Benar-benar Mirajane! Silver berikat ponytail dengan pita ungu yang kebesaran. Tanpa membiarkan arwah pohon menyerang, Gray memberi komando sesuai pergerakannya. Kaki ramping itu menendang keras, hingga menabrak ayunan. Menggunakan setiap kesempatan, ia menggoyangkan cepat rantai besi tersebut sampai terpental ke langit, home run. Tentu kerja sama mereka bagus, sekali tembak bazoka es lawan tersungkur di tanah.
Kemenangan telak bagi Gray dan Mirajane.
"Tadi siapa yang memanggilku, hah?! Ulangi!" suaranya memekik! Jellal meneguk ludah pelan. Erza mulai mengamuk lagi. Membentuk pedang dari sisa darah yang dimilikinya. Secara tidak langsung mengajak bertarung
"Kau Mirajane?"
"Memang, lalu kenapa?! Jadi kamu si pengkontrak Erza Scarlet ya? Kelihatannya biasa saja, tidak kuat. Seperti amatiran malah. Bahkan kau masih SMP kelas tiga. Gray jauh lebih baik dalam skill dan pengalaman. Anak Siegrain Fernandes? Omong-omong aku baru sadar rambut kalian sama"
"BERISIK!"
SRAKKK….!
Tes… tes… tes….
"Sialan…. Kau mau melelehkan kulitku?! Senjata itu berbahaya tau!" entah rasanya seperih apa. Gray sampai meringis kesakitan terasa melepuh. Melihat ruam merah di kulit mereka, Erza menyeringai kecil puas
"Selanjutnya meleleh hingga ke tulang-tulang! Bersiaplah, dua teri sialan!"
PAKKK!
"Countdown Erza!" sebelah tangannya menepuk lambang iluminati tersebut. Memancarkan cahaya merah seperti tadi, membuat iblis scarlet terjatuh 'mencium' tanah. Entah kapan dia belajar, Jellal sendiri kurang mengerti
"Seal!" sihir pengikat. Erza dibawa balik ke kelas 9C, pojok ruangan
Baiklah itu menakjubkan, Siegrain harus mengakuinya suka atau benci. Sekadar informasi, Mirajane adalah iblis kelas atas macam Erza, sebutlah peringkat dua dan mereka musuh bebuyutan. Hampir setiap hari diceritakan, sewaktu 'bermain' di ranjang pun begitu. Setiap mencekik atau mengunci tangan-kaki, Jellal mendengar nama tersebut berkali-kali. Menceritakan pertarungan di dunia antah berantah, lalu tertawa lepas bak nenek sihir.
Absurd memang.
"Ceritakan pada ayah. Sejak kapan Erza mengikatmu?" tanya Siegrain tidak sabaran. Dia mengutuk kebodohan sendiri, menggertakan gigi kesal sekaligus bersalah
"O-oh. Saat hari berkabut. Erza memegang tanganku dan membuat lambangnya, di sana juga ada Lucy" aneh, Jellal tidak merasa takut atau gelisah, justru berbicara sangat lancar! Siegrain memeluknya erat, sedih, marah karena terlalu lemah
"Maafkan ayah, Jellal. Telah melibatkanmu dalam masalah ini"
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya kekuatan untuk melawan. Lagi pula semua ini pinjaman, tak lebih maupun kurang"
"Ehem! Sebenarnya aku tidak enak hati menganggu, tetapi Jellal, kau harus mengetahui sebuah kebenaran, rahasia guild. Kami semua adalah pengkontrak iblis. Paman Siegrain meminta kami memasukkanmu, karena dulunya dia mantan anggota"
"Sudah direncanakan sedemikian rupa ya?"
"Namun di luar dugaan. Paman sama sekali tidak sadar Erza 'menerkam' Jellal" kecerobohan terbesar yang Siegrain lakukan. Tentu merupakan hal memalukan bagi predator kelas atas
"Keberadaannya sulit dilacak. Erza telah mengantisipasi segala kemungkinan. Sudahlah, ayo pulang. Ayah akan menceritakan sebuah kisah. Dengarkan baik-baik"
Mengacu pada Erza yang menyukai Siegrain dulu? Jellal tertidur lesu di punggung ayahnya. Banyak-banyak menghirup udara akibat merasa sesak. Sinar oranye menyembul dari ufuk barat, matahari nyaris terbenam sempurna setelah diselimuti kabut tebal. Ia tak banyak bicara atau bertanya, menunggu sampai pembicaraan mengalir dengan sendirinya. Namun setengah jalan terlewati, sepatah kata belum terucapkan.
"Hah…. Gray pasti memberitaumu duluan. Memang benar, Erza menyukai ayah dulu" diawal dengan helaan nafas panjang. Siegrain siap bercerita
Flashback….
Entah berapa tahun lalu, Erza hidup di jalanan bersama gelandangan lainnya. Dia merupakan salah satu pengamen di bus terpadat kota. Pagi berganti malam menyanyikan lagu sambil bergelantungan, kemudian masuk meminta bayaran pada penumpang. Anak itu baik dengan senyum yang cerah, siapapun menyukainya termasuk ayahmu sendiri. Kalau sekarang, kau bisa melihat jika dilimpahi keberuntungan oleh dewa.
Suatu hari di tengah deru hujan. Ayah tidak sengaja menabrak teman sepantarannya.
"Kau harus bertanggung jawab! Temanku kehilangan suaranya dan kami tidak bisa bernyanyi bersama lagi! Hiks… hiks…." Air matanya tumpah ruah. Ayah benar-benar merasa bersalah
"Dokter berkata temanmu dapat menyanyi lagi kalau dioperasi. Paman akan menanggung seluruh biayanya. Kau tinggal banyak-banyak berdoa"
"Berdoa itu apa?" dia begitu polos. Ayah mencubit pipinya sembari tertawa. Erza menunjukkan ekspresi kesal yang amat menggemaskan
"Caranya, kau melipat kedua tanganmu seperti ini. Tenangkan hati dan pikiran lalu panjatkan permohonan kepada Tuhan. Mengerti?" Erza belajar sangat cepat. Dia langsung melakukannya sesuai perintah ayah
"Tuhan? Nanti dia mengabulkannya? Kapan?"
"Secepat mungkin, Erza. Semakin sering kau berdoa dengan hati lapang, maka Tuhan akan membuka pintu hatinya padamu. Lakukan di tempat yang tenang supaya lebih berkonsentrasi"
"Hebat! Setelah Kagura siuman aku ingin mengajarinya jurus ini. Tuhan pasti mengembalikan suara dia, kan, kan, kan?"
"Selama percaya tidak ada yang mustahil dilakukan. Erza mau ikut dengan paman? Sekarang sudah larut, bahaya di luar sendirian"
Orangtuanya meninggal setahun lalu. Erza terbiasa tidur di sebuah rumah kardus, bersama lima anak lain yang berusia tujuh sampai delapan tahun. Dia amat senang menerima ajakan ayah. Melupakan sejenak kesedihan dan tertawa riang, ikhlas. Kami menghabiskan banyak waktu bersama, setelah Kagura berangsur pulih, ia memutuskan kembali mengamen di jalanan, tidak enak hati meninggalkan terlalu lama.
"Sampai jumpa, paman. Aku menghargai segala kebaikanmu"
Ayah pikir kami berpisah selama-lamanya. Ternyata salah, Tuhan sudah mentakdirkan pertemuan itu.
"Paman, paman!" di belakangnya anak-anak lain mengikuti. Ayah tidak mengerti apa-apa, menyambut pelukan Erza yang selalu terasa hangat
"Maaf. Aku menceritakannya pada yang lain, da-dan mereka beriskukuh ingin bertemu paman. Padahal kau sibuk bekerja, tetapi kami malah merepotkan"
"Bukan masalah. Kebetulan paman ada waktu senggang. Benar juga, Erza mau mendengarkan ide ini?" dengan antusias pucuk scarlet-nya mengangguk. Dia bangga menjadi orang pertama yang diajak berdiskusi
"Me-mendirikan panti asuhan dan menyekolahkan kami?!"
"Benarkah kak Erza?"
"Ssstt…. Bukankah paman bilang jangan keras-keras? Sekarang ketahuan Kagura, deh"
Hari itu adalah yang paling membahagiakan. Erza dan teman-temannya tertawa lepas, menyambut ide ayah penuh kebahagiaan. Panti tersebut dibangun di sebuah tanah dekat rumah. Para tetangga semangat menyumbang demi anak-anak jalanan ini, bahkan sukarela membantu mendidik. Ayah tidak bisa berkata apa-apa selain mengucap syukur. Mereka tumpuh dengan baik, terutama dia yang beranjak dewasa.
"Paman apa benar aku bertambah cantik?"
"Ya begitulah. Erza cantik karena fisik dan hatinya, tapi jangan besar kepala oke? Ingat nasihat paman, di atas langit masih ada langit"
"Uhm! Aku juga ingat paman berkata, 'kalau tidak banyak-banyak bersyukur nanti Tuhan marah, kemudian kena hukum karma, tapi Dia melakukannya karena menyayangi Erza.'"
"Anak pintar. Sebentar lagi kamu lulus SMP. Mau melanjutkan kemana?"
"Hmm…. Aku ingin ke SMA terdekat saja. Tidak mau jauh-jauh dari paman!"
"Tingkahmu masih seperti anak kecil. Jika Erza lulus dengan nilai terbaik, nanti paman beri hadiah oke?"
"Janji ya? Ayo saling mengaitkan jari kelingking"
Namun tak lama kemudian, Erza membicarakan hal yang membuat ayah sedih, merasa takut kehilangan untuk pertama kalinya.
"Oh iya! Jika suatu hari nanti Tuhan menjemputku. Aku akan menjadi malaikat seperti paman sekarang, karena di mataku, kau adalah malaikat sesungguhnya. Sampai kapanpun, gadis kecil ini tidak pernah berhak mencintaimu"
Sebelum ujian kelulusan tiba, Erza meninggal tanpa alasan jelas. Polisi berkata seseorang membunuhnya pukul lima sore, tapi siapa dan motif dibalik semua itu belum diketahui. Semenjak insiden tersebut, ayah memutuskan menjadi pemburu hantu karena media massa memberitakan, 'pelaku adalah hantu yang terlepas dari penjara'.
Kasus tersebut ditutup tanpa alasan jelas. Mungkin gara-gara risih dia menjadi arwah penasaran. Lima tahun berlalu mendatangi ayah dalam wujud iblis. Kami membuat kontak setahun, lalu memutuskan berpisah demi kebaikan masing-masing. Siapa sangka Erza malah memburumu. Entah apa tujuannya.
End flashback….
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Keputusan di tanganmu, Jellal. Ayah tidak berhak menentukan. Kau menjalin kontraknya dengan paksa. Jika ingin diputus maka bicarakan baik-baik, tempramen Erza benar-benar buruk setelah dia meninggal"
"Remaja tanggung yang sempat menyukai ayah. Mungkin dia menggunakanku sebagai pelampiasan semata, tapi biarlah, aku akan memberinya kesempatan" iblis sekalipun Erza pernah menjadi manusia. Ia betul-betul paham
"Berhati-hatilah. Kebaikanmu bisa saja membawa masalah"
Sementara ayah dan ayah mengobrol. Erza terkurung di kelas sambil mengeluh bosan. Jellal belum melepas sihirnya, antara lupa atau disengaja membuat pergerakan sang iblis terbatas. Dia berhenti bergumam sendirian, fokus menatap pintu kelas yang entah kenapa, terasa menyedihkan. Mendadak bernostalgia kalau dulunya ia manusia. Pernah bersekolah. Merasakan jatuh cinta. Diperhatikan maupun memperhatikan.
Semua terasa indah walau hatinya berubah kotor.
"Sekarang aku tidak bisa berdoa. Benar-benar menyedihkan…."
CKLEK….
"Hey. Aku boleh minta tolong?"
Keesokan harinya….
Natsu, Loke dan Jellal berlari heboh menuju kelas. Menghampiri Erza yang terang-terangan menampkkan wujudnya, di hadapan mereka bertiga. Namun tanpa Gray atau Lucy si penguntit. Jelas mengherankan, bukankah Zeref berpesan, 'mulai sekarang kalian berempat teman'. Makhluk yang kalau kemana-mana selalu bersama itukan?
"Hosh… hosh… Erza, Gray menghilang!"
"Hilang? Lalu apa peduliku, Jellal?"
Bersambung….
Balasan review :
CN Scarlet : Hahaha gak apa-apa kok. Semua orang punya pikiran nakal lagian, dan menurutku ini nice troll wkwkw. Oke deh pasti kilat kok, sebenarnya kan itu pengaruh kontrak dengan Erza. Makanya muntah darah gitu. Ok thx ya udah review.
Fic of Delusion : Puas amat keknya sampe ketawa gitu. Thx ya udah review.
