"C-cih…. Ini konyol. Apa maksudnya?" Bahkan lebih buruk dibanding tertangkap Siegrain! Wajah menyenangkan itu masih tersenyum. Bergantian memberi ucapan selamat sekaligus salam, 'selamat siang'.

"Sudah jelas. Aku Zeref, ketua ghost buster." Iya, Jellal tahu. Tapi rumor apa yang Gray maksud? Petugas patroli mulai bergerak. Menangkap Mirajane, Erza, juga menyelamatkan Loke di salah satu kawah. Badannya 3/4 beku.

"Ja-jadi, kau benar-benar penguasa neraka?" Giliran Gray bertanya. Mereka dalam bahaya sekarang.

"Begitulah. Dan kalian ditangkap karena sembarangan masuk. Jangan lupa hukumannya. Untuk Jellal, mungkin aku harus menhubungi ayahmu."

"Kumohon jangan. Kira-kira kapan kami keluar?"

"Tergantung keputusanku. Sambil menunggu kalian dipenjara terlebih dahulu. Coba-coba kabur atau melawan hukumannya tambah berat, lho."

Dia bukan Zeref yang mereka bertiga kenal. Senyum itu mengendalikan. Gurat wajahnya tegas dan menakutkan, macam komandan perang dengan kumis melintang, kepala botak. Petugas menggiring para penjahat kecil ke penjara. Terletak jauh dari permukaan dekat inti neraka, sebuah bola raksasa yang mengatur kehidupan itu sendiri, jantungnya. Masing-masing tiga orang dimasukkan ke sel. Dengan borgol khusus guna mengungkung kekuatan sihir.

"Tu-tunggu sebentar. Ahya, itu…." Suara lirihnya menghentikan langkah Zeref. Ia menoleh sesaat. Membuat Jellal tambah risih, memainkan jari-jemari gelisah.

"Panggil saja Zeref. Aku kurang suka julukan raja atau boss." Seakan membaca pikirannya, kini Jellal lebih lancar berbicara, tidak lagi bingung.

"Begini Zeref-san. Kau pasti tahu, keinginan Lucy terpenuhi di neraka. Lalu bagaimana? Dia akan dibawa ke surga? Bisa bereinkarnasi atau mungkin…. Menjadi iblis?" Di akhir nada bicaranya melemah. Harap-harap cemas akan diberi jawaban positif.

"Pertanyaanmu banyak sekali. Pertama, seperti yang diajarkan guru agama, tergantung amal ibadah orang itu. Jika Lucy sering berbuat kebaikan pintu surga terbuka untuknya. Kedua, mustahil bereinkarnasi, dia salah memilih tempat demi 'kesempatan kedua'."

Jeda sejenak. Napas Jellal hampir terhenti di ujung. Dadanya sesak.

"Masuk surga pun sia-sia. Dia akan menjadi iblis sesuai hukum sebab-akibat. Siapa pun tidak dapat menolongnya. Kalau kau mempercayai Tuhan dan doa maka bukan berarti nol persen."

"O-oh. Terima kasih." Dugaannya benar. Tanpa perlu bertanya Jellal mampu menerka ketiga jawaban itu.

"Pasti berat terutama bagimu, Gray. Sampai jumpa. Aku harus rapat dengan penguasa lainnya."

Percakapan tersebut berhenti. Langit-langit penjara lengang sejenak. Baik Gray maupun Jellal sama-sama merasakannya: penyesalan. Membawa Lucy kembali memang mustahil. Manusia tak dapat menantang Tuhan, itu hukum terutama. Sementara mereka bertiga, kecuali Natsu memilih diam. Di penjara sebelah Erza memukul-mukul jeruji besi. Minta dikeluarkan walau berakhir ditodong tombak oleh penjaga.

"Mana mungkin dia melepaskan kita?! Aku belum menikahi Jellal. Apa pun asal jangan penjara seumur hidup, kumohon." Kepada siapa Erza meminta? Tetua iblis? Saat-saat tegang dia masih sempat memikirkan hal lain.

"Berhenti memimpikannya. Lihat baik-baik kondisi kita, buruk."

"Sialan! Aku pasti keluar dari sini dan kita menikah di pantai selatan! Setiap hari akan kubuatkan sarapan, makan siang, malam. Nasi goreng, telur, omelet, daging panggang, sosis bakar. Selama kau menginginkannya!"

"Iblismu gila, Jellal." Bisik Gray samar-samar. Kalau ketahuan bukan nyawanya yang terancam, melainkan mereka semua.

"Tolong jangan bilang. Aku tidak dapat membayangkan." Andaikata ini kamarnya. Dia hendak menangisi takdir seperti yang Loke lakukan.

"Hoi. Bagaimana kondisi Natsu?"

"Sssttt…. Suaramu terlalu keras, dasar bodoh!" Petugas yang mendengarnya menodongkan tombak ke leher Loke, mengancam, 'bicara atau kugorok'. Jelas dia kesal, padahal aku hanya bertanya.

"Tidak bisakah kalian mengobati dia?" Keadaan si salam amat memprihatikan. Tubuhnya mengigil kedinginan. Berwajah pucat dengan napas menderu. Terlebih luka di sekujur tubuh masih mengeluarkan darah, belum kering total.

"Maaf. Kami tak punya hak selain membunuh kalian jika berbuat macam-macam."

"Kumohon bertahanlah…."

Penyesalannya berlipat ganda. Kepergian Lucy yang mendadak. Luka parah dan penyakit hipoterima Natsu, dia penyebab penderitaan mereka. Gray salah besar karena hilang kesadaran. Membiarkan raga serta jiwa itu dikendalikan oleh iblis. Kalap akibat terpengaruh ucapan para budak. Siapa tahu di mana Silver berada. Apakah masih hidup. Setengah sekarat. Mati bunuh diri. Pertanyaan itu bagai pusaran teka-teki.

"Semuanya aku minta maaf. Entah bagaimana caraku menebus kesalahan, tetapi…."

PLAKKK!

"Kami menanggung juga kesalahan tersebut. Sadarlah, Gray. Bukan hanya kau yang menyesal. Di menit-menit terakhir Lucy pergi. Tidak mendapat tempat selayaknya. Loke, Natsu, Mirajane, Erza, mereka sedih!"

"Hah…. Kau melawak, ya? Aku senang sainganku berkurang."

"Sebenarnya kamu tak lebih dari iblis ingusan yang tsundere. Aku pengkontrak. Wajar jika tahu perasaanmu." Mulut cerewet Erza berhasil dibungkam. Lamat-lamat Jellal memperhatikan punggung tangan, hilang satu.

"Kemampuan meningkat banyak. Sesuai dugaanku kau berbakat."

Hening melingkup kembali. Erza yang bosan memutuskan tidur. Mirajane sudah dari tadi melakukannya. Loke mengetuk-ngetuk jari kesal. Entah berapa lama mereka menunggu. Jellal dan Gray berusaha sabar, sembari menjaga Natsu juga memperhatikan kalau-kalau Zeref menghampiri. Namun ekspetasi itu hancur berkeping-keping. Justru seorang pria paruh baya menjenguk mereka. Senyum dingin dan wajah itu. Pemuda raven paling mengenalnya.

"A… ayah….?" Ragu-ragu ia memanggil, tidak percaya Silver hidup. Ucapan Erza benar. Kini air matanya yang tumpah ruah. Memeluk erat jeruji besi, semakin menyesal.

"Kau sudah besar, Gray. Untung saja iblis scarlet itu berkata jujur."

"Lagi pula untuk apa menipumu? Aku tidak dapat uang atau menikah dengan Jellal." Silver tertawa takzim. Ucapan Erza dianggap lawakan olehnya, atau mungkin dia serius, turut berharap permintaan serupa.

"Berhentilah mengungkit pernikahan."

"Biarin! Lagi pula sudah ditakdirkan, kok! Omong-omong untuk apa kau kemari?" Kali ini dia serius. Iris cokelatnya mendelik sempurna. Fokus menatap Silver yang masih tersenyum lemah.

"Bertemu anakku dan menyampaikan surat wasiat. Gray dengarkan baik-baik. Setelah ini ayah akan dihukum mati, demi menanggung kesalahanmu yang menghancurkan neraka."

"Bohong... katakan ayah berbohong! Aku ingin membawamu pulang ke dunia kita, ta-tapi…."

"Zeref sudah membuat keputusan?!" Menangkapi teriakan Erza. Mirajane ikut terbangun siap mendengarkan. Yang dimaksud malah datang menghampiri mereka. Berdiri di sebelah Silver.

"Tepat sekali. Kalian dibebaskan dan diperbolehkan pulang ke bumi. Namun jangan senang dulu. Gray, Loke, aku minta cabutlah lisensi pemburu hantu. Jika ingin mendapatkannya ikutilah tes. Meski sangat sulit mengingat keadaan sekarang. Jangan lupa beritahu Natsu."

Pekerjaan mereka hilang saat itu juga. Dengan berat hati Gray dan Loke menyerahkan lisensinya. Zeref menyita kartu plastik itu sambil tersenyum. Menyimpan dalam kantong celana. Pengumuman masih menanti. Ia sengaja mengambil jeda melihat betapa kusut wajah para penjahat kecil.

"Sebelumnya berterima kasihlah pada Silver. Dia mau menanggung dosamu yang sangat berat."

"Terbalik. Seharusnya aku mengucapkan maaf. Anakmu benar-benar sampah. Pecundang sejati! Aku tidak pantas menyandang marga Fullbuster."

"Lupakan saja. Ayah tahu niatmu baik. Belajarlah untuk mengendalikan diri. Teman-temanmu bisa jadi korban selanjutnya."

"Ehem! Yang kedua, hapus kontrak dengan iblis kalian, termasuk kau, Jellal. Maaf Erza. Impianmu menikahinya harus pupus sekarang." Mereka benar-benar dipermainkan, dia tahu itu!

"Zeref-san, kumohon beri satu kesempatan! Aku sudah berjanji membantunya. Dia tidak mau menghapus kontrak, sebelum kasus pembunuhan terbongkar" Mengangguk paham. Pria berjulukan raja iblis itu tengah berbaik hati.

"Waktumu seminggu. Jika belum dihapus kami akan menangkapmu. Ketiga, ayah Jellal dan Natsu mesti membayar denda. Tagihan telah dikirimkan ke rumah kalian. Dan kau Loke, bekerjalah sampai mati untuk membayar hutang."

"Ke-kejam…."

"Bercanda. Aku tak butuh apa-apa dari remaja tanggung. Hapus kontaknya sekarang juga. Itu yang terpenting. Sekarang kalian hanya bocah SMP biasa."

Kandas sudah harapan mereka. Menyisakan ketidakrelaan yang mustahil dibayar, sampai kapan pun. Zeref membawa pulang sekelompok remaja itu. Begitu pun Gray walau dia mengotot, ingin memeluk sang ayah terakhir kali sebelum pulang, membawa luka baru. Mirajane tinggal di neraka. Membantu para iblis memperbaiki pusat budak hingga selesai. Tersisa Jellal yang memegang kendali atas iblis. Meski dirinya termasuk ilegal.

"Kuburan di malam hari memang menyeramkan. Ayo pulang. Kita tidak bisa apa-apa selain menerima hukuman." Ajak Loke menarik paksa lengan Gray. Mengantarnya barulah balik ke rumah. Siap kena marah sekeluarga.

"Jaga diri kalian baik-baik. Aku akan membawa Natsu ke rumah sakit."

"Uhm! Sampai jumpa besok."

Jaraknya sekitar sepuluh meter. Jam menunjukkan kira-kira pukul sebelas. Waktu di neraka berjalan lebih cepat dibanding bumi. Jellal susah payah membawa Natsu ke rumah sakit. Tak lupa menghubungi keluarga atau sanak saudara melalui telepon umum. Bersyukurlah dia mencatat nomor lain. Kalau tidak dalam dua atau tiga hari pasti diusir keluar. Giliran mereka pulang ke rumah. Namun Siegrain terlanjur menyamperi.

"E-eh?! Darimana Ayah tahu aku di rumah sakit?"

"Intuisi seorang Ayah, Jellal. Kau baik-baik saja, 'kan? Hantu pirang itu bagaimana?"

"Aku gagal…. Lucy melepas kepergiaannya di neraka. Zeref berkata mustahil untuk bereinkarnasi. Masuk surga pun sia-sia demi membayar dosa. Dia akan terlahir sebagai iblis."

"Terimalah skenario teburuknya. Gray dan Loke baik-baik saja?"

"Meskipun Gray amat terpukul, dengan hukuman mati Ayahnya dan Lucy yang pergi begitu saja. Lisensi pemburu hantu mereka dicabut. Aku diberi kesempatan terakhir untuk membantu Erza."

"Gunakan sebaik mungkin. Jangan biarkan dirimu menyesal, Nak. Kau pasti lelah. Ayo pulang."

Tujuan baru menantinya di depan mata. Jellal harus siap apa pun yang terjadi.

Bersambung….

Balasan review :

Fic of Delusion (chapter 9) : Gak tau aku juga. Mungkin salah lihat nama deh. Makanya pake foto profil (apa hubungannya). Raja nerakanya Zeref wkwkw~ Thx ya udah review.

CN Scarlet : Yep tebakannmu tepatt. Eh masa sih, gak nulis A/N ah (yang bikin cerita malah lupa sendiri). Sayang OTP-mu berakhir, wkwkw. Ini baru waktunya Jerza. Action-nya udah ditiadakan (susah bikinnya, jujur). Oke thx ya udah review.

Zahra-chan610 : Yepp dia Zeref. Thx ya udah review.