"Tantangan apa? Aku malas bermain-main denganmu" tentu ucapannya menarik, tapi Jellal tak terlalu suka membahayakan diri sendiri. Nanti malam saja belum tentu selamat, bagaimana sekarang?

"Mudah sekali. Menggunakan kutukanmu buatlah pedang iblis. Bayangkan bagaimana rupanya, lalu buatlah perjanjian!" ia teringat ucapan Lucy. Firasat soal tantangan tersebut juga buruk dirasakan. Erza melayang bosan di udara, ternyata Jellal kurang tertarik

"Hey. Ini demi meningkatkan kekuatanmu. Tanpa perlu diajari Siegrain aku seorang pun cukup! Selama kontraknya terjalin, kekuatan ayahmu tidak bisa dicerna" mungkin benar atau ada kemungkinan lain, karena beliau pengguna sihir suci

"Baiklah, baiklah. Kau berisik sekali! Jawab panggilanku dan buatlah kontrak, pedang iblis!"

Semudah membalik telapak tangan ia melakukannya. Erza terpukau sampai menendang perut Jellal keras, menabrak batang pohon yang roboh ke samping kanan. Ini masalah besar, tempat mereka bepijak merupakan lokasi favorit hantu penasaran, menghancurkan salah satu objek … maka si penunggu akan marah cepat atau lambat. Sepasang hazzle-nya mengerjap lemas, sambil meringis tanpa tenaga untuk berdiri.

Bahkan sekarang matanya ikut berhalusinasi.

"Jellal!" suara manis dan wajah cantik dengan rambut scarlet. Jellal pikir nyawanya akan segera dicabut, oleh sesosok malikat di depan mata

"Hoi kau bisa mendengarku tidak?!" BRAKKK! Ekspetasinya hancur berkeping-keping, menyadari dia adalah iblis scarlet, Erza. Jellal mengangguk lemah. Jangankan berjalan, bangun saja perlu bantuan wanita sinting ini

"Da … dasar … gi-gila … aku tidak masokis … tau …"

"Akhirnya aku menggendongmu! Ayo kita pulang ke rumah dan makan siang" sembarangan, batin Jellal pasrah tertidur di punggung Erza. Kedua kaki itu memacu kecepatan bak atlet professional. Tanahnya sampai meninggalkan bekas bolong

WHUSHHH!

"Dia benar-benar menghancurkannya!" taman bermain tujuh tahun lalu yang kini rusak parah. Terlebih di bagian pohon roboh ada kakek penunggu. Tinggal hitungan waktu, sebelum mereka tetangkap basah dan diminta ganti rugi

Omong-omong terdapat hal ganjil. Jellal yakin betul ia melihat wujud manusia, tapi siapa sangka orang itu Erza sendiri! Meski tidak aneh, sih, mengingat kemampuannya setara buronan kelas atas. Satu hal yang menyebalkan, ayah maupun ibu tak punya alasan menolak, jika di hadapan mereka ialah gadis kecil dengan masa lalu dramatisasi ala Korea. Dia pintar, mana mungkin jujur berkata, 'aku korban pembunuhan sepuluh tahun lalu'.

Lagi pula Erza tidak memiliki niat meneror

"Siapa perempuan manis yang menggendongmu itu?" tanya ibu menyambut di pintu. Jellal terlalu lemas untuk menjawab. Biarkanlah Erza bercerita mengenai kebohongan absurdnya

"Perkenalkan tante, nama saya Erza teman sekelas Jellal. Saat di taman terlarang, beberapa orang menghajarnya menggunakan sihir. Lihat, babak belur begini" melebihi bayangan Jellal. Dia kira anak ini akan mengarang masa lalu menyedihkan supaya ibu bersimpati

"Keterlaluan sekali mereka. Ayo masuk, sekalian makan siang di rumah kami"

Kenapa harus ditawari? Erza menunjukkan seringai kemenangannya, sengaja membanting Jellal berisyarat, 'cepat tunduk padakku!'. Ibu membawa kotak P3K, agak terkejut melihat memar berwara ungu tua tersebut. Tentu sangat parah, dia mengeluarkan 50% tenaga melampaui batas toleransi tubuh manusia. Syukurlah bocah bertato ini cukup kuat menahan rasa sakit.

"Pasti lawanmu penyihir tingkat atas. Setelah sembuh ayah mengajarimu sihir. Meski ya … membutuhkan waktu sangat lama" mimpi buruk yang belum menampakkan wujudnya. Rahasia mereka terselamatkan sesaat

"A-ayah bicara … apa? Aku masih kuat …" terlalu dibuat-buat. Siegrain menggeleng tegas melarang anaknya berlatih

"Beristirahatlah di sini. Ibu akan membuat semangkuk bubur"

"Tante … ji-jika boleh … saya ingin menyuapi Jellal!" jari-jemarinya bergerak panik membentuk kode, tapi ibu terlalu masa bodoh hingga menyetujui. Beda orang maka beda pendapat

"Maaf Jellal. Ibu baru sadar Erza-chan pacarmu. Silakan menikmati moment kalian, asal jangan bermain di ranjang ya"

Buruk … mengerikan! Erza cekikikan melihat wajah Jellal pucat pasi. Tantangan itu semata-mata untuk menghabiskan tenaganya, kemudian mengambil kesempatan sekecil apapun, dan dipakai guna modus! Nampan berisi mangkuk diserahkan pada bersangkutan, siap atau tidak 'neraka' mesti dihadapi. Tanpa menunggu aba-aba, sesendok bubur dimasukkan paksa ke mulutnya. Menimbulkan sensasi yang membakar lidah.

"Hah … hah … kau mau … umh!" menyumpal dengan panasnya bubur. Erza benar-benar berkuasa atas Jellal. Sementara di mata ibu dan Siegrain mereka mirip kekasih

"Menderitalah lebih banyak untukku, Jellal Fernandes!" bisik Erza diiringi tawa iblis. Membuat atmosfir di sekitar menegang seratus persen. Baginya mau hidup– mati sekalipun tetap menderita. Kalau jiwa dan ragamu digadaikan, pastilah reinkarnasi menjadi iblis

Setelah acara menyuap selesai, sukarelawan Erza membantu Jellal menaiki tangga. Tanpa takut terpergok atau ditangkap, ia mengubah wujud kembali menjadi iblis. Sihir tersebut menguras banyak tenaga, bisa-bisa arwahnya mirip si biru yang kini terkapar lemas. Tak lupa memasang kekkai, keberadaan mereka seakan menghilang dari bagian rumah. Malam akan segera tiba dan waktu 'bermain' telah ditentukan.

"Mau kubantu mandi tidak?" tawaran yang Jellal tolak mentah-mentah. Maklumlah, rata-rata iblis berotak miring bahkan gangguan jiwa berat. Dia sendiri banyak-banyak bersyukur masih bisa menghirup udara

"Candaan yang lucu …

Tok … tok … tok …

CKLEK!

"Argghh … menganggu saja! Baiklah. Sampai jumpa nanti malam" datang dan hilangnya sama-sama cepat. Siegrain melontarkan senyum ke arah Jellal yang berbaring. Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit, jam mandi sudah lewat cukup lama

"Ayah bantu mandi, oke? Sekalian mengobrol"

Daripada dibilang tak berbakti, Jellal menerimanya meski bersikukuh tak memerlukan perhatian khusus. Jauh lebih baik dibanding tadi siang, dia bisa menggerakan anggota tubuh dengan lancar, minus kaki. Sulit dipungkiri, mandi bersama ini terasa menyenangkan walau usia beranjak remaja. Busa putih berbau mint berjatuhan ke permukaan lantai, sesekali pula terdengar tawa dari ayah-anak itu. Ternyata perpisahan membuat pertemuan jadi indah.

"Omong-omong, kemana hantu pirang yang biasa mengikutimu?"

"Lucy berhenti mengikutiku mulai hari ini. Dia ingin membuat Gray jatuh cinta padanya" jelas Jellal datar, mati-matian menahan sesak di dada. Di perjalanan pulang tadi ia berjanji, akan berbahagia selama itu baik bagi hantu pirang

"Cintamu bertepuk sebelah tangan. Pasti menyakitkan"

"Kami mempunyai perasaan suka, tetapi Lucy memilih Gray yang diceritakan sebagai cinta pertama. Aku kalah banyak jika dibandingkan dengannya. Pintar, populer, tampan, jago olahraga …"

"Mungkinkah dia kabur karena tau ayah akan menjualnya ke 'toko'?"

"Saat kita mengobrol di taman, aku menyuruhnya diam di gudang. Dijual atau tidak, kuharap Lucy berhasil sebelum empat tahun berlalu"

"Perhatian sekali … kalau Lucy menghilang, mungkin kamulah orang paling sedih di dunia. Tentang Gray … dia sudah mengajakmu ke organisasi?" darimana ayah tau? Jellal menengok ke belakang heran. Sepengetahuannya beliau tidak tergabung ke grup manapun

"Begitulah. Habis Gray memaksa"

"Berhati-hatilah terhadap Zeref dan ingat pesan ayah, …"

DEG!

Jantungnya berhenti sesaat, untunglah belum dipanggil Tuhan gara-gara terlalu kaget. Jam mandi selesai. Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki ke kamar, disambut Erza yang duduk manis di pinggir ranjang. Mereka tidak mengobrol sepatah kata pun. Makan malam sudah siap dan ibu memanggil turun ke bawah. Sejenak Jellal berhasil kabur, namun tak lama kemudian … kemenangan mutlak dimiliki iblis scarlet.

"Sayang Lucy tidak ada di sini. Padahal aku menginginkannya menjadi saksi utama, tapi biarlah! Bermain berdua lebih asyik"

"Bicara apa kau?" interupsi suara bariton kesal. Erza yang kaget terlonjak dari posisinya. Jellal menampakkan batang hidung sepuluh menit berlalu

"Makanmu cepat juga. Langsung mulai saja!"

GUBRAKKK!

Tubuh ringkihnya menabrak pinggir kayu, walau tak sebanding dengan luka tambalan di perut. Erza melempar paksa ke atas ranjang, seakan menerima nasib, Jellal tidak melakukan perlawanan berarti selain terbaring pasrah. Entah permainan apa yang dimaksud, mungkin akan diakhiri satu tendangan lagi dan reinkarnasi ke surga– jika Tuhan berbaik hati menerima manusia setengah iblis.

"Inilah yang kusebut bermain di ranjang!" dugaannya tepat sasaran. Jellal kembali ditendang keluar 'arena'. Erza tertawa keras disorot bulan purnama, mirip nenek sihir dibanding sosok iblis

"Aturannya adalah, kau harus bisa menyingkirkanku dari sini. Kalau tidak … tidur saja di lantai. Namun kurang cocok disebut begitu, baiklah kemarilah sebentar, akan kuberi pijat refleksi"

Kertak … kertuk …

"Sekarang kamu mau mematahkan tulang punggungku?!"

"Namanya pijat refleksi, dasar bodoh! Enak bukan, tidur di ranjang sambil menikmati jasa gratis? Jangan puas dulu, masih ada permainan yang lain" kini mereka gulat dengan Erza sebagai pemenang. Jellal terkapar tak berdaya di lantai marmer

Malam penuh penderitaan yang tidak dapat dibayangkan. Lagi-lagi Jellal mengucap syukur karena masih hidup.

Keesokan harinya …

Tap … tap … tap …

CKLEK!

"Ibu khawatir terjadi apa-apa. Bagaimana bisa kau jatuh dari ranjang? Kebiasaanmu mengingau kambuh? Mimpi buruk?"

"L-lho … ibu? Jangan cemas, aku baik-baik saja! Ayo sarapan, perutku lapar"

Aneh. Kemarin aku yakin tulangku patah banyak, gumam Jellal sembari melahap sepotong roti. Memar di perutnya berangsur-angsur membaik. Erza juga sudah balik ke kelas IX-C, termasuk melepaskan kekkai. Ia berangkat ke sekolah terseok-seok, menahan sakit yang sebatas terasa digigit semut merah. Lucy terlihat melayang di samping Gray, terkadang mengajak mengobrol walau digubris.

"Pelajaran pertama apa? Aku menunggumu di halaman belakang ya" ucap Lucy bersikukuh. Gray mengidikkan bahu acuh. Justru menghampiri Jellal yang sedari tadi memegangi perut

"Pulang sekolah jangan kemana-mana! Pergilah bersamaku ke markas"

"Ya, ya, aku mengerti! Berhentilah mengacuhkan Lucy. Dia berjuang keras demi kamu"

"Siapa peduli? Kurasa absurd jika hantu dan manusia saling menyukai. Lucy saja yang terlalu naif. Menghasutku tidak semudah memergok Natsu dengan makanan"

"Hey Jellal. Ku-kulihat keadaanmu kurang baik, terserang diare?" perhatian Lucy sukses membuatnya salah tingkah. Ia pikir semua berakhir kemarin. Pertemanan, rasa suka di antara mereka …

"Bu-bukan apa-apa kok! Aku duluan …"

"Kapan-kapan kita mengobrol lagi ya. Jujur … aku tidak rela meninggalkanmu bersama Erza"

Mereka berpisah di jalan menanjak. Erza muncul berlontarkan komentar pedas lewat mulut. Selain berpura-pura tidak dengar Jellal bisa apa? Dia cemburu buta terhadap Lucy, berkata, 'sok perhatian', 'melanggar janji', 'harusnya kuenyahkan kemarin', 'jika dekat-dekat akan kusingkirkan', amat overprotektif. Selama hantu itu bukan wanita pirang. Perhatian tersebut hanyalah dengung nyamuk di telinganya.

"Berisik. Aku tidak peduli apapun komplainmu. Lucy jauh lebih baik dibanding iblis buronan"

"Galaknya. Pasti ini sisi yang belum pernah dilihat hantu pirang. Aku lihat kalian jarang bertengkar. Kau sering mengalah tiap kali beradu argumen, betapa baiknya"

"Tidak salah kok. Baliklah ke kelas"

Menu utamanya baru dihidangkan, setelah bel akhir pelajaran berbunyi.

Sore hari …

Entah takut ditipu atau kabur, Gray sampai menggandeng tangan Jellal agar tidak kemana-mana. Sementara di belakangnya Natsu dan Loke mengejek. Si mata empat sembuh berkat bantuan sihir, meski dimarahi habis-habisan karena berlebihan mengtes anggota baru. Mereka berempat tiba di markas. Dua pintu raksasa otomatis terbuka, memperlihatkan seorang lelaki bersurai hitam duduk di atas singgasana raja.

BRAKKK!

"Hoi Jellal! Apa yang terjadi padamu?!" Gray panik bukan main, menyaksikan si biru memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Tentu aneh, kemana warna merah itu menghilang?

"K … kau …"

"Selamat datang di organisasi"

Bersambung …

Balasan review :

CN Scarlet : Dan akhirnya pertanyaanmu terjawab! Ingat cen main di ranjang itu artinya banyak. Kalo yang ini sih Jellal-nya sampe babak belur begitu hahaha. Tenang kok tidak akan melewati batas rating (author masih tau diri). Yep pasti update kilat kok, ini udah agak panjangan. Semoga bisa terus deh bikin sebanyak ini, kalo gak nanti aku coba 2k ya. Oke thx udah review.

Fic of Delusion : Jellal juga ikutan jadi korban malah hahaha. Yep meski perannya gak penting-penting amat sih kayaknya. Thx ya udah review.