"Jellal aku mengerti maksud baikmu. Tapi kau hanya pemula tingkat satu. Mengkontrak dua sama saja cari mati." Jelas Natsu memberi pencerahan, disusul anggukan Erza yang cenderung menolak, enak saja aku disamakan dengan hantu pirang.

"Ini penting bagi Lucy. Akulah yang akan meluluskannya!"

"Kalau berani berkata begitu…. Lewati dulu mayatku!" Seru Erza memunculkan sebilah pedang. Remang lampu membuat warna merahnya berkilat cantik. Terbuat langsung dari darah segar: sihir pembentukan.

"Jangan bertengkar di sini! Kita coba saja. Aku penasaran sebesar apa nyalinya." Mirajane memberikan satu suara: setuju. Meski kunci utama adalah Erza sendiri. Dialah yang menentukan boleh atau tidak.

"Hoi Mira. Kau mau membunuh Jellal?!" Tentang Loke mengguncang kasar bahunya. Mereka berhenti berharap Gray masih hidup. Kemungkinan itu kecil mengingat neraka dipenuhi mara bahaya.

"Sudahlah, tidak perlu. Aku menghargai niatmu. Terima kasih. Pergilah. Gray membutuhkan kalian." Perkelahian antar dua iblis terhenti. Lamat-lamat Erza memperhatikan karamelnya, sedih bercampur kecewa. Ya, ini bagus.

"Baiklah aku setuju. Mulai upacaranya!"

Seisi ruangan berhah-ria, terlebih Loke dan Natsu yang menolak mentah-mentah. Mirajane sampai berteriak memberi semangat. Begitupun Happy, dia menggumamkan hal-hal semacam, "menarik", "pasti menyenangkan" dan lain-lain. Langit-langit riuh sesaat. Apalagi melihat Jellal malu-malu menjabat tangan hantu pirang, siap mengukir kontrak. Inikah yang dinamakan romantika terselubung? Cinta terlarang di masa muda?!

"Aku berani bertaruh Jellal berhasil. Bagaimana denganmu, Natsu?" Sejak awal mereka sudah memasang taruhan. Erza saja membusungkan dada bangga, berkata, "dia bisa melakukannya!".

"Entahlah. Hey Happy. Aku punya satu pertanyaan, apa iblis sangat suka mempermainkan nyawa manusia?"

"Tergantung moral mereka. Seharusnya kau tahu itu sebagai pemburu professional. Katamu mereka terjalin kontrak cinta. Bukankah berarti Erza tidak mungkin membahayakan nyawa Jellal?"

"Kita mana tahu pola pikir iblis scarlet? Dia paling kejam di antara semuanya!"

"Pernahkah kau mendengar kalimat ini, 'cinta membutakan akal sehat'. Kupikir benar adanya. Lihatlah, Natsu." Sorak-sorai semakin memeriahkan. Jellal berhasil membuat kontrak. Yang disambut Erza dengan pelukan hangat, turut senang.

"Gurat kebahagiaannya sangat jelas. Sayang sekali kau dan Loke kalah taruhan."

"Sepulang dari neraka traktir kami es serut, oke?!" Awalnya Natsu menolak. Namun melihat death glare Erza dia mengurungkan niat tersebut. Bisa gawat jika dipaksa berjanji.

"Sekarang kita bisa pergi. TELEPORT!"

BRAKKK!

Syukurlah Natsu sadar diri, rosarionya tersimpan rapi di saku celana. Suhu udara mendadak tinggi. Kobaran api merajalela di mana-mana, siap membakar apa pun jika disentuh. Entah bagaimana Erza melewati gerbang dengan mudah, memberi alasan konyol, "kami datang untuk bermain" dan diperbolehkan masuk begitu saja, semudah memalsukan umur memakai KTP abal-abal. Sesuai namanya neraka, di sana mengerikan.

"Kenapa lantainya berkerak?" Ada semacam aliran pula. Natsu yang bodoh terang-terangan menyentuh cairan merah itu. Berteriak histeris melihat jari telunjuknya terbakar. Belum lagi mengaduh perih.

"Bodohmu keterlaluan. Jangan menyentuh lava!"

"Ma-maaf…. Cepat lanjutkan perjalanan. Aku tidak sabar menghajar si mesum Gray!"

Pusat perbudakan terlihat di ujung sana. Dengan alat-alat yang berserakan di sembarang arah, termasuk para pekerja, mereka ketakutan setengah mati. Seseorang habis-habisan mengamuk. Menghancurkan setiap objek yang dilihat membuat penjaga kesulitan. Dapat dibilang sangat mengerikan, bahkan ada lubang mengaga lebar di tengah, berisikan cairan merah bersuhu jutaan celcius. Neraka benar-benar diporak-porandakkan.

"Dia membunuh ayahmu! Bagaimana mungkin kau mempercayai iblis scarlet?!" Jurus tipu daya? Gray yang sedang kalap kehilangan akal sehat. Bersiap menghajar Erza jika Natsu tidak menghadang.

"Barusan jurus tipu daya. Jernihkan pikiranmu!"

"Minggir Natsu! Sejak awal memang sulit mempercayainya!"

"Cih! Aku serius melihat ayahmu bekerja di sini. Silver sampai bertanya, 'bagaimana kabar Gray?'. Jangan termakan!"

"Menyingkirlah Jellal. Biarkan aku menghajar dia!"

"Renungkan baik-baik dengan kepala dingin. Erza serius melihat ayahmu. Kujamin itu." Giliran firasat yang bermain. Jellal meyakini keputusan ini seratus persen. Mereka tidak berbagi pikiran atau perasaan. Dia terlalu pemula untuk mengetahuinya.

"Kau menjalin kontrak karena terpaksa. Kenapa malah melindungi dia?! Demi mempertahankan nyawa?!"

"Bukan semata-mata untuk kehidupanku! Erza orang baik. Jika dia tidak gagal mewujudkan keinginannya, mana mungkin terjebak selama lima dan jadi iblis?! Bisa saja sebagai manusia. Malaikat. Tangan kanan Tuhan. Siapa tahu?"

"Gray. Aku bersumpah pasti menolong Erza. Memecahkan kasus kematiannya. Membuat ia bereinkarnasi. Kau boleh melakukan apa pun jika perjanjian ini gagal."

"Da-dasar bodoh! Untuk apa membelaku sampai sebegitunya?!"

"Otakmu sudah dicuci olehnya, ya?! Tidak ada pilihan lain."

"Gawat. Kurasa Gray berubah menjadi manusia setengah iblis, dan dia termakan kekuatannya sendiri. Larilah sejauh mungkin. Aku yang akan menahan!" Pengorbanan sia-sia, baik Loke maupun Jellal tahu itu.

"Kalau mau kabur harus bersama-sama! Menggunakan sihir sekalipun mustahil menghentikannya." Kali ini Loke bersikukuh. Menarik paksa lengan Natsu yang ia lepas paksa. Mengambil ancang-ancang untuk melawan.

"Happy gunakan sihir barrier! Selanjutnya biar aku yang tangani."

"Musnahkan…. Kalian semua harus dimusnahkan karena memihak Erza. Ice make…. Unlimited."

"Tak terhingga?! Kau mau membunuh kami semua?!" Tidak ada waktu untuk khawatir. Mereka harus menghentikan Gray sebelum seisi neraka beku. Pun mengendalikan iblis.

Bersiaga di tempat, Happy membentuk barrier yang mengekang sekitar. Natsu dengan formasi lima lingkaran membentuk kuda-kuda. Menarik nafas dalam siap menyemburkan api terbaik, menyamai panasnya neraka. Gray mengepalkan tangan sempurna. Memukul telapak kiri sebagai aba-aba. Mereka berdua tak kalah sigap. Kompak menyerang setelah sepersekian detik es mulai menjalar, semakin cepat tanpa pandang bulu.

"Tenryuu no houkou!" Bola api raksasa terbentuk lewat formasi tersebut. Meluncur bak meteor siap menerjang bumi. Membakar apa saja yang melintas di hadapannya.

"Bekukan!"

KRAK… KRAK….

PRANNGGG!

ZRASHHH!

Dengan kecepatan tinggi Gray melesat. Telapak tangannya terjulur ke depan, tak tanggung-tanggung membekukan musuh di mata. Barrier hendak dihantam bersama Natsu yang kehilangan fokus. Siluet kaca terpercik kemana-mana, Happy gagal mempertahankan mantera. Kini memprioritaskan si salam yang berusaha mengelak, melakukan kayang. Namun jika sedikit saja tersentuh, maka semua usaha itu sia-sia.

"Berhenti Gray!" Menggunakan tubuhnya sebagai perisai. Lucy siap melindungi Natsu yang terjerembap. Es itu pertama kali mengikat kaki.

"Tubuhmu tempus pandang, Lucy."

KRAK… KRAK… KRAK…

Sekejap Natsu membeku dari ujung kaki hingga kepala. Setelah dilepaskan ia langsung tersungkur, dengan likuid merah mengalir di mana-mana, membentuk kolam kecil. Sebelum menghilang Happy ikut terjatuh, disapu debu yang membawa ke inti segitiga, lambang iluminati itu sendiri. Terjebak entah sampai kapan. Sekarang Gray total kehilangan kendali. Mereka wajib mengorbankan seseorang jika ingin meminimalisir.

"Akulah yang akan bertanggung jawab." Gagah berani Erza maju menyerang. Sedetik kemudian meluncur ke depan sambil erat-erat mengenggam pedang. Mengarah tepat ke jantung.

GREP!

"Sekarang kita sesama iblis. Kekuatanmu tidak jauh beda denganku!"

KRAK… KRAK….

PRANGG!

DUSHHH!

BLUDAK… BLUDAK….!

Dua serangan beruntun. Erza ditendang sampai terpental bemeter-meter jauhnya, sementara Jellal meringkuk di tempat, menggil kedinginan akibat serangan langsung tersebut. Gray sudah siap sejak tadi. Giliran dia yang mengancam nyawa mereka. Ujung pedang dipusatkan ke dada kiri. Siap menikam jantung si pengkontrak. Ini benar-benar mimpi buruk. Loke dan Mirajane tersangkut di pinggir kawah. Selain menonton bisa apa?

"Kumohon hentikan!" Lucy belum mau menyerah. Kali ini memeluk Gray yang jatuh terduduk. Kondisinya balik ke awal.

"JANGAN REMEHKAN AKU. IBLIS ABAL-ABAL! WARM…. BLOOD!" Pedang esnya dilelehkan memakai sisa darah. Gray yang sadar berteriak kepanasan. Memaksa agar Erza berhenti menyerang. Dia betul-betul sadar.

"SEKARANG WAKTUKU MEMBALASMU. DEMON KICK!"

DUAKKK!

"Hah… hah… hah… bagaimana…. Enak muntah darah hitam?" Kutukan dipusatkan pada kaki kanan. Erza menendang perutnya dengan seluruh tenaga. Membuat Gray yang tidak kebal terbatuk-batuk, menahan sakit di bagian lambung.

"Hahaha…. Organ dalammu hampir pecah! Berhati-hatilah."

"Gray, Gray! Kau baik-baik saja?"

"Lu… cy….? Kenapa kau datang kemari?! Di sini berbahaya. Cepat pulang sebelum ketahuan iblis patroli!"

"Tidak akan! Kenapa bertindak bodoh? Kamu punya teman-teman untuk dimintai tolong. Sekarang perhatikan mereka! Natsu terluka demi menyadarkanmu, dia sekarat. Jellal juga mengorbankan dirinya supaya yang lain selamat. Kau egois!"

"Maksudmu apa? Aku punya alasan sendiri!"

"Jangan mengada-ada! Kau mengecewakanku, Natsu, Jellal, Loke, Mirajane. Pecundang! Hiks… hiks…."

"Lucy bawa Gray pulang. Selesaikan urusanmu dengannya!" Di sini pun masih ada orang bodoh. Kenapa pula Jellal lebih mengkhawatirkan si hantu pirang?

"Perasaan itu tidak pernah berubah. Gray. Aku mencintaimu. Sampai jumpa lain waktu."

"Tunggu sebentar Lucy. Lucy!" Kedua tangannya berusaha meraih siluet yang perlahan menghilang, ditelan ribuan cahaya untuk diadili malaikat dan iblis. Ia dijemput balik oleh maut.

"Arghh…. Sialan!"

"Simpan pengakuanmu untuk nanti. Kita tertangkap."

Mereka dikepung polisi, Bahkan raja iblis jauh-jauh mendatangi para penjahat kecil. Menunjukkan senyum ramah yang sulit dipercaya. Tidak…. Gray dan Jellal amat mengenal pemuda itu. Erza pasti menyerang kalau borgol sihir terlambat dipasangkan.

"Jadi rumornya benar, ya?"

"Selamat datang di neraka. Kalian bersenang-senang?"

Bersambung….

Balasan review :

Fic of Delusion : Iyep bener. Lucy juga dikontrak jadi dia punya dua hahaha. Kalo Natsu mah Happy. Loke belum ketahuan. Ok thx ya udah review.

CN Scarlet : Pendek amat. Tapi kok hatiku merasakan sesuatu ya, inikah cinta? /plakk. Thx ya udah review.

Fic of Delusion : Ya semoga sesuai ekspetasi. Aku gak bisa bayangin apa-apa. Thx udah review.