"Setelah menjalin kontrak dengannya, kau pun ingin memiliki jiwa dan raga Jellal?! Aku tidak terima Erza, tindakanmu keterlaluan dan menentang peraturan!" bentak Lucy menyibak tangan ke udara kasar, walau si scarlet tak bergeming di tempat ia berdiri
"Memang aku minta pendapat? Ini urusan pribadi, berhentilah ikut campur nona pisang. Sebelum lelaki kesayanganmu tewas mengenaskan" ancaman yang membuatnya undur bertindak. Jellal masih terperengah, dia mana percaya…. memberikan sedikitpun termasuk kekalahan telak!
SRINGGG!
Ujung pisaunya mengiris tipis kulit Erza, decihan pun terdengar sekilas menjadi tanda kekecewaan mendalam. Jellal membuang jauh-jauh ke sembarang arah. Giliran Lucy yang menutup mulut sebagai reaki, atas aksi nekat di luar perkiraan tersebut. Atmosfir di tengah mereka bertambah tegang, masing-masing menatap lawan dengan tatapan intimidasi, sampai sebuah suara menghentikan pertarungan setengah jalan itu.
"Ayo turun, mau sampai kapan bersedih karena diskors?!"
"Heh …. ternyata kau lebih menarik dari bayanganku. Baiklah, kapan-kapan kita lanjutkan lagi" keberadaan Erza lenyap seketika, arwahnya kembali pulang ke ruang kelas 9C. Jellal sendiri bersikap santai sambil lanjut mengacingkan baju
"Barusan aku tidak salah lihat kan? Kamu melukainya meski segores!"
"Nanti ku jelaskan. Sekarang bersembunyilah di gudang rumah, tunggu aku"
"Selamat menikmati acara makanmu, Jellal"
Kaki telanjang menimbulkan bunyi keriat-keriut sewaktu kayunya ditapaki. Ayah dan ibu telah menunggu kedatangan putra mereka di meja makan, dengan piring putih beraneka lauk tersedia rapi, di atas permukaan telapak merah muda berbodir bunga. Jellal tidak bercerita seperti yang biasa ia lakukan, terlalu banyak kisah untuk dijabarkan satu per satu, bercampur aduk perasaan menyebabkan pikirannya kacau balau.
"Tanganmu terluka?" tanya ibu heran, menunjuk lilitan perban di punggung tangannya memakai sepasang sumpit. Jellal tersentak di kursi, selain diam bisa apa?
TAKK!
"Jika terluka bilanglah, jangan memaksakan diri. Ibu bantu suapi oke? Ayo buka mulutmu lebar-lebar" dia ketakutan hingga bulu kuduk merinding. Sumpit pun terjatuh dari genggaman jari-jemarinya yang kaku bukan main
"Pasti sangat parah. Ayah ingin membawamu ke dokter, ikutlah setelah selesai makan siang. Sekalian kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan"
"Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Tadi hanya agak tegang karena senang, a-akhirnya pekerjaan ayah bisa kuwarisi" dipaksa berbohong akibat desakan keadaan. Jellal sadar betul ia banyak berbuat dosa, bahkan lebih parah dibanding dulu!
"Semangat yang bagus! Mulai besok ayah akan mengajarimu cara mengikat iblis dan lain-lain"
"Ahahaha … aku menantikannya"
Kata siapa dia pantas menyandang pekerjaan itu?! Tidak sampai tanda iluminati di punggung tangannya lenyap! Selesai makan siang, Siegrain langsung mengajak Jellal berkeliling di taman kota, melihat air muka sang anak berubah buruk sejak tadi. Mereka menghirup udara segar dekat air mancur, ditemani sepotong es krim dingin rasa cokelat. Lalu-lalang orang bersama keluarga, anak kecil di kotak pasir membangun istana, ia terlalu takut hingga semuanya terasa gelap.
"Ayah kira perasaanmu membaik setelah makan es krim, atau mau mencoba takoyaki di pinggir jalan?" pucuk birunya menggeleng pelan. Pasti Lucy menunggu lama di gudang, terlebih bangunan reot itu tidak bisa lagi dijadikan lokasi persembunyian
"Siapa nama hantu pirang yang membuntutimu setiap hari?" menyembunyikannya memang sia-sia, Jellal tau betul cepat atau lambat akan terbongkar
"Lucy Heartfilia, kakak kelasku. Dia meninggal karena ditabrak mobil, sedangkan urusannya di dunia belum selesai total"
"Lalu kau ingin melakukan apa?"
"Biarkan aku menolong Lucy! Meski ayah melarang, anakmu bersikukuh mempertahankan pendapatnya!" tegas Jellal menekan kalimat terakhir. Mengukir seulas senyum pada bibir Siegrain yang sedari tadi bergaris horizontal
"Jika gagal terus-menerus bagaimana?" seakan berisyarat, Siegrain telah mengetahui keras usaha Jellal yang sama sekali tidak terbayar
"I-itu … a-aku …."
"Anggap sebagai misi pertamamu dalam merintis karir. Jika gagal ayah menjual Lucy ke toko di alam baka. Kalau kamu berhasil, sebutkanlah satu permintaan" tentu akal sehatnya tak habis pikir. Kenapa semua orang di sekitar diam-diam begitu gila?!
"Menjual Lucy untuk dijadikan budak iblis maksud ayah?! Jangan pernah melakukannya!" secara tidak langsung Siegrain hendak merampas kebahagiaan hantu pirang. Pergi ke neraka sama saja dinyatakan gagal bereinkarnasi, dan keinginan Jellal bertolak belakang dengan taruhan tersebut
"Makanya kau harus berhasil, tetapi jangan bertindak gegabah. Ayo pulang, kita habiskan waktu di ruang tamu membicarakan banyak hal
Posisinya benar-benar terpojok, Jellal terjebak dalam obrolan seputar sekolah, sementara Lucy mati bosan terkurung di gudang berbau apek. Masalah yang diungkit pun tak jauh dari persoalan anak remaja, semisal jatuh cinta, cewek terkenal di sekolah, nilai pelajaran, sikap para guru, lagi pula pertemuan ini hanya terjadi setengah tahun sekali, walau sekarang jadi lebih sering diadakan karena Siegrain total bertugas di Magnolia.
"Jadi, sebut saja nama perempuan yang kamu sukai" goda sang ayah terkekeh pelan, melihat semburat merah tersapu pada kedua pipi Jellal. Ingatannya membawa ke perkataan Erza di kelas tambahan, 'hantu dilarang menyukai manusia'
"Benar kok tidak ada! Aku ke atas dulu"
"Temanilah Lucy kesayanganmu itu, kasihan dia ditinggal sendiri selama berjam-jam" terbongkar habis-habisan dalam sekejap? Jellal terpuruk ke titik terendah, apa memang usahanya sia-sia saja?
TAP … TAP … TAP ….!
CKLEK!
"Kau tidak menepati janji. Sebentar apanya, aku menunggu sampai lumutan!"
"Marahlah sesukamu, aku menerima dengan lapang dada. Ayah mengetahuinya, maaf telah gagal melindungimu, dan …." Jellal sengaja menggantungkan ucapan tersebut, menyebabkan rasa penasaran Lucy naik ke puncak tertinggi
"Dan apa? Kau ingin mengusirku begitu saja, huh?"
"Aku memutuskan untuk membantumu sekali lagi, tidak …. melainkan sampai berhasil" menghabiskan setahun penuh bukanlah waktu yang sebentar. Mereka pun sadar mesti berpisah sebelum kalender terus berganti
"Jellal …. terima kasih banyak! Aku menghargai bantuanmu"
"Ya lebih baik begini, sehingga mendapatkan Jellal tidak lagi menyulitkan" interupsi Erza yang tiba-tiba muncul menganggu. Membuat empat siku di pelipis Lucy bertambah banyak memenuhi wajah. Sebegitu sukanya-kah dia menyela obrolan orang?
"Cih! Andai aku cukup kuat untuk menyingkirkanmu"
"Niatmu tulus sekali, sayang iblis sepertiku kurang menyukainya. Selesaikanlah sebelum aku menyingkirkan nona pisang duluan. Manusia memang menjijikan dengan perasaan mereka"
"Berhenti komentar, aku muak mendengarnya! Apa maumu datang kemari?"
"Ikut mengobrol, tidak boleh? Berikan pisau yang kau pakai tadi pagi, aku ingin lihat!" daripada meminta, Erza cenderung memaksa agar Jellal menurut. Ia menyerahkan asal benda tersebut, hingga tanpa sengaja pinggirannya melukai kembali tangan si scarlet
"Lemparanmu sadis. Padahal hanya pisau biasa, apa kau menguasai sihir atau sejenisnya?"
"Tidak sama sekali. Aku memanfaatkan kutukan yang mengalir di darahku, ingatlah semua itu merupakan ulahmu. Sembarangan menjual jiwa dan ragaku untuk 'digadaikan' ketika meninggal nanti"
"Ternyata kamu pintar juga. Secepat itu bisa menggunakan kutukan dan tidak merasa kesulitan. Aku kagum … sangat kagum …."
Erza menepuk tangannya pelan, sedangkan Lucy tidak banyak omong mendengar penjelasan Jellal. Memang kekuatan itu hebat melampaui sihir, namun kalau dipakai terlalu sering, bisa-bisa dia kehilangan 'point' terpenting sebagai manusia, yakni mempunyai perasaan, bahkan menjadi iblis tanpa perlu menanti lima tahun pun mampu dilakukan. Pasti disengaja, entah karena apa hantu scarlet ini amat menginginkan pemuda biru.
"Firasatku buruk soal ini, berhati-hatilah"
"Tenang saja, aku tidak akan terjebak dalam perangkapnya"
"Kuucapkan selamat berjuang, tuan Jellal Fernandes. Bantun Lucy tau dia menjadi santapanku berikutnya, sampai jumpa!"
Justru sebaiknya Jellal tidak pernah dekat dengan Gray.
Keesokan harinya ….
Selasa itu matahari bersinar cerah, kebetulan pula pelajaran tambahan ditiadakan sementara, disebabkan para guru sibuk mengikuti pelatihan di luar kota. Terang-terangan Jellal mencengat langkah kaki Gray di koridor sekolah, jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh dan di sana benar-benar sepi tanpa seorang pun. Suasana yang tepat untuk segera menyelsaikan masalah ini.
"Katakan apa maumu, jangan menunda-nunda" ucap Gray ketus. Memalingkan muka dari sepasang manik hazzle yang menyuratkan keseriusan, atau lebih tepat disebut tatapan tajam?
"Arwah Lucy terjebak di sini, ku mohon bantulah dia dengan mendengarkan perasaannya"
"Omongan yang konyol, Jellal Fernandes. Kita bicarakan saja lain kali, Natsu, Loke, tangkap dan bawa dia ke gudang penyimpanan!"
"Tunggu apa maksud …." seorang lelaki salam membius Jellal memakai sapu tangan. Langsung berlanjut ke rencana B yang telah disusun beberapa hari lalu
Tubuh ringkihnya diikat menggunakan tali tambang, usai ditampar barulah ia membuka mata perlahan, mengitar sekeliling ruangan yang nampak familiar. Jellal ingat betul, geng Cobra sering menghajarnya di pojok gudang sambil tertawa keras, lalu mengunci sampai hari beranjak sore lagi. Sekarang giliran tiga orang asing dengan maksud tersembunyi mereka.
"Lakukan sesuka kalian. Aku pecundang yang pantas menerima perlakukan buruk"
"Maaf jika perlakuan kami kasar, tetapi bukankah sebaiknya kami berhenti bersandiwara? Tunjukkan 'wajah aslimu' di hadapanku"
"Hah …. kalian benar-benar aneh"
Bersambung ….
Balasan review :
Fic of Delusion : Bisa jadi tuh dukun wkwkw, oke kita lihat aja Gray yang sebenarnya itu siapa. Thx udah review.
CN Scarlet : Eh masa sih jadi lebih kaku? Maaf ya kalo gitu hehehe ... jujur aku enggak sadar dan ngerasa biasa aja, meski ya ... begitulah! Sebenarnya sih ingin mencoba model baru, tetapi susah ternyata dan kelihatan banget perbedaannya. Kalo 5k mah nanti keburu tamat duluan fic-nya (aslinya males). Oke thx ya udah review, thx juga atas koreksinya!
