Iblis tidak punya hati, bagaimana bisa ia melupakannya? Natsu menarik ujung seragam Jellal, memberi isyarat, "kita hanya membuang waktu di sini.". Pelajaran dimulai setengah jam lagi. Waktu mereka terbilang sedikit bahkan dikejar! Loke sudah memeriksa rumah Gray, di sana kosong menyisakan butiran. Pintu berengsel lapuk. Ratusan benda kuno. Senjata zaman Edo. Menciptakan kesan angker sekaligus kosong tanpa perawatan memadai.
Jika pemerintah salah 'baca'. Mungkin setahun ke depan rumahnya akan dijadikan objek wisata.
"Gawat! Aku tidak mau dia menjadi hantu penasaran karena rumahnya disegel!" Ekspetasi Natsu mengacak rambut frustasi. Kenapa harus hilang segala? Mereka tidak sedang berekreasi dan main petak umpet!
"Kau berlebihan. Kita pasti menemukan Gray! Benar juga. Ayo kunjungi makam ayahnya." Usul Loke yang langsung disetujui. Jarang-jarang lelaki perayu ini benar.
"Kalian benar-benar teri gila. Jaraknya saja delapan ratus meter. Butuh satu jam!" Bentak Erza duduk bersila. Meneriaki mereka bertiga yang terdiam di tempat, kaget. Memang dia perhatian, ya? Natsu ikut-ikutan memiringkan kepala, bingung.
"Jangan-jangan kamu menjampi Erza sehingga baik begini. Sihir apa yang kau gunakan, hah?!"
"Berhenti mengada-ada, Natsu. Aku tidak melakukan apa pun. Hanya mengikatnya dengan segel dan selesai!" Berkat guncangan itu, kunang-kunang di kepala Jellal berputar sekarang.
"Mau bagaimana lagi. TELEPORT!"
BUMMM!
BRAKKKK!
"Ampuni kami dewa gunung! Ampuni kami dewa gunung! Ampuni kami dewa gunung!"
Guncangan yang Erza buat menyebabkan Natsu salah sangka. Mengeluarkan rosario-nya sambil menghadap ke utara, minta ampun pada dewa gunung. Sepersekian detik mereka diantar ke kuburan. Kini giliran Loke yang beraksi, berbaik hati mengcek pusara di barisan paling belakang, berbatas pandang rumput dan mansion Fullbuster. Jaraknya hanya terpaut seratus meter, tinggal berjalan kaki 30 menit kau disambut pemandangan alam liar.
"Aneh. Kenapa Loke lama?" Mustahil, 'kan, dia tersesat? Jellal masih heran memandang Natsu. Kapan anak itu berhenti berdoa? Sadar bahwa mereka sudah pindah ke pemakaman umum?
"Lagi pula, apa harus menghentakkan kakimu sebelum menggunakan teleport?" Melayang santai udara sembari mencungkil harta karun, Erza menggelengkan kepalanya pelan, hanya iseng.
"Hoi Natsu. Berhentilah berdoa. Kau membuat kepalaku pusing." Hantu kucing biru?! Jellal tidak mengenal siapa dia, kecuali Erza yang langsung menyambar tubuh mungilnya. Mengelus sayang dengan ekspresi sulit dibayangkan.
"Lucu! Kau mirip boneka pemberian Paman Siegrain!"
"Erza si iblis scarlet? Sedang apa kau di sini?" Tersadar dari lamunan, ia melempar kucing peliharaan Natsu ke sembarang arah, atau bukan. Jellal punya satu dan diberikan Siegrain juga. Itu maskot sebuah perusahan boneka.
"Happy sejak kapan kau muncul?!"
"Setelah kau berdoa dengan rosario. Natsu aku mengerti niat baikmu, tapi selama kita terjalin kontrak semua itu hanya membahayakan. Bukankah berbahaya? Ada iblis scarlet di sana."
"Aku punya nama kucing sialan!"
"Tenang saja, Happy. Erza rekan kita! Mereka terjalin kontrak cinta."
"Pffttt…. Kasihan sekali nasibnya. Aku harap kau selamat." Ditertawakan kucing biru dan digosipi aneh-aneh. Lengkap sudah penderitaan Jellal sebelum memulai siang.
"Menikahiku adalah pilihan terbaik. Jika kau sudah meninggal akan kupersembahkan api neraka paling agung!" Bahkan Erza segaja menciptakan replika-nya. Membuat Jellal berdisko ria dengan berbagai khayalan aneh. Tidak…. Dia belum mau mati.
"Sepertinya aku ketinggalan pesta."
Loke datang membawa sepucuk surat yang diterima Natsu. Membuka paksa selotip dengan sekali robek. Syukurlah dia tidak bodoh-bodoh amat sampai isinya ikut tergores. Tanpa minta izin terlebih dahulu, Erza merebut dan membaca sekilas, kemudian bertindak acuh membuang kertas tersebut, tak lupa dihancurkan hingga berkeping-keping. Iblis itu bertindak seenak jidat lagi! Jellal melotot kesal. Berharaplah pada sepuluh persen ia tau.
"Beritau kami isi suratnya!"
"Hmmm…. Entahlah, aku tidak tau. Tulisan Gray mirip ceker ayam."
"Kau…. PADAHAL AKU SUSAH PAYAH MENCARINYA! MEMANG MUDAH APA MELEWATI PUSARA YANG DIPASANG KEKKAI?!" Baru pertama kali Natsu melihat Loke meledak-ledak. Mungkin perang dunia ketiga akan segera terjadi.
"Tidak ada gunanya membuat keributan. Palingan Gray mengucapkan maaf. Isi surat itu tak lebih dari pengecoh." Penjelasan Happy memberi pencerahan, kecuali Loke yang langsung terkapar lemas, usahaku sia-sia.
"Oh iya! Jellal kau kenal dengan Lucy, 'kan? Minta dia kemari."
"Mana bisa? Semenjak memutuskan ikut Gray dia berpisah dariku. Lagi pula kami tidak terikat kontrak. Mustahil Natsu." Selain kehabisan akal maka apa? Terlebih mereka terlambat di pelajaran Laxus-sensei, guru killer.
"Kita akan mati dua kali!" Erang Loke mengakhiri percakapan. Kuburan lengang sejenak. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, minus Erza yang memunculkan jam saku. Mereka membuang 45 menit untuk mencari Gray.
"Sudahlah lebih baik kalian pasrah. Masih ada waktu ke sekolah. Hanya sedikit terlambat."
"Jika dugaanku benar. Kau menyembunyikan sesuatu, Erza."
Semua mendelik ke arah iblis scarlet itu, dapat dibilang seratus persen mereka percaya ucapan Jellal. Kontrak tersebut mengikat jasmani dan rohani, 'kan? Pasti bisa membaca pikiran Erza! Natsu juga Happy bersiap di tempat jika ada tanda-tanda hendak kabur. Sayang dia bergerak lebih cepat. Menghilang dalam sekejap meninggalkan kuburan. Selembar kertas melayang bebas di udara, entah apa itu mungkin berisi tantangan.
"Tulisannya jelek….! Punyaku lebih bagus malah." Pamer Natsu bangga. Meski tidak mendapat respon dari Jellal dan Loke. Mereka sibuk mencerna maksud surat itu.
"Kau benar. Mirip ceker ayam."
"Maksud Erza dia menyuruh kita mencarinya. Kalau tertangkap akan memberitau di mana Gray." Lagi-lagi dijebak dalam permainan bodoh! Jellal meremas kertas tersebut marah. Dia benar-benar keterlaluan dibanding dulu.
"Mudah. Kau tinggal panggil dia seperti aku memunculkan Happy."
"Caranya?" Pemula tetap pemula. Jellal harus banyak belajar.
"Panggil saja namanya. Pasti muncul! Tapi tergantung, sih, beberapa mesti memakai mantera atau sebuah ritual. Kupikir…."
"Entahlah. Lagi pula Erza iblis spesial. Mana mungkin memanggilnya semudah menyuruh tukang bakso berhenti. Padahal kita tinggal cari, apa sulit?" Manusia melawan iblis. Itu hal tergila sepanjang masa. Loke menentang termasuk Jellal. Jangan membuang-buang waktu.
"Kucoba, deh. Scarlet oh scarlet. Aku menantimu cemas di sini. Anak nakal harus mendapat hukuman. Cepat beritau kami di mana Gray."
"Hoi, hoi. Kau ini baca mantera atau dialog? Kenapa tidak dinyanyikan?"
"Suaraku sumbang. Nanti dia tidak mau datang. Lihat, anak itu kemari." Spontan Natsu sembah sujud di hadapan Jellal. Erza muncul dengan tatapan gusar, sampai melototi sepasang hazzle yang menatap heran. Dia salah makan obat?"
"Bagaimana caramu memanggilku?"
"Pakai mantera scarlet oh scarlet. Itu yang utama, bukan? Setelah aku menggunakan seal kau tidak bisa kabur. Beritau kami di mana Gray." Checkmate. Sangat mudah menjebak iblis scarlet ini. Erza mengangkat tangan menyerah, kalian bertiga menang.
"Gray pergi ke neraka untuk menyelamatkan Silver. Kalian mau menyusul? Bahkan aku tidak tau di mana dia sekarang."
"Lalu kau mengizinkannya begitu saja?! Dia pergi bersama Mirajane dan Lucy?"
"Sendirian. Mereka berdua menolak Gray terlibat dalam bahaya. Mungkin disegel di salah satu pohon atau mansion itu. Loke mengcek ke sana, bukan? Apa kau merasakan tanda-tanda makhluk halus?"
"Sama sekali tidak. Mungkin ada di ruang bawah tanah. Ayo cek."
Hanya ini satu-satunya harapan mereka. Loke memimpin jalan di depan. Entah bagaimana dia hafal betul seluk-beluk kuburan. Pintu raksasa menghadang ketat, di sinilah menghabiskan waktu paling lama, untuk membuka jalan masuk mansion yang dipasangi kekkai. Erza sibuk diceramahi Jellal. Cepat atau lambat nyawa Gray bisa melayang, sementara nereka dihuni iblis dan dia nekat pergi sendirian. Memang anak itu hebat, tapi manusia mana yang berdaya di sana?!
"Erza kamu tidak bohong?" Mendadak Jellal teringat sifat usilnya yang kelewat batas. Sayang kali ini dia serius, bahkan berani bersumpah dengan roh batu.
"Kenapa pula kau telat memberitau kami? Jika ketahuan boss Zeref aku yang kena hukum!" Loke merasa wajib menangisi takdirnya. Belum lagi diamuk Laxus-sensei saat masuk sekolah besok.
"Tau rasa! Gray yang menyuruhku. Kalau satu jam dia tidak balik perjanjiannya baru bisa dibatalkan."
"Cepat masuk. Aku tidak mau mati terus-menerus."
Nasib, nasib. Sambil membawa lentera kecil, Loke menuntun jalan mereka ke ruang bawah tanah. Benar saja dugaannya, Lucy dan Mirajane terikat dengan rantai sihir. Tentu kabar ini baik. Mencari Gray tidak lagi sesulit mengelilingi seisi neraka. Lagi pula tindakan tersebut ilegal. Ketahuan maka dipenjara seumur hidup.
"Kalian tau di mana Gray?" Pertanyaan Natsu menyelonong keluar. Dia tidak sabar disuruh menunggu lebih lama. Kepala mereka menggeleng pelan. Terlebih lambang ilumintasi di punggung tangan lenyap tak bersisa, putus kontrak.
"Gray sengaja memutus kontraknya supaya kami tidak bisa menghampiri. Ta-tapi kalian tidak perlu mencari lagi, dia sudah meninggal." Jelas Lucy terisak-isak. Kabar yang tidak pernah mau mereka dengar.
"Belum. Anak itu ada di suatu tempat di neraka. Mungkin pusat perbudakkan. Aku bisa membawa kalian, kecuali kau, Lucy. Hantu tanpa pengkontrak sama saja cari mati."
"Ka-kalau begitu. Biar aku yang mengkontrak Lucy sampai kita pulang."
Usulan itu gila. Jellal tau bayarannya adalah nyawa.
Bersambung….
Balasan review :
Fic of Delusion : Hahaha, sayang tebakanmu salah. Kagura gak akan muncul di fanfic ini, males munculin dia juga. Thx ya udah review.
