangkan pukulan tanpa pikir panjang. Erza bergerak cepat, menendang perut lawan sampai ia terhempas menembus tembok

"Berhentilah berkelahi! Erza aku menerima permintaanmu. Tolong maafkan Lucy" seringai kejinya terukir intens pada bibir kemerahan itu. Mendadak denyut jantung Jellal berpacu cepat. Menyiratkan rasa takut pada tampang, yang semula nampak menentang tersebut

"Hoek! Uhuk … uhuk …. k-kau!" kini telapak tangannya berlumuran darah. Entah apa yang Erza perbuat, mendadak ia mual hebat disertai gejala migrain, otot mata pun serasa lumpuh hingga pandangan agak kabur

"Aku menggunakan kutukan untuk 'hukumanmu'. Beginilah akibatnya jika kau melawan, Jellal Fernandes. Mudah bagiku membunuh kutu sepertimu, bersyukurlah atas belas kasih yang ku berikan, manusia!"

"Hiraukan dia! Ayo ku antar ke UKS, wajahmu benar-benar pucat" seru Lucy menarik tangannya pelan, membantu Jellal bangkit berdiri melihat ia kesulitan menapak tanah. Mereka akan keluar jika Erza tidak mencegat di daun pintu, sengaja memprovokasi si hantu pirang yang nyaris hilang kendali

"Hantu dilarang menyukai manusia, kau tau peraturan itu nona pisang? Perkataanku juga berlaku Jellal, sepertinya kalian diam-diam saling menyukai"

"DIAM! Memang kamu mengerti apa Erza? Kita tinggalkan saja iblis stres ini!"

Selama tinggal di UKS, Lucy sibuk mondar-mandir mengambil obat. Melilitkan perban pada punggung tangan Jellal, di mana lambang terkutuk itu mengikat kontraknya dengan Erza. Bel masuk berbunyi nyaring, secepat mungkin ia segera berlari menuju kelas supaya tidak terlambat. Laxus-sensei yang mengajar, dan beliau paling anti mendengar kata terlambat. Lucunya di situ masih sepi, sementara langit semakin gelap tanda-tanda hujan turun deras.

"Buka halaman seratus lima puluh satu. Kita akan mengulang materi aritmatika sosial. Kerjakanlah nomor satu, lima, tujuh, sepuluh, dua belas dan lima belas. Jika …."

Tok … tok … tok ….

"Maaf pak, macet di jalan!" seorang lelaki bersurai raven datang, lalu dengan cuma-cuma Laxus-sensei memberi izin masuk. Anak kesayangan guru jelas diperlakukan berbeda, apa lagi kita membicarakan yang terkenal killer. Namanya Gray Fullbuster, meski pintar dan populer di kalangan cewek, ia tidak pilih-pilih dalam berteman, tentu pengecualian untuk Jellal

"Jika ada soal yang tidak dimengerti, silahkan tanya pada saya"

Pelajaran tambahan berakhir jam tujuh tepat. Jellal yang menanti bel masuk hanya duduk manis di kursi, memalingkan muka ketika sepasang iris Erza, menusuk bola matanya berbalut tatapan intimidasi kuat. Mendadak tiga orang anak datang menghampiri, sengaja menendang meja keras guna menakut-nakuti. Ia tak bergeming sedikitpun, menghindar dari iblis scarlet merupakan prioritas utama, walau semua itu sama sekali tidak berguna.

"Hoi Jellal! Cepat ikut kami ke halaman belakang sekolah!" bentak pemuda berbadan basar, menyeret pergelangan tangannya yang ia biarkan begitu saja. Tubuh ringkih itu dilempar menabrak tembok nan kokoh, terkulai lemas di tempat akibat kehabisan tenaga

"Berikan uangnya, cepat!"

"Ma-maaf Cobra-san. Aku tidak bisa memberikannya sekarang" ya, dia adalah korban pemalakan dari sekelompok geng Fairy Tail. Selain diperas habis-habisan, Jellal biasa diperlakukan sebagai budak atau dijadikan pelampiasan. Kalau tidak diancam, pasti sudah dilaporkan pada guru entah sejak kapan

"Keluargamu pembasmi hantu, pasti punya banyak uang! Kau ingin kucing itu mati, hah?! Jika tidak, berikan dan kalian berdua pasti selamat"

Di belakang punggung mereka, Lucy bersiap menyerang sambil memegang sekop erat. Lidah Jellal kelu, seakan diperintahkan agar bungkam membiarkan 'kecelakaan' tersebut terjadi. Salah satu anak buah Cobra meninju wajahnya, membiarkan si biru laut tersiksa dengan rentetan pukulan yang terus dilayangkan. Bercampur gelisah ia mengigit bibir bawah, karena masih menaruh belas kasihan berharap agar nona pisang berhenti sampai di situ.

"Tidak bisa Jellal. Mereka selalu menyakitimu, jika kau kurang keberanian untuk melawan, akulah yang akan maju menggantikanmu!"

Tik … tik … tik ….

"HENTIKAN. KUMOHON HENTIKAN!" sekop yang Lucy pegang kini melayang-layang di udara, berserta benda lain berupa peralatan klub berkebun. Jellal refleks menutup mata, menjulurkan tangan ke depan tanda memerintahkan, puluhan benda itu menghantam keras kepala Cobra dan kawan-kawan

BRUKKK!

Mereka berlima pingsan. Mulut Jellal menganga lebar, sulit mempercayai apa yang dia lihat sekarang. Beberapa orang berlari menghampiri, kemudian memanggil pak guru melaporkan kejadian tersebut. Ia kena marah, wali kelas memanggil orang tuanya guna membawa anak itu pulang ke rumah. Diskors seharian karena ulah geng Cobra, menjengkelkan! Lucy sebatas menontoni dari dekat, iris karamel tersebut menyuratkan iba, kenapa pula, mereka bersikukuh tidak mau mendengar kesaksiannya?

"Anak bapak membuat masalah dengan menghajar Cobra dan kawan-kawan. Sekarang mereka masuk rumah sakit, anda harus bertanggung jawab kepada keluarga yang bersangkutan!"

"Maafkan Jellal, pak. Saya yakin dia memiliki alasan di balik tindakannya. Ceritakanlah Sayang" yang menjemput ialah Siegrain Fernandes, ayah dari Jellal berprofesi sebagai pembasmi hantu. Sekejap Lucy terjun lewat celah di jendela, bersembunyi di balik semak sampai beliau pergi menjauh

"Untuk apa?! Memang para guru mau mendengarku? Lebih baik pulang saja"

Hatinya dengki bukan main. Semua bertindak semena-mena, mentang-mentang ia bisa melihat hantu dan merasakan keberadaan mereka. Sepanjang perjalanan pulang, Jellal diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kontrak iblis, Lucy Heartfilia, Erza Scarlet, bagaimana caranya menyembunyikan semua itu? Siegrain mengangkat punggung tangan anaknya, menyadari perban putih melilit di situ tanpa alasan yang masuk akal.

"Tanganmu terluka? Nanti di rumah ayah bantu obati, oke?"

"Ti-tidak perlu, aku bisa sendiri! Kapan ayah pulang? Bukankah jarak dari timur ke Magnolia barat sangat jauh?" tanya Jellal berusaha mengalihkan perhatian. Jika ketahuan terdapat dua pilihan : dibunuh atau membunuh

"Hmmm …. ayah mendengar dari saksi mata, kamu melayangkan perlatan berkebun dengan kekuatan setan" sekarang giliran dia yang dikacangi. Jellal mengidikkan bahu cepat, menurutnya mustahil karena manusia biasa tidak memiliki kekuatan semacam itu. Lucy pun hanya hantu tingkat menengah, mana bisa melakukan telekinesis?

"Apa jangan-jangan ulah Erza? Tetapi arwahnya terjebak di sana, ku pikir mustahil"

"Sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran. Jellal, memang kau yang menerbangkan benda-benda tersebut, bukan hantu pirang atau pemburu lain di sekolah. Sebagai anak sulung, ayah tidak heran kamu mewarisi kekuatan itu"

"Jadi, maksudnya, ayah juga punya kekuatan supernatural?"

"Teleportasi. Sekarang pertanyaanmu telah terjawab, bukan? Ayo pulang ke rumah dan rayakan ini, anak ayah akan menjadi calon pemburu hantu"

Tentu Jellal kaget, di antara bimbang dan sedih ia terpaksa menerima garis keturunan tersebut. Bukankah berarti Lucy mesti dipulangkan ke alam baka? Lalu kontrak dengan Erza? Kalau tertangkap basah maka hukuman setara nyawa, yang lebih ringan dijebloskan ke penjara khusus seumur hidup. Setiba di rumah, ibu menyuruhnya ganti baju terlebih dahulu. Bagi mereka hukuman skors tidak berarti apa-apa, dapat mewarisi pekerjaan sang ayah ialah hal terpenting.

"Yo, Jellal" sapaan Lucy mennghentikan jari-jemarinya mengkancingkan baju. Ia terhenyak, kenapa hantu pirang itu harus datang kemari? Meskipun tau bahwa Siegrain pulang ke Magnolia dan terancam bahaya?

"Ta-tapi Lucy, jika ayah tau kau bisa …."

"Menurutmu aku harus pulang kemana? Sampai urusan itu selesai, maka arwahku akan terus terjebak di sini"

"Urusan itu selesai, ya …. aku sempat berpikir untuk terus menahanmu. Lucy perkataan Erza benar, selama setahun menghabiskan waktu bersama, mu-mungkin …. aku, aku jatuh cinta padamu. Kita sama-sama merasakannya, dan kesakitan tersebut tabu"

"Padahal aku hantu, tetapi kenapa bisa merasakan jatuh cinta? Dunia bertambah aneh saja"

"Kematian seseorang dan urusannya-lah, yang menentukan seberapa spesial juga kuat hantu itu. Perasaanmu kepada Gray sangat kuat, sehingga kau memiliki kekuatan untuk melindungi siapapun, termasuk aku"

WHUSSHHHH!

BRAKKK! BRAKKK!

Lagi-lagi terjadi! Batin Jellal mundur beberapa langkah. Mendapati sesosok hantu scarlet muncul di kamarnya tanpa permisi. Tanda itu bisa membawa Erza di manapun sang 'tuan' berada. Kontrak baru terjalin tiga jam yang lalu, dan iblis keparat ini semakin banyak membawa masalah.

"Akhirnya kau mengakui perasaan terlarangmu. Baiklah, karena aku berbaik hati berikanlah Jellal padaku, nona pisang"

"Memberikan bagaimana?! Aku tidak akan membiarkan Jellal dijadikan budak olehmu!"

"Ya ampun …. keras kepala sekali! Penolakanmu membuatku terpaksa melakukan 'itu'. Scarlet oh scarlet, tuan putri menginginkan pangeran tampan, berikanlah jantungnya sebagai persembahan. Iblis nan rupawan, terimalah pengurbananku ini : soul cartel"

Ritual yang telah mengikat mereka, menjadi satu kesatuan atas dasar cinta terselubung.

Sementara di sekolah ….

"Hoi Gray. Kamu sudah menyeledikinya bukan? Turunkanlah perintah, kami pasti menemukan 'anak ayam' itu dan menyuruh dia masuk ke organisasi.

"Pergilah bersama Loke. Aku menunggu kabar baik dari kalian berdua.

Bersambung ….

Balasan review :

Fic of Delusion : Akhirnya bisa memikat pembaca di chapter satu hahaha. Oke semoga suka dengan chapter dua-nya! Thx udah review.

Blue AuRey : Pasti dilanjut kok tenang aja, ya meski buat ending belum kepikiran enaknya gimana. Iya bener hantu scarlet itu Erza, nanti akan terungkap kok seiring chapter berjalan. Thx udah review.

CN Scarlet : Maaf kalau pendek, porsi prolog-nya memang segitu kok, kalau bikin 2k terlalu kebeber banyak entar hahaha. Mungkin selanjutnya ada adegan cium lhooo, tunggu aja ya. Thx udah review.